Hi, Erelra masih hidup saudara-saudara...

lama tak berjumpa. Karena lama tak berjumpa, mungkin sebaiknya kalian baca dulu chap sebelumnya , sebelum lanjut ke chapter ini.

Salam kecup basah..:*


Part 3


"Jadi, apa yang membuatmu tertarik pada peran ini, Harry?"gadis pewawancara di hadapan Harry menebar senyum mencurigakan. "Selain bahwa ini film sahabatmu dan Kau bisa bermain dengan calon 'kekasihmu'?" Sekarang Harry tahu kenapa senyum gadis itu mencurigakan.

Ia menarik nafas dan mengacak rambut hitamnya. "Well, Ron memang tidak memintaku untuk casting, ia menawariku peran ini dan bilang 'aku membuat naskahnya dari puisimu, tentu Kau yang harus memainkan peran ini'. Aku membaca naskahnya dan setelah memastikan tidak ada adegan telanjang aku mengambilnya."

Harry memilih untuk menikmati tawa kameramen mereka dan mengabaikan tatapan kecewa pewawancara di hadapannya karna ia memilih mengabaikan frasa 'calon kekasih'. Harry lebih memilih mengedarkan pandangan pada ruangan backstage itu. Harry akan tampil dalam sebuah episode kuis yang sedang naik daun ratingnya di salah satu tv nasional. Tapi Hermione bilang ia harus meladeni sebuah wawancara dari salah satu majalah gossip remaja. Perintah dari Lockhart, Hermione tidak bisa bilang tidak.

Setelah menenggelamkan dirinya lebih dalam di sofa empuk ruang tunggu, Harry mulai menjawab pertanyaan berikutnya,"Aku tidak tahu apa yang Draco katakan pada kalian. Ia teman yang baik. Kami berciuman beberapa kali untuk keperluan adegan dan beberapa kali untuk 'kepentingan pribadi'. Aku rasa bukan hal besar."Harry menahan diri untuk tidak memutar bola matanya ketika ia melihat pewawancaranya menahan senyum excited mendengar frasa 'kepentingan pribadi'.

Harry belajar beberapa kata-kata ambigu akhir-akhir ini. Harry tidak yakin harus berapa lama lagi mereka berakting seperti ini. Sudah hampir sebulan, dan lusa adalah penayangan perdana film mereka. Harry setengah berharap bahwa orang-orang tidak memakan umpan gossip yang ditebar media. Meskipun Harry membantu mengompori, ia sama sekali tidak tertarik untuk terlibat lebih jauh dari ini. Tapi masa bodoh soal harapan, Harry tahu orang-orang diluar sana menyukai gossip mengenai mereka tanpa perlu dikompor-kompori media.

Yang jelas saat ini, ia kelelahan. Kenapa?

Karena ini sungguh-sungguh melelahkan. Kata-kata pujian Draco semakin terdengar tulus dari hari ke hari. Harry tidak bisa menahan kikikan geli yang lalu memancing senyuman manis dari Draco. Senyuman yang sangat manis, sampai-sampai Harry merasa harus pergi memeriksakan gula darahnya ke dokter spesialis. Harry benci merasa seperti gadis 15 tahun yang baru pertama kali merasakan ciuman pertama setiap kali Draco mencuri ciuman di pipi atau di dekat bibirnya. Itu sering terjadi ketika Draco melihat ada kamera papparazi yang mengikuti mereka keluar. Atau ketika sedang diwawancara bersama. Atau ketika Harry terpaksa membacakan puisi sambil menemani Draco menyanyi karena pemintaan mendadak produser acara atau sugesti impulsive si pembawa acara. Harry tidak bisa menolak.

Harry benci tatapan Draco padanya setiap kali kamera terlihat menyorot fokus pada mereka. Tatapan penuh cinta. Acting kelas atas yang tak bisa Harry tandingi sampai kapanpun juga. Harry tahu itu.

Karena jika orang-orang lalu melihat semu merah di pipinya. Atau Harry yang buru-buru memalingkan wajah karena malu. Itu sama sekali bukan acting sekelas Draco. Itu reaksi alami yang tak bisa Harry kendalikan.

Ia membenci tubuhnya. Lebih tepatnya system respon kulitnya setiap kali ia bersentuhan dengan Draco.

Ia membenci jantungnya. Lebih tepatnya sirkulasi darah ke jantungnya yang tiba-tiba memompa lebih cepat jika Draco melakukans esuatu yang manis untuknya.

Ia membenci pikirannya.

Harry tidak boleh berfikir kalau ia jatuh cin— tidak ia sama sekali tidak boleh memikirkan hal itu.

Karna bagi Draco ini hanya latihan untuk mengasah aktingnya. Karena bagi Draco semua ini hanya bisnis. Karena bagi Draco, Harry masih tetap aktor kelas 2 yang tak sebanding dengannya. Dan ia masih tetap laki-laki dan Draco tidak pernah benar-benar tertarik pada sesama jenis. Bualan soal menjadi 'Bi' diluar sana hanya ia katakan untuk membuat sandiwara mereka masuk akal.

Harry tahu hal itu karena Draco akan terburu-buru melepas genggaman tangan begitu tak lagi merasakan keberadaan kamera papparazi. Ia menatapnya dingin setiap kali harus bertemu Harry, dan mendengus lelah setiap kali harus memasang wajah bahagia khas pria kasmaran pada Harry. Ia akan langsung pergi ke toilet dan membasuh wajahnya setiap kali habis mencium pipi atau sudut bibir Harry.

Harry tidak tahu seberapa lama lagi ia kuat.

Kuat untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Draco hanya bersikap professional. Tidak perlu tersinggung. Tidak perlu merasa sakit hati.

Harry yang mengiyakan kontrak ini.

Harry tidak bisa mundur begitu saja kini.

"Untuk ke depannya apa ada rencana untuk duet resmi? Kolaborasi antara puisimu dan melodi Draco? Karena seperti kita tahu Take Me to Chuch sudah berada di peringkat sepuluhbillboard di minggu pertamanya dan pre-order soundtrack film terbaru kalian berada di peringkat runner up."

Harry memasang senyum anak manisnya pada nada pujian yang tersirat di kalimat gadis itu. Ia berfikir sebentar dan menjawab,"Belum ada rencana apapun. Aku bahkan tidak tahu kalau puisiku yang digunakan sebagai lirik. Dan kurasa album ost. Kami wajar berada di peringkat itu karena cukup banyak musisi yang tengah naik daun yang mengisinya. Maksudku siapa tidak ingin membeli album yang diisi oleh Lily Allen, Ed Sheran, Ellie Goulding dan suara emas Adele. Terlebih ada Draco di dalamnya sebagai salah satu musisi paling kontroversial namun dicintai banyak orang. Aku akan sangat kecewa pada dunia ini, kalau kalian tidak membelinya."pewawancara dengan hoodie biru yang kekanakan di hadapannya tertawa renyah. Harry menikmatinya.

"Baiklah, terima kasih atas waktunya."setelah menyalami Harry wartawan itu berbalik dan mengucapkan salam perpisahan dan slogan majalahnya. Lalu 'cut'. Dan sesi wawancara selesai.

"Terima kasih untuk wawancaranya, Mr. Potter.."

Harry menggeleng,"Aku sudah bilang, Harry saja. Kalau kau ingin bertemu Mr. Potter Kau bisa menemui ayahku di kantor real estate-nya." Gadis itu menggeleng dan tertawa lagi. Harry tidak yakin bahwa ia mengatakan sesuatu yang lucu. Tapi ia senang-senang saja membuat orang lain tertawa.

"Ok. Harry… boleh aku menanyakan pertanyaan pribadi? Ini tidak akan masuk ke dalam artikel ataupun tambahan di footprint video nanti." Harry menengok cameramen mereka yang sudah membereskan kamera dan perlengkapannya. "Bagaimana pendapatmu soal legalitas pernikahan sesama jenis yang sedang diperjuangkan di AS? Karna yah… Aku seorang 'bi' dan sedang memiliki kekasih wanita sekarang."

Harry yakin sinar matanya melembut. Harry selalu punya sisi istimewa untuk setiap teman yang mengalami hal yang sama, kebingungan dengan orientasi seksual. Dan rasa percaya diri gadis ini… is so refreshing. Harry yakin gadis ini lebih muda beberapa tahun darinya dan ia terlihat sangat percaya diri soal orientasi seksualnya yang masih dianggap tabu bagi kebanyakan orang.

"Aku tidak begitu suka berita, jadi aku tidak mengikutinya. Bukan tipe aktivis juga, tapi kurasa AS adalah sebuah negara yang kuat… dan perubahan disana akan memicu banyak perubahan juga di dunia."

"Yah.. Kau benar.. Dan dunia sudah mulai merasa terancam seakan kita adalah alien yang akan mengambil alih kehidupan mansuia. "ia tertawa pada leluconnya sendiri, Harry mengimbangi dengan sekedar senyum tipis. "Aku harap Kau dan Draco bisa mempertahankan hubungan kalian, aku skeptis pada awalnya. Maksudku, ini seorang Draco Malfoy yang mengelabui seperempat populasi wanita single di Hollywood dan sekarang ia mendeklarasikan dirinya sebagai Bi dan sedang berusaha mendekatimu."ia tertawa lepas selama beberapa saat lalu melanjutkan. "Kedengarannya konyol. Tapi bagi pacarku, kalian akan menjadi contoh pertama pasangan gay di kalangan selebritis inggris. Dan itu bagus untuk penerimaan kami."

"Kukira contoh utama pasangan gay sudah diambil Elton John dan kekasihnya…"Harry menjawab sambil berusaha untuk tidak memutar bola matanya pada kebenaran yang tak disadari wanita itu. Ia mengatakan fakta,bahwa semua ini lelucon. Yang sama sekali tidak lucu, Harry pikir.

"Lagipula…Kami belum punya hubungan resmi. Tidak ada yang bisa dicontoh dari kami."

"Begitupun aku dan kekasihku sampai kemudian ia cemburu ketika melihatku berdansa dengan pria lain di sebuah club kotor di Manchester. Aku mendekatinya selama 4 bulan penuh dan dia tidak terlihat tertarik sama sekali. Tunggu, sampai Kau melihat Draco lelah dan mulai berdansa kembali dengan gadis lain. Kau akan merasa cemburu dan berhenti mengingkari perasaanmu."gadis itu tidak tertawa kali ini, ia mengeling jenaka pada Harry. Lalu matanya membulat seakan baru menyadari sesuatu. Pupil biru terangnya lalu merasa bersalah. "Sorry.. aku seharusnya tidak mengatakan itu... kau teman bicara yang menyenangkan Mr. Potter… aku minta maaf seharusnya aku tahu dir—"

Harry tersenyum lembut,"Bukan masalah. Kau bisa bercanda apapun padaku."lalu diam, Harry mulai bicara lagi"Aku tidak merasa dalam fase denial… Hanya saja, Kau tahu, ini Draco Malfoy dan Kau tidak bisa begitu saja mempercayainya."Harry menggigit bibir bagian dalamnya dan menyesal seketika itu juga mengatakannya.

Bagus Harry.. curhat pada orang asing tentu akan membantu masalahmu..

"Aku mengerti.."ia tersenyum dan menepuk pelan pundak Harry. "Aku dan kekasihku baru membuka sebuah kedai kopi di sudut jalan dekat Cleopatra Needle." Harry berterimakasih karena gadis itu berbaik hati memindahkan topik pembicaraan.

"Kedengarannya tempat yang bagus untuk berbisnis.."Harry menyambut umpan dan mencoba melupakan yang ia katakana pada pembicaraan sebelumnya.

"Sejauh ini? Ya. Aku harap aku bisa fokus pada pengelolaan tempat itu dan meninggalkan pekerjaanku sekarang." Ia berbalik sesaat untuk mengecek teman kerjanya yang masih sibuk dengan perangkat kamera. " Kau tahu… bukan impian setiap orang untuk menjadi papparazi yang mengejar-ngejar aib orang lain?"

Harry tersenyum iba,"Yah.. Sejauh ini anak-anak lebih suka menyebutkan cita-cita seperti pilot atau dokter.."

"Tapi beginilah hidup ya kan? Aku hanya ingin menulis novel, tapi mencari pekerjaan di London sangat sulit jika mereka menganggapmu tidak cukup berbakat."

Harry membiarkan tangannya menepuk pundak gadis itu. Ia cukup manis, juga manusiawi dan tidak begitu intimidatif jika tidak sedang mewawancarainya di depan kamera. "Kau tahu, Kau bisa mengirim alamat kafemu ke twitterku dan aku akan menyempatkan membuat beberapa tweet untuk mempromosikannya.."

"Seriously?"

"Yeah.. Twitterku mungkin bukan twitter terkenal seperti twitter milik Kardashian, tapi aku juga punya centang biru. Jadi.. kurasa kau akan dapat beberapa tambahan pelanggan.." Harry melebarkan senyum aktor inggris manisnya pada gadis itu.

Lalu pintu membuka dengan dramatis,"Mr. Potter, 5 menit lagi!"Dan gadis itu hanya sempat tersenyum kecil sebelum diminta pergi (red. Disingkirkan) oleh kru acara dari ruang ganti itu.

Hermione akan marah padanya. Harry pikir.

Ini bukan pertama kalinya Harry menawarkan bantuan kecil semacam ini. Dan Hermione selalu akan menasehatinya berjam-jam soal menjadi baik hati dan terlalu terbuka adalah sesuatu yang salah dalam bisnis ini.

Kau ada di industry paling kejam dalam sejarah manusia, Harry. Berhenti bersikap seperti ibu peri.

Terkadang Hermione benar. Seperti ketika ia membantu menyebarkan fan mail yang menceritakan soal seorang fans yang mencari ayah kandungnya, yang terpisah darinya sejak ia berusia 5 tahun. Dan ternyata ayahnya adalah salah satu pemuka partai yang sedang berkuasa dan skandal fans Harry sebagai anak haram sempat heboh selama beberapa waktu.

Atau ketika Harry memulai hashtag #dontblameHER untuk membela seorang penata make up yang dilecehkan seorang produser musisi inggris ternama. Tanda pagar itu menjadi trending selama beberapa hari, dan sebenarnya tak ada yang benar-benar tahu siapa yang memulainya, jika si penata make-up itu tidak menyebut nama Harry ketika konferensi pers. Hermione harus bolak-balik ke pengadilan untuk bernegosiasi soal Harry yang dituntut oleh sang produser atas pencemaran nama baik.

Atau yang lainnya dimana Harry seharusnya berfikir 20 kali sebelum terlibat dengan urusan orang lain.

"Mr. Potter, stand by!" seseorang berteriak lantang lewat walkie talkienya dan meminta untuk mempercepat langkah (red. Mendorong) Harry menuju ke belakang tirai merah panjang yang menjuntai. Para kru berseliweran, Harry berfikir bahwa ia seharusnya memakai kacamatanya. Atau setidaknya tidak melupakan tetes matanya pagi ini.

Ingatkan kembali kenapa Harry setuju untuk operasi laser? Oh ya. Karena penampilan kutu buku dengan kacamata tebal tidak cocok dengan image aktor tampan yang berusaha ia tampilkan.

"Pull it on 3…. 2…. 1…." Harry melebarkan senyum profesionalnya begitu mendengar namanya di teriakan dan cahaya lampu menyorot ke arahnya. William Rookwood, lelaki tinggi besar dengan rambut setengah memutih dan setengah cokelat madu, sang pembawa acara, menyambutnya dengan jabat tangan hangat dan Harry berusaha untuk secara hati-hati menjawab setiap lelucon yang dilemparkan padanya.

"Welcome to Music Coliseum!", Harry membiarkan pria itu memeluknya sekali lagi dan membalas jabat tangan eratnya sekali lagi. "Jadi? Apa Kau siap menjadi gladiator musik malam ini , Harry?"

"Oh.. ya…" ucapnya sedikit terlalu pelan dari yang ia harapkan. Harry berusaha mengingat wajah tenang Hermione saat mengantarnya kemari 2 jam yang lalu. Tenang… dan berbicaralah dengan santai…

"Hanya oh ya? Dimana keyakinanamu anak muda?! Kau akan bemain di Coliseum , Kau harus menjadi gladiator tangguh berkeyakinan baja!", Harry bisa mengerti kenapa pria ini punya cukup banyak acara tv yang dipresenterinya, entah bagaimana Harry bisa melihat tanda seru pada setiap kalimat yang dikeluarkannya.

Ia bisa membuat orang lain antusias pada sesuatu yang padahal tidak butuh antusiasme. Harry tidak pernah menonton televisi, ia lebih suka membaca, terima kasih sudah bertanya. Tapi jika ia harus menonton tv, ia pastikan bukan acara ini yang ditontonnya.

Tapi ini acara terkenal, Harry harus mengatakan kalimat ajaib yang setiap bintang tamu katakan tentang sebuah acara terkenal," Aku sangat menyukai acara ini… Senang akhirnya bisa diundang kemari.."Dan percayalah, Harry benar-benar senang bisa diundang ke acara sebesar ini.

Setidaknya itu menunjukan bahwa kuis besar ini menganggap Harry layak untuk menarik rating penonton.

"Benarkah? Sebuah kebanggaan… Episode apa yang paling kau suka dari pertunjukan si Pak tua ini?"Harry tahu trik ini, sebuah trik untuk mempermalukan bintang tamu yang mengatakan bahwa ia menyukai acaramu walau sebenarnya tak pernah menontonnya.

"Kau tahu, episode Channing Tatum dan Rachel McAdams.. Aku tidak tahu… kurasa kita tidak pernah berfikir bahwa kita butuh melihat Channing Tatum dalam kostum santaklaus menarikan 'Jingle Bell Rock'… sebelumnya, tapi setelah melihatnya, aku butuh merekamnya dan mengulangnya beberapa kali. That's just epic!"Harry memakai kualitas aktingnya untuk menunjukan betapa ia menyukai hal itu. Walau sebenarnya itulah satu-satunya episode yang benar-benar ia tonton bersama Hermione kemarin. Dan lagipula siapa yang menolak melihat otot Channing Tatum dalam kostum santa. Harry bersyukur ia gay dan dengan begitu ia bisa mengagumi otot pria sesuka hatinya tanpa perlu takut disebut gay. Ya, karna dia memang gay. Dan mengagumi tubuh Channing Tatum benar-benar sesuatu yang normal.

He is a Sexy Santa…

Harry akan berhenti jadi anak nakal jika Santa Klaus yang datang ke rumahnya setampan itu. Ok. Fokus Harry.

"Ouh… Kau punya selera yang bagus… Tapi… kuharap Draco tidak keberatan jika malam ini Kau kami pasangkan dengan pria lain yang tidak kalah tampan dibanding Channing Tatum?",Harry menggelengkan kepalanya dan memainkan ekspresi wajahnya agar berkesan bahwa ia tidak perduli tapi cukup perduli? Kau tahu seperti ketika kau baru putus dan berkata kau tidak sedang berusaha membuat mantanmu cemburu padahal sebenarnya iya? Yap. Ekspresi semacam itu.

"Kau bisa tempati posisimu Harry.. Dan malam hari ini yang akan menemani Harry Potter menaklukan 5 tantangan musical kami adalah…" musik dramatis dan sedikit terlalu upbeat menurut Harry mengiringi tirai yang terbuka. Harry tidak mengerti kenapa mereka menyembunyikan siapa yang akan menjadi partner Harry malam ini? Karena apa gunanaya sebenarnya kejutan jika pada akhirnya Harry akan bertemu juga dengan si bintang tamu misterius ini pada akhirnya?

Tapi Harry bersikap professional dan berusaha menahan ekspresi bosannya sambil menyiapkan ekspresi terkejut terbaiknya, menyiapkan timingnya agar pas ketika tirai benar-benar tersingkap.

Harry bertepuk tangan. Bersorak bersama keriuhan yang penonton buat.

Sampai tirai benar-benar terbuka.

Dan disanalah dia. Hantu dari masa lalu Harry.

NO WAY! Harry berteriak panik dalam otaknya. Apa ia bisa berpura-pura pingsan sekarang?

Tidak, ia tidak bisa.

Apa ia boleh berharap tiba-tiba ada bom meledak sekarang?

Tidak, ia tidak boleh.

Apa yang bisa ia lakukan? Apa yang bisa kulakukan?

Harry menarik nafas, menarik senyum. Menarik langkah-langkah panjang untuk mendekat kembali kepada William si pembawa acara dan tamunya yang lain…

"Cedric Diggory! Beri tepuk tangan yang meriah!", Harry bisa melihat tanda seru tak kasat mata dan mencium bau mengolok-olok dari kalimat yang dikeluarkan si pembawa acara. Harry bisa melihat dirinya di kamera dan ia tahu kakinya mati rasa. Ia berusaha keras untuk tersenyum.

Hermione tidak tahu. Harry pikir, tadi pagi Hermione hanya bercanda ketika ia bilang ia tidak tahu siapa bintang tamu lainnya. Dan berkata bahwa semua Lockhart yang atur. Tapi jika Hermione tahu ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan kedatangan Harry di acara ini.

Hermione tahu satu nama tabu yang tidak boleh berada satu ruangan dengan Harry.

Harry tahu ini konyol dan kekanakan.

Tapi ia tidak bisa. Ia selalu menghindar. Dan sejauh ini ia selalu berhasil menghindar untuk berurusan dengan nama ini. Harry pikir mungkin 20 tahun lagi ia siap. Mungkin. Setidaknya 10 tahun lagi.

Sampai Harry siap untuk berhadapan dengan senyum tanpa dosa milik Cedric.

Cinta pertama.

Dan lelaki yang menghancurkan hidup Harry tanpa rasa bersalah.

William Rookwood meninggalkan keduanya untuk menjelaskan peraturan permainan pertama kepada sebuah kamera dalam jarak dekat. Mata cokelat lelaki tersebut bertemu emerald Harry. Harry berpaling dan berusaha untuk tidak menangis.

Mata yang sama, dengan kesenduan yang sama.

"Hai Harry.."Harry menarik senyum simpul. Berusaha mengabaikan hatinya yang terasa ditusuk trisula Neptunus ketika suara itu menyebut namanya lagi.

"Hi.."Harry tahu ia harus professional. Tapi ia tidak bisa menyebut nama lelaki ini.

Tidak setelah ia mengabaikan semua telepon dan pesan suara penuh tangisan yang Harry buat, dan puluhan lainnya yang Harry kirimkan tanpa tangisan karena ia terlalu lelah menangis. Tidak setelah ribuan email dan surat yang Harry kirimkan. Harry meminta maaf padanya. Meskipun Harry cukup cerdas bahwa bukan ia yang bersalah atas apa yang terjadi. Tapi Harry tetap meminta maaf.

Tapi Cedric juga tetap mengabaikannya.

Harry berkata ia akan menghilang. Dan ingin bertemu untuk terakhir kalinya.

Tapi Cedric tak pernah datang.

Bukan salahnya jika mereka tertangkap kamera berciuman di belakang bar kotor di sudut kota Manchester.

Bukan salahnya bahwa saat itu ia adalah remaja 15 tahun yang jatuh cinta dan ingin memperjuangkan orang yang dicintainya. Meskipun orang itu adalah lelaki yang lebih tua 3 tahun dan memiliki kekasih.

Bukan salahnya jika ia tidak mengerti bahwa saat itu public belum siap dengan bintang remaja mereka yang menjadi orang ketiga dalam hubungan The cutest couple in London. Harry menyukai Cho Chang. Dan bukan salahnya jika ia sedikit lebih mencintai Cedric saat itu.

Bukan salahnya jika ia mengabaikan image anak baik-baiknya dan pergi ke bar bersama 'kekasih'nya meskipun ia masih di bawah umur. Pergi minum-minum hingga mabuk dan merasa bebas meskipun hanya semalam.

Bukan salahnya jika ia tidak ingin minta maaf pada publik karena ia mencintai Cedric.

Ia meminta maaf karena tidak menjadi contoh yang baik ketika seharusnya ia melakukan itu.

Ia minta maaf karena ia merusak hubungan orang lain ketika seharusnya ia tidak melakukan itu.

Tapi ia tidak akan minta maaf karena orientasi seksualnya.

Ia tidak akan minta maaf karena ia memperjuangkan seseorang yang dicintainya.

Harry kehilangan kontrak acara-acaranya. Kontrak film yang akan dibintanginya. Posisinya di sebuah drama di Disney channel digantikan seseorang dan ia hanya menerima pemberitahuan lewat email singkat.

Publik mencacinya.

Dan Harry hanya meminta satu hal. Meminta Cedric datang dan berkata padanya, hanya padanya, ia tidak butuh pengakuan kepada seluruh dunia. Ia hanya meminta Cedric datang, dan berkata bahwa 3 malam di Manchester itu.. Sebulan sebutan 'dear' setiap kali ia menelpon Harry sambil berbisik atau bersembunyi di kamar mandi.

Adalah kenyataan.

Bukan sebuah kesalahan.

Tapi Cedric membuat pernyataan, ia meminta maaf pada Chochang dan publik. Meminta maaf karena ia terbawa suasana malam itu, dan bukan salahnya karena Harry yang menggodanya. Berkata bahwa itu hanya kesalahan 1 malam. Meminta maaf sebagai seorang yang lebih dewasa ia tak bisa menahan dirinya. Bahwa insiden ini adalah hal memalukan yang seharusnya tak terjadi.

Dan intinya, Harry sama sekali tak berarti.

Cho Chang memaafkannya. Publik masih terlalu mencintainya untuk mencaci makinya. Ia masih memiliki karirnya. Hubungan asmaranya. Kehidupannya.

Lalu publik berbalik mencari sasaran untuk disalahkan atas segala kekacauan ini.

Maka siapa yang bisa dijadikan kambing hitam selain Harry? Harry kehilangan segalanya. Kepercayaan orangtuanya, kecintaan publik padanya, karirnya dan nyaris semua temannya.

Dan Harry tidak perduli. Ia masih mengirim setengah suratnya dan berusaha memenuhi kotak pesan suara pada handphone Cedric. Ia hanya butuh sebuah kalimat pendek. Dan ucapan selamat tinggal yang layak.

Jadi, tolong jangan salahkan Harry jika selama proses syuting 60 menit ke depan ia tidak akan mau menatap Cedric. Ia tidak perduli jika ini akan jadi episode dengan rating terpayah karena kedua pemainnya tidak bisa bekerja sama. Harry tidak perduli.

Karena Harry mungkin kini nyaris 25 tahun. Tapi 10 tahun tanpa permintaan maaf, dan sekarang ia menebar senyum innocent dengan sedikit kilau perasaan bersalah di sudut matanya.

Harry tidak perduli.

Harry akan memainkan permainan ini. Tapi ia akan menganggap 'partner'nya tidak ada.

Setidaknya itu cukup adil.

"Alrigth! Are you excited enough, people?!",penonton bersorak terlalu kencang. Harry bisa merasakan nada mengolok-olok dalam sorakan mereka.

"Baiklah… gentleman…"ia mengarahkan Harry dan Cedric untuk berdiri berdampingan dengan tim lain. Dua penyanyi dari girlband jebolan ajang pencarian bakat yang sedang naik daun, Harry tidak begitu yakin siapa nama mereka tapi mereka cukup manis. Harry ingin tahu apa ia cukup berani membuka mulutnya dan meminta pertukaran pasangan.

"Now…Ladies and Gentleman… Let the battle begin.."bersamaan dengan itu sang pembawa acara tua itu memutar roda besar perjudian yang menentukan permainan apa yang akan mereka mainkan pertama.

Cedric berbisik sesuatu diantara sorakan dan tepuk tangan, juga beberapa siulan antusias dari bangku penonton. Sesuatu yang menyerupai kata,"Sorry…"

Harry tahu sebenci apapun ia pada pria ini.

Selalu ada tempat khusus di hati Harry.

Harry menggigit lidahnya. Ia tak boleh menjawabnya. Tidak bisa.

Setidaknya Cedrc haru bersykur bahwa Harry tetap bersikap profesional dan bertahan melanjutkan proses syuting.

Entah bagaimana, tapi ia akan bermain dengan Cedric. Cedricnya…


"130 ribu copy. Tidak ada penawaran lain…"Draco duduk tegang di kursinya sambil memperhatikan orang-orang ini berdebat soal berapa banyak uang yang kira-kira bisa dihasilkan oleh 'karya seni' yang diciptakannya. Kedengaran seperti perjudian.

Well, memang tidak jauh berbeda pada akhirnya.

Draco benci industri musik, sama seperti ia membenci hujan yang terlalu sering turun di kota London. Ia membencinya tapi hal itu bagian dari dirinya. Jadi, Draco tidak punya pilihan lain kecuali membiasakan diri.

"Materi music dalam album ini lebih beragam. Dan 'Take Me To Church' ada di dalamnya. Orang-orang mengantisipasi album ini, apa kalian mengerti? Setidaknya keluarkan 200 ribucopy.. album ini layak mendapatkannya…"Blaise sekarang sedang dalam mode bisnismen muda yang bertingkah cool tapi pada dasarnya ia sama seperti ibu-ibu yang menawar harga di pasar tradisional. "Akan makan waktu lama untuk produksi berikutnya jika permintaan terlalu banyak dan kita tidak bisa memenuhinya…" Draco menghargai kengototan di suara Blaise. Tapi ia merasa itu sungguh tidak diperlukan

"Ketika album ini keluar orang-orang sudah bosan dengan 'Take Me To Church'. Kecuali Mr. Malfoy punya lagu lain yang bisa diandalkan untuk menjadi hits, satu atau dua lagi.. Kami akan memberi kalian 300 ribu copy tanpa basa-basi.."Draco menatap sinis wanita tua pirang dengan gelung rambut yang nampak ketat. Riasannya tak tebal, cukup cantik untuk ukuran usianya. Wanita yang sepertinya tahu bahwa bukan penampilan yang harus diandalkan atau skandal untuk bertahan di belakang layar industry hiburan. Tapi otak.

Dan Draco benci mengakui bahwa wanita ini benar. Ia tak bisa mengandalkan Take Me To Church. Dan ia harus mengakui walaupun komposisi musiknya meskipun terasa lebih dewasa dan beragam, Draco tahu ia butuh lagu lain untuk menarik perhatian. Dan tidak ada satu lagu pun di dalam albumnya yang bisa melakukan semenakjubkan yang dilakukan Take Me To Church. Draco tahu karena jika seseorang bertanya siapa yang paling meragukan penjualan album Draco didalam ruangan ini? Tentu itu Draco.

Draco menarik nafas, tarikan nafas dimana ia meminta perhatian agar diberi kesempatan untuk bicara di ruangan oval itu. Ini pertemuan para pemimpin pemegang kebijakan antara perusahaan rekaman tempat Draco bernaung, Label music yang mengurusi distribusi album Draco nantinya, dan managemen yang menaungi Draco.

"Beri aku waktu satu bulan…" Draco bisa merasakan nafas Blaise yang tercekat. Draco tidak mengerti kenapa pemuda ini sepertinya yang paling mencemaskan apapun yang Draco lakukan.

"Untuk apa?" Tom Riddle, bosnya nampak tak suka. Draco tahu karena ia bisa melihat ke arah mana Draco akan membawa pembicaraan ini.

"Aku akan membuat beberapa materi lagu baru yang layak untuk menjadi hits single… kita bisa mencoba membuat 1 lagu untuk dijadikan video clip sebelum album keluar. Dan melihat respon publik… Jika, responnya baik. Aku meminta 300 ribu copy yang Anda janjikan Mrs. Anderson…", sejujurnya, Draco tidak tahu apa yang sudah ia ucapkan. Ia diberi waktu 10 bulan dan hasil yang ia dapatkan tidak ada yang cukup memuaskan untuk memastikan posisinya di industri musik. Dan entah bagaimana dalam waktu 1 bulan ia bisa mendapatkan lagu yang lebih baik. 3 lagu yang lebih baik.

Draco tidak tahu.

Tapi ia memiliki Harry kini dan kata-kata ajaibnya. Draco punya musiknya. Ia hanya butuh kata-kata yang tepat untuk mengacaukan pikiran orang-orang dengan musiknya.

Ia bisa melakukannya. Wanita tua dengan rambut pirang kusam, terkikik sesaat. "Sesungguhnya Mr. Malfoy… ini adalah hal terbodoh yang pernah ditawarkan seorang penyanyi padaku selama 20 tahun terakhir." Draco bisa melihat Tom Riddle menggeleng kecewa padanya.

Seseorang di ujung ruangan, salah satu pertinggi perusahaan rekaman yang Draco tidak yakin siapa namanya tersenyum licik ke arahnya.

"Aku memiliki bantuan yang kubutuhkan untuk membuat karya yang sefenomenal Take me to church.."

"Ouh… Karna Kau sekarang memiliki pacar seorang pria yang bisa berpuisi, Mr. Malfoy? Harry Potter bahkan tidak pernah diakui sebagai penulis berbakat.."si lelaki penyeringai sinis di ujung ruangan angkat bicara.

"Itu karena ia tidak pernah benar-benar serius mencoba…"

Draco sejujurnya, benar-benar tidak tahu apa yang baru saja ia katakan. Ia tahu bahwa bukan hal bagus mengandalkan Harry dalam hal ini. Terlebih tanpa bicara dahulu pada pemuda itu.

"Hanya 1 bulan… itu bukan waktu yang lama untuk membuat 3 materi lagu baru..."

"Ada banyak proses yang akan diundur.."

"Dan uang lagi yang akan keluar untuk proses rekaman.."

"Aku akan membayarnya sendiri, setidaknya sebagian...", Draco menghentikan perdebatan yang membuatnya seakan tidak berada di sana.

"Draco.. kurasa itu bukan ide bagus."Blaise berbisik di telinga kirinya.

"Baiklah.."Mrs. Anderson si wanita tua yang nampak berkuasa tetdiam sejenak. Diamnya menjadi komando untuk membuat ruangan itu senyap "Kau harus punya 3 lagu baru dan keputusan 3 lagu yang akan disingkirkan ketika kita memulai lagi lanjutan rapat ini tanggal 25 bulan depan, bagaimana?"ruangan senyap seketika, Draco tahu sejak awal wanita ini pemegang kendali utama. Meskipun jabatannya tak terlihat setinggi itu.

"Baiklah. Tanggal 25, 3 lagu baru, 3 lagu yang dibuang."

"Jika Kau tidak bisa mencapai target, kami hanya akan memberikan jatah 130 ribu keping. Tidak lebih.", Draco menyukai tantangan di mata wnaita itu. "Dan satu lagu yang siap dijadikan single pembuka sebelum album dikeluarkan kurasa bukan ide buruk."

"Memeriksa ramalan cuaca tidak pernah menjadi hal buruk sebelum keluar rumah.."Draco tersenyum tampan. Wanita tua itu mengangguk menantang.

"Meskipun sepertinya tidak berguna di cuaca London yang selalu diguyur hujan.."Tom Riddle menambahkan sinis. Draco mengabaikannya. Ia tidak butuh persetujuaannya jika wanita tua berkuasa di hadapannya menyetujui deal yang ia tawarkan.

Dan sebuah anggukan dari wanita tersebut cukup untuk mengakhiri ketegangan dalam ruangan.

Ada protes tak suka dari lelaki dengan seringai jahat tadi. Ada helaan nafas lega Blaise di sebelah Draco. Dan senyuman mengancam dari Tom Riddle ketika ia keluar ruangan tanpa pamit. Rapat berakhir.

"Kau sadar? Kalau jadwalmu padat sampai akhir bulan ini dengan segala promosi yang dilakukan?"Draco Cuma menawarkan senyum antagonisnya dan mengabaikan Blaise, keluar ruangan begitu saja. Ia tersenyum tampan pada receptionist manis yang tadi sempat mengerling pada Draco ketika ia memasuki ruangan.

Draco lupa terakhir kali ia bermain-main dengan wanita. Segala urusan dengan Harry ini menyita perhatiannya. Draco membenci Harry yang aktingnya semakin baik dari waktu ke waktu. Senyum malu-malunya. Semu merah di pipi berkulit putihnya. Mata emeraldnya yang berkilat bahagia menerima pujian darinya.

Sama sekali tidak membantu Draco melakukan tugasnya untuk sekedar berakting. Jika, ia semakin manis dari waktu ke waktu, Draco mungkin harus sesekali pergi berkencan dengan wanita, siapapun itu untuk memastikan bahwa ia tidak jatuh cin—. Ok. Lebih tepatnya benar-benar tertarik pada sesama jenisnya.

Karena itu bencana.

Draco memutar nama-nama yang bisa ia jadikan mainan sementara waktu dan mau untuk disembunyikan selama beberapa lama sampai urusan dengan Harry selesai. Sedikit perdebatan kecil terjadi dalam otak Draco, yang satu berkata bahwa itu terlalu beresiko, suara lain membicarakan bahwa tidak masalah Harry mengerti bahwa ini bukan hubungan yang nyata, ia tidak melakukan kecurangan apa-apa. Ia tidak perlu merasa bersalah. Tapi bagian virtual otaknya tak bekerja sama dan memperlihatkan Harry yang menangis di hadapannya. Sangat nyata dan detail, seperti baru kemarin ia mencium kening Harry tanpa tujuan jelas.

Draco masuk dalam mode mute dan mengabaikan ocehan Blaise soal konsekuensi dari tindakan Draco. Ia kembali ke dunia nyata ketika gadis receptionist di hadapannya sengaja menyentuh lama tangannya ketika Draco mengembalikan kartu pasnya. Draco membiarkannya, gadis itu membuat gerakan melingkar dengan ibu jarinya pada punggung tangan yang halus, Draco bisa mencium wangi mawar dari parfum wanita ini.

"Kau punya mata biru yang indah.."Draco sengaja menahan jemari lentik gadis muda itu, ketika ia akhirnya melepasnya. Draco bukan seorang lelaki yang mengabaikan tantangan di depan mata begitu saja.

"Kupikir Kau sedang jatuh cinta pada pemuda bermata hijau, Mr. Malfoy.." namanya keluar dengan begitu seduktif. Draco menyeringai, ia tahu tipe gadis seperti ini. Mereka sama seperti Draco. Tipe penantang. Penjelajah yang mengincar bebagai macam mangsa sekedar untuk membuktikan bahwa diri mereka berkuasa. Draco mulai tenggelam dalam keasyikan untuk mencari titik lemah 'lawan mainnya' kali ini. Ia mulai dengan memuji bibir merahnya yang tipis, dibalut lipgloss tipis. Dan riasan matanya yang membuat bentuk matanya yang besar terlihat tajam. Gadis itu terkikik menggoda beberapa kali, ia sudah hendak meraih tangan Draco lagi ketika Blaise bersuara. Blaise yang tadinya terpaku pada sesuatu, entah apa. Draco yang tadinya tidak perduli, karena setidaknya Blaise tidak akan menariknya menjauh selama beberapa saat.

"Draco..."nada peringatan Blaise tidak seperti biasanya, Draco fikir. Lebih seperti nada khawatir tentang adik perempuannya, meskipun Blaise tidak punya adik perempuan, ia selalu punya nada seperti itu setiap kali ia tahu Draco berada dalam masalah dan tidak bsia melakukan apa-apa untuk membuat Draco terhindar dari maslaah itu.

Mungkin Blaise berfikir Draco seperti adik perempuannya? Draco menahan dirinya untuk tidak tertawa pada lelucon payah di dalam kepalanya.

"Lihat!" mata kelabu Draco mengikuti telunjuk Blaise. Dan sebuah televisi di sudut ruangan. Sepertinya dikuasai receptionist satunya lagi yang lebih gemuk. Hak milik senior sepertinya, maka gadis dengan parfum mawar mencari hiburan dengan merayunya.

"Harry?" gadis yang menggoda Draco berhenti tangannya di udara, belum sampai menyentuh Draco kembali. Ia membuat wajah seakan baru tertangkap basah melakukan sebuah tindakan asusila dan mundur mendekat pada seniornya yang berwajah masam.

"Ini tidak bagus.."Blaise bertutur lagi. Di wajahnya ada ekspresi seakan ia baru saja melihat kecelakaan lalu lintas paling mengerikan di hidupnya.

Draco bisa melihat Harry nampak tidak nyaman. Draco tidak yakin apa masalah aslinya, mungkin karena ia dipaksa menyanyi. Harry adalah penggemar berat rap dan tidak begitu yakin soal kualitas vokalnya. Tapi Draco tahu dari terkadang mendengarkan nyanyian sendu dari bibirnya, suara yang tak cukup kencang. Dibawah standar bunyi nafas. Draco harus berkata bahwa Harry tidak terlalu buruk.

Jadi maafkan Draco jika ini terdengar bodoh, tapi pada akhirnya ia berbisik pelan pada Blaise dan bertanya," Memangnya kenapa?"

Dan Blaise menatapnya seperti melihat mahluk asing berkepala hijau membeli kentang goreng Mc Donald saat ini.

"Kau menciumnya berkali-kali dan tidak tahu tragedi hidup seorang Harry Potter?!"pertanyaan Blaise dikeluarkan dengan tingkat nada terlalu tinggi untuk tidak menarik perhatian. Jadi Draco menarik Blaise mnejauh dari meja receptionist. Ia melangkah terburu-buru, membiarkan Blaise kemudian mengikuti langkahnya begitu mereka keluar gedung. Blaise membuka kunci pintu mobil dari belakang Draco dan Draco masuk begitu saja ke pintu penumpang. Blaise mengikuti gerakan kilat Draco memasuki pintu pengemudi.

"Bukan salahku jika aku hanya tertarik pada puisinya dan bukan kisah hidupnya,ok?"

"Kau juga tertarik pada bibirnya.. akui saja…"Blaise mengeluarkan nada menggoda seakan itu adalah saat paling tepat untuk menggoda Draco. Maka Blaise melakukan pembicaraan ini sambil menatap Draco ke kaca spion berdehem pelan begitu melihat tatapan mengancam yang Draco arahkan padanya nampak serius jika Blaise melanjutkan untuk bercanda.

"Kukira semua orang inggris tahu soal skandal ini.."

"Sorry perkiraanmu meleset.."Draco menjawab dingin.

Blaise mendesah. Desahan setiap kali ia akan memulai cerita panjang,"Kau tahu partner permainnya tadi?"

"Ya. Cedric Diggory… pemeran beberapa serial tv terkenal di Inggris dan amerika juga beberapa film romance. Pemeran tokoh baik-baik yang romantis. Berhubungan dengan Chochang lawan main pertamanya sampai saat ini, they're like the cutest couple in the great britania. Tipikal aktor yang punya banyak penggemar wanita fanatik."

"Kau juga.."

"Aku punya lebih banyak penggemar pria dibanding dia.."

"Yang sama fanatiknya seperti penggemar wanitamu.."Draco memutar bola matanya agar Blaise menghentikan argumennya. Blaise menarik nafas dan akhirnya bicara,"Ok. Dia mantan kekasih Harry."Draco tidak mengerti kenapa itu harus membuat Blaise mendesah dengan wajah sedih dan penuh simpati.

"Kau benar-benar tidak pernah mendengar skandal ini?"

"Tidak."

Blaise mendesah pasrah begitu dramatis, lagi. Draco ingin melempar sepatu ke wajahnya. "Dengar Draco… Aku tidak ingin menceritakan kisah menyedihkan Harry Potter ketika ia berumur 15 tahun. Dan masih menjadi bintang paling bersinar di dunia hiburan Inggris, The Next Leonardo Di Caprio, kalau aku mengutip salah satu tabloid AS yang pernah mewawancarainya ketika ia pertama kali mendapatkan peran sebagai pengisi suara di animasi Disney. Kau sebaiknya membuka google sementara aku akan mengemudikan mobil mewah ini menuju ke studio tempat Harry syuting." Draco mengernyit, kernyitan yang mengandung berbagai pertanyaan penting yang ingin ditanyakannya.

"Google it. Skandal Harry Potter dan Cedric Diggory. Itu tidak hanya memenuhi artikel majalah gossip tapi juga headline beberapa surat kabar." Draco masih menggeleng tidak mengerti. "Serius Draco? Mereka bahkan merevisi UU perlindungan anak karena dipicu skandal ini. Kamu baca satu headline, Kamu akan mengerti kenapa begitu urgent untukmu menyelamatkan 'calon kekasih'-mu itu. "

Draco tidak yakin bahwa ada berita gossip yang cukup layak untuk membuat Blaise sehiperbolis itu, tapi ia membuka smartphone-nya akhirnya. Ketika Harry 15 tahun… Draco terkadang lupa bahwa Harry sudah ada sebelum ia bertemu dengannya. 10 tahun yang lalu, Draco masih berada di Prancis dan memulai karir aktingnya di pementasan-pementasan seni. Meskipun saat itu Ayah Draco masih sangat ketat dan bersungguh-sungguh untuk membuat Draco memiliki ijazah S2 ekonomi dan meneruskan bisnis keluarga secara fokus.

Bukan menjadi pekerjaan sampingan sambil ia berkarir di dunia hiburan. Tapi pada akhirnya Ayahnya melihat karir acting Draco sebagai sarana promosi terefektif dan termurah.

Draco mendesah. Entah mengapa jaringan internetnya tidak cukup bagus, sambil memperhatikan perputaran loading di google. Draco me-recall beberapa kenangan ketika ia belajar di Paris. Film mereka ada di beberapa nominasi festival film Cannes tahun ini, itu artinya Draco akan mengunjungi Prancis dalam waktu dekat.

Ketika Draco berfikir bahwa ia bisa membawa Harry ke beberapa tempat romantis di Parncis dan memastikan Papparazi mengikuti mereka. Gambar pertama muncul, dengan headlineyang sangat menyudutkan.

"'When the gay devil raise'??"Draco membaca salah satu judul artikel. Dengan gambar dimana pria bertubuh jauh lebih kecil –yang sepertinya Harry- terjebak dalam ciuman dengan seorang pria yang terlihat lebih dewasa dan besar – yang sangat mirip dengan Cedric Diggory-. Berlokasi di dinding salah satu bar murah di kawasan canal street, sepertinya. Draco pernah syuting di sekitar lokasi itu. Ini foto dari 10 tahun lalu, tapi tidak banyak yang berubah, Draco pikir. Dalam foto, Keduanya terlihat tenggelam dalam ciuman yang sangat panas, Draco mengabaikan rasa gerah yang tiba-tiba menjalari tubuhnya. Ia berusaha fokus dan mencoba tidak membayangkan dirinya melakukan hal yang sama pada Harry. Dan Draco tidak cemburu, tentu saja. Untuk apa ia cemburu pada kekasih lama Harry? dia juga bukan kekasih Harry? Kenapa harus cemburu? Draco tidak cemburu. Ia hanya tidak suka Harry disentuh orang lain. Itu bukan cemburu. Ya kan? Oh. Sudahlah.

Fokus Draco…

Draco membaca beberapa kalimat dan merasa mual dengan sejak awal bagaimana mereka membuat statement mengenai bahwa Harrylah yang layak disalahkan. Karena ia gay. Mengakuinya dengan bangga ketika usianya begitu muda dan mengakui jatuh cinta pada Cedric. Mengakui bahwa ia memang jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki kekasih. Mengakui bahwa dia memang merayu Cedric dan secara sepihak mengklaim bahwa Cedric pun menyukainya. Mereka bukan one time thing. Ada komitmen antara dia dan Cedric.

Sementara di pihak lain, Cedric mengaku ia mabuk malam itu dan itu hanya lelucon yang tidak perlu diperbesar. Cedric mengaku bahwa Harry mengaku menyukainya dan ia kira Harry hanya bercanda. Itu hanya kecerobohan sekali seumur hidup. Dia tidak punya perasaan apa-apa pada Harry.

What the hell is wrong with this guy? Draco entah mengapa merasa marah. Ia menonton video konferensi press Cedric dan Chochang. Menjelaskan bahwa itu hanya dare yang tidak berarti apa-apa. Sementara Harry sebaliknya, bersikeras bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Video selanjutnya berisi Chochang yang menangis dan meminta Harry untuk tidak mengganggu hubungannya lagi. Beberapa review dari acara gossip bahwa Harry sedang mengalami kebingungan identitas seksual dan seharusnya tidak perlu mengganggu hubungan orang lain. Harry yang dilempar telur busuk oleh seorang penggemar fanatic Cedric pada konferensi persnya yang lain. Skandal video gay porn yang katanya dibintangi Harry. Beberapa pernyataan yang bermunculan dari pria-pria yang mengaku pernah berkencan dengan Harry. Menyudutkan bahwa Harry bukanlah innocent boy yang public kira. Beberapa pernyataan bahwa Harry mendapatkan beberapa perannya setelah merayu menggunakan tubuhnya. Walau Draco bisa melihat orang-orang itu membual, Draco bisa melihat bagaimana para ahli mencari-cari kesalahan Harry, bahkan tanpa Draco membuka video porno 'harry', ia bisa melihat rambut pemuda itu jauh lebih terang daripada rambut hitam Harry. Rambut pemain video porno itu terlihat lebih seperti cokelat gelap.

Bukan hitam acak-acakan.

Draco mengerti sekarang dari mana senyum sendu milik Harry datang.

"Mengerti sekarang?",Blaise akhirnya buka suara. "Mengapa Aku panik sejak pertama kali Kau mencium Harry?"

Draco mendesah,"Karena Aku mengundang masalah yang lebih besar dari yang Aku bayangkan.."

Blaise menyunggingkan senyum serba tahunya yang biasanya akan membuat Draco mengancam memotong gajinya –meskipun Blaise tidak pernah merasa terancam karena ia tahu Draco tidak akan cukup berani memtong gajinya- jika Blaise mengeluarkannya terlalu lama. Tapi kali ini Blaise benar, jadi Draco hanya menjawab dengan,"Ok.. Mungkin lain kali Aku akan meng-google soal seseorang yang akan kucium terlebih dahulu."

"Well… bukan itu inti pesan moralnya, tapi ya… bukan awal yang buruk."lalu Blaise berhenti dengan senyum serba tahunya dan memberikan Draco tatapan serba serius lewat kaca spion,"Jadi, apa yang akan Kau lakukan sekarang?"

"Sesuai rencanamu. Ke studio tempat Harry berada. Dan biarkan aku selamatkan Tuan Putri kita.."

"Aku perlu mengingatkanmu kalau Harry Potter itu laki-laki, Draco..", Blaise mengatakannya menggunakan nada sebuah lagu yang Draco gagal kenali judulnya.

Dengan nada sarkastik Draco menjawab,"Oh ya… Bagaimana aku bisa lupa?!"

Dan Draco membuka tab baru pada smartphone-nya, membuka live streaming dan mulai melihat komentar-komentar yang masuk. Fans-fans Harry berkomentar tentang bagaimana Harry kaku dan gagal pada banyak permainan. Para shipper Cedric dan Chochang memaki-maki Harry dan menganggap Harry terlalu bodoh untuk berada di kuis itu. Bahwa seharusnya yang mendampingi Cedric adalah Chochang.

"Seharusnya mereka sudah selesai sekarang, ya kan? Aku akan telepon Ms. Granger, bilang kita akan menjemput Harry.."

"Ok."Draco sibuk mencoba membaca ekspresi di wajah Harry dalam video. Ia sedang menyelsaikan sebuah lagu, Draco tidak begitu mengenal nadanya tapi ia yakin lagu itu cukup terkenal.

"Harry! Nyanyikan lirik selanjutnya…"William memberikan isyarat dengan tepukan kecil agara musik kembali mulai bersamaan dengan Harry melanjutkan menyanyikan liriknya.

"I need to find you…

Tell you I need you.."

Musik berhenti, Draco memperhatikan wajah tua pembawa acara itu tersenyum dengan senyum terlebar yang pernah ia lihat.

"Benar! 10 point untuk Cedric dan Harry!" penonton bersorak menyemangati.

"Suaranya tidak terlalu buruk… Walau lagu Coldplay memang jarang ada yang sulit untuk dinyanyikan sih.." Blaise berkomentar begitu ia selesai menelpon Hermione Granger.

"Coldplay?"

"Untuk ukuran seorang musisi selera musikmu payah ya? Itu lagu Coldplay, Scientist…"

Draco hanya menjawab dengan gumaman 'oh' pelan. Harry tersenyum kecil pada tawa lebar Cedric karena sekarang nilai mereka seimbang dengan lawan mereka. Draco seperti melihat sekilat pecahan kaca di mata Harry. Draco berani bertaruh pemuda itu pasti ingin menangis saat ini. Harry seseorang yang tangguh tapi juga sangat emosional. Draco sudah beberapa kali menyaksikannya.

Harry punya banyak kecemasan.

Harry seseorang yang penuh pertimbangan.

Tapi diluar ia terlihat begitu periang. Senang tersenyum. Senyum adalah senjatanya untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Draco baru menyadari itu sekarang. Senyum adalah pernyataan bahwa ia bisa menjalani hidup dengan bahagia meskipun seluruh dunia menyudutkannya.

Walau begitu, ia tetap ketakutan.

Dan kesepian.

Sesirat perasaan muncul, dan tiba-tiba manguat. Ia ingin melindungi Harry. Rasa protektif yang tidak Draco mengerti. Ia ingin mengamuk, pada siapapun yang berfikir bahwa ini sebuah lelucon yang lucu untuk memaksa Harry bekerja sama dengan mantan kekasih yang tidak mengakuinya. Ia ingin menyumpal satu persatu mulut para penonton yang menyoraki Harry setiap kali ia salah menjawab. Harry sejak awal sudah terlihat tidak ingin berada disana.

Berhenti mentertawai, Harry.


The Beautiful Duck

Did you see that video when Draco came? He looks so possesive. They haven't date officialy yet. But he really care about Harry… It's so beautiful 33333

At 12.10 pm 87 like 2 unlike

Captain Benedict Sparrow

The video title is little ironic, they called it 'Draco Malfoy Losing his Cool'. No! It is really cool when he shout so angrily to papparazi who block they way out. He looks so cool when he tried to defend his 'nearly boyfriend'. Now, I 100% sure he is in love with Harry Potter.

At 11.54 pm 66 like 7 unlike

CeCho frlive

Nah.. just another drama… Draco is really genius to see opportunity to prove he fell over heels to The Freak Potter. But it's all fake. DM is FAKE. HP is FAKE. They're just FAKE COUPLE. The true inspiring Couple is lovely CedricandChoChang. Stop with your rubbish, people!

At 01.32 am 35 like 65 unlike

If-Malfoy-not-end-up-with-Potter-he-better-just-be with-apple

Draco never looks so worried about his lover. And this boy is not even his boyfriend yet Malfoy really tried his hard to protect. I don't know, if it's not love what we called it then?

At 02.39 am 98 like 2 unlike


"Kenapa Kau datang?"Harry akhirnya membuka mulutnya ketika mereka sudah ada dalam mobil mewah Draco dan berhasil keluar dari serbuan papparazi. "Aku bisa mengatasinya sendiri."

"Kau bisa mengatasinya sendiri?! Jika tadi aku tidak datang menghampirimu Kau pasti sudah terkena panic attack ya kan?"Draco mungkin bicara dengan sedikit kesal. Tapi ia tahu Harry berhak bersikap menyebalkan setelah apa yang dilaluinya hari ini.

Dan Harry menarik nafas sejenak sebelum kemudian berfikir bahwa , ya, dia memang nyaris hanya akan berdiri di depan papparazi seperti patung tadi. Meskipun dengan kawalan 2security berbadan besar Harry tahu yang membuat mereka memberi jalan pada Harry adalah teriakan Draco. Harry menyentuh pergelangan tangnnya tanpa sadar, Draco menggenggamnya sangat erat. Masih terasa panas dan sebenarnya ketika Draco berteriak-teriak tadi, genggamannya makin kuat. Ada sebagain kemarahan yang diregulasikan ke Harry. tapi entah kenapa Harry merasa aman dengan cengkraman kuat itu.

Sesuatu seakan memastikan bahwa Draco tidak akan melepaskannya.

"Jadi… Apa yang si Diggory itu inginkan darimu?"Harry berusaha tidak bersorak mendengar kecemburuan di kalimat terakhir Draco. Itu mungkin hanya sekedar perasaan terganggu karena mainannya diganggu? Harry mengingatkan harapan kecil di hatinya untuk tidak mulai merayakan apapun. Itu tidak bermakna apa-apa.

Doesn't meant anything.

"Tidak ada."

"Aku melihatnya memperhatikanmu di pintu belakang. Kau tahu menatapmu dengan penuh kekhawatiran atau semacamnya.."

Ada sakit yang menyesakan di dada Harry. Harry benci bahwa pada kenyataannya ia masih tetap merasa sakit setiap kali hal tentang Cedric diungkit. Harry sudah belajar berdiri kembali di atas kakinya. Ia memiliki karir yang bukan hanya ia mulai dari nol, tapi dari minus. Jika sekarang Cedric punya pemikiran ulang. Jika sekarang ia pikir akhirnya adalah saat yang tepat untuk minta maaf.

Harry tidak perduli.

Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya. Ia ucap berulang kali di kepalanya seperti mantra.

Karena pada akhirnya ia tetap merindukan Cedric. Setelah Cedric, Harry tidak punya pengalaman lain. Ia nyaris menutup diri dari aktivitas sosial apapun, sampai bertemu dengan Ron di sekolah akting, ia baru mulai kembali membuka diri. Memberikan kepercayaan untuk berteman dengan orang lain.

Harry sedikit menyesal bahwa ia bukan tipe mereka yang ketika putus menjadi seperti maniak seks. Setidaknya mereka punya banyak pengalaman untuk dibandingkan. Harry hanya punya Cedric. Cedric bahkan tidak benar-benar menyentuhnya sampai tuntas. Pada saat terakhir ia selalu ingat bahwa Harry berada di bawah umur legal.

Ia selalu berkata dengan nada canda,"Just in case somebody know about us. They can't make me go to jail just because kissing you, right?"

Harry seharusnya melihat tandanya sejak saat itu. Ia selalu menjadi dirty little secret.

Ia menatap Draco yang masih menatapnya dengan wajah kesal. Menunggu jawaban. "Kau sudah tahu sekarang?"Harry tahu Draco belum tahu soal skandalnya dengan Cedric. Draco terlalu angkuh dan sok sibuk untuk mengurusi itu. Maka walau meskipun ia berurusan dengan Harry saat ini, terlibat bisnis ilegal, Harry tahu pride Draco terlalu tinggi untuk membuatnya mencari tahu lebih jauh tentang Harry.

"Kenapa Kau tidak pernah cerita?"

"Kau tidak akan tertarik."Draco mengiyakan dalam hati. Tapi ia tidak akan pernah mengakuinya bahwa Harry kini seakan sudah mengenalnya luar dalam. Sementara ia tidak mengetahui apapun, kecuali sedikit tentang Harry. Lebih karena Draco adalah seorang ignorant.

"Kau belum menjawabku…"Harry mengernyit, memasang ekspresi bahwa ia memang tidak ingat dengan apa yang harus ia jawab. "Apa yang dia inginkan?"

Harry hanya menggeleng. Dengan mata sendunya, tanpa senyum kali ini. Hanya wajah kelelahan milik seorang pemuda yang sebenarnya tampan namun digerogoti kesedihan. Harry menutup matanya dan mencoba rileks, membiarkan punggungnya bersandar seutuhnya pada sandaran kursi belakang mobil Draco. Wajahnya menengadah. Ia nampak rapuh disapu kilatan cahaya lampu jalanan.

"Biarkan dia istirahat, Draco.."Blaise berkata pelan. Tapi cukup untuk Draco dengar. Ia mengangguk. "Mungkin Kau juga sebaiknya istirahat… Aku tidak pernah melihatmu sengotot tadi di depan kamera."

"Diam Blaise."Draco menutup mata, meniru gaya duduk Harry. Berusaha rileks dan melupakan tatapan yang Cedric berikan pada Harry sekilas tadi ketika Draco berhasil mencapai pintu belakang studio. Mereka bertukar pandang sesaat sebelum pria itu bersembunyi dari tangkapan kamera papparazi. Ia menatap Draco seakan bertemu rival, musuh bebuyutan. Tapi ia terlalu pengecut untuk benar-benar berperang.

Draco tahu pada dasarnya ia tidak lebih baik dari pria pengecut itu. Ia juga hanya memanfaatkan situasi dari hubungannya dengan Harry. Dan ia berniat mengeksploitasi puisi Harry. Dan pada dasarnya ia nantinya juga akan meninggalkan Harry seperti Cedric.

Meninggalkan Harry dan segera memulai hubungan dengan wanita lagi. Draco tidak tertarik untuk benar-benar menikah. Tapi mungkin setelah ini waktu yang tepat untuk berhenti menjadi si playboy brengsek dan menerima gadis yang orangtuanya tawarkan.

Draco merasa bersalah pada Harry.

Ia tidak yakin kenapa. Mungkin karena setelah ini ia hanya akan meninggalkan Harry pada posisi pathetic lainnya.

Meskipun Harry setuju.

Meskipun mereka punya hitam di atas putih.

Meskipun Harry mengerti resikonya. Ia tidak mengerti kenapa ia mulai merasa bersalah.

Faktanya, ia bahkan tidak mengerti bagaimana Harry membuatnya merasakan roller coaster berbagai macam perasaan yang bercampur aduk sejak pertama kali ia memulai semua ini?

Pikiran Draco terhenti ketika ia merasakan beban asing di pundaknya. Ia membuka mata dan menemukan kepala Harry yang kini tertidur bersandar pada pundaknya.

Dadanya naik turun dengan pola pernafasan yang tenang.

Draco memanfaatkan kaca spion untuk menginspeksi posisi mereka kini. Dan juga ekspresi Harry yang tengah tertidur kini. Mengabaikan tatapan serba tahu yang dicapur dengan tatapan peringatan dari Blaise. Tidak, Blaise.. Aku tidak akan jatuh cinta pada Harry.

"Aku sudah memperingatkanmu."

Itu suara terakhir Blaise sepanjang perjalanan malam itu. Selebihnya ia diam. Dan setelah beberapa lama mengapresiasi bibir kemerahan Harry, bulu mata panjang Harry yang nampak anggun kini ketika matanya menutup, rambut hitam acak-acakanya. Harry mulai semakin berat dan posisi kepalanya semakin turun. Draco merasa tidak nyaman dan yakin Harry pun tidak nyaman.

Jadi, ia menahan kepala Harry dengan satu tangannya. Membuat posisinya lebih jauh ke sudut lain mobil yang ia duduki. Dan perlahan-lahan membawa tubuh Harry untuk tertidur di pangkuan Draco. Paha pemuda Malfoy itu menjadi bantal sekarang.

Draco merasakan afeksi yang begitu kuat pada pemuda yang lebih muda sekitar 2 tahun darinya itu.

Ia mulai tanpa sadar menyentuh rambut Harry, membuat gerakan mengusap dan mengabaikan senyum serba tahu Blaise.

Ketika mereka sampai di aparetemen Harry, Draco bersyukur bahwa papparazi yang menunggu disana hanya sekitar seperempat dari pasukan yang Draco tembus di studio. Harry dengan wajah linglung baru bangun tidur menggenggam erat tangan Draco dan merunduk dalam ketika melewati seragapan kamera.

Draco menempatkan diri di depan Harry dan memastikan jarak mereka cukup dekat. Draco tidak mau tiba-tiba kehilangan Harry di tengah gerumulan manusia yang seakan ingin tahu namun tidak benar-benar ingin tahu. Mereka melakukan ini hanya untuk pekerjaan. Sama seperti kenapa Draco menggenggam Harry saat ini. Ini untuk pekerjaan. Draco mengulang bagai mantra dalam kepalanya.

Ketika sampai di lobby, Harry berbisik. "Aku berkenalan dengan seorang pemilik café pagi ini. Kutraktir Kau kopi besok pagi jam 9."

"Bagaimana Kau tahu Aku tidak ada acara?"

"Hermione. Bukan Cuma sekretarismu saja yang tahu jadwalku, sekretarisku juga tahu jadwalmu.."mungkin pengaruh istirahat sejenak tadi. Tapi Harry sudah bisa tersenyum lagi. Sambil mengucek matanya dan ia nampak jauh lebih muda dan rapuh dari usia sebenarnya.

Draco berusaha keras memaku langkahnya untuk tidak maju selangkah lagi dan memeluk Harry erat. Karena wajah bangun tidur Harry terlalu manis. Dan bukankah seharusnya ilegal untuk pemuda berusia 25 tahun untuk terlihat se-cute ini?

Ia mendesah seakan menerima ajakan ini secara terpaksa,"Ok. Tapi lain kali jika ingin berterima kasih, Kau harus mentraktirku yang lebih mahal."

Harry membalas seringai angkuh Draco dengan senyum penuh kepercayaan dirinya. Draco tidak yakin bagaimana lelaki itu bisa tetap memiliki senyum semeyakinkan itu melihat tragedi di masa lalunya.

Harry jelas sangat kuat.

Draco baru benar-benar sadar detik itu.

"Lain kali…"lalu Harry mendekat selangkah, ragu-ragu, blizt kamera masih terasa menyyat kulit mereka meskipun kini mereka hanya bsia memotret dari balik pintu kaca gedung. "Terima kasih.." bisik Harry cepat sebelum kemudian mengecup pipi Draco tak kalah kilat.

Bersamaan dengan itu Draco bisa merasakan kilatan blizt yang lebih membahana. Nyaris seperti ada hujan deras di luar sana. Beruntung suara 'klik' kamera tidak terdengar seperti petir.

Ia mundur dan terlihat terlalu grogi untuk senyum percaya diri yang sebelumnya ia tampilkan. "Akan kukirim alamatnya lewat pesan text nanti.. Good night…"

Draco ingin menahan langkah kaki Harry. Tapi ia hanay beridiri disana, mengawasi langkah Harry sampai ia masukd an menghilang dibalik pintu lift yang tertutup.

Draco ingin bertanya soal kecupan itu.

Draco benar-benar ingin.

Tapi ini bukan saat yang tepat. Atau mungkin Draco yang tidak siap dengan jawaban jika setelah itu Harry bertanya balik.


"Mr. Potter! Kau datang!",Draco sedikit kaget melihat Harry dipeluk erat oleh gadis yang nampak tomboy di depannya. Bukan tipe Draco, cross.

Draco berkeliling matanya, menjelajahi setiap sudut ruangan. Cafe kecil yang nyaman. dekorasi kayu yang dicat putih dengan aksen hijau tosca dan beberapa warna kalem lainnya. terletak di ujung jalanan padat. Draco harus akui ini tempat bisnis yang cukup menjanjikan.

"Sudah kubilang, Harry saja…" Harry berbalik ke arah Draco yang berdiri di belakangnya ketika ia menerima pelukan hangat dari pewawancaranya kemarin dan pemilik café yang sedang dikunjungi Harry kini. Yang ia baru sadar tidak mengetahui namanya ketika ia membuka twitter tadi malam untuk mempromosikan tweet yang dikirim kepadanya.

Setidaknya ia tidak menamai twitternya dengan nama aneh, dan memilih nama aslinya. Jadi Harry terselamatkan dari perasaan malu untuk bertanya. "So? Fay this is Draco Malfoy.."Harry memainkan nada suaranya.

"Oh Kau tidak perlu mengenalkan seseorang yang wajahnya terpampang besar di depan restoran kami.."Fay menunjuk iklan parfum dari perusahaan Draco yang dibintangi oleh Draco dan disupervisi olehnya. Draco menengok ke wajahnya yang diedit bias sephia. Ia terlihat terlalu tirus, pikirnya. Ah, dan itu membuat Draco ingat ia belum menerima laporan penjualan bulan ini.

Draco benar-benar butuh liburan dari pekerjaannya.

"Dan ini Victoria.. Tunanganku.."Gadis bernama Fay dengan celana jeans robek dan tanktop putih polos dibalut jaket denim mengenalkan gadis yang jauh terlihat lebih feminim, rok merah panjang dan sweater merah darah. Rambutnya cokelat berkilau, Draco seperti melihat karamel. Juga memiliki senyum manis. Tipe yang akan Draco incar seandainya ia bukan lesbian.

Atau jika ia tidak memiliki kekasih.

Atau jika Harry tidak mendistraksinya dengan senyum yang lebih manis dari kopi caramel yang dipesannya pagi ini.

Fay menemani mereka berbincang-bincng. Sejujurnya Draco sedikit tertinggal dalam tema perbincangan ini, Harry dan Fay membicarakan rencana pride parade di Manchester juli nanti dan membuat perjanjian untuk pergi bersama.

Fay seorang aktivis dan sangat menggebu-gebu membicarakan soal kampanye anti diskriminasi untuk kaumnya. Harry juga lebih banyak mendengarkan pada akhirnya. Sementara Draco sibuk menatap Hary yang fokus mendengarkan.

"Jadi? Apa kalian sudah ada kemajuan?"Fay tiba-tiba saja berhenti dari pembicaraannya dan menunjuk telapak tangan Draco yang beristirahat di atas milik Harry. Seakan itu adalah gesture paling familiar. Terasa casual.

Harry yang tersadar menarik tangannya. Draco berusaha mengabaikan perasaan kecewa di hatinya.

"Jika yang Kau maksud rekor baru dalam menerobos pasukan papparazi? Ya, kami punya banyak kemajuan.."Draco tidak bermaksud mengeluarkan kalimat itu dnegan nada sinis.

Fay mendesah dan terlihat tidak enak hati. Lalu Victoria memanggilnya, sesuatu tentang mesin kopi yang macet. Jadi, ia undur diri dan meninggalkan Harry dan Draco dalam keadaan canggung luar biasa.

"Tidak ada papparazi disini… Kau tidak perlu capek-capek berakting…",suara Harry masih mengesankan kelelahan sangat.

"Tapi tetap ada banyak orang disini. Gadis di meja sebelah diam-diam merekam kita dengan kamera hpnya, apa Kau sadar?"Harry menggeleng. Dan membiarkan hatinya mencelos. Draco hanya melakukan semua ini katika ada kamera di sekitar mereka.

Draco hanya bersikap profesional, Harry berusaha mengabaikan suara-suara di kepalanya yang berkata bahwa Draco mungkin punya perasaan lebih pada Harry.

Kau tidak ingin terluka lagi…

"Jadi… Blaise menghubungiku tadi pagi dan cerita soal kesepakatanmu dengan perusahaan rekamanmu."Draco tercekat sesaat. Pertama, sejak kapan Harry cukup dekat dengan Blaise untuk memanggilnya 'Blaise'? Kedua, Draco membuat catatan untuk memberikan deathglare terkejam yang dimilikinya pada Blaise setelah ini. Ketiga, Draco baru menyadari bahwa satu hal yang lebih ia benci dari Harry dibandingkan senyum sendu sok kuatnya, adalah nada datar yang ia keluarkan.

"Kukira ia hanya sekedar mengecek alamat café yang kau berikan.."

"Ya itu juga.. jadi.."Draco sudah bertanya tanya sejak tadi mengapa Harry membawa-bawa tas selempang kecil. Walaupun itu membuatnya terlihat seperti turis dengan wajah yang sangat british di tengah kota London.

Harry mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang terlihat kumal. "Aku punya beberapa puisi tua. Take me to church juga berasal dari sini.."ia memberikannya begitu saja pada Draco. Draco seperti melihat potongan masterpiece. Sementara Harry seperti tidak perduli pada buku kumal itu.

Draco menerimanya dengan wajah bingung, "Jadi… Kau tidak keberatan?"

"Aku menulis hanya untuk mengalihkan fokusku sementara waktu dari stres yang kualami. Kebanykan isinya hanya kata-kata tidak beraturan yang tidak bermakna apa-apa… Setengah dari tulisan di buku itu bahkan tidak pernah kubaca lagi."

Draco membuka lembar pertama dan langsung dibuat terkesima. Tanpa judul atau pembuka. Hanya baris-baris kalimat puitis.

Draco tidak pernah punya kata-kata sebagus ini untuk liriknya.

Dan Harry pikir ia terlalu buruk untuk memulai karir kepenulisan? Are you kidding me?

'It's not a cage

It's home, the rabbit said

There's a rabbit traped but the tiger never know

You're never move on, he said

You're just finding another places to hide

The tiger never eat it, the tiger never wanna know

There's a rabbit traped in its cage

At least it is not alone any more'

"Aku akan menyumpal mulutmu jika sekali lagi berkata kalau puisimu buruk.."

Harry berhenti sesaat dari menyeruput frappuchinonya. Emeraldnya membesar. "Itu kata-kata gila. Aku menulis setiap kali merasa tidak waras…"

Draco berhenti membaca, menatap Harry tepat di matanya,"Apa yang akan kau lakukan jika Kau tidak menulis?"

"Entahlah.."Harry berhenti menatap ke arah Draco. Ia membuang pandangannya pada sudut jauh di ujung café , ada sebuah piano disana. "Mengiris urat nadiku, misalnya.."lalu ada kekehan payah yang sama sekali tak berkesan humoris.

"Apa Kau mulai menulis sejak Cedric?"Draco bisa melihat ketegangan di pundak Harry ketika nama itu disebut. Juga raut mukanya yang membeku.

"Aku selalu perlu menulis." Harry menemukan kembali suaranya setelah beberapa detik. Menarik nafas dan perlahan-lahan beradu pandang dengan Draco. "Setiap kali Aku merasa sedih dan merasa tidak ada yang akan mendengarkanku."

Draco ingin mencium Harry saat itu. Kerutan Harry membatas garis-garis antara resah. Menjadi bukti nyata segala gelisah. Garis senyumnya yang sendu, senyum yang disamarkan begitu banyak kepediahan. Draco ingin menciumnya.

Jadi, ia melakukannya. Menyentuh dagu Harry dan mendekatkan bibir mereka.

Harry tidak melawan.

Draco ingin bertanya mengapa ia tidak melawan? Tapi rasa bibir Harry tak ingin melepaskannya.

Harry mendesah dalam ciuman mereka. Membiarkan mulutnya membuka. Draco menjilat bibir Harry dan menarik nafas sesaat sebelum memperdalam ciuman. Harry masih tidak melawan. Draco semakin ingin tahu mengapa.

Tapi ciuman ini terasa benar dan tidak dipenuhi adrenalin di aats panggung.

Draco tak ingin melepasnya.

Draco merasakan basah di pipinya. Harry menangis. Tapi Draco tak melepasnya. Ia terlalu takut jika ia melepasnya. Dan menemukan wajah Harry yang menyesali segalanya.

Suara siulan yang menghentikan mereka.

"Jadi? Ada kemajuan?"suara riang Fay bertanya. Draco menatap Harry dan hanya menemukan setetes jejak air mata dan wajah yang penuh semu merah.

"Kuarasa aku harus ke kamar mandi…"

"Perlu kutemani?"Draco refleks menggoda. Harry dibuat merah delima oleh kata-katanya. Draco punya firasat buruk setelah ini Harry akan kesal padanya.

"Kalian akan menjadi pasangan gay paling adorable…"Victoria berujar. Ketika ia sampai di sebelah Fay dan memeluk pinggang kekasihnya dari belakang.

"Setidaknya kalian tidak perlu bergantian bertengkar seperti kami setiap kali salah satu dari kami PMS…"Fay tertawa renyah.

Draco tersenyum. Ia merasa dadanya hangat. Ia akan mencium Harry lagi setelah ini. Terserah pemuda berambut acak-acakan itu suka atau tidak.

Sementara Fay dan Victoria mengurusi tamu lain. Draco membuka lembar demi lembar lainnya dari buku puisi Harry.

Sebuah puisi mengikat perhatiannya. Di kepalanya langsung beputar nada-nada. Draco menengok ke arah toilet dan Hary belum juga datang. Ia ingin bertanya dan meminta izin terlebih dahulu tapi musik di kepalanya menunututnya untuk memainkannya.

Ia memanggil Fay,"Piano di ujung sana bisa digunakan kan?"

Fay mengernyit pada awalnya,"itu piano lama Vicky… tapi kurasa masih… Kau mau memainkan sesuatu?"

"Hanya sebuah eksperimen…"

Fay mengangguk. Membiarkan Draco membuka kain yang menutupi piano cokelat yang nampak sudah sangat berumur. Draco mengecek beberapa nada.

Memainkan asal sepotong-sepotong nada klasik yang diingatnya hanya sekedar untuk mengetes nada di piano. Dalam sekejap Draco mencuri fokus seluruh manusia di dalam sana.

"Sejak kapan Kau jadi pengisi acara café?"Harry tiba-tiba muncul di belakangnya. Poni rambutnya tersisir ke belakang. Ada sisa bercak air di wajahnya. Harry memiliki wajah yang puitis, Draco fikir untuk sesaat.

"Hey.. Aku ingin sedikit bereksperimen dengan yang satu ini.."Harry menagngguk saja tanpa benar-benar melihat puisi yang Draco tunjukan.

Draco memulai dengan kunci C. lalu mengalun nada sentimentil satu persatu.

Ketika Draco mulai bernyanyi, Harry menyesal mengangguk tadi.

"You were dancing in your tube socks in our hotel room,
Flashing those eyes like highway signs.
Light one up and hand it over, rest your head upon my shoulder.
I just wanna feel your lips against my skin.

White sheets, bright lights, crooked teeth, and the night life.
You told me this is right where it begins.
But your lips hang heavy underneath me.
And I promised myself I wouldn't let you complete me",ini puisi tentang Cedric. Puisi terakhir yang Harry tulis di surat terakhirnya.

Tentang kenangan 3 malam di Manchester ketika mereka merasa benar-benar bahagia.

"I'm trying not to let it show, that I don't want to let this go.
Is there somewhere you can meet me?
'Cause I clutched your arms like stairway railings.
And you clutched my brain and eased my ailing"Draco mendesah pada akhir kalimat, menutup matanya.

Ia bisa merasakan luka yang coba Harry katakan. Yang coba Harry utarakan dalam kalimatnya.

Harry ingat kalimat berikutnya. Ingat kenapa ia menulsi puisi ini. Karena ia melihat Cedric membacakan sebuah puisi pada sebuah talkshow. Meminta maaf pada ChoChang atas kebodohannya. Tidak ada yang tahu bahwa itu puisi yang sama yang Cedric berikan padanya, ketika Harry pertama kali membiarkan Cedric menciumnya. Itu malam pertama mereka di Manchester.

Harry ingat betul kata per kata yang Cedric tulis menggunakan pulpen hotel. Di atas sobekan catatan hotel.

"You're writing lines about me; romantic poetry.
Your girl's got red in her cheeks, 'cause we're something she can't see.
And I try to refrain but you're stuck in my brain.
And all I do is cry and complain because second's not the same", Harry berpaling ketika Draco menatapnya sambil tersneyum.

Ia jelas terlihat bahagia, dengan nada eksperimennya. Harry memaksakan sebuah senyum sementara kenangan membanjiri neuron otaknya.

Draco sedikit tercekat melihat keperihan di wajah Harry. tapi jemarinya terus bermain dan ia kembali melihat ke arah catatan Harry menyanyikan bait terakhir dari puisi itu.

"I'm sorry but I fell in love tonight.
I didn't mean to fall in love tonight.
You're looking like you fell in love tonight.
Could we pretend that we're in love?"ketika ia sampai pada kalimat terakhir kesadaran membanjirinya.

Ini tentang Cedric! Draco berteriak panik di dalam kepalanya.

Nada terakhirnya denting pianonya terasa absurd. Tapi tepuk tangan memenuhi penjuru café.

"Mereka harus membayarmu untuk pertunjukan ini.."suara bercanda Harry pecah di akhir. Lelucon yang tidak sama sekali lucu, Draco pikir.

Rasa afeksi mengambil alih Draco. Senyum sendu Harry dan emeraldnya yang berbicara begitu puitis. Tentang jiwa yang kesepian. Perih akan kesendirian. Draco ingin menghapus luka di emerlad itu.

Jadi, ia berdiri. Memeluk Harry tiba-tiba. Dan kali ini Harry berontak. Harry menolak. Tapi Draco mencengkram kencang.

Bukan karna mata-mata yang mengawasi mereka.

Bukan karena jepretan kamera yang Draco yakin sebentar lagi akan memenuhi dunia maya.

Bukan karena ini bagian dari kontrak 'fake nearly dating' mereka.

Bukan untuk popularitas.

Bukan untuk apa-apa.

Tapi hanya karena Harry membutuhkannya.

"I'm sorry…"Draco berbisik. Dijawab Harry dengan tangis tanpa suara.

Dan sebuah bisikan sengau,"Can we pretend that we're in love?"

TBC


A/N: pinginnya fluffy… malah tragedy… pinginnya sih manis-manis, malah nangis-nangis. Perasaan hidup gue ga sedepresif itu sih…-_-a

Ok. Pokoknya maaf buat keterlambatan. Makasih untuk semua saran dan masukan, juga pujian yang buat saya yang ngerasa masih punya banyak flaw berlebihan banget. Tapi makasih. Makasih buat yang ngekomen, yang ngekomen berkali-kali, ada yang sampai ngeinbox segala.

Maaf telat dari janji.

Maaf buat typoo.

Maaf Bu JK Rowling tokohnya saya bikin menderita.

Mungkin updatenya bakal lama lagi. Mungkin sebulan, atau 4 bulan baru update. Mau fokus buat nerusin astronaut, tapi tugas kuliah dan organisasi nyaris bikin ga bisa nafas.

Tertanda Author kalian yang selalu lama updatenya,

Erelra

Kecup basah buat yang mau nunggu.. And Happy New Year, you guys…!

**Tambahan: potongan lirik dari lagu Scientist by Coldplay. Puisi pertama hasil dari saya yang terinspirasi dari sebuah ff judulnya The Heart Rate of the Mouse, atau semacam itulah…

Puisi kedua itu dari lirik lagu Is There Somewhere by Halsey. Penyanyi cewek alternatif paling HOT–versi saya-. Cek Vevonya, liat dia nyanyiin lagu ini live… She's amazing..:)