Disclaimer : Naruto Hanya milik om Masashi Kisimoto

.
.


Aku merebahkan diri di atas kasur. Aku tak bersemangat, dan merasa sangat letih. Beberapa hari belakangan ini aku memikirkannya terus menerus, menyiksaku dengan pemikiran cinta Hanabi yang tak pernah pudar untuk Udon.

Aku menatap layar ponselku dengan frustasi. Ingin menghubunginya, tapi kuputuskan mengurungkan niatku. Tak ada gunanya, batinku. Aku merenungkan betapa selama ini aku telah salah sangka. Kukira dia juga cinta, nyatanya perasaanku tak pernah berbalas.
Pantas saja dia menjadi murung pada kali pertama aku menggenggam tangannya waktu itu. Dia juga terlalu sering menolak permintaanku. Padahal aku tak pernah minta ciuman dengannya. Untuk minta bertemu saja mesti dibujuk dulu. Kalau tak kupaksa sampai sekarang pun mungkin aku hanya mengobrol saja dengannya.

Hanabi juga masih menyimpan segudang pemberian Udon di lemarinya. Aku apa? Aku cuma memberi gelang buatanku sendiri. Mungkin itu tak berarti apa-apa baginya. Dia bahkan tak pernah memakainya mau pun menceritakan kabar benda itu padaku. Bagaimana pun juga, aku membuat benda itu dengan jerih payahku sendiri. Mungkin saja itu tidak terlalu dihargai sebagai hadiah pada zaman sekarang. Gadis-gadis menyukai sesuatu yang berkilauan. Bukan benda aneh itu...

Dibenakku, secercah bayang kisah Hanabi dan Udon dalam sebuah sekolahan pun muncul. Kisah itu terbentang dengan begitu menakjubkan. Mereka belajar bersama, mereka pulang bareng, dihiasi canda tawa. Gadisku yang merah jambu pipinya dibonceng oleh Udon dengan sepeda. Hanabi memeluk, Udon mengayuh. Angin berhembus, lantas mereka berciuman di depan gerbang sekolah...

Andai saja waktu bisa terulang lagi. Aku ingin sekolah lagi, mengenal Hanabi lebih dulu, membangun kisah roman picisan yang takkan lekang termakan zaman, seperti kisah Qais dan Laila, atau Romeo dan Juliet yang tersohor itu.

Aku pun menarik napas dalam-dalam. Air mataku telah berlinang. Nyatanya aku datang terlambat, dan mendapat bagian sebagai tokoh sempilan di antara mereka. Kalau saja aku memilikinya lebih awal. Ah, sudahlah. Aku menggeleng sedih. Percuma saja. Tak ada gunanya berangan begitu. Susah sekali menyingkirkan bayangnya dari benakku. Aku menghempaskan ponselku di dekatku dengan agak kecewa. Tampaknya segala sesuatu menjadi menyakitkan. Kisah cintaku yang selalu dirundung kesialan.

Letih sekali rasanya aku. Sebaiknya aku tidur saja. Tapi susah sekali rasanya aku terlelap dengan perasaan tersayat-sayat begini. Alangkah inginnya aku tak mengenalnya dulu. Kupikir jatuh cinta itu akan indah, faktanya segalanya berjalan tak seperti dugaanku.

Aku sudah terlanjur mencintainya, dan terjebak di dalamnya seperti seekor hewan dalam kurungan. Pada mulanya cinta itu begitu nikmat, tapi sekarang berubah nestapa. Betapa hadirnya sang cinta membuat tawa menjadi tangis, bahagia menjadi duka.

Ponselku tiba-tiba berdering dan mengejutkanku. Aku meraihnya dan melihat nomor tanpa nama di layar hitam putihnya. Rindu, senang, dan pedih sekonyong-konyong menyerbuku. Tanpa ragu kujawab panggilan itu.
Aku berdehem. "Halo," sapaku dengan ragu.

"Kak," panggil Hanabi. Dalam sekejap emosiku bergejolak menjadi berkali lipat. Mendengar suaranya saja aku bagai hewan yang sekarat.

"Hai, Hana." Napasku memburu. Air mataku berlinang begitu saja.

Hanabi berkata~suaranya begitu lembut, "Kakak apa kabar? Selama seminggu ini kakak menghilang."

"Baik, Hana," kataku. Aku menarik napas dan menghembuskannya. "tidak apa-apa. Berhari-hari ini kakak hanya sering sedih. Kakak masih memikirkan cerita Hana waktu itu."

Dia mendesah. "Memikirkan apa, kak?" tanyanya. Kemudian melanjutkan. "ya ampun, kak, kakak masih memikirkan cerita Hana itu?"

"Mana bisa aku melupakannya begitu saja. Aku benci memikirkannya. Melihat kalian begitu bahagia dulu membuat pikiranku rumit," sahutku.

Aku mendengar dia berdecak. "Seharusnya Hana yang marah sama kakak," tukas Hana. "seharusnya Hana tidak mendengar orang lain. Seharusnya Hana yang benci sama kakak karna jalan sama cewek lain."

Aku mengerutkan kening. "Jalan sama cewek lainnya? Kapan?"

"Sara," kata Hanabi langsung. "waktu itu."

Keningku berkerut makin dalam. "Kami cuma nggak sengaja jalan waktu itu."

"Tapi Hana gak suka kakak jalan sama dia!" Suaranya nyaring. Kata-katanya entah mengapa membuatku muak.

"Kami cuma kebetulan ketemu di jalan," jawabku. "Aku menunggu. Hana pergi begitu saja. Tidak menoleh~"

Hanabi berkata, "Hana nunggu kakak di pertigaan. Hana mau menjelaskan banyak hal pada kakak. Tapi kakak begitu mesra dengan Sara."

"Aku tidak sedang merayunya. Kami cuma mengobrol," tukasku dengan muak. "aku tidak menghadiahkannya gelang. Aku tidak membantunya mengerjakan tugas-tugasnya. Dan tentu saja tidak berciuman dengannya!"

"Kakak adalah laki-laki paling menyebalkan yang pernah Hana kenal!" bentaknya. Dia berkata lagi, "Menyesal Hana pernah kenal sama orang bodoh kayak kakak."

Manusianya kecil. Tapi kata-katanya jauh lebih menyakitkan dari sebilah pedang. Aku pun jadi sadar belum mengenalnya sama sekali. Gambaran gadis imut pemalu yang terlukis di benakku selama ini langsung berubah. Tentu saja kalau diberi wajah galak, yang suka menatap sinis, dan tutur kata langsung pada intinya, seperti guru-guruku saat aku SD, niscaya gambaran itu jauh lebih pas dengan cewek itu sekarang.

Aku terdiam. Entah berapa lama. Semenit mungkin atau bisa saja setengah jam. Aku tidak tahu. Tapi aku penasaran. "Aku jadi ingin tahu." Aku membuka suara. "Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Hana padaku selama ini?" tanyaku.

Terjadi jeda beberapa detik sebelum dia berkata, "Sebenarnya..." Dia berhenti, kedengaran ragu-ragu.

"Apa?"

"Lupakan saja."

"Lah kok? Bagaimana?"

"Ngapain sih kakak nanya begituan?" Dia balik bertanya.

Aku jadi gemas mendengarnya. "Aku cuma penasaran saja. Tinggal bilang saja. Jangan berkelit."

"Perasaan Hana masih sama seperti sebelumnya," jawabnya.

"Itu tidak menjelaskan apa-apa."

"Itu menjelaskan banyak hal," bantahnya. "hanya orang bodoh kayak kakak yang tidak mengerti."

Dia terus berkelit. Aku membujuknya berulang kali berputar-putar pada pertanyaan yang sama sampai aku emosi sendiri. Bujukan itu berubah jadi desakan. Aku mendesaknya dengan memaksa. Mungkin saja karna dia bosan ditanya begitu-begitu terus, akhirnya kata-kata itu pun meluncur.

"Hana tidak cinta sama kakak. Hana benci kakak. Puas?!"

Kata-kata itu menembus jantungku dengan amat menyakitkan. Terlalu menyakitkan menghadapi kenyataan sebenarnya. "Jadi sudah jelas sekarang?" tanyaku, sakit hatiku.

"Aku benci kakak," katanya terengah. Aku memutuskan sambungan telpon dan mulai terisak. Kecewa dan pedih memperebutkan keadaanku seperti kapal dalam gelombang laut.

Aku lantas merenung sebentar~menyadari kekeliruanku. Aku semestinya tak melakukan itu. Aku seharusnya ada di dekatnya untuk mencuri dan menghibur hatinya~agar ia sadar akulah orang yang mencintainya. Bagaimana jika nanti Udon datang lagi atau cowok lain misalnya, lalu mereka menghibur Hanabi dengan lebih sabar? Kok aku jadi cemas memikirkannya? Bagaimana pun juga, kisah itu jauh lebih jelek ketimbang bayangan Hanabi berciuman dengan Udon. Aku merasa tak rela dan agak cemburu jika ada yang berani-beraninya menghibur gadisku selain aku.

Kurasa aku menyesalinya. Kok aku bisa seceroboh itu sih? Waduh, gila amat. Aku jadi ingin menghubunginya lagi, mengatakan sesuatu seperti, 'Maafkan aku. Aku mencintaimu lebih dari persangkaanmu.' Tapi semuanya sudah terlanjur, seperti hatiku yang juga terlanjur nencintainya.

Pada akhirnya aku pun tertidur karna kelelahan. Kemudian terbangun dengan lesu saat pagi harinya. Setelah lama tercenung dalam lamunan menyedihkan yang tak berujung pangkal ini, akhirnya aku pun ke luar dari rumahku mencari hiburan di luar.

Dengan enggan aku berjalan ke arah warnet Shikamaru. Biasanya dia selalu bisa menghiburku. Tapi saat sudah sampai di sana malah tambah nyesek. Shikadal itu memutar lagu melow yang berjudul 'Sendiri Dulu' di komputernya dan semakin menambah letih hatiku.

"Ah, ternyata kau Naruto," katanya dengan wajah puas seolah aku ini adalah solusi bagi masalahnya.

"Ada apa?" tanyaku tanpa minat.

"Kau sedan-eh, kau sakit?" tanyanya dengan alis terangkat sambil mengamat-amatiku.

"Tidak, memangnya aku kenapa?"

"Hn," jawabnya sambil mengendikkan bahunya, lalu melanjutkan. "kau tampak seperti narapidana yang akan dihukum pancung tahu?"

Aku tak menjawabnya, dan duduk di sampingnya. Lalu tanpa permisi dahulu, rokok yang ada di atas meja kucomot sebatang, menyesapkannya ke mulutku, lalu menyulutnya.

Syufff fuh

"Kau sedang tidak ada kegiatan 'kan?" katanya dengan nada riang.

"Ya, begitulah..."

"Kebetulan sekali. Bisa tolong jaga warnet ini sebentar."

"Kau mau ke mana?" tanyaku.
Dia mengulum senyum sambil menurun-naikkan alisnya dengan mata berbinar cerah. "Tahu sendirilah..."

Aku mengerti dan mendesah.
"Jangan begitu," katanya. "kau ini tidak punya rasa setia kawan sama sekali."

Aku menatapnya malas. "Ya sudah. Kapan kau kembali?" tanyaku.

"Mungkin jam 3 atau 4..." Dia bangkit. Lalu katanya lagi, "kalau kau lapar atau ingin sesuatu, pakai saja uang itu."

"Tinggalkan saja separuh rokokmu di sini," pintaku. Dia pun meninggalkan empat batang rokok di atas meja.

"Aku berangkat dulu ya, Naruto. Ingat ya, nanti kalau ayahku datang menanyakanku, bilang saja kalau aku sedang buang air," pesannya saat sudah melewatiku.

"Ok, ok," jawabku tanpa memandangnya. Mataku fokus ke arah monitor. Dia pun pergi setelah itu.

Musiknya berhenti, aku memutarnya lagi. Lagu band Merpati itu berputar lagi dan aku mulai menyandarkan punggung pada sekat bagian samping operator ini sambil memejamkan mata. Rokok yang ditinggalkan Shikadal itu kumasukkan ke mulutku. Sementara lagu itu berputar berulang-ulang kali.

Vak!

Tiba-tiba seseorang menggeplak meja dan membuatku terlonjak kaget. Aku memandangi pendatang kurang ajar itu dengan jengkel.

"Mas!"

Di hadapanku berdiri seorang gadis langsing berambut pirang panjang. Model rambutnya diikat ekor kuda, bagian depan rambutnya menjuntai menutupi sebelah matanya. Kornea matanya berwarna biru muda dan menyala. Wajahnya cantik, berkulit putih dan mulus bak batu pualam.

Aku mengenal gadis seperti ini. Gadis semacam ketua cheerleader sekolah, gadis si nomor satu, yang selalu menganggap dirinya lebih penting daripada yang lain. Rautnya tak senang, matanya memelototiku.

Ditatap seperti itu, aku agak risih. "Ya, ada apa, mbak?" tanyaku sambil mengatur posisi dudukku.

"Mbak, mbak!" ujarnya nyaring. "emangnya aku mbakmu!"

"Ya sudah, mau apa gan?" tanyaku dengan sebal. Aku benci mendengar suaranya yang melengking itu.

"Mas, ini budek ya? Dari tadi dipanggil gak nyahut-nyahut."
Aku mendengus. Jengkel aku dibuatnya. Sebenarnya maunya apa sih?

"Ente ke sini sebenarnya mau apa?!" Suaraku meninggi. Dalam hitungan detik, keadaan berubah tegang.

Aku menarik napas panjang, lalu melirik gadis itu. Rahangnya berubah keras, kulitnya berganti sedikit merah, dan mata birunya melotot nyaris keluar. Cepat-cepat kualihkan lagi mataku pada layar komputer dan pura-pura bersikap cuek.

"Nih!" katanya tajam sambil menyodorkan sesuatu padaku.
Aku menengok benda itu, memandangnya beberapa saat dengan bingung. Bentuknya seperti hello kitty.

"Apa ini?" tanyaku ingin tahu.

"Dasar udik!" semburnya tiba-tiba. "ini namanya flashdisk!" tambahnya sambil membuka bagian atas benda itu. Memalukan sekali rasanya dikatakan udik.

"Print-kan yang judulnya 'Makalah Pendidikan' di situ!" Dia menyuruhku seakan aku ini anak buahnya. Tapi aku sedang malas ribut dan hanya melakukan apa yang disuruhkannya. Lima lagi yang datang model begini, kututup rapat warnet ini.

Setelah selesai, aku menyodorkan hasil print-an itu padanya sekaligus flashdisknya.

"Berapa semuanya, Mas?" tanyanya.

"Sepuluh ribu," jawabku pendek.

"Kok mahal siih?!" protesnya. "biasa juga delapan ribu. Di sebelah juga delapan ribu!"

"Mana kertasnya?!" tanyaku dengan suara membentak. Gadis ini membuat hari-hariku yang buruk jadi makin buruk.
Dia menyodorkan kertas-kertas itu dan aku langsung menariknya dengan kasar.

"Print di tempat lain aja sana. Di sini memang biayanya segitu. Dasar pelit!"

Setelah mendengar kata-kataku, wajahnya berubah merah padam. Dia pun berbalik dengan cepat dan langsung hengkang dari depanku.

"Dasar aneh," ujarku seraya menghembuskan napas lega.
Setelah keadaanku sudah cukup tenang, aku menonton video koleksi Shikadal itu. Sekitar satu jam lebih kemudian Shikadal itu sudah berdiri di depanku dengan wajah puas.

"Bagaimana kencannya?" tanyaku sambil menyingkir ke sisi sebelah bangku ini.

Dia masuk dan duduk di sampingku. "Beres," katanya dengan wajah berbinar cerah.

"Siapa yang keluar duluan?" tanyaku lagi.

Sambil memelankan suaranya dia menjawab, "Tentu saja dia. Muncratnya sampai dua kalii." Dia tersenyum bangga.

"Waw..." Aku terperangah.

Punyaku mulai berdiri sedang otakku sibuk berkhayal. "Hebat. Sampai bisa dua ronde. Pakai apa kamu?"

"Viagra men, Viagra..."

Dia mulai menceritakan kisah mesum di atas sofa itu. Kisah itu mengalir dengan begitu seru. Mereka bergumul. Si gadis menungganginya. Shikamaru menyibak bajunya dan menyusu, sedang tubuh si gadis turun naik. Mereka mengerang teredam. Shikamaru meremas pantat si gadis, lantas menamparnya. Si gadis memeluk, tersengal-sengal bagai habis melakukan marathon. Pakaiannya tersibak sampai ke ketiaknya, dan celana dalam yang masih nangkring di sebelah pahanya...

Aku menarik napas panjang. Sial betul! "Apa yang terjadi setelah itu?" tanyaku tak sabaran.

Dia terkekeh. "Nanti kau malah melampiaskannya ke kambing lagi," ejeknya.

"Lanjutkan saja bodoh!" umpatku dengan kesal. Dia malah tertawa terbahak-bahak. Tapi setelah tawanya reda dia kembali melanjutkan ceritanya.

"Aku melucuti pakaianku dengan cepat sampai bugil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku."

"Pasti dia kaget waktu melihat kakimu yang ke tiga itu. Pantas saja kemarin pas lomba renang, kamu doang yang menang."

"Apa hubungannya?"

"Iya soalnya orang pas renang cuma pakai dua tangan, dua kaki. Nah, kamu pakai dua tangan, tiga kaki!"

"Ngarang aja kamu ini."

Aku mengikik. "Pasti pas melihat punyamu itu dia langsung pingsan. Karna punyamu itu sebesar ini," kataku sambil mengangkat botol minuman Aqua ukuran satu setengah liter yang ada di bawah kakinya.

"Hkwkwkwkwk!" Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutku.

"Tidak lucu!" balasnya ketus.

"Hkwkwkwk!"

"Sudah. Belikan aku fanta dua sana."

"Mana uangnya?" tanyaku setelah selesai tertawa.

Dia mengeluarkan dompetnya yang berwarna hitam, lalu menghitung isinya.

Cuit

Dia mencolek mulutku dan kembali menghitung. "Gayamu coeg," sindirku sambil menatapnya. "udah kayak bos aja."
Dia mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribuan seraya memberikannya padaku. Aku pun beranjak membelikannya dua botol fanta berukuran besar. Sekembalinya aku, kulihat dia memegang kertas-kertas yang tadi tak jadi dibayar si mulut ember itu.

"Ini punya siapa?" tanyanya.

"Itu. Oh tadi ada cewek mulut ember yang ngebatalin print-nya gara-gara ongkosnya ke mahalan," jawabku, lalu duduk di sampingnya dan meletakkan botol-botol itu di atas meja.

"Bagaimana ceritanya?"

"Iya, tadi dia nanya, 'Berapa mas?' aku jawab, 'Sepuluh ribu.' tapi malah protes, langsung saja kutarik hasil print-an itu dari tangannya dan menyuruhnya print di tempat lain."

"Astaga!" dia menepuk jidatnya. "aku lupa memberi tahumu kalau pelanggan kasi aja delapan ribu."

"Aku mana tahu yang mana pelanggan dan yang mana yang bukan..."

Dia menghela napas. "Bagaimana tampangnya?"

"Jelek," sahutku sambil membayangkan seekor sapi. "wajahnya kayak sapi. Terus tadi, aku malah dikatain udik gara-gara flashdisk Hello kittynya. Sok Kenal banget orangnya."

"Hello Kitty. Hello Kitty. Hello Kitty," ujarnya mengulang-ulang kata-katanya. "bah! Pasti Ino!" serunya.

"Memangnya ada apa dengan dia?" tanyaku.

"Dia teman sekolahku! Dia sudah biasa Print di sini."

"Siapa suruh ente tadi buru-buru, nggak menitipkan pesan dulu."
Dia mendesah lagi. Sesudah itu, dia kembali berkutat dengan komputer. Lama-lama menjenuhkan juga kalau hanya duduk saja sambil memperhatikannya mantengin komputer.

"Kalau mau main, main saja, Naruto," suruhnya.

"Aku lagi nggak punya duit buat main..." balasku, lalu bangkit. Tapi baru bangkit setengah dia buru-buru menghentikan keinginanku.

"Udah main saja. Tidak perlu bayar."

"Beneran?"

"Ya."

"Baiklah. Terima kasih ya gan."

Aku bangkit dan masuk ke bilik yang ada di depan operator. Bermenit-menit berlalu, satu persatu orang-orang mulai masuk ke warnet dan mengubah warnet yang tadinya tidak ada isinya ini menjadi penuh dan mulai agak ribut.

Tiba-tiba gadis pelit tadi muncul dan duduk di dekat Shikamaru. Aku pura-pura memasang sikap cuek dan menganggapnya tidak pernah ada.

"Oh ya, maaf ya soal yang tadi. Ini tugasmu."

Aku melirik mereka. Gadis itu tengah memandang tajam ke arahku dan sialnya lagi aku jadi berdebar-debar.

"Lain kali kalau nyuruh orang nunggu, jangan yang udik kayak dia!"

Wah, asw! Dia menghinaku di depanku sendiri. Kayaknya dia mau cari ribut nih! Tapi bodohnya lagi, aku malah diam dihina seperti itu.

"Maklumin saja. Tadi aku lupa memberi tahunya."

"Tapi tadi dia mempermalukanku dan menghinaku!"

Padahal tadi cuma ada kami berdua, dan kenyataannya dialah yang paling banyak menghina.

Dua orang gadis mendadak muncul dan menghentikan obrolan mereka. Yang satunya berambut pirang panjang, wajahnya melankolis dan matanya berwarna ungu. Yang satunya lagi berambut coklat sebahu, wajahnya tampak ceria dan ramah. Mereka berdua memandang ke arahku sebentar, kemudian beralih ke arah Shikamaru lagi. Aku mengalihkan pandanganku ke gadis setan itu, ternyata dia masih memelototiku. Dia membuatku merasa tergelitik untuk segera memceburkannya ke dalam sarang hiu.

"Shikamaru, ada yang kosong nggak?"

Yang bertanya itu adalah gadis yang berwajah melankolis. Posisinya sedang menyampingiku. Sepertinya mereka sudah saling kenal. Ku alihkan pandanganku pada gadis yang satunya. Dia sedang menatapku dengan mata hitamnya sambil tersenyum. Tapi aku tak mengacuhkannya dan kembali memandang layar komputer di hadapanku.

"Naruto!" Shikamaru memanggilku. Aku mengangkat wajahku dan memandangnya dengan alis terangkat.

"Jelek sekali namanya." komentar gadis setan itu lagi. Aku langsung benci padanya.

"Keluar dulu."

Aku tak menjawab dan menyetop waktunya. Lalu ke luar dari bilik ini sambil mempersilahkan ke duanya.

"Silahkan," kataku seramah mungkin dan segera keluar.

"Dia tidak bayar?" Aku mendengar gadis setan itu bertanya pada Shikamaru.

Shikamaru berkata, "Oh, tidak. Aku tidak menarikinya bayaran."

"Kasihan," semburnya padaku. "sudah main, nggak bayar lagi!"

Sekarang aku benar-benar dibuat geram oleh gadis setan ini.
"Biarin!" bentakku sambil memelototinya. "Kamu aja yang sewot Manusia Kere!"

Dia melemparku dengan asbak yang ada di atas meja operator dan tepat menghantam mataku dengan bunyi jdugh parah.

"Ugh!" lenguhku sambil memegangi sebelah mataku yang terasa perih.

"Ssshh..." aku mendesis panjang merasakan perih berdenyut-denyut di mataku. Sambil menahan perih, aku mengangkat wajahku menatap dengki setan memuakkan itu.

"Sebenarnya mau lu apa sih, jing?!" teriakku sambil menghampirinya, berniat akan menamparnya. Tapi Shikadal itu malah bangkit dan menjadikan dirinya dinding bagi setan itu.

"Naruto! Jangan ribut di sini..." tegurnya. Membuatku menghentikan langkahku. Satu-satunya yang terlintas dalam benakku ketika tidak ada yang mendukungku hanyalah segera menyingkir dari tempat ini. Karna kalau tidak, bisa saja aku hanya akan jadi bahan cibiran orang-orang ini. Perempuan itu memang selalu jadi pihak yang selalu didahulukan. Tak peduli mereka itu salah atau benar.

Aku menarik napas dalam-dalam sambil memandangi daerah sekitarku. Sekarang aku terlihat seperti orang aneh di hadapan orang-orang ini. Akhirnya aku pun beranjak meninggalkan tempat ini dengan hati dongkol bercampur terhina. Mimpi apa aku semalam sampai mendapat kejadian menyialkan ini.

Setibanya di rumah, Karin sudah menungguku dengan wajah cemberut. Lalu ketika sudah berada di teras rumahku dia bertanya mengintrogasiku.

"Kakak habis dari mana?" tanyanya dengan suara manja.

"Dari warnet, Karin."

"Mata kakak kok merah?"

"Ada insiden tak disengaja tadi di warnet... Sudah lama di sini, Karin?"

"Sudah sejam aku nungguin kak Naruto pulang..." jawabnya dengan bibir mengerucut. Aku duduk diikuti oleh dia didekatku.

"Terus Ibuku di mana?"

"Ada di dalam, baru pulang kerja. O ya kak!" Dia berhenti. Membangkitkan rasa penasaranku.

"Apa?" tanyaku.

"Nanti malam tidur di rumahku ya?" ajaknya.

"Memangnya ada apa?"

"Seisi rumah pergi semua. Ayah dan Ibu pergi ke luar kota untuk bisnis. Kak Nagato jarang pulang ke rumah sekarang. Jadinya aku sendirian di rumah," katanya dengan suara sedih.

"Apa yang dikerjakan kakakmu itu sampai pulang aja jarang?"

"Tidak tahu... Katanya sih lagi banyak tugas..."

"Owww. Baiklah. Tapi aku minta ìzin sama Ibuku dulu." Dia mengangguk dengan wajah ceria.

Aku pun bergegas masuk dan mendapati ibuku sendiri sedang duduk sambil menonton channel edukasi tentang bagaimana cara memasak yang benar dengan panci. Ke dua kakinya ia masukkan ke dalam ember yang berisi air hangat.

Mengetahui kedatanganku, dia pun menengok.
"Kau Naruto. Karin sedang menunggumu di luar," katanya memberitahu.

"Sudah Bu." Aku mendekatinya, lalu berlutut, meraih dan memijat telapak kakinya. Hal ini sudah menjadi kebiasaanku kalau dia terlalu lelah di tempat kerjanya.

"Bu."

"Hmh..." sahutnya pelan.

"Bagaimana di toko?" tanyaku.

"Haduh... Ibu capek sekali... Banyak pesanan hari ini, Ibu dan Ibu Anko benar-benar jadi ke repotan..."

"Oo." Aku sudah selesai dengan sebelah kakinya, kumasukkan lagi kakinya ke dalam ember. Sebelah kakinya yang belum ku pijat, ku angkat dan ku pijat. "Ibu sudah makan belum?"

"Belum... Dari tadi siang, Ibu belum makan. Saking sibuknya Ibu, makan pun sampai tidak ingat."

"Lalu kenapa Ibu tidak makan?"

"Nanti saja. Ibu menunggu Ayahmu pulang dulu,"

"Cieeee yang mau suap-suapan..." godaku.

Puk

"Aduh!" Ibuku langsung memukul kepalaku. Tidak keras, tapi lumayan membuatku kaget.

"Jangan menggoda Ibu!"
Aku bersungut-sungut dan kembali berkutat dengan kakinya.

"Bu," panggilku lagi.

"Hm."

"Nanti malam aku akan menginap di rumah Karin."

"Oh! Ibu lupa memberitahu. Orang tua Karin sedang ke luar kota, jadi Paman dan Bibimu berpesan pada Ibu untuk memintamu menemani Karin."

"O."

Tepat setelah itu, Ayahku berdiri di bingkai pintu sambil tersenyum memandang kami. Lalu katanya, "Karin ada di luar, kenapa tidak diajak masuk? Karin ayo masuk sini..."

"Tidak usah Paman. Aku sedang menunggu kak Naruto," jawab yang diluar.

"Sebentar lagi Karin!" seruku sambil menatap bayangan kepala Karin di jendela dibelakang sofa.
Ayahku masuk, lalu duduk di samping ibuku sambil menyeka keringatnya, wajahnya tampak agak kusam dan lelah. Segera saja ku pindahkan ember berisi air hangat di bawahku ini ke dekatnya. Mulai ku bersihkan ke dua kakinya yang kelihatan kotor ini satu-persatu sampai ke celah jari-jari kakinya. Kalau sudah berdua begitu, lebaynya mereka mulai kambuh. Dan aku hanya bisa menunduk setelah menyaksikan selama beberapa detik ke-alay-an mereka itu. Tapi tak kupungkiri juga aku malah menghayal seandainya itu aku dan Hanabi. Alangkah bahagianya seandainya aku dan Hanabi menikah.

Tiba-tiba saja ayahku menepuk puncak kepalaku dan menyadarkanku dari lamunanku. Aku mengangkat wajahku lagi, memandang ke arah sang ayah yang tengah memandangku sambil tersenyum. Bergantian ku tatap wajah mereka berdua dengan terheran-heran melihat wajah mereka yang sekarang kelihatan berseri-seri.

"Kau sudah makan, Naruto?" tanya ayahku dengan nada riang.

"Nanti saja di rumah Karin, Ayah. Soalnya nanti malam aku akan menginap di rumah, Karin."

"Oh! O ya, bisa tolong buatkan Ayah teh dan ambilkan air," pintanya.

Tanpa menyahut dan hanya mengangguk saja, aku menurut saja dan bangkit sambil membawa ember ini ke belakang. Di saat-saat membawa ember ini, aku mendengar obrolan mereka yang membosankan.

Bermenit-menit kemudian, aku kembali sambil menenteng teh dan baskom berisi air. Ayahku sedang mendengarkan dengan setia ibuku yang berbicara.
Aku kemudian meletakkan baskom dan cangkir teh di tanganku di atas meja kecil di depan mereka. Lalu berkata, "Ayah, Ibu, minta uang?"

Sebelum memberiku uang, ayahku terlebih dahulu mencuci tangannya sampai bersih. Sementara ibuku sudah mengeluarkan selembar dua puluh ribuan dari dompet merahnya dan menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya, lalu memasukkannya ke sakuku, lalu ayahku mengeluarkan uang-uangnya dari saku celananya, banyak recehannya. Uang itu adalah hasil ayahku dari profesinya jadi tukang parkir di Supermarket milik ayah Konohamaru. Dia memberiku selembar uang sepuluh ribuan. Total uangku jadi tiga puluh ribu dah. Aku pun pamit dan mencium tangan mereka berdua.

"Uangmu jangan dipakai buat beli rokok," pesan ibuku dengan nada tak suka.

"Cobalah untuk hentikan kebiasaan merokokmu itu, Naruto. Tidak baik untuk paru-parumu," sambut ayahku.

Awal merokok ini dimulai ketika umurku dua belas tahun, saat itu yang mengajariku adalah Nagato. Awalnya aku sembunyi-sembunyi melakukannya, tapi tatkala kedua orang tuaku memergokiku, mereka sangat marah. Ayahku langsung mengkarantinaku di rumah, dan melabrak Nagato. Dan selama seminggu di rumah satu keluarga tidak mau bicara padaku. Bahkan ke dua orang tuaku menyetop memberiku uang jajan. Waktu itu aku seperti orang linglung, tidak bisa tenang, sering merasa gelisah dan tak jarang juga aku melamun. Tapi yang namanya orang tua akhirnya mengalah juga.
Ya, sekarang aku sudah mulai menguranginya. Kalau dulu aku bisa menghabiskan dua puluh batang dalam sehari bahkan bisa sampai tiga puluh batang. Sekarang paling banyak hanya enam batang saja.

"Akan kucoba, Ayah. Tapi tidak dalam waktu cepat," balasku sambil menunduk.

"Ya sudah. Jaga dirimu baik-baik dan ingat pesan ibumu. Jangan pakai uangmu untuk membeli rokok."

"Baik, Ayah. Aku berangkat dulu." Ini seperti adegan perpisahan saja. Padahal perginya kurang dari 300 meter.

Tebece