Disclaimer : Naruto milik Masashi Kisimoto
.
.
..
Aku menghembuskan napas dengan frustasi. Sambil menatap langit-langit kamar, aku menyulut sebatang rokok. Di dekatku, radio ponselku sedang mengumandangkan sebuah lagu nostalgia. Lagu itu bergema memenuhi kamarku yang sepi dengan nadanya yang melankolis. Lalu lagu itu berakhir. Suara celoteh seorang laki-laki kembali mengudara. Aku tak terlalu peduli pada apa yang dikatakannya. Sebab kata-kata itu sudah terlalu sering kudengar. Nyatanya pikiranku tertuju pada gadisku yang jauh di sana dan merasa gundah. Bagaimana kabarnya sekarang? Akhir-akhir ini aku tak pernah jenuh mengenang gadis itu, dan nyaris saja mempermalukan diri dengan menghubunginya. Untung saja selalu ada yang mengingatkanku bahwa hubungan kami telah berakhir. Kenyataan itu sering memalingkanku dari rasa rindu yang menyiksa kepada kesepian menggelisahkan. Aku tak bisa melepaskan diri dari kenangan itu semudah yang kukira, seakan-akan kenangan itu telah mengekor padaku seperti bayanganku saja.
"...buat seseorang yang burik jauh di sana. Semoga cowok itu juga mendengarkan suara hati Nona Sara yang sedang dirundung rindu. Oke, buat para pendengar setia Radio Asmara Konoha di mana pun kalian berada, semoga lagu 'Geisha – Takkan Pernah Ada' ini menemani malam sobat-sobat sesaat lagi..."
Aku mengernyit sebentar ketika mendengar kalimat-kalimat itu, tapi mengabaikannya. Lalu berpaling lagi memikirkan gadisku. Segalanya tentang dirinya. Rambutnya yang sekelam malam. Wajahnya yang sepucat rembulan. Matanya, aku mengingat-ingat dengan agak sedih, yang telah menusuk perasaanku berulang-ulang. Dia tak pernah memandangiku lama. Bahkan mungkin kurang dari 5 detik. Namun demikian, cara dia melirikku, sinarnya yang lembut... sekejap saja aku menjadi tak berdaya karna pandangan sekejap itu... Aku mengingat pohon-pohon Kersen itu, yang berterbangan kala angin bertiup pada suatu sore di bulan Mei...
Aku menghisap rokok dengan agak bernafsu. Asapnya melewati tenggorokanku. Aku termangu sebentar merasakan asap itu menyengat paru-paruku, lalu membuangnya. Dengan pandangan berkaca-kaca aku menyaksikan asap itu menyembur keluar dari mulutku. Payah sekali keadaanku ini. Aku jadi ingin mati saat ini juga gara-gara mengenang gadisku...
Ponselku pun berdering. Setengah sadar aku menjawab panggilan itu. "Halo!" Aku menjauhkan ponsel itu ke depan wajahku. Memandang lekat-lekat nomer si penelpon. Sekonyong-konyong dadaku menjadi nyeri. Aku hafal betul nomer itu!
"Kak." Suaranya begitu lembut, seperti yang sudah terlalu sering kudengar pada saat aku bersamanya menyambut mentari pagi. Suara yang merasuki dan melukai perasaanku dengan rasa rindu akan kenangan indah itu. Mataku menjadi perih. Aku menarik napas begitu panjang, dan merasa sakit.
"Apa kabar, Hana?" tanyaku tiba-tiba.
"Baik kok, kak. Kakak apa kabar?"
Aku tergoda untuk mengatakan buruk, hanya untuk melihat bagaimana reaksinya. Tapi aku mengurungkannya dan menjawab dengan agak formal. "Baik juga. Bagaimana sekolah, Hana?"
Kemudian obrolan itu mengalir dengan agak kaku. Padahal kurang dari dua minggu hubungan kami telah putus. Tapi seakan-akan baru kenal saja. Rasanya agak aneh ketika kita begitu dekat dengan seseorang lalu tiba-tiba jadi berubah hanya gara-gara sebuah masalah kecil.
"Kak," panggil Hanabi lagi ketika kecewa itu masih menyergap perasaanku.
Aku berdehem. "Ya?" sahutku dengan agak sedih.
"Kakak gak ke sini besok?" gumamnya.
"Buat apa?" tanyaku.
Dia mendesah. "Buat ketemu Hanalah," sahutnya dengan sewot.
Aku mengerutkan dahi. "Emangnya ada apa? Kok tumben Hana minta ketemu?"
Dia mendesis. "Gak usah banyak nanya. Kakak kesini gak besok?"
"Idih, galak banget," kataku berkelakar. "kalem dong. Cantik-cantik kok galak. Ya sudah, besok, aku tunggu di tempat biasa. Awas kalau nggak keluar."
Dia berkata, "Kakak tunggu saja di situ sampai tua. Mungkin saja dikira orang gila nanti."
"Serius nih? Jangan bercanda ah, " kataku dengan agak marah. "Pokoknya awas saja kalau Hana gak keluar. Bakal kakak datangi rumah Hana nanti."
"Mau apa datang ke rumah Hana?"
"Mau perkosa Hana."
"Huuuu... Mulai ngeress."
Aku jadi gemas mendengar suaranya. "Eh, maaf kelepasan. Terus Hana di rumah sendirian?"
"Emmmm. Sebentar dulu kak." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba ada suara grasak-grusuk. Kedengarannya mencurigakan. Lalu hening dan aku menunggu beberapa menit lamanya. Aku melakukan satu putaran penuh dengan mataku mengelilingi langit- langit kamarku. Kemudian tak lama setelahnya suara grasak-grusuk itu terdengar lagi.
"Kak," panggilnya.
"Em... Abis ke mana tadi?"
"Abis bakar obat nyamuk. Di sini banyak nyamuk kak."
"Ooo.. Hana sendirian?"
"Bareng nenek," katanya.
Aku berkata, "Ya sudah nanti kakak temenin..."
"Pasti mikirnya ke mana-mana," katanya.
"Nggak," sanggahku.
"Ngaku gak?"
"Mau tauu ajaaa..."
_$xxxx$_
Malam itu aku tidur dengan gembira, berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi ketika aku terbangun pada pagi harinya, aku merasa gelisah. Aku pun menunggunya di tempat itu, seperti biasanya. Tak luput jantungku yang berdebar-debar. Perasaan yang tak karuan, sakit, cemas dan juga rindu menggelutiku nyaris tanpa ampun hingga aku merasa ingin muntah.
Terengah-engah, aku melihat lagi ke tempat ia biasa muncul. Waktu terus berjalan dengan memuakkan. Bayangnya tak jua ada. Hanya ada aku menatap jalanan yang amat sepi dengan keadaan nyaris putus asa. Lantas kecewa seakan dipermainkan, begitulah ia tak juga muncul meski fajar telah naik dan bersembunyi di balik awan mendung. Sekonyong-konyong gerimis pun mulai berhamburan.
Di tepi jalanan ini, aku menyesal, bertanya-tanya : Dua kali dan mengapa harus kupercaya omong kosongnya lagi? Aku mendesah, merasa kecut. Angin dingin berhembus dan rinai itu bagaikan jarum kecil menyengat kulitku. Tiba-tiba aku keheranan saat gerimis itu tak lagi menyentuhku. Sesosok bayangan yang muncul di dekatku mengejutkanku. Aku pun menengok, melihat Sara berdiri di dekatku sambil memayungiku. Pandangan matanya dan roman mukanya saat melihat padaku tampak begitu menyakitkan, seolah-olah aku adalah anak kecil kurang perhatian. Aku memutuskan berpaling.
"Hai, Sara," sapaku.
"Sedang menunggu dia?" tanyanya simpatik. Aku mengangguk sendu. "Ini 'kan hujan? Apa yang kau pikirkan sampai duduk di sini."
Aku menyahut tanpa semangat, "Tidak ada, Sara. Dia tak mau keluar. Rasanya aku sudah selesai di sini."
"Kau aneh," ujarnya. Suaranya kedengaran ganjil. Getaran nadanya terasa menusuk ke dalam diriku. Aku sontak mendongak, melihat matanya lagi. Kepedihan itu sekarang terpampang begitu nyata dalam mata dan wajahnya. Dia cocok sekali dengan gambaran 'Si Cantik Yang Tersakiti.' dalam acara telenovela drama cinta. Untuk sesaat aku menyaksikan Sara yang tampak berbeda dari yang selama ini kukenal. Aku jadi ingin tahu.
Sara membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Aku pun mendahuluinya. "Lagi-lagi kau melihatku seperti itu." Matanya membuka lebar selama setengah detik, tampak tegang. Lalu dia berkedip-kedip dan mundur selangkah.
"Maaf," katanya berusaha terdengar wajar. "kelihatan sekali ya?"
"Ada apa sebenarnya?"
Sara berkata tanpa mau melihat padaku, "Bukan apa-apa. Jangan tanya sekarang. Aku belum siap bercerita."
Aku mengendikkan bahu. Lalu bangkit. "Yah, begitu lagi. Aku takkan memaksa. Tapi kau tak keberatan 'kan kalau kita jalan bareng?"
"Tentu saja."
Semenit kemudian kami berjalan di jalanan basah. Suasananya agak canggung, sebab kali ini tak ada percakapan. Sara tidak seceria biasanya. Bahkan mungkin dia semendung langit diatas sana. Aku pun menjadi agak resah sambil menduga-duga kalau Sara sedang mengalami GPM (Gangguan Pasca Menstruasi). Aku memikirkan sesuatu yang mengerikan tentang selangkangan berdarah sampai-sampai aku menjadi ketakutan.
"Kau tidak capek memegang payung itu?" tanyaku tiba-tiba.
Sara menoleh seketika. "Tidak."
"Biar aku saja," usulku sambil meraih payung.
"Tidak usah." Sara menolak. Lalu ada motor yang tiba-tiba lewat di dekat kami. Aku menoleh dan terguncang. Aku melihat gadisku, dibonceng oleh seorang cowok asing. Dia bahkan berdandan secantik sore waktu itu. Pemandangan gadisku telah menemukan cowok baru sekonyong-konyong mengguncangku dengan pedih yang tak tergambarkan. Aku pun tertegun, menatap lekat-lekat bayangnya yang tak peduli. Aku berharap, meski kecil kemungkinannya, dia akan menoleh. Aku nyaris menangis saat dia hilang di tikungan di dekat jembatan. Aku bahkan lupa kalau ada Sara di dekatku. Serentetan bayangan tentang hidupku yang hancur karna gadisku telah direbut orang lain pun bergentayangan di benakku seperti layar bioskop. Mulai dari pemabuk berat, pecandu ganja yang akhirnya bunuh diri gara-gara patah hati (Aku menolak bagian yang ini karna begitu memalukan), sampai menjadi Mafia Kelas Berat!
"Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Sara tiba-tiba. Pertanyaan itu mengembalikan pikiranku ke realita dan aku mendapati air mataku nyaris berlinang. Aku berkedip sambil menarik napas dalam-dalam. Momen kurang dari semenit itu mengguncangku dengan hebat seolah-olah aku baru saja mendapat vonis hukuman mati.
"Salahku apa sih?" tanyaku agak muak. Sara membisu. "menyesal aku berjanji aku akan menunggunya. Mending ku lanjutkan saja tidurku tadi. Kukira dia ingin bertemu denganku. Nyatanya cuma pamer. Salahku sendiri berpikir yang macam-macam."
Sara memegang tanganku dengan erat hingga aku tersadar akibat kepedihan itu. "Ayo jalan." Dia menarik ku paksa. Mungkin dia bosan mendengar keluhanku yang begitu banyak. Aku pun mengikutinya. Gerimis pun berganti hujan. Rinainya semakin deras. Angin kencang menampar-nampar pakaian kami. Sara kembali menarikku ke tepi. Kami berteduh di bawah naungan pohon kersen di pinggir jalan.
"Biar aku saja," tawarku sambil meraih payung itu dari tangan yang satunya. Sara lalu menepuk-nepuk roknya yang setengah basah tanpa melepaskan tanganku. Aku memperhatikan Sara selama beberapa saat. Pandanganku akhirnya berhenti sejenak pada tangan kami yang bertaut.
"Eh, maaf," ujarnya ketika sadar dengan tautan tangan kami. Dia menarik tangannya. Tapi aku menggenggamnya lebih erat.
Kami pun bertatapan. "Biarkan saja," kataku saat detik-detik yang aneh berlalu dengan begitu ganjil. Untuk saat ini saja aku merasa kepedihanku terurai lembut menjadi hangat. Sinar matanya melembut, dan aku menjadi tenang karna pandangan itu. Sekonyong-konyong sinar matanya berubah berkaca-kaca. Pipinya merona, cantik bagaikan bidadari. Aku merasakan emosi hebat menerjangku gara-gara tatapan itu. Aku seharusnya tak melakukan ini...
Aku melepaskan genggamanku, merasa bersalah. "Maafkan aku, Sara," kataku. Baru sadar aku sesak napas. Aku berpaling dengan salah tingkah. Jantungku seolah ingin melonjak-lonjak, dan seluruh sendiku gemetaran. Aku hampir tak bisa mengendalikan diri.
Hujan pun mereda sedikit. Aku berdehem. "K-kau mau jalan tidak? N-nanti kau terlambat sekolahnya, " kataku dengan gugup.
"Baiklah," ujarnya dingin. Kami pun berjalan dalam hening. Hujan masih turun. Tapi sekarang sang surya sudah percaya diri tampil di depan umum. Dia muncul dari balik awan mendung dan bersinar terang seperti bintang utama.
Aku masih memikirkan kejadian beberapa waktu lalu. Aku pun tidak mengerti dengan apa yang kualami. Aku juga tidak bisa berkata apa-apa. Seluruh kepalaku terasa kosong. Aku menengok Sara yang juga jadi pendiam. Tanpa sadar aku melihat sekolahan itu, dan tersentak. Kami tepat berada di pertigaan jalan. Entah mengapa aku menjadi sedih...
"Sudah sampai," ujarku sendu.
Sara terkesiap. "Eh." Dia melihat sekelilingnya.
Aku mengulurkan payungnya. "Ini."
"Lalu kau pulang dengan apa?" tanyanya. Kami bertatapan lagi.
"Jalan kaki."
"Tapi ini masih hujan."
Aku berkata, "Tak apa-apa. Lagipula aku tidak akan mati hanya karna kehujanan."
"Tapi kau akan sakit nanti. Pakai saja payung ini."
"Kalau kau yang sakit? Malah aku yang akan sakit karna memikirkanmu."
Dia terdiam sambil menatap mataku lekat-lekat. Sinar matanya kembali tenang. Dia membuang napas. "Ambil saja ini. Kembalikan lagi nanti kalau kau kemari lagi. Kalau bisa secepatnya."
"Nggak deh. Aku tak mau melihatmu basah kuyup saat masuk kelas. Apa kata teman-temanmu nanti?"
"Aku tak terlalu peduli," katanya. "'kan lagi hujan. Semua orang juga seenggaknya pasti setengah basah saat masuk kelas."
Aku berkata, "Nggak deh. Begini saja. Biar kuantar sampai di depan sekolahmu, lalu kau buru-buru masuk."
Dia menatapku seolah aku sudah gila. Tapi pada akhirnya mengangguk. Kami kembali melangkah. Berat sekali dadaku melihat sekolah itu makin dekat dengan kami. "Pemandangan di sini bagus ya?" tanyaku berbasa-basi. "tidak seperti di tempatku. Terlalu banyak bangunannya. Agak bising kalau sudah jam segini..." Aku membuang napas. Kami mulai bercakap-cakap. Langkah kami memelan, bahkan makin pelan seiring begitu banyaknya topik yang ingin kami bahas. Sejujurnya perjalanan itu lebih memberi kesan mendalam dalam diriku. Seorang gadis cantik, pemandangan petak-petak sawah, awan kelabu yang menggantung, dan mentari yang bersinar di sana. Persis seperti sinetron kelas lokal.
Akhirnya percakapan itu berakhir saat kami berdiri di depan gerbang sekolah Sara. Hatiku agak sakit dengan perpisahan itu, entah mengapa. Aku sendiri tidak tahu.
"Sudah sampai," ujarku dengan agak nelangsa.
Terjadi jeda beberapa saat. Sara berkata, " Cepat sekali. Sudah dulu ya?"
"Kalau saja sekolahmu lebih jauh." Aku meliriknya.
Dia pun tersenyum. "Jangan lupa kembalikan payungku." Dia beranjak pergi dengan berlari kecil. Tapi kemudian berhenti di dekat gerbang, lalu berbalik. "Makasih sudah mengantarku!"
Dia pun masuk. Aku memperhatikan bayangnya melintas di halaman sekolah. Kibasan rambutnya yang dikuncir begitu mempesona. Dia berhenti sebentar saat mencapai koridor, berbalik lagi. Sekali lagi kami berpandangan. Dia lagi-lagi terdiam, tampak sedih. Dia melambaikan tangan padaku. Dia masih saja setia berdiri di sana sampai akhirnya aku tersenyum, dan berbalik pulang...
Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan diri di atas kasurku, kelelahan. Sambil memikirkan Sara dan pengalaman yang anehnya terasa singkat itu, aku hampir-hampir mati rasa. Barangkali saja aku sedang mengalami jatuh cinta... Pada Sara? Aku menepiskan perasaan aneh yang meninggalkan bekas mendalam itu. Sara sudah punya doi. Yang tadi itu pasti hanya kebetulan saja. Lagipula dia menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang entah terjadi padanya dan pacarnya. Sesuatu yang tidak boleh aku ketahui. Mungkin pengalaman singkat itu adalah pengalihan bagi pikirannya yang sedang keruh. Dan di sanalah aku, sebagai seorang sahabat yang ada di dekatnya ketika dia butuhkan. Ada apa sih antara mereka? Makin memikirkannya, aku jadi gelisah. Aku berpaling pada gadisku. Reaksinya yang tak peduli padaku. Wajahnya yang angkuh dan cuek ketika aku melihatnya dalam detik-detik yang begitu menyiksa. Asw! Aku mengumpat dalam hati. Pada akhirnya aku pun jadi sakit kepala... Lalu tertidur...
Dalam mimpiku, aku melihat Hanabi. Gadis itu berdiri di sana... pada jalan setapak tempat padi-padi itu mendayu-dayu tersapu angin yang lembut. Bermandikan sinar keperakan sang rembulan, dia amatlah cantik, Rambutnya terurai indah bak sutera. Pekat sewarna malam yang gelap. Bila terkena sinar rembulan, kilaunya bagaikan gemintang di langit hampa... tapi dia... Dia sendirian dalam latar belakang yang suram itu, seakan-akan hanya dirinyalah yang membuat pemandangan itu hidup... Dia mengingatkan aku pada pemandangan sebatang pohon kurma yang hidup menyendiri dalam gurun pasir yang gersang... Tapi ada sesuatu yang menggangguku di dekatku... Suatu sosok yang aku sendiri tidak tahu apa itu... Aku menoleh padanya... Aku melihat seorang gadis. Tapi anehnya tiap kali menatapnya lekat-lekat aku tak bisa mengingat seperti apa wajahnya. Aku punya firasat kuat bahwa aku mengenalnya.
Dia lantas tersenyum padaku. Senyumnya begitu manis. Aku meneliti matanya, hidungnya, bentuk wajahnya, dan bibirnya. Aku punya gambaran samar dengan wajah seseorang. Lalu gambaran itu lenyap seiring lenyapnya mimpi itu.
Aku terbangun dengan tubuh gemetar karna ketakutan. Konyol sekali. Hanya karna mimpi itu aku selalu berusaha melirik ke sampingku kalau-kalau sosok itu juga tiba-tiba saja muncul dan menerkamku. Sejenak kemudian aku telah sadar sepenuhnya dan jengkel karna kekonyolan sesaat itu...
Ternyata pagi yang cerah telah berganti senja yang hangat. Tak ada yang bagus tentang hari ini. Aku tak bisa menceritakan apa-apa. Begitu malam tiba, aku kembali mengingat bayangan Hanabi dengan mimpiku. Aku pun pergi ke taman, merenungkan sejenak tentang Hanabi dan cintaku yang bertepuk sebelah tangan...
Bersambung
Nb : jangan lupa kotak reviewnya diisi
