Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kisimoto

Suna. Apa yang kupikirkan ketika aku mendengar tentang kota itu pertama kalinya? Tempat tandus dengan gurun pasir yang gersang~tempat yang takkan mau ditinggali orang-orang sepertiku. Tetapi setelah mengunjungi tempat itu sewaktu kakakku baru menikah, pandanganku terpatahkan.

Tempat ini cukup nyaman. Sebenarnya Suna itu adalah daerah yang cukup luas~kukira ukurannya nyaris sama besarnya dengan Konoha sendiri. Tapi yang membedakan adalah pada uniknya tempat ini. Suna terbagi menjadi dua bagian, Suna sebelah Timur yang agak gersang dan dipenuhi gurun pasir. Lalu ada Suna sebelah barat yang subur, dan hijau, tentu saja menjadi tempat tinggalku saat ini. Dua bagian ini dipisahkan oleh pegunungan Myoboku.

Aku tinggal di kota kecil bernama kota Hening, dinamakan begitu karna memang suasananya yang tenang, menyenangkan, enak dipandang mata~lebih menyerupai desa dari pada kota. Pohon Sakura yang berjejer di pinggir jalan~warna kuning di kiri dan merah muda di kanan. Pegunungan Myoboku sendiri tampak cukup jelas dari tempat ini, yang lebih menyerupai sebuah dinding pemisah seperti di film Attack On Titan.

Jadi ketika pertama kali tiba di jantung kota Suna, pegunungan Myobokulah yang pertama kali menarik perhatianku. Kami turun di Stasiun Kereta Suna. Di Peron, aku menenteng satu koper berisi pemberian ibuku dan barang belanjaan kakakku sewaktu dia berada di Konoha.

Sepanjang perjalanan keluar dari stasiun, aku berpapasan dengan berbagai jenis manusia. Tetapi jarang sekali yang berambut pirang sepertiku, atau berambut pink, biru dan yang sejenisnya. Yang paling mendominasi adalah warna coklat, gelap, dan merah bata. Jadi dalam rentan jarak dari peron ke pintu masuk stasiun, aku dan keluargaku cukup menjadi perhatian orang-orang.

"Kenapa orang-orang menatap kita dari tadi?" Tanpa sadar pikiranku keluar begitu saja melalui mulutku.

"Tentu saja," jawab kakak iparku. "umumnya orang-orang di sini berambut coklat, gelap, dan merah. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang lain diluar kebiasaan mereka. Itu cukup menarik perhatian. Jadi nikmati saja."

"Oh, Oke," kataku. Kami keluar dari stasiun, dan aku disambut pemandangan pegunungan Myoboku yang menjulang bagai dinding raksasa di sana. Bentuknya masih tak mengalami perubahan sejak terakhir kali yang kuingat. Tentu saja, gunung takkan berubah bentuknya dalam rentan waktu beberapa tahun. Kecuali kalau gunung itu meletus, yang artinya kita harus merogoh dompet untuk membantu mereka yang menjadi korban bencana alam. Kotanya? Yah, tak ada yang perlu dikomentari. Sama saja seperti kota Konoha. Hanya saja cuacanya memang lebih menyengat dari Kota Konoha.

Kami berbelok ke kiri, melanjutkan perjalanan. Pandanganku terpaku pada iklan cewek berbikini di seberang jalan. Bentuk tubuh yang sempurna, aku memuji, rupanya disini aturan iklannya agak longgar. Kakakku menyadari itu dan langsung memukulku. "Jangan lihat-lihat yang nggak-nggak!" bentaknya.

"Apaan sih?" sahutku jengkel. Kayaknya perlu kuberi bocoran mengenai cerita kali ini mengusung tema buah dada dan bentuk pinggul yang sempurna.

"Matamu yang jelalatan kemana-mana!" katanya galak.

"Yaelah cuma iklan cewek pake bikini juga. Apanya yang salah?" tanyaku tak terima.

Kakak iparku langsung menyela dengan suara bass yang kedengaran menakutkan, "Oi, kalian. Jangan ribut di sini."

"Jangan ikut campur!"

"Iya, nih resek amat jadi orang."

"Ma, mau es krim..." sela Ryuzetsu. Dengan menggerutu pelan, kakakku pun pergi ke toko di pinggir jalan diikuti kami. Aku mengambil satu kaleng minuman bersoda dan melanjutkan perjalanan ke terminal bus yang berlantai 5 di sana.

Kakakku dan iparku lantas masuk ke dalam gedung. Pada dasarnya aku jenis orang yang tidak menyukai keluyuran tanpa tujuan yang jelas. Alhasil aku berdiri saja di luar gedung, bersandar pada tiang, dan memperhatikan ratusan manusia yang berlalu lalang di terminal ini. Ada segerombolan cewek-cewek cantik, salah satunya cantik sekali. Dia berjalan paling belakang. Tampangnya seperti boneka, dengan seragam sekolah berwarna biru gelap. Rambutnya coklat panjang, kulit seputih susu... Matanya besar, bagian pinggirnya dicoret dengan spidol warna hitam. Aku menghabiskan lima detik yang panjang untuk melihatnya tersenyum sambil mengembungkan pipinya. Lalu pada detik-detik terakhir cewek itu membalas tatapanku, sekejap. Mungkin saja dia mengira aku ini cowok aneh. Lalu dia menutup mulutnya sambil berlari mengejar teman-temannya. Yap, kurasa aura cowok tak lakuku masih membayang meski aku sudah meninggalkan Konoha. Tak jadi soal. Aku lalu menoleh pada kaca, menilai sebentar pada penampilanku yang memang selalu ganteng luar biasa.

Tak berapa lama kemudian kami sudah duduk di dalam bus. Aku duduk di dekat jendela melihat pemandangan gedung-gedung pencakar. Orang-orang yang berlalu lalang seperti semut. Lantas aku pun mengantuk dan tertidur...

Aku tak bisa mengatakan banyak hal selama seminggu lebih tinggal di sini, selain, tentu saja, nuansanya yang memang sejuk. Cepat atau lambat aku pasti menyesuaikan diri. Tapi demikianlah, tak ada teman. Tak ada yang kukenal kecuali kakakku. Tak ada Hanabi, tak ada Sara, juga Karin serta teman-temanku.

Aku masih belum bisa melupakan Hanabi. Cara dia pergi waktu itu masih menyisakan sakit di hatiku. Segudang pertanyaan tentang Sara dan sikapnya yang berubah dalam sekejap. Karin mungkin saja gadis manja dan kekanak-kanakan, tapi tetap saja aku rindu padanya.

Pintu lantas diketuk. Aku segera memperbaiki diri. Sebisanya bertingkah se-normal mungkin. Sebab menangis gara-gara seorang cewek sangat memalukan kalau kau punya kakak yang suka mengejek. Aku bangkit dengan cepat, beranjak ke pintu dan membukanya. Di hadapanku kakakku berdiri sambil memandangiku lekat-lekat.

"Ada apa, kak?" tanyaku dengan datar.

"Kau terus-terusan mengurung diri. Kau tidak bosan?"

"Tidak."

Setelah mendengar jawabanku, kedua alisnya menyatu dan mulutnya mengerucut sedikit. Persis seperti ekspresi ibuku ketika melihatku melakukan hal yang aneh menurutnya. "Kayak cewek saja," sindirnya. "ayo ke luar, bantu kakak mengurus toko."

Sesudah mengajakku dia pun keluar. Dia memang kerepotan mengurus usaha perniagaannya. Selain mengurus anaknya―keponakanku tentunya― dia juga mengurus tokonya yang tepat berada di depan rumahnya. Usahanya yang dimulainya sejak beberapa tahun lalu itu berkembang. Awal mulanya sih cuma usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu senggangnya. Itu pun hanya berjualan es saja. Tapi sekarang usaha itu berkembang menjadi dua. Tempat kecil yang dulu tampak seperti gubuk berubah jadi toko sederhana. Pertama kali tiba di sini aku sempat terheran-heran melihat bangunan kotak itu. Kukira itu adalah rumah awalnya, tapi ternyata bukan.

Tepat disebelah toko sederhana itu ada konter pulsa. Konter itu menyatu dengan toko milik kakakku, hanya terpisah oleh sebuah tembok saja. Dan aku tidak tahu milik siapa itu.

Dulu aku masih ingat ketika aku mengunjungi dan melihat usahanya ini, aku sempat menertawakannya dan sering mengejek usahanya itu. Tapi sekarang sesuatu yang kuanggap remeh itu telah berkembang.

Aku mendekati kaca, menyisir rambutku ke belakang. Kemudian meraih jaketku dan memakainya. Aku keluar rumah dengan perasaan biasa-biasa saja. Aku berbelok ke kiri setelah melewati pohon jambu yang ada di pekarangan rumah kakakku dan melewati dinding toko. Begitu aku sampai, aku langsung dikejutkan dengan motor-motor yang terparkir di depan toko kakakku. Parkirnya sembarangan lagi. Ada yang bawa pasangan, pacar mungkin. Ada yang sendirian sambil sibuk dengan ponselnya. Aku malah bengong seperti orang bodoh yang baru melihat hal-hal baru ini.

"Oi!" Kakakku meneriakiku, dan aku kaget dua kali olehnya. Semua mata memandang ke arahku, membuatku jadi malu dan kikuk. "tolong kakak, urusi Ryu, ya,"

"Ryuzetsu di mana, kak?" tanyaku setelah aku mengamati-amati tempat kakakku.

Kakakku kemudian mengambil selembar lima puluh ribuan dari laci meja kecil yang ada di dekatnya dan memberikannya padaku sambil berteriak memanggil anaknya, "Ryuzetsu! Ryuzetsu! Sini beli es krim sama pamanmu!"

Ya, ampun, suara teriakannya itu hampir-hampir mirip dengan teriakan ibuku. Keras dan menggelegar. Tak lama kemudian muncullah si bocah berambut putih, agak gendut, berkulit kemerah-merahan, dan kelihatan menggemaskan di mataku. Wajahnya berbinar cerah ketika menghadap kakakku. "Ya, ma," sahutnya.

"Pergi main sama pamanmu sana," suruh kakakku. Tapi gadis itu menolak.

"Ga mau, ma."

Kakakku melanjutkan, "Ryu mau es krim?"

Wajah bocah itu berbinar-binar. Dia mengangguk sambil mendekati ibunya.

"Ini. Beli sama pamanmu ya," kata kakakku seraya memberikan uang itu pada bocah itu. Bocah itu tak langsung mengambilnya, malah memandangku dengan ekspresi 'Wah ada orang gila.'

Aku menatapnya sebentar sambil mendekati bocah itu, beralih ke kakakku lagi. Tiba-tiba cahaya kecil dari konter di seberang menarik perhatianku. Aku melihat gerombolan cowok-cowok ganjen. Mereka sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan yang ada di belakang etalase. Rambut perempuan pirang itu sebahu, wajahnya agak kaku, malah kelihatan kejam. Kulitnya putih, berdagu lancip, dan mata biru tajam yang menunggu pandanganku. Aku menjadi kikuk gara-gara pandangannya yang seakan menilai itu. Cepat-cepat aku berpaling pada keponakanku yang menggemaskan.

"Sini. Beli es krim sama paman ya?" Dia tak menjawabku. Dia hanya mengamatiku tanpa henti. Baru setelah aku berada dekat dengannya, dia segera menunduk. Aku pun menggendongnya tanpa mendapat perlawanan. Tapi sesaat aku teringat akan sesuatu setelah Ryuzetsu berada dalam gendonganku.

"Tunggu dulu. Beli es krimnya di mana kak?" tanyaku.

"Terus saja ikuti jalan ini dan kau cukup bodoh jika tidak bisa membedakan mana toko dan mana pangkalan ojek," sindir kakakku. Pekik tawa pun mengudara dari belakangku. Aku mendengus dan berjalan di sepanjang sisi jalanan ini. Tak lama setelah itu kami pun tiba di sebuah jembatan. Dari sini aku melihat deretan rumah-rumah yang dipagari dengan tanaman. Tanaman-tanaman pagar yang menyerupai dinding itu entah bagaimana bagus dalam pandanganku. Setelah sampai pada ujung jembatan ini, ada satu rumah yang kelihatan berbeda dari rumah-rumah lainnya.

Rumah itu terbuat dari kayu, bergaya kejepang-jepangan. Dengan halaman rumput luas dan kebun bunga yang indah. Ada pohon sakura di kedua sisinya. Kolam ikan di sebelah kiri. Panas menyengat sang surya kembali membakar tubuh kami. Aku pun segera melindungi keponakanku dari sengatan sang surya.

Aku berjalan agak tepi, di bawah pohon sakura. Setelah berjalan selama beberapa menit, aku melihat deretan toko-toko yang berada di sisi kanan jalan, kira-kira sepuluh meter dari tempatku sekarang. Dan pandanganku terhenti pada sebuah toko sederhana yang berada di tengah-tengah deretan toko-toko itu. Aku pun mendesah lega setelah melihat wadah berbentuk kotak besar yang ditempeli gambar-gambar berbagai macam es krim.

Aku pun berhenti, membalik tubuhku, dan memandangi kiri kanan bergantian. Ketika jalanan sudah sepi, aku pun menyeberang dan berjalan mendekati toko itu. Dan bocah ini memekik senang sambil merangkul leherku.

Di depan toko itu aku berhenti. Diam beberapa saat, namun selang tak lama setelah itu ada seorang wanita yang ke luar dari dalam toko. Wajahnya tenang, mulus dan tak terlalu banyak penuaan pada wajahnya. Rambutnya pirang pucat dan mempunyai bentuk tubuh yang montok, terutama dadanya itu. Aku langsung menahan napas. Dalam sesaat darahku berdesir. Tapi segera ku alihkan pandanganku pada keponakanku.

Rasa-rasanya di kota tempat tinggalku kemarin-kemarin, gadis-gadisnya sangat tidak menarik perhatianku. Meski mereka berpakaian dengan tanktop dan hotpants―kecuali model-model seksi yang sering ku lihat di warnet, juga Hanabi tentunya bukan termasuk. Apalagi yang tua-tua seumuran ibuku. Aku lebih tidak minat lagi.

Tetapi di tempat ini aku baru memperhatikan satu orang seumuran ibuku saja, anuku langsung keras gara-gara perempuan berdada menantang ini.

"Ada yang bisa dibantu?" tanyanya. Nada suaranya menggoda. Membuat darahku menjadi panas.

"Saya mau beli es krim." kataku cepat. Aku memandang wajah perempuan itu. Meski mataku memandang matanya, tapi perhatianku benar-benar tertuju pada dadanya.

Wanita itu tersenyum aneh padaku, kemudian mendekati kotak es krim itu. Jujur meski pandanganku melihat pada es krim yang ada di dalam kotak, perhatianku benar-benar tak mau lepas dari dada wanita itu. Seakan dada itu mengandung magnet yang kuat sekali. Tapi syukurlah, ketika pikiranku beralih pada gadis bermata lavender pujaan hatiku, semua nafsuku luntur.

Setelah membayar dua buah es krim, aku pun cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat ini. Aku menatap Ryuzetsu yang sedang asyik memakan es krimnya. Mulutnya kotor, tidak sedap dipandang mata. Aku berhenti sebentar dan membersihkan mulutnya yang belepotan.

Buggh!

Tubuhku ditubruk dari belakang oleh seseorang dan hampir saja aku jatuh tersungkur kalau saja aku tidak bisa menguasai ke seimbanganku. Tapi es krim Ryuzetsu harus menjadi korban gara-gara orang usil itu. Ryuzetsu pun menangis sambil menunjuk-nunjuk es krimnya.

'Siapa sih yang jalan gak pake lihat-lihat dulu?!' seruku dalam hati dengan jengkel.

"Maaf maaf," kata orang itu yang ternyata adalah seorang perempuan. Aku pun mengangkat tubuhku, membalik tubuhku setengah. Menatap jengkel perempuan itu.

Wajahnya cantik, kulitnya berwarna putih seputih susu, kelopak matanya sangat indah, sama seperti mata indah seseorang yang sudah menipuku. Rambutnya panjang berwarna biru gelap. Mulutnya setengah terbuka dan ekspresinya seakan kaget.

Dan saat itu emosiku kembali bergejolak. Aku membenci mata itu, mata penuh tipuan licik yang telah menghancurkan hatiku. "Eh! Kalau jalan itu pake mata, bego!" semburku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa terkontrol. Mata gadis itu berubah berkaca-kaca, mulutnya yang setengah terbuka pun tertutup rapat. Dia menundukkan kepalanya dan berjalan cepat-cepat melewatiku.

Ya, aku mungkin tega telah membentaknya. Tapi itu bukan semua salahku. Siapa suruh dia jalan sembarangan. Udah sembarangan tidak ada ganti rugi lagi. Tapi tadi dia minta maaf padaku. Terserah. Mari kita lupakan semua itu dan menganggapnya hanya angin lalu.

Tangisan Ryuzetsu semakin kencang. Aku pun memberikan es krimku pada dia. Dia tak mau. Akhirnya kami beli satu es krim kerucut lagi. Dia pun berhenti menangis dan berbinar-binar lagi wajahnya. Dasar bocah. Pikirku.

"Capek sekali," desahku sambil membuka jaketku, kemudian meletakkannya sembarangan di atas kasur. Seharian ini aku dan Ryuzetsu bermain terus. Begini sudah jadinya, mandi keringat dan bau badan. Aku menyeka keringatku, melangkah mendekati cermin. Dua tiga detik aku diam.

Gadis itu, pikirku. Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya. Aku mencoba mengingat peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Pikiranku menerawang dan berhenti pada sebuah jembatan di mana sebuah peristiwa pernah terjadi di sana. Pada malam ketika rembulan bersinar terang di langit hitam. Kemudian ada seorang gadis teler. Pikiranku terhenti sebentar. Aku membuka kaosku dan duduk di tepi ranjang.

Ada gadis teler. Resletingnya tidak terkait. Celana dalam merah muda. Lalu ke atas. Tanktop putih bergaris-garis hitam. Ada buah dada montok. Wajahnya putih seperti susu. Rambutnya sebahu dan berwarna biru gelap. Jalannya sempoyongan.

Sementara pikiranku berjalan. Mataku mengerjap dua kali. Tentu saja. Seorang gadis berambut indigo yang frustasi yang dulu hampir melompati pembatas jembatan.

Rasa-rasanya gadis yang ku temui tadi mirip dengan gadis tempo doeloe itu. Ah, mungkin cuma mirip saja. Setelah ku bandingkan ternyata jauh sekali perbedaannya. Gadis tempo doeloe itu badannya agak gendut dari yang tadi. Lalu rambut gadis tempo doeloe itu sebahu, juga ada poninya. Gadis yang tadi itu rambutnya panjang dan di sisir ke kiri. Pipi gadis tempo doeloe itu agak tembam, sedang yang tadi itu kempis alias datar. Memang hanya mirip kelihatannya.

"Hah..." Aku merebahkan diri pada kasur. "bagaimana kabar Karin sekarang?"

Sepertinya harus kuhubungi. Sudah enam belas hari berlalu sejak kedatanganku di sini. Karin terakhir menghubungi dua minggu yang lalu, tepatnya sebelum gadis racun ìtu pergi meninggalkanku. Sejak saat itu aku tak pernah memegang ponsel lagi.

Aku pun bangkit, membuka laci, mengambil ponsel itu, ternyata mati. Perlu dichas ini ponsel. Pikirku.

Aku mengambil chargerku dan mencolokkannya. Beberapa detik aku diam, lalu aku beranjak mengambil handuk. Sebaiknya aku mandi sementara batrainya terisi. Aku ke luar kamar dan melihat kakak iparku baru ke luar dari kamar mandi.

"Mau mandi?" tanyanya.

"Ya," jawabku.

"Setelah mandi nanti keluarlah makan,"

"Baik, kak," jawabku. Setelah itu kami berpisah. Aku kemudian masuk ke kamar mandi.

.
"Hah, segarnya." Aku duduk di atas kasur. Kenyang sekali malam ini. Meski tadi Ryuzetsu menggerecokiku, sama sekali tak masalah. Malah aku senang. Sebelumnya aku tak pernah makan dengan anak-anak. Kemarin-kemarin pun tak begitu.

Aku melirik ponselku, lalu mengambil dan melepas chargernya. Pulsanya kosong.
Aku pun merogoh saku celanaku. Ada dua lembar uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Ini adalah pemberian ibu dan ayahku.

Oleh karna itu aku akan beli sebungkus rokok dan pulsa. Sambil mengutak-atik ponsel ini, aku bangkit, pamit pada suami-istri yang sedang nonton tivi di ruang tamu.

Ryuzetsu turun dari atas sofa, kemudian berlari menghampiriku. "Paman mau ke mana?"

E buseeet tua sekali rasanya aku dipanggil paman.

Aku membungkuk sambil mengusap-usap kepalanya. "Mau beli rokok, Zetsu. Tunggu ya," pintaku sambil berdiri. Wajah cerah Ryuzetsu berubah melankolis. Dia diam saja memandangiku. Setelah mencapai pintu, aku pun berbalik, memakai sendal dan berjalan lagi. Namun belum lima langkah aku berjalan, suara tangis Ryuzetsu mengudara.

"Narutoo!" Kakakku memanggilku. Aku pun berbalik dan melihat kakakku sudah berdiri di bingkai pintu sambil menggendong Ryuzetsu.

"Merokoknya nanti saja. Ryuzetsu tidak ingin kamu pergi." kata kakakku.

"Sebentar saja kak. Lagian cuma beli rokok doank," jawabku. Kakakku mendengus di sertai alis yang menyatu.

"Tunggu sebentar ya, Ryu. Pamanmu cuma beli rokok saja," kata kakakku ketus. Ryuzetsu mengangguk beberapa kali sambil menggaruk telinganya. Bibirnya yang manyun itu lucu sekali. Kakakku memandangku lagi. "ya sudah, cepat sana. Jangan lama-lama."

"Dah... Ryu...," Aku pamit pergi. Berbalik dan berjalan lagi mendekati konter di dekat toko kakakku. Setelah sampai di depan konter ini, aku berhadapan dengan penjaga konter berambut pirang tadi. Dia sedang menunduk sambil mencoret-coret pulpen pada buku di atas Etalase. Tapi sialnya seandainya aku ini penderita mimisan, mungkin sudah dari tadi aku menyemburkan darah dari hidungku gara-gara belahan dada montok perempuan itu.

"Beli pulsa," ujarku sambil mengeluarkan uang dua puluh ribuanku. Berusaha tak mengacuhkan belahan dada perempuan cantik itu.

Dia mengangkat wajahnya, memandangku ke arah mataku secara langsung. Satu dua detik lamanya dia diam. Kemudian meraih ponsel jadul di dekatnya.

"Berapa?" tanyanya sambil menunduk dan mengutak-atik tombol ponsel jadul itu.

"Sepuluh ribu," jawabku.

"Nomernya?"

Setelah menyebutkan nomerku, dia memencet-mencet lagi. Sementara itu perhatianku beralih pada sebuah ponsel layar sentuh yang ada di dalam Etalase. Ponsel itu tipis, berwarna hitam, dan tampak keren sekali di mataku. Seandainya aku punya yang itu, dunia akan terasa lebih indah.

Kring! Kring!

Pulsaku sudah masuk. Aku menyerahkan uangku.

"Ambil saja. Tidak usah bayar," katanya santai. Aku tersentak. Mataku mengerjap tak percaya. Tak usah bayar katanya. Aku sama sekali tak mengerti. Bukankah seharusnya setelah mendapatkan apa yang menjadi transaksi jual-belinya, aku harus menyerahkan uang bayarannya? Terserahlah. Aku anggap hari keberuntunganku. Barangkali konter itu sedang mengadakan promo. Hmm hmm entahlah.

Aku melangkah lagi, berniat membeli sebungkus rokok di deretan toko tadi pagi. Malam begitu sepi, tiada manusia pun yang kelihatan kecuali kadang sebuah motor berpapasan denganku. Suara-suara jangkrik dan kodok bersahutan. Di depanku agak gelap, hanya sinar purnama dan beberapa lampu saja yang menjadi penerangan pada jembatan itu.

Angin berhembus kencang, dan suara dedaunan dari pohon-pohon itu menyambut alunan-alunan suara kodok dan jangkrik itu.

Ponselku kuangkat. Kucari-cari nomer Karin di kontak ponselku. Setelah ketemu, aku mulai menelpon. Tak perlu menunggu lama, karna ketika speaker ponselku berbunyi 'tuth' Karin pun menjawabnya.

"Kakak!" Karin memekik keras sekali. Dan terpaksa aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku.

"Iya, Karin."

"Kenapa kakak tidak mau mengangkat panggilan dari Karin?! Karin pikir kakak sudah lupa sama Karin."

"Tidak, tidak. Tentu saja kakak tidak akan melupakan sepupu kakak yang paling kakak sayangi ini. Bagaimana kabarmu?"

"Buruk, kak..." sahut Karin dengan suara nyaring.

"Buruk bagaimana?"

"Karin tidak ada yang menghibur...," masih dengan suara yang sama ia membalas. "tidak ada yang berbeda. Malah semakin membosankan. Huh... Semenjak kakak pergi dari sini. Tidak ada yang menarik."

"Hahaha." Aku tertawa garing. "nanti kakak akan pulang untuk menjenguk kalian kalau punya uang. Untuk saat-saat ini tak bisa, Karin. Sabar ya?"

"Hah... Karin kangen kakak...,"

"Huuu... Belum juga sebulan. Karin di mana sekarang?"

"Aku? Tentu saja di kamar kakak."

"Apa?" Aku terkejut. "kenapa di kamar kakak? Kakak 'kan nyuruhnya di kamar kak Naruko."

"Nggak. Karin maunya di sini dan sudah kerasan berada di sini. Itung-itung kalo Karin kangen kakak, Karin tinggal guling-gulingan di sini."

"Jangan acak-acak kamar, kakak!"

"Karin nggak ngapa-ngapain, kak. Cuma melihat-lihat koleksi kakak. Termasuk inìii! Hahahaha..." Dia tertawa terbahak-bahak. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi di sana.

"Hei! Apa maksudmu, Karin?! Jangan melakukan yang tidak-tidak pada kamarku!"

"Hahahahahaha―"

Tuth Tuth Tuth

Panggilan itu diakhiri oleh Karin. Aku mengangkat wajahku, ternyata sudah sampai pada deretan toko-toko tadi. Aku memandangi toko sembako yang ada di tengah-tengah.

Aku pun melenguh. Sepertinya hanya itu tempat yang ku kenali dan satu-satunya yang pernah ku datangi. "Kayaknya harus di sana." Dan harus berurusan dengan wanita itu lagi. Capek kalau gairahku harus bangkit lagi gara-gara perempuan. Untunglah ketika aku memasuki tempat itu aku tidak merasakan apa-apa lagi ketika berhadapan dengan perempuan itu.

Singkatnya setelah membayar sebungkus rokok dan korek api, aku pun pulang. Dalam perjalanan pulang itu aku membakar sebatang rokok. Tiba-tiba gadis yang tadi menabrakku ke luar dari gerbang rumah besar yang tadi pagi menarik perhatianku.

Jarak kami lima belas meter. Cara berjalannya agak lambat, lebih terkesan santai, sehingga sedikit demi sedikit aku mulai mendekatinya. Tepat ketika jarak kami selang lima meter saja dì tengah-tengah jembatan ini, dia berhenti. Aku mengangkat alisku dan aku malah ikut berhenti, kemudian dia menengok ke arahku. Kemudian berjalan lagi, tapi kali ini lebih cepat. Mendadak aku merasakan bulu kudukku merinding. Dia mempercepat langkahnya dua kali lipat lagi.

Pasti ada sesuatu, pikirku. Biasanya tempat-tempat seperti ini memang banyak sekali rumor tentang makhlus halus yang menunggunya. Tiba-tiba aku merasakan di belakangku seperti ada yang berdiri. Aku menengok ke belakang, tak ada siapa-siapa. Jantungku mulai berdebar-debar kencang. Suasana tempat ini lebih menyeramkan dari sebelumnya. Entahlah seperti ada yang mengintaiku dari suatu tempat di kegelapan ini.

Tap tap tap

Aku berlari sekuat tenaga mengikuti gadis itu. Rokok di mulutku ku buang. Gadis itu juga malahan ikut berlari. Tentunya lariku lebih cepat darinya.

"Hei, tunggu!" teriakku. Dia tak menggubrisku. Dia tetap berlari sekencang mungkin tanpa mau menoleh. Perasaan tentang kehadiran sosok makhluk halus itu terasa semakin kuat berada di belakangku.

Tak peduli pada napasku yang mulai sesak. Aku lari sekencang yang aku bisa. Tapi ujung jembatan itu terasa jauh sekali bagiku.

Gadis itu sudah ada di depanku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk menyusulnya. Kami sudah sampai di ujung jembatan dan hanya tinggal belokan ini saja kami akan sampai di pemukiman warga.

"Aduh!"

Naasnya, kakiku malah tersandung batu, gadis itu juga berhenti dan berbalik. Tidak ada pilihan lain selain menubruknya.

Buggh!

"Kyaaa!"

Aku menabraknya dan kami jatuh tersungkur ke jalanan, lebih tepatnya aku saja. Entah bagaimana caranya sekarang malah aku yang jadi bawah. Ditindih lagi.

Aku tidak tahu bagian tubuhnya yang mana yang sekarang menindih wajahku. Rasanya empuk sekali. Tapi bukan itu yang jadi perhatian utamaku.

Buagh buagh buagh

Dia memukuliku berkali-kali.

"Argh! Berhenti memukulku!" erangku sambil berusaha melindungi wajahku dari amukannya. Dia pun berhenti, namun tak lama setelah itu perutku diinjak, lalu dada dan menendang Mr P ku.

"Haharrrgggh!" Aku meraung kesakitan. Semua rasa nyeri itu terpusat di selangkanganku. Dibanding semua nyeri di tubuhku ini, selangkanganku jauh lebih menyiksa lagi nyerinya. Sampai-sampai aku tak bisa menegak napas barang sesaat saja. Sakiitt sekalii...

Tak lama setelah itu, di tengah-tengah tubuhku yang lemah ini, aku mendengar suara orang-orang berdatangan. Aku berusaha membangkitkan tubuhku. Setiap kali bergerak rasanya selangkanganku berkedut-kedut menyakitkan.

"Nah, itu dia! Mungkin itu orangnya! Ayo tangkap dia!" Orang-orang berteriak tak jelas. Mereka kemudian berhenti dan mengelilingiku.

"Ini nih penjahat kelaminnya! Ayo seret dia!" perintah seseorang. Lalu memegang ke dua tanganku.

"Eh, eh, apa-apaan nih?! Mau dibawa ke mana saya? Mau dibawa ke mana saya?" Aku mencoba mengelak. Tetapi ada delapan tangan yang memegangi dua lenganku kuat-kuat sehingga aku tak bisa apa-apa.

"Jangan melawan bocah cabul! Kecil-kecil sudah berani jadi pemerkosa! Gedenya mau jadi apa lu?!" tanya orang yang ada di kiriku. Lalu ada yang mendorong-dorong kepalaku dari belakang.

"Woi! Jangan dorong-dorong kepala, bego!" teriakku sambil menengok ke belakang. Tetapi kepalaku didorong lagi.

"Tampar saja, somplak ini! Biar dia diem! Dasar cerewet!" teriak seseorang lagi.

"Sabar bro. Sabar. jangan main hakim sendiri...,"

"Iya bro sabar. Sentil aja kepalanya sekali."

"Ingatlah kata pak RT bro. Orang sabar disayang hutan."

Mereka berbicara terus, sementara aku hanya bisa diam saja melihat mereka membawaku ke dalam rumah besar tempat gadis itu ke luar tadi. Lalu membawaku masuk ke ruang tamu. Di sana ada beberapa orang yang tengah duduk. Aku melihat si gadis yang tadi menghajarku duduk sambil menangis memeluk sorang wanita. Entah itu siapa, aku juga tak tahu. kemudian mereka mendudukkan ku secara paksa.

TBC