Naruto : Milik Om Masashi Kisimoto

.

.

.


Aku duduk dan menegakkan punggungku. Sejak tadi malam, aku tak bisa tidur. Dadaku terasa perih. Aku menghabiskan waktu empat jam dengan tercenung gara-gara mimpi bodoh itu. Sekarang, aku tak punya gairah untuk menyambut pagi ini.

Aku masih termangu-mangu dikamarku, mendengar suara kokok ayam nyaring itu. Aku tak punya gagasan apa pun selain mandi~barangkali juga memberi tambahan tinju beberapa kali untuk tembok yang dilapisi keramik? Itu gagasan yang lumayan bagus. Aku benar-benar melakukannya~maksudku aku masuk kamar mandi, menyalakan keran, lalu meninju dengan muak.

Seharusnya suara kucuran air yang deras itu sudah bisa meredam jduagh jduagh di dinding. Nyatanya tidak. Dua puluh pukulan berikutnya pintu kamar mandi langsung digedor-gedor. Baru aku sadar kalau aku meninju dinding yang menyambumg ke kamar kakakku. Untungnya aku belum telanjang bulat. Aku pun membuka pintu. Seraut wajah marah kakakku langsung menyambut pandanganku.

"Lagi ngapain sih?" kakakku bertanya sambil memelototiku. "Pagi-pagi udah bikin ricuh. Ryuzetsu sedang tidur tuh!"

Aku tersenyum kecut. "Lagi maling ayam, Kak," kataku dan berpaling. Aku tak mau memandang wajah kakakku dan tahu kalau hatiku sedang sakit parah. Dia 'kan suka mengejekku. Jadi bercerita padanya bukanlah pilihan yang bijak.

Dia terus memandangiku tanpa bicara selama beberapa waktu dan membuatku risih. Aku membuang napas. "Maaf, deh, Kak. Aku lupa tadi kalau itu adalah tembok kamar Kakak. Seharusnya aku meninju dinding yang lain. Biasa, lagi latihan," Aku tersenyum lebar-lebar. "Eh, kalau tak ada urusan lagi, Kak, bisa tolong menyingkir? Aku mau tutup pintu nih."

Dia mendesah berat. Tapi mata birunya terus mengamatiku. "Baiklah. Lain kali jangan lakukan itu lagi," ujar kakakku mengingatkan.

"Ya," sahutku singkat. Lalu kututup pintu itu dengan hati-hati. Aku mendesah lega, mulai mengguyur tubuhku dengan air. Airnya dingin. Dinginnya seakan menusuk-nusuk hatiku. Rasanya sakit sekali seperti teriris. Mataku juga perih. Aku berkedip, serta merta air mataku berlinang lembut.

Sepuluh menit berikutnya aku telah selesai. Aku masuk ke kamarku, menutup pintu, lalu berdiri di belakang pintu sambil menyeka-nyeka air mataku yang meleleh. Padahal telah sebulan gadis itu meninggalkanku, tapi sakitnya masih tak jua hilang. Sampai sekarang pun aku belum bisa melupakannya. Pipi merahnya itu. Rambut hitamnya yang indah itu. Juga kelopak mata lavendernya, yang pernah dicoretnya pakai spidol warna hitam. Air mataku pun bercucuran deras ketika kuingat lagi suara nyaringnya waktu dia kesal padaku.

Aku melangkah ke arah kasur, lalu duduk sambil menangis tersedu-sedu selama beberapa waktu. Aku terus melakukan itu semau gue tanpa malu sedikit pun. Entah berapa lama waktu telah lewat, aku tidak tahu. Tapi kemudian aku pun bangkit dengan muak. Untuk apa aku memikirkan cewek pendek itu! Sekali lagi, dia itu cuma gadis pendek! Dia telah pergi. Jadi tak ada urusan lagi. Aku tak butuh gadis itu. Aku bisa bahagia tanpanya!

Aku bangkit berdiri, memelototi semua isi ruangan itu. Dengan enggan kukenakan pakaianku; membuat rencana untuk menyibukkan diri. Berakhirlah aku di konter pulsa kakak iparku, duduk menghadap komputer dengan pandangan berkaca-kaca. Pikiranku mencari pelarian, sementara tanganku bekerja seperti mesin. Aku memikirkan Facebook, maka kubuka Facebook. Aku ingin mendengar musik, maka kuputar Media Player. Tapi sayangnya, lagu yang kupasang malah terdengar amat menyedihkan. Alunannya seakan seperti timah panas yang dituangkan dalam dadaku, dan membuat air mataku berlinang lembut lagi.

Aku mulai merindui Hana; kangen wajah pucatnya yang halus itu; juga rindu wangi tubuhnya...

Perlahan-lahan pikiranku menerawang ke masa lalu~ke hari-hari indah saat kami masih bersama dulu. Ya, semua itu tampak begitu jelas dalam benakku, seolah-olah aku sedang mengalaminya. Secercah perasaan indah pun timbul dalam dadaku. Andai saja aku bisa memeluknya lagi... menciumi lehernya, telinganya, dan wajahnya seperti malam waktu itu; penuh kehangatan yang mengalir lembut dalam darahku... Aku ingat malam itu ketika kami berpelukan erat sekali. Ketika kukurung Hana dalam dekapanku, bahkan saat itu aku bisa merasakan getaran tubuh Hana, dan jari-jari tanganku menyapu punggung Hana, serta tali bra Hana yang sempat kutarik pelan-pelan. Hana meremas rambut belakangku. Kugosokkan wajahku di pipi Hana seperti kucing. Hana menekan pipinya pada wajahku. Lalu kutahan kepalanya, dan kubenamkan hidung beserta bibirku ke pipi Hana. Kami terengah kelelahan. Tapi rasa lelah itu tak ada artinya bagiku bila dibandingkan keindahan yang kurasakan. Malam itu Hanabi seakan-akan jadi milikku.

Aku mengerjapkan mataku. Pipiku telah basah. Pikiranku pun terhenti. Jari-jari tanganku menggantung di atas keyboard. Aku mengamati layar komputer dengan gundah. Tiba-tiba pandanganku terpaku pada baris-baris kalimat puitis yang ada di dalam kolom status. Kata-katanya agak tidak beraturan, jadi kalimatnya seperti tersendat-sendat. Wah, rupanya aku tadi menulis sebuah puisi amatiran. Aku mengamatinya lagi. Dan memutuskan menghapusnya. Kosakatanya terlalu lebay. Jadi diganti saja.

Uzumakiboys
Aku benci gadis itu! Kenapa harus ada gadis model begitu sih dunia nih?
#edisibukakontertanpakopi

Aku mendengar suara kakakku dan Ryuzetsu dari luar. Aku cepat-cepat menghapus air mata di wajahku. Kakakku muncul dari sebelah kanan bangunan, membawa secangkir kopi susu di tangannya. Dari balik kaca etalase bayangan kepala Ryuzetsu melintas. Kakakku meletakkan kopi susu itu di atas etalase.

"Ini kopi susumu," katanya. Ryuzetsu muncul di kiri etalase sambil membawa piring berisi empat buah donat buatan rumahan. Bocah cilik itu menyerahkan piring itu padaku.

"Nih, buat Paman," kata Ryuzetsu. Aku menerimanya sambil tersenyum, lalu meletakkan piring itu di dekat kopi susu. Sejenak aku melirik kakakku yang saat itu sedang menatapku lekat-lekat seperti sedang menilaiku. Aku pun berpaling pada Ryuzetsu yang saat itu berusaha menaiki pahaku. Aku segera mengangkatnya.

"Kau baik-baik saja 'kan?" kakakku bertanya.

"Tentu saja," jawabku. "memangnya aku kelihatan sakit apa, Kak?"

Kakakku mengerutkan alis. "Hm, tidak ada. Apa kau masih memikirkan gadis itu? Siapa namanya? Hanabi 'kan?"

Aku langsung panik. "Bukan!"

"Alah, jangan bohong. Aku sudah tahu teman gadismu itu dari Ibu. Dia 'kan gadisnya yang kamu mewek-mewekin waktu itu?"

Kurasa aku mulai benci kakak dan ibuku. "Ngarang doank. Jangan sotoy jadi orang," kataku marah sambil menahan malu.
Plugh (Suara pemberitahuan Facebook)

"Oh, akan kulaporkan saja ini pada Ibu. Biar Ibu tahu anaknya ini suka mewek gara-gara ditinggal kawin. Hahaha..."

Plugh

"Lapor aja sana. Bego lu!"

Plugh Plugh

"Apa katamu?!" serunya dengan nyaring.

Plugh plugh plugh

"Udah sono nyuci piring! Dasar emak-emak bawel!"

Plugh plugh plugh

"Pokoknya lihat saja. Akan kulaporkan tingkah mewekmu itu pada Ibu. Biar tahu rasa lu!"

Plugh plugh plugh plugh

"Siapa takut?! Aku juga akan beberkan semua rahasia kakak pada kakak ipar! Biar kakak ipar tahu kalau kakak suka ngompol waktu SMP!"

Kulihat wajah kakakku jadi merah sekali. Bahkan kepalanya sampai beruap. "Coba saja kalau kau berani melakukan itu! Kau akan menyesal!"

"Gak takut weeq..." Aku mengejeknya. Mukanya makin merah pucat. Matanya melotot nyaris keluar. Ryuzetsu tiba-tiba memekik nyaring dan menyerangku. Matanya terbelalak lebar, dengan seraut wajah ungu yang kelihatan lucu.

"Wadaawwww!" Aku berteriak kencang saat Ryuzetsu menggigit dadaku. Rasanya sakit sekali sampai-sampai mataku ikutan perih. Kakakku terbahak-bahak. Aku pun mengangkat Ryuzetsu~susah payah memisahkan giginya dari dadaku. Tapi akhirnya aku pun berhasil menjauhkannya dari dadaku. Ia lalu mengincar tanganku. Maka kugosok-gosokkan wajahku pada perutnya. Ia berteriak-teriak, menjegal dadaku dengan dua kakinya sambil menjambak rambutku kuat sekali sampai membuatku meringis kesakitan, lalu ia menangis dengan nyaring. Kami kelelahan. Kakakku tertawa berderai-derai.

"Mamaaaa!" pekik Ryuzetsu, mencondongkan badan ke kakakku, mendorongku menjauh dengan kakinya. Kalau saja tidak kucengkram ke dua bahunya kuat-kuat, mungkin saja dia akan menghantam lantai dengan kepala atau bahunya dengan bunyi 'DUAGH!' yang bakal membuat kakakku serangan jantung. Kakakku mengambil Ryuzetsu dariku, sementara aku mengaduh-aduh kesakitan. Wajahku terasa perih di beberapa bagian, dan juga kulit kepalaku. Aku meraba-raba wajahku, mendapati luka goresan di bawah mata, di dekat hidung, di tulang pipiku, di dekat telinga dan ke dua pipiku.

Aku segera mengambil ponselku, berkaca pada layarnya, dan melihat wajahku dipenuhi garis-garis merah. Menyeramkan sekali wajahku. Aku menyentuh luka-luka itu yang pelan-pelan mengeluarkan darah, lalu menyapunya dengan telunjukku. Aku mendesis dan berdecak menahan perih seakan menyengat kulitku.

Tak lama kemudian aku pun telah membasuh mukaku dengan air. Rasa perihnya makin menjadi-jadi. Dan aku kembali duduk, kelelahan, menghadap komputer. Aku membuka Akun Facebookku lagi melihat dua pesan masuk, dua pemberitahuan; pemberitahuan suka dan komentar. Dalam sekejap~tentu saja itu cuma ungkapan~aku chatingan dengan tiga orang; Karin SmithyJeagermenJensen yang ternyata adalah Karin sendiri, Violetgirl, dan akun brengsek Cowok Nakal yang kemarin itu.

Tapi aku tak terlalu menanggapinya. Aku hanya membalasnya dengan huruf 'Y' saja, dan menutup jendela percakapan, lalu sibuk dengan Karin dan Violetgirl itu.

Aku melihat-lihat profil Karin, hanya sebentar saja. Karna tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan akun Violetgirl itu. Aku pun meng-klik nicknya dan melihat-lihat kronologinya. Wah, status-statusnya melankolis campur puitis banget.

Banyak yang komen, tapi dikacangin semua. Aku menyukai status-statusnya satu persatu, lalu melihat-lihat koleksi fotonya. Aku menatap layar komputer sambil terbengong-bengong. Gile, ndro! Cakep banget. Rambutnya pirang, matanya ungu besar dan menarik. Langsung saja kusukai semua foto-fotonya. Ingin kukomentari tapi setelah kulihat banyak yang komen~dikacangin~aku langsung mengurungkan niatku. Kacang itu benar-benar tidak enak. Kacang lima kilo!

Uzumakiboys
Kamu jago nulis puisi y?

Violetgirl
Gak juga. Cuma iseng kok...

Uzumakiboys
Gak percaya. Wah, pasti kamu jagoan di sekolah. Maksudku sering juara nulis puisi.

Violetgirl
Masak gak percaya?

Uzumakiboys
Iya. Btw kamu kelas berapa sekarang?

Violetgirl
Kelas XI

Uzumakiboys
Tinggal di mana?

Violetgirl
Konoha 'kan. Kmarin udah dibilangin.

Uzumakiboys
Oh

Tetapi tiba-tiba obrolan kami pun harus terganggu karna seorang pembeli. Aku langsung izin pada mereka. Ketika aku menengok pada si pembeli, aku jadi merasa terguncang. Cewek yang berdiri di depan etalase itu adalah cewek yang kemarin menghinaku. Tapi sekarang mengapa ia kelihatan seperti Hanabi ya? Matanya, kulitnya yang pucat itu~aku menatap lurus-lurus pada matanya selama dua detik, lalu berpaling. Mungkin aku kebanyakan mengkhayal.

"Mau cari apa?" tanyaku.

Dia mengerutkan kening padaku. "Gantungan ponsel," jelasnya. "sekalian mau nungguin orang."

"Oh. Mau yang mana?" tanyaku tak bersemangat sambil menoleh pada aksesoris yang tergantung di dinding. "pilih aja."

Gadis itu pun memutari etalase, lalu berdiri membelakangiku sambil melihat-lihat aksesoris-aksesoris tersebut. Dia mengenakkan jaket yang kemarin dipakainya, dan rok biru cerah. Aku bangkit, mengeluarkan kursi-kursi plastik di dekat dinding.

"Permisi, mbak," kataku pada gadis itu yang berdiri menghalangi jalan masuk. Dia melirikku sebentar, kemudian menyingkir. Aku melangkah ke luar, lalu meletakkan kursi-kursi di tanganku di depan etalase, menjejernya.

"Mas," kata gadis itu tiba-tiba. Aku menengok. "Ini berapa harganya?"

"Ada harganya 'kan di situ."

"Gak ada."

"Masak?" aku mendekati benda yang terbungkus plastik itu, lalu meraihnya dari tangan gadis itu~bentuknya seperti peluru dengan tali kecil berwarna biru. Ternyata memang tidak ada harganya.

"Sebentar," kataku bingung. "aku mau tanya kakak iparku dulu. Dia yang punya tokonya." Aku segera membawa benda itu pergi ketika kakakku tiba-tiba saja memanggil dari belakangku. Aku pun berbalik, melihat bayangan kakakku tengah berjalan ke arahku. Kebetulan sekali.

"Eh, kak!" teriakku. "berapa harganya ini?!" Aku menggoyangkan benda itu di depanku. Kakakku mempercepat langkahnya sambil menyipitkan matanya.

"Harganya dua belas ribu."

Aku menengok gadis itu. "Dua belas ribu," ucapku.

"Oh," sahutnya. Ia lalu mengeluarkan dompetnya dari saku jaketnya dan memberikan selembar dua puluh ribuan padaku. Begitulah. Selanjutnya aku telah duduk kembali, berhadapan dengan kakakku yang mengobati wajahku dengan obat merah sambil ditonton gadis bermata seperti mata Hanabi itu. Hinata namanya kalau tak salah.

"Aduh." Aku meringis. "Pelan-pelan, kak"

"Jangan cengeng. Baru gini aja udah rewel. Gak malu tuh diliatin cewek."

Mukaku menjadi panas. Aku melirik Hinata. Cewek itu sedang tersenyum mengejek padaku dan menambah rasa maluku. Aku pun terpaksa menahan perih dimukaku sekarang ini.

"Oh, ya, kau mau pekerjaan tidak, Naruto?"

"Mm... Mau sih. Emang ada kerjaan apa?" Aku bertanya balik.

"Nona Tsunade sedang membutuhkan karyawan. Katanya buat bantu-bantu di tokonya. Kau mau tidak?"

"Siapa tuh Tsunade?"

"Sebentar lagi dia datang. Tadi Kakak ngobrol di pasar bareng dia. Makanya Kakak langsung usulin kamu. Terus dia bilang mau melihat kamu dulu, mengetes mungkin, lalu barangkali juga bicara soal gaji. Dia memang agak pilih-pilih kalau soal begituan. Yang kemarin-kemarin kariawannya pada cacat," kata kakakku menjelaskan.

"Cacat kenapa Kak?"

"Dia tak pernah dapat karyawan yang bagus. Pemalas, penggerutu sampai yang semau gue. Yang terakhir panjang tangannya. Perempuan itu memang sudah curiga sejak uang di lacinya sering hilang. Tapi tak punya bukti. Makanya waktu perempuan itu memergokinya langsung dipecat. Masih untung perempuan itu tak menyeret-nyeret polisi."

"Wah, saya ingat kejadian itu," celetuk Hinata. "tiga bulan yang lalu saya rasa. Kebetulan sekali saya ada dalam tokonya. Perempuan itu kelihatan marah sekali. Dia bicara banyak pada saya."

Kemudian mereka saling bertukar cerita, bertukar pendapat, pembahasan mereka pun berganti-ganti. Setelah selesai aku bisa bernapas sedikit lega. Tapi perihnya serasa seperti kulitku sedang robek.

"Kalau dia jadi menjadikanmu karyawannya. Jangan sampai mencoreng mukaku."

Aku menyeringai. "Aku akan merampoknya nan~" Kepalaku dijitak. "Aduh!"

"Jangan macam-macam!" Lalu kakakku pun pergi bersama Ryuzetsu meninggalkan kami. Aku menatap Hinata sebentar. Dia sedang menahan tawa.

"Mukamu jadi kelihatan aneh," ledek gadis itu. Aku mendengus, menatapnya dengan jengkel.

"Jangan mengejek," kataku. Dia makin melebarkan senyumnya yang jelek itu. Nona Samui muncul begitu saja dari kiri. Mukanya sinis, tapi makin cantik menurutku, bahkan tambah seksi dengan dada montok dan lekuk tubuh yang menggelitik gairah itu. Pagi-pagi hasratku tersulut. Dia langsung duduk di sebelahku tanpa berucap selamat pagi seperti biasanya, atau sebuah pujian untuk buka konter pagi-pagi, dan mendapat sebuah kecupan di bibir? Yang terakhir itu membikin darahku berdesir.

"Pagi Nona," sapaku.

Mata birunya melirik dingin. "Pagi," sapanya dengan suara menusuk. "kau yang buka pagi-pagi?"

Aku berkata, "Ya. Supaya Nona tidak perlu repot-repot." Aku melihat rahangnya bergerak, dan membuatku merasa dia tak ingin melanjutkan percakapan. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku. Tapi aku tak bertanya apa pun. Lalu semuanya jadi serba canggung.

Aku jenuh, dan senewen gara-gara dikacangin. Nona Samui berubah jadi es batu. Padahal aku mau dia bicara, bicara apa saja seperti yang sudah-sudah. Mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya.

"Nona sudah sarapan belum?" tanyaku. Dia cuma mengangguk, lalu bangkit, dan duduk menghadap komputer. Hatiku serasa disentil ketika mendapat tanggapan dingin itu. Aku memandangnya sesaat, lalu berpaling pada Hinata yang juga sedang menatapku.

"Hari yang cerah 'kan?" tanya Hinata.

"Tentu saja," sahutku. "kau sudah sarapan belum?"

Hinata menggeleng. "Belum."

Tiba-tiba saja aku teringat kopi susu, dan donat-donatku. Aku segera menariknya, menyeruput sedikit, lalu melahap sebuah donat. "Kau mau, Hinata?" Aku menawari.

Hinata mencomot satu, memakannya sambil membalas tatapanku. "Makasih."

"Sama-sama. Eh, Nona juga mau?"

"Tidak," tolak Nona Samui, dingin. Dan aku tidak mengerti. Padahal kemarin-kemarin kami selalu makan berdua, di sini. Sikapnya berubah 180 derajat.

"Hei, boleh kuminta kopi susumu sedikit?" tanya Hinata. Kemudian ia cekukan. Hinata segera mengambil kopi susuku, menyeruputnya beberapa kali. Giliran aku yang menyeruput kopi susu. Kakakku pun membuka tokonya. Suara ribut pintu rolling itu lumayan mengganggu.

Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki berambut merah. Sepantaran dengan Nona Samui. Matanya seperti mata panda. Mukanya pucat dan terkesan meremehkan. Gaya coolnya yang dibuat-buat itu langsung membuatku ilfill. Tapi dia langsung mendapat perhatian Nona Samui dan Hinata. Nona Samui yang tadinya dingin pun jadi riang. Aku merasa dongkol sekaligus tersisihkan. Laki-laki itu benar-benar menguasai mereka! Hebat. Aku akan menyebutnya si Lamban dan Membosankan.

Selama beberapa saat aku seakan-akan menjadi seperti tidak ada. Tapi kemudian kakakku memanggilku dari seberang. Aku langsung berdiri, lalu meninggalkan mereka. Saat tiba di toko kakakku, ibu-ibu montok yang kemarin-kemarin mengobarkan gairahku rupanya sedang mengobrol dengan kakakku. Sekarang pun penampilan perempuan itu mengundang hasrat. Lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas; lekuk pinggulnya kayak gitar spanyol dengan dada yang amat menonjol. Dia mengenakan celana ketat berwarna hitam, sweater kuning berkancing yang tampak sempit di dadanya, dan daleman kaos warna biru. Dalam beberapa detik pandanganku telah menjelajah ke seluruh lekuk-lekuk itu. Terutama buah dadanya yang bulat menantang itu seperti benda tersebut berkata padaku, 'Ayo sini, kalau berani!'. Selangkanganku mulai terasa tegang. Aku menelan ludah.

"Ya, Kak?" tanyaku seraya duduk dengan muka panas.

"Ini Nona Tsunade," kata kakakku. Aku menatap wajah perempuan itu sambil melongo, tapi perhatianku sebenarnya terpusat pada payudaranya.

"Oh," kataku tanpa daya. Perempuan itu tersenyum. Alis matanya terangkat sebelah. Aku malah jadi gugup dibuatnya. Aku berpikir keras. "Dia 'kan ibu penjaga toko tempat aku... sering beli rokok." Aku nyaris tergagap.

"Jadi rupanya anak ini maksudmu," kata Tsunade. Ia pun duduk. "Dia memang kelihatan cocok." Padahal dia bicaranya sedikit, tapi suaranya kedengaran merangsang banget. Aku memperhatikan wajahnya yang tak bermake-up itu; garis-garis lembut di wajahnya; bibirnya yang dipoles lipstick warna merah menyala; mata coklat yang sayu itu seakan menyimpan suatu kekejian tersembunyi yang mengundang dahaga dan membangkitkan insting liar dalam diriku. Dia bagaikan banteng betina yang angkuh, dan akulah sang predator. Jauh dalam lubuk hatiku aku telah menetapkan perempuan itu sebagai mangsaku.

Aku teringat caraku menatap Karin beberapa bulan lalu~rasanya sama persis seperti ini. Tetapi sekarang rasanya jauh berkali-kali lipat lebih besar. Bahkan aku pun bisa merasakan hasrat itu mengalir dalam nadiku; hasrat yang tak bisa kubendung dengan akal sehat.

Aku menunduk, kuperhatikan tanganku yang gemetaran. Tiba-tiba aku menyadari pikiranku telah menyelam terlalu dalam. Tidak seharusnya aku berpikir demikian, atau melakukan apa-apa pun yang terlintas barusan itu. Ini hanya lintasan pikiran sesaat yang akan hilang sebentar lagi. Mestinya aku segera melupakannya dan menganggap ini hanyalah lelucon saja. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Saat itu aku mendengar perempuan itu sedang membahas masalah gaji, dan jam kerja dengan kakakku. Setelah itu ia menoleh padaku.

"Apa kau mau bekerja padaku, Naruto?" tanyanya.

"Tentu saja," sahutku. "kapan saya mulai bekerja?"

Ia berkata, "Hm... Kalau bisa sekarang kau ikut. Apa kau bisa?"

"Tidak masalah. Lagi pula jadwal saya banyak yang kosong." Lantas aku pun pamit pada kakakku. Kami pun berangkat. Aku mengikutinya dari belakang sambil mengamati bongkah pantatnya yang bulat itu, bergoyang kiri kanan. Sesekali ia melemparkan pertanyaan-pertanyaan padaku. Aku menjawabnya tanpa kesulitan. Sementara mataku mengikuti gerakan pinggulnya, pikiranku sekonyong-konyong mengingat-ingat cerita Shikamaru dengan adegan jilat pepek dan semprotan orgasme pacarnya itu. Aku malah membayangkan aku sedang mengobok-obok pepek perempuan ini dengan mulut dan jari-jariku. Hisap, hisap... Jilat... Kocok... Kocok... Ugh... Goyang... Goyang... Muncrat... "Aduh!" kakiku Kepentok batu. TBC


Udah segitu aja :v :v :v