"Astaga!" Ibuku terperanjat begitu tiba-tiba hingga aku menoleh seperti rusa yang ketakutan. "Ibu lupa. Tadi bibimu berpesan kalau kondisimu sudah baikan, nanti lihat-lihatlah keadaan Karin, karna Karin sedang sakit."
Aku pun ikut terkejut. "Karin sakit? Sakit apa?"
Ibuku berkata, "Ibu tak tahu. Mereka bilang hanya sakit. Awalnya mereka ingin memberitahumu, tapi karna kondisimu sedang tak baik makanya mereka tak enak hati mengganggu istirahatmu."
Aku protes. "Lalu Karin kenapa tidak dibawa ke rumah sakit, bu? Terus Karin sendirian di rumahnya sekarang?" Aku meletakkan gelas yang kupegang, lalu bangkit dengan terburu-buru.
"Katanya dia tidak mau. Mereka meninggalkannya tadi pagi sendirian, karna ada urusan pekerjaan," ujar ibuku menjelaskan.
Aku pun menjadi marah mendengarnya. Tak habis pikir aku. "Ya ampun, masak cuma gara-gara pekerjaan paman dan bibi tega meninggalkan anaknya yang sedang sakit?"
"Kau ini, kayak tidak tahu paman dan bibimu saja. Mereka itu 'kan gila kerja. Lagi pula kalau kau protes terus, kapan mau berangkatnya? Sudah sana cepat!"
Sebelum berangkat aku mengambil gelas, menenggak isinya sampai habis. Lalu ibuku berpesan, "Kembalilah nanti beritahukan kondisi Karin pada ibu. Perasaan ibu juga agak kurang enak soal Karin."
"Ya, bu." Aku pun pamit dan berangkat dengan tergesa-gesa tanpa ganti baju dulu atau mandi dulu. Di depan gerbang rumah, aku berpapasan dengan ayahku. Dia sempat menanyaiku, tapi segera kujawab dengan singkat dan pamit padanya.
Singkatnya setelah aku sampai rumah Karin, tepatnya sudah berdiri di depan pintunya. Aku menengok sebentar melalui jendela. Sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Akhirnya aku mencoba membuka pintu, terkunci. Aku mengetuk pintu sambil memanggilnya. Empat kali jeda, tiga kali panggilan dan ketukan tak ada jawaban.
Tidurkah? Mungkin saja. Atau dia tidak kuat bangun. Atau-atau... Dan kemungkinan atau-atau yang lainnya. Aku berjalan ke arah kamar Karin yang berada di bagian paling kiri rumah ini. Memastikan keadaannya lewat jendela. Saat aku sampai, aku melihat jendelanya setengah terbuka. Aku bergegas menghampiri jendela itu, lalu mengangkatnya, tapi masih ada pagar besi sebagai penghalangku.
Tiba-tiba aku tersentak ketika aku melihat Karin terbaring lemah seorang diri di atas kasur. Aku memandanginya dengan iba, nyaris menangis. Kuputuskan untuk mencari jalan lain. Mendadak aku teringat akan pintu belakang rumah Karin yang memang jarang dikunci. Tanpa menunggu waktu lagi, aku pun bergegas.
Setelah bersusah payah menaiki tembok dan duduk terengah bak kuda perang. Aku pun bersiap-siap, menarik napas dalam-dalam, lalu terjun ke bawah. Alhasil ketika aku mendarat di halaman berumput, tulangku agak ngilu. Tetapi aku segera berguling ke depan untuk mengurangi rasa ngilu di kakiku ini sampai posisiku jadi berjongkok. Aku beristirahat sejenak, menarik napas sambil memegangi kakiku yang berdenyut ini.
Setelah sakitnya agak reda aku menyegerakan diri untuk bangkit dan bergegas ke arah pintu yang berada sepuluh meter dariku. Sesampainya aku di kamar Karin, aku melangkah dengan amat pelan. Sebentar aku berdiri sambil terus memandanginya. Tak lama kemudian aku pun duduk di samping kasur. Berdetik-detik lamanya aku hanya mengamat-amatinya dari belakang.
Melihat pemandangan ini dari jarak dekat, aku tak kuasa menahan tangis. Sakit sendirian tanpa ditemani siapa-siapa di dekatnya. Air mataku pun menggenang.
"Kak Naruto?" Dia memanggilku. Suaranya lemah. Aku pun tersentak, segera kuperhatikan dia yang sedang memandangiku.
Sambil memaksakan tersenyum aku berkata, "Hai,"
"Kakak nangis?"
Aku menggeleng. "Tidak," sanggahku. Lalu mendekatinya. "sudah makan belum?" Aku memegangi kepalanya yang terasa panas dan menyengat kulitku.
"Belum."
"Kok belum? Nanti sakitnya tambah parah lagi," kataku sambil mengusap rambutnya ke belakang dan menatap wajahnya lekat-lekat.
Karin mengalihkan pandangannya dariku. Wajahnya berubah kaku dan pandangannya menjadi seperti kecewa dan marah, lalu ia berkata padaku dengan suara bergetar. "Biarkan saja, kak. Lagian Karin tidak pernah berharga buat siapa-siapa."
Mendengar kata-katanya, aku menjadi marah. "Karin," panggilku. "jangan berkata yang tidak-tidak. Masih ada bibi dan paman yang menyayangimu. Orang tuamu juga pasti sayang padamu."
Dia tidak membalas. Tapi aku bisa menyaksikan matanya yang terluka. Barangkali yang dia inginkan adalah perhatian dari orang yang dicintainya atau orang tuanya. Kenapa aku jadi merasa Karin sama sekali tak membutuhkan kehadiranku ya? Kutepis pikiran itu.
Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya ke sebuah mangkuk yang ada di meja kecil di dekat ranjang. Tiba-tiba aku teringat kalau Karin belum makan. Kulepaskan tanganku dari kepalanya, kemudian turun dari atas ranjang ini dan menghampiri mangkuk itu.
Aku mengambilnya dan membuka tutupnya. Ada bubur nasi yang sudah dingin di dalamnya. Aku berpikir sebentar, barangkali tidak apa-apa jika Karin makan dulu. Aku pun mengambil sendok, lalu duduk di sampingnya.
"Karin, ayo makan dulu. Isi perutmu," bujukku sambil menyentuh keningnya lagi.
Dia menggeleng. "Tidak. Karin belum lapar," tolaknya.
"Ayo, makan dulu. Sesendok saja."
Dia menggeleng lagi sambil berdecak. "Nanti saja. Karin belum lapar."
"Ayo, sekali saja. Kakak mohon. Demi kakak," bujukku dengan sengit.
Dia diam saja beberapa saat lamanya dengan alis ditekuk. Kemudian dia menghela napas dan bangkit, tapi aku segera menghentikannya dan berkata, "Tidur saja. Biar kakak yang suapi." Dia menurut. Aku meletakkan mangkuk ini dulu di atas meja. Lalu melakukan sesuatu yang agak rumit untuk dijelaskan. Intinya aku mengambil dua bantal guling dan kuletakkan di belakang kepalanya sehingga keadaannya sekarang setengah duduk.
Aku mengambil mangkuk itu lagi, mengaduk-aduk isinya dengan sendok, dan menyuapkannya pada mulut Karin.
"Ayo buka mulut," perintahku. Dia membuka matanya sedikit dan menurutiku. Ya, cara makannya lambat. Aku terus menyuapinya dengan sabar. Akhirnya setelah mangkuk bubur itu habis setengah, dia pun menyerah dengan cara menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
Aku tak memaksanya lagi. Barangkali hanya segitu saja kemampuannya. Aku pun meletakkan mangkuk ini. Kuraih gelas berisi air yang ada di sampingnya.
Aku membuka tutupnya. "Ayo minum." Dia menghela napas lagi, tapi akhirnya menurut juga. Sesudah meneguk air itu sebanyak tiga kali tegukan. Aku mendiamkannya sejenak.
"Minum obat?" tanyaku sambil tersenyum.
"Nggak," tolaknya. Membujuknya untuk meminum obat tidaklah mudah. Tetapi dengan sedikit kesabaran dia pun mau menurutiku. Dia memberitahuku tempat obatnya ada di dalam laci mejanya. Ya, jenis obatnya berbeda-beda dan dia agak kesusahan meminumnya. Tapi aku berusaha menyemangatinya.
Setelah semua selesai, aku membereskan mangkuk dan gelas ini, menyelimutinya lagi sekembalinya aku dari dapur. Aku merebahkan diriku di sisi kanannya dengan cara membelakanginya.
Sore ini terasa melelahkan. Peluh di wajahku kuseka. Sesekali aku menengok keadaannya ke belakang. Dia sedang tidur pikirku. Tak lama kemudian aku juga malah ikutan tertidur pulas.
Aku terbangun saat kurasakan punggungku terasa panas. Ketika aku berbalik, aku merasakan ada getaran. Aku menduga-duga sambil mencoba menengok. Ternyata itu Karin yang menggigil kedinginan. Aku pun menjadi panik, segera kuberbalik.
Ketika aku akan bertanya, dia malah memotong keinginanku. "Di-dingin... K-Kak," ujarnya sambil menggigil. Suara giginya yang bergemeletuk terdengar jelas di telingaku. Tak berpikir panjang lagi untukku, aku menarik selimutnya. Tapi dia masih saja menggigil kedinginan.
Aku melompat turun dan dengan kasar kubuka lemarinya. Lalu kuobrak-abrik lemarinya. Namun aku tak menemukan apapun kecuali pakaiannya saja di situ. Aku tak putus asa. Aku keluar kamar dengan cekatan, dan mengambil kunci semua ruangan pada meja berlaci di dekat dinding. Biasanya paman dan bibi menaruh kunci itu di situ. Lalu aku memasuki tiap kamar, mengambil selimut-selimut mereka. Kemudian ketika sudah tak ada lagi selimut. Aku kembali ke kamar Karin, menyelimuti gadis itu dengan selimut lima lapis. Tapi dia belum juga berhenti menggigil. Napasnya terdengar tersengal-sengal dan membuatku makin panik.
Aku tak tahu harus bagaimana dan harus apa lagi. Pikiranku benar-benar menemui jalan buntu. Sementara itu, Karin terus menggigil. Ketakutan akan terjadi sesuatu padanya membuatku jadi paranoid, sampai-sampai aku tak sadar air mataku berlinang. Aku menyumpah, 'Sialan!' dalam hati. Aku tahu mereka itu sibuk, tapi setidaknya nggak kayak gini juga kale. Orang tua konyol macam apa mereka?
Ditengah-tengah kemarahanku itu, tiba-tiba suatu ide gila terlintas dalam benakku. Suatu ide yang mungkin agak memalukan untuk dilakukan oleh orang keren kayak aku. Tapi mengingat keadaan sudah tak ada waktu lagi untuk memikirkan memalukan atau tidaknya. Aku segera menaiki ranjang, kemudian menyingkap selimut Karin dan masuk. Aku menarik Karin ke dalam pelukanku, memeluknya dengan erat, lalu menarik kepalanya ke dadaku. Badannya terasa panas sekali. Bahkan lebih panas lagi dari sebelumnya. Dan ditambah lagi selimut berlapis-lapis ini yang membuat udara jadi panas. Jadilah sekarang tubuhku mandi keringat.
Di saat-saat itu aku merenung. Sebaiknya aku bawa saja dia ke rumah. Di sana ada yang lebih berpengalaman mengurusnya. Siapa lagi kalau bukan orang tuaku. Tentunya tidak sekarang. Nanti saja kalau kondisinya lebih beres. Semoga saja dia tidak kelelahan nanti.
Hampir selama berjam-jam aku tidak bisa memejamkan mata melanjutkan tidurku hanya untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu pada Karin. Kadang ketakutan lain melanda pikiranku bahwa ini barangkali terakhir kalinya aku melihatnya. Tapi segera kuenyahkan pikiran buruk itu dari otakku.
Setelah masa gawat itu sudah usai, tubuhnya yang menggigil perlahan-lahan mulai menenang. Napasnya yang menderu pun memudar. Aku agak lega setelah itu. Kubiarkan dia istirahat barang sebentar sebelum mengajaknya ke rumahku. Sambil mengusap kepalanya sesekali ku cium puncak kepalanya dengan penuh rasa sayang.
Setelah cukup lama menurutku dia tertidur dalam pelukanku, aku berniat membangunkannya.
"Karin... Karin."
Seharusnya aku membiarkannya sedikit lebih lama lagi, tapi aku tidak ingin terjadi hal yang tak kuinginkan nantinya.
"Hmmmh?" Dia melenguh.
"Kau tidak tidur dari tadi?" tanyaku sambil memandanginya.
Dia menggeleng ringan. Kemudian berkata dengan nada loyo. "Gak bisa, kak. Kepala Karin pusing."
Aku diam. Tak enak juga mengajaknya ke rumah kalau begini. "Kau mau tidak menginap dirumah kakak?"
Dia tidak langsung menjawab. Baru setelah ku panggil namanya dia mengatakan, "Karin mau saja. Tapi Karin gak kuat jalan, kak...,"
"Kakak gendong ya?" Dia mengangguk ringan menyetujuinya.
"Sebentar dulu." Aku bangkit, lalu menyingkap selimut ini, keluar darinya, dan mencari-cari jaketnya di dalam lemari pakaiannya. Aku menemukan tiga buah jaket. Pikirku ini cukup.
Aku kembali ke ranjang. Naik dan memegang lengan gadis itu.
"Karin, ayo pakai jaket dulu sebelum berangkat." Tanpa menjawabku, dia bangkit pelan-pelan sampai posisinya setengah duduk dengan tangan menyangga tubuhnya.
Kuberikan jaket ini padanya dan berkata, "Ini. Pakailah. Di luar dingin."
Dia tak segera mengambilnya. Beberapa lamanya dia diam saja. Aku pun mendekatinya, menariknya dengan pelan dan memakaikan ketiga jaket tersebut. Setelah selesai, aku berkata sambil menyisir rambutnya, "Hei, ayo berangkat."
Dia membuka matanya sedikit seraya mengangguk, lalu mendekatiku yang sudah duduk di pinggiran ranjang. Sesampainya dia di dekatku, dia memeluk leherku. Aku pun merangkul bahunya, lalu menarik kakinya merapat padaku.
'Semoga dia tidak berat.' kataku dalam hati sembari bersiap-siap. Aku mengambil napas dulu sebelum memulai.
"Hnnggqqq,"
'Ya, ampun. Dia berat sekali!' keluhku sembari berjalan dengan hati-hati ke luar ruangan ini. Meski agak kesusahan menahan beban Karin, tapi dengan sedikit perjuangan aku berhasil mendudukkannya di atas sofa. Pinggangku rasanya mau patah. Aku istirahat sebentar untuk mengambil napas. Setelah napasku tenang, aku pun mematikan semua lampu yang ada di dalam rumah dan mengunci pintu-pintu. Aku pun menggendongnya di belakang punggungku. Membawanya pergi dari rumah ini.
"Yah... Dikunci," ujarku sambil memegangi gembok yang terpasang pada gerbang rumahku. Aku menengok kepala Karin yang sedang bersandar di bahu kiriku.
'Bagaimana ini? Masak harus balik lagi?' Aku berpikir kira-kira satu-dua menit lamanya. Sepertinya harus naik tembok lagi.
"Karin... Bangun...," ucapku agak keras sambil memperhatikan rambut merahnya. Kepalanya bergerak-gerak, kemudian dia mengangkat kepalanya memandangku dengan mata setengah terpenjam.
"Hmmh?" sahutnya.
"Turun sebentar," pintaku. "Aku mau membangunkan ibu dan ayahku dulu untuk membukakan kita pintu."
Dia mengangguk tanpa penolakan. Aku pun berjongkok, sedang dia melepas pelukannya pada leherku. Kemudian dia turun, lalu menepi pada dinding dan duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding rumahku.
Aku memandangnya sesaat, dan sedikit kasihan melihatnya duduk begitu. tapi segara kutepis dan kunaiki dinding rumahku, lalu turun dan melangkah cepat-cepat ke arah pintu.
"Ibuu! Ayaaah! Siapa saja bukakan aku pintuu!" teriakku sambil menggedor-gedor pintu rumahku. Beberapa saat setelah aku berteriak-teriak membangunkan seisi rumah. Ibuku menimpali dengan marah-marah.
"Jangan teriak-teriak terus! Ibu sudah dengar!"
"Buruaaan! Karin sedang menunggu di luaar!" sahutku tak kalah kerasnya. Tiba-tiba suara tapak-tapak kaki ibuku kudengar melangkah cepat ke pintu. Lalu ada suara-suara seperti suara orang mengutak-atik lubang kunci. Setelah itu pintu pun dibuka, tampak ibuku dengan wajah kusut memandangku tajam.
"Mana Karin?" tanya ibuku.
"Itu diluar." Aku berbalik dan berniat mendekati gerbang. Tapi pekikan ibuku langsung mengagetkanku, dia mendorongku dan berlari mendekati gerbang. "Dasar bodoh! Cepat ambilkan kunci di pintu!"
Aku membawakan kunci itu, lalu memberikannya pada ibuku.
"Kau tidak apa-apa, Karin?" Sambil berbicara dia membuka gembok itu dengan singkat dan cepat. Kami pun membawa Karin ke kamar kakakku. Dan malam itu ibuku menghabiskan waktunya hanya untuk merawat Karin. Pikirnya, Karin itu hanya sakit biasa. Pagi harinya ibuku libur, tak masuk kerja untuk merawat Karin. Awalnya dia ingin membawa Karin ke rumah sakit, tetapi Karin terus-terusan menolak. Meski yang membujuknya itu aku tetap saja dia tidak mau. Bahkan saking keras kepalanya dia sampai-sampai dia memaksa ingin pulang sendirian dan sakit saja di rumahnya. Aku sampai menggeleng-gelengkan kepala saking lelahnya aku membujuknya. Sepertinya sifat keras kepala Nagato menular ke dia.
Malam itu ibuku benar-benar marah besar. Aku sampai ketakutan melihatnya mengomeli paman dan bibiku lewat telepon. Bahkan ayahku kerepotan menenangkannya. Pokoknya malam itu, rumah itu ribut sekali. Rasa-rasanya ibuku tak pernah seperti itu ketika aku sedang sakit. Ah... Kenapa aku jadi iri begini ya?
Satu hari, dua hari pun berlalu. Aku, ayahku, dan ibuku secara bergantian menjaganya. Selama itu pula ibuku tak pernah masuk kerja hanya untuk merawat Karin. Tapi syukurlah, pada hari ke sembilan demam Karin sudah agak turun.
Kejutan lain pun datang, sore itu ketika aku sedang menyuapi Karin makan, sementara orang tuaku sedang curhat-curhatan di ruang tamu, kakakku bersama suami dan anaknya datang berkunjung secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Suami kakakku namanya Kakashi, orangnya tidak banyak bicara, seperlunya saja. Rambutnya berwarna abu-abu, matanya berwarna hitam dan selalu kelihatan setengah terbuka seperti mata orang yang tak punya minat apa-apa pada sekitarnya.
Percayalah meski caranya memandang seperti itu, dia itu pendengar yang baik. Profesinya sebagai guru. Cocok sekali dengan kepribadiannya yang tenang. Pernah sekali-dua kali aku melihat matanya benar-benar melek hanya saat-saat dia sedang serius. Dan saat-saat itu kudapati saat dia sedang bertukar pikiran dengan ayahku.
Gadis kecil berumur enam tahun di gendongan kakakku itu namanya Ryuzetsu, rambutnya putih dan diatur menjadi dua kepang sama seperti ibunya. Kulitnya berwarna coklat kemerah-merahan. Dia itu bocah kalem yang kadang juga cerewet. Kalau keponya sudah datang, dia bakal nanya-nanya tentang apa yang membangkitkan penasarannya itu.
Mereka pun masuk. Tuki taki tuki tak. Lalu ribut-ribut ini dan itu. Lalu mereka bicara-bicara, lalu kakakku ingin mengajakku tinggal di Suna. Karin tiba-tiba saja batuk-batuk tak jelas, sedangkan aku sama sekali tak peduli. Aku hanya berpikir-pikir tentang rencana kakakku itu. Apa aku harus menerima tawaran itu? Aku tak tahu.
Aku mengalihkan pandanganku pada Karin. Rupanya dia sedang memandangku dengan suatu kesedihan yang terpancar jelas dalam pandangannya. Aku sangat mengerti akan maksud tatapan itu. Tetapi kemudian gelengan kepalanya memperjelas maksudnya itu.
"Karin mohon jangan tinggalkan, Karin... Karin tak ingin sendirian..." ujarnya dengan suara yang membuat emosiku bergejolak. Aku hanya memandangnya tanpa tahu harus berkata apa-apa. Aku sendiri bingung mau menjawab apa. Tinggal di Suna kedengarannya lumayan. Aku selalu ingin menjelajahi luar kota. Apalagi kata kakakku dia ingin mencarikan pekerjaan untukku. Aku melirik Karin sebentar. Tetapi tiba-tiba dia memelukku sangat erat sambil menangis pelan. Aku pun mengangkat tanganku membalas pelukannya dan mengusap-usap rambutnya dengan perasaan sedih. Rasanya meninggalkan Karin agak berat bagiku. Tapi susah juga untuk ditolak mengenai tinggal di tempat asing itu. Aku ingin mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, tetapi orang tuaku tiba-tiba masuk saat itu juga.
Mereka duduk di dekatku, sedangkan Karin masih terus menangis tanpa suara di bahuku. Hanya air mata hangatnya saja yang terasa mengalir menyentuh kulitku.
Mereka meminta pendapatku tentang hal ini tanpa mempedulikan Karin yang sedang memelukku. Tapi gadis ini yang mungkin saja mendengarkan itu, dia mencengkram erat tengkukku yang tentu saja aku tahu dia memintaku untuk menolaknya.
"Entahlah, ibu, ayah. Aku minta waktu untuk berpikir, hanya sampai Karin sehat." Dan tiba-tiba jerit tertahan pun keluar dari mulut Karin.
"Ya sudah. Apa pun pilihanmu, tentu kami akan mendukungmu, kata mereka. Aku melihat wajah mereka menyiratkan kesedihan sebelum beranjak dari kamar ini.
"Kenapa menangis, Karin?" Aku bertanya pada gadis ini seperginya orang tuaku dari kamar ini.
Dia berkata sambil terisak-isak, "Karin tidak ingin kakak pergi... Karin mohon jangan tinggalkan Karin sendirian..."
"Siapa bilang Karin bakal sendirian? Masih ada ayah, ibu, paman dan bibi yang bakal menemani Karin di sini," hiburku tanpa melepaskan belaianku pada rambut dan punggungnya.
"Tidak mau...," isaknya sedih sambil menggeleng. Suaranya seperti gadis cilik yang tidak ingin ditinggalkan. Cukup untuk membuat dadaku bergemuruh.
"Karin jangan cengeng... Nanti kakak kabarin tiap waktu dan kakak jenguk kalau kakak ada uang..."
"Karin tidak mau... Di sini Karin selalu kesepian... Hanya kakak yang mau menemani Karin, menjaga Karin, dan selalu memberi perhatian lebih p-pada Karin... Pokoknya Karin tidak mau kakak pergi..."
"Karin... Belajarlah tegar... Belajarlah untuk kuat menghadapi kesendirian... Kakak tidak akan selalu ada buat Karin. Akan ada masanya nanti kakak juga akan pergi..."
"Pokoknya tidak mau! Karin lebih baik jadi anak cengeng dari pada tidak ada kakak di dekat Karin..."
"Mengertilah, Karin... Jangan biasakan diri jadi anak manj―"
Tiba-tiba dia marah. "Karin tidak manja! Pokoknya kakak jangan pergi!" Dan aku langsung diam setelah itu.
Sejak sore itu, Karin mulai bertingkah sangat manja dan cengeng padaku. Dia tak mau aku beranjak dari kamar ini barang sesaat pun. Padahal hanya ingin ke kamar mandi, tapi dia bersikeras. Lama-lama tingkah manjanya itu membuatku sebal.
Sore itu tepat seminggu setelahnya, ketika ibuku dan sekutu-sekutunya sedang ke luar untuk urusan mereka, terbetik dalam hatiku suatu keinginan bernostalgia dengan tempat-tempat indah yang dulu pernah menjadi tempatku menanti gadisku. Tempat-tempat yang dulu pernah menjadi tempat romansa antara aku dan dia.
Ketika sang surya masih tersembunyi dibalik awan kelabu. Suatu pagi yang berhiaskan awan-awan mendung. Aku menunggunya... Sendirian... Pertama kalinya aku menyaksikan gadisku muncul seperti pemeran perempuan dalam sebuah film.
Aku tersenyum pahit. Melihat diriku berbulan-bulan lalu sebagai remaja yang baru mengenal cinta, seakan cinta masih tampak begitu mudahnya untuk diraih. Maka kuputuskan pergi ke tempat itu detik ini juga tanpa menunda waktu lebih lama lagi. Tetapi ketika tubuhku tertahan pada suatu tarikan pada jaketku, aku menyadari bahwa tidak tepat keinginan itu akan terpenuhi.
"Kakak mau ke mana?" Suara itu langsung menghentikan keinginanku. Tentu saja akan ada Karin yang takkan membiarkanmu melakukan itu.
Aku memandangnya dengan malas dan saat itu juga aku mulai merasa jengah dengan tingkah menyebalkannya. Aku pun mendengus jengkel. "Kakak mau keluar," jawabku malas.
"Kakak jangan pergi..." Dia melarangku sambil mendekat padaku dan menggenggam lenganku.
Aku berdecak. "Cuma sebentar saja, Karin..." kataku selembut mungkin. Meski dalam hati sudah greget sekali rasanya.
"Tidak mau! Kakak gak boleh pergi!" Dia bersikeras.
"Ya, ampun, Karin... Kakak cuma keluar sebentar saja..." Aku menggenggam pergelangan tangannya sambil berusaha membebaskan lenganku.
Dia menggeleng dan cengkraman tangannya semakin kuat. Dan aku cukup merasa geram dengan tingkahnya yang keterlaluan. "Tidak mau... Karin tidak mau kakak pergi! Karin mohon..."
"Karin!" bentakku sambil menyentak tangannya dengan kasar. "jangan cengeng! Kau ini sudah besar tahu! Tingkahmu seperti bocah saja."
Dia mulai menangis dan tetap berkeras pada pendiriannya. "Pokoknya Karin tidak mau kakak pergi! Karin tidak peduli walau Karin anak cengeng! Kakak jangan pergi!" ujarnya seraya berusaha menggapaiku. Tapi dengan cekatan aku segera menghindar dan melarikan diri.
"Jangan tinggalkan Kariinn!" Dia menjerit dengan suara yang keras sekali. Dan belum sampai aku pada ambang pintu, tiba-tiba aku terkejut ketika mendengar jduagh di lantai. Apa aku berani melihat? Dan ketika aku berbalik, aku terperanjat kaget melihatnya yang sedang telungkup di atas lantai sambil merintih.
"Karin!" Detik itu juga aku menghampirinya dengan perasaan panik. Dan seakan kurasakan hatiku sakit saat kulihat darah berhamburan dari hidung dan mulutnya.
"Maafkan aku...," Dengan perasaan sangat bersalah aku mengangkatnya ke atas kasur sambil menyaksikan kepalanya terus menggeleng. Pemandangan ini membuat dadaku sangat sesak. Aku pun menangis.
"Maafkan aku, Karin... M-maafkan aku..." Sambil mengulang-ulang kalimat itu aku berusaha menghapus jejak-jejak darah yang membasahi sebagian wajahnya. Tenggorokanku terasa tercekik tatkala kulihat darah-darah itu masih saja keluar dari mulutnya. Aku pun segera melepaskan pelukanku, dan dengan panik aku berlari ke luar kamar, mengambil baskom dan air. Sekembalinya aku ke kamar sambil membawa baskom berisi air, aku naik ke atas kasur seraya meletakkan baskom air itu di dekatku.
Kutarik Karin mendekatiku hingga punggungnya bersandar di dadaku. Kemudian kurangkul pinggangnya dan kutarik baskom itu mendekat, sedang ia terus saja mengigau dibarengi napas tersengal-sengal. Singkatnya setelah semua darah di wajah dan lengannya bersih, aku meninggalkannya lagi ke luar kamar, mengambil segelas air dan kembali lagi.
"Minum dan kumur air ini. Kau bisa, Karin?" Dia hanya mengangguk. Kuberikan gelas inì padanya dan membantu memeganginya. Berulang-ulang dia meminum dan memuntahkan air di mulutnya ke dalam baskom. Setelah darahnya sudah tak keluar lagi, maka langsung kupeluk erat Karin dan mulai menangis.
"Maafkan aku karna terlalu egois," kataku berurai air mata. "aku tak bermaksud sekejam itu padamu Karin."
Kurasakan anggukan kepalanya entah apa maksudnya. Dia berkata lemah, "Maafkan Karin juga, karna sudah egois sama kakak. Karin cuma gak mau kehilangan kakak. Karin gak mau sendirian."
Aku tidak menjawab untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya tangisku mereda. Bagaimana cara memberitahunya kalau aku juga ingin berpetualang melihat-lihat tempat asing? Entahlah. Aku tak tahu. Tapi jawaban itu mengalir begitu saja. "Tak apa-apa. Lagi pula aku tidak pergi selamanya. Paling hanya setahun atau dua tahun."
"Setahun dua tahun itu nggak sebentar kak. Lama banget buat nungguin kakak pulang."
Aku mengecup pipinya. "Tak apa 'kan saat bertemu lagi nanti aku juga ingin melihatmu berubah. Supaya jadi lebih dewasa atau..."
"Atau apa?"
"Lupakan saja," sahutku. "intinya jauhi yang jelek-jelek saja."
"Tapi tanpa kakak Karin ga bisa apa-apa. Bagi Karin kakak adalah segalanya."
Aku terharu mendengarnya. Eh, tapi dia itu plin-plan orangnya. "Justru itu kuncinya. Supaya kau jadi lebih dewasa. Soalnya gimana ya? Kau pasti akan cantik sekali kalau sudah bisa bersikap dewasa. Lagian 'kan aku juga pulang kalau ada uang."
Karin tak mengatakan apa-apa. Keadaan itu berubah hening. Suara klakson truk di jalan raya mengudara dengan agak samar. Lalu sepi kembali... Pada saat itu aku sedang memikirkan kemungkinan Karin akan jadi rewel lagi...
"Peluk, Karin." Dia meminta dengan tiba-tiba. Lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, hingga puncak kepalanya menyentuh daguku. Aku tak berusaha mendebat. Aku menggenggam tangannya, mengangkatnya sampai tangan kami melingkari tubuhnya. Lalu kami tak bergerak lagi. Pikiranku agak rileks dengan posisi ini. Sambil tercenung, aku bertanya-tanya, 'Apakah ia setuju?' Sebaiknya diamkan saja. Salah mengambil tindakan malah aku yang repot sendiri nanti...
"O, ya," kataku memecah hening. "kakak boleh tidak meminjam sepeda motor Nagato?"
"Kakak mau kemana?"
"Jalan-jalan," kataku berdusta.
"Tapi jangan lama-lama. Karin tidak betah di sini sendirian..."
"Tentu saja. Bolehkan?"
"Sejak kapan Karin atau orang tua Karin melarang kakak memakai kepunyaan kami?"
Aku melepaskan pelukanku, lalu mengecup pipinya~itu wajar 'kan? "Terima kasih. Kalau begitu kakak berangkat dulu." Aku bangkit, tapi aku berhenti sebentar sambil meneliti pakaiannya yang bernoda darah.
"Ganti pakaianmu dulu," kataku seraya beranjak ke lemari pakaian kakakku. Mengambil pakaian kakakku dan memberikannya pada Karin...
Bersambung...
