Disclaimer Naruto milik Om Masashi Kisimoto

.

.


"Jadi begitu ya?" kata Samui, janda tanpa anak yang duduk di balik etalase. Ia sedang menggores-goreskan pulpennya ke kertas waktu menanggapi jawabanku. Aku meliriknya, tanpa sengaja ku lihat belahan dadanya yang wah itu dan menelan ludah. Segera kupalingkan pandanganku dari buah-buahan yang mendebarkan itu ke arah ponsel baruku ini. Aku menarik napas, lalu menghembuskannya dengan lega. Sudah seminggu ini aku mengenalnya. Dia tidak terlalu banyak bicara. Tetapi ngobrol dengannya sama sekali tidak membosankan. Justru menyenangkan, meski lebih banyak menjawab dengan kata singkat, namun begitulah kira-kira tiap kali dia menjawab, kedengarannya dia sama sekali tak mengakhiri topik pembicaraan.

"Begitulah, Nona. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan ada di sini." kataku setengah merenung. "mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin setahun."

Tiba-tiba dia bangkit, gerakannya itu menarik perhatianku. Aku segera berpaling lagi padanya.
"Mungkin saja," katanya. "dalam jangka waktu yang lebih lama. Misalnya sampai tua..."

"Ya, dan terus melihat perempuan cantik tiap harinya."

Aku berpikir. Alangkah indahnya mata birunya itu. Di balik wajahnya yang agak kaku itu, aku melihat suatu ketenangan pada matanya. Menarik sekali. Lima detik lamanya aku terpaku pada mata itu. Lalu si empunya biru aquamarine itu berkedip dua kali.

"Apa?" tanyanya.
Aku tersentak. Dengan cepat ku alihkan pandanganku ke objek yang ada dibelakangnya. "Apanya yang apa?" tanyaku tak mengerti seraya memandang matanya lagi.
Pipinya sedikit memerah seketika itu juga. "Bukan apa-apa. Lupakan saja." katanya cepat-cepat.

Aku berusaha mencari-cari bahan basa-basi yang baru. Saat kutemukan, aku langsung mengutarakannya, "Sudah berapa lama..." aku berhenti, tidak tahu harus menyebutnya 'Anda' atau 'mbak' ataukah menyebutkan namanya. Sebab ke tiga-tiganya benar-benar tidak enak untuk diucapkan. Sejujurnya sudah seminggu ini aku agak kesulitan dengan 3 kata itu. Dia menunggu. Ah, sebaiknya ku hilangkan saja kata-kata itu.
"Sudah berapa lama tinggal di sini?" tanyaku.

"Siapa?"

Aku ragu sebentar. "Anda."

Dia mengernyitkan alis sambil menatapku lekat-lekat, seperti sedang bingung akan kata yang kuucapkan sebelumnya. "Caramu mengucapkan itu kedengaran aneh sekali."

"Oh ya? Memangnya kenapa?" tanyaku gugup.

"Panggil saja, Samui atau kamu atau apa sajalah, asal jangan yang satu itu. Rasanya aneh sekali mendengarnya." dia mengernyitkan hidungnya memandangku.

"Bagaimana kalau Nona saja. Rasanya itu cocok."

"Aku sudah bukan gadis lagi. Dan kurasa panggilan seperti itu hanya cocok untuk gadis-gadis dari kalangan atas."

"Tapi Nona anggun dan cantik. Kurasa cocok sekali. Lagi pula bukan hanya gadis kalangan atas saja yang mendapat panggilan-panggilan seperti itu."

Kulihat pipinya bertambah merah. Hal mana membuat ia jadi tampak semakin menggoda. "Jangan mengada-ada," ujarnya setengah membentak. Aku mengamatinya, dia bersikap gugup dan tangannya bergerak-gerak gelisah. Aneh, pikirku. Ada apa dengannya? Semua pikiran itu buyar ketika seorang gadis berdiri di depanku. Aku melihat ke arahnya. Ah, tentu saja, aku mengenal gadis itu―gadis menyebalkan yang menuduhku akan berbuat asusila padanya, pada saat malam yang mengenaskan itu. Waktu itu gusar sekali aku mendengar ocehannya. Tapi untunglah, aku bisa menjelaskan duduk perkaranya, meski dengan sedikit marah-marah, dan aku bisa bebas dari jeruji yang sedang menantiku. Walaupun kejadian itu sudah lama berselang, aku tak pernah mendapat permohonan maaf dari gadis dungu ini. Aku mendengus, berpaling lagi pada Nona Samui, menikmati lagi wajah kakunya itu.

"Beli pulsa." kata gadis itu.

"Berapa?"

"Lima puluh ribu."

"Oh, sebentar."

"Bisa sekalian isi lagu?"

"Bisa." Nona Samui mengangguk dan segera bangkit, tapi gerakannya terlalu cepat, terkesan terburu-buru sehingga menjatuhkan pulpennya.
"Aduh! Aku ceroboh sekali." serunya pada diri sendiri dan akan membungkuk.

"Iya, ceroboh." sindirku. Dia memandangku dengan cemberut, lalu cepat-cepat membungkuk. Darahku jadi agak terasa panas saat ku lihat bulatnya pantat janda ini. Kurasakan wajahku jadi panas. Dadaku pun mulai berdebar. Aku segera berpaling pada ponselku, sebelum ada yang melihatku sedang memandang lekuk pantat dan paha yang indah itu. Dasar goblok! Kataku dalam hati.
Mereka bercakap-cakap sebentar. Setelah itu, gadis itu duduk sambil mengetuk-etuk kaca etalase dengan jari tangannya. Selama entah berapa lama keadaan berubah canggung. Beberapa kali aku harus mengangkat pandanganku untuk melihat gadis itu. Bukan tanpa sebab, tapi karna dia terus saja merapikan rambut dan pakaiannya, mau tak mau hal itu menarik perhatianku! Dan untuk kesekian kalinya, pandanganku ikut bolak-balik dari ponselku dan ke arahnya. Itu menjengkelkan. Tunggu dulu! Jaket yang dikenakannya serupa betul dengan jaketku yang hilang kemarin-kemarin. Darimana dia mendapatkan jaket itu?!

Untuk satu menit lamanya aku menatapnya dengan curiga. Tepat setelah semenit itu berakhir dia melirikku melalui sudut matanya. Ya, ampun besar sekali bola matanya itu. Matanya pun mengerjap sebelum akhirnya wajah kami berhadap-hadapan. Dan kami melongo. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya kualami, soalnya aku malah jadi kelihatan seperti orang bodoh.

"Ada apa?" tanyanya tiba-tiba.

Aku terkesiap. Mataku berkedip-kedip. Aku berpaling darinya dengan malu pada Nona Samui. Celakanya, pandanganku malah berhenti pada ujung susunya itu. Aku berjengit. "Bukan apa-apa. Maaf." sahutku agak jengkel. Ada jeda beberapa detik setelah itu.

Dia bertanya lagi, "Kau tinggal di sini ya?"

Aku melihat lagi padanya dan mengangguk. "Iya." kataku berusaha terdengar tenang.

Dia berkata, "Baru? Soalnya aku tidak pernah melihatmu sebelum ini."

"Ya, aku baru di sini. Baru beberapa minggu..." aku sengaja berhenti dan mulai ragu untuk melanjutkan.

"Sebelum ini kau tinggal dimana?" tanyanya. "apa di Konoha?"

Tebakannya benar. "Dari mana kau tahu?"

"Hanya tebakan saja. Soalnya logat bicaramu terdengar seperti orang Konoha." jawabnya dengan tenang. Anehnya, aku malah bertambah curiga padanya.

"Apa kau pernah tinggal di Konoha sebelumnya?" tanyaku penuh selidik. Dia sudah akan menjawab pertanyaanku, tapi Nona Samui lebih dulu menengahi.

"Mau isi lagu apa saja, Hinata?" tanyanya. Entah cuma pikiranku saja, ataukah suara Nona Samui memang kedengaran lain? Hinata cepat-cepat menengok. Dia menyebutkan beberapa nama-nama band terkenal. Dan Nona Samui kembali sibuk dengan komputer itu.

Kami semua terdiam dalam keadaan canggung. Suasananya jadi agak... Bagaimana ya menyebutnya? Aneh kurasa. Soalnya Nona Samui terus saja mengetuk mousenya dengan tak sabaran.

"Tunggu sebentar." kata Nona Samui.
Hinata mengangguk. "Lama juga tidak apa-apa." sahutnya. Obrolan kembali sepi. Aku menyibukkan diri lagi dengan ponselku, menggeser-geser ke atas berulang kali sambil memperhatikan status-status di beranda facebookku.

"Kau sedang apa?" cewek itu bertanya tiba-tiba, memecah sepi yang melanda. Ampun deh. Kepo banget ini cewek. Kayak wartawan aja.

"Facebook." jawabku singkat.

"Oww... Apa nicknya?"

Wait. Untuk apa dia bertanya? Mengapa dia ingin tahu sekali? Bukan artinya aku menolak untuk menjawabnya, karna bagaimana pun juga aku senang ada cewek cakep yang nanya tentang akun facebookku, meski aku yakin dia cuma sekadar ingin tahu doang, tapi sebelumnya aku harus tahu dulu alasannya. Ya, aku agak ragu untuk menanyakan apa alasannya, sebab kami bukan teman akrab. Menanyakan hal semacam itu pada orang yang tak kita kenal benar-benar tidak sopan menurutku.

"Uzumakiboys nama akunku."

Dia mengernyitkan dahinya dan menatapku seakan aku ini orang aneh. Dia mengejekku.

"Bagus. Namanya bagus." katanya sambil menahan tawa. Aku merasa tersinggung. Apa yang salah sih? Tapi aku membiarkannya begitu saja.

"O ya," cewek itu membuka suara lagi. "boleh ku tahu namamu?"

"Untuk apa?"

"Supaya aku tidak memanggilmu Bessie, atau Slamet dan nama jelek semacam itu saat kita bertemu lagi nanti."

Aku mulai membayangkan aku dipanggil dengan nama-nama itu, rasanya kok biasa saja―tidak ada rasa minder atau yang semacam itu.

"Sesukamu sajalah. Asal kau jangan memanggilku dengan nama-nama binatang..."

Dia tampak berpikir. Diam sebentar sambil mengerjapkan matanya. Saat ia telah selesai dengan apa pun itu yang dipikirkannya, ia lalu berkata, "Tapi 'kan aku lebih suka memanggil orang dengan nama aslinya. Bukan dengan nama-nama panggilan jelek itu. Itu tidak sopan."

"Sopan?" tanyaku tak senang. "menuduhku berbuat asusila padamu itu termasuk kesopanan, bukan?"

"Itu adalah histeria perempuan asal kau tahu. Lagi pula kau saat itu juga ikut lari mengejarku. Aku tak punya alasan lain selain menuduhmu akan berbuat yang tidak-tidak padaku."

"Kau juga lari duluan tanpa sebab yang jelas. Ya jelas aku panik dan ikut lari."

"Tapi kau berjalan dibelakangku―"

"Banyak orang berjalan di belakang gadis-gadis, dan mereka biasa saja selama ini. Aku juga melakukan itu selama bertahun-tahun, dan baru kali itu aku mengalami kejadian menyialkan itu." selaku dengan marah. Barangkali suara marahku mengenai tepat pada sasarannya, karna pada saat itu wajahnya berubah kaku, dan penuh dengan kepongahan. Aku senang melihatnya seperti itu. Aku pun tersenyum, lebih menekankan ekspresi mengejek padanya.

Kemudian dia berkata, suaranya berubah. "Aku cuma tanya nama. Tapi kau mengungkit-ungkit kejadian itu lagi. Padahal itu cuma salah paham."

Salah paham katanya. Enteng banget dia bicara. Gara-gara salah paham itu, hampir selama tiga hari selangkanganku terasa nyeri. Dan aku tak bisa duduk dengan enak! Aku menimpali, "Ada yang disebut dengan akibat suatu perbuatan. Dan karna salah paham itu, yang menanggung akibatnya adalah aku. Sela...," aku berhenti tiba-tiba, karna aku tak enak menyebut selangkangan di depan perempuan mana pun. Itu membuatku malu. Aku menarik napas dan melanjutkan. "di dunia ini, Nona manis, orang salah biasa meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat."

Dia mendesah berat, dan menatapku dengan kesal. "Jadi kau mau mengatakan namamu atau tidak?"

"Tidak." tolakku.

Wajahnya pun berubah merah. Kupikir dia marah. "Sombong, dan menyebalkan," katanya dengan kasar. "kukira kau orang baik, tapi nyatanya kau laki-laki sombong pendendam dan banyak gaya."

Mendengar kata-katanya yang tajam itu, dadaku menjadi panas, dan seluruh darahku naik ke otakku. Aku sudah siap membentaknya, menyemprotnya dengan kata-kata balasan. Tapi aku malah berdiam diri, lalu berpaling darinya dengan kesal. Kurasa bisa kudengar bunyi gemeletuk rahangku.

"Sudah selesai." kata Nona Samui menengahi. Aku tidak memperhatikan apa yang terjadi selanjutnya, sebab pada saat itu aku berharap gadis itu lekas pergi saja supaya perasaanku bisa tenang.

Setelah membayar dia pun pergi. Tapi sebelum pergi, dia mengataiku. Katanya, "Padahal cuma nanya nama doang, tapi rumit banget orangnya. Dasar bawel. Kalau nggak mau, bilang aja nggak dari awal. Tak perlu ngajak berbelit-belit gitu!"

Nyaliku langsung ciut mendengar sindirannya. Masak aku sebawel itu sih? Aku menjadi malu sendiri, dan merasa bersalah setelah mengulang-ulang percakapan kami tadi. Gak nyambung banget tanggapanku tadi... Aku diam saja menatap kepergiannya sampai bayangan tubuhnya menjadi sekecil kelereng. Aku membuang napas dengan lega sambil menatap Nona Samui lagi. Nona Samui bangkit sesudah memberesi uang cewek itu, kemudian dia duduk di balik etalase lagi.

"Rupanya kau judes juga ya, jadi orang? Padahal Hinata itu cakep lho." katanya yang kutanggapi sebagai sebuah celaan.

Aku melihatnya tak senang dan berkata tanpa sadar. "Kau juga cantik 'kan? Bahkan lekuk tubuhmu lebih bagus dari cewek itu. Aku suka matamu, warnanya biru dan indah. Bisa kukatakan kau ini cantik sekali..." aku berhenti tiba-tiba dan menyadari sesuatu. Sekonyong-konyong wajahku jadi panas sekali. Aku segera berpaling darinya ke arah ponselku dengan gugup. Sialan! Aku malah kelepasan. Entah bagaimana dia menanggapinya, kurang ajar atau terlalu berani. Kuharap dia tak terlalu mempedulikannya. Untung saja aku juga tidak menyebut tentang dadanya yang montok itu.

Beberapa kali aku mencuri-curi lihat padanya. Dia masih menatap tajam tepat padaku. Dan dia terus menerus melakukan itu selama semenit. Aku jadi makin gugup gara-gara tatapannya itu, hingga aku sendiri pun tidak fokus dengan apa yang sedang kulakukan. Tanganku gemetaran. Pokoknya aku hanya menggeser-geser layar ponselku sembarangan saja.

"Sudahlah." katanya setelah itu. Dan aku menghela napas dengan berat karna dia tak mengungkit-ungkit soal ucapanku tadi. "Apa sikapmu selalu sejudes itu jika gadis-gadis ingin berkenalan denganmu?" tanyanya menambahkan.

"Tidak juga," aku menggaruk-garuk pelipisku yang gatal. "buktinya aku tidak judes dengan nona sendiri."

"Oo... Pasti teman perempuanmu tidak banyak." ia menyimpulkan.

Aku mendongak, bertanya-tanya berapa banyak teman gadisku selama ini? Aku mulai menghitung-hitung. Rasanya cuma Hanabi saja. "Satu," kataku ragu, lalu aku teringat Karin. "eh, tidak. Dua," kemudian aku teringat ibuku. Aku mengoreksi lagi, "salah. Tiga." dan itu pun juga salah. Karna ada bibiku. "eh, empat kurasa. Dengan nona sendiri jadi lima. Iya, lima. Aku yakin. O ya lupa, kakakku juga satu, jadinya enam."

"Yang empatnya siapa?"

"Eumm... Mantanku, lalu sepupu perempuanku, bibiku, dan ibuku."

"Jadi kau cuma kenal dua orang gadis saja?"

"Aku 'kan bilang enam tadi."

Dia menatapku dengan malas. "Keluargamu tidak masuk hitungan."

"Tapi mereka juga perempuan 'kan?"

"Maksudku bukan yang punya hubungan darah denganmu."

Dia marah kayaknya. Mengalah saja deh. Aku berkata, "Pokoknya itu saja yang kuingat."

"Pantas saja." sahutnya dengan ketus.

"Pantas kenapa?"

"Pantas saja sedikit sekali teman gadismu."

Aku mengangkat bahu. "Bukan masalah besar. Bagiku biasa saja. Punya teman gadis banyak atau pun sedikit."

Kami bercakap-cakap beberapa waktu lamanya sampai kakakku membuka tokonya. Aku pun sibuk membantunya menyiapkan segala sesuatunya. Ryuzetsu terus menempel padaku seperti perangko. Jadi kakakku menyuruhku untuk mengajaknya bermain, dan memberi uang jajan Ryuzetsu. Kami―maksudku aku dan Ryuzetsu―pun bergegas berjalan-jalan ke arah kanan―selatan, menyusuri sisi jalanan aspal ini. Kebetulan di pagi menjelang siang itu udaranya tak terlalu panas. Angin sepoi-sepoi tak sudah-sudahnya berhembus menyapa kami. Tak kusangka Ryuzetsu malah mengajakku ke sebuah daerah lapang berumput dan berbunga-bunga yang ada dikiri jalan. Sudah berapa lama aku berjalan kira-kira? 1 kilo? Aku menengok ke belakang. Tak kelihatan lagi toko kakakku. Aku berpaling lagi ke tempat yang kami tuju sekarang. Itu taman bukan? Indah sekali rupanya. Apalagi dengan latar belakang gunung itu dan pohon-pohon yang mengelilinginya. Entah mengapa aku malah merasa mengingatkanku pada sesuatu. Dan itu membuatku sedih. Melihat sebuah keindahan model begini mengingatkanku pada Hanabi. Karena Hanabi adalah pelengkap keindahan. Jadi mau tak mau bila menyangkut keindahan, bayangannya pun ikut menghampiri benakku. Aku mendesah berat.

"Paman," aku menengok Rzuyetsu. "beliin es krim. Beliin es krim."

"Di mana?" tanyaku. Dia menunjuk sebuah kedai sederhana puluhan meter di tepi taman ini―pada awalnya aku mengira itu adalah wc, tapi ternyata bukan. Abis norak banget penampilannya, kayak asu. Asu!

Kami pun duduk di kedai itu. Ryuzetsu menyanyi-nyanyi kegirangan. Aku malah gemas melihat tingkahnya itu. Ku jewer saja pipinya itu.

"Aaahh...," dia merengut. "sakiiit pamaan." rengeknya. Tapi aku malah ketagihan dan sekarang menjewer hidungnya.

"Udaaah, paman, sakiiit..." rengeknya.

"Keponakan paman bikin gemes," kataku gregetan. "salah siapa coba?"

"Ga tau..." ujarnya dengan cemberut. Seorang pelayan melayani kami. Dia mengucapkan kata-kata sambutan yang ramah, kemudian menyodorkan daftar menu pada kami. Ku pikir suaranya romantis. Dia adalah cewek berambut coklat sebahu. Berwajah manis dengan bola mata hitam yang menarik. Untuk beberapa waktu lamanya, aku terpana kayak orang goblok. Untungnya, Ryuzetsu segera menyadarkanku.

Aku melihat-lihat daftar menu itu bersama Ryuzetsu. Ryuzetsu langsung menunjuk gambar es krim yang berada pojok kanan bawah. Ternyata harganya murah-murah.

"Yang ini tiga, mbak." kataku sambil menunjuk es krim di pojok, kemudian mengamati nama-nama dan gambar-gambar di tanganku lagi. Lalu nasi goreng dan mie ramen jumbo itu menarik minatku. Aku menambahkan, "Mie Ramennya satu, dan nasi goreng satu. Udah. Cuma itu aja."

Dia tersenyum. Manis sekali rupanya. Aku menatapnya sambil melongo. Lalu ia pun pamit dengan tergesa-gesa. Siapa ya namanya? Aku menggelengkan kepala. Mengapa aku jadi gila pada gadis-gadis ya sekarang? Apakah aku telah terpengaruh kata-kata Nona Samui tadi. Pasti iya. Aku merenung, sambil menunggu pesanan kami datang. Setelah pelayan itu datang, aku masih termangu-mangu di tempatku duduk. Dengan gerak reflek pandangan mataku menangkap sosok tubuh gadis mendekati kami. Dan aku kembali melamun seperti orang yang sedang bermimpi. Tidak, tidak benar-benar seperti itu, lebih mirip berhalusinasi―tepatnya kita seolah jadi penonton, lalu kita begitu tenggelam dalam tontonan kita itu. Bagaimana pun juga di dalam mimpi pun kita juga melakukan sesuatu.

Alangkah cantiknya gadis itu! Bagaikan malaikat saja. Gadis itu mengantarkan makanan kami dibarengi senyum manisnya. Lalu ia bertanya, 'Adakah yang kami perlukan lagi?' tapi aku malah berkedip-kedip. Kurasa aku mabuk, tapi ia amat menawan... Ia jadi mengingatkanku akan sebuah film membosankan yang kutonton sewaktu aku kecil. Sayangnya, film itu jadi menarik sebab gadis yang berperan jadi pelayan di film itu teramat cantik. Satu-satunya bagian menariknya dari film itu, dan sayangnya adegan itu hanya terjadi tidak sampai semenit.

Selanjutnya dia memandangi tubuhnya sambil mengernyitkan dahi, tapi kemudian dia menatapku lagi untuk sesaat. Tiba-tiba ia berubah jadi curiga dan mundur selangkah seakan-akan takut padaku. Pasti ia mengira yang tidak-tidak dengan sikapku ini. Tapi aku benar-benar setengah dari kesadaranku―tak berdaya.

Ryuzetsu mengembalikan kesadaranku dengan cara menjewer telingaku. Aku pun tersentak kaget, dan kembali terjaga. Apa yang barusan terjadi padaku? Aku bertanya-tanya, mataku berkedip-kedip sambil kucubit pipiku. Ternyata aku tidak mimpi. Apa itu tadi? Aku menengok ke tempat gadis itu. Ternyata dia telah menghilang di balik pintu di sudut.

**KYTBKG**

Tak perlu banyak yang kukomentari tentang hari ini, tapi aku cukup senang juga. Saat ini pukul sepuluh malam, dan aku sedang membantu Nona Samui memberesi konter ini. Bagian asyiknya adalah beberapa kali badan kami berdekatan, dekat sekali sampai aku merasakan ada sesuatu yang melunjak-lunjak di dalam dadaku. Entah apakah dia juga merasa begitu, kurasa tidak. Dia kelihatan biasa-biasa saja, bahkan mungkin kelihatan letih, dan tentunya amat sibuk begini-begitu. Wajahnya pun jadi kelihatan sensual dengan keringat-keringat itu.

"Biar aku saja." aku menawarkan diri tatkala ia akan menutup pintu rolling itu.

"Oh, makasih," dia tersenyum. "aku tutup yang satunya saja."

Aku menyela. "Sudah biarkan saja. Nona pulang saja. Aku saja yang menutupnya nanti."

"Tidak," tolaknya sambil mengerutkan dahi. "biar aku saja. Ini sudah tugasku sebagai pegawai."

"Aku kan hanya membantu meringankan, Non. Nona sudah letih seharian bekerja 'kan?"

Mendengar jawabanku, ia terdiam cukup lama sambil menatapku lekat-lekat. "Aku jadi curiga..." ujarnya akhirnya. Apa pula yang dipikirkannya?

"Kenapa?"

"Kau sengaja melakukan ini supaya aku jadi kelihatan payah di mata bosku 'kan? Apa kau sedang mengincar pekerjaanku?" tuduhnya.

Aku mendesah berat, kemudian melepaskan peganganku pada pintu rolling. "Pikiran macam apa itu? Aku 'kan cuma menawarkan diri untuk membantu. Masak tanggapannya begitu?" aku menyingkir dari pintu rolling. "kalau mau melakukannya sendiri silahkan saja. Aku juga tidak keberatan."

Dia kemudian berjalan menghampiri pintu itu tanpa berkata apa-apa. Tatkala ia memegang bagian bawah pintu rolling itu, dengan sigap aku langsung melakukan hal yang sama dengannya. Dia melihatku tak senang. "Kalau kau tak mau kelihatan payah, sebaiknya kita lakukan saja berdua. Soalnya tidur dengan rasa iba yang tak tersalurkan itu mengganggu."

Dia tak menjawab celotehanku, malah mendengus, lalu menatapku sinis. Kami memegangi pintu rolling itu bareng-bareng. Aku sengaja merapatkan jarak kami, karna dadaku yang melunjak-lunjak ini terus menuntutku melakukan itu. Malah mungkin menginginkan lebih dari sekadar berdekatan... seperti merangkulnya.

Aku menatapnya sebentar. Dan tercetus sebuah keinginan untuk tak membiarkan dia mengeluarkan tenaganya barang sedikit pun. Jadi kutarik pintu itu ke bawah sekuat tenaga, tapi akhirnya sebuah kecelakaan ringan terjadi. Bagaimana tepatnya yang terjadi, terlalu panjang untuk dijelaskan. Pokoknya apa yang kulakukan itu malah membuat jarinya terkilir.

"Aduh!" katanya sambil mengibaskan telapak tangannya keras-keras, lalu langsung menghisap jari telunjuknya.

Aku mendadak berhenti sambil mengamat-amatinya, dan mendekatinya. "Maaf-maaf, maafkan aku. Aku terlalu bersemangat..."

Dia mendesis. Wajahnya meringis menahan sakit. "Ceroboh. Seharusnya kau lihat dulu keadaanku sudah siap apa tidak."

"Iya, maaf. Gak sengaja, Non."

Nona Samui berdecak. Ia masih sibuk dengan sakitnya. Matanya melotot kesal, tapi tak mau bertemu pandang denganku. "Coba kulihat." aku merasa bersalah, juga kuatir dengan sakitnya itu.

"Tidak usah!" tolaknya dengan suara berat. Matanya yang tajam itu menatap lurus-lurus ke arah mataku. Dia jengkel atau sedang benci 'kah? Aku berpaling pada jarinya dan langsung memegang pergelangan tangannya.

"Sudah, sini. Biar kulihat. Jangan bawel." aku memaksa sambil kupegangi tangannya kuat-kuat. Dia mengeluarkan suar terkejut seperti 'Eh!'. Kutatap lekat-lekat jari telunjuknya selama beberapa saat. Dalam jarak sedekat itu deru napasnya yang tersengal-sengal terdengar begitu jelas. Ada secuil darah diujung jarinya. "Berdarah." kataku makin kuatir. Lalu kutiup-tiup jarinya dengan pelan. "Kau harus mengobatinya." kataku lagi tanpa sadar

Tak ada jawaban. Namun aku tak terlalu peduli, sebab aku sedang fokus pada jari telunjuknya. Selama beberapa saat keadaan menjadi begitu hening, juga deru napas tak beraturannya sudah tak terdengar lagi, sementara aku terus saja meniup jarinya. Ketika aku merasa ìa sudah agak baikan, aku mengangkat pandanganku ke padanya. Tak ada lagi rasa sakit yang terpancar di wajahnya, tak ada lagi mata tajam dengan ekspresi kesal itu. Terkesan seperti tatapan bengong tanpa arti. Untuk lima detik berikutnya kami melongo seperti orang yang kehilangan kesadaran.

"Tanganmu sudah merasa baikan 'kan?" tanyaku. Ia langsung terkejut, kemudian menarik tangannya begitu kuat sampai aku juga ikut kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba itu.

"Aku baik-baik saja," sahutnya sambil berpaling dariku. Ada kesan aneh yang ku dapat dari suaranya itu. "lebih baik aku pulang saja." tambahnya. Ia melenggang pergi begitu saja meninggalkanku sendirian. Aku mengamat-amati kepergiannya seraya mengernyit keheranan. Ada apa dengannya? Tak tahu aku. Padahal yang tadi menyenangkan. Terserahlah. Aku menutup pintu rolling itu, dan menggemboknya. Aku menyegerakan diri untuk pulang. Dingin sekali rasanya sekarang. Tadi 'kan hangat-hangat saja.

Setelah masuk ke dalam kamar, aku menghempaskan diri di atas kasur. Ku keluarkan ponselku, dan mulai bergentayangan di media sosial Facebook. Pada saat itu aku teringat akan foto-fotoku bersama Ryuzetsu sewaktu di kedai. Langsung saja ku unggah semuanya itu. Tak berapa lama kemudian postingan itu kebanjiran like, pemberitahuan bagikan, dan komentar yang banyak. Kebanyakannya cuma mengomentari tentang betapa imutnya keponakanku itu. Habis, mukanya yang coreng-moreng gara-gara es krim itu membuatnya tampak makin lucu. Masak nggak ada yang mengomentari fotoku yang juga ada di situ sih? Aswlole.

Tiba-tiba harapanku terkabulkan. Akun Violetgirl itu langsung nongol di komentar terbawah.

Violetgirl
Kamu lagi ada di mana tuh?

Jadi dari sekian banyak komentar yang masuk, cuma komentarnya saja yang paling menarik.

Uzumakiboys
Lagi ada dikedai, Non. Makan es krim bareng keponakan.

Violetgirl
Enak nggak es krimnya?

Uzumakiboys
Enak dong. Bikin segar...

Violetgirl
Boleh dong traktirannya...

Uzumakiboys
Boleh. Datang aja ke sini, di Suna. Ntar aku traktir sepuasnya. Apa mau disuapin juga?

Violetgirl
Jauhnya... Kirain deket...

Uzumakiboys
Emang km darimana?

Violetgirl
Konoha

Uzumakiboys
Jah... :v kirain dari Suna juga...

Jadi begitulah percakapan itu berlangsung, percakapan yang panjang sampai akhirnya dia menyerah. Dia pun pamit tidur padaku. Sedetik kemudian ada permintaan pertemanan yang muncul. Aku pun memeriksanya. Akun Anonim kayaknya. Tak ada fotonya. Cuma gambar gender laki-laki aja. Nicknya Cowok Nakal. Seperti biasanya, aku segera mengkonfirmasinya. Belum ada semenit, sebuah pesan muncul di Pesan Masukku.

Cowok Nakal
Dasar cowok resek!

Aku mengerutkan dahi. Apa maksudnya? Siapa sih? Aku mengintip kronologinya, tapi tak ada apa pun di situ. Akun baru ya?

Uzumakiboys
Resek ndasmu -_-

Cowok Nakal
Sok banget lu jadi cowok! Udah tampang pas-pasan, belagu lagi. Nyadar dong. Pake cermin biar lu gak banyak lagu!

Mataku langsung melotot selesai membaca komentarnya. Apa-apaan ini orang?! Ngajak gelud kayaknya.

Uzumakiboys
Asu! Diem lu bawel. Cowok kok bawel amet.

Kemudian aku tak mengacuhkan lagi semua pesan-pesannya. Ada sepuluh, tapi pada akhirnya aku membalasnya juga.

Uzumakiboys
Mampos lo goblok! :v :v

Udah begitu saja. Aku pun keluar dari aplikasi dan tidur. Malam itu aku bermimpi terbangun di tempat yang tak ku kenali. Tapi yang jelas, itu adalah hutan―dengan pohon-pohon yang tegak menjulang seperti menara. Tempat itu sunyi sekali, bahkan tak ada siapa-siapa kecuali diriku. Waktu itu aku sedang berjalan pada sebuah jalan setapak yang menanjak dari tanah lembab itu―tentu saja ditutupi daun-daun kering yang berserakan. Aku merasa amat letih, dan juga ada sesuatu dalam dadaku yang terasa begitu kosong.

Aku terus melangkah maju, sesekali memandang tanpa semangat ke arah puncak jalan setapak itu. Yang kulihat hanya pohon-pohon dengan kabut tebal itu. Entah berapa lama aku telah berjalan, rasanya telah beratus-ratus langkah, tapi aku tak jua sampai ke tempat akhir itu, seakan-akan tempat itu kian menjauhkan diri dariku. Lalu sang surya mulai tergelincir pelan-pelan, malam pun tiba... Dan kabut pun menebal. Namun angin berhembus menyapu kabut tebal itu dengan lembut, menyibakkan suatu pemandangan yang bertolak belakang dari yang tadi. Dan gemintang pun membentuk cahaya berlian yang indah menghias langit kelam itu―bersama sang rembulan. Perjalanan itu terasa makin berat dan menyedihkan. Aku benar-benar merasa amat kesepian. Begitu sepi... tak seorang pun, hanya aku saja... keadaan itu mengguncang hebat perasaanku. Kemudian sekonyong-konyong aku menangis tanpa suara.

Aku mengangkat pandanganku lagi ke arah puncak akhir itu, dan tertegun. Di sana aku melihat seorang gadis bergaun putih, sedang duduk menyampingiku. Tiba-tiba wajahnya menoleh tepat menghadap padaku. Kurasa itu adalah Hanabi. Amat mirip dan cantik sekali penampilannya.

Sekonyong-konyong gadis itu pun bangkit berdiri. Ia menghampiriku dengan langkah-langkah tergesa-gesa. Kian ia dekat denganku, makin jelas ku lihat bahwa ia memang Hanabi. Dalam sekejap kekosongan hatiku pun terisi. Semua rasa kesepian itu pun sirna. Aku merasakan ada suatu kehangatan yang mengalir lembut ke dalam diriku. Ia berhenti tepat di hadapanku. Betapa cantiknya ia dalam balutan cahaya rembulan itu! Aku memandangnya wajahnya tampak sendu itu. Dan matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menangis dengan sedih. Tetapi aku malah tersenyum lembut melihat keadaannya.

Dia berkata, "Kau telah kembali. Kau telah kembali padaku!" ia terisak dengan nyaring, lalu ia memelukku. "Aku merindukanmu, tolol..."

Ya. Aku telah kembali dari perjalanan panjang yang meletihkan, ke tempat tinggalku yang hangat, untuk beristirahat... Aku pun memeluknya, mencium puncak kepalanya, sambil ku usap-usap rambutnya yang hitam itu. "Ya, sayang, aku telah pulang. Perjalanan telah berakhir..." aku memeluknya makin erat. Kemudian mimpi itu pun memudar.

Hal pertama yang kusadari ketika baru bangun itu adalah kelopak mataku telah basah oleh air mataku. Perasaan indah itu masih menyertaiku. Namun kini bercampur getir yang terasa pedih menyiksa perasaanku, sedang pikiranku kembali terngiang-ngiang pada adegan sesaat yang amat membekas tersebut. Dan entah mengapa aku merindukan gadis itu! Namun ia tak ada di dekatku untuk mengobati rasa rinduku ini... Untuk apa aku harus merindukan gadis itu lagi?! Sekonyong-konyong air mataku mengalir pelan-pelan. Aku menegakkan punggungku, terduduk di dalam remang-remang dalam kamarku bersama sunyi ini. Aku berpaling pada jendela kamarku, yang saat itu menampilkan samar-samar gambar langit yang kelam di luar sana. Persis seperti yang ku saksikan dalam mimpiku. Dan rasa rindu itu pun kian membuncah. Beberapa waktu lamanya aku termenung sambil mengingat-ingat lagi mimpi itu. Ketika matanya yang indah berkaca-kaca, dan ekspresi sendu itu, serta suaranya yang terisak-isak di dadaku.

"Kau telah kembali. Kau telah kembali padaku! Aku merindukanmu, tolol..."

"Ya, sayang, aku telah pulang. Perjalanan terakhir..."

Dalam sekejap terbentang lagi keseluruhan kisahku dengan gadis itu di benakku. Tapi kisah itu tak lagi seindah dari yang terakhir kali kurasakan. Karena sekarang kenangan itu menjadi semacam duri dalam perasaanku. TBC


Oke sekian dolo yaaaa