Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kisimoto

.

.


Aku berangkat ke rumah Karin. Dalam perjalanan Karin banyak bercerita tentang pengalamannya beberapa waktu belakangan ini. Aku mendengarkannya antara minat dan tidak minat, menangkap sepotong-sepotong ceritanya itu. Sekali-sekali kutimpali cerita itu dengan pertanyaan-pertanyaan. Mungkin terlalu fokus mendengarkan, aku sampai-sampai tak menyadari kami sudah sampai di depan rumahnya.

Rumah Karin bertingkat dua, bercat merah menyala dengan model rumah modern pada umumnya. Ada pohon Mangga dan pohon Belimbing di pekarangan rumahnya. Bedeng-bedeng bunga berderet-deret membentuk lingkaran di kaki pepohonan pada pojok pekarangan. Bagasi mobil di sebelah kanan rumah. Dan terakhir, di samping bagasi mobil, ada sebuah pintu penghubung ke halaman belakang.

Karin berjalan mendahuluiku untuk membuka gerbang rumahnya. Tetapi tiba-tiba aku terpaku pada sosok Karin di depanku. Aku memperhatikan dengan seksama tubuhnya dari atas hingga bawah. Rambutnya yang sudah dikuncir. Jadi aku bisa melihat tengkuk, dan bentuk kepalanya yang bagus itu. Aku menelusuri punggungnya, lalu ke lekukan di pinggangnya itu, lalu pantatnya yang bulat dan sepasang kaki kecil yang sempurna.

Langkahnya yang lincah serta gerak pinggulnya yang entah mengapa menarik perhatianku. Kurasa daya tarik Karin terletak pada rambut dan bentuk tubuhnya yang ramping. Wajahnya memang tidak cantik-cantik amat, tapi karna tidak cantik-cantik amat itu ia jadi menarik. Aku merasakan gejolak yang sama saat aku mendengar Shikamaru dengan cerita pornonya itu. Gairahku pun menyala, nyalanya membakar dadaku dalam sekejap.

Aku ingin menggauli Karin. Aku ingin meremas buah dadanya, juga menyusu seperti bayi sambil menggigiti pinggiran puting susunya. Aku juga ingin menampar pantat yang menggemaskan itu. Keinginan itu tidak bisa kubendung. Terlalu kuat.

Tentu saja aku takkan melakukannya di sini. Mungkin di atas sofa saja. Membayangkannya, aku pun tersengal. Pasti akan mennyenangkan. Jantungku berdenyut liar. Bayangan aku menunggangi dan menggauli Karin di atas sofa itu benar-benar susah ditolak. Aku mulai merencanakan tiap detail dari keinginan busuk itu. Pertama-tama aku akan memeluknya dari belakang. Lalu merayu Karin sambil mencumbui leher yang jenjang itu. Selanjutnya aku akan meraba dada dan selangkangannya, seterusnya... dan seterusnya sampai aku terpuaskan...

Betapa anehnya, padahal waktu berjalan kurang dari 10 menit, tapi adegan itu bergerak begitu cepat seakan sudah lewat berjam-jam. Gerbang rumah itu pun terbuka. Karin berbalik padaku. Aku bisa melihat rias wajah dan bibirnya yang merekah itu. Tampak begitu menggoda dan menggemaskan.

Benakku menerawang. Aku makin tenggelam dalam pikiranku. Tak sadar kalau Karin telah berdiri di depanku.

"Kak Naruto kenapa?" tanyanya. "kok aneh begitu tampangnya?"

Aku tersadar saat aku merasakan tanganku dipegang. Aku pun berkedip sambil membuang napas. Sontak suatu perasaan baru menyusup dalam sanubariku. Sekonyong-konyong aku merasa malu punya pikiran seperti itu. Menggauli sepupuku sendiri sampai puas. Tidak, kisah itu tidak akan berakhir menyenangkan seperti yang aku bayangkan. Akan ada akibatnya. Tentu saja akibatnya bakal berujung tragedi menyedihkan.

Aku tahu aku akan ketahuan~aku tidak perlu berumur empat puluh tahun untuk mengakui bahwa sepandai-pandainya tupai melompat toh akan jatuh juga. Kami akan diarak keliling kampung sambil dicap aib memalukan. Karin akan mengalami trauma. Dia akan dikucilkan dan yang lebih parah barangkali saja kedua kakinya akan dipasung.

Rasa bersalah menyadarkanku dari keinginan busuk itu. Bayangan itu sedemikian menyedihkan sampai-sampai dadaku menjadi sesak. Aku ingin menangis. Tapi aku tak mau kelihatan aneh. Jadi aku berkedip-kedip sambil membuang napas. "Bukan apa-apa kok," kataku dengan bibir bergetar.

"Oh," sahut Karin. "ayo masuk. Karin punya sesuatu yang bagus buat kakak."

Dia menarikku ke dalam rumah dengan tak sabaran. Rasa bersalah itu menghantamku secara terus-menerus, mendesakku hingga aku nyaris tak bisa menahan tangisku.

"Karin," kataku sambil melepaskan pegangan tangan Karin. "kakak ke belakang dulu." Aku pun segera berjalan dengan terburu-buru meninggalkan Karin. Aku lantas menangis tanpa suara di dalam kamar mandi. Aku mengutuk dan mencela diriku sendiri atas pikiran jelek itu. Tak habis pikir kenapa aku bisa punya pikiran seperti itu. Cukup lama aku dengan keadaan itu sampai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

"Kak!" panggil Karin dari luar. Aku pun segera berhenti menangis, lalu mengusap air mataku yang beruraian. Aku berdehem, dan mengatur napas. Aku lalu membasuh muka. Lantas keluar dari kamar mandi saat aku sudah merasa beres.

"Ya, Karin?" tanyaku sambil mengerutkan alis.

"Kok lama sekali sih, kak?"

"Ini kakak sudah selesai."

Karin berkata, "Karin mau menunjukkan sesuatu pada kakak."

"Eh, apa?" tanyaku tidak mengerti.

"Ayo ikut aku." Karin menarikku ke ruang tamu.

"Ada apa sih?" tanyaku lagi. Karin berhenti di depan sofa. Aku mengernyit kebingungan.

"Tunggu di sini, kak." katanya. Lalu dia pun pergi. Aku memperhatikan punggungnya sampai ia menghilang. Aku pun duduk. Tak lama kemudian Karin muncul lagi dengan sebuah ponsel canggih.

"Taraa!" Dia memamerkan ponsel itu sambil menghampiriku. Bagaimana pun juga, aku masih belum bisa menyingkirkan rasa bersalah itu dari hatiku. Dia lantas duduk di dekatku. "Lihat kak. Aku punya game baru," ujarnya, lalu mulai mengutak-atik Epone 9z itu.

Penasaran, aku pun memperhatikan layar ponsel baru Karin. "Coba lihat."

Dia memberikan ponselnya padaku, lalu aku mencoba satu-persatu game-game itu. Dalam sekejap aku telah lupa segalanya dan tenggelam dalam duniaku. Sementara Karin, dia memeluk lenganku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku terlalu terbawa hingga tak sadar waktu sudah menunjuk pukul tujuh kurang. Ketika ku lirik Karin yang ada di sampingku, aku terkesiap ketika melihatnya tertidur dengan kepala dekat dengan leherku dan tangannya telah melingkar di pinggangku.
Aku memperhatikan sebentar wajah tenangnya, mulutnya yang setengah terbuka, serta dengkuran halusnya. Lucu sekali wajahnya.
Aku mengangkat tanganku, kemudian mengusap rambut merahnya. "Karin, bangun... Karin..."

Tidurnya terganggu. Dia menarik tangannya, kemudian bangkit dan mengucek-ucek matanya. Dia menguap. Kemudian mengernyit memandangiku. "Sudah jam berapa kak?"

"Jam tujuh kurang," sahutku. "o ya, Karin sudah makan belum?"
Dia menggeleng. "Belum."

"Beli makan di luar yuk," ajakku. Dia menggeliat sejenak, lalu mengangguk.

"Karin mau ikut atau tidak?"

"Ikut..." jawabnya dengan suara manja.

"Cuci muka dulu sana." Aku berhenti sambil mengamat-amati pakaiannya. "Dan ganti celanamu. Pakai jaket juga."

"Bangunin..." Dia meminta dengan suara manja lagi.

Aku menurutinya. Kupegang lengannya dan mengangkat tubuhnya, namun ketika sudah berdiri tegak, dia memeluk lenganku lagi.

"Anterin..." pintanya lagi.

"Karin manja ya. Masak dianterin..." jawabku sambil memandangnya heran.

"Pengennya dianterin...," rajuknya lagi.

"Iya, iya."

Kami ke luar dari rumah itu masih dengan Karin memeluk lenganku. Celananya sudah diganti rok panjang dan dia memakai jaket berwarna merah muda. Sepakat kami akan membeli nasi goreng dari pada Ramen.

"Kak," panggilnya tiba-tiba setelah kami mencapai gerbang.

"Apa?"

"Beli Nasi Gorengnya satu saja..."

Aku mengerutkan dahi. "Karin tidak makan?" tanyaku.

"Kita makan berdua..."

Hanya pikiranku saja 'kah atau dia memang agak manja setelah bangun tadi? Tapi sudahlah tidak apa-apa. Anggap saja sebagai permintaan maafku karna niat busukku tadi.

Kami berjalan menyusuri jalanan. Sepanjang jalan kami dihiasi canda dan tawa. Karin berganti memeluk tubuhku sembari menyandarkan kepalanya di bahuku. Cuaca sore itu agak dingin, tapi karna pelukan Karin, rasa dingin itu terusir dengan sendirinya.

"Kak," panggil Karin lemah. Suaranya berubah serius.

"Ya?" Aku menyahut..

"Bagaimana hubungan kakak dengan cewek itu?"

"Cewek?" tanyaku bingung.

"Hanabi maksudku..."

"Kami sudah putus..." jawabku sedih.

"Benarkah?" Nada suara Karin berubah riang.

"Iya, Karin..." Aku mencubit hidungnya dengan gemas.

"Aw! Sakit, kak!"

"Eh, maaf, maaf..."

Setibanya kami di rumah. Aku langsung menyiapkan piring dan dua sendok. Kami makan sepiring berdua. Sesekali mengobrol tentang banyak topik. Mataku tak bosan-bosannya mengamati wajah Karin yang kelihatan begitu gembira. Dia terlihat lebih menarik dari biasanya.
Kami selesai makan dan membagi tugas. Aku yang mencuci piring, sementara dia membersihkan meja makan.

Kami menghempaskan diri pada sofa. Aku mulai menyalakan televisi. Tapi belum sempat memilih channel tv, Karin malah merebut remotenya, mengganti siaran tv ke acara drama cinta. Padahal aku inginnya nonton Spongebob. Sempat terjadi cekcok antara kami gara-gara berbeda keinginan menonton acara televisi. Tapi karna dia keras kepala akhirnya aku yang mengalah. Tiap kali tiba adegan romantis, Karin memeluk tubuhku erat-erat sembari berandai-andai seandainya kami yang ada dalam adegan itu. Dan aku langsung menyemburkan Fanta yang kuminum tadi seraya tertawa terbahak-bahak. Dia lantas marah-marah dan menjewer pinggangku.

Ketika adegan berciumannya tiba, kututup matanya. Dia malah mengomeliku dan menggigit tanganku. Lalu tertawa karna berteriak kesakitan.

Acara drama itu sudah selesai. Aku melirik Karin, dia sudah terlelap lagi dalam dekapanku. Aku menguap sebentar, kemudian bangkit dan menggendongnya menuju kamarnya, tapi tatkala aku sedang menyelimutinya tubuhnya, tiba-tiba saja dia mengigau dengan kata-kata yang langsung membuatku malu sendiri.

"Naruto itu suamiku. Jangan dekat-dekat!"

Aku? Menikah dengan Karin? Bah! Yang benar saja.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu berbalik, mematikan lampu dan meninggalkannya.

Aku kembali ke ruang tengah. Merapikan tempat itu yang kelihatan sedikit berantakan. Setelah itu mematikan televisi.
Tiba-tiba tanpa permisi dahulu Nagato masuk dan berhenti sambil memandangiku. Wajahnya kelihatan tegang dan cemas.

"Kau baik-baik saja, Nagato?" tanyaku sambil memandangnya heran.

"Kau ada kerjaan tidak?"

"Tidak."

"Temani aku sebentar."

"Ke mana?"

"Ada. Pokoknya ikut saja."

Entah kenapa hatiku merasa agak was-was. Dalam waktu singkat aku sudah memasang sikap waspada.

"Tapi Karin nanti sendirian di rumah. Bagaimana nanti kalau dia bangun?" kataku mencari-cari alasan.

"Cuma sebentar. Nanti kita balik lagi."

Dia terus memaksaku dan karna aku tidak bisa berkelit ke mana-mana lagi, aku menyetujuinya.

"Tapi janji hanya sebentar," kataku lagi memastikan ketika sudah di atas motornya.

"Ya, ah rewel banged."
Kami berangkat dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menembus angin yang menghadang. Gerak semu angunan-bangunan melewati kami. Dalam perjalanan itu rasa was-wasku semakin bertambah. Sudah berpuluh menit berlalu, kami menjauhi daerah perkotaan dan mulai memasuki daerah pinggiran kota yang agak sepi. Pohon-pohon dan semak belukar menghias pinggiran jalanan yang renjul. Kami melewati sebuah jembatan selebar tiga puluh meter. Lalu setelah jembatan itu jalanan mulai menurun. Dari kejauhan sayup-sayup kudengar suara musik hip-hop.

Jantungku mulai berdebar-debar. Aku menggerakkan mataku ke kanan. Ada selokan, tembok, dan beberapa orang dengan berbagai aktifitas. Semakin ke depan tempat itu menjadi lebih ramai. Bahkan sepasang kekasih sedang berciuman di pinggiran tanpa malu.

Pada sebuah pertigaan di depan kami, Nagato berbelok ke kanan. Dalam hitungan detik kami disuguhkan pemandangan segerombolan orang-orang~jumlahnya kira-kira seratus orang lebih.

Perempuan-perempuannya memakai pakaian yang vulgar, hotpants, rok mini, dan saudara-saudaranya. Ada panggung murahan di tempat lapang di sebelah kiri jalan. Musik-musik hip-hop berputar begitu keras. Si penyanyi bernyanyi sambil menunjuk penonton. Para penonton berteriak seperti keledai, lalu mengacungkan tangan mereka di udara. Mengenaskan sekali pemandangan ini.

Susah payah Nagato membunyikan klakson motornya dan meneriaki mereka agar orang-orang itu menyingkir dari jalan kami. Setelah dengan lambat-lambat kami bergerak, akhirnya kami bisa keluar juga dari kerumunan ini.

Sesudah itu ada belokan yang agak gelap. Setelah membelok, oleh karna sorot lampu motor Nagato, diatas semak-semak dua kepala manusia berbeda gender terlihat. Si perempuan berkulit putih. Rambutnya sebahu berwarna biru gelap. Matanya kosong, wajahnya bersemu merah jambu, dengan kepala bergerak melunjak-lunjak. Ekspresi wajahnya tampak hampa seakan pikirannya terbang menjauh. Dibelakangnya seorang pemuda berambut tidak terlalu rapi berwarna putih sedang menunduk melihat sesuatu di belakang tubuh gadis itu. Hanya satu hal yang terpikir dalam benakku melihat adegan itu, bahwa mereka sedang beradegan mesum.

Bukannya libidoku naik, aku malah merasa marah dan kasihan melihat cewek itu.

"Nagato." Aku memanggil. "Kita mau ke mana sebenarnya?"

Nagato berkata, "Sudah, diam saja."

Setelah mengucapkan itu, beberapa menit setelahnya, dia memelankan laju motornya dan memasuki sebuah halaman parkir sebuah gedung kumuh. Ada banyak motor yang terparkir di situ dan rata-rata adalah motor-motor spot. Hanya ada beberapa motor yang sekelas dengan motor Nagato. Pada dinding gedung itu sekitar sepuluh lebih manusia laki dan perempuan duduk, ada juga yang berdiri, menyandarkan punggung mereka pada dinding. Ada yang merokok, ada juga yang duduk-duduk saja sambil melamun. Dan semua ekspresi mereka hampir sama, tidak punya gairah hidup, hampa seperti mayat.

"Nagato, sebenarnya kau mengajakku ke tempat apa?!" tanyaku dengan suara agak meninggi.

"Kau cerewet sekali! Dasar bodoh. Diam dan ikuti saja."

Aku terdiam mendengar dia membentakku. Hanya bisa mengikuti ia melangkah memasuki gedung itu dengan perasaan marah dan was-was.
Sewaktu memasuki gedung itu, kondisinya antara beres dan tidak beres. Kondisi penerangannya agak lumayan, jadi aku bisa melihat dengan jelas kondisi ruangan aula ini. Dinding-dinding dihiasi lukisan grafity~nyaris pada semua dinding. Di sebelah kiri, ada tangga yang menuju ke lantai dua, begitu juga di sebelah kanan.
Kami terus berjalan. Naik tangga ke lorong yang agak gelap. Lantas berbelok ke kanan. Di ujung lorong, pada sebuah pintu, diterangi sebuah lampu. Satu dua orang keluar dari sebuah pintu yang gelap, lantas berpapasan dengan kami.

Nagato tiba-tiba berhenti tepat di pintu ujung lorong. Dia membuka pintu itu, lalu masuk ke dalamnya. Aku merasa penasaran dan mengikutinya, namun langkahku berhenti saat menyaksikan sekitar selusin manusia tanpa gairah hidup memenuhi ruangan berasap itu. Nagato duduk dan berbicara pada seorang gadis berparas cantik berambut biru gelap sebahu yang sedang merokok di sampingnya.

Selang sesaat setelah itu tiba-tiba Nagato merebut rokok yang dipegang perempuan itu, lalu menghisapnya. Ekspresi wajahnya yang tadinya gelisah langsung berubah tenang.

Aku menatapnya dengan marah, sedih, dan kecewa. Dia memanggilku, tapi aku segera berbalik dan bergegas meninggalkannya dengan terburu-buru. Aku ingin menegurnya tapi ku urungkan niatku karna sudah tahu watak keras kepalanya.

Aku keluar dari gedung itu dan sempat berhenti sebentar di tempat parkir, bingung pulang dengan apa aku ini. Sempat terlintas di kepalaku untuk membawa kabur motor Nagato, tapi lagi-lagi aku urungkan niatku, karna tidak mau bertengkar dengannya nanti.

Akhirnya, dengan nekat aku melangkah meninggal tempat terkutuk ini untuk pulang. Aku menyusuri lagi tepi jalanan gelap yang tadi kulalui dengan Nagato. Dalam pikiranku berkecamuk pertanyaan-pertanyaan tentang perilaku Nagato yang selama ini tak kuketahui. Dan sekarang aku bingung mau melakukan apa? Melaporkannya pada orang tuanya? Ataukah mendiamkannya? Aku tidak tahu...

Di tengah pikiranku yang sedang kacau, tanpa sadar aku sudah berada sepuluh meter dari kerumunan yang tadi kulewati dengan Nagato. Tetapi bedanya sekarang kerumunan itu sudah berkurang. Jadi dengan mudahnya aku bisa melewati mereka, meski beberapa kali aku sempat bersenggolan dengan beberapa gadis dan laki-laki yang sedang berdansa.

Setelah melewati mereka, aku terus melangkah sendirian sampai di pertigaan dan berbelok ke kiri, melanjutkan berjalan lagi.
Di depan tiga puluh meter dari pertigaan tadi, aku berhenti dan menghempaskan diri pada sebuah bangku kecil yang ada di pinggiran jalan. Lima meter di samping kananku ada sebuah tiang lampu yang menjadi penerangan tempat ini. Aku merenung dengan menunduk dan memegang kepalaku dengan ke dua tanganku. Berpikir lama tindakan apa yang akan kulakukan atas perilaku Nagato ini.

Beberapa orang melewatiku, namun aku sama sekali tak mempedulikan mereka. Cukup lama aku dengan keadaan seperti itu sampai tiba-tiba aku terkesiap tatkala pikiranku tertuju pada Karin.

Aku mengeluarkan ponselku, memandangi jam yang sudah menunjuk pukul setengah sebelas malam. Aku agak khawatir memikirkan Karin yang nantinya akan terbangun. Jadi, aku bergegas bangkit, tetapi kebingungan melandaku sejenak. Pulang mau mau naik apa aku?
Aku mengedarkan pandanganku pada tempat ini. Di depanku ada semak belukar. Pohon-pohon seperti yang kujelaskan di atas. Di belakang ada got dan tembok. Pandanganku bergerak ke kanan, pada sosok seorang gadis lima belas meter dariku. Gadis itu sedang berjalan dengan sempoyongan sambil memegangi kepalanya.

Aku mengamatinya lebih seksama. Dia kukenali sebagai gadis yang berbuat mesum tadi. Penampilannya benar-benar vulgar. Dengan hotpants abu-abu dan tanktop putih bergaris-garis hitam. Aku meneliti tubuhnya dan terheran-heran dengan selangkangannya yang basah kuyup sampai ke betisnya.
Semakin dekat makin jelas kelihatan kancing celananya yang tidak terkait, sehingga celananya agak turun menampilkan celana dalamnya yang berwarna merah muda. Tapi dia berhenti sebentar, lalu menaikkan celananya tanpa mengaitkan kancing celananya. Ketika aku menaikkan pandanganku dan bertemu pandang dengan tiga orang cowok di belakangnya. Entah mengapa tiba-tiba saja mereka berbalik pergi. Aku tidak perlu menerka terlalu jauh untuk tahu apa yang sedang mereka pikirkan.

Aku pun memandang gadis itu lagi. Belahan dadanya terlihat jelas dan ukuran dadanya benar-benar kelas satu! Biar kutebak, dia pasti tidak mengenakan BH, sebab kedua puting susunya begitu menonjol pada pakaiannya. Seharusnya libidoku naik dengan pemandangan menggairahkan ini, tapi aku malah merasa kasihan melihat keadaan mengenaskan gadis itu.

Jadi di sinilah aku. Berdiri mematung sambil memperhatikannya. Lantas memutuskan berhenti melakukan itu. Karna tidak ada gunanya. Aku menarik napas dalam-dalam dan berpaling pada ujung sepatuku. Berpikir lagi tentang perihal yang menimpa Nagato.

Pada akhirnya aku pun mendesah. Lantas berjalan pulang melalui tepi jalanan ini. Jalanan terasa makin sepi, lalu mulai menanjak. Aku melihat ke langit, pada gemintang yang bertaburan bagaikan berlian. Pada sinar kelabu sang rembulan yang menyibak gelapnya malam...
Aku sampai di ujung jembatan dan tertegun. Angin berhembus kencang... Hembusannya menggoyang dahan-dahan pohon hingga kulihat pepohonan seakan melambai-lambai padaku... begitu sepi... Aku sedang memandangi jembatan ketika tiba-tiba saja aku melihat... gadis itu.

Dia berdiri di sana, pada pembatas jembatan sambil menunduk. Agaknya dia sedang menikmati pemandangan sungai yang diterangi rembulan itu.
Aku meneruskan langkah. Angin berhenti bertiup. Lalu samar-samar kudengar sebuah isakan. Kedengaran begitu menyedihkan... Aku pun kian mendekati gadis itu, isakan itu makin kedengaran jelas di telingaku. Ternyata dia tidak sedang menikmati pemandangan. Melainkan hanya butuh tempat sepi untuk mencurahkan perasaan gundahnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karna rambut sebahunya itu.

Aku terus berderap dan tiba di belakangnya. Aku pun berhenti, ragu-ragu sejenak. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku ingin tahu. Kepalanya makin tertunduk, dan bahunya pun terguncang-guncang. Isak tangisnya terdengar kian nyaring. Aku menatapnya dengan terenyuh selama kira-kira dua menit.

Akhirnya ia pun berhenti. Kepalanya kembali tegak. Ia berkata sambil mengusap-usap wajahnya, "Tidak apa-apa," katanya. "aku b-baik-baik saja. Tolong pergilah. Aku ingin sendiri."

Aku mengangkat bahu. "Ya, sudah." Aku pun melanjutkan perjalananku. Belum sepuluh langkah berjalan, sekonyong-konyong adrenalinku berpacu. Bulu kudukku pun meremang. Aku merasakan suatu tanda bahaya di belakangku. Suatu bahaya mengerikan yang akan menimpaku. Peringatan itu terus berseru bahaya! Bahaya! Bahaya! Biasanya aku akan berlari ketakutan. Tapi aku sontak berbalik, menyaksikan gadis itu berusaha menaiki pambatas jembatan.

Aku tak mau menebak. Aku tak mau bertanya. Aku langsung menghampirinya dengan kecepatan mencengangkan. Aku berhasil menggaet perutnya dan ia pun jatuh menimpaku dengan bunyi brugh parah! Kepalaku berdenging saat membentur aspal. Aku merasa pusing, nyaris pingsan. Kurasa gadis itu memukuliku serta meneriakiku.
Tapi aku terlalu pusing untuk menyadari hal itu. Perlahan aku mulai bisa mendengar napasku, dan merasakan kepalaku berdenyut-denyut. Aku mengerang, memegangi belakang kepalaku yang sakit sekali. Sambil bangkit setengah duduk, aku menatap gadis itu duduk di trotoar sambil menangis.

"Kurasa aku berhutang maaf karna telah ikut campur masalahmu," kataku apa adanya. "aku melakukan itu semata-mata karna kaget. Tiba-tiba saja aku merasa segala sesuatunya tidak beres."

Dia memeluk lututnya seraya membenamkan wajahnya. Isakannya kembali nyaring. Betapa kasihannya aku melihat keadaannya. Aku terdiam, berpaling menatap rembulan dan langit malam yang sunyi itu.

Pelan-pelan isakan gadis itu mulai memudar. Aku kembali menatap lurus kepalanya yang sebagiannya terkena sinar pucat sang rembulan. Ia lalu berkata, "Terima kasih telah mencegahku melakukan itu... Aku sudah begitu putus asa dengan hidupku ini," Ia terisak. Suaranya begitu sendu. Lantas melanjutkan, "aku kehilangan segalanya. Orang tuaku, keluargaku, dan teman-temanku..."

"Apa mereka telah mati?" tanyaku.

Dia menggeleng. "Aku mengkhianati mereka..." Selanjutnya ceritanya mengalir dengan agak tragis. Dia datang ke Konoha sebagai mahasiswi. Hidup serba berkecukupan. Lalu sama seperti gadis-gadis lainnya yang kepincut dengan seorang laki-laki ganteng tapi brengsek. Si laki-laki lalu bersikap seperti lintah darat. Dan ia menghabiskan uang kiriman orang tuanya hanya untuk menuruti kemauan laki-laki itu. Lantas tibalah saat ia mulai kekurangan uang. Baru diketahuinya laki-laki itu ternyata seorang pecandu sekaligus pengedar. Jadi gadis itu pun terjerumus ke dalam dunia yang agak kelam itu, terjebak di sana. Lalu masalah mulai muncul. Dia menunggak biaya perkuliahan, hutang sana-sini dan hidupnya sudah terjepit. Orang tuanya mulai bertanya soal uang-uang dan hutang-hutang itu. Yah, dalam keadaan terpaksa itu dia akhirnya ikut jadi pengedar, tapi uang itu tak cukup, lantas ia pun terjun sebagai pelacur. Lalu semuanya terungkap, hingga ke telinga orang tuanya. Dari sana saja hidupnya sudah hancur. Kemudian laki-laki itu meninggalkannya. Gadis itu pun hancur total...

Aduh letih sekali aku rasanya. Mengapa tak kubiarkan saja dia bunuh diri tadi? Aku bertanya-tanya. Mengapa aku harus menghentikannya? Aku tidak tahu jawabannya. Apa yang kulakukan itu semata-mata karna perilaku impulsif saja.

Aku memandangnya lekat-lekat dengan agak sebal. Aku jadi ingin melemparnya sekarang ke sungai saking jengkelnya aku mendengar cerita itu. Tapi toh, dia menyesali perbuatannya itu. Bagaimana pun juga selalu ada kesempatan kedua buat orang-orang semacam ini.
Aku membuang napas. "Orang tuaku sering bercerita tentang kelakuanku sewaktu aku masih baru belajar berjalan," kataku menerawang. "aku tersandung dan jatuh berkali-kali. Tapi aku tak menyerah begitu saja. Aku berusaha bangkit lagi... Kupikir dalam hidup ini memang nyaris seperti itu. Kita sering jatuh, puluhan kali, dan memang menyakitkan hingga kita kadang-kadang menangis. Tapi kita memilih tak mau menyerah. Kita berusaha mencoba bangkit lagi dan lagi sampai akhirnya kita bisa berlari." Aku pun berhenti sejenak.

Dia berkata dengan setengah berbisik, "Aku tidak tahu bagaimana... caranya memperbaiki semuanya... Semuanya jalan terasa buntu bagiku."

"Mulailah dari yang paling awal. Selalu begitu 'kan? Jika kita menemui jalan buntu. Kita kembali ke tempat kita salah mengambil jalan," kataku. "maafkan dirimu, lalu datangi orang tuamu dan minta maaflah."

Ia terdiam sesaat, menatapku dengan serius. Aku punya pikiran kalau perempuan ini bakal merepotkan hidupku. Aku tidak mau menanggung hidup orang. Aku saja masih jadi beban orang tua. Sekonyong-konyong ia pun berpaling. "Aku tidak yakin akan semudah itu jadinya."

Aku mengangkat bahu, dan bangkit. "Memang," sahutku. Aku berdiri tegak. "kadang mengkhianati orang itu lebih mudah daripada mendapat kepercayaannya. Lagipula kau 'kan sedang berusaha memperbaiki semua kesalahanmu. Belum apa-apa kau sudah menyerah begitu. Padahal kau juga belum yakin jawabannya akan seperti apa. Kau harusnya mencoba dulu. Hasil akhirnya tak usah kau pikirkan sebelum terjadi." Aku menghampirinya. Dia mendongak kepadaku. Ya, ampun. Betapa memprihatinkan tampangnya itu. Aku mengulurkan tangan. "Ayo, bangun. Kita pulang. Biar kuantar sampai ke rumahmu."

Dia pun mendesah dan meraih tanganku. Aku mengambilkan tas miliknya yang tadi terlempar, kemudian memberikannya.

"Betulkan celanamu dulu sebelum kita berangkat," kataku setelah dia sudah berdiri meski tidak tegak. Dia menunduk, dan cepat-cepat dibetulkannya celananya sampai ke kancingnya.

"Kau bisa jalan?" Dia mengangguk.

"Silahkan duluan." Dìa berjalan lagi, tapi jalannya masih agak sempoyongan. Bagaimana pun juga aku merasa khawatir kalau-kalau dia akan menepi dan menerjang selokan. Aku pun segera merangkul pinggangnya dan menariknya dalam dekapanku.

Dia memandangku dengan bingung. Sepasang mata lavender yang besar dan hampa. Aku jadi teringat pada gadisku. Seketika aku merasa sedih. Aku tersenyum paksa padanya sambil menjawab, "Jalanmu masih tidak benar." Dia menunduk, menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.

"Sebentar." Aku berhenti, lalu melepaskan jaket hitam yang ku kenakan. Memakaikannya ke tubuh gadis itu. "Nah. Begini lebih baik." Aku merangkul pundaknya, tidak lagi pinggangnya.

Aku menatap jalanan sambil merenung. Angin malam berhembus lembut menyapaku. Aku mencium aroma parfum, wangi sampo dan bau busuk dari gadis itu. Aku ingin sekali bilang 'Sikat gigimu dulu sana!' saking bingungnya dengan ketiga bau itu.
Dalam kesunyian itu kami terus berjalan dalam hening menyusuri jalanan. Lama-kelamaan kakiku terasa pegal. Aku berpaling pada gadis itu, memandang poninya sambil bertanya-tanya. Apa dia capek juga. Wah, pasti itu. Aku lantas berhenti. "Mauku gendong?" tanyaku.

"Makasih," gumamnya setelah dia berada di punggungku. Dia memeluk leherku. Aku merasakan sesuatu yang empuk di punggungku. Nyaris saja aku berada dalam gairah yang meresahkan gara-gara bagian yang empuk itu. Tapi karna bau napasnya yang mirip bau tai ayam itu aku jadi ingin muntah. Sepanjang perjalanan itu sejatinya aku tak sudah-sudahnya mendengus. Satu-dua Kilo Meter kutempuh bagai di penjara saja. Untung deh penderitaanku berakhir saat kulihat sebuah taksi terparkir di tepi jalanan. Aku melihat rumah-rumah mulai tampak, tapi tak banyak.

Aku berhenti sehingga gadis itu bertanya padaku, "Kenapa berhenti?"

"Kau punya uang tidak?"
Dia mengangguk sambil memberikan tasnya padaku. Aku pun menurunkan gadis itu, lalu mengambil tas itu, membukanya, dan mengorek-orek isinya. Ada ponsel, selembar lima puluh ribuan, dan aku agak terkejut melihat pil-pil mencurigakan dalam sebuah plastik kecil yang kutebak bahwa itu adalah ekstasi.
Aku ingin menyingkirkan benda itu dari tasnya. Kepalaku sibuk mencari-cari alasan-alasan yang tepat untuk membenarkan tindakanku.

Aku sudah mengantarnya sampai sejauh ini dan semua yang kulakukan ini harus ada bayarannya. Dan kupikir pil ini adalah hal yang tepat. Sambil meliriknya, dengan cepat dan singkat kuambil pil-pil itu beserta selembar uang lima puluh ribuan yang ada di tasnya.

"Rumahmu di mana?" tanyaku.

Dia berkata, "Di Distrik 4, jalan Sarutobi no. 5, komplek perumahan H no. 9."

Aku sedikit terkejut. Jauh sekali rumahnya, dan yang kutahu letak rumahnya berada di sebelah barat, letak tepatnya aku tidak tahu persis.

Bodo amatlah. Pak taksi juga pasti tahu dimana tempat mencurigakan itu. Tapi sekarang hanya ada satu kendala lagi. Uang ini cukup tidak untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuannya? Sementara aku sendiri tidak tahu berapa tarif taxi itu sampai ke tujuan gadis ini. dan aku kira ongkosnya akan mahal sekali.

Aku berpikir keras. Banyak hal yang mungkin akan terjadi nanti. Sopir itu bisa saja berniat jahat padanya nanti, lalu dia akan menyuruh gadis ini membayar dengan tubuhnya. Waduh, sial betul! Pikiran buruk ini membuatku akhirnya sempat ingin mengurungkan niatku. Namun setelah mengingat-ingat malam sudah larut dan aku harus segera pulang untuk melihat keadaan Karin. Jadi aku tak punya pilihan lain selain menyewa taksi ini dan memastikan dia tidak diapa-apakan nanti.

"Taksi, pak." kataku setelah sampai di samping kanan taksi itu. Sopir taksi berumur kira-kira seperti ayahku. Wajahnya sudah berkerut tapi kelihatan segar walau pun tampak ada kelelahan pada wajahnya, tetapi tidak menghilangkan kesegaran dalam wajahnya. Kulitnya putih dan ada janggut pendek yang menghiasi dagunya. Rambutnya pendek di sisir ke samping.

Dia menatap kami, mengamat-amati kami dengan agak malas. Kemudian mendesah, dan menampilkan suatu kesan merendahkan pada wajahnya.

"Ya sudah, masuk," katanya dengan nada suara yang tidak ramah.

Aku membuka pintu, lalu menangkup puncak kepala gadis ini dan masuk.

"Ke mana dek?" tanyanya dengan suara yang tidak minat.

Aku menyebutkan alamatnya dan dia segera menjalankan mobil ini. Hatiku tak pernah berhenti berdebar-debar memikirkan ongkosnya.

Mendadak bapak itu mengajakku ngobrol. Melalui pantulan cermin kecil yang tergantung di langit-langit mobil taksi pandangan kami bertemu.

"Pacarnya ya dek?" Dia bertanya.

"Bukan," jawabku dengan malu-malu.

"Temannya?"

"Bukan juga."

"Terus siapa?" Mau tauuu ajaa.

Dengan gugup aku menjawab, "Tidak tahu. Tadi ketemu di jalan udah kayak gini. Karna kasihan akhirnya saya anterin. G-gak tega melihatnya pulang sendirian..." Aku menyisir-nyisir rambut gadis ini.

"Ooo..." jawabnya singkat. Setelah itu kami diam.

Jantungku semakin berdebar-debar. Aku mengeluarkan uangku dari saku celanaku dan menyatukan uang kami.

Kira-kira cukup tidak uang ini buat bayar ongkos taksi. Semakin jauh taksi ini bergerak memasuki kota, aku semakin panik dan cemas. Akhirnya aku beranikan mengutarakan masalahku ini.
"Pak―" Tapi belum sempat melanjutkan kata-kataku, bapak ini sudah memotong kalimatku duluan.

"Adek bayar saja uang bensinnya. Tidak perlu bayar ongkos taksinya."

Huh, aku agak lega setelah mendengar ucapan bapak itu.

"Berapa pak kira-kira?"

"20.000 saja," jawabnya singkat.
Kuberikan lembaran dua puluh ribuan yang diberikan ibuku ini pada pak sopir itu. Kemudian memasukkan uang gadis ini ke dompetnya. Sekarang aku bisa bernapas dengan sangat lega. Setelah taksi ini tikung sana, tikung sini, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sebelum turun aku mengucapkan terima kasih dulu dan mendoakannya supaya dapat rezeki yang banyak.

"Rumahmu di mana?" tanyaku ketika menyaksikan deretan rumah kembar berwarna-warni di kiri kanan jalan ini.

"No. 9," lirihnya.

Aku mengamati rumah-rumah ini. Mulai menghitung nomor yang tertera satu-persatu. Dan menemukan rumah yang kami tuju. Rumah yang sederhana berwarna putih. Kami memasuki halamannya, lalu berhenti.

"Sudah sampai," kataku. Dia mengangkat kepalanya dari bahuku, merogoh tas ungunya dan mengeluarkan kunci.

"Bukakan aku," pintanya sambil menyerahkan kunci di tangannya. Aku pun menerimanya, kemudian merangkulnya dan menghampiri rumah itu.

Setibanya kami di depan pintu, aku melepaskannya, lalu berkutat dengan pintu ini. Setelah terbuka aku menyuruhnya masuk.

"Masuklah."

"Kau tidak masuk dulu?" tanyanya.

"Aku harus segera pulang."

Dia diam beberapa lamanya dulu. Lalu berkata, "Terima kasih."

"Tidak masalah... Aku pulang dulu ya?" pamitku sembari membalik tubuhku.

"Kuharap..." Dia berhenti berucap.
Aku meliriknya tanpa berbalik.

"Ya?" sahutku.

"Kuharap kita bisa bertemu lagi..."

Aku tersenyum. "Ya, kuharap juga begitu... Dah!" Aku berjalan sambil mengangkat tanganku dan melambaikannya.

Menit demi menit berlalu. Aku terus berjalan tanpa henti memikirkan gadis itu. Kadang berbelok ke kiri, kadang belok kanan. Tapi ketika pikiranku beralih ke Karin, aku langsung tersentak dan menyadari bahwa tempat ini sama sekali tak kukenali.

Setan! Di mana ini? Pikirku. Aku mencoba kembali ke rumah gadis itu, namun saat aku bertemu pertigaan jalan aku jadi bingung.

Aku lewat mana tadi? Yang kiri atau yang kanan? Wadaw! Aku tidak ingat. Kenapa aku bisa seceroboh ini sih!

Aku mulai memilih-milih, yang kanan atau kiri. Akhirnya aku tetapkan pilihan ke kiri. Aku berbelok dan berjalan sambil mengamati rumah-rumah ini. Barang kali nanti ada yang ku kenali. Sudah berpuluh menit berjalan aku malah semakin tak mengenali jalan-jalan ini yang sekarang jadi agak padat dengan banyak rumah-rumah dan toko-toko yang berjejer di sepanjang sisi jalanan.

Apa aku harus menggedor-gedor rumah-rumah ini dan bertanya di mana rumahku? Tidak, tidak. Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi gara-gara pikiran konyol itu, aku bisa sedikit tertawa dan merasa terhibur di sela-sela kebingunganku.

Aku memberhentikan langkahku di sebuah perempatan jalan. Berpikir-pikir sebentar apa yang harus kulakukan. 'Oh ya, tentu saja... Ponsel.' batinku sambil tersenyum. Aku berterima kasih pada pencipta benda persegi panjang ini. Karna dengannya sekarang ini aku bisa menghubungi orang tuaku dan menyuruhnya menjemputku.
Kesialan lain mendatangiku. Di saat-saat genting seperti ini malah pulsaku zonk. Pikiranku jadi tambah runyam dan aku tambah bingung.

Ah! Ada ide yang terlintas dalam benakku. Kali ini aku bisa bernapas dengan lega. Aku hanya tinggal mencari orang untuk ditanya di mana halte bis terdekat agar aku bisa pulang.

Ku rogoh saku celanaku, tapi kosong. Di mana uangku?! Aku mulai panik, lalu kukorek-korek semua saku celanaku, tak ketemu juga. Tapi...

"Sial!"

Aku lupa bahwa uang tadi sudah kuberikan pada pak sopir taksi. Sekarang aku benar-benar pusing bercampur bingung. Hari ini aku sial sekali. Berturut-turut selama seharian ini aku ditimpa sial terus. Mimpi apa aku semalam?
Aku berjalan dengan lemah. Berbelok ke kiri sambil menggerutu dalam perjalananku.

Tiba-tiba...

"Naruto."

Huh? Siapa yang memanggilku? Apakah itu jin? Wah asyik! Nanti minta diantarkan saja jin itu.
Aku mengangkat wajahku dan melihat orang yang kukenali sedang berdiri di tepi jalan bersama motornya.

"Shhiiinnooo!" Aku berhamburan memeluknya sambil menangis haru. Tuhan memang baik.

"Lepaskan aku! Woi kau ini maho ya! Lepaskan aku!" teriaknya sambil mendorong-dorongku.
Aku pun melepaskannya dan menghapus air mata haruku.

"Apa yang kau lakukan di tempat jauh seperti ini?"

"Aku sedang tersesat di jalan yang bernama kehidupan..." jawabku sambil memasang ekspresi sesedih mungkin.

"Shino! Antarkan aku pulang!"
Dia mendesah. "Baik-baik. Ayo naik." Dia menaiki motornya dan aku juga.

"Kau sedang apa sih di sini?"

"Kepo banget sih..."

"Gak gitu juga klezz..."

"Tadi... Aku lagi maling ayam. Tapi aku tersesat ketika negara Api menyerang..."

Tebece