Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kisimoto
...
...

.


Sekali lagi aku menghela napas. Sambil mengendarai sepeda motor membelah jalanan dan dinginnya malam, aku berpikir. Sejak keluar dari rumah Karin, segalanya menjadi tampak menyedihkan. Keadaan itu bertambah berat saat aku melihat jalan yang sering kulalui bersama gadisku. Seperti tayangan sinetron di televisi, kenangan itu berputar-putar di kepalaku dengan cepat. Dan sekarang perasaan kalut itu bertambah berkali-kali lipat.

Aku pun mengerem di depan rumah Sara, menekan klakson sambil mengawasi pintu rumahnya. Hening sekali, sama sekali tak ada tanda-tanda si empunya rumah akan membuka pintu meski waktu sudah berjalan semenit. Aku pun membunyikan klakson lagi. Masih tak ada tanda kehidupan. Maka kuputuskan turun sambil memegang payung Sara. Kuhampiri gerbang rumah Sara yang terbuka sedikit, lalu berdiri saja kayak maling. Apa aku akan terlihat aneh? Bagaimana jika ini bukan rumahnya? Apakah aku akan masuk dan berteriak-teriak, 'Sara, keluarlah!' Aku mengendikkan bahu. Akhirnya dengan semboyan, 'Malu bertanya, sesat di jalan.' aku pun masuk gerbang.

Rumahnya lumayan. Halamannya juga lumayan bagus. Ada tanaman-tanaman hias menggantung di beranda rumahnya. Ada kursi-kursi bambu di teras. Dan cat rumahnya sendiri barwarna biru langit.

Aku pun berhenti, membuka sendal, lalu naik ke atas teras yang dilapisi keramik. Aku memberanikan diri membunyikan bel di dekat pintu.

Tak lama kemudian, pintu lantas dibuka. Sara muncul dari balik pintu dan terkejut melihatku. Lampu yang menyala di langit-langit menyinari kulit pucat Sara dan rambutnya yang setengah basah menutupi keningnya. Binar hangat matanya tampak begitu jelas, dan bahkan orang sebodoh aku pun tak terlalu sulit melihatnya. "Mengapa," katanya, lalu berhenti. Ia melanjutkan. "maksudku tumben kau datang malam-malam begini."

Aku menyodorkan payung itu tanpa mau berhenti menatap matanya. Kataku, "Cuma mau balikin ini."

"Oh," sahutnya. "sebenarnya aku sendiri sudah lupa kalau payung ini ada padamu. Tapi makasih sudah mengembalikannya."

"Sama-sama." Kami lalu terdiam, berpandangan. Keadaan itu justru menggangguku.

Sara menyandarkan bahunya ke sisi bingkai pintu sambil bersidekap. "Mau masuk dulu?"

Aku menggeleng. "Aku ada urusan."

"Hanabi ya?" tanyanya.

Aku mengangguk. Jawaban itu benar dan juga salah di saat yang sama. "Senang mengenalmu. Anu, aku pamit dulu."

Selama detik-detik yang panjang, aku ingin melihat mata sedihnya itu lagi. Tapi ia malah mengerutkan dahi hingga aku pun merasa kecewa. "Jadi ceritanya kau mau 'Ngapel' ke rumahnya?"

Aku menggeleng lagi. "Bukan," sanggahku. "cuma mau jalan-jalan. Sumpek di rumah terus."

Dahinya makin berkerut. "Jadi kau akan duduk saja di sana menunggu seperti orang konyol?"

"Gak apa-apa. Lagi pula cuma sebentar. Gak lama kok. Mungkin saja dia bakal keluar nanti."

"Kau orang teraneh yang pernah kutemui," komentarnya. "tentu saja dia akan menolak. Ayahnya itu galak tahu? Bisa-bisa kau malah pulang ke rumah sakit nanti."

Aku tersenyum. "Ya mungkin saja 'kan dia mau keluar untukku.'' Aku berkelakar.

"Kau gila."

Aku terkekeh. Suaranya entah mengapa menghiburku. Lalu saat kurasa sudah tak ada yang perlu ditertawakan lagi. Aku mendesah. "Aku pamit dulu."

Dia pun mengangguk. "Sana. Tungguin pacarmu."

"Semoga sukses dengan pacarmu," ujarku sambil berbalik.

"Aku belum punya pacar."

Aku berhenti sedetik, terkejut. Lalu berbalik menengok Sara. Pernyataan itu bagaimana pun juga mengusik rasa penasaranku. "Masak? Terus yang kemarin-kemarin itu siapa?"

Sara memilin-milin rambutnya sambil menghindari pandanganku. Matanya kembali seperti itu lagi, mata yang sendu itu. "Bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa."

"Oh." Aku melirik ke samping. Pikiranku berpaling pada cerita Hanabi tentang betapa Sara telah menjadi biang kerok sekolah. Betapa banyak laki-laki yang dibuatnya patah hati, cekcok, dan seragam dengannya. Aku berpaling pada Sara lagi. Bertanya-tanya, 'Serius nih? Gadis ini murahan?' "Yah, pokoknya semoga kau menemukan orang yang tepat."

Selanjutnya, responnya benar-benar diluar dugaan. Dia bertanya dengan nada yang kedengaran lain, agak naik dan tak terkendali. Ada begitu banyak emosi yang menerjangku secara bersamaan ketika mendengarnya. "Mengapa kau bilang begitu?"

"Bukan apa-apa. Pokoknya semoga kau bahagia saja." Aku berbalik, mengangkat tangan dan melambaikannya. "Dah ya."

Aku keluar gerbang, sambil memikirkan jawaban Sara yang spontan itu. Entah aku harus percaya ataukah tidak? Mengapa dia bilang belum punya pacar? Apakah aku target selanjutnya? Aku menggeleng. Yah, mungkin aku terlalu berpikir positif. Mungkin saja kami hanya sebatas sahabat yang saling pengertian.

Aku mampir sebentar di toko kelontong yang sendirian di kampung yang sepi ini, membeli beberapa batang rokok, sekaleng minuman bersoda, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat itu. Sesampainya di sana, yang tentu saja memakan waktu kurang dari lima menit, aku lantas duduk di tengah-tengah. Sebentar kemudian aku telah rileks, sendirian, sementara angin berhembus sepoi. Keadaan itu membawaku kembali pada kisah sore itu. Pada waktu Hana berada dalam dekapanku. Hana yang imut dan pipi meronanya itu. Alhasil aku malah tenggelam dalam nostalgiaku...

Pada saat kisah itu berakhir, rindu itu mengalir dengan amat lembut dalam darahku. Sayang tak ada foto atau rekaman video yang akan mengobati rasa rinduku. Aku pun mengeluarkan ponselku, menimbang-nimbang menghubungi gadisku. Sekonyong-konyong aku menoleh terkesiap saat suatu sosok menjatuhkan diri di dekatku, nyaris tanpa jarak. Semula aku berharap itu Hanabi, tapi ternyata bukan.

"Ada apa, Sara?" tanyaku sambil terpaku pada penampilan Sara yang seperti biasanya, cantik. Sara mengenakan Jaket putih, dan celana jins hitam ketat yang menampilkan bentuk kakinya yang sempurna. Rias wajahnya yang tipis itu benar-benar nomer wahid. Wow, benar-benar tak tanggung-tanggung.

Sara mendesah, lalu tersenyum manis. "Aku juga menganggur di rumah," jelasnya. "mumpung kau masih di sini dan belum ada Hanabi. Jadi kukira melewatkan waktu bersamamu beberapa saat tak ada buruknya."

Aku ingin bilang, 'Kalau kau mau mengobrol denganku, Sara, kau tak perlu berdandan semeriah ini.' Tapi membatalkannya. Sara pasti akan tersinggung jika aku bilang begitu. Barangkali saja pacarnya atau gebetannya batal datang ke rumahnya.

Kami duduk berdekatan, sampai bahu kami bersentuhan. Duduk berduaan? Bukan dengan Karin atau Hanabi? Waduh, bukan kebiasaanku. Apalagi dengan dandanannya yang secantik ini. Aku agak gugup. "Oh ya, kau mau minum apa? Aku yang traktir." Aku menawari.

Dia tersenyum. Rambut merahnya yang terkena sinar ditepi jalan menarik perhatianku. Senyumnya makin lebar. Ia lalu berpaling. "Apa saja. Tapi kalau tidak k-keberatan. Aku suka Coca-Cola."

Aku mengangguk, lalu berdiri. "Tunggu sebentar." Aku pun pergi membeli itu, dan kembali. Aku memperhatikan Sara dari belakang. Potret sosok Sara yang duduk di sana, di dekat pohon kersen, seperti sekuntum mawar putih yang sendirian di padang rumput. Aku mengerutkan kening, tiba-tiba saja aku berpikir bertolak belakang dari apa yang dikatakan Hanabi padaku. Bahwa dia bukan gadis murahan, atau playgirl. Tetapi sebenarnya hanya gadis yang sulit di dekati. Tunggu. Ada peribahasa yang cocok untuk menggambarkannya. Apa ya? 'Semua orang mengaku-ngaku punya hubungan dengan Layla. Tapi Layla memungkiri semua pengakuan dusta itu.'

"Maaf lama," kataku setelah sampai. "ini pesananmu." Aku lantas duduk di dekatnya.

"Makasih."

Kataku, "Omong-omong, kita sahabat 'kan?"

Dia lantas menyunggingkan senyum aneh. "Tentu saja."

"Nah, sekarang. Ceritakan padaku tentang mata terluka yang selalu kau sembunyikan padaku itu. Karna selama beberapa waktu belakangan ini aku agak terganggu memikirkannya."

Kata Sara, "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kenapa juga kau terus-terusan mengungkit mataku ini? Ada apa dengan mataku?"

Aku angkat bahu. "Aku tak tahu. Aku memang agak tolol soal perempuan. Tapi aku yakin ada sesuatu. Belakangan aku terus bertanya-tanya mengapa kau tak seperti yang biasanya. Seolah-olah aku melihat orang yang menyedihkan dalam dirimu."

Dia membisu sebentar. Lalu ia pun mendesah, dan berkata, "Maaf deh... Bodohnya aku karna tak bisa menjaga emosiku bila bertemu kalian."

"Kalian?" tanyaku.

"Kau dan Hanabi."

Aku mengernyitkan dahi. "Ada apa dengan aku dan Hanabi?"

Dia memandang mataku. Sambil tersenyum ia mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji kau takkan menjauhiku karna cerita ini?"

Aku mengangguk. "Aku janji."

"Janji?" tanyanya, kamudian mengangkat kelingkingnya lebih tinggi.

Aku mengerti maksudnya. Aku lalu mengacungkan jari kelingkingku dan menautkannya dengan jari Sara. "Janji."

Jadi cerita itu pun dimulai. Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor kera yang jelek. Jelek sekali sampai semua orang akhirnya mati. Tamat. Maaf, barcanda. Lupakan saja. Waktunya serius. Aku memperhatikan Sara lekat-lekat. Gerakan bibirnya yang merah menyala tampak begitu menarik. Cerita berjalan melalui kata-kata Sara. Rupanya Hanabi, Konohamaru dan Sara itu adalah sahabat sewaktu SMP. Seperti yang kau tahu bagaimana sahabat di masa-masa sekolah itu begitu menyenangkan: canda tawa, keseruan akan kelas yang heboh, dan hari-hari penuh warna. Aku bertanya-tanya apakah Sara juga mengenal Udon? Lalu kisah itu berlanjut dengan datangnya seorang cowok yang tak lain tak bukan adalah Udon kita yang beruntung. Aku yakin ada bagian aku yang berkirim surat di sana. Bagian yang paling keren tentu saja. Tapi bagian itu sayangnya belumlah tiba. Kalimat demi kalimat berlalu seperti peluru yang ditembakkan ke jantungku. Kisah itu begitu romantis dan menyakitiku. Kisah tentang Hanabi dan Udon memang seperti yang kubayangkan selama ini. Aku nyaris tak tahan mendengarnya. Lalu disebutkan mengenai surat-surat cinta yang datang. Tapi Hanabi mengabaikannya. Aku pun jadi patah hati gara-gara bagianku tak disebutkan di sana. Jadi Sara mengumpulkan surat-surat itu. Membacanya satu-persatu. Lalu membuangnya. Tapi ada surat-surat yang disimpannya dan dibalasnya.

Dari sini saja aku sudah nyaris berurai air mata. Aku menggigit bibir hanya agar aku tak tampak seperti orang yang perlu dikasihani. Cerita itu berlanjut kepada Konohamaru yang jatuh hati pada Sara. Tapi Sara terlanjur cinta pada orang lain, sehingga hubungan persahabatan itu pun retak. Kurasa aku tak terlalu fokus pada Sara, Konohamaru dan si cowok misterius yang menggelikan itu. Sebab aku sendiri harus kesusahan menahan tangisku.

Pada saat kelulusan sekolah Hanabi dan Udon pun berpisah. Ceritanya sama persis seperti yang diceritakan Hanabi padaku. Kejadian itu membuat Hanabi jadi pemurung tulen. Aku bisa membayangkan guncangan hebat yang diterima Hanabi hingga ia jadi seperti itu. Lama berselang, cerita itu berlanjut tentang seorang cowok yang bakal datang menjadi pahlawan bagi Hanabi. Tapi kurasa Narasinya bercerita lebih banyak mengenai Sara sendiri, perasaannya yang tak pernah hilang pada seorang cowok misterius si pengirim surat di masa-masa SMPnya~itu lho waktu surat-surat itu bertumpuk-tumpuk yang sebagiannya dibalasnya. Ternyata salah satunya membuatnya kepincut (Tunggu, apa aku melewatkan bagian itu tadi?). Ia pun meladeni si pengirim surat itu. Surat berbalas surat yang kedengaran 'wah' banget. Jadi pada akhirnya si cowok meminta bertemu di taman Konoha. Sara bahkan rela bangun subuh-subuh, mandi, dan berdandan secantik mungkin. Tapi naasnya Sara tak pernah bertemu si cowok. Selama berjam-jam Sara menunggu, tapi cowok itu tak kunjung datang (Dari sini aku mengerutkan dahi~seolah-olah cerita itu rasanya tak asing. Tapi aku belum ingat apa itu.) Jadi Sara pulang dengan kecewa, bahkan untuk pertama kalinya Sara harus menangis. Sara yang duduk dipojokan, menangisi cowok aneh yang telah mencuri hatinya itu. Aku memperhatikan segulir air mata Sara mengalir lembut di pipinya.

"Cowok goblok!" celetukku tiba-tiba. Sara menoleh terkejut, memandangiku sambil mengerutkan dahi. "Apa?" tanyaku seakan reaksiku perlu dijelaskan. Sara lalu tertawa. Tawanya begitu lepas sampai aku mengira dia sudah mulai gila. Kendati demikian, dia tampak lebih baik dengan gelak tawa itu dibanding muka sendunya.

Tak lama kemudian tawanya pun mereda. Aku segera mengulurkan tanganku menyentuh pipinya, lalu mengusap jejak air mata itu. Ia tak menolak, bahkan terdiam, sementara mata kami bertemu. Pandangannya pun melembut. Sekonyong-konyong perasaan asing itu datang lagi padaku. Perasaan itu kalau boleh kujelaskan sama seperti yang kurasakan ketika aku melihat Hanabi. Tapi kali ini perasaan itu tak menuntut apa-apa dariku. Hanya saja rasanya aku jadi lebih tenang dan santai.

Jariku tergerak menyisir rambutnya. Persis seperti yang kulakukan pada pagi kala daun itu hinggap di rambut merahnya. Ya Tuhan, betapa cantiknya Sara sekarang. Untuk saat-saat yang mendebarkan aku lupa segala-galanya. Tapi kemudian aku pun tersentak, dan menyadari bahwa aku siapa. Wajahku memanas. Aku segera menarik tanganku dengan agak gugup. "Maaf," kataku. "lanjutkan ceritamu."

Sara berdehem sebentar sebelum melanjutkan kisahnya. Aku meliriknya. Pipinya jelas-jelas memerah, ronanya tampak kontras dengan warna kulitnya yang pucat. Ada apa sih dengannya?

Sara kembali bercerita. Pasca kelulusan, Hanabi dan Sara melanjutkan sekolah di dekat tempat tinggal mereka. Tak ada apa-apa. Tak ada kisah cinta. Tapi kemudian seorang cowok hadir di antara persahabatan mereka. Hanabi mencintai cowok itu~pada awalnya sih Hanabi hanya bersenda gurau. Tapi akhirnya mulai ada rasa. Masalahnya bukan di sana. Masalahnya ada pada Sara. Baru diketahuinya si cowok yang jadi pacar Hanabi nyatanya adalah cowok yang bikin Sara jatuh cinta sekaligus patah hati di masa SMP-nya. Tentu saja Hanabi mengetahuinya. Oleh sebab itulah persahabatan mereka merenggang. Bahkan Hanabi sekarang terang-terangan memusuhi Sara demi cowok bego itu. Kau tahu apa yang kupikirkan? Hubungan tiga orang sahabat yang semula akur harus hancur gara-gara cinta. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Karna pada dasarnya hubunganku dengan teman-temanku tidak sedalam itu. Pun aku tak punya teman cewek. Tapi aku cukup melihat gambaran jeleknya..

Berkali-kali Sara berusaha mengabaikan cowok itu, tapi tak bisa. Tiap kali Sara melihat cowok itu amat bahagia dengan Hanabi, Sara merasa terluka, dan Hanabi lambat laun menyadari perasaan Sara. Bagus! Seruku dalam hati. Telenovela kelas satu! Apa aku dapat kursi paling depan, serta bonus Popcorn untuk cowok paling tak laku seantero Konoha? Yap. Satu lagi cowok beruntung di antara dua cewek cantik. Salah satunya adalah gadis yang kupuja-puja dan kukejar cintanya seperti pecundang. Jadi di belakangku rupanya ada orang lain? Seberapa sering Hanabi dan cowok menggelikan itu berciuman?

"Aku mengerti," selaku murung sambil menunduk. Remuk sudah hatiku. Pandanganku berkaca-kaca. Kayaknya setelah ini aku akan berteriak dan memprotes sang takdir. 'Ya Tuhan! Dua gadis cantik dan aku hanya jadi ampas di antara mereka! Ini gak adil!' Tapi sudahlah. Mungkin memang seharusnya aku pindah ke tempat lain. Memulai hidup baru, kisah cinta baru. Barangkali saja aku lebih beruntung nanti di sana. Aku harus mencobanya.

Aku pun mendongak, lalu melirik ke samping. Aku mengerutkan dahi saat mendapati Sara telah menangis. Keadaannya begitu menyedihkan hingga aku pun merasa terenyuh. Pasti berat sekali berada di posisinya.

"Sara." Aku memanggilnya. Sara memalingkan wajah dariku. Aku memegang bahunya dan menariknya sampai kepalanya bersandar di bahuku. "Besarkan hatimu, kawan," hiburku sambil membelai rambutnya. "kau bukan orang jahat, Sara. Kau adalah gadis yang baik. Kau selalu ada untukku. Kau bahkan tak pernah bosan mendengar semua keluhanku. Meski kadang-kadang itu terlalu alay. Kau ingat tidak saat Hanabi menjauhiku (Aku merasakan anggukan kepalanya.) dan kau datang seperti matahari menerangi hari-hari suramku. Kau bahkan memberi masukan yang bagus padaku tentang Hanabi. Seingatku semua komentarmu tak ada yang bernada menjelek-jelekkan Hanabi..." Aku berhenti sejenak. "Cowok itu saja kayaknya yang terlalu bodoh." Aku melanjutkan. "Tidak menyadari siapa kau sebenarnya. Eh, ngomong-omong apa dia tahu kau siapa? Aku jadi penasaran seperti apa sih dia? Gemas aku ingin memukulnya."

"Dia itu cowok aneh," kata Sara. "kayaknya nggak ada cowok setolol dia di dunia ini."

Mendengar nada marah dalam suara Sara, mau tak mau aku pun tersenyum. "Nah begitu lebih baik...," sahutku. "Oh ya, setelah ini kau mau makan diluar tidak? Aku yang traktir. Hitung-hitung buat membalas semua kebaikanmu padaku. Malam ini aku akan menghapus semua kesedihanmu."

Tiba-tiba ponselku berdering. "Sebentar," kataku pada Sara. Aku mengeluarkan ponsel itu dari saku celanaku sebelah kiri. Aku melihat nomer Hanabi, dan terkejut.

Sara bertanya, "Siapa?"

"Hanabi."

Sara menjauhkan diri dariku sambil mengusap jejak air matanya. "Pujaan hatimu menunggu. Aku pulang saja."

Aku menahan Sara dengan cara menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa, Sara. Jangan pulang dulu. Masa kau tega meninggalkanku sendiri di sini. Lagi pula 'kan aku akan mentraktirmu malam ini."

Sara menyanggah, "Tapi 'kan~"

"Sudah," selaku sambil menariknya. "diam saja di sini. Jangan ke mana-mana oke?"

Sara duduk kembali. Aku menjawab panggilan Hanabi. Suara Hanabi yang sudah sering kudengar menyambutku. "Halo, kak."

"Halo juga, Hana."

"Apa kabar, kak? Kakak masih sakit?" tanyanya.

"Baik, Hana. Udah lumayan sembuh kok."

"Syukur kalo gitu. Kakak lagi apa sekarang?"

"Lagi nongkrong."

"Dimana?"

"Ditempat biasa kakak nungguin Hana."

"Serius kak? Kakak ngapain di sana malam-malam?"

"Gak ada sih, hanya pengen nongkrong doank, Hana."

"Sendirian?"

"Nggak," kataku. "Bareng Sara."

"Eh... Tunggu sebentar." Hanabi langsung memutuskan sambungan. Aku menghela napas sambil berpaling pada Sara. "Lihat 'kan? Cuma sebentar. Nah sekarang. Aku ingin mendengar tentang cowok yang jadi perusak hubungan persahabatan kalian itu. Kau dengar? Semuanya."

"Untuk apa?"

Aku berkata, "Barangkali nanti aku akan bertemu dengannya di jalan. Kemudian akan kubereskan dia untukmu."

Saran tersenyum. Giginya putih sekali dan rata. Dia menjabarkan ciri-ciri cowok itu. Matanya sebiru samudra. Rambut keemasannya yang bersinar bagaikan mentari. Dan kulit seperti perunggu. Aku membayangkan seorang cowok gila berkulit perunggu, yang terlalu sering berjemur di pantai sambil menenteng trisula dan menudingkannnya pada orang-orang. "Aku adalah putra dewa laut! Matilah kalian orang-orang lembek!"

Gambaran itu terlalu fantastis! Serius, kata-kata kiasannya terlalu lebay. Aku sampai bingung dengan gagasan yang muncul di otakku gara-gara kalimat itu. Aku berpikir, cewek ini mulai gila. Namun matanya begitu bagus. Warnanya merah keungu-unguan... begitu jernih.

Denyut hangat itu sekonyong-konyong kembali padaku seperti desir angin sepoi. Cara dia tersenyum, cara dia merapikan rambut merahnya. Dan... Dan.. Oh! Betapa bagus tengkuknya itu. Tidak seperti Hanabi yang kecantikannya bagai rembulan di atas sana, yang takkan bisa kuraih, yang hanya menghias dunia khayal dan mimpiku, yang kehadirannya bagai senja di cakrawala, dan hilang meninggalkan duka. Sara begitu hidup... begitu nyata, begitu manusiawi... Seakan dia adalah manusia pada umumnya, penuh kekurangan. Tapi hadirnya seolah mengobati segala sepi dalam keputus-asaanku.

"A-apa yang kau lihat?" tanyaku gugup.

"Sesuatu yang indah," jawabnya lembut.

"Ehem." Kami serentak menoleh, melihat Hanabi berdiri tegak dengan muka yang sulit kuartikan. Bagian kecil dari diriku menganggap ini salah. Aku duduk berdua bersama gadis lain. Tentu saja bisa menimbulkan dugaan yang macam-macam. Aku ingin berkata, 'Tunggu. Aku bisa jelaskan.'

Alih-alih mengatakan itu. Aku malah terdiam menatap wajah Hanabi. "Hana," gumamku.

Hana memeluk tubuhnya. Memandang kami lurus-lurus. "Kak. Hana ingin bicara dengan kakak," pintanya. "berdua saja."

Dia tak menunggu jawabanku. Setelah mengatakan itu dia pun berbalik dan menjauh. Aku berkata, "Tunggu di sini, Sara."

Aku lantas mengikuti Hanabi di belakangnya. Semilir angin menghembuskan aroma parfum Hanabi ke arahku. Sosoknya yang sederhana dengan penampilannya. Rambutnya terayun pelan dengan cara yang mempesona. Begitu sempurna dalam balutan sinar pucat rembulan seperti di mimpiku. Namun demikian aku putus asa, dan amat kesepian. Aku merasa seakan sosoknya begitu jauh, sosok yang takkan bisa kugapai dengan kedua tanganku. Dan hanya bisa melihatnya mulai pudar dengan hati tersayat-sayat.

Dia lalu berhenti di tempat yang tak diterangi sinar lampu di tepi jalan. "Ada apa, Hana?" tanyaku.

Dia tak segera menjawab. Keheningan ini malah membawaku pada kenangan pada sore itu. Ketika dia datang padaku dengan wajah merona delima. Aku ingat apa yang dipakainya; baju, rok, dan sendal merah muda itu. Lalu betapa mabuknya aku saat ia menyisir rambutnya ke belakang telinganya...

Aku mendengar getaran suaranya. Dia membuang napas. "Kak-ehem."

"Mau bicara apa, Hana?" tanyaku.

Hanabi berkata, "Hana ingin kita udahan aja, kak. Hana lelah dengan hubungan ini."

Aku mematung, merasa sakit mendengarnya. Tercekat, aku berkata, "Ke-kenapa, Hana?"

"Sia-sia saja, kak," katanya. "Hana sudah berusaha mencintai kakak. Hana sudah mencoba menerima kakak sebisa mungkin. Tapi Hana tetap tak bisa."

Sejenak aku kehilangan kata-kata. Aku berpaling memandang yang lain. Ternyata hanya bisa sampai di sini. Meski sakit, tapi aku mencoba menerima dengan lapang dada."Aku mengerti," balasku akhirnya. Air mataku menggenang. "aku takkan memaksamu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikan pilihanmu. Mau bagaimana lagi? Salahku juga karna terlanjur mencintaimu... Tapi... makasih atas hari-hari indah dan semua kenangan yang pernah terjadi di tempat ini. Aku takkan melupakannya..."

Aku menangkap lagi getaran suaranya. "Makasih, kak. Udah mau mengerti. Semoga kakak bahagia dengan hidup kakak."

"Semoga kau juga bahagia dengan hidupmu, Hana..."

Gadis jelitaku pun pergi. Aku menatap punggungnya untuk yang terakhir kalinya. Seperti yang kulihat pada waktu menjelang maghrib itu, ketika remangnya cahaya memudarkan sosoknya yang meninggalkanku. Air mataku akhirnya bercucuran. Aku nyaris menangis seperti anak kecil yang rusak mainannya... Perginya Hanabi telah mengguncang batinku dengan hebat.

Aku bersandar sebentar pada salah satu pohon kersen. Tapi bayang sosok Sara yang berderap menghampiriku menyadarkanku. Dalam sekejap aku sudah bisa menguasai diri. "Apa yang terjadi? Mana Hanabi?"

"Kami telah berpisah. Tak ada gunanya dilanjutkan. Daripada terus menjalani perasaan berat sebelah, 'kan baiknya kami berpisah saja."

"Bodoh sekali," katanya, lalu berlalu.

Aku menggenggam tangannya. "Biarkan saja. Aku sudah merelakannya."

Sara menepis tanganku, lalu meninggalkanku sendiri. Aku melihatnya menghampiri Hanabi yang sudah mengecil seukuran upil di sana. Lalu terjadi sesuatu. Aku tak bisa melihat dengan jelas sosok mereka yang timbul dan tenggelam dalam kondisi cahaya yang buram itu. Tapi samar-samar sosok Sara yang mundur dari kegelapan, lantas terjengkang ke tanah mengejutkanku.

Aku segera menghampiri Sara, merasa khawatir. Makin dekat, makin jelas pula wajahnya yang tampak seperti orang yang baru saja dicuri dompetnya. "Apa yang terjadi, Sara?" tanyaku sambil memegang bahunya.

Yang tak kuduga-duga adalah Sara malah menepis tanganku sambil melewatiku. Aku meraih lengannya dan menahannya. Dia melawan. "Lepaskan aku. Kumohon."

"Ada-ada apa sebenarnya?" tanyaku bingung.

Ia menyahut dengan nyaring, "Orang seperti kau takkan mengerti. Dijelaskan pun percuma. Kenapa orang-orang sepertimu ada di dunia ini?"

"Maksudmu apa?"

Dia berdecak sambil memelototiku. "Dasar bodoh. Sudah, jangan ganggu aku lagi."

Sara menggenggam tanganku dan menyentaknya dengan kasar. Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku bertanya-tanya, mengapa orang-orang bersikap menyebalkan sekarang? Seolah semua orang sudah tak sabar aku segera angkat kaki dari kota ini... Aku pun pulang dengan kondisi mental hancur lebur...

Sambil dengan agak muak aku merenungkan hidupku yang agak konyol ini. Dijauhi nyaris semua gadis-gadis yang kukenal. Tak punya teman cewek. Track recordku dalam urusan cewek benar-benar mengecewakan. Sekalinya ada malah bikin pedih begini. Padahal... padahal aku tak minta jatah pada mereka. Tak seperti teman-temanku yang punya pacar sekaligus sahabat cewek yang sudah digauli berkali-kali. Apa sih yang mereka punyai sehingga cewek-cewek sampai rela mengobarkan kegadisan mereka itu? Apa yang dipunyai ayah sampai ibu begitu lengket pada ayah? Tentu saja, pikirku dengan agak getir, daya tarik. Tak ada yang mencintai orang tak menarik... Ambil contoh Karin... sepupuku sendiri... yang rela dibawa ke mana-mana oleh pacarnya. Aku jadi punya dugaan jelek kalau cewek resek itu sudah pernah diapa-apain oleh mantan-mantannya. Lalu ada Hanabi, cewek yang pada awalnya begitu manis dalam pandanganku~pada waktu itu aku mengira dia adalah gadis polos yang tak tahu apa-apa tentang cinta. Tapi nyatanya? Dibelakangku dia sama saja seperti cewek jalang lainnya. Munafik semua. Makin memikirkannya, aku jadi benci pada hidupku, pada para cewek, termasuk Karin sendiri.

Untuk saat-saat yang penuh tekanan, aku punya gagasan untuk menciptakan sebuah senjata pemusnah massal, lalu mengumpulkan semua perempuan di dunia ini di satu tempat, dan duar! Mampus kalian!

Pintu kamarku diketuk. "Kak Naruto..."

Ini dia nih biang keroknya baru datang. Aku seharusnya mendiamkannya, dan membiarkan saja gadis manja itu sendirian. Tapi aku cukup belajar banyak dari hidup ini bahwa jika kau punya masalah dengan seseorang, kau tidak boleh melampiaskannya pada orang yang tak ada sangkut pautnya. Aku berseru, "Oit!" Aku menyeka air mataku sambil berdehem. Lantas membuka pintu. "Ada apa, Karin?"

"Temenin, Karin," pintanya. "Karin takut sendirian." Aku mengangguk. Malam itu pun kulewatkan tidur satu kasur dengan Karin. Dia bersandar di dadaku sambil memelukku. Sulit sekali merasa depresi saat ada cewek yang begitu tenang di dekat kita. Apalagi cewek itu sedang kurang sehat, kita dituntut bersikap wajar seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kecuali kita bersama orang senasib dengan kita...

...

Di sinilah aku, di stasiun kereta api bersama keluargaku yang hendak melepas kepergianku. Karin tak henti-hentinya menangis dalam pelukanku.

"Jangan lupa kabari Karin setelah sampai di sana..." ujarnya sedih.

"Iya, iya, Karin, mana mungkin kakak lupa dengan sepupu kesayangan kakak ini. Ingat-ingat pesan kakak ya?" pesanku. Dia pun mengangguk menyetujui.

Tak lama setelah itu kereta Blue Express pun datang. Karin malah semakin erat memelukku. Aku menghela napas. "Karin... Keretanya sudah datang," kataku mengingatkan. Tetapi gadis ini masih tak mau melepaskan pelukannya. Aku pun membiarkannya sebentar. Sementara kakakku dan kakak iparku pamit pada orang tuaku.

Akhirnya setelah cukup lama dia menangis, ia pun melepas pelukannya dengan berat hati. Aku berkata, "Tenang saja. Kakak cuma cari pengalaman kok di sana."

Selang tak lama kemudian orang tuaku menghampiriku dengan wajah sedih. Satu persatu mereka memelukku dan berpesan padaku. Akhirnya setelah perpisahan itu selesai, aku, kakak, dan kakak iparku serta Ryuzetsu masuk ke dalam kereta.

Aku berhenti sebentar di pintu gerbong sambil memandangi orang tuaku bersama Karin yang melambaikan tangan padaku. Di bawah langit biru hampa kupandangi mereka. Kereta pun berjalan, tangis karin kembali pecah. Aku lantas masuk sambil membuang napas dengan berat. Selamat tinggal gadisku, kotaku, dan semua kenangan yang pernah terjadi di sini... Sedih rasanya meninggalkan kota tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan, tempatku bermain, dan segala aktivitasnya yang sudah menghiasi hari-hariku. Air mata sedihku mulai menggenang, tapi segera kuhapus dan masuk ke dalam kereta...

To Be Continued