Disclaimer : Naruto milik om Masashi Kisimoto
.
.
Aku ingin marah. Betapa tak relanya aku saat tahu bahwa gadisku punya cowok baru. Membayangkannya saja membuatku ingin mematahkan leher seseorang. Semudah itu 'kah? Aku telah melewatkan hari-hari menyenangkan bersamanya, berbulan-bulan dan apa tak satu pun dari kisah asmara itu yang membekas dalam dirinya? Keterlaluan! Apa dia lupa menekan tombol 'Save Data' di kepalanya? Seperti yang kulakukan berulang kali sampai-sampai aku merasa otakku isinya hanya nama gadis itu saja.
Aku menahan dengus. Makin memikirkannya, aku makin marah. Oh, ya, dia tak cinta padaku. Jadi melupakanku seharusnya semudah mencungkil daki di kukunya. Aku malah mau mengamuk saja sekarang. "Huh..." Aku membuang napas dengan pahit. Kulirik jam di ponselku, sudah pukul 10 malam. Aku pun bangkit, dan pergi meninggalkan taman ini. Baru setengah perjalanan menuju rumahku, bayangan Karin sudah menghadang di depanku. Wajahnya yang sekaku batu seolah mengisyaratkan kalau-kalau gadis itu sudah gemas ingin mencekik leherku.
Ia berkata dengan nada tinggi, "Karin dari tadi nyariin kakak di rumah, tapi kakak nggak ada. Dicariin ke warnet juga nggak ada. Seharian ini kakak ke mana saja?! Tahu nggak Karin khawatir terjadi sesuatu sama kakak..." Aku pun mematung. Apa yang dikatakan Karin sama sekali tak masuk dalam kepalaku. Semua akal pikiranku menghilang. Aku hanya memandangi wajah Karin seakan dia adalah tayangan hitam putih di zaman baru ditemukannya tivi. Baru setelah dia menginjak dan meneriakiku, aku tersadar dari lamunanku.
"Waadaaooh!"
Aku menjerit kesakitan sambil memegangi kakiku. Setelah nyeri itu reda, aku memprotes. "Aduh, Karin ngapain sih kaki kakak diinjak?"
"Habis kakak, diajak ngobrol malah mengkhayal," jawab Karin dengan sebal. Kemudian dia menarik tanganku dan mengajakku pulang. Dia sesekali berbicara padaku, tapi aku tidak terlalu menanggapi obrolannya. Kadang-kadang kutimpali hanya sekadar agar aku tidak kelihatan cuek padanya.
Kurasa Karin menyadari itu, dan ketika kami sudah sampai rumahnya dia langsung menginterogasiku. Setelah secara polos kujawab semua pertanyaannya, dia pun menjadi marah dan membentakku. Dia lalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Kudengar dia menangis di dalam kamarnya. Aku pun menjadi bingung. Segera kugedor kamarnya sambil bertanya ada apa dengannya. Tapi yang kudapatkan adalah suara bugh keras di pintu. Lagi dan lagi aku bertanya, dan lagi juga jawaban yang ku terima hanya itu-itu saja.
Aku menyerah. Aku beranjak dari depan pintu ke ruang tengah dengan hati dongkol. Kurebahkan diriku di atas sofa sambil berpikir tentang sikap Karin yang aneh itu. Tapi lama kelamaan aku malah tertidur.
Keesokan harinya aku terbangun. Kebiasaan seperti biasanya aku akan mengantarkan Karin ke sekolah. Semenjak Nagato ketahuan mengkonsumsi narkoba, aku yang sekarang bertugas mengawasi Karin dari mengantar-jemputnya sekolah, menemaninya tidur saat orang tuanya keluar kota untuk bisnis, dan menemaninya saat dia mau keluar untuk keperluannya.
Aku bangkit dan melirik jam yang ada di dinding. Pukul tujuh lebih lima belas menit. Aneh, sudah sepagi ini tapi Karin tak membangunkanku. Sekonyong-konyong aku agak tersentak ketika mendengar suara deru motor dari halaman rumah. Aku pun keluar untuk mengecek. Meski agak silau-silau yang membuat mataku perih, aku memaksakan diri untuk memeriksa. Ketika sudah sampai di depan rumah, aku bisa melihat dengan jelas Karin sudah dibonceng pergi oleh seorang pemuda berambut putih yang satu seragam dengannya. Seketika itu juga aku menjadi cemas dan segera mencegat mereka. Tapi belum berjalan lima langkah, mereka sudah menghilang dari pandanganku.
Siang harinya ketika aku akan bersiap menjemputnya, dia sudah pulang bersama remaja itu. Pikiran-pikiran buruk dan kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Aku berlari masuk dan berteriak, "Karin. Tunggu!"
Tapi dia malah ikutan berlari dan masuk rumah. Tanpa mau menoleh sedikit pun padaku. Jengkel sekaligus terhina aku karna sikapnya.
Aku mencoba menyusulnya. Belum sempat mencapai pintu kamar, dia sudah mengunci pintu. Meski berkali-kali mencoba mengetuk, tetap saja jawaban yang kuterima selalu nihil.
Aku pun beranjak dari situ dan duduk di sofa sambil menunggu. Sampai matahari sudah terbenam, gadis itu belum juga mau keluar. Dan aku pun jadi ketiduran. Bangunnya waktu jam 10 malam. Ketika kuperiksa kamar Karin, ternyata dia sedang bicara dengan seseorang. Aku mencoba memanggilnya, tapi ruangan itu berubah senyap. Maunya apa sih ini anak? pikirku. Tidak enak sekali rasanya dicuekin seperti ini.
Aku punya seribu satu tebakan yang layak diperhitungkan dengan situasi Karin saat ini. Aku sedang asyik mengira-ngira tebakan mana yang tepat ketika tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku pun memeriksanya dan melihat nama gadisku tertera di layarnya.
Tanpa ragu aku lantas menjawabnya. "Halo."
"Kak," panggilnya. Jantungku langsung berdenyut. Suaranya terdengar halus, seperti yang sudah kuhafal dalam jiwaku. Suara yang langsung mengundang cinta dalam kepedihanku. Aku melihat wajahnya begitu jelas tergambar dalam benakku, dan cerita yang tertulis pada pagi hari yang dingin.
Aku seharusnya memutuskan sambungan telepon ini. Tapi aku tak bisa. Aku masih ingin mendengar suaranya. Aku masih ingin berhubungan dengannya. Meski kutahu betapa pahitnya saat tahu dia telah bahagia bersama orang lain. Aku tak bisa menghapusnya dari ingatanku. Spontan aku pun berkata, "Ya?"
"Maafin, Hana," katanya. "tadi Hana gak bilang ke kakak kalau hari itu Hana dianterin orang lain."
Aku terbengong. "Dia itu siapa?" tanyaku dengan agak emosional.
"Sepupu Hana."
Entah aku harus menangis bahagia ataukah menangis sakit. Kata-kata itu tak menghiburku sama sekali. Kedengarannya tak meyakinkan. "Benarkah? Ntar bohong lagi."
"Beneran. Dia itu sepupu Hana."
"Iya deh, nggak apa-apa," jawabku. "tapi kenapa Hana cuek banget sama kakak pas Hana dibonceng?"
"Bukan apa-apa sih, kak. Lagian juga udah ada yang nemenin jalan 'kan?"
Tidak semestinya dia menyebutkan kejadian saat aku bergandengan tangan dengan Sara. Karna sekarang aku malah terbayang sosok Sara, rambut merahnya yang terayun-ayun indah. Cara dia tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya. Dan mata sedihnya.
"Hanya kebetulan saja, Hana. Dia baru keluar dari rumahnya saat aku hendak pulang," kataku menjelaskan. Kalau aku bilang bahwa sebenarnya aku yang mengajak Sara jalan sambil pegangan tangan, aku punya firasat jelek bahwa Hanabi takkan menyukainya.
"Kakak tahu nggak?" Ia kembali berkata setelah terdiam sejenak.
"Apa?"
Katanya, "Dia itu Playgirl. Kalo pacaran itu nggak pernah satu. Biang masalah. Di sekolah udah sering cowok-cowok pada ribut gara-gara dia. Tahu gak kalau tiap hari banyak banget cowok yang ngapelin dia."
Sara? Dengan mata yang terluka itu? Tidak mungkin! Kayaknya dia baik-baik saja. Ya... Kelihatannya saja. Sara memang cantik dan punya daya tarik luar biasa dengan pandangan matanya itu. Ada beragam perempuan yang memang dianugrahi kelebihan seperti itu dan kebanyakannya selalu saja merusak. Aku mulai bertanya-tanya ada berapa laki-laki yang sudah masuk dalam jeratnya? Apa aku termasuk di dalam daftar cowok bego yang bakal dibikin patah hati? Yang benar saja. Tampangku sih masih termasuk muka standard Konoha. Dan apa pula yang membuat dia tertarik padaku? Berduit nggak. Ponsel saja jadul. Pakaian pun bukan dari jenis yang mahal. Barangkali saja dia itu tipe perempuan yang tak pandang bulu. Keterlaluan!
"Masak sih dia kayak gitu?"
"Iya. Kalau kakak tidak percaya, kakak tanya saja dia. Ada berapa teman cowoknya."
Aku sudah akan menjawab saat tiba-tiba sambungan terputus. Aku mencoba menelpon balik, tapi ujung-ujungnya aku makin kesal karna pulsaku nihil.
Mau beli pulsa, kantong lagi kanker. Pinjam uang ke Karin, dianya lagi datang anehnya. Padahal... Padahal... Akhirnya hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku lalu jadi pelamun handal. Tak lama kemudian kantuk pun menyerangku. Aku pun memejamkan mataku. Tak butuh berapa lama kemudian kesadaranku hilang.
Lalu aku tersadar dan menyaksikan bukit-bukit hijau, purnama yang bersinar sepucat kertas, ladang hijau dengan bunga-bunga, dan cahaya kecil-kecil dari kunang-kunang. Dan kudapati diriku duduk bersandar pada sebuah pohon. Lalu ketika aku menoleh ke samping. Hana menyambut pandanganku dengan wajah pucatnya yang cantik. Rambutnya yang kelam itu melambai tertiup angin sepoi. Perasaan kesepianku pun pergi. Aku tertegun memandangi Hana. Lantas kudekap seerat yang kumampu. Wanginya masih sama. Rambutnya berbau seperti yang kukenal selama hidupku, wangi shampo Dhoce. Aku pun mengecup pipi Hana. Lantas berbisik di telinganya, "Aku merindukanmu..."
"Hana juga."
Aku tertegun, sedetik. Lalu emosiku sekonyong-konyong bergejolak. Kucium puncak kepalanya. Lalu keningnya. Kemudian bibirnya yang merah muda itu. Kami pun lantas berhenti, terengah-engah. Aku melepaskan pelukanku pada tubuh Hana yang kecil, sambil mengambil napas. Tapi Hana menyandarkan kepalanya pada bahuku.
Tiba-tiba semua itu hilang, lenyap menjadi kegelapan yang suram. Suara-suara kicauan burung masuk ke pendengaranku. Dan saat itulah aku sadar itu semua hanyalah mimpi belaka.
Aku mendesah kecewa. Semua keindahan itu mengapa cepat sekali berlalu. Terlalu indah, bahkan karna terlalu indahnya, aku ingin ke mimpi itu dan tinggal selamanya di sana. Bersama Hanabi yang mencintaiku. Bukan di sini, pada kenyataan ketika aku hanya bisa melihat dia yang tak mencintaiku. Hah, kurasa angan-anganku sudah terlalu tinggi.
Di pembaringanku di atas sofa ini. Aku terus berkhayal melanjutkan mimpi indahku tadi. Ketidak-relaanku kehilangan mimpi itu, membuatku tak ingin bangkit dari tidurku. Tapi suara-suara berisik yang ada di sekitarku menghalangi kefokusanku pada khayalku. Aku pun menjadi jengkel dan muak.
Kubuka mataku cepat. Mengerjap-ngerjap, lalu duduk sambil melamun. Pandanganku terfokus pada jam yang ada di dinding. Aku tak tahu ada apa dengan jam itu, tapi jarum jam itu seperti mengingatkanku akan sesuatu yang kulupakan.
Aku mengingat-ingat apa hal itu. Namun ingatanku benar-benar hilang.
Apa sih? Menggali ingatan yang tersembunyi itu membuat kepalaku lelah. Terserahlah. Aku pun bangkit untuk mencuci mukaku. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku ketika aku menengok pintu kamar Karin. Selintas ingatan samar-samar bergentayangan di kepalaku. Aku masih belum mengingat pasti tentang apa itu. Tapi yang ku tahu hal itu berhubungan dengan SEKOLAH!
Aha Tentu saja aku akan mengantarkan Karin sekolah. Cepat-cepat aku bergegas ke kamar Karin. Ternyata orangnya sudah tidak ada.
"Sial!" aku mengumpat kesal. Gagal lagi aku menghentikan acara bonceng-boncengan itu. Aku menggerutu dalam hati sambil berjalan ke kamar mandi.
Hari ini Sabtu. Enam hari sudah berlalu dan sikap cuek Karin padaku sama sekali tak ada perubahan. Apakah dia tak mengerti kekhawatiranku? Kurasa tidak. Dia bukan tipe cewek peka kayaknya.
Ssspppp
Aku menghisap rokokku yang nyaris habis. Lalu membuangnya. Lima belas menit sudah berlalu dan aku masih berdiri di depan gerbang sekolah Karin. Membosankan sekali yang namanya menunggu. Apalagi di bawah matahari yang sedang terik ini. Kepalaku terasa mendidih. Jam berapa sih dia pulang? Ini sudah jam setengah duaa!
Di sana ada pak satpam yang sesekali melirikku. Tatapannya sinis dan angkuh. Mungkin dia pikir aku maling kali atau mungkin dia mau ngajak berantem? Atau dia sedang lapar? Sayang aku tidak pegang snicker. Atau aku lempar saja dia dengan batu dan berteriak, 'Satpam begoo!' biar sekalian satpam itu mmengacung-acungkan tongkatnya padaku.
Kurasa otak ku sudah error gara-gara matahari somplak ini. Bel pun berbunyi samar. Syukurlah siswa-siswinya udah pada pulang. Remaja-remaja labil itu sekarang sedang berjalan ke arah gerbang. Maksudku ke arahku.
Tapi semua lelucon di dalam kepalaku buyar ketika kulihat Karin naik motor laki-laki itu. Amarahku naik, mungkin karna panas somplak ini yang membuat suasana hatiku jadi keruh.
Aku mencegat mereka. Karin sama sekali tetap tak acuh padaku. Mukanya kelihatan sombong. Wajah yang tidak pernah kusukai menempel di wajah seseorang.
"Karin, ayo pulang!" tegasku sambil memegang tangannya.
Dia menarik tangannya dengan kasar sambil berkata, "Lepaskan aku! Aku bukan anak kecil lagi yang perlu diantar-jemput!"
Kata-katanya itu benar-benar menusuk hatiku.
"Ayo jalan, kak," katanya lagi menyuruh cowok yang memboncengnya. Tapi aku kembali memegang erat tangannya sambil memandangnya dengan amarah meluap-luap.
"Tapi aku sudah berjanji pada Paman dan bibi untuk menjagamu selama mereka pergi!" Aku membentak. Dia pun kembali melawan.
"Ih, emangnya Karin anak kecil dijaga-jaga! Nggak deh. Nggak usah repot-repot. Nggak butuh."
Tiba-tiba remaja songong yang ada di depan Karin berkata, "Kau ini jangan kuno jadi orang. Terserah Karin mau pergi ke mana, dengan siapa? Itu bukan urusanmu. Dasar kolot. Masih ada saja orang yang punya pikiran sempit kayak begini."
Mendengar kata-katanya, dadaku terasa panas sekali. Aku menatapnya dengan kedengkian yang hampir-hampir ingin rasanya kubunuh bocah songong ini. Lalu karna dikendalikan emosi, lehernya sudah berada dalam cengkramanku. Namun hanya sebentar karna tiba-tiba seseorang menarik tanganku.
"Ada apa ini?!" tanya pak satpam yang tiba-tiba memenjarakanku.
"Urus nih pak. Bila perlu bawa aja ini manusia kolot ke kantor atas kantor Polisi." Mereka pun langsung cabut.
Aku pun memberontak sambil berteriak, "Lepaskan aku, satpam tolol! Dia sepupuku dan ayahnya menyuruhku untuk menjaganyaa!" Tapi satpam dungu itu tak jua mau melepaskan kuncian tangannya pada tubuhku. Akhirnya dengan keahlian beladiri yang diajarkan ayahku sejak kecil, satpam itu sudah kubanting ke jalanan, kemudian bergegas mengejar dua orang itu yang masih tak terlalu jauh dariku.
Mereka berhenti sebentar di sebuah perempatan. Kesempatan, pikirku.
"Karin! Berhenti!" Aku meneriaki cewek bodoh itu yang sudah membuat ku bertingkah memalukan seperti ini. "Kariin!" Tapi ia tak mau menengok padaku. Masih tetap terpasang wajah angkuhnya yang memuakkan itu. Lalu belum sempat aku mencapai mereka, mereka sudah duluan menerobos perempatan. Aku mengikuti mereka meski napasku sudah ngos-ngosan.
Kriing kriing...
Sambil bersiap menerobos perempatan ini, ponselku berbunyi. Tanpa melepaskan pandanganku dari mereka, aku mencabut ponselku. Kulirik sebentar, ternyata Hanabi yang menelponku. Aku lantas merejectnya, dan kembali mengejar. Mungkin karna tidak menyadari aku berada di mana dan memperhatikan teriakan-teriakan yang terdengar di telingaku. Tiba-tiba tubuhku terlempar dan pandanganku berputar-putar. Tubuhku terseret di jalanan tanpa bisa kuhentikan, sampai keadaan menjadi sangat hening saat kepalaku terbentur sesuatu. Aku ingin bangkit. Tapi sekujur tubuhku terasa lumpuh dan kepalaku pusing sekali.
Kemudian orang-orang berdatangan mengerumuniku. Dan pandanganku tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Aku tersadar dari pingsanku. Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri? Setahun? Seabad? Wow keren. Dan aku tak tahu dimana persisnya aku berada? Tempat ini benar-benar asing. Ruangan bercat biru polos. Bau yang aneh, seperti bau yang pernah kucium entah kapan? Aku tidak ingat. Aku mencoba bergerak, tapi sekujur tubuhku terasa remuk. Bahkan untuk menggerakkan tanganku terasa berat. Aku mengingat-ingat, tapi pening betul kepalaku.
Aku memandang ke sekeliling. Aku terbaring di atas kasur. Dan kupikir ini adalah rumah sakit. Tak mungkin ini surga mau pun neraka. Surga dan neraka takkan punya peralatan medis seperti selang infus, tirai-tirai berwarna kuning cerah, dan ibuku yang tidur di samping kiri kasur. Itu jelas mustahil.
"Ibu...," lirihku. Dia tak merespon. Tidurnya terlalu nyenyak.
Sedikit demi sedikit ingatanku mulai pulih. Kukira beberapa jam~atau mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu, aku sedang terlibat dalam acara bertajuk, 'Dia nggak sengaja nabrak aku. Dia nggak tit tit dulu.'. Terakhir kali kuingat waktu itu aku sedang menolak panggilan Hanabi. Lalu, tubrukan itu, lalu pandanganku berputar-putar seolah-olah seluruh dunia jungkir balik. Lantas semuanya gelap gulita. Tiba-tiba sakit di sekujur tubuhku semakin terasa manakala kugerakkan tubuhku.
Aku melenguh panjang. Itu mengganggu tidur ibuku. Ia menegakkan punggung, lalu duduk tegak sambil menggeliat dan menguap. Ketika ia melihat ke arahku, pekik senang pun berhamburan dari mulutnya.
"Berapa lama aku pingsan bu?" tanyaku setelah aku mengaduh saat dia ingin memelukku.
Dia memegang dagunya sambil memandang langit-langit ruangan itu. "Coba ibu ingat-ingat dulu... Satu, dua, tiga, empat... Dua minggu ibu rasa."
Dua minggu? Hebat! Tak usah heran. Aku ketinggalan banyak rupanya. Dua minggu yang aneh. Rasanya kejadian itu terjadi baru beberapa menit yang lalu.
"Apa yang sudah terjadi padaku, bu?"
"Kamu kecelakaan di jalan," kata ibuku menjelaskan. "untunglah kamu cepat dilarikan ke rumah sakit. Ya, ampun... Ibu hampir mati berdiri ketika mendengar berita itu." Dia berhenti dan memandangku dengan tajam. "Lain kali kalau mau menyeberang jalan lihat kiri-kanan dulu, tolol! Hampir saja kamu membuat ibu mati ketakutan!"
"Oh," sahutku. "Lalu yang memberitahu ibu aku ada di sini siapa?"
"Tentu saja, Karin," jawab ibuku langsung. "Waktu itu dia menelpon ibu sambil menangis..."
Sementara ibuku terus bicara. Ingatanku kembali pada cewek sialan itu! Entah kenapa aku jadi muak ketika mengingat kata-kata yang diucapkannya waktu itu. Kalau saja bukan karna aku peduli padanya serta menghormati orang tuanya, aku tidak akan membuang-buang waktu untuk mengkhawatirkan orang macam dia.
Ingatanku beralih tentang ponselku yang terlempar gara-gara tabrakan waktu itu. "Bagaimana dengan ponselku?" tanyaku lagi.
Ibuku mengangkat bahu dan berkata, "Ibu tidak tahu." Mendadak sorot matanya berubah curiga. "Ibu ingin tanya sesuatu?" tanyanya.
Pandangan matanya yang tajam, dan mukanya yang serius membuatku berpikir bahwa bakal tak beres urusan ini. Aku pun menjawab, "Apa?"
"Hanabi itu siapa?" tanyanya penuh selidik.
Panas seketika menjalari mukaku. Tiba-tiba saja aku merasa seolah seseorang telah menarik celanaku di tempat umum sementara aku tidak memakai dalaman. Aku mengelak. "Bukan siapa-siapa." Ibuku tak bertanya lebih lanjut, tapi dia terus menatapku seolah dia tahu aku menyembunyikan sesuatu.
"Kau lapar?"
Aku menggeleng. Lalu ibuku teringat sesuatu. Ia pun segera pamit pergi meninggalkanku sendirian. Baru sehari berada di sini, rasanya membosankan sekali. Keesokan harinya aku merengek minta pulang. Kedua orang tuaku berusaha menolak permintaanku, tapi aku terus merengek, sampai-sampai menggelar acara 'Aku tidak akan makan sampai aku pulang." Akhirnya beberapa jam kemudian aku sudah berada di rumah, di kamarku yang tercinta, empuk dengan segala kenyamanannya.
Satu persatu tetangga-tetanggaku mulai berdatangan menjengukku. Ada yang bawa bingkisan makanan, ada yang mendoakan, ada yang cipika-cipiki dengan ibu.
Lalu, cewek itu pun muncul. Aku memperhatikannya dengan marah, seolah tidak ada yang lebih aku benci selain gadis itu. Andai saja bukan karna melihat paman dan bibi, sudah kuusir bocah tengik itu!
Aku mengalihkan pandanganku pada paman dan bibiku. Gerah aku melihat mukanya itu. Aku memaksakan diri tersenyum pada paman dan bibi. Suasana di kamar ini menjadi agak tak enak semenjak datangnya gadis itu.
Paman dan bibiku ikut prihatin dengan musibah yang menimpaku. Sekaligus meminta maaf karna telah merepotkanku dengan gadis bodoh itu. Setelah berbagai macam kata-kata mereka lontarkan, mereka pun pamit pulang dan meninggalkan Karin bersamaku.
Kami hanya terdiam. Aku memandang keluar jendela. Tapi tak terjadi percakapan. Aku menjadi tak sabar dan ingin segera mengusirnya. Sedangkan dia hanya berdiri dengan kepala tertunduk sambil meremas bajunya.
"Kak." Dia memanggilku. Suaranya bergetar dan kecil, terdengar seperti suara cicit tikus. Aku enggan menyahut. Aku menggertakkan gigi.
"Kak." Suaranya itu membuatku agak muak.
Tanpa memandangnya aku pun berkata dengan dingin, "Kau boleh pergi." Ia mengangkat wajahnya, terkejut, tepat menghadap padaku.
"Maafin, K-Karin," ujarnya setengah terisak. "Karin ga bermaksud buat kakak kayak gini."
Aku bertanya bagaimana bisa aku pernah merasa kasihan pada gadis semenyebalkan dia? Pengalaman jelekku ketika dia masih suka gonta-ganti pacar dulu berputa-putar di benakku bagai daftar putar di Youtube. Hanya saja sekarang, semua terangkum dalam cuplikan-cuplikan berdurasi pendek. Pada waktu dia meludahiku di depan teman-temannya. Ketika sumpah serapah keluar dari bibirnya yang kecil itu, dan betapa menyakitkan mendengar dia mengungkit kebiasaan jelekku. Dadaku rasanya sesak. Mengingat lagi hal-hal itu, aku ingin segera menendang mukanya.
Aku mendengus. "Selalu saja begitu. Mengulang-ulang hal yang sama berkali-kali. Kau tak pernah berubah Karin. Kau masih liar seperti sebelumnya. Tak bisa diatur," Aku menelan ludah saat kuingat lagi semuanys. "Padahal aku melakukan itu, karna aku menyayangimu..." Aku memejamkan mataku. Aku tak bisa menahan diri lagi. "Tapi gadis sialan sepertimu tak pernah mau mengerti hal-hal semacam itu. Kau terlalu egois dan susah dikendalikan. Dimatamu, aku hanyalah orang dengan pikiran kolot. Terakhir yang kuingat kau juga mengatakan hal yang sama padaku dan memperlakukanku seperti orang rendahan. Sekarang pun aku harus menerima akibatnya. Kurasa sebaiknya kau segera pergi saja dari sini, Karin. Aku benci dikelilingi orang-orang sepertimu. Bikin sial tahu gak?" Aku melotot. Nyaris ingin berteriak. Tapi aku cukup bisa mengendalikan diri supaya tak terlalu lepas kontrol.
Setelah kalimat-kalimat itu habis, dia menunduk lagi. Kemudian diiringi suara isakan ringannya. "Maafin, Karin..." Aneh sekali bahwa aku pernah merasa kasihan gara-gara tangisannya itu. Tampak meyakinkan. Tapi aku justru makin membencinya.
Aku terengah. "Sudah pergi sana, babi sialan! Menangis kayak gitu tidak akan membuatku sehat. Simpan saja air matamu itu untuk pacarmu itu, anjing!" bentakku.
Dia pun menatapku dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata yang barusan ku lontarkan kupikir telah melukainya. Yah... Mampus lu goblok!
Setelah kepergiannya, aku mendesah lega. Kamarku telah kembali seperti biasa. Tapi tak berselang lama kemudian ibuku masuk dengan muka marah. Dan hari itu aku mendapatkan Tarbiyah akhlak yang meski kedengarannya bagus, tapi karna ibuku yang mengatakannya, semuanya jadi buruk.
"Belain aja terus," selaku tak terima. "seolah dia itu selalu benar, dan aku yang salah di mata ibu. Kenapa ibu gak sekalian aja angkat dia jadi anak ibu. Ibu gak tahu rasanya kayak gimana dihina berkali-kali dan diludahi di depan teman-temannya. Gak sekali dua kali. Tapi udah sering kali. Masih untung nggak aku bunuh dia saking bencinya aku melihatnya! Heran aku kok bisa aku punya sepupu babi model begitu!" Aku terengah sambil berpaling.
Ibuku terdiam. Aku pun terdiam. Itu pertama kalinya aku membentak-bentak ibuku. Kacau sudah. Semua ini gara-gara makhluk babi yang disebut-sebut sepupu itu.
"Maaf, bu," kataku menyesal.
"Istirahatkan saja dulu pikiranmu. Ibu akan membuatkan makanan."
Ibuku sedang duduk di tepi kasur sambil dengan sabar menyuapiku bubur ayam.
"Setelah ini minum obat."
"Masak minum obat lagi, bu... Kan sudah seminggu-an minum, masak gak cukup sih?" protesku setelah makanan lembek itu kutelan dengan ogah-ogahan.
"Kau ini jangan rewel. Minum obatnya sampai sembuh, dasar bocah cengeng."
"Tapi 'kan bu..." kataku hendak protes. Tapi suara ketukan pintu dari luar menghentikan obrolan kami.
"Tunggu sebentar," katanya seraya meletakkan mangkuk itu di dekatku. Lalu bangkit dan keluar dari kamarku. Di luar terdengar bisik-bisik dua orang. Tak lama kemudian pintu ditutup, dan muncullah ibuku membawa roti tawar dan selai coklat kesukaanku.
"Dari siapa bu? Udah tiga kali ini suka memberi roti tawar," ujarku penasaran.
"Dari seseorang," jawab ibuku sembari duduk lagi di sampingku. Kemudian mengambil dua roti dan mengoles-oles selai coklat itu.
"Baik sekali orang itu."
"Makanya jangan suka membenci orang. Apalagi sampai tidak mau menyapanya," kata ibuku menasehati.
"Iya, deh bu," sahutku sambil melenguh.
Setelah roti itu rata diolesi, dia menyodorkan makanan itu padaku. Aku pun mengambilnya, lalu menggigit dan mengunyahnya.
"Sampai kapan kau akan terus membenci, Karin? Tidak baik memusuhi sepupumu sendiri," ujar ibuku lagi. Dan dengusanku menyambut kata-kata itu. Makanan ini tidak ada enak-enaknya setelah mendengar nama gadis itu.
"Jangan bahas dia lagi deh," kataku malas.
Ibuku berdecak. "Kau tidak kasihan lihat dia? Heran ibu denganmu. Sama sepupu sendiri kok gitu amat bencinya."
"Nyenye nyonyo nyonye," jawabku mencibir sambil mengerucutkan mulut.
Ibuku lantas melempar roti dan selai itu kepadaku. "Ya sudah. Terserah kau saja," katanya nyaring. "Kau ini kepala batu sekali. Sebal ibu melihat sifat keras kepalamu itu."
"Siapa dulu ibunya?" tanyaku meledek. Dia mendesis, lalu pergi. Yah marah deh. Aku mengambil roti dan selai itu, lalu melahapnya satu-persatu sampai habis. Meski agak kesulitan. Di sela-sela itu aku jadi merindukan Hanabi. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia tahu kalau aku sedang sakit? Aduh, aku jadi berharap dia datang menjengukku, lalu khawatir melihat keadaanku yang cacat. Mungkin saja dia akan menangis dan mengataiku, 'Kakak gak apa-apa 'kan? Makanya kalau menyeberang itu lihat-lihat dulu.' Lalu aku akan berkata, 'Ini sih kecil. Aku pernah punya pengalaman jatuh dari puncak gedung seratus lantai. Dan keadaanku nyaris mati.' Lalu dia akan menjewerku. Aku pun memeluknya amat erat... Lalu mencium keningnya... Dan disini, di kamar ini perasaan hangat itu kembali padaku...
"Ugh..." lenguhku. Luka di kakiku sudah agak mengering. Aku sudah bisa menggerakkan kakiku agak bebas dari biasanya. Sama sekali bukan hal yang enak, cuma berbaring di kamar saja selama sebulan lebih. Kalau ada keperluan, ibu atau ayahku yang membantu. Jalan sih bisa, tapi mesti hati-hati. Soalnya yang luka bukan cuma kaki. Bahu dan punggung pun dapat bagian, yang kalau ke senggolnya sedikit saja perihnya minta ampun.
Akhirnya setelah merasa agak jenuh, aku mencoba untuk bangun. Bersantai di luar rumah mungkin tidak buruk. Sesudah berdiri, aku mulai melangkah meninggalkan kamarku. Tapi sialnya ketika aku membuka pintu, gadis itu sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi kaget. Setelah melihatku dia buru-buru menunduk. Dia membawa sebuah bingkisan di tangannya.
"Kau mau apa lagi?" tanyaku tak suka.
Selang sesaat kemudian dia menarik napas panjang, lalu mengangkat bingkisan itu. Wajahnya masih tertunduk, hanya bingkisan itu yang tersodor padaku. "I-ini buat k-kakak..."
Aku mengamat-amati bingkisan itu dengan tanpa minat sama sekali. Sebungkus roti tawar dan selai coklat. Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu. Menyadari bahwa selama ini roti yang kutelan itu adalah pemberian dari orang yang kubenci. Memalukan sekali jika ternyata selama ini orang yang kau benci itu yang memberimu makan.
"Simpan saja. Aku tak butuh. Cepat pergi dari sini!" usirku sembari mendorongnya dan membanting pintu itu. Aku melangkah masuk lagi ke dalam kamar. Di sela-sela itu suara tangisnya terdengar jelas dari luar rumah. Tapi aku yang diselimuti kebencian merasa senang dengan itu.
Lalu suara tangis itu perlahan memudar dan hilang. Berangsur-angsur kegeramanku juga lenyap. Di saat itu aku mulai menyadari sesuatu, bahwa semua ini salah.
Semua ini bukanlah salahnya. Mungkin kalau dipikir-pikir aku adalah yang ambil bagian paling besar dari kecelakaan ini.
Kurebahkan tubuhku pada kasur sambil merenungkan tentang kejadian itu. Ya, aku datang ke sekolah Karin atas keinginanku, mengejarnya juga atas dasar keinginanku. Jadi, yang seharusnya disalahkan itu adalah aku. Karna kalau aku tidak datang, aku tidak akan mengalami kecelakaan ini.
Mungkin benar yang dikatakan cowok itu. Hidup Karin itu adalah hak Karin, bukan hakku. Bukan urusanku dia mau ke mana. Bukan juga urusanku dia mau pergi dengan siapa. Aku ini bukan orang tuanya, bukan pula kakaknya. Aku hanyalah seorang lelaki yang punya sifat paranoid berlebihan pada sepupunya.
Ya, semua ini salahku. Dan tidak seharusnya aku berbuat begitu padanya. Apa lagi sampai menghardiknya seperti itu. Sepertinya aku harus meminta maaf padanya.
"Dimana sih dia?" gerutuku sambil berdiri menyandarkan bahu pada tiang di beranda rumahku.
Hampir 1 jam aku berganti-ganti posisi di sini sambil mengawasi gerbang rumahku. Setiap kali ada yang lewat di depan rumahku, kusangka adalah Karin. Muak bercampur jengah mengaduk perasaanku. Dan tenggorokanku pun terjangkiti virus haus yang mendalam. Maka aku masuk ke dalam untuk melepas dahagaku.
Sekembalinya aku dari dalam, orang yang aku tunggu sudah berada dihadapanku dengan ekspresi kaget seolah dia baru melihat hantu.
"M-maaf, kak," katanya seraya cepat-cepat berbalik untuk pergi. Tapi untunglah aku sudah menebak dahulu apa yang akan dilakukannya. Sehingga aku berhasil mencegah keinginannya.
"Tunggu dulu." kataku. "kenapa pergi buru-buru?"
"Maaf. Karin nggak b-bermaksud membuat kakak marah," katanya dengan sedih.
Mendengar jawabannya, aku pun menghela napas. Dadaku berdetak dua kali lebih cepat tatkala aku ingin mengucapkan hal ini. Aku berkata, "Kakak ingin minta maaf atas perlakuan kakak yang kemarin-kemarin," kataku. Bahunya pun merosot. "tidak seharusnya kakak melakukan itu padamu. Kakak sadar selama ini kakak terlalu mengatur-atur hidupmu. Terlalu memenjarakanmu dengan alasan kekhawatiran yang terlalu berlebihan." Setelah mengatakan itu aku merasakan pahit di hatiku. Mungkin ini karna sudah menjadi kebiasaanku yang mengatur hidupnya.
Setelah itu aku melepaskan peganganku pada lengannya dan melanjutkan, "Mulai sekarang kakak tidak akan ikut campur lagi dalam hidupmu. Sekali lagi maafkan kakak..." Ada jeda yang cukup panjang sebelum dia mengangguk.
Seharusnya semuanya selesai, tapi entah kenapa melihat anggukan kepalanya, aku merasa agak sakit hati. Beberapa saatnya kami hanya berdiam sampai suara deringan ponselku memecah keheningan yang melanda kami.
Aku mengeluarkan ponsel itu dari sakuku dan betapa terkejutnya ketika kulihat ada nomor Hanabi yang terlihat di ponselku. Tanpa pikir panjang aku segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?" Belum ada jeda dua detik suara tinggi Hanabi langsung masuk pendengaranku.
"Kak," tapi belum sempat dia mengutarakan kata-katanya. Aku langsung memotongnya.
"Hana ke mana saja? Kenapa gak menjawab panggilan kakak kemarin?"
"Hana sedang sakit kemarin, kak. Ponsel Hana, Hana biarkan di laci," jawabnya... Dan begitu seterusnya percakapan itu menjadi obrolan yang menyenangkan sekaligus mengkhawatirkan Hanabi. Dan karna terlalu asyik, aku sampai tak menyadari Karin sudah tak ada lagi ditempatnya.
Bersambung...
Nb : itu tolong kotakrevuewnya diisi
