Part 2
Summary : Dimulainya petualangan 'cinta' Scarhead dan Ferret. (Summary macam apa ini?-_-a)
Rate : *ekhem* T
Warning! Ada satu bagian yang isinya B. Inggris semua…! Sederhana aja sih, tujuannya biar dapet kesan realnya aja... Dan typo di bagian itu emang disengaja! Jadi please jgn protes, ok? hehe
.
.
.
TheMalfoyManiac
I actually laugh at this! Come on! Malfoy is straight as a rule! This is just a fake stage act! 1 He dates Taylor Swift rn you know? HarryfuckingPotter is not on Draco Malfoy's league!
01.34 am 21 like 34 unlike
HennaPotter
+TheMalfoyManiac First of all, TS is dating Calvin Harris rn, is just a spark of rumor.. DMTS is never real! And 2nd HOW DARE YOU call HP Gross! He's one of the most talented british actor! FACE IT!
04.21 am 77 like 28 unlike
+HennaPotter oh! Come on! Open your DAMN F*CKING EYES! He's just e little boy that can be an actor because his both parents are actors too.. He just that gross kid who seduces another 'actor' to make him more popular! He almost made them…. you know? He's an Assh*le! He's such a wreck!1 He never got any award. He had NOTHING!
Draco can do sooooooooo much better! FACE IT, B*TCH!
07.12 am 26 like 78 unlike
Malfoy_number_one_girl
It's soooooooo cuteeeeeee…. And HOT! Somebody please tell me this is REAL!
00.29 am 24 like 0 unlike
Jenna Sikh
+Malfoy_number_one_girl I don't know, Ron weasley said they always had fought. They're like arch nemesis! But yeah.. they're cute..
01.56 am 12 like 4 unlike
LoveandHate
+Jenna Sikh Yes, I read an article about that! Maybe DM has the hots to HP and acted like 6 yearold boy with crush! LOL
02.13 am 98 like 2 unlike
Jenna Sikh
+LoveandHate defently…! ASGHKHLGAJJkl (typo is intended)
02.19 am 4 like 0 unlike
Jacob is the way
GROSS! GET AWAY YOU FAG! We don't need people like them for entertainment!
00.12 am 198 like 78 unlike
I'mlikesowhati'mgay?
+Jacob is the way Leave them alone you homophobic ASSHOLE!1!1!
00.19 am 12 like 9 unlike
Kill my heart
+Jacob is the way Yeah! It's their life they can do whtwvr they want! Afterall if Gay people make you sick what are you doing here!?
03.44 am 26 like 0 unlike
Phanfictionlover
God! Who needs porn if we have this! *Fangirling*
01.46 19 like 2 unlike
+Phanfictionlover guess 2 people still need porn after all…
04.01 am 175 like 0 unlike
.
.
.
"Berhenti mendiamkanku, Blaise… Ini tidak seperti aku baru saja mencuri ciuman pertama adik perempuanmu." Draco menatap sinis ke arah kaca spion. Sejak malam kemarin, Blaise, manajer pribadi Draco, tidak mengatakan sepatah kata pun kecuali menyuruh segera masuk mobil atau berkata sapaan basa-basi selamat pagi.
Dan selama beberapa saat pertanyaan Draco barusan dibiarkan saja menggantung tanpa jawaban. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke jalanan pagi London. Tidak, ini bahkan belum cukup pagi untuk London. Draco menengok jam tangan mahalnya dan jarum-jarum jam itu menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit. Ini masih terlalu pagi, kota London masih terkantuk-kantuk, beberapa orang mungkin baru menggeliat memaksa tubuhnya untuk bangun. Meskipun begitu ia harus keluar sembunyi-sembunyi dari halaman apartemennya yang dipenuhi puluhan wartawan yang tiba-tiba saja begitu tertarik untuk berkemah di parkiran apartemennya.
Draco menengok kembali ke kaca spion ketika mendengar Blaise mendesah cukup keras. "Aku tidak punya adik perempuan, Malfoy." ucap pemuda di belakang kemudi. "Aku hanya tidak mengerti dengan jalan pikiranmu…" Blaise memelankan laju kendaraan mereka ketika mendekati lampu merah. Ketika mobil terhenti, ia menengok Draco melalui kaca spion.
"Kau berkata bahwa kau akan menemukan cara lain untuk mendongkrak penjualan musikmu. Harus kuakui kalau cara ini berhasil tapi kau sendiri yang bilang bahwa kau menolak untuk membuat skandal lalu kemudian kau mencium Harry Potter di depan semua orang?!" Blaise mendesah lagi. Ia tidak terlihat kesal, hanya mungkin… kecewa?
"Aku tidak berniat menciumnya! Aku sudah mengataknnya berulang kali!"
"Tapi Kau menciumnya! Oke, sebenarnya kalian seperti saling memakan lidah kalian satu sama lain, tapi poinnya adalah jika tidak membuat skandal untuk meningkatkan popularitasmu, apa tujuan semua ini?" Blaise tidak benar-benar terdengar menginginkan jawaban dari pertanyaannya. "Dan jangan katakan bahwa kau tidak berniat menciumnya, karena kau mencium Harry Potter di depan puluhan papparazi dan ratusan tamu undangan, oke? Atau omong kosong seperti kau terlalu terpesona pada cara Harry Potter membaca puisi…?!"
Draco menelan ludah, pada dasarnya kalimat terakhir Blaise adalah yang paling mendekati kenyataan. Baiklah, memang bukan bagian pembacaan puisinya. Entahlah. Sesuatu tadi malam menggerakkan Draco. Sesuatu tentang Harry Potter, ada gravitasi yang menarik pemuda itu untuk mendekatinya. Dan ia melakukannya. Draco adalah pemuda yang membanggakan logikanya namun sesekali ia mengikuti instingnya. Bahwa biasanya instingnya membawanya keluar dari banyak permasalahan dengan selamat.
Semalam insting Draco membawanya pada bencana.
"Ayolah Blaise! Semua orang suka cerita cinta lokasi, kan? Ini sama ketika mereka menggosipkanku dengan Pansy Parkinson, Halle Barry, Romilda, bahkan Taylor Swift. Hanya saja lawan mainku kali ini laki-laki…"
Blaise mendesah sekali lagi. Tidak menjawab sama sekali. Draco pun tak ingin memulai pertengkaran dari perdebatan tanpa ujung di pagi hari. Ia lebih berharap Blaise akan mampir di dekat coffee shop di dekat kantor nanti. Tapi sepertinya kekecewaan Blaise pada Draco berhadiah pagi tanpa kafein hari ini untuk Draco.
Ketika Draco berusaha keras untuk tidak terbawa kembali ke alam tidur, sedikit demi sedikit ia menyadari bahwa Blaise tidak membawa Draco ke kantor agensinya ataupun ke perusahaan rekaman tempat Draco bernaung. Mereka pergi ke kantor agensi lain, Draco cukup mengenalinya, jika ia tidak salah kantor agensi ini menaungi beberapa nama artis yang cukup terkenal. Draco hanya tak merasa perlu repot-repot untuk mengingat nama kantor ini.
Draco berusaha untuk tidak terlalu terlihat penasaran ketika Blaise menuju ke arah pintunya dan membukakan pintunya. Yah, ada alasan bagus kenapa Draco menyukai Blaise meskipun terkadang ia tidak bisa menyimpan pendapatnya untuk dirinya sendiri dan cenderung sering mengkritik banyak tindakan Draco. Hal-hal kecil seperti membukakan pintu untuk Draco atau membelikannya secangkir kafein jika ia sedang baik hati adalah hal-hal yang Draco sukai dari manajer pribadinya ini. Ia rajin dan cekatan, dan setidaknya meskipun terkadang komentar-komentarnnya menyebalkan, Draco tahu bahwa Blaise asli. Ia bukan orang-orang dengan tindak-tanduk yang penuh kepalsuan karena mereka dibayar untuk bertindak-tanduk penuh kepalsuan. Draco dikelilingi orang-orang seperti itu sejak awal hidupnya.
Jadi memiliki Blaise yang punya banyak sekali complaint sama sekali bukan hal buruk baginya.
"Aku kira kita akan mengadakan pertemuan di kantor DE Agency? Maksudku, sejak kapan Tom Ridle yang agung mau dengan begitu rendah hati datang bertamu ke agensi lain yang jauh lebih kecil dari miliknya?" nada sarkasme di kalimat Draco hanya dibalas Blaise dengan memutar sebal bola matanya.
"Masuklah... Kau sudah terlambat lima menit..." Draco tersenyum sinis pada Blaise yang masuk kembali ke mobilnya untuk memarkirkan mobil mewah Draco di tempat yang lebih layak dan aman dibandingkan teras lobi gedung minimalis di hadapannya. Atau setidaknya begitu pikiran Draco sampai Blaise berkata lagi padanya, "Espresso dengan dua sendok gula? Apa itu cukup untuk membuatmu benar-benar membuka mata?" Draco hanya menyeringai menyebalkan ke arah Blaise yang menutup kembali kaca jendela yang barusan dibukanya.
Ia memasukkan kedua telapak tangannya yang tak tertutupi sarung tangan ke dalam saku mantelnya. Ia berjalan perlahan dan penuh keanggunan. Draco tidak suka terlambat, seseorang berkata padanya, dahulu sekali bahwa ia sama disiplinnya dengan para Guardsman di istana Buckingham.
Dan bahwa sekarang ia tidak banyak berubah. Kecuali bagian dimana ia biasanya tidak bangun sebelum pukul delapan pagi. Ia tidak peduli meskipun orang-orang memintanya datang lebih awal. Yeah… sebut itu superstar sindrom atau apapun. Tapi Draco tahu bahwa hal kecil seperti itu tidak masalah selama ia bekerja secara profesional dan aktingnya di depan kamera tetap mengagumkan.
Dan sejujurnya ia tidak bermaksud membuat posisi nyamannya sebagai aktor yang memiliki posisi tawar yang cukup tinggi musnah karena sesuatu yang sangat tidak profesional.
Kenapa kau menciumnya? Pertanyaan itu berulang di pikiran Draco sejak tadi malam. Berdenging di dekat telinganya seakan-akan ada seseorang yang mengikutinya ke manapun ia pergi hanya untuk membisikkan pertanyaan tersebut ke telinganya.
Kedengaran mengerikan. Jadi, seharusnya tidak ada yang perlu komentar soal Draco yang terkantuk-kantuk pagi ini, karena dia memang nyaris tidak tidur semalam. Draco berjalan mendekati meja resepsionis, ada seorang wanita muda yang memiliki kantung mata besar duduk sama terkantuk-kantuknya dengan Draco. Bukan pilihan bagus untuk ia ajak bicara tapi Draco tidak punya pilihan lain, karena jujur saja ia sama sekali tidak tahu harus pergi ke arah mana untuk pertemuan pagi ini.
"Mr. Malfoy!" suara wanita, pikir Draco, lugas dan cukup percaya diri. Ia sedikit memutar arah tubuhnya dan menemukan manajer Harry Potter yang kini berdiri di depannya. Draco berusaha mengingat nama gadis itu. Hemmingway? Helena? Helly? Hermi?
"Hermione?" gadis itu tersenyum tipis, tarikan sudut untuk profesionalitas. Draco, untuk sekali ini, tidak merasa muak dengan senyum itu. Setidanya ia tidak perlu berurusan dengan perempuan di balik meja resepsionis yang kelihatan sekali tidak ingin direpotkan oleh apapun atau siapapun.
"Ya... Kami sudah menunggu anda…" Draco ingin meminta Hermione untuk menjabarkan siapa saja 'kami' yang dia maksud. Tapi wanita itu melangkah dengan gegas menuju lift dan Draco tidak punya waktu untuk membuka mulut. Sambil berusaha keras menahan kantuknya Draco berusaha mengimbangi langkah gadis itu hingga mereka sampai ke dalam lift.
Draco menengok ke sepatu hak tinggi berwarna lilac yang dipadankan dengan warna ungu rok semata kaki yang Hermione kenakan. Draco bertanya-tanya bagaimana gadis ini bisa bergerak begitu luwes dengan setelan yang sama sekali tidak nampak ringkas ini.
Draco berusaha untuk tidak memandangi rambut keemasan Hermione yang ia ikat rapi hari ini. Gadis yang cantik, pikirnya. Ia heran sendiri kenapa ia tidak tertarik pada gadis ini sama sekali ketika di lokasi syuting? Oh iya, karena rumor berseliweran bahwa gadis ini punya hubungan khusus dengan Ronald Weasley, Draco mungkin playboy, tapi ia tidak pernah mencoba mencuri yang sudah dimiliki.
Ah iya... Dan karena ia sibuk bertengkar dengan Harry. Sepertinya Harry benar-benar bahan distraksi yang bagus. Lagipula untuk beberapa alasan entah kenapa rambut hitam acak-acakan Harry rasanya lebih menyenangkan untuk dipandangi.
"Jadi, siapa saja yang akan ikut membicarakan ini?" akhirnya Draco bertanya, setelah beberapa saat berusaha membuang bayangan tekstur rambut Harry ketika jemari Draco merabanya kemarin malam.
Hermione mengedipkan matanya ketika berbalik ke arah Draco. Seakan ia sama sekali tidak berekspektasi bahwa Draco akan membuka pembicaraan. Yah, Draco mengerti kenapa kebanyakan orang berpikir seperti itu. Terlebih jika kau adalah manajer dari aktor yang Draco ejek setiap hari selama proses syuting lalu tiba-tiba kau cium di atas panggung. Draco sungguh sangat mengerti jika imagenya di mata Hermione tidak begitu bagus.
"Publicist Harry, Gilderoy Lockhart... Ron—" ada jeda sedetik, "Mr. Weasley dan perwakilan dari agensimu, Mr. Snape?" Draco mengangguk untuk nama terakhir. Draco punya hubungan tidak begitu bagus dengan Severus Snape meskipun ia adalah ayah baptisnya. Dan entah mengapa ia merasa sama sekali tidak terkejut bahwa bukan Tom Ridle, bos agensinya sendirilah yang datang ke pertemuan kali ini. Meskipun lelaki paruh baya itu sudah menceramahinya semalaman melalui skype soal sikap profesionalitas dan pengendalian diri.
Draco sama sekali tidak terkejut.
Pintu lift berdenting, sebelum keluar Draco menyempatkan diri untuk melihat di lantai mana mereka berada kini. Mengambil smartphonenya dan memastikan Blaise tahu dimana pertemuan diadakan.
"Hey!"panggil Hermione sambil berbalik dan kini di wajahnya tak lagi dihiasi senyum tipis profesionalisme yang ditawarkan pada Draco. "Kau mungkin bosan mendengar pertanyaan ini. Tapi aku manager Harry dan kupikir aku layak tahu apa alasanmu mencium Harry tadi malam?"
Draco berfikir bahwa, ya, ia sangat bosan mendengar pertanyaan itu. Dan bahwa yang lebih membosankan lagi adalah ia masih belum memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. "Aku tidak tahu." jawab Draco sederhana, Draco ingin menambahkan beberapa kata-kata yang jahat seperti 'Cuma sekedar iseng' atau 'Karnea kurasa sebagai gay kesepian, Harry sesekali butuh ciuman'. Tapi tampaknya kurang tidur membuat otak Draco bekerja tidak sebrengsek biasanya.
Tatapan mengancam dari mata Hermione, sedikit banyak berhasil membuat Draco gentar. Untuk ukuran seorang gadis yang mengenakan blazer pink kalem dan rok ungu muda semata kaki, Hermione mengeluarkan aura pembunuh yang cukup kuat. Jadi Draco berdehem dan menggeleng, "Kau boleh tidak percaya, tapi... aku benar-benar tidak tahu."
Hermione menambahkan beberapa menit tatapan mengancamnya. Baru kemudian berbalik dan maju beberapa langkah lagi sampai ke depan sebuah pintu. Ia menggenggam pegangan pintu itu, "Kau harus tahu bahwa Harry pemuda baik, seorang optimistis dan sejujurnya berkepribadian sangat lembut. Tolong jangan membuatnya hancur." Hermione menarik nafas. Sirat mengancam di matanya terganti rasa kasih yang tegas, "lagi…" tambahnya.
Draco tidak tahu mengapa atau hubungan seperti apa yang dimiliki Hermione dan Harry. Karena ia yakin sedekat apapun ia dengan Blaise, Blaise tidak akan pernah membelanya seperti ini. Dan mengingat reputasi yang dimiliki Draco. Hermione seharusnyalah yang sedikit terlihat gentar. Karena Draco sendiri sudah lama kehilangan catatan di otaknya tentang berapa banyak orang yang dipecat karena mengganggu kenyamanan Draco.
Jadi Draco tersenyum, karena pagi ini ada seorang gadis yang baru saja mengancamnya. Hermione beruntung otak Draco belum bekerja sempurna terutama tanpa kafein sepagi ini. Pada akhirnya Draco memilih 'tersenyum'. Senyum semi seringaian menyebalkan yang ia tahu akan membuat Hermione mengeluarkan tatapan mengancamnya lagi. Dan ia benar.
Tapi sebelum Hermione bisa bicara lagi Draco memotongnya. "Chill out, Mum... I'm sure I didn't ruin him..." Hermione melepas genggaman tangannya pada handle pintu. Menatap menyelidik ke arah Draco, seakan menghitung seberapa serius kalimat yang Draco keluarkan barusan.
Draco melepas bagian ramah dari senyumnya dan sungguh-sungguh menyeringai kali ini, "Just made him more interesting..." Draco menyeringai, mengambil alih kuasa handle pintu lalu membukanya sebelum Hermione sempat memberinya ancaman lain lagi.
"Ah! Mr. Malfoy! Selamat datang... Kami sudah menunggumu. Silahkan duduk..." Draco berasumsi bahwa pria yang kini duduk di belakang meja besar dan terlihat sangat bangga akan meja besar dan tulisan jabatan di atas meja itu sebagai publicist di perusahaan ini. Ia berdiri, menghampiri Draco dan mengajaknya bersalaman.
Draco tahu orang ini menyebalkan, dan tahu bahwa level menyebalkan orang ini ada jauh di bawahnya. Maka menurutnya jabat tangan tidak akan begitu masalah, seharusnya. Lelaki paruh baya itu berbasa-basi soal cuaca, betapa ia adalah salah satu pengagum berat Draco, dan hal klise lainnya. Baru setelah itu — benar-benar— mempersilahkan Draco duduk.
Draco memutar sedikit arah kepalanya dan menemukan Severus Snape duduk di ujung sofa panjang. Sofa hijau tua yang cukup panjang, berbahan kulit sintetis, Severus sedikit banyak seperti tenggelam dalam sofa besar itu. Terlihat sama sekali tidak antusias dengan apapun yang akan atau mungkin sebelum Draco datang sedang mereka bicarakan. Bergeser sedikit di ujung ruangan ada Ronald Weasley yang tengah menuangkan sedikit wine ke gelas dalam genggamannya.
"Ah! Bukan menu sarapan yang baik memang, tapi jika kau mau kau tinggal menuangkannya…" Gilderoy masih memasang senyum lebar ala model iklan pasta gigi. Dan entah mengapa rasanya Draco pernah benar-benar melihat lelaki ini sebagai model pasta gigi. Mungkin khayalannya saja. Hermione masuk berikutnya, tanpa mengikuti langkah Draco yang mendekat ke sofa. Ia duduk di sebuah bangku tinggi di dekat bar kecil di ujung ruangan dimana Ronald Weasley menawarinya wine. Yang ia tolak dengan anggukan sopan.
Setalah berpikir beberapa saat Draco akhirnya bertanya, "Dimana Potter?" dan entah mengapa ia merasa bahwa seluruh mata di ruangan itu tiba-tiba benar-benar fokus padanya. Draco tidak merasa ada yang salah dari pertanyaannya. Itu sebabnya ia merasa reaksi orang-orang ini berlebihan.
Bagaimanapun insiden tadi malam melibatkan Harry juga, meskipun memang Draco yang mengambil inisiatif. Tapi seharusnya si kacamata minus itu ada di sekitar sini dan membantu berdiskusi tentang solusi paling baik tentang insiden semalam.
"Mr. Potter, ada sebuah pekerjaan yang tidak bisa dibatalkan. Sebuah syuting iklan…" Draco berusaha untuk mengurangi kadar ketidaksukaannya pada Gilderoy meskipun ia masih tetap pada senyum lebarnya yang benar-benar mengganggu Draco. Setidaknya ia satu-satunya manusia di ruangan itu yang cukup cepat tanggap dan memberi Draco jawaban.
Draco mengangguk pelan dan sambil berharap Blaise cepat datang dengan kopinya, ia berusaha mendengarkan Gilderoy menjabarkan kembali apa yang terjadi semalam dan apa dampak dari hal tersebut. "…Setidaknya ada 17 channell youtube yang mengupload video kalian, sebagian besar sudah berhasil dihapus. Foto-foto kejadian semalam tidak terhitung jumlahnya dan kita tidak bisa melakukan apapun soal itu... Dan untuk pertama kalinya sepanjang umur perusahaan ini telepon kami tidak pernah berhenti berdering." Draco tahu jika ada di situasi yang berbeda ia akan sangat membenci nada antusias di dalam suara Gilderoy. Tapi Draco sedikit merasa lebih tenang dengan kenyataan bahwa lelaki ini tidak berusaha menjudgenya seperti Blaise atau Hermione. Atau setidaknya ia sama sekali tidak bertanya tentang mengapa?
Draco memutar kata itu untuk berkeliling di setiap sudut otaknya dan menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Mengapa? Draco tahu betul ia bukan gay, mungkin terkadang ia tertarik pada laki-laki, tapi ia tidak pernah mengambil aksi seperti tadi malam. Dan bahkan jika di satu sudut paling rahasia di sel otaknya ia Bi. Ia tidak mengerti mengapa harus Harry. Mengapa baru kali ini ia melakukannya.
Pemuda berambut pirang itu mengembalikan pikirannya ke tempat seharusnya, dan berusaha mendengarkan yang Severus katakan. "Ini bukan sesuatu yang terlalu besar. Jika kita biarkan berlalu, mereka tidak akan lebih dari sekedar percikan api kecil yang kemudian dilupakan."
Entah mengapa Draco ingin berargumen bahwa kejadian semalam sama sekali tidak layak jika hanya diumpamakan percikan api. Draco lebih berpikir bahwa ciuman semalam terasa seperti kembang api.
Tapi itu bukan sesuatu yang perlu diributkan saat ini. Terutama ketika Draco mendengar ketukan sopan di pintu dan Blaise muncul dengan secangkir espresso di tangnnya. Draco tidak mengenali merk yang ada pada cangkir kopi yang Blaise bawa, tapi persetan soal merk. Ia butuh kafein. Jika tidak ia tidak akan punya kesempatan untuk membuka mulut dan berdebat.
"Thank's…" ujarnya begitu hangat dari cangkir kopi itu teradiasi di tangannya. Sementara Blaise mengambil posisi di dekat Hermione (yang Draco baru sadar ia lupa nama belakangnya) dan Ronald Weasley.
Sambil meminum beberapa teguk ia memperhatikan duduk Severus yang mulai menegak ketika ia mulai bicara, "Saya mengerti bahwa anda dan perusahaan anda merasa dirugikan karena tingkah laku artis kami yang kurang bisa dipertanggungjawabkan." entah kenapa Draco merasa ada jitakan tak terlihat yang mendarat di kepalanya saat ini mendengar kata-kata Severus.
Gilderoy masih tetap keras kepala dengan senyum lebarnya, "Harry Potter adalah salah satu aset kami, Mr. Snape. Kami mengakui itu. Tapi Kami disini tidak sedang berusaha menuntut apapun. Kami hanya ingin bahwa Anda dan Mr. Malfoy bisa memberi kami alasan bagus selain bahwa kejadian tadi malam hanya sekedar stage act. Karena twitter region London nyaris meledak semalam oleh trending tentang mereka. Ini bukan sesuatu yang akan begitu saja berlalu."
Tanpa sadar Draco mengangguk-angguk. Ia mulai merasa otaknya bekerja dengan lebih baik, dan harus ia akui ia lebih setuju pada pendapat si Lockhart ini. "Mr. Lockhart benar…" Severus memberikan tatapan membunuh. Seakan ada slide kalimat yang tidak terlihat yang ditujukan pada Draco melalui tatapan itu, "Shut up, you Traitor!" tapi Draco mengabaikannya dan melanjutkan.
"Maksudku, kami sebentar lagi akan mempromosikan film bersama-sama, mereka yang kini masih gandrung di internet tidak akan begitu saja membiarkan isu ini lenyap begitu saja."
Ada suara batuk yang dibuat-buat dan Draco tahu pasti bahwa itu milik Ronald Weasley. Ia selalu melakukan itu ketika mencoba mendapatkan kesempatan bicara. Gilderoy dan Severus memandang ke arahnya seakan mempersilahkan. "Aku setuju dengan Draco dalam hal ini. Kita tidak bisa berharap bahwa hal ini akan hilang begitu saja sementara mereka akan mempromosikan sebuah film bersama. Para paparazzi dan fans, mereka akan menjadi cheerleaders yang berteriak paling kencang 'Kiss! Kiss!' setiap kali Draco dan Harry berada dalam satu ruangan."
"Lalu apa masalahnya jika mereka berteriak?" Severus bertanya sinis, dan Draco bisa melihat kulit Ronald Weasley memucat.
"Masalahnya adalah kami akan terlihat awkward, jika kita membuat pernyataan yang membantah mengenai hal ini. Atau ketika kita memutuskan untuk membiarkan tanpa memberikan jawaban. Mereka tidak akan begitu saja memakan alasan seperti stage act. Orang-orang senang berpegangan pada harapan kosong. Jadi, apa salahnya memberikan kebohongan untuk kesenangan mereka?" Kali ini Draco tidak hanya mengabaikan tatapan membunuh dari Severus tapi juga wajah kebingungan Blaise dan wajah Hermione yang bertanya-tanya.
"Aku tidak suka mengatakan ini Draco... But you're the Third Hottest Man Alive! Dan kau mendapat julukan itu karena kau mematahkan hati begitu banyak perempuan yang bersinar di Hollywood. Oke? Perempuan." Draco bisa membayangkan underline di bawah kata perempuan yang barusan Severus ucapkan.
"Yah… aku tidak yakin bahwa aku akan selamanya bertahan dengan image playboy. Bukankah akan menarik jika kita membuat seakan-akan Harry Potter adalah seseorang yang sangat spesial yang bisa menaklukkan hati seorang Draco Malfoy? Mengerti maksudku? Dan fakta bahwa Harry adalah laki-laki justru sesuatu yang menguntungkan menurutku. Maksudku para fans wanita lebih suka ide tentang idola mereka berpasangan dengan pria lagi? Bukankah begitu?"
Hermione tanpa sadar mengangguk-angguk, karena yah... untuk beberapa alasan rasanya jauh lebih mudah untuk tidak cemburu pada pria lain yang ada di dekat idolamu. "Dan ini akan menguntungkan promosi film Folie a Deux…" Lockhart mencoba kembali masuk ke arena diskusi.
"Tapi tidak semua fansmu, adalah mereka yang bersikap mendukung atau sekedar netral tentang percintaan sesama jenis." Severus masih terlihat keberatan, tapi tidak sengotot kalimat-kalimat sebelumnya.
"Kalau begitu tidak perlu membuat semacam konfirmasi atau pernyataan yang jelas. Kau tahu, kami bisa saling flirting, terlihat saling jatuh cinta, sambil memberi jawaban ambigu pada khalayak."
Hermione kali ini tiba-tiba saja protes, "Lalu apa bedanya itu dengan saran Severus sebelumnya? Aku tidak melihat perbedaan dari hal itu?"
Draco menatap sinis beberapa detik ke arah Hermione, "Karena yang aku tawarkan adalah lampu kuning. Tidak mengiyakan, dan tidak menyalahkan pemberitaan. Orang-orang bebas berintrepretasi, mereka bisa menyebutnya stage act, fans service atau 'cinta lokasi sementara'... Jadi, bukan kita yang melabeli apa yang terjadi kemarin malam."
"Aku tidak yakin Malfoy... Lagipula sejujurnya Folie a Deux tidak butuh skandal untuk mengangkat reputasinya..." Ronald Weasley meneguk habis sisa winenya begitu ia selesai bicara.
"Memang, tapi dongkrakan yang lebih besar dan ditambah original soundtrack yang berkesan memiliki cerita di dalamnya? Orang-orang selalu menyukai cerita, lagipula. Mereka akan memakan umpan dan kita akan menjaring banyak uang dan popularitas." Senyum manis Draco akan mengelabuimu seakan-akan ia sedang bicara tentang sesuatu yang mulia. Dan Lockhart jelas sekali senang dengan perkembangan arah pembicaraan ini begitu kata uang dan popularitas Draco sebutkan.
Tapi Blaise mengerjap, dalam sekejap ia mengerti kenapa Draco berusaha untuk meneruskan rumor ini. Draco tidak butuh tambahan popularitas atau uang. Yang ia butuhkan adalah kesempatan untuk lebih terlihat sebagai seorang penyanyi. Dan ini kesempatan emas.
Take Me to Church... pikirnya. Lagu itu memang sangat indah dan dalam. Tanpa tambahan skandal pun lagu itu bisa memasuki ranking Billboard dengan mudah, Draco hanya memastikan hal itu terjadi. Dan jika dengan menyebarkan rumor. Lalu ia bisa menampilkannya bersama Harry di beberapa kesempatan lainnya. Orang-orang akan memakan umpan ini. Yang Draco butuhkan untuk masuk lebih dalam ke industri musik Amerika adalah sebuah lagu yang meledak di pasaran mainstream, tanpa Draco harus mengubah musiknya menjadi mainstream. Draco berusaha membuat Take Me to Church, menjadi See You Again bagi Folie a Deux.
Tidak ada keraguan bahwa film Ronald Weasley kali ini akan sukses lagi di pasaran. Dan OST yang juga menjadi hits tentu akan membantu Draco untuk semakin dikenali di blantika musik Amerika.
Karena mendapat pengakuan dari Amerika artinya mendapat pengakuan dunia.
Dalam sekejap Blaise tahu apa yang coba Draco incar.
Dan harus ia akui, ia membenci sikap Draco tadi pagi yang berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Draco jelas sudah merencanakan ini. Tidak mungkin tidak.
"Ya... maksudku, sedikit rumor percintaan tidak akan berdampak negatif pada reputasi Harry..." Draco menambahkan lagi. Lockhart sudah sejak awal setuju dengan apapun yang Draco katakan, Severus terlihat mulai menimang-nimang, Ronald Weasley tidak secara keras menolak, bahkan Hermione tidak terlihat terlalu keberatan lagi saat ini.
Jadi Draco berbalik pada Blaise dan menawarkan seringai antagonis andalannya ke arah pemuda itu.
It will be interesting…
.
.
.
Harry sedang bersiap-siap keluar dari mobil yang mengantarnya pulang dari lokasi syuting ketika ia menerima telepon Hermione. Harry yang sedetik sebelumnya masih mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ramah pada supir mobil agency itu dalam sekejap mengubah ekspresinya. Kerutan berlipat-lipat di keningnya, ketika kalimat demi kalimat ia cerna dari lawan bicaranya di ujung sana. Ia bisa merasakan luka di dahinya yang biasanya ia tutupi sebaik mungkin dengan make up terasa berdenyut.
"KATAKAN SEKALI LAGI!" Harry tidak bermaksud membentak, ia hanya tidak mengerti dengan pendengarannya yang rasanya sering mengelabuinya seharian ini. Karena, seakan ia belum cukup merasa anxiety dengan cerita masa lalunya, hari ini setiap kali ada orang yang berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya, telinganya seperti selalu mendengar kata gross dan gay atau fag. Ouh ya, kosa kata baru… b*tch.
Harry sungguh-sungguh tak ingin memikirkannya. Atau mempedulikan bagaimana orang-orang memandangnya sebagai mahluk yang asing.
"Agency setuju untuk membiarkan rumor menyebar. Draco dan Lockhart setuju bahwa kalian akan berakting seakan-akan saling jatuh cinta tanpa memberikan jawaban pasti soal hubungan kalian. Mereka bilang untuk membantu promosi Folie a Deux…"
"That's BULLSHIT! Hermione! You know that!" Harry tidak peduli bahwa sekarang ia masih ada di lobi apartemennya dan beberapa orang tampak ingin tahu dan berusaha mencuri dengar. Harry ingin sekali peduli, tapi ia benar-benar lelah dengan begitu banyak masalah yang seharusnya tak perlu dihadapinya jika DRACO MALFOY tidak bertindak BODOH dan menciumnya tadi malam.
"Aku tahu Harry…" suara Hermione lemah dan jelas sekali terdengar menyesal.
"Kalau begitu kenapa tidak ada yang membelaku?" Harry memelankan suaranya kali ini dan berbisik lirih. "Aku kira kau mengerti ketika aku menceritakan soal depresiku ketika usiaku 15 tahun... ketika rumor itu menyebar... Aku tidak butuh skandal baru agar orang-orang mengingat seberapa menjijikannya Harry Potter, 'Mione..." Harry berujar lirih.
"I'm sorry, Harry... but-" Harry tidak mau mendengarkannya lagi. Ia memutus jaringan telepon itu dan mematikan telepon genggamnya. Dan pintu lift berdenting.
"Hai Harry!" Mrs. Figg dan jas hujannya yang ketinggalan jaman, keluar dari lift dengan membawa senampan jagung bakar. "Kau mau satu?" Harry berusaha tersenyum detik itu pada pengurus apartemennya, tapi senyumnya gagal dan ia ingin menangis melihat tumpukan jagung bakar hangat itu.
"Oh Harry..." ujar Mrs. Figg sambil melepas tangan kananya dari menumpu nampan jagung. Tak banyak perubahan pada ekspresi datarnya yang cenderung sedih. "Kurasa bukan hanya langit London yang gerimis malam ini..." ia mengusap rambut Harry. "Ini…" wanita tua itu membungkus salah satu jagung bakar yang berukuran besar dengan tissue yang ada di saku jas hujannya.
"Makan dan istirahatlah Harry... Kau layak mendapatkan itu…" Harry berusaha keras menahan air matanya dan tersenyum pada wanita tua itu. Ia mengangguk dan terburu-buru memasuki lift yang pintunya hampir tertutup.
Dan ketika pintu itu nyaris sekali tertutup, Mrs. Figg berteriak pada Harry, "Ah! Dan kau punya tamu di kamarmu, Harry."
Dan dua bilah pintu alumunium itu menutup sebelum Harry sempat menanyakan siapa atau kenapa mereka bisa masuk ke kamar Harry? Setelah melewati satu lantai dan masih belum ada orang lain di dalam lift itu Harry membuka tissue yang membungkus jagung bakarnya. Sudah menjadi rahasia umum jika Mrs. Figg senang sekali memasak di waktu luangnya sembari menjaga ketertiban apartemen ini. Dan jagung bakar adalah salah satu masakan favoritnya, bahkan ketika ia harus naik ke atap apartemen di tengah gerimis kota London.
Tapi toh, tidak ada yang memprotesnya, karena selama persediaan masih ada, Mrs. Figg akan membagikan masakannya pada siapapun yang ditemuinya menuju ruangannya. Seringkali ia bahkan tidak mencicipi masakannya sendiri karena, masakannya terlanjur habis di jalan sebelum ia sampai. Dan ia tetap bahagia meskipun Harry jarang sekali melihat wanita itu benar-benar tersenyum lebar. Yah, karena ia masih melakukannya sampai saat ini, itu berarti ia bahagia kan? Entahlah.
"Hah…" desah Harry ketika ia mulai mencium bau lezat jagung bakar yang masih hangat itu. Tapi ada sesuatu dari kepenatannya yang membuatnya merasa mual. Maka ketika lift terbuka di lantai berikutnya dan seorang wanita muda dengan kulit kecokelatan yang Harry tak pernah lihat sebelumnya, masuk ke dalam lift. Harry melempar senyum canggung yang dibalas anggukan kecil dan senyum malu-malu yang terlihat manis di wajah eksotis wanita tersebut.
"Mau?" ujar Harry. Karena ia yakin ia tak bisa memakannya dan Harry bukan tipe orang yang senang menyia-nyiakan sesuatu.
"Masakan Mrs. Figg?" ujar gadis itu sambil menerima jagung bakar dari tangan Harry. Harry mengangguk dan bisa melihat sedikit semu merah di pipi eksotis wanita tersebut.
Lalu lift berdenting, "Ya." ujar Harry terburu-buru. Sambil keluar dari lift dan berusaha untuk tak terkesan menghindar. Tapi mata berbinar gadis itu jelas berkesan mengharap.
Harry tidak butuh tambahan orang lain yang tak bisa ia penuhi harapannya.
Ia berjalan dalam tempo secepat mungkin menuju ruangannya. Satu-satunya yang ia beritahu soal kunci cadangan di bawah pot pohon karet bonsai yang nampak menyedihkan di sisi kanan pintu masuk apartemennya, adalah Hermione. Dan ia menyempatkan diri memeriksa, dan kunci cadangannya ada di sana. Ketika ia mencari kunci pintu apartemen miliknya di saku celananya, Harry mengingatkan dirinya untuk menyiram pohon karet itu besok pagi.
Sebelum masuk ia menatap pohon karet itu lebih lama dari biasanya. Sesuatu tentang pohon karet itu mengatakan bahwa Harry akan baik-baik saja.
Suatu hari ketika Harry gagal dalam suatu casting dan menolak Hermione menemaninya untuk menghiburnya, ia melewati sebuah toko hewan yang tampak indah. Harry berpikir untuk membeli seekor anak anjing atau anak kucing. Saat itu ia tinggal di apartemen lain yang tidak melarang binatang peliharaan.
Penjual di toko tersebut adalah pria tambun pendek dengan rambut ginger yang ramah dan jenggot kemerahan yang mencapai dadanya. Ia menawarkan Harry berbagai variant anjing, bahkan memperlihatkan setiap anjing yang memiliki sertifikat kelahiran untuk bukti rasnya. Lalu tiba-tiba saja Harry tertarik pada seekor ferret. Bulunya putih, oke, mungkin bukan putih bersih. Tapi tetap saja masih bisa dikategorikan putih.
Harry meminta penjaga toko tambun itu mengeluarkannya dari kandang, Harry berusaha menggendongnya dan selama dua menit pertama dalam gendongan Harry, binatang itu tampak nyaman. Tapi tiba-tiba saja semuanya menjadi kacau. Binatang itu entah kenapa meronta dalam pelukan Harry dan mencakar Harry di beberapa tempat, ketika penjaga toko berhasil menarik ferret itu dan berhenti menyerang Harry. Ia menggeram dan menatap Harry dengan begitu bermusuhan.
Harry dengan beberapa luka di tubuhnya dan bekas cakaran yang dalam di dahinya, pulang dengan tangan hampa dan pertanyaan pada Tuhan. Apa yang salah dengan dirinya? Ia hanya tidak tertarik pada wanita? Apa yang salah dengan itu? Para wanita masih punya banyak pengagum lain? Pria-pria masih berlomba dan mengantri untuk mendapatkan mereka? Mengapa semesta merasa harus menghukumnya?
Ia ingat sutradara film tv itu tadi pagi berkata begini ketika menolaknya, "Oh... Bodohnya aku... maaf, tapi aku lupa menyebutkan bahwa peran ini untuk pria straight." Dan selama beberapa detik Harry tak mengerti apa masalahnya. Dan semua orang di ruangan itu terkekeh seakan itu sesuatu yang lucu.
Dan meskipun telah jelas ditolak, Harry tetap menunggu di ruang audisi dan melihat siapa aktor yang mendapatkan peran itu. Harry tahu pemuda yang mendapat peran itu masih berkerabat dengan produser yang memproduksi film tv itu.
Harry dongkol. Karena jika seperti itu mengapa harus ada casting dan memberikan harapan?
Maka setelah dua hari mematikan telepon genggamnya dan tidak menjawab bel yang Hermione bunyikan di pintu apartemennya. Pagi-pagi sekali Harry pergi dari apartemen dengan setelan jogging, tapi ia hanya berjalan di sekitar lingkungan apartemenya. Sama sekali tidak berlari, karena ia sudah lelah berlari.
Namun entah mengapa ia nyaris menabrak seorang ibu tua yang sedang membawa dua pot kecil pohon mawar. Si ibu tak memakinya untuk itu. Dan setelah membiarkan Harry mengucapkan kata maaf berkali-kali. Ia berkata, "Kau sepertinya butuh teman, nak..." Jadi si ibu tua mengajak Harry memasuki pekarangan rumah tuanya, dan mengambil salah satu pohon bonsai yang tertata rapi di dekat pintu rumahnya. "Ini... Kau terlihat seperti orang sibuk. Pohon karet tidak butuh banyak perhatian dan perawatan..." ujarnya dan secara harfiah memastikan Harry menggenggamnya dengan kuat. Harry berterima kasih dan pergi.
Entah kenapa saat itu senyum wanita tua itu memperbaiki banyak hal dalam benak Harry yang cenderung depresif. Juga frasa bahwa Harry 'terlihat sibuk', di satu sisi Harry ingin mengeluarkan tawa sarkasmenya, tapi di sisi lain ia ingin mempercayainya.
Bahwa ia yang saat itu bisa dikatakan pengangguran karena belum ada yang mau menggunakan kembali aktingnya. Sama sekali tidak sibuk.
Tapi di satu sudut hati ia percaya suatu hari nanti ia akan kembali sibuk. Ia akan kembali menjadi seseorang yang mengejar mimpinya tanpa peduli apapun di dunia ini.
Maka, ketika seminggu kemudian Harry mendapatkan sebuah peran yang cukup lumayan di sebuah sitkom. Harry hanya menyiram pohon karet itu, sesekali. Pohon karet bonsai yang tampak menyedihkan. Tapi ia tetap hidup.
Dan kini ketika ia melihat pohon itu. Ia mengingat senyum wanita tua itu padanya hari itu. Dan satu sisi di hatinya yang mempercayai bahwa dirinya cukup tangguh, muncul.
Tidak begitu kuat. Tidak begitu besar. Tapi harapan itu ada dan itu cukup.
Sayangnya begitu membuka pintu, Harry mendengar suara manusia nomor satu yang tak ingin Harry dengar di dunia ini.
"Kau punya koleksi vinyl yang bagus, Potter…" Harry sangat protektif pada piringan hitam yang dimilikinya. Maka ketika ia memasuki ruang santai dan melihat Malfoy mengeluarkan secara acak beberapa koleksi piringan hitam berharganya. Harry yakin mukanya memerah karena murka.
"Bagaimana kau bisa masuk?!",Harry bertanya sinis sambil merebut The Marshall Mathers LP dan Hunky Dory dari tangan pucat Draco Malfoy.
Draco memainkan alisnya dan mengeluarkan ekspresi kaget yang luar biasa menyebalkan, "Tenang, Potter… Aku tidak berniat mencuri apapun."
"Tentu, kau sudah mencuri ciuman dan hidupku. Lalu apa lagi maumu?" Harry bahkan tak menunggu sedetik sampai kalimat Draco benar-benar tuntas ia katakan.
Iris kelabu Draco memandang selama beberapa saat ke dalam mata Harry. Satu hal yang Draco benci saat pertama kali melihat Harry secara langsung di lokasi syuting adalah senyumnya yang tanpa ketakutan, namun ketika melihat ke matanya. Ia bisa melihat ada sebuah luka di sana. Dan jauh di dalam dirinya entah mengapa Draco ingin membuat Harry membicarakan hal yang membuatnya terluka pada Draco. Dan selalu ada kekuatan yang membuat Draco terdiam setiap kali menatap mata Harry.
Tidak masuk akal, memang.
Dan terima kasih bahwa sikap menyebalkan Draco pada hampir seluruh kru berhasil memancing Harry untuk selalu melawannya. Draco tidak akan bilang bahwa ia merindukan pertengkaran dengan Harry. Perdebatan dengan pria ini memang mengasyikkan pada taraf tertentu, tapi bukan itu yang membuatnya kemari. Draco menampar dirinya sendiri dalam pikirannya.
Draco mulai bicara, "Sudah ada yang memberitahumu?"
Harry menggemeretakkan gigi sebelum menarik nafas, dan berusaha menahan tinjunya. Ia menjawab singkat, "Sudah."
"Kau terima tawaran ini?"
"Apa aku dalam posisi untuk menawar soal ini?"
Draco tersenyum sinis, "Kau cerdas." lalu Draco menarik piringan hitam yang masih Harry genggam, ketika ia sedang menyimpannya kembali ke meja kaca di depan televisi tempat setumpuk vinyl lain milik Harry tersusun dalam sebuah kardus karton berwarna kuning mayonaise.
Harry berkata, "Tentu, bukan aku yang tiba-tiba mencium musuh bebuyutannya di depan puluhan papparazi..."
Draco mendesah setelah sedetik tercekat oleh kalimat balasan Harry, "Yah... memang bukan gerakan bagus, aku tidak mengerti kenapa aku mencium bibir yang sama sekali tidak menarik! Tipis dan sangat biasa…" Ketika datang kemari, Draco berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan datang, bicara pada Harry dan pulang dengan damai. Tapi sepertinya apapun yang berurusan dengan Harry selalu membuat Draco kehilangan kendali diri, termasuk ciuman malam tadi. Maka ia mencibir dan Draco positif sebentar lagi mereka akan terlibat adu mulut lain.
"Oh? Tidak menarik? Dan kau menciumku selama satu menit penuh, asal kau tahu saja, Pervert!" Harry memainkan keahliannya yang sudah semakin terlatih sejak memulai syuting bersama Draco, membuat nada paling menyebalkan setiap kali bicara pada si Malfoy satu ini.
"Dan kau tidak menarik mulutmu, aku tahu kehidupan seksualmu membuat frustasi... Tapi bukankah kau seharusnya lebih bisa menahan diri... ck… ck… ck..." Draco memutar bola matanya dan memasang tampang mencemooh. Ia kini berdiri dan berhadapan dengan Harry yang tingginya tertinggal mungkin sejengkal.
Harry maju selangkah dan berkacak pinggang, "Seakan kehidupan seksualmu lebih baik Draco... Setidaknya aku tidak perlu meniduri setiap gadis yang ada di Hollywood untuk membuktikan keperkasaanku! Ferret!"
Draco mengeluarkan suara tawa yang mengejek luar biasa, "Kau? Perkasa? Tentu menyukai mahluk lain yang sama-sama memiliki penis bisa disebut perkasa, Scarhead!" Draco menatap jijik pada luka di kening Harry yang baru kali ini dilihatnya. Ia tidak perduli bagaimana hal itu bisa ada di sana, yang paling penting bahwa ia bisa menggunakannya untuk mencemooh Harry.
Muka Harry memerah kini. Draco tidak perlu membawa-bawa orientasi seksualnya dalam pertengkaran rutin ini. Selama beberapa detik ia diam. Draco melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya pongah, merasa menang.
"Kau tidak perlu mengingatkanku, kau tahu?" Harry kini kembali mengangkat wajahnya dan berusaha untuk mengeluarkan tatapan paling jahat yang bisa ia berikan pada sesama mahluk hidup. Tapi ia sendiri tahu ia tidak berhasil. Ia tahu ada setitik air mata yang menggenang. Dan ia tahu wajah panasnnya mengundang air mata.
Detik itu, ketika emerald dengan luka itu menatap Draco. Draco tahu ia telah menembus garis batasnya.
Diam mencengkeram ruangan.
Harry menarik nafas dan mulai bicara, "Bukan kau yang mereka sebut menjijikan, Draco. Bukan kau yang disebut Faggot. Bukan kau yang kembali mereka ingat skandalnya, Draco. Dan aku tidak memintamu mengerti. Sungguh! Karena selayak apapun kau dibenci, aku tidak akan pernah berharap ada manusia lain merasakan apa yang aku rasakan." Harry berhenti. Nafasnya tercekat. Dan setitik air mata tak bisa ia tahan.
Draco membuka mulutnya. Sepermili detik yang lalu kesadarannya berkata bahwa ia harus minta maaf. Tapi tidak ada yang keluar. Mulut tipisnya membuka dan ia hanya membiarkan kata itu tak terkatakan. Oksigen bertukar, tapi tak ada maaf yang terujar.
Ia tidak bisa minta maaf. Tidak pernah. Tidak pernah ketika ia menyesal. Tidak pernah bahkan ketika ia sungguh-sungguh merasa bersalah.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" Harry kini berjalan menjauh dari Draco, ke arah dapur. Ia menjangkau lemari di atas kompor dan mengambil sebotol kecil bir. Lalu bersandar di dekat dinding dapur. Draco diam di tempatnya berdiri saat ini. Tidak yakin apa ia sebaiknya mendekati Harry atau tidak.
Tapi posisi yang berjauhan mungkin lebih baik untuk mereka saat ini.
"Kau sudah mengerti posisi kita saat ini?"
"Ya." jawab Harry, singkat dan dingin.
"Kau keberatan dengan rencana yang kami buat?"
"Sedikit." jawabnya lagi, dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan.
"Bagian mana yang tidak kau setujui? Kita bisa membahasnya? Kau tahu, aku tidak keberatan mencari jalan tengah." Draco membiarkan delikan kejam Harry padanya. Harry punya alasan bagus untuk membencinya. Yah... pada dasarnya masuk ke rumah orang tanpa seizin pemilik rumah jelas alasan bagus untuk dibenci.
Pemuda jangkung itu mengulang beberapa alasan mengapa ia memilih mendatangi pengurus apartemen Harry, dan mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan, kau tahu? Sesuatu yang kita sebut kekuatan uang. Draco meringis dalam pikirannya, karena kini, ia sadar bahwa satu-satunya alasan ia memilih datang malam ini juga dan masuk begitu saja ke apartemen Harry Potter hanya karena ia ingin menunjukkan kekuasaannya.
Niat yang salah, pikirnya.
"Hei?" Draco memanggil Harry yang sudah meneguk habis birnya, dan jelas berusaha untuk mengabaikan keberadaan Draco saat ini.
Harry mendelik dan membuang dengusan mengejek pada Draco.
"Bagian dimana aku terlibat dalam hal ini... Apa kau tidak bisa membuat kekacauan lain dan tidak perlu melibatkanku, Ferret?" Cukup. Pikir Draco. Harry boleh marah seenak jidatnya tapi ia lebih membenci jawaban-jawaban dingin yang meninggalkan jejak hampa setelahnya dibandingkan kalimat-kalimat ejekan panjang Harry yang semakin kreatif dari hari ke hari.
"Dengar..." Ujar Draco sambil berjalan mendekat. "Jika aku punya pilihan lebih baik, aku juga tidak ingin terlibat dalam situasi kita saat ini."
Harry terkekeh geli, benar-benar terkekeh geli, "Oke. Kau tidak menyukai situasi ini, tapi kau menyarankan hal ini."
Draco berdiri, merebut botol bir kedua yang baru seteguk Harry minum. Ia kini berdiri diam di depan kabinet penyimpanan minumannya. "Aku tidak memerlukan pembicaraan ini, jika lawan bicaraku tidak bisa membuat dirinya tetap sadar selama proses pembicaraan ini."
Harry mendengus. Wajahnya mengejek tampang Draco, "Kalimat yang panjang, Malfoy… istirahatlah , itu pasti membuat otak udangmu terasa sakit."
"Dengar… Kita tidak menikah, kita tidak pacaran… Kau bahkan tidak perlu mengakui memiliki perasaan padaku, paham?" Harry mememundurkan punggungnya hingga ia merasakan dingin metal dari pegangan lemari di belakangnya. Wajah Draco terlalu dekat. Dan mata keabuannya benar-benar mengganggu konsentrasi Harry. "Yang perlu kau lakukan adalah diam, menerima segala pujian yang kuberikan, kau bisa meminum segelas bir sebelum kita tampil di depan paparazzi agar wajahmu terlihat bersemu merah, seakan kata-kataku berefek padamu. Kau hanya perlu menjawab ambigu pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini. Ada pertanyaan?"
"Kenapa aku?" Harry melepas kacamatanya dan memberanikan diri beradu pandang dengan sosok Draco yang sedikit mengabur kini. Genggaman tangan Harry pada kacamatanya lemah saja, dan alkohol plus kelelahan di tubuhnya membuatnya sedikit limbung.
"Karena lagu itu berasal dari puisimu." Untuk sesaat Harry tahu itu bukan kalimat yang ia harapkan. Ia berharap Draco mengatakan sesuatu yang jauh lebih jahat. Seperti 'kebetulan kau mangsa yang paling dekat' atau 'aku kasihan pada popularitasmu yang rendah' atau apapun. Dan bukan kalimat tentang puisi Harry. Bukan tentang sesuatu yang Harry ciptakan.
Hal yang paling tidak Harry harapkan adalah tatapan Draco padanya kini. Seakan ia benar-benar mengagumi puisi Harry. Seakan ia menghargai Harry kini karena puisi itu.
Harry tidak menyukai sekilas sinar kekaguman di mata Draco.
"Ah! Kau sedang membuat jembatan lain untuk kesuksesan album ketigamu…" karena Draco memutuskan untuk bersandiwara menjadi si baik hati. Harry memutsukan untuk melakukan sebaliknya. Ia akan melemparkan kenyataan paling kejam pada Draco sampai pemuda itu kembali menjadi tokoh antagonis tanpa sedikitpun kepura-puraan pada Harry.
"Dan memberikan sedikit publikasi mengenai betapa luar biasanya dirimu sebagai aktor. Harry, dunia entertainment adalah industri komersil. Kau butuh iklan untuk mempromosikan diri jika tidak ingin hanya menjadi pekerja paruh waktu." itu bukan jawaban yang Harry harapkan. Draco menghela nafas seakan menahan kesabaran. Ia menyisir ke belakang rambut platinanya, dan di ekspresinya ada rasa frustasi yang tidak Harry mengerti. Draco tidak perlu menjadi sabar pada Harry.
Draco membencinya. Ia sudah membuat hal itu digarisbawahi sejak hari pertama mereka bertemu secara langsung.
Harry tidak butuh Draco yang berubah pikiran.
Karena Harry bukan penggemar sesuatu yang disebut perubahan. Harry membenci Draco, juga. Dan tak ada yang akan bisa mengubahnya.
Kecuali… entahlah. Yang jelas Draco tidak membuat dirinya layak untuk Harry benci saat ini dengan wajah yang menahan emosi dan berusaha keras untuk bersabar. Menunggu respon Harry.
Tapi Harry pekerja keras, ia akan tetap berusaha membenci Draco.
Jadi, Harry menggeleng, lalu berusaha agar senyum tipisnya tetap dalam kadar minimum, "Melihatmu berada di apartemenku… Aku sungguh-sungguh membencimu. Aku nyaris berteriak 'Go to hell' begitu melihatmu mengobrak-abrik vynilku. Tapi rasanya neraka menjadi tempat terlalu bagus untuk seseorang semanipulatif dirimu."
"Tidak masalah, aku akan pergi ke neraka jika itu berarti memastikan dirimu masuk ke surga, Scarhead..." Harry tidak suka panggilan mengejeknya yang kini Draco keluarkan dengan suara husky yang menggoda. Dan ia tidak suka wajahnya yang bersemu merah dan ia benci pengetahuannya soal semu merah itu bukan disebabkan oleh alkohol. Tapi Draco.
"Aku tidak yakin pengorbanan 'si angkuh yang senang menyiksa hidup orang' sepertimu akan membantuku masuk surge, Ferret..." Harry sebisa mungkin menyembunyikan seringai sinisnya setelah kalimat barusan selesai.
Draco menyodorkan kembali botol bir Harry ke arah pemuda itu. "Aku hanya seorang oportunis seperti kebanyakan manusia lainnya. Setidaknya aku belum pernah membunuh seseorang. Bersikap baiklah sedikit padaku, Scarhead..."
Harry meneguk birnya. Lalu tersenyum tipis sambil memandangi tulisan komposisi di botol bir tersebut. "Jangan mengharapkan simpatiku, Ferret..."
Harry berjalan menuju kabinet penyimpanannya. "Kau mau sesuatu?" ujarnya ringan. Lalu sedetik kemudian cepat-cepat menambahkan, "Bukan sebagai tanda perdamaian, hanya menggarisbawahi bahwa aku tetap gentleman Inggris, meskipun tamuku masuk ke rumahku tanpa kuketahui."
Dan untuk sesaat Draco tertawa. Draco tidak yakin kapan terakhir ia tertawa, tapi ia benar-benar tertawa. Harry is cute. Pikirnya setelah tawanya mereda. Berdiri, little bit typsi karena alkohol. Menawarinya minuman lalu ketakutan bahwa Draco akan berpikir ia menganggap tawaran minumannya sebagai tewaran perdamaian.
Pandangan mereka bertemu, dan untuk sesaat Harry terlihat tersinggung karena tawa Draco. Jadi ia terburu-buru bicara, "What?! It's not my fault that you're look so cute when you're nervous...?!" Harry blushing untuk kalimat itu. Jadi Draco tertawa lagi dan membiarkan serbet yang Harry lemparkan padanya mengenai mukanya.
"Diam, Malfoy!"
"Oke.." Draco lalu berjalan menjauhi Harry. "Segelas kopi saja... Kau punya mesin pembuat espresso yang bagus..." lalu setelah sampai di depan televisi Harry. Draco berujar, "Bagaimana kalau The Nightmare Before Christmas menemani diskusi kita soal rencana 'berpura-pura saling jatuh cinta' ini?"
Harry menyahut dari dapur, "You're an asshole, Draco Malfoy!" ucap Harry dengan nada yang lebih pada merasa terpesona bahwa ada manusia seperti Draco Malfoy daripada terkesan jengkel.
"I'm such a kind of asshole that everybody love, duh. Kau harus terbiasa, Potter!"
Dan dijawab Harry sambil menggiling biji kopi, "Nah... Setidaknya kau punya selera film yang bagus…"
Maka dua jam kemudian untuk pertama kalinya dua musuh bebuyutan itu duduk berdampingan. Tidak mulai saling membunuh lewat tatapan, hanya sedikit ejekan yang jadi bumbu khas pembicaraan mereka. Harry menyetujui beberapa hal penting dalam sandiwara mereka kali ini;
1. Draco yang akan lebih banyak mengambil inisiatif, mengingat ciuman sebelumnya yang mereka bagi pun menunjukkan sisi agresif Draco.
2. Harry hanya perlu menjawab apa yang ia pikir sebaiknya dijawab, selebihnya Draco hanya meminta Harry untuk tersenyum jika tidak begitu ingin menjawab.
3. Harry setuju untuk membiarkan Draco menggenggam tangannya atau merangkul pundaknya, dan ciuman di pipi. Tidak akan ada ciuman di bibir, lagi, mereka setuju untuk menjaga 'hubungan mereka' tetap pada rate T.
4. Mereka akan melakukan ini sampai Draco kemudian memulai tur untuk album ketiganya, membuat kesan bahwa long distance-lah yang membuat mereka menjauh.
5. Harry tidak akan mau membacakan puisi lagi bersama Draco. (Draco setuju dengan sangat keberatan soal hal ini, tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Harry sudah banyak memberikan kompromi. Jadi, Draco akan membahas ini lain waktu. Kita tidak memanggil pemuda ini Draco Malfoy, jika ia tidak cukup keras kepala bukan?)
Harry setengah tertidur di atas sofanya, ketika Jack muncul dan bernyanyi pada Sally. Yang tadinya tengah merenung murung sendirian di atas salju. Tapi tengkorak itu muncul dan bernyanyi pada tubuh tanpa tulang Sally. Tubuh seorang hamba yang disiksa majikannya sepanjang hidupnya. Dan jatuh cinta pada sahabat yang tak pernah benar-benar melihatnya.
"My dearest friend…
If you don't mind
I'd like to join you by your side..."
Bersamaan dengan itu Draco berbisik pada Harry. "Seandainya, katakanlah aku harus melakukan cover lagu besok, kau ingin aku menyanyikan lagu ini?" Draco tidak mengerti apa poin yang sedang coba ia buktikan pada dirinya. Harry Potter sedang mabuk! Dan ia meminta saran soal lagu yang harus ia cover di radio nasinonal Inggris besok pada pemuda ini.
Brilliant, Draco... cibir pemuda itu pada dirinya sendiri.
Harry mengangkat sedikit kepalanya, menggeleng. "Nyanyikan sesuatu dari David Bowie." Lalu Harry terkekeh dan kepalanya terantuk pinggiran meja di dekat sofa ketika berusaha kembali menidurkan kepalanya di sandaran sofa. Ia meringis sesaat.
Draco mendekat, mengusap kepala Harry pelan sambil berkata, "Stupid." lalu tertawa. Dan Harry membalasnya dengan seringaian bangga yang membuat wajahnya tampak konyol.
"Where we could gaze into the stars
And sit together…" Draco sudah benar-benar mengabaikan film itu kini, membiarkan Jack bernyanyi sesuka hati.
"Life on mars." ujar Harry, nafas berbau birnya bisa tercium Draco yang kini duduk di lantai di samping kepala Harry. Mengusapi benjolan kecil akibat benturan tengkorak Harry versus kayu mahoni mejanya. "Suaramu akan cocok dengan lagu itu."
"Menurutmu begitu?" Draco tidak tahu apa yang sedang ia lakukan detik itu. Pembicaraan mereka soal hal-hal penting –tidak penting- sudah selesai sejak setengah jam lalu. Dan Harry sudah menceracau berbagai hal sejak 20 menit lalu ketika ia menenggak habis botol bir ke-7nya dalam sekali tenggak. Draco berkata pada diri sendiri ia hanya merasa mengkhianati Tim Burton jika pergi tanpa menyelsaikan filmnya. Dan jika ia jujur, sejak Harry mulai benar-benar mabuk, Draco jauh lebih merasa tertarik pada Harry yang berdebat dengan dirinya sendiri soal dunia rap old school dan Swag. Lalu ia membicarakan mengenai penguin dan obsesinya pada Benedict Cumberbacth. Membuat Draco berjanji pada Harry untuk menonton marathon Sherlock Holmes season 1-3 sebelum natal tahun depan, dan season 4 dimulai. Lalu bicara soal seharusnya Tim Burton-lah yang menyutradarai Frozen, bagian konyolnya adalah Draco mengiyakan ide Harry yang tengah mabuk itu.
Tapi ia sekarang mengabaikan film itu dan fokus pada wajah Harry yang tampak nyaman setelah menghabiskan 8 ½ bir. Matanya bahkan sudah menutup, Draco tidak punya alasan soal emerald Harry lagi kini.
Tapi ia menunggu sampai Jack menuntaskan lagunya, "And sit together…
Now and forever…
For its plain
As anyone can see
We're simply meant to be" lalu mendaratkan kecupan ringan pada luka di kening Harry.
.
.
.
"Kau tidak membunuhnya kan?"
Draco memutar bola matanya begitu pandangannya bertemu dengan Blaise di kaca spion, "Apa poin dari membuat skandal dan berpura-pura jatuh cinta pada lawan mainmu jika orang yang kau ajak berakting ditemukan mati mengenaskan di apartemennya?"
Blaise tak menjawab. Ia melempar pertanyaan lain setelah beberapa lama berkutat dengan saluran radio. "Jadi dia setuju?"
Draco melempar nafas berat. "Aku datang kemari bukan untuk meyakinkannya untuk menerima tawaran ini, kau tahu itu."
"Tidak. Aku tidak tahu. Mengingat pagi tadi kau bilang kau tidak punya alasan mencium pemuda itu dan setengah jam kemudian kau berhasil meyakinkan sebuah rencana yang terdengar sangat brilliant."
"Kau masih marah soal itu?"
"Aku tidak punya hak untuk marah, Draco..."
"Kau benar."
Lalu hening. "Besok, BBC radio 1... untuk sesi cover, aku… ingin mengganti lagunya…?" Draco mengakhiri kalimatnya dengan nada yang seperti bertanya. Karena ia tahu perubahan mendadak seringkali merepotkan.
"Sebenarnya mereka menelepon sekitar sejam yang lalu dan bilang bahwa mereka ingin mendengar Take Me to Chruch dibandingkan Time isn't Healing, jika kau tak keberatan?"
Draco tak menjawab. Blaise mengerti apa yang Draco pertimbangakan, jadi ia melanjutkan, "Ron bilang bahwa album ost Folie a Deux akan rilis seminggu setelah pemutaran perdana, tapi ia bilang tidak masalah untuk mulai membawakan lagu itu. Mereka sudah meluncurkan trailer pertama sejak seminggu lalu dan trailer kedua akan menyusul lusa. Lima hari video clip Take Me to Church, sudah siap dirilis. Jadi sedikit promosi awal bukan masalah, kurasa."
Draco mengeluarkan seringai tipisnya, "Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mengingat semua jadwal itu tanpa pernah terlihat mencatat?"
"Kau tidak perlu mengerti itu." ujar Blaise balas menyeringai. Dan menghentikan mobilnya ketika mereka mencapai lampu merah. "Jadi?"
"Selama aku bisa mengganti lagu untuk cover?"
"Deal." Jawab Blaise yang memanfaatkan lampu merah itu untuk mengirimkan email pada staf yang bersangkutan.
.
.
.
Ada dering memekakkan telinga. Harry berpikir bahwa alarm kebakaran menyala. Tapi setelah memaksakan diri membuka mata, ia hanya melihat hpnya yang begetar di depan meja kacanya. Televisinya memampangkan layar biru, bekas dvd yang tidak benar dimatikan. Untuk beberapa saat Harry bertanya-tanya apa setelah ini ia akan terbangun dan menemukan orang-orang menjadi zombie seperti di Walking Dead? Ia yakin kepalanya sepening Rick saat ini. Atau mungkin Jack Skellington setelah ia berpura-pura mnejadi Santa Claus dan membagikan sarang laba-laba sebagai hadiah natal.
Terserah. Pikir Harry.
Ia menutup mata lagi. Setelah melihat ke jam dinding dan memutuskan bahwa pukul 01.00 pm masih terlalu pagi untuk keadaan tubuhnya saat ini.
Tapi seseorang yang menghubungi telepon genggamnya sepertinya berpikir berbeda dari Harry. Karena ia menelepon lagi dan membuat benda elektronik sialan itu tidak berhenti bergetar. Tidak tahukah orang itu Harry baru semalam menghabiskan persediaan birnya untuk dua minggu?
Tapi ia akhirnya berusaha untuk duduk, dengan susah payah. Dan selain rasa pening di kepalanya, mual mulai menjalar dalam perutnya. Mengabaikan telepon genggamnya, ia berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali ia makan? Ah, ia memakan sepotong pizza yang Draco pesankan semalam.
Sebentar.
Pizza? Dengan jamur, Harry tidak menyukai jamur, tapi Draco tidak tahu soal itu.
Dan Draco? Sejak kapan ia membiarkan Draco memesankan pizza untuknya?
'Oh ya!' Harry tiba-tiba mendapat pencerahan. Lalu muntah sekali lagi. Setelah cuci muka dan menggosok gigi. Ia menatap wajahnya di cermin dan memasang tampang kesal pada dirinya sendiri.
Semalam Draco Malfoy entah bagaimana bisa berada di apartemennya. Harry lupa menginterogasi Draco soal itu. Dan sepertinya alkohol membuat Harry setuju untuk sedikit berdamai dengan Draco selama beberapa saat. Harry mentup mata dan mengatur nafas selama beberapa detik. Mencuci muka sekali lagi, membiarkan kerah sweater biru keabuannya basah oleh cipratan air.
Harry memutsukan untuk mengabaikan peningnya yang sudah jauh lebih baik setelah muntah terakhir tadi, mungkin Harry berhasil memuntahkan sebagian sel otaknya, yang pasti kepala Harry terasa lebih ringan.
Di meja kaca di depan sofa tempat ia tidur ada sobekan dua pil aspirin untuk mengurangi sakit kepala Harry dan sebotol air mineral yang masih tersegel. Harry curiga Draco Malfoy yang menyiapkannya. Dan kecurigaan Harry beralasan karena:
1. Seingat Harry, Draco satu-satunya manusia yang menyusup masuk ke apartemen Harry semalam.
2. Karena ada secarik kartu nama yang Draco gunakan untuk menulis pesan perpisahan sebelum meninggalkan Harry lengkap dengan tandatangan legendarisnya.
Tulisannya begini:
'Selamat menikmati Hangover, Scarhead.'
Harry meremas kartu nama itu dan melemparnya ke arah tempat sampah di ujung ruangan, tapi akurasi lemparan Harry jadi sangat buruk pagi ini dan lemparannya meleset jauh. Setelah meminum obatnya dan memutuskan untuk memesan delivery dari Taco Bell. Harry baru memberi perhatian pada HPnya. Ada lima panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat, menyuruh Harry untuk membuka email secepatnya. Harry bisa membuka email di ponsel pintarnya, tapi perutnya butuh asupan jadi ia memustukan bahwa menghubungi Taco Bell lebih penting saat ini untuk kelangsungan hidupnya.
Sambil mengatakan pesanannya, Harry mengeluarkan laptopnya dari bawah meja kaca dan mulai membuka email. Ada banyak spam dan pemberitahuan tidak penting juga beberapa tawaran pekerjaan dari nama-nama yang tidak Harry kenal sebelumnya. Harry menemukan email Hermione yang hanay berisi dua baris alamat link.
Harry mengklik link pertama. Dan laptopnya memuta tab baru, membuka channel official BBC. Ada sebuah video dengan wajah tertawa Draco Malfoy yang ter-pause. Harry membuka videonya.
Isinya wawancara. Draco menjelaskan mengenai seberapa signifikan nantinya perbedaan album ketiganya dengan musik-musiknya yang sebelumnya. Ia ditanyai mengenai hal-hal tidak penting soal mantan pacarnya. Reaksinya soal Taylor Swift yang sekarang bersama pria lain, Draco jawab dengan setengah dingin. Draco ditanyai tentang film terbarunya. Pengalamannya di ajang Oscar. Kembali ke album ketiga. Membicarakan Time isn't Healing. 13 menit 23 detik dari video itu si pewawancara sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk membicarakan skandal.
Tapi pada menit ke 24 ia mulai tersenyum tak nyaman dan bertanya, "Jadi… Kita semua dibuat gempar dengan isu hubunganmu yang terbaru Draco? Kau bersama Harry sekarang?"
Draco membuat gerakan berpura-pura menengok ke kiri dan kanan, lalu menjawab, "Aku tidak melihat ada Harry Potter di sekitar sini, jadi bisa kau lihat sendiri aku tidak sedang bersamanya sekarang." Draco mengeluarkan nada bercanda, tapi Harry bisa melihat bahwa ada kekesalan yang Draco tutupi sebaik mungkin.
"Kau tahu bukan itu maksudku, Drac…" jawab si pewawancara berusaha akrab. Sayangnya malah berhadiah delikan sinis yang jika tak kau pelototi baik-baik akan terlewat oleh kamera.
Draco menarik nafas, seakan benar-benar memikirkan jawabannya, "Kurasa untuk saat ini penggambaran yang tepat mengenai kami adalah bahwa kami senang memiliki interaksi yang mirip rollercoaster. Kami bsia bertengkar dan Harry bisa sangat manis pada saat-saat tertentu." Harry tanpa sadar bertepuk tangan. Draco benar-benar punya bakat mumpuni dalam berakting, ia terlihat seperti benar-benar sedang membicarakan seseorang yang ia kagumi.
Lalu pewawancara membacakan beberapa tweet random yang bertanya pada Draco Malfoy. Dua pertanyaan terdengar manis yang sepertinya didapat dari fans-fans fanatik yang akan membela Draco apapun yang dilakukannya. Tiga pertanyaan untuk meminta saran dalam berakting atau bernyanyi. Dua pertanyaan mengenai tantangan soal bermain sebagai gay. Sebuah pertanyaan soal apa yang Draco suka minum untuk pesta? Yang dijawabnya dengan double espresso dengan dua sendok gula. Pertanyaan lain dengan apa warna celana dalam Draco saat ini, Draco jawab dengan seringai jahil bahwa ia tidak memakai celana dalam saat ini (tolong garisbawahi bahwa Harry tidak blusing sama sekali— Dan tentu Harry tidak membayangkannya, you guys. Jangan memfitnah Harry dengan kebenaran, karena itu bukan fitnah lagi namanya). Lalu terakhir sebuah pertanyaan iseng yang sepertinya sengaja disimpan tim kreatif acara itu untuk terakhir.
" StumpyHeart bertanya begini, kau bisa ceritakan bagaimana rasa bibir Harry Potter?"
Yang Draco jawab singkat, "Seperti wine." Lalu tertawa dengan semu merah. Sementara Harry blushing pada layar laptopnya. Setelah beberapa saat ia menambahkan, "Ah! Dan hangat, seperti rumah…"
Harry bisa mendengar suara 'Awww…' sok imut yang tidak hanya dikeluarkan oleh pewawancara di hadapan Draco tapi juga beberapa orang di belakang layar.
Dan sesi tanya jawab selesai. Harry menemukan dirinya menenggak habis air di botol mineralnya untuk menanggulangi panas di pipinya. Seingatnya minum terlalu banyak alkohol tidak pernah membuatnya demam sebelumnya.
Harry menggeleng pada diri sendiri. Entah untuk apa. Mungkin untuk meyakinkan diirnya kalau Draco sama sekali tidak membuat wajahnya memerah. Sama sekali tidak. Meskipun, oke, Draco mungkin terlihat tampan sekarang ketika dengan excited menjelaskan soal lagu yang akan dicovernya pada sesi berikutnya. Harry menangkap nama David Bowie. Lalu dengan senyum penuh makna berkata bahwa ini request dari seseorang yang spesial.
Dan Harry mengingatkan hatinya untuk tidak terlalu berharap, karena sepengetahuannya ia tak pernah me-request lagu apapun pada Draco.
Setelah basa-basi, dua detik kemudian durasi video itu habis dengan ditutup oleh copyright.
Harry menutup tab tadi dan mengklik link berikutnya. Kali ini laptopnya membuka laman Youtube.
Ada wajah Draco Malfoy lagi, dan gitar akustiknya. Mempromosikan untuk men-subscribe channel lalu latar berganti. Harry mengenali pemain keyboard di belakang Draco sebagai gadis yang waktu itu menemani Draco dan Harry di lagu Take Me to Church. Ada seorang penabuh perkusi dan gitar akustik lain.
Lalu alunan nada yang familiar di telinga Harry memenuhi ruangan. Life on Mars, Harry tersenyum.
Draco mulai 'bicara'.
"It's a god-awful small affair
To the girl with the mousy hair
But her mummy is yelling 'No'
And her daddy has told her to go"
Harry menikmati bahwa suara Draco berpadu indah dengan melodi lagu ini. Harry harus mengakui siapapun yang meminta Draco menyanyikan lagu ini punya kejelian untuk memilihkan lagu yang sesuai dengan suara Draco.
"But her friend is nowhere to be seen
Now she walks through her sunken dream
To the seat with the clearest view
And she's hooked to the silver screen"
Harry membawa laptopnya ke pangkuannya dan menyamankan duduknya di sofa tanpa mempause videonya. Mengabaikan peringatan alam bawah sadar soal bahaya radiasi laptop pada kakinya.
"But the film is a saddening bore
For she's lived it ten times or more
She could spit in the eyes of fools
As they ask her to focus on..."
Lirik ini terpotong Harry mengantisipasi kenaikan nada suara Draco untuk memasuki chorus.
"Sailors fighting in the dance hall
Oh man! Look at those cavemen go
It's the freakiest show
Take a look at the Lawman
Beating up the wrong guy
Oh man! Wonder if he'll ever know
He's in the best selling show
Is there life on Mars?"
Harry tanpa sadar ikut menggumamkan kalimat-demi kalimat tanpa suara. Lalu musik kembali pada tempo yang lebih lambat. Mengayun pelan dengan balutan blues klasik. Suara Draco memang jauh lebih ringan dibandingkan suara berat David Bowie. Harry paham kenapa Draco membuat versi life on marsnya lebih mendekati blues.
Harry menggumamkan bersama Draco verse berikutnya. Lalu tak bisa melepas senyumnya ketika Draco menutup mata untuk menggumamkan…
"Oh man! Wonder if he'll ever know
He's in the best selling show"
Petikan gitarnya terasa genting. Draco menjeritkan kalimat terakhir dengan nada yang jauh lebih tinggi dibandingkan nada-nada sebelumnya.
"Is there life on Mars?" Harry ikut menutup mata hingga lagu benar-benar habis nada sungguh-sungguh purna.
Dan beberapa detik sebelum video itu habis, Draco mengambil tumpukan kertas-kertas nada, secarik kertas. Lalu menunjukkannya dengan seringaian jahil.
'How's the hangover, Scarhead?' xoDM
Dan jika Harry membuat pengantar Delivery Taco Bell memencet bel selama tiga menit penuh sebelum Harry membukakan pintu. Harry mengatakan pada dirinya sendiri itu bukan karena seringai jahil Draco yang terlihat atraktif atau bahwa menurut Harry pesan konyol di akhir video tadi, sweet. Oke mungkin sedikit.
Tapi itu bukan apa-apa.
Sama sekali. Bukan apa-apa.
.
.
.
TBC
Agh! Ini terlambat banget! Astronaut juga belum diberesin chap selanjutnya. Saya lagi banyak tugas banget di kampus. Ngambil 10 matkul adalah ide bagus untuk mempercepat lulus tapi bukan ide bagus kalau kamu punya hutang beresin ff yang numpuk. Mana orang-orang di rumah kena flu berjamaah lagi?-_- *malah curcol*
Well, doakan saja saya sehat selalu dan punya cukup banyak inspirasi untuk melanjutkan ini.
Maaf kalau ada kesalahan atau kata-kata yang kurang menyenangkan. Saya ngetik ini buru-buru, curi-curi di antara waktu nugas. Dan Erel jadi sedikit ga yakin soal setting waktu ff ini. Tadinya mau ngambil sekitar 2014, tapi karna bawa-bawa TS sama Calvin Harris settingnya ga mungkin 2014. Iya ga sih? Yah.. entahlah.. saya juga ga terlalu detail mereka mulai dating kapan. Dan sebenernya ini ff juga soh jadi suka-suka saya aja ya soal setting waktu..XDDD
Makasih untuk komentar dan supportnya. Dan Buat seseorang bernama Yuyu yang sampai ngekomen 2 kali..-_-v. Yah, pokoknya yang baca ff saya mah harus sabar aja.. soalnya author kalian suka sok sibuk..
Terakhir seperti biasa, salam kecup basah.
Erelra
