Part 4

Hermione memasuki kantor agensi tempatnya bekerja dengan setumpukan dokumen di tangan kanan dan secangkir kopi hitam Starbucks di tangan kiri. "Mr. Lockhart sudah datang, Hannah?" gadis berambut pirang di meja resepsionis tersenyum sumringah pada Hermione.

"Sudah… Kau baru pulang jam 12 malam dan sudah ada di sini sepagi ini?" Hannah mencicip seteguk kopi yang Hermione simpan sebentar di atas meja. Hermione menggeleng kecil tanda tak suka tapi tidak mengeluarkan protes apa-apa.

"Yah... katakan itu pada selebritis kita yang seharian kemarin berparade, bermesraan di setiap sudut kota London. Dan membuat wajahnya terpampang di mana-mana…" Hermione menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum mengangkat lagi dokumen-dokumen yang barusan ia simpan sesaat di meja.

Ia perlu liburan, pikir Hermione.

Dan perlu bicara dengan Harry, pikirnya lagi.

Ia membiarkan Hannah menyisip lagi seteguk kopinya, sambil menengok tv di tengah 'ruang' resepsionisyang terbentuk dari meja setengah lingkaran yang menempel pada dinding ruangan. Meja ini pasti akan menjadi hal pertama yang kau lihat setiap kali memasuki lobi perusahaan ini. Kecuali Harry yang sepertinya punya ketertarikan tersendiri pada pohon karet di sudut lobi.

Dia bilang pohon karet itu membuat tersenyum. Teringat pada pohon karet di rumahnya yang jarang ia siram.

Bocah aneh, Hermione tersenyum dan berhadiah pertanyaan ingin tahu dari Hannah. "Bukan apa-apa. Aku harus menemui si Mr. Smiley dulu. Bisa kau telephonkan Harry untukku dan suruh dia menemuiku di kafe Lotus jam makan siang?"

"Kukira ia akan sibuk dengan persiapan pemutaran perdana film terbarunya. Itu hari ini kan?"

Shit! Hermione menggigit bibirnya, menahan umpatannya tidak keluar dari mulutnya. "Aku belum menelepon untuk mobil sewaan Harry…" Hermione memijat pelipisnya dan menaruh lagi dokumennya. Memutuskan untuk menelepon sendiri Harry. Ketika baru sampai membuka kontak di smartphonenya. Sebuah panggilan masuk; dari Lockhart.

Hermione menjawabnya. Terburu-buru berkata bahwa ia sudah sampai dan sudah ada di lobi.

"Oke… Sebentar lagi saya sampai di ruangan Anda. Ada, saya sudah membeli semua tabloid dan majalah infotainment yang headlinenya tentang Draco dan Harry." Hermione meraih tumpukan dokumen dan sampel-sampel majalah yang ia bicarakan pada bosnya. Sambil menjauh ia berisyarat bahwa kopi hitamnya ia ikhlaskan untuk Hannah. Karena Hermione cuma punya dua tangan dan satu tangannya ia gunakan menelepon dan satu lagi untuk membawa dokumennya. Hermione berharap ia punya banyak tangan seperti dewa Wisnu, ah lupakan, Hermione sebaiknya berhenti membaca cerita-cerita mitologi Asia atau romansa di balik tembok istana Cina. Hermione memperingatkan pada dirinya sendiri bahwa kebanyakan pelajaran dari cerita-cerita itu tidak praktis untuk diterapkan pada kehidupan nyata.

Atau setidaknya kehidupan seorang manajer pribadi artis seperti Hermione.

"Saya akan tutup teleponnya, Mr. Lockhart. Saya masuk lift sekarang." Hermione menyimpan smarthphonenya pada saku mantelnya dan memperbaiki beberapa posisi dokumennya yang sedikit miring karena ia terburu-buru tadi. Setelah terposisikan rapi di lengan kirinya, ia menggunakan tangan kanannya untuk sedikit merapikan rambutnya yang ia ikat sebagian. Menyelipkan poni rambutnya yang sedikit terlalu panjang ke belakang telinga.

Mungkin sudah waktunya mengganti gaya rambut. Pikiran soal model rambut terganti begitu lift berdenting. Kembali ke masalah Harry.

Bocah aneh itu tidak tahu konsekuensi dari tindakannya... Hermione tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah sambil berjalan menuju ruangan Lockhart.

Harry tidak mengerti ia berjalan di pinggir jurang. Dengan kemesraan yang mereka umbar seperti kemarin, publik mau tidak mau pasti berpikir mereka sudah official. Jika tidak, akan banyak pandangan miring, tentu saja terutama untuk Harry. Kemungkinan orang-orang berpikir bahwa ini hanya akting akan meningkat, jika mereka tak juga memastikan hubungan. Dan selain itu, sekali lagi, pandangan miring akan lebih tertuju pada Harry. Karena Draco sudah mendeklarasikan dengan jelas perasaan sukanya, oke, mungkin tidak bisa disebut deklarasi juga. Draco tidak mengatakan ia menyukai Harry secara terang-terangan. Tapi tindakan dan tingkah lakunya sangat jelas.

Di sisi lain Harry tidak memegang peran untuk memastikan apapun soal hubungan mereka. Setidaknya publik akan menganggap seperti itu. Publik menunggu seperti apa sebenarnya perasaan Harry pada Draco. Apakah sama atau tidak. Publik akan lebih berpikir bahwa Harry yang membuat hubungan ini menggantung.

Dan dengan kemesraan mereka yang terumbar seperti kemarin dan Harry masih berkata bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka, karena memang peran Harry adalah untuk memastikan hubungan ini tidak punya kejelasan. Orang-orang akan menganggap Harry sebagai hipokrit.

Dan itu sama sekali tidak bagus.

Tidak untuk citra Harry. Tidak untuk karir Harry.

Hermione menatap foto paparazzi di sampul majalah teratas pada tumpukan yang di lengannya. Foto Harry yang tertawa riang dengan Draco yang menggenggam tangannya ketika mereka keluar dari sebuah kedai kopi. Draco menatapnya dengan pandangan seakan Harry adalah sesuatu yang sangat berharga, kekaguman dan rasa haru yang Hermione tak mengerti bagaimana bisa terbaca dalam satu ekspresi wajah.

Kau tidak bisa menikmati ini Harry… Karena bagaimanapun ini hanya akting. Sebuah aksi penipuan kecil untuk menutupi kecerobohan Draco.

Draco akan pergi, pada satu titik.

Harry, kau tidak boleh jatuh cinta kali ini. Pikir Hermione lagi. Karena Draco hadir saat ini tanpa tujuan lain selain untuk pergi suatu saat nanti.

Hermione tidak pernah melihat ekspresi sebahagia ini di wajah Harry sebelumnya. Oke. Mungkin pernah, tapi ia tidak pernah berpikir bahwa suatu saat ia akan melihat Harry, berekspresi seperti itu, ketika berada di dekat Draco Malfoy. Like, hello? Yang kita bicarakan di sini adalah Draco Malfoy dan Harry Potter yang jika kalian melihat interaksi mereka di tempat syuting Folie a Deux, kalian akan tahu betapa buruknya atmosfer tiap kali mereka berada di satu ruangan. Kecuali untuk berakting. Mereka tidak pernah bisa berbicara dengan satu sama lain tanpa memulai pertengkaran.

Hermione menatap Harry di foto itu lagi. Ada sisa tangis di matanya tapi Hermione tahu senyum Harry mencapai garis matanya. Ia tersenyum tanpa berpura-pura.

Hermione sudah bekerja hampir lima tahun dengan Harry. Ia bisa mengatakan kapan Harry berakting dan kapan Harry melakukan sesuatu dengan tulus. Kapan ia merasa tidak nyaman dan kapan ia merasa nyaman.

Sepotong foto ini menunjukkan dua hal.

Harry tidak berakting. Dan Harry merasa nyaman berada di samping Pangeran Malfoy satu itu.

Sesuatu yang akan menjadi masalah besar jika dibiarkan.

Hermione menarik nafas, ia harus membuat Lockhart melakukan sesuatu. Membatalkan perjanjian secepatnya sebelum opini publik kembali menyudutkan Harry. Ayolah... Harry adalah selebritis dengan skandal besar sebelumnya. Pandangan negatif soal dirinya masih menyebar di berbagai sudut. Jauh lebih mudah menyalahkan seseorang yang sebelumnya sudah memiliki image negatif.

Hermione menyelipkan kembali poninya yang terjatuh. Ia harus memotong rambutnya.

Ah.. dan juga mengajari Harry untuk berhenti menjadi naif.

.

.

.

Harry menatap bingung pada jam weker yang bergeming di depan matanya yang baru terbuka dari tidur. Jam wekernya berbayang menjadi dua buah. Jarum pendek menunjukkan pukul tujuh pagi. Lewat sekitar... Sebentar, jam itu masih berbayang… Harry berusaha fokus.

7.12... Harry akhirnya bisa berhitung kembali.

"Kau tidak menyimpan cukup bahan makanan, Harry…" Harry yang sedetik sebelumnya memutuskan untuk kembali tidur sampai alarm jam wekernya bekerja sekitar 18 menit lagi, mengerjap. Ia memaksakan tubuhnya untuk duduk dan berbalik ke asal suara.

"Malfoy?!" dan pemuda berambut platinum itu menyeringai bersamaan dengan ingatan tentang kejadian sepanjang kemarin yang tiba-tiba saja membanjiri otaknya. Harry sudah bisa menebak headline beberapa majalah gosip hari ini. Mungkin foto dirinya dan Draco keluar dari kafe, mungkin foto dirinya dan Draco keluar dari toko buku, atau di restoran malam kemarin, atau foto ketika Draco mencium bibirnya ketika merasakan kehadiran paparazzi di depan apartemen Harry. Dan Harry membiarkan Draco menciumnya.

Ia tidak bisa melepaskan begitu saja.

Ia merasa pulang dalam dekapan.

Setidaknya ia punya 'rumah', walau hanya sesaat.

"Kau tidak mabuk apapun semalam, jadi seharusnya kau tidak perlu marah-marah padaku karena kali ini aku masuk apartemenmu atas seizinmu, oke?" Ujar Draco panjang sambil membawa nampan berisi pancake dengan sirup coklat. Mengeluarkan uap hangat dan di atasnya potongan stroberi yang dibelah dua menghias.

Harry dalam dilema terbesar dalam hidupnya, karena perutnya berbunyi keroncongan tapi harga dirinya mengharuskannya memandang curiga ke arah pancake buatan 'musuh bebuyutan'nya.

"Aku hanya menggunakan bahan dasar pembuatan pancake Harry…" Draco mendesah berkomentar pada tatapan siaga yang Harry lempar ke arah pancakenya dan menyiapkan meja kecil untuk Harry sarapan di ranjang. Meja yang biasanya Harry gunakan untuk menyimpan popcorn tiap kali ia melakukan maraton ulang menonton The Lord of The Rings dan The Hobbits. "Tidak perlu memberi death glare pada makanan polos ini…"

Harry ingin mendebat Draco bahwa makanan ini terlalu tinggi kalori dan gula, Harry tidak tertarik terkena diabetes di usia muda, walaupun ia sendiri penggemar makanan manis dan seringkali tidak bisa menahan godaan. Tapi Draco menyentuh pundaknya dan mungkin karena Harry tidak siap atau mungkin memang tubuh Harry seringan itu untuk Draco, dengan sedikit gerakan Draco membuat Harry duduk tegap bersandar pada sandaran ranjangnya dan menyimpan meja kecil di atas paha Harry. Harry menelan kalimat protesnya, terlalu kaget untuk membuka mulutnya.

"Kau membuatku merasa seperti Tuan Putri, Pangeran Malfoy…" Harry berkomentar dengan nada sarkastiknya ketika Draco ikut duduk di pinggir ranjang dan memotongkan pancake untuk Harry.

"Tidak. Aku berusaha membuatmu menjadi anak baik yang makan tiga kali sehari…" ujar Draco setelah selesai memotongkan pancake Harry. "Jadi diam dan Makan!" suaranya penuh otoritas. Harry tidak akan pernah mengakui ia sedikit bergidik dibuatnya.

"Yes, Daddy..." ujar Harry seseduktif mungkin sambil menjilat lelehan sirup coklat dari stroberinya. Menjilat coklat yang bersisa di jari telunjuknya sambil memandang ke arah Draco. Harry tahu ia bisa membuat pupilnya membesar dan ia tahu Draco selalu terpesona pada emeraldnya. Draco tidak pernah mengatakannya. Tapi bahkan saat mereka bertengkar Draco seringkali menatap satu atau dua detik terlalu lama pada emerald Harry.

Sebelumnya Harry mengabaikan fakta itu.

Tapi kenapa tidak menggunakan kelemahan musuh untuk mengalahkannya? Pikir Harry.

Harry melakukan salto kemenangan dalam otaknya begitu melihat Draco blushing. "I don't have any interest to talk about your kink in the morning, Harry…" Harry hanya tertawa dan mengabaikan Draco yang keluar ruangan dengan langkah terburu-buru. Lalu melanjutkan makannya.

Harry tersenyum pada pancakenya yang tinggal bersisa setengah dalam waktu lima menit. Draco tidak begitu buruk dalam memasak. Harry hanya berharap Draco tidak membuat dapurnya terlihat seperti medan peperangan hanya untuk membuat pancake.

Harry membiarkan senyumnya melebar sedikit lagi. Sedikit lebih tulus lagi.

Aku tidak akan seperti dia…

Draco berbisik padanya semalam. Harry meragukannya. Tapi pengalaman seharian kemarin dan pagi ini sedikit meyakinkan Harry.

Sedikit.

Tapi Harry yakin foto-foto atau video yang beredar di internet meyakinkan khalayak lebih dalam soal akting mereka.

Harry mendesah. Wajahnya kehilangan senyuman.

Tidak masalah. Harry bisa mengikuti permainan ini sampai Draco akhirnya bosan. Harry akan menikmati perannya sampai Draco sadar bahwa ia memperjuangkan sesuatu yang sia-sia.

Harry menyingkirkan piringnya. Ia tak akan bisa memakan sisa pancakenya.

.

.

.

THEDRARRYSQUAD

They're like making a parade of their love yesterday… like really? Kissing in the café, Draco played piano and then gave Harry a tight hug, giggled together at comic bookstore and then their hanging out in the park, and having dinner in such an exclusive restaurant?! They're really the cutest couple ever!

Ahhh… wish I have a boyfriend like that…

Yesterday 11.09 am 87 likes 0 unlike

It's-fine-if-you-became-bi-for-HarryPotter

+THEDRARRYSQUAD

How about me as your boyfriend?

Today 01.02 am 12 likes 32 unlikes

+It's-fine-if-you-became-bi-for-HarryPotter

THEDRARRYSQUAD

Ok. So the very basic requirement for becoming a 'boy'friend is to be boy. I see your profile, girl, sorry but you didn't pass.

Today 04.23 am 120 likes 43 unlikes

+THEDRARRYSQUAD

Hellena with double 'L'

Someone just got rejected on comment section of video about the cutest couple ever. It's so ironic. Very sad, but I can't stop laughing… XDDD *sorry not sorry*

Today 09.12 am 22 likes 1 unlike

.

.

.

Ketika ia kembali masuk kamar, Harry sudah tidak ada di ranjang. Tanda kehadirannya digantikan dengan bunyi air di kamar mandi. Draco menatap piring Harry dan masakannya yang masih bersisa setengah. Juga sebuah catatan.

Kau juga harus makan. Ini enak. HP.

Draco tidak yakin sejak kapan tapi ia tersenyum, ia tersenyum dengan lebih mudah ketika itu menyangkut dengan apapun yang Harry lakukan. Dengan apapun yang Harry katakan, Harry rasakan, tentang Harry. Draco membenci kegilaan yang harus dilaluinya untuk bisa meyakinkan Harry.

Tidak, ia juga benci pada dirinya sendiri yang tidak cukup berani untuk mengambil sikap.

Ia tinggal menelepon agensinya dan berkata bahwa ia benar-benar jatuh cinta. Dan ingin berhenti berpura-pura dan mendeklarasikan hubungan mereka. Ia hanya butuh sedikit usaha motorik dengan menekan tombol handphone dan sedikit gerak motorik untuk bicara. Tapi sungguh? Ia jatuh cinta? Kedengarannya menggelikan.

Lelucon bodoh.

Draco tidak jatuh cinta. Draco Malfoy tidak pernah jatuh cinta, dia merasa tertarik, mencicipi perasaan itu, lalu pergi. Tidak pernah ada perasaan ingin mengorbankan sekuat ini, tidak seperti yang ia rasakan pada Harry. Ia berkata pada dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak merasakan afeksi kuat pada Harry. Ia sama sekali tidak merasa bahagia ketika tadi pagi menemukan Harry tidur dalam pelukannya. Ia tidak merasakan sengatan dan kenyamanan aneh tiap kali Harry membiarkan Draco menciumnya. Draco tidak merasakan kelegaan setiap kali ia bisa membuat Harry berhenti khawatir tentang sesuatu.

Kecuali… Ya, Draco merasakan semua itu.

Pada Harry.

Bukan pada siapapun. Bukan pada gadis anak bangsawan Inggris. Bukan pada model Victoria's Secret. Bukan pada penyanyi penyabet Grammy's. Bukan pada aktris dengan piala Oscar. Bukan pada gadis-gadis yang tetap memujinya meskipun Draco memperlakukan mereka dengan buruk luar biasa.

Draco Malfoy, si playboy brengsek. Draco sudah terbiasa dengan sebutan itu.

Tapi Draco Malfoy yang membuatkan calon 'kekasih'nya pancake? Draco mungkin harus diperiksakan ke psikiatri secepatnya.

"Aku harap kau tidak membuat dapurku seperti kapal pecah, Malfoy…" suara peringatan yang keluar dari arah belakang. Draco berbalik dan menemukan Harry mengeringkan rambut hitamnya yang basah asal-asalan, seperti tak berniat untuk benar-benar mengeringkan.

Draco tidak menjawab, ia memilih melangkah mendekat dan menarik Harry mendekati ranjang. Ia duduk di pinggir sementara Harry terduduk di lantai. Mengambil alih acara mengeringkan rambut Harry olehnya sendiri. Harry tidak mengeluarkan suara protes. Draco tidak mengatakan apa-apa.

Ruangan itu disaputi diam.

Harry sibuk dengan pikirannya, begitu juga Draco. Selama beberapa menit ada kesepakatan tak terkatakan antara keduanya untuk mengabaikan segala kebimbangan dan kekhawatiran.

Keheningan itu mendamaikan.

"Kau serius?" sampai akhirnya Harry tak tahan untuk bertanya. Dan buru-buru menyesalinya ketika tangan Draco berhenti bergerak dengan luwes mengeringkan rambutnya. Ia membenci kepribadiannya yang ceplas-ceplos dan serba ingin tahu. Curiousity killed a cat, Harry…

"Jika kau setuju, kita bisa mencobanya…"

"Mereka tidak akan setuju." Harry bicara dengan kepastian di nada suaranya. Draco benci kebenaran tak terbantahkan dalam kata-katanya. Draco membiarkan handuk Harry dengan sendirinya jatuh ke pundak pemuda itu. Sekejap kemudian Harry merasakan nafas Draco di belakang tengkuknya, dan bibir pemuda blondie itu di bagian belakang lehernya. Harry menutup mata dan membiarkan segala pikiran buruk soal masa depan meleleh bersama hangat dari tangan Draco yang mulai mendekapnya.

"Kau tahu, kegelapan tidak terlalu terasa gelap jika kau membiasakan diri dikelilingi olehnya?" Harry tiba-tiba bertanya. Draco menegrnyit di belakang kepala Harry.

"Apa kau sedang berpuisi?"

Harry tertawa renyah, "Kau mungkin bisa menulisnya menjadi sebuah lagu."

"Aku tidak bisa menulis lagu dengan sepotong lirik, Harry…" Draco menemukan sebuah rambut Harry yang memutih di pangkalnya. Uban karena stres? Pikir Draco?

"Tidak… itu sebuah pertanyaan serius."

Draco menegakkan punggungnya. Dan berusaha untuk tidak menebak bagaimana ekspresi Harry yang kini memunggunginya. Ia melihat ke sudut kosong di dinding kamar Harry. Cat temboknya dipilih seakan acak, hanya putih dan tidak ada persona yang coba ditunjukkan oleh kamar Harry. Standar ruangan apartemen yang kau beli tanpa kemudian kau ubah desainnya atau coba kau penuhi dengan identitas. Kamar Harry tak seperti ruangan lainnya di apartemen ini, terasa suci, dalam pengertian kosong tanpa sentuhan pribadi. Penuh dengan furniture dan mungkin beberapa perlengkapan Harry. Tapi tak ada foto, tak ada poster. Kosmetik Harry tertutup tapat di sebuah wadah. Hilangkan pakaian yang bergantung dan salinan naskah untuk proyek film Harry berikutnya. Kamar Harry terasa seperti kamar hotel yang disediakan untuk tempat singgah berjuta wajah tanpa perlu inquiry lebih lanjut soal siapa yang pernah menempatinya.

Draco ingin menanyakan ini. Mengapa Harry membiarkan tempat yang biasanya paling menunjukkan kepribadian seseorang, tampak 'kosong'.

Tapi ia menahan diri, "Semua soal adaptasi. Pada satu titik anak-anak di Jerusalem sudah membiasakan diri berangkat sekolah diiringi bunyi tembakan. Pada satu titik mereka berhenti menangisi teman mereka yang besoknya absen karena sudah 'pergi', kembali pada Tuhan. Hidup mengenai adaptasi."

"Kita terdengar seperti membicarakan Darwin." ada kekehan geli. Lalu desah lelah, "Jika kau pergi…" Harry berhenti mendadak. Pada perpotongan kalimat yang terasa absurd. Draco ingin meminta Harry berbalik dan berbicara dengan menatap matanya.

Draco ingin tahu emosi seperti apa yang digenggam emerald Harry. Tapi Harry adalah pemuda paling keras kepala dan Draco tahu Harry tidak ada niat melanjutkan pembicaraan ini sambil saling berpandangan. Atau mungkin diselingi ciuman.

Draco tahu ini perbincangan serius yang keduanya ingin hindari. Yang keduanya coba untuk tidak disinggung sepanjang petang kemarin.

"Aku sudah terbiasa dengan kesepian. Hingga kesepian sudah tak terasa semengerikan yang orang-orang katakan. Tapi kamu." Dan Harry berbalik. Akhirnya, jerit otak Draco detik dimana iris abunya berjumpa emerald Harry.

"Apa kau ingin menenggelamkanku? Atau berusaha menawariku tumpangan untuk keluar dari sebuah pulau terpencil lalu membiarkanku tersesat sendirian di kota pelabuhan yang ramai?"

Draco ingin membungkam mulut Harry. Atau otak Harry yang bekerja terlalu puitis dan entah kenapa kata-kata Harry ditranslasi oleh otak Draco menjadi nada. Draco harus berhenti menulis lagu dalam otaknya, tapi kemudian susah payah ketika menuliskannya ke dunia nyata.

"Entahlah…" Draco benci ketika ia terlihat bodoh. Bagaimana satu kata yang ia ucapkan tidak lebih dari jawaban ambigu dan tanpa kerumitan apapun seperti kalimat puitis Harry.

"Kau harus pergi" ada nada yang menunjukkan referensi masa depan dalam kalimat Harry. Nada datarnya tak terasa menantang, lebih seperti dalil yang tak bisa Draco tentang.

Jadi ia mendekatkan wajahnya, hingga jika ia maju seinchi lagi hidung mereka akan bersentuhan. Dan menjawab, setengah kehabisan nafas melihat sendu di emerald Harry, "Ya."

Harry tersenyum tipis. Draco tak tahu untuk apa senyum itu selain untuk mengambil separuh nafas yang Draco desahkan sedetik kemudian. Nafas yang tak Draco sadari Draco tahan sedari tadi.

"Ya." Jawab Harry lagi. "Aku tahu." setelah beberapa detik proses pikir ulang. Lalu ia bangkit bersiap-siap untuk pergi. Draco tak bicara apa-apa lagi. Draco tidak tahu akan ada apa setelah ini. Tapi sebelum ia pamit pagi itu ia berkata begini.

"Aku akan tetap mencoba." Dan Harry jelas keras kepala. Dengan senyum tipis dan emerald yang terluka.

.

.

.

London hujan malam ini. Bukan hal besar. Hanya Harry pikir ia tidak pernah merasakan lagi kedamaian setiap kali ia melihat kilat bayang-bayang cahaya lampu yang ditimpa gemericik hujan. Draco duduk cukup jauh di ujung lain taksi. Mereka baru saja selesai makan malam.

Seharian ini keduanya berbagi banyak cerita.

Draco banyak mendeskripsikan tentang Paris dan mengajari Harry beberapa kata dalam bahasa Perancis. Harry menggeleng sebal ketika Draco menyuruh Harry mengatakan bahwa Draco Malfoy adalah pria paling tampan dalam bahasa Perancis.

Harry bercerita bagaimana cara membuat racun sianida dari garam yang pernah ia praktekkan di kelasnya, ketika ia masih kuliah. Draco berhenti sesaat sebelum menyuap steaknya dan bertanya tanpa nada canda apa Harry menaburkan tambahan garam pada steaknya? Harry hanya memutar bola matanya. Harry bercerita tentang pohon karet di depan apartemennya yang jarang ia siram. Ia bercerita tentang sebuah klub di Manchester yang mengadakan acara Drag Queen terbaik di Canal street.

Draco menatap Harry ketika Harry bercerita.

Draco tidak menyela.

Mereka membicarakan komik Tintin dan betapa kerennya V for Vendetta. Adegan yang paling Draco suka adalah adegan awal ketika V memperkenalkan diri, ia bahkan hapal kalimat panjang yang luar biasa berlibet itu dan mempraktikkannya dengan bangga ketika Harry sedang mengunyah sandwich, menu makan siang mereka.

Harry berkata ia paling menyukai adegan ciuman terakhir antara V dan Evey. Dan sebelum Harry mengungkapkan mengapa ia menyukai adegan itu, bibir Draco sudah berada di bibirnya. Harry mendengar jepretan kamera dan blitz, terasa menyayat kulit. Tapi kemudian jemari Draco di wajahnya ketika ciuman terlepas, mengelus lembut seakan menutup kembali goresan luka.

Harry melanjutkan makannya dalam diam. Membiarkan Draco menceritakan bahwa ia menyukai adegan perkelahian terakhir antara Creedy dan pasukannya melawan V. Mengingatkannya pada Matrix. Harry hanya menggumam setuju.

Mereka tidak membicarakan tentang ciuman itu, atau ciuman-ciuman lain yang mereka umbar di depan publik. Tidak membicarakan genggaman tangan atau bisikan Draco di dekat telinga Harry. Mereka tidak membicarakan soal apa nama hubungan ini, saat ini. Ketika Harry bisa merasakan bahwa bukan hanya ia yang merasakan kenyataan.

Bahwa Draco juga merasakannya, dan ia jelas tidak memungkirinya.

Tapi ia juga tak berniat membicarakannya.

Supir taksi mereka berkata sampai, ketika Draco dan Harry akhirnya kembali bertemu pandang. Draco mengumpat dalam hati, karena ia yakin jika supir taksi tak menginterupsi, bibir mereka akan bercumbu lagi. Tapi Draco membayar berlebih pada sang supir dan keluar mengikuti Harry memasuki apartemen. Menggenggam tangan Harry ketika melihat beberapa wartawan mendekat untuk bertanya ke arah mereka. Draco hanya tersenyum dan mendorong Harry agar melangkah lebih cepat memasuki lobi. Sebelum pertanyaan membludak dan tak mungkin terjawab.

Harry bersiap mengatakan kalimat perpisahan ketika Draco menarik tubuhnya mendekat dan menciumnya sekali lagi. Harry tidak berontak. Mungkin tidak akan pernah sanggup berontak.

Harry mengabaikan suara-suara ramai kamera dan gunjingan beberapa penghuni lain yang kebetulan melihat mereka di lobi.. Ketika Draco melepaskan ciuman kecil mereka Harry berkata, "Stop being so gentle with me, Malfoy…"

Ia menjauh selangkah dari kehangatan tubuh Draco dan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia akan mengucapkan selamat malam, dan dongeng hari ini berakhir. Sebentar lagi jam berdentang dan Cinderella harus pulang untuk kembali tidur di depan abu perapian.

Setidaknya, Harry bersyukur bahwa Draco yang mengantarnya pulang dengan taksi dan bukan kereta labu.

Tapi sebelum Harry sempat bicara, Draco menyabet kesempatan itu. Ia dengan terburu-buru berkata, "I'm no longer pretending…"

Harry mengernyit. Selama setengah menit ia menatap Draco dan wajah penuh ketakutannya.

"Maksudmu?"

"Aku tidak ingin ini berakhir?" jawab Draco dengan nada tanya pada akhir kalimat.

"Apa yang kau inginkan untuk tidak berakhir?"

Dijawabnya dengan cepat dan yakin dibandingkan kalimat sebelumnya, "Kita."

Harry bergidik mendengarnya. Ia mengerjap dan menyadari mereka menjadi tontonan. Maka ia hanya punya satu ide masuk akal di kepalanya. "Kau mau menginap?"

Draco tidak mengiyakan, tidak mengangguk. Ia hanya membiarkan iris abunya tepat bertemu pandang dengan emerald Harry dan ada persetujuan dalam diam.

Maka Harry membiarkan Draco mengikuti langkahnya menuju lift. Masuk ke apartemennya, membiarkan Draco berkomentar soal pohon karetnya yang tampak tidak terurus. Membiarkan Draco menutup pintu, dan dengan tergesa menjebak tubuh Harry dengan tubuhnya dan dinding. Kembali mencium Harry dengan ciuman yang lebih berantakan dan panas. Harry merasakan de javu. Tapi tak berkomentar apapun.

Membiarkan tangan Draco begerilya, menggerayang ke berbagai bagian tubuhnya. Masuk ke sela kemejanya, menyentuh langsung kulitnya. Harry mendesah ketika tangan Draco bertemu dengan bagian sensitif di dadanya. Harry tidak melakukan banyak hal, tangannya menggantung pada leher Draco, jemarinya menelusup di antara helaian pirang rambut pemuda itu.

Harry tidak yakin berapa lama ketika akhirnya kakinya kelelahan, dan jika bukan karena tubuhnya ditahan kedua tangan Draco, Harry mungkin sudah menggeletak di lantai.

"Aku lelah," bisik Harry. Sedetik kemudian merasakan tubuhnya menegang, ketakutan mengecewakan Draco. Draco melepas pelukannya. Tapi Harry tak melihat wajah kecewa, hanya sebuah senyum meledek khas Draco Malfoy yang sudah kebal jadi santapan Harry sehari-hari setiap kali mereka bertengkar.

"Apa?" tanya Harry defensif. "Aku bukan selebritis yang doyan pesta dan melakuakn seks dengan siapapun sesuka hatinya.. Aku manusia normal yang mudah lelah setelah seharian jalan-jalan, oke?"

Dan senyum meledek Draco pecah menjadi tawa. Harry mendengus sebal dan meninggalkan Draco ke arah ruang tengah dan duduk di sofa. Beberapa menit kemudian setelah tawnaya mereda, Draco menyusul Harry, duduk di sampingnya.

Lutut mereka bersentuhan di balik celana jeans masing-masing dan Harry merasakan sengatan yang tak biasa.

"Kau mau membicarakannya?"

"Tentang apa?" Harry balik bertanya.

"Tentang Cedric?" tangan Draco menyentuh telapak Harry yang sedikit gemetar ketika nama itu disebut.

"Aku lebih suka kita berciuman lagi daripada membicarakan mahluk itu?"

"Tawaran yang menarik. Tapi aku terlalu ingin tahu…"

"Kenapa kau ingin tahu? Kau tidak pernah ingin tahu sebelumnya?" Draco mendengus sebal, Harry tahu nada defensif yang dikeluarkannya pasti terdengar menyebalkan.

"Entahlah…" Draco menjawab datar. Sudah tak terdengar begitu ingin tahu. Tapi Harry yang dibuat merasa bersalah karena mematikan rasa ingin tahu itu. Tidak masuk akal memang karena dua detik sebelumnya Harry benar-benar tidak ingin bicara soal Cedric.

Harry mendesah. Menarik tangan Draco lebih dekat dan tubuh pemuda itu mau tak mau jadi melekat. Harry menyandarkan kepalanya pada pundak pemuda berambut platina. "Apa yang ingin kau tahu?"

Draco hanya tersenyum, tidak penuh kemenangan, setidaknya Draco menahan otot wajahnya untuk tak terlihat seperti seringai penuh kemenangannya,"Bagaimana kalian bisa bersama?" Ujarnya dengan nada yang secara misterius terlalu serius.

Harry mengernyit sesaat.

"Kami terlibat dalam sebuah promosi produk minuman. Ada beberapa versi dari iklan minuman itu, kami mengambil gambar di London dan di sekitar Manchester…"

Harry mendesah, lalu tersenyum perlahan. "Ia sangat baik padaku. Memperlakukanku seperti orang dewasa lainnya, sebagai rekan kerja. Bukan sebagai anak ingusan yang kebetulan bisa terkenal karena kedua orang tuanya juga selebriti. Aku tahu aku menyukainya, perasaan suka dimana kau berpikir untuk mencium bibirnya, bukan suka karena kau mengaguminya atau sekdar ingin berjabat tangan. Tapi aku tak pernah membuat pendekatan apapun. Aku tahu diri. Ia terlihat sangat 'normal'," Harry memotong kalimatnya untuk membuat tanda kutip dengan tangannya. "Dan aku tahu ia sudah memiliki kekasih. Dan kekasihnya sangat baik, aku bertemu Cho Chang beberapa kali." Harry menambahkan dengan cepat. Lalu setengah berbisik, "Dan dia benar-benar baik."

"Lalu?" Draco bertanya sekedar memberitahu ia mendengarkan. Harry semakin mendekat, benar-benar menghabisi spasi antara kedua tubuh mereka sebelum melanjutkan cerita.

"Cedric mengabariku bahwa ia ditawari perpanjangan kontrak dengan minuman tersebut, tiga bulan kemudian. Ia mengajakku untuk terlibat lagi. Aku tentu saja dengan senang hati menerima kesempatan untuk berdekatan dengannya lagi. Part 2 dari iklan itu syutingnya dilakukan di Manchester. Sambil membicarakan kontrak, dua minggu sebelum jadwal pengambilan gambar, Cedric mulai intens menghubungiku. "Harry berhenti untuk kemudian memindahkan pandangannya ke ujung ruangan.

Ia begitu fokus untuk beberapa saat sebelum mulai kembali bicara, "Sehari sebelum keberangkatan, ia memintaku menemaninya, ada sebuah pagelaran pembacaan puisi di kafe temannya. Kami memang sama-sama menyukai puisi. Aku tidak ingat bagaimana, tapi malam itu pertama kalinya ia menciumku, di dekat toilet pria setelah aku mengantarnya memuntahkan isi perutnya karena ia terlalu banyak minum." Draco menatap senyum nostalgia di wajah Harry. Dan memperingatkan hatinya untuk tidak cemburu hanya karena hal kecil ini.

"Aku menelepon Cho Chang dan memintanya menjemput Cedric. Aku tidak membicarakan lagi ciuman itu ketika bertemu Cedric besoknya. Aku menganggapnya sebagai sebuah kesalahan ketika seseorang mabuk. Tapi Cedric menyelipkan sebuah catatan pada jatah makan siangku di Manchester pada hari pertama syuting. Memintaku menemuinya di kamar hotelnya."

Harry menggeleng pelan. Di wajahnya sebentuk senyum menghias disaputi kesakitan. "Ia berkata malam itu, ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya padaku. Ia menciumku sekali lagi, mendekapku dalam tidur. Malam itu aku tidak kembali ke kamarku. Paginya, ia menghilang, meninggalkan sebuah catatan berisi permintaan maaf bahwa ia harus bangun lebih dulu untuk pengambilan gambarnya. Dan di sana di balik catatan itu ada sebuah puisi. Untukku." jemari Harry menelusup ke sela-sela jemari Draco. Sebelah tangannya lagi beristirahat di pahanya. Harry mengeratkan genggaman, seakan memastikan bahwa sosok Draco di sebelahnya nyata adanya.

"Selama empat hari syuting aku tak pernah menyentuh kamarku. Kami, setiap kali orang-orang tidak memperhatikan, terlihat seperti sepasang kekasih. Cedric membisikkan banyak hal manis, meskipun setiap kali orang lain mulai memandang kami dengan aneh ia akan menjauh selama beberapa saat." Draco mendengar degup jantung Harry berdentum kencang. Ada kemarahan, tidak untuk Cedric, lebih kepada dirinya sendiri.

Harry mengelilingkan pandangan pada beberapa titik di apartemennya seakan mencari kepingan lanjutan ceritanya. Ia berhenti pada pahanya. Lalu menggigit bibir seakan mengambil keputusan ia mengakhiri ceritanya dengan kalimat, "Pada malam terakhir, ia mengajakku ke sebuah bar, dan paginya berita menyebar."

Sebuah kekehan yang entah apa maknanya. Lalu helaan nafas. "Tamat." ujar Harry dengan suara sendunya yang khas.

Lalu hening.

Sampai entah berapa lama ketika Draco akhirnya buka suara.

"Harry… Aku…" ujarnya ragu.

"Kau sama sepertinya." kalimat Harry penuh kepasrahan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tuduhan. Keduanya sepakat bahwa itu benar dan hal itu tak perlu dibicarakan. "Pada akhirnya kau akan meninggalkanku, juga…"

Draco tidak menjawab lagi. Membiarkan senyap yang tak nyaman menggantung di udara.

"Aku bisa membatalkan perjanjian kita. Aku bisa bicara dengan manajemen kedua agensi kita."

Harry melepaskan dekapan Draco dan menggeleng pelan. "Untuk apa?"

"Aku tidak ingin sama seperti dia."

Emerald Harry menelusuri kesungguhan di kemilau abu yang ditawarkan iris Draco. "Tidak…" Harry menggeleng. "Kau sama sekali tidak sama."

Lalu ia menguap. Cukup lebar dan memang tak dibuat-buat. Tubuhnya lelah.

Draco menampilkan lagi ekspresi penuh afeksi di wajahnya. "Tidur?"

Harry mengangguk. "Aku tidak yakin aku sanggup sikat gigi."

"Kau makan steak, Harry…" Harry menahan diri untuk tidak terkekeh pada nada bawel khas ibu-ibu di kalimat pendek Draco.

"Tapi kau sepertinya menikmati ciuman rasa steak kita?"

Draco bangkit sambil memutar bola matanya. "Shut up!" ujarnya dan menarik Harry yang ogah-ogahan menuju kamar mandi untuk menyikat gigi.

Harry menutup setiap kesempatan setiap kali Draco mencoba berbicara lagi. Tentang mereka. Sampai ketika baju Harry berganti piyama dan berusaha tidak tertawa pada celana Harry yang menggantung konyol ketika Draco pakai. Mereka bergelung di balik selimut. Harry membiarkan Draco memeluknya. Tapi mengabaikan sebuah kalimat dalam bahasa Perancis yang Draco keluarkan setengah sadar sebelum ia kemudian terlelap.

"Je te aime…"

Dan berpura-pura tak mengerti maknanya. Berpura-pura ia tertidur setelahnya.

Ketika sebenarnya Harry tak bisa memejamkan mata sampai beberapa jam kemudian. Ketika menutup semua kekhawatiran. Dan semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada pria di sampingnya jika Draco berusaha memperjuangkan mereka.

Harry mengambil keputusan.

Ia lebih memilih melepaskan.

Dengan begitu Draco akan baik-baik saja.

.

.

.

Hermione setengah berlari ketika melihat Harry sampai di ujung red carpet. Selesai berpose untuk para wartawan, ia menolak semua tawaran wawancara dengan sopan dan tersenyum kikuk seperti biasanya. Berkata bahwa ia terburu-buru, sambil menunjuk wajah Hermione yang masam di ujung karpet berbulu empuk yang diinjaki sepatu mahal. Beberapa wartawan, yang pernah mewawancarai Harry tertawa, cukup akrab dengan sifat overprotective manajer Harry itu.

"Ikut Aku!" ujarnya penuh nada perintah ketika Harry sampai di pintu depan theater tempat pemutaran perdana Folie a Deux.

"Gaunmu indah, by the way…" Harry kemudian mengeluarkan seringai kudanya. Hermione memutar bola matanya. Bagaimanapun Harry harus bicara karena Hermione yang diam dengan wajah penuh kemarahan lebih menakutkan dari apapun di dunia ini. Setidaknya begitu menurut Harry.

Mungkin kecuali air mata ibunya dan wajah kecewa ayahnya. Harry tidak takut pada ekspresi lain di dunia ini.

Oh. Dan senyum penuh afeksi yang ia dapatkan dari Draco sejak kemarin.

Tidak ada alasan khusus, hanya saja Harry takut akan ketamakan. Kau tahu, Harry hanya manusia. Seseorang sesempurna Draco Malfoy membisikkan pernyataan cinta setiap dua menit sekali, bukan sesuatu yang mudah ia tolak begitu saja. Logika Harry berteriak bahwa Draco hanya melakukan pekerjaannya. Mungkin sedikit terbawa suasana. Tapi pada akhirnya ia akan terbangun suatu pagi dan euforia dalam darahnya akan hilang. Maka tinggal Harry sendirian dengan perasaannya.

Itu sebabnya Harry berusaha menahan diri. Meskipun tidak terlalu baik. Tapi Harry sungguh-sungguh berusaha menahan diri.

"Kita harus menghentikan ini…" Hermione berbisik, namun ada jeritan putus asa yang terkandung dalam kalimat barusan. Mereka kini ada di sudut sepi dekat toilet wanita. Di balik pot besar yang ditumbuhi pohon palem aneh yang tampak terlalu segar untuk ukuran tanaman yang disimpan hanya di bawah cahaya buatan manusia.

"Semuanya akan berakhir dengan sendirinya…" Harry menyempatkan menjeda untuk tersenyum. "Tenang saja…" Dan Harry tahu Hermione akan segera mendebatnya jadi ia menarik nafas detik itu juga.

"Tenang katamu?" Hermione terdengar murka, Harry tercekat nafasnya dan refleks mundur selangkah. "Dengar, kau ada di sembilan headline tabloid gosip pagi ini. Kau dan Draco, dan parade kemesraan kalian harus dihentikan. Orang-orang mulai berpikir kalian nyata, kau mengerti? Sekarang mereka benar-benar berharap kalian nyata. Ada banyak dukungan. Terlalu banyak untuk dihentikan begitu saja. Saat ini Kau mendapat sorotan tapi berikutnya, ketika semua hal dengan Draco ini berakhir… Mereka akan menyalahkanmu karena tidak sungguh-sungguh menerima perasaan Draco. Mereka akan menyalahkanmu yang membuat segala urusan dengan Draco ini menggantung. Kau mengerti? Kau. Sekali lagi. Yang akan menjadi kambing hitam atas semua ini." Tangan Hermione bergerak liar sembari ia bicara. Penuh emosi seakan-akan ia membicarakan isu penting, seperti global warming atau kesetaraan gender. Ini hanya hidup Harry Potter, Harry pikir. Tidak sepenting itu… Harry membuat anggukan persetujuan untuk suara di kepalanya dan bukan kalimat panjang Hermione.

Hermione menghempaskan nafas putus asa dan menyelipkan poninya ke belakang telinga.

Harry hanya tersenyum tipis, senyum yang ia tahu sedikit terlalu ia paksakan, "Bukan masalah untukku. Aku pernah dibenci seluruh Inggris sebelumnya. Aku bisa melewatinya sekali lagi."

"Dan menyilet nadimu sekali lagi?" Hermione bertanya sinis. Pupil mata Harry membulat, terkaget dengan kalimat Hermione. "Oke. Sorry. Aku tidak bermaksud…"

"Kita setuju untuk tidak membicarakan hal itu lagi." Harry berujar dingin.

"Tapi kau dan permainan kecilmu dengan Draco tidak membuat ini mudah—,"Harry menepuk pundak Hermione dan menghentikan racauan panjang Hermione yang berikutnya.

"Draco ingin mendeklarasikan soal kami…"

"Maksudmu?"

"Ia bilang ia menyukaiku?" ujar Harry tak yakin. Merasa abstrak dengan ide itu di kepalanya kini. Lebih abstrak lagi ketika melisankannya.

Hermione memasang wajah skeptis yang Harry sudah hafal di luar kepala. Jadi ia berkata, "Tidak… Aku tahu. Aku tahu soal track record kekasih Draco. Aku tahu Draco terdengar tidak mungkin berubah 180 derajat dari membenciku, menjadi menyukaiku. Percayalah aku tahu."

"Kalau begitu kau tahu betapa absurdnya kalimatmu tadi."

Harry mendesah. Mengangguk pasrah.

Ia tidak punya banyak pilihan dan sejujurnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah segera menempati tempat duduknya di teater. Ia tahu ia akan duduk di sebelah Draco. Penempatan kursi ini sudah diatur seperti biasanya. Bahwa para pemain utama, sutradara dan produser akan duduk saling berdekatan. Harry ingin cepat-cepat bertemu Ron dan menjitak kepalanya. Berbisik bahwa ia akan membunuhnya suatu hari nanti karena ia sudah melibatkan Harry di sebuah permasalahan yang luar biasa runyam saat ini.

Jika bukan karena ide Ron ia tidak perlu menemani Draco menyanyi di atas panggung. Dan tentu Draco tidak akan tiba-tiba kerasukan sesuatu dan menciumnya di depan paparazzi.

Tapi itu hanya jika.

Mungkin bisa saja Harry dan Draco memang ditakdirkan untuk terlibat dalam hubungan yang lebih rumit dari sekedar perseteruan antar kolega.

"Dengar…" Suara lelah Hermione membawa Harry kembali ke dunia nyata. "Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu dan tolong jawab sejujurnya." Harry tahu pasti apa yang akan Hermione tanyakan padanya detik itu tanpa perlu Hermione bersuara lagi.

"Apa kau menyukai Draco Malfoy?"

Harry ingin menggeleng. Menafikan semua perasaannya dan mengeluarkan nada canda bahwa lelucon Hermione sama sekali tidak lucu.

Tapi Harry menegakkan punggung dan menatap tepat di wajah Hermione yang disaputi riasan tipis. Lipstik natural berwarna merah kecoklatan membuat tampilan Hermione terlihat lebih dewasa dari biasanya. Harry berharap ini akan lebih mudah jika saja ia bukan gay.

Ia pernah berharap.

Berdoa sesekali di malam-malam penuh keputusasaan.

Akan lebih mudah jika ia jatuh cinta pada wanita. Pada Hermione, misalnya. Ia gadis yang baik. Dan lagipula Harry butuh seseorang yang mengatur berbagai pilihan buruk yang dipilihnya untuk kehidupannya. Hermione selalu berhasil melepaskan Harry dari jeratan masalah.

Akan lebih mudah jika 10 tahun lalu ia terlibat skandal dengan Cho Chang dan bukan Cedric. Publik tidak akan memakinya sesadis yang ia dapatkan hingga membuat Harry berpikir untuk lebih baik mati.

Harry mengerjap. Bertemu kilau kecoklatan dari mata Hermione yang dalam.

"Harry?" Hermione tampak khawatir saat ini.

Tiba-tiba Harry merasakan basah di sudut matanya. Dan ia mulai menangis. Lalu merunduk, menyentuh dadanya yang terasa sesak ketika berpikir… Ya, ia menyukai Draco.

Ya.

Hermione tahu itu jawabannya tanpa perlu bertanya.

Harry menangis tanpa suara. Tubuhnya turun dan ia terjongkok di sudut gelap. Harry mendengar beberapa langkah kaki dan Hermione menggunakan gaun kaftannya yang melebar untuk menutupi sosok Harry yang mungkin mengundang prihatin saat ini.

Prihatin atau bahan cacian lain.

Harry benar-benar harus berhenti menjadi cry baby.

Dan mungkin berhenti jatuh cinta pada pria-pria yang tidak mungkin ia miliki. Ia membenci takdirnya. Kehidupan yang alurnya membawanya bertemu pria-pria yang tak bisa bersama dengannya. Harry pria sederhana. Ia hanya butuh kisah cinta sederhana. Pria yang cukup baik yang bisa menemaninya hingga menua nanti. Harry tidak butuh pria romantis. Tidak butuh pria kaya. Harry tidak punya tipe tertentu.

Ia hanya butuh seseorang yang akan mendekapnya ketika ia bangun setiap pagi. Apa itu berlebihan? Ia tidak butuh cerita tragis Romeo dan Juliet. Atau kata-kata manis bahagia selamanya semacam dongeng-dongeng Disney. Tapi tidak bisakah ia punya satu cerita yang tak semenyakitkan ini?

Cerita cinta yang tak membuatnya menangis.

Lalu Harry tertawa di dalam otaknya, permintaan bodoh. Karena pada satu titik manusia manapun akan menangisi kisah cinta mereka. Entah untuk alasan apapun.

Suara langkah sepatu hak tinggi itu lewat. Masuk ke toilet wanita sepertinya. Pikir Harry. Jadi Harry berdiri dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan.

Memasang his legendary goofy grin. Lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku akan lakukan apapun yang Draco putuskan setelah malam ini."

"Harry…" di wajah cantik Hermione ada kerut khawatir.

"Berhenti berkerut!" Harry mengusap kening Hermione dengan jemarinya. "Kau harus terlihat cantik dan menawan di depan Ron…"

Hermione memukul lengan Harry, "Hentikan! Tidak ada apa-apa di antara kami…"

"Kalaupun ada apa-apa bukan urusanku juga… Aku hanya ikut senang saja asal kau berhenti memukuliku tiap kugoda…" Hermione bersemu merah, berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum merekah karena di senyum Harry masih bersisa jejak bekas air mata.

"Kau yakin kau baik-baik saja?"

"Tidak, tentu saja... pertanyaan buruk 'mione…"

Hermione memutar bola matanya, "Aku tahu."

Lalu tanpa bicara apapun lagi Hermione memeluk Harry sesaat. Sebelum kemudian membiarkan Harry menggenggam tangan Hermione dan bersikap selayaknya gentleman. Membukakan pintu teateruntuk Hermione, mempersilahkan Hermione jalan lebih dulu ketika mereka perlahan-lahan memasuki ruang teater.

Harry tersenyum jauh sebelum Ron sampai, dengan langkah tergesa berjalan ke arah mereka. "Kau ke mana saja?" tanyanya setengah berbisik panik.

"Had a little bit panic attack, actually…" Hermione yang menjawab. Ron memandang dengan tatapan khawatir seakan bertanya soal kondisi Harry.

Harry cuma terkekeh ringan, "I'm fine… where's my seat?" tatapan Ron berubah menjadi tatapan curiga dan menyapu seluruh tubuh Harry. Lalu berhenti di emeraldnya.

"Kau habis menangis." Ron membuat kesimpulan. "Ada apa?"

Harry menggeleng. Ron mendesah. Berhenti bertanya dan memindahkan tatapannya pada Hermione. Dan semu merah yang tiba-tiba menyeruak di pipi Ron. Membuat Harry mau tak mau terpingkal. "Waw." Hermione hanya tersenyum kecil malu-malu atas komentar pendek Ron barusan.

Harry mundur selangkah, "Aku rasa aku bisa mencari tempat dudukku sendiri…" Ron dan Hermione melepaskan tatapan yang semacam mengatakan 'Apa?! Kami tidak melakukan apa-apa'.

"Dengar, jika ada satu pasangan di sini yang sebaiknya cepat jadian dan berhenti meneruskan bullshit tentang salah satu dari kalian tidak merasakan perasaan yang sama. Like really? Kalian berdua harus menghentikan itu sekarang juga." Dan Harry terburu-buru mundur menjauh sebelum Hermione sempat membereskan suara protes dan berhasil memukul lengannya.

Hermione harus benar-benar berhenti dengan kebiasaan memukul Harry jika ia kesal. Atau excited ketika membeli buku baru dari pengarang kesukaannya. Atau ketika Harry berkata bahwa ia masih tidak mengerti kenapa Hermione memilih menjadi manajemen artis ketika ia hapal hampir seluruh perundang-undangan Inggris dan memiliki ijazah hukum?

"Harry!" sebuah tangan menarik Harry mendekat. Tubuhnya agak limbung, tapi Harry merasa aman begitu melihat senyum Draco ketika ia berbalik. "Sebelah sini…" ia menarik Harry menuju jajaran bangku paling strategis di teater itu. MCmemanggil nama Ron untuk naik ke panggung, di belakangnya layar besar terpampang megah, dan Harry sampai di tempat duduknya bersamaan dengan riuh tepuk tangan. Sambil memposisikan dirinya untuk duduk ia ikut bertepuk tangan.

Harry bisa merasakan tubuh Draco yang lebih dekat ke arahnya. Menginvasi ruang personalnya, tapi Harry merasa nyaman dengan kehangatan yang ditawarkan suhu tubuh Draco, "Aku selalu tidak mengerti kenapa sampai sekarang Ron masih tetap kelihatan takut ketika berada di depan banyak orang?!" Harry berbisik pada Draco.

"Itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak begitu menyukainya di proyek pertama kami…"

Harry mengernyit, wajahnya terlihat tampak merendahkan. "'Tidak begitu menyukainya'? God! Draco kau mengancam berhenti ketika pengambilan gambar film yang hampir selesai! Kau membuatku bercita-cita untuk meninju hidungmu sampai patah karena membuat Ron menangis lewat telepon…"

Draco terkekeh. Harry mempertahankan ekspresi sebalnya selama beberapa detik. "Sorry…" Draco menawarkan kalimat itu dengan nada ragu. "I'm a judgemental d*ck, you know... like most of the time…" Harry menyerah dan ikut terkekeh.

"Asal kau tahu aku akan tetap meninju hidungmu suatu saat nanti…" Ujar Harry, ada keyakinan dalam nada suaranya.

Draco melebarkan senyum antagonisnya, "Aku menunggu saat itu tiba tapi sekarang sebaiknya kita fokus menonton film kita…" Ada sesuatu, setiap kali kata kita keluar dari bibir Draco, Harry merasakan ada getar aneh di dadanya.

Seperti seseorang iseng menggelitiki jantungnya.

Yang kedengarannya jauh lebih bertema horror dibanding romantis jika ia benar-benar bayangkan.

Tapi sensasi kata 'kita' yang keluar dari bibir Draco sangat menyenangkan. Harry tersenyum kecil, lalu, "Hey…" ia menyentuh wajah Draco. Ia tahu ada beberapa kamera yang merekam momen-momen saat ini. Dan Ron masih bergulat dengan pidatonya.

Tidak adil jika ia mencuri momen Ron dengan membuat kamera mengarah padanya karena ia mencium Draco Malfoy saat ini. Tapi ia ingin mencium Draco.

"What?" kata itu keluar lembut, disertai desahan. Harry tahu sensasi kebersamaan mereka bukan hanya miliknya.

"No... I just... I…" Harry harus berhenti megap-megap seperti ikan mati kehabisan air.

Lalu "Hei," kali ini Draco yang keluarkan. Dan bibir keduanya yang hanya berjarak beberapa inci bersentuhan.

Lalu ribut siulan dan teriakan 'Get a room, lovebirds'.

Dan Harry memeletkan lidahnya ke arah kamera ketika Ron mengakhiri pidatonya dengan kalimat, "Aku, sebelumnya, tidak percaya kalimat 'everything is posible'. Tapi setelah film ini aku tahu apapun bisa terjadi. Maksudku, lihat Draco dan Harry. Aku berusaha memisahkan mereka untuk tidak saling membunuh selama proses syuting dan sekarang aku harus berusaha memisahkan mereka untuk tidak sedikit-sedikit berciuman. Love, everybody, is a mistery…" tepuk tangan bergemuruh. Ron tersenyum lebar lalu mengatakan kalimat undur diri dari panggung.

Ron turun dari panggung. Dan tirai layar untuk memutar film dinyalakan. Harry selalu suka teknologi, pikirnya. Folie a Deux, mulai diputar.

Harry merasakan tangan Draco berkeringat. Ia tidak pernah membayangkan Draco sebagai salah satu aktor yang nervous ketika karyanya pertama kali dipublikasikan. Harry mendekat, ia mungkin baru saja terkena panic attack sekitar 20 menit lalu. Tapi bukan berarti ia tidak bisa mengusapi telapak tangan Draco di genggaman tangannya dan berbisik, "It's fine."

Dan ketika film berakhir dan tepuk tangan riuh di sela suara sesegukan tangis puluhan penonton. Draco berbalik pada Harry. Menegcup pipinya kilat.

"Yeah... we're fine."

.

.

.

Dua minggu pertama sejak penayangan perdana, Draco tidak yakin ia masih terlihat seperti manusia. Dengan jadwal padat jumpa fans dan wawancara untuk film terbarunya. Ditambah kehebohan setelah Harry dengan malu-malu berakting malu-malu balas mencium Draco di depan umum untuk pertama kalinya di sebuah jumpa fans di salah satu bioskop di Chicago, setelah tiga hari penayangan serentak di Amerika dan dua hari menjelang penayangan internasional.

Severus menelepon Lockhart dan sempat terjadi keributan, lewat jaringan skype ketika Harry dan Draco bergabung dalam 'rapat online' mendadak itu. Harry meminta maaf pada Snape dan juga agensi Draco atas sikap tidak profesionalnya. Dan berkata bahwa ia akan lebih hati-hati ke depannya dan bertahan dengan perannya sebagai 'seseorang yang menggantung hubungan mereka'. Harry menggenggam tangan Draco sepanjang waktu. Menggeleng pelan, nyaris tak terlihat, setiap kali Draco berusaha memotong Snape dan mengutarakan ide untuk membuat mereka official.

Malam itu, ketika bergelung dan menonton episode lama CSI dari tv hotel. Harry berkata, "Kau tidak perlu mengorbankan dirimu untuk sebuah lelucon, Drac…"

Draco ingin mendebat ketika Harry tiba-tiba menciumnya. "Kau tidak mencintaiku." Itu bukan sebuah argumen yang perlu dibantah. Tidak ada keraguan di dalamnya. Seakan kalimat itu firman yang keluar dari bibir perawan suci.

Draco menatap ke dalam emerald hijau Harry. Mengusap setitik keringat di kening Harry, ketika air conditioner mereka menyala dengan baik dan satu-satunya yang membuat Draco tidak menggigil adalah tubuh Harry. Draco ingin bertanya mengapa Harry bisa begitu yakin.

Tidak ada yang pernah tahu soal perasaan apa sebenarnya yang Draco rasakan. God. Bahkan Draco sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Mengapa Harry bisa begitu yakin bahwa Draco tidak jatuh cinta pada Harry? Dan seakan menjawab pertanyaan itu Harry tersenyum lalu kelopak matanya menutup, menutup akses iris kelabu Draco pada kilau emerald Harry. "Karena sampai saat inipun kau ragu, dan itu satu poin yang membenarkanku."

Ada nada final, Draco tak berani mengganggugugat. Jadi ia hanya mendekap Harry lebih dalam.

Dan ketika pagi tiba, tubuh Harry sudah menghilang. Beserta tanda-tanda keberadaannya semalam.

Draco tahu mereka punya jadwal wawancara yang terpisah.

Tapi lenyap ketika fajar datang. Ketika Draco pertama kali membuka mata, sama sekali bukan pemandangan pembangkit semangat. Ia tahu, ia mengacaukan banyak hal.

Ia tahu bahwa Harry mungkin hanya berusaha menyelamatkan dirinya sebelum kekacauan bertambah dalam.

Draco tahu itu bukan gerakan egois.

Draco tahu justru yang egois adalah dirinya. Karena seyakin apapun Draco pada perasaannya. Dunia tidak akan benar-benar rela.

Ia tahu seperti apa sebelumnya pendapat publik menghancurkan hidup Harry. Harry hanya tidak ingin itu terjadi pada Draco. Atau pada dirinya lagi, kedua kalinya.

Karena yang kedua kali, adalah lubang dalam. Kesalahan yang sama yang bahkan tak akan dilompati keledai dungu, begitu pepatah bilang. Tidak tepat begitu… otak pagi Draco memprotes, sisi kecintaan pada sastra di bagian otak Draco terlalu kuat untuk tidak memprotes pernyataannya sendiri.

Malam itu, Harry tak datang ke kamar hotelnya.

Mereka tetap berakting di depan kamera. Tapi Harry tak lagi berinisiatif menyentuhnya.

Draco kembali ke London lebih awal dan menyelesaikan proses rekaman lagu-yang-draco-ciptakan-di-kafe-yang-bodohnya-Draco-tidak-sadar-bahwa-itu-tentang-Cedric-sampai-akhir-puisi, Draco benar-benar harus menemukan nama secepatnya sebelum ia pada akhirnya benar-benar menyimpan nama super panjang barusan ketika ia menyerahkan demonya pada perusahaan rekamannya dan perusahaan rekamannya berpikir bahwa mungkin judul panjang bisa kembali musim seperti awal tahun 2000-an ketika post punk rock band menjadi hal populer di Amerika. Oh ya, dan tentu saja dunia.

Sambil menikmati segelas wine putih mahal yang ia pesan di penerbangannya, Draco memutar musik dari mp3 smartphonenya, album pertama Panic! at the Disco, karena ia menyukai musik mereka yang kaya dan judul – judul lagu mereka yang luar biasa panjang dan bukan bagian dari lirik lagu. Ia memilih salah satu lagu dengan judul terpanjang di playlist album itu. "There's a Good Reason These Tables Are Numbered Honey, You Just Haven't Thought of It Yet," lalu mulai menggumamkan liriknya.

Lalu mulai mengambil buku catatan kecilnya, karena Draco adalah gentleman kuno yang lebih menghargai goresan tinta pada kertas dibandingkan catatan di smartphonenya. Menulis beberapa judul. Menilik lirik a.k.a puisi Harry. Berharap menemukan kata atau frasa yang tepat.

Can we pretend? Pikir Draco, menggeleng dua detik kemudian. Terlalu beresiko. Orang-orang lebih akan berasumsi lagu ini mengenai mereka dan ini seperti Draco membuka aib sendiri seakan-akan mengatakan bahwa 'ya, kami hanya bualan sejak awal'.

Draco mencoretnya. Mencari kata yang paling sering muncul dan mungkin ia bisa memberi judul lagu dengan hanya satu kata. Lebih efisien, dan biasanya lebih catchy. Tapi puisi Harry memiliki kata-kata yang rumit dan tak banyak pengulangan yang kemudian merangkum puisi itu.

Draco mencoret dan menggarisbawahi beberapa kata, tapi tak ada yang 'benar' menurutnya. Di telinganya lagu berulang. Suara Brendon Urie, keluar berulang menggoda.

"Tonight, tonight you are, you are a whispering campaign. I bet to them your name is 'Cheap'," Draco selalu tersenyum untuk bagian lirik ini, senyum antisipasi ketika dengan menggoda vokalis band ini merendahkan suaranya dan berbisik di akhir kalimat, "I bet to them you look like shhh..."

Draco selalu berpikir bahwa Ryan Ross adalah salah satu lirikus ternakal dengan kejeniusannya pada banyak lirik lagu dari band ini. Membuat vokalisnya hanya membisikkan 'shhh' dan tidak pernah benar-benar menuliskan representasi dari kata apa bisikan 'shhh' itu. Terkadang vokalisnya dengan jahil menyelipkan kata 'sex' setelah bisikan 'shhh', terkadang 'sheep', terkadang hanya 'shhh' dengan desahan tertahan. Selalu berganti di tiap konser yang mereka mainkan. Lalu Draco menatap ke luar jendela dan melihat gumpalan awan yang seakan terjangkau genggaman.

Mungkin ia bisa memberi judul dengan hanya tulisan 'shhh' atau menuliskan bunyi-bunyi tidak jelas sebagai judul lagunya. Draco tertawa sendiri. Beruntung penerbangan ini tak penuh dan Draco mendapatkan tempat duduk di kelas pertama, jadi orang-orang penting di kelas pertama ini terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing. Tidak ada yang menyaksikan Draco Malfoy tertawa sendiri pada lelucon di kepalanya, seperti seorang psycho di atas pesawat.

Tidak bagus. Pikiran Draco mengawang. Berujung pada senyum sendu Harry ketika tadi pagi ia berpamitan. Membuat penerbangan yang baru lepas landas ini tiba-tiba saja sudah terasa melelahkan.

Draco tidak sadar kapan dirinya mulai tertidur, tapi ia melewatkan saat-saat landing. Dan karena ia menggunakan safebeltnya sepanjang penerbangan sepertinya pramugari tidak merasa perlu membangunkannya.

Ia tersadar ketika dengan hati-hati dan perlahan seorang pramugari membangunkannya. Setengah penumpang di kabinnya sudah menghilang menuju ke luar pesawat. Draco tersenyum grogi, lebih karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang.

Blaise manyambutnya dengan secangkir kopi hitam yang rasanya sangat kuat. Dan tanpa ucapan 'selamat datang' atau 'hai' ia langsung membicarakan jadwal Draco hari ini. Blaise bilang ia akan mengantar Draco untuk mengganti baju, lalu mereka langsung berangkat menuju ke sebuah acara talkshow, dan Draco akan mengakhiri jadwalnya untuk sesi latihan dengan band pengiringnya untuk latihan lagu baru Draco sebelum sesi rekaman besok siang.

Draco masih melempar tatapan sinis pada Draco karena kopi hitamnya yang tanpa gula. Dan Blaise tahu itu jadi ia hanya bicara singkat soal hal terakhir yang mereka butuhkan saat ini adalah Draco yang tertidur atau Draco yang terlalu manis karena terlalu banyak gula di darahnya.

Draco ingin mendebat tapi ia tahu ia harus menyimpan tenaganya untuk jadwal padat hari ini jadi ia memutuskan untuk membuka laptopnya selama perjalanan dan membuka aplikasi mixer musicnya. Memeriksa beberapa rhythm yang cukup menjanjikan untuk dijadikan lagu, ia masih menunggu lirik baru dari Harry.

Buku puisi Harry masih tersimpan dengan hati-hati di koper Draco. Tapi ia belum ingin membukanya lagi. Dan terhanyut dalam perasaan yang teraduk-aduk antara cemburu, murka dan amazement tentang bagaimana Harry menulis banyak kalimat-kalimat indah hanya untuk satu nama.

Harry pernah beberapa kali bertanya soal puisinya. Mana lagi yang akan Draco ubah menjadi sebuah lagu. Draco hanya tersenyum tipis. Dan tidak menjawab dengan jelas.

Lama-kelamaan Harry sepertinya mengerti, dan malam kemarin menawarkan bahwa ia bisa membuatkan puisi lain jika Draco mau. Jika puisi Harry yang ada di tangan Draco, yang ia percayakan pada Draco saat ini tidak cukup bagus.

Dan masalah Draco adalah meyakinkan pada Harry bahwa puisi yang ada pada buku itu lebih dari bagus. Lebih dari cukup. Ia hanya tidak bisa menjelaskan bahwa puisi itu membuatnya cemburu pada Cedric tanpa membuat dirinya terdengar menyedihkan di mata Harry. Serously, cemburu pada pria yang bahkan tak mengakui hubungannya dengan Harry dan tidak pernah ditemui Harry selama 15 tahun tidak terdengar masuk akal bagi siapapun.

Semua orang yang mengetahui cerita mereka pasti tahu bahwa Harry sangat membenci pria itu.

Dan tidak ada alasan untuk cemburu.

Tapi segala hal sejak awal membuat otak Draco tidak berputar seperti bagaimana logika seharusnya berputar. Ia tetap saja cemburu tentang Cedric. Tidak masuk akal. Dan sejujurnya jika ada yang bertanya di depan hidung Draco apa haknya untuk cemburu? Draco akan menampar dirinya sendiri dan berteriak, tidak ada.

Karena sekali lagi, mereka bukan apa-apa. Bukan sepasang kekasih. Draco sama sekali tidak punya hak untuk perasaan tidak nyamannya setiap kali dalam wawancara mereka nama Cedric disebutkan. Tentu Harry juga tidak suka jika ada pewawancara yang mengungkit lagi masalah Cedric. Tapi Draco merasa lebih murka daripada Harry.

"Fokus, Drac…" Blaise menepuk pundak Draco ketika mereka sampai di gedung televisi tempat talkshow dimana Draco akan menjadi bintang tamu.

"Ya." Blaise mengernyit. Draco tahu karena biasanya Draco akan menjawab lebih galak setiap kali diperingatkan oleh managernya itu.

Draco cuma menggeleng dan tersenyum.

Ia menghabiskan satu setengah jam lebih di gedung itu. Proses syutingnya mudah. Bukan wawancara terbaik yang pernah Draco lakukan, tapi juga bukan wawancara yang buruk. Ia menolak tawaran snack sore. Dan mengecek jam di hpnya. Masih dalam waktu Los Angeles. Ia berangkat pagi buta, tapi beda tujuh jam dengan jam London. Harry mungkin masih bersiap-siap untuk sarapan pikir Draco. Mengingat jadwal promosi Harry hari ini hanya pada malam dan Harry is not really a morning person. Biasanya ia akan memilih pancake untuk menu sarapannya pada jam 11.

Draco tersenyum pada layar ponselnya.

Ia ingin menelepon Harry, tapi Blaise lebih dahulu muncul di green room dan dengan hanya lirikan memerintahkan Draco untuk cepat bersiap. Draco mendorong pikiran tentang Harry ke belakang kesadarannya. Memaksa tubuhnya untuk bangkit dan melanjutkan kembali aktivitasnya.

Draco tidak yakin berapa lama mereka akhirnya sampai ketika terjebak kemacetan di jalur tol dalam kota London. Ada sebuah kecelakaan beruntun. Draco tidak begitu mendengarkan berita melalui radio yang Blaise putar. Ia hanya menghitung bahwa Blaise setidaknya mengumpat 13 kali sepanjang kemacetan. Dan tambahan umpatan lain ketika ia menutup telepon dan berusaha agar para pemain band pendukung Draco bisa bersabar sebentar lagi.

Berkata mereka akan sampai dalam 15 menit, ketika masih ada antrian keluar loket tol yang harus dilalui Blaise sebelum akhirnya keluar tol, dan benar-benar menuju studio rekaman, yang setidaknya butuh waktu 20 menit.

Mungkin Blaise sempat ikut F1 selama aku pergi… Draco berpikir usil. Sambil menahan kantuk ia membaca beberapa email yang masuk ke kotak pesannya. Tidak ada yang penting. Kecuali laporan penjualan parfum yang akhirnya sampai ke tangan Draco, tidak ada yang Draco baca baik-baik.

Draco melirik baterai smartphonenya yang tinggal bersisa 37%. Melirik Blaise yang mengumpat sekali lagi ketika kartu e-toll miliknya tidak segera terbaca oleh mesin dan Blaise harus mengulangnya beberapa kali.

Dan detik ketika Draco berpikir untuk berkomentar soal umpatan ke-15 Blaise sore ini, ponsel Draco berdering. Ia melihat id pemanggilnya dan tersenyum sendiri. Lalu ada suara dari belakang kemudi, "Pasti Harry…" Draco menemukan Blaise yang memutar bola matanya, melihatnya lewat pantulan kaca spion.

"Shut Up!" Draco menyentuh layar ponselnya. "Hai." Dan Draco sungguh-sungguh ingin meninju hidungnya sendiri. Bahkan drama tv remaja punya kalimat sapaan yang lebih baik.

"Kau terdengar excited…" Harry berkomentar, Draco mencatat ia bisa merasakan senyuman ketika Harry bersuara. "Kurasa seseorang merindukanku?" tanyanya dengan nada menggoda.

Draco mendengus, "Katakan itu pada siapa yang menelepon pertama?" Lalu Harry tertawa.

"Bagaimana London?"

Draco memutar bola mata, tentu saja, tanyakan soal kota yang kau kenal dengan baik, Harry. Draco pikir. Benar-benar bahan pembicaraan yang bermutu, ketika kau bisa mulai me-rambling tentang bagaimana rindunya kau padaku? Hmmm?

Draco bukan seorang narsistik. Setidaknya tidak setiap saat. Ketika ia mendapatkan perhatian yang cukup dari media dan masyarakat ia tak pernah berusaha merekam kegiatan seksualnya dan kemudian menyebarkan lewat internet untuk mendapat perhatian. Ia tidak perduli soal perhatian orang-orang selama ia cukup menarik perhatian para kritikus film dan para produser. Ia tidak butuh perhatian seluruh wanita, selama ia punya cukup banyak pilihan alternatif untuk ia ajak kencan.

Tapi dengan Harry? Pemuda ini sejak awal tidak menyukai Draco. Ia tidak peduli dengan Draco, tapi ia peduli pada setiap orang yang Draco perlakukan semena-mena. Ia men-deathglare Draco sejak pertama kali Ronald Weasley memperkenalkan mereka. Dan butuh beberapa menit setelah Ron membisiki Harry bahwa masalah di film sebelumnya sudah selesai untuk membuat Harry berhenti menatap dingin pada Draco.

Harry membela seorang penata busana yang Draco caci maki karena tidak becus dalam menjahit sebuah kancing jas yang lepas untuk Draco. Harry menantang Draco berkelahi di hari kedua mereka syuting setelah Draco membentak seorang figuran nenek tua yang tidak sengaja menyenggol Draco. Harry mendorong Draco hingga terjatuh di hari kelima dan nyaris meninju hidungnya ketika Draco menghina seorang gadis muda keturunan India yang menjadi pengarah lighting hari itu.

"Earth to Draco!" Draco mengerjap. Ia bisa merasakan punggungnya yang waktu itu membentur lantai dingin. Dan nafas Harry di wajahnya, dan tatapan kemarahan di mata Harry hari itu.

"Yeah? Kau bilang apa tadi?" detik itu Draco baru sadar bahwa mata Harry tidak berwarna biru. Tidak juga cokelat. Tapi hijau. Hijau jernih. Aktor pemalu bermata emerald, itu julukan yang diberikan padanya. Draco sebelumnya tak pernah begitu penasaran meskipun selama ini ia hanya melihat kilat cokelat, terkadang biru ketika tertimpa cahaya.

"Seriously?! Draco, ini masih sore, jangan melamunkan hal-hal jorok sekarang!" Draco hanya menjawab Harry dengan gumaman sok sexy yang Draco tahu Harry benci setiap kali Draco keluarkan tidak pada tempatnya.

"Apa yang kau pikirkan memangnya?" Ada nafas kekalahan. Draco tidak tahu ia memenangkan pertanding apa tapi ia senang saja bisa mengalahkan sesuatu dari Harry.

"Matamu." jawabnya singkat.

Draco mendengar nafas tercekat. "Tidak lucu."

"Aku tidak sedang melucu."

Lalu hening, seandainya Draco tidak mendengar nafas Harry di ujung telepon sana. Ia mungkin berpikir bahwa ia membuat Harry terlalu kesal sampai-sampai meninggalkan teleponnya tanpa menutup panggilannya. Tidak peduli berapa biaya panggilan dari LA ke London ini.

"Hey… Draco…" ujar Harry setelah nafasnya tercekat sesaat dan kemudian seperti akhirnya menemukan lagi suaranya, ia terburu-buru bicara. "Apa kau suka sejarah?"

Draco tidak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan sederhana itu. Sangat sederhana tapi terasa di luar konteks. Ia melirik ke jalanan yang jauh lebih lengang dan sekarang mobil Draco sudah mencapai jalan utama. Pada belokan kedua, ada sebuah gedung abu-abu dengan gitar besar di atas gedung. Itu studio rekaman Draco.

Ia hanya punya sekitar lima menit, kurang lebih, untuk menyelesaikan pembicaraan ini.

"Tidak terlalu, kenapa?" Draco mengingat jaman high schoolnya dan meskipun nilai pelajaran sejarahnya tidak pernah jelek. Butuh usaha ekstra untuk membuatnya tetap terbangun ketika guru sejarahnya, dalam bahasa Perancis, berapi-api menceritakan bagaimana Raja Louis entah yang keberapa digulingkan oleh pemberontakan rakyat.

"Aku menyukai sejarah." Draco pikir ia tidak butuh informasi ini karena dua minggu lebih bersama Harry berhasil membuat Draco hapal dua bahan pembicaraan favorit Harry, jika bukan musik maka perdebatan –dengan dirinya sendiri- beberapa versi sejarah dari banyak peristiwa di seluruh dunia. Jika sudah topik sejarah yang Harry pilih, Draco hanya akan menyahut di ujung-ujung kalimat yang Draco pikir perlu ia tanggapi. Setidaknya Harry punya ekspresi yang lebih kaya dibandingkan Mrs. Violet, guru sejarah Draco dulu. Dan lagi ia punya perbendaharaan cerita sejarah, like seriously, Harry terdengar seperti Wikipedia berjalan terkadang, hanya saja dengan tampilan yang lebih cute.

"Kau tahu kenapa?" Harry bertanya setelah Draco lupa untuk menjawab.

"Kenapa?" Draco bertanya cepat sebelum Harry menjadi lebih tidak sabar dan mendahuluinya untuk bertanya dan menanyai dirinya sendiri.

"Aku mengalami peristiwa buruk. Sangat buruk. Jadi aku pikir, aku harus mulai mempersiapkan diriku lagi untuk sesuatu yang lebih buruk. Aku membaca sejarah-sejarah terkelam yang bisa kutemukan, dari letusan Krakatau yang menggelapkan nyaris seluruh langit dunia sampai geletakan tulang dan tengkorak di tanah taman-taman Paris yang indah, kota paling romantis sedunia. Mempelajari bahwa penulis sejarah dari barat sangat manipulatif dan seringkali memutarbalikkan fakta."

Harry berhenti, mengambil nafas. Gedung abu-abu sudah terlihat, gitar raksasa berwarna merah di atasnya tampak megah. "Aku merasakannya sebelumnya bahwa peristiwa yang kita tahu. Yang kita anggap realita bisa jadi hanya sebuah karangan. Maka aku berusaha menamengi diriku dengan segala kemungkinan terburuk yang pernah terjadi sebelumnya di dunia ini."

Draco mulai merasa gelisah dalam duduknya. Melirik Blaise dan bertemu pandangan khawatir ke arahnya, "Harry…" ujar Draco. Ia ingin memotong racauan Harry yang meskipun terdengar mengesankan tetap saja tidak pada tempatnya. Ini bukan jam dua dini hari. Dimana Draco tertidur di ranjang hotelnya dan Harry ada dalam dekapannya. Biasanya, yeah, tidak tepat disebut biasanya jika itu hanya terjadi dua kali sebelum acara 'ceramah melalui skype', pada jam-jam seperti itu Harry senang meracau, tentang tenis, tentang David Bowie sampai hidangan seafood untuk makan malam. Tapi Draco menyukainya.

Merasakan kepercayaan Harry padanya.

"Tapi aku tidak mempersiapkan diriku untuk seseorang seperti kau." Draco sedikit merasa tersinggung, aku seburuk itu? Pikirnya. Rasanya ia tidak begitu buruk soal spooning sampai-sampai Harry harus menyimpan Draco di level lebih mengerikan dibandingkan letusan gunung berapi yang paling menyengsarakan umat manusia.

Lalu Harry terkekeh, kekehan tanpa rasa humor di dalamnya. Draco sering melakukannya jika menahan tangis. Maka dari tersinggung perasaan Draco berubah menjadi khawatir dalam dua detik. "Harry?" tanyanya. "Kau baik-baik saja."

"Tidak." ujarnya tegas. "Hanya saja kau baru meninggalkanku tidak lebih dari sehari dan sekarang aku sudah merindukanmu." ada kekehan tanpa rasa humor lagi. Dan rasa khawatir Draco lebih dominan dibanding rasa senangnya karena Harry baru saja mengakui ia merindukan Draco. Tidak karena kekehan tanpa rasa humor yang kedua lebih panjang dari yang pertama. Itu artinya Harry benar-benar menahan dirinya untuk tidak menangis.

"Kau akan kembali ke London dalam dua hari. Aku akan menjemputmu jika kau ma—"

"Aku tahu." ujarnya tegas, lagi. Kali ini tanpa kekehan. Hanya tarikan nafas. "Tapi setelah semua ini kau akan meninggalkanku."

Draco tidak bisa berkata apa-apa untuk statement itu. Ia menawarkan Harry untuk membatalkan persetujuan. Jika mereka memang saling jatuh cinta, kenapa tidak benar-benar jatuh cinta? Dan memperlihatkannya pada seluruh dunia. Tapi Harry yang menolak. Atas nama kebaikan Draco, dan Draco tahu jika ia sungguh-sungguh berpikir jernih, Draco mengerti bahwa yang Harry lakukan benar.

Karena Draco punya terlalu banyak hal yang harus dikorbankan jika mereka mendeklarasikan diri.

Dan jauh di alam bawah sadar Draco ia ketakutan. Karena ia mengetahui resiko itu lebih baik dari siapapun. Nama baik keluarganya, kepercayaan ayahnya, para kolega keluarganya. Draco tahu ini 2015. Dan penggodokan RUU tentang pernikahan sesama jenis di Amerika semakin memanas. Orang-orang sedang menanti ujungnya.

Ia tahu ini bukan saatnya untuk takut.

Tapi jika ia jujur, ia jauh lebih ketakutan dibanding Harry. Harry tahu itu, tawaran Draco hanya sekedar gertakan kosong. Tidak lebih.

"I'm sorry…" Draco tahu itu bukan kalimat bagus. Tidak mengubah apapun, tidak mengejutkan siapapun. Terutama untuk dirinya sendiri? Terdengar menyedihkan.

Pathetic.

Lalu ada kekehan, kali ini lebih kering dari sebelumnya. "Me too…" Draco melirik Blaise yang sudah menyelesaikan prosesi parkirnya. Untuk satu detik penuh telepon itu hening. "And I miss you."

Lalu telepon terputus.

Draco bertukar pandang dengan Blaise. Dan mengumpat untuk pertama kalinya sore itu, "Fuck!"

.

.

.

Malamnya ketika Draco berusaha menelepon Harry. Pemuda itu tidak mengangkat teleponnya. Draco bahkan sampai menelepon Hermione, manajer Harry yang akhirnya Draco ingat namanya. Menanyakan kondisi Harry. Dan ia bilang semua baik-baik saja. Draco menghabiskan waktu sampai jam dua pagi untuk menonton setiap wawancara Harry yang bisa ia temukan. Mencari yang terbaru, sesuatu yang dilabeli hari ini.

Draco hanya menemukan sebuah foto jepretan seorang fans yang disebar di twitternya. Harry menggunakan kemeja tipis hijau toska dan celana jeans yang sangat ketat yang seharusnya ilegal digunakan oleh para pria berpantat bagus seperti Harry. Draco menggelengkan kepalanya dan fokus untuk tetap khawatir sambil mengusir pikiran-pikiran 'aneh' dari kepalanya.

Dan tidak ada kabar lain. Dan coba tebak, sesentimentil apapun manusia, matahari tetap bersinar. Hidup tetap berjalan, Draco menemukan dirinya lebih mudah tersulut emosi dari biasanya. Draco yakin produser studio rekamannya akan mengusir Draco jika Blaise tidak menenangkan lelaki berkepala plontos itu. Memberi pengertian bahwa Draco hanya sedang kelelahan dan biasanya tidak berperilaku sebrengsek ini.

Draco menutup hari itu dengan sebuah wawancara malam di sebuah stasiun radio yang digandrungi remaja. Menemukan dirinya menghindari sebisa mungkin topik soal hubungan Harry dan dirinya. Sementara pewawancaranya, yang sebenarnya gadis yang cukup manis, berusaha sekuat tenaga untuk memutar segala arah pembicaraan menjadi mengenai Harry.

Draco tahu radio ini terintegrasi manajemennya dengan sebuah tabloid gosip. Ia yakin besok pagi berita keretakan 'hubungan'nya dengan Harry sudah akan dimulai oleh tabloid itu.

Ketika ia sampai ke apartemennya. Ia bergegas untuk mandi sebelum merasa terlalu putus asa dengan kebisuan dari Harry ini dan memutuskan untuk menggeletakkan diri begitu saja di sofa. Ia menyempatkan diri membuka emailnya. Mengecek apakah ada sesuatu yang penting dan menemukan nama Harry di antara tumpukan tawaran pekerjaan dan beberapa naskah film yang menawarkan peran untuk Draco.

Hi. I'm sorry about yesterday. I guess, I'm just kinda panicked. And yeah? I gave you another lyrics.

Kesampingkan bahwa Harry adalah seorang penulis puisi jenius. Ia selalu tidak begitu baik dalam berkomunikasi lewat pesan teks apapun. Dan jika kalian ingin mendengar pendapat Draco soal itu? It's just cute.

Pada dasarnya, Draco kini ada di stage jatuh cinta dimana apapun yang dilakukan orang yang kau cintai terlihat menyenangkan dan kau selalu punya komentar bagus untuk mereka.

Draco mendownload file microsft word dan membukanya dengan terlalu bersemangat, ia mengklik dua kali dan hampir tersenggel menghapusnya lagi. Seperti biasa, puisi Harry tidak pernah diawali judul. Hanya tumpukan kata-kata.

Draco seperti mendengar suara Harry. "Aku menulis setiap kali merasa tidak waras," Dan Draco benar-benar punya alasan untuk khawatir sekarang.

"Entahlah…"

Draco mengingat ada jeda, lalu Harry melanjutkan kalimatnya. "Mengiris urat nadiku, misalnya…"

Jadi ia menelepon Harry. berkali-kali, mengabaikan file puisi Harry yang sudah terbuka.

Tapi tidak ada jawaban. Ia menelepon Blaise yang menjawabnya dengan geraman kesal. Draco mengabaikannya dan meminta Blaise mengecek Harry lewat Hermione. Draco mendesah. Dan berjanji akan memberi kabar secepatnya.

Draco menutup telepon dan mendesah lelah. Ia bersandar pada dinding dan menatap wajahnya pada cermin yang menempel pada lemari. Entah berapa lama membiarkan dirinya mendengarkan detak jantungnya yang berdegup terlalu kencang untuk ukuran malam yang hening. Entah berapa lama. Sampai smartphonenya berkedip, karena masih dalam mode silent dan Draco tahu itu tanda untuk panggilan masuk.

Ketika mengangkat telepon ia langsung disambar omelan, "Berhenti mengganggu Hermione Draco…" suara Harry terdengar lebih ceria dibanding kemarin. "Blaise meneleponnya dan berkata soal kau yang khawatir aku mengirimkan pesan terakhir lewat email. Sebaiknya kau membaca lirikku sebelum memutuskan membuat khawatir Hermione, mengerti?" Draco hampir tidak peduli dengan ocehan Harry yang biasanya, tetap Draco anggap annoying. Setidaknya Harry di sana. Setidaknya Harry ada dan cukup sehat untuk menelepon Draco dan mengomel padanya.

"Bukan salahku, oke?" nada Draco dengan sendirinya penuh dengan pembelaan diri. "Kau yang tidak mengangkat telepon, meninggalkan email dengan permintaan maaf." Draco berhenti sesaat ketika menyadari suaranya pecah di akhir kalimat.

Lalu senyap. Draco tahu Harry pun terkesiap. "Kau menangis?" Tidak, Draco tidak menangis. Draco Malfoy tidak pernah menangis kecuali untuk keperluan akting. Dan kecuali saat ini. Ketika ia merasa sangat lega bahwa Harry baik-baik saja. Dan tolong dicatat Draco tidak menangis berurai air mata. Ia hanya punya satu atau mungkin dua titik basah di matanya dan Draco menangis dengan benar-benar cool dan manly. Oke?

"Tidak. Aku akan membaca puisimu sekarang, bye." Draco tidak mengerti. Seharian ini ia yang begitu desperate agar Harry mengangkat teleponnya. Dan sekarang ketika Harry sudah meneleponnya, ia justru terburu-buru mematikan panggilan itu meskipun ia masih ingin mendengar suara Harry.

Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal, untuk mengalihkan pikirannya dari Harry. Membaca puisi Harry, setidaknya dengan begitu otaknya akan memutar nada-nada yang potensial. Dan Draco mungkin akan teralihkan pada pekerjaan untuk sesaat.

It's getting late, and I
Cannot seem to find my way home tonight
Feels like I am falling down a rabbit hole
Falling for forever, wonderfully wandering alone
What would my head be like
If not for my shoulders
Or without your smile
May it follow you forever
May it never leave you
To sleep in the stone,
May we stay lost on our way home

C'mon, c'mon, with everything falling down around me
I'd like to believe in all the possibilities

If I should die tonight
May I first just say I'm sorry
For I, never felt like anybody
I am a man of many hats although I
Never mastered anything
When I am ten feet tall
I've never felt much smaller, since the fall
Nobody seems to know my name
So don't leave me to sleep all alone
May we stay lost on our way home?

Try not to mistake what you have with what you hate
It could leave, it could leave, come the morning
Celebrate the night
It's the fall before the climb
Shall we sing, shall we sing, 'til the morning

If I fall forward, you fall flat
And if the sun should lift me up

Would you come back?

It's getting late and I, cannot seem to find my way home tonight

Musik yang sedikit orkestratik berputar di kepala Draco. Sebelumnya Draco tidak pernah berusaha mengubah puisi Harry untuk pas dengan melodi di kepalanya. Tapi ia ingin mengubah sedikit lagu ini, membuatnya terdengar lebih positif. Setidaknya sedikit. Dengan begitu setiap kali nanti ia perlu menyanyikan lagu ini, ia tidak perlu mengingat malam ini. Malam dimana Draco memutuskan untuk tidak mandi dan memilih mengambil laptopnya.

Menyelesaikan lagu secepat yang ia bisa. Karena Harry hidup, di suatu sudut di Los Angeles. Tapi hidup dan cukup sehat untuk meneriaki Draco dengan omelan.

Draco bukan seseorang yang senang bersyukur. But God! Isn't He feeling really gratefull right now?

.

.

.

Jika boleh jujur, mengejar rekaman tiga lagu dalam satu bulan sangat melelahkan. Draco memilih untuk memakai materi sebuah lagu lama untuk bonus track dalam albumnya. Tapi ia masih punya dua lagu untuk diselesaikan. Kemarin sore ia sudah melakukan latihan dengan bandnya untuk lagu kedua. Tapi sesuatu terasa salah soal riff gitar dan sebelum terjadi pertengkaran dengan pemain gitar dari bandnya, Draco memilih mengakhiri sesi latihan kemarin dengan alasan absurd.

Sejak semalam Draco tidak tidur. Blaise menengoknya tadi pagi dan ia mengabaikan keberadaan pemuda itu. Blaise tahu ia tidak bisa mengomeli Draco dalam mode konsentrasi penuh. Jadi ia hanya menyimpan secangkir kopi panas dan beberapa potong roti panggang. Draco meminum habis kopi dari Blaise, berterima kasih pada pemuda itu, tapi hanya menyentuh setengah potong toast yang Blaise bawakan.

Draco melanjutkan bekerja dan mengganti setengah dari keseluruhan melodi lagu yang kemarin sudah masuk sesi latihan.

Draco tidak melihat kedatangan Harry. Ia yang mengurung diri di studionya. Menyelesaikan sebuah lagu yang mengejeknya sejak kemarin malam karena tidak juga bisa membuatnya terasa benar. Ia harus menyelesaikan lagu ini hari ini. Tentu saja, ia tidak melihat kedatangan Harry.

Dengan janji tiga lagu ia baru menyelesaikan sebuah lagu. Lagu dari puisi Harry untuk Cedric. Draco berharap tidak perlu menuliskan nama Harry di sana. Jadi, dengan begitu orang-orang tidak akan membuat teori bahwa puisi itu, kalimat-kalimat itu ditujukan untuk Cedric. Atau lebih buruk lagi, untuknya.

"Blaise…" Harry menjawab pertanyaan di mimik wajah Draco. Ketika akhirnya Draco merasakan kehadiran seseorang dan menatap Harry seperti melihat hantu di siang bolong. "Dia bilang kau mengurung diri semalaman, jadi sebaiknya aku datang menemuimu."

"Yah... ingat puisimu yang kau kirim beberapa hari yang lalu? Aku punya sebuah ide untuk riff gitar tapi kemudian ada efek yang kurang tepat dari perpindahan bridge ke pengulangan reff jika aku memasukkan riff itu. Rasanya berkesan terlalu memaksakan." Harry hanya tersenyum manis dan mengangguk. Meskipun ia tidak mengerti apa yang Draco bicarakan.

Draco hanya butuh bicara.

Harry belajar. Ia tidak perlu menjawab, hanya perlu mendengar. Lalu membawa Draco ke pelukannya. "Dan Blaise bilang untuk membantumu mengepak barang." Draco merilekskan diri pada sentuhan Harry. Ia tidak mengerti, tapi pemuda ini tidak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk membuat Draco merasa lebih hidup.

"Kita berangkat lusa…" Draco memprotes, mengeratkan kembali pelukan Harry yang sempat melonggar.

"Ini hari sabtu, Drac…"

"Oke… besok berarti?" Draco melepas pelukan Harry dan mengacak rambut platinanya. "Kurasa sebaiknya aku mandi dulu sebelum mulai membereskan." Ujarnya sambil membereskan kertas-kertas berisikan note. Draco menunggu Harry menjawab. Tapi tidak ada suara dari Harry.

Yang ada sebuah tangan yang memeluk Draco dari belakang dengan erat. Dan tangan Harry dengan sengaja meraba bagian depan celananya, mengikuti garis liuk penisnya. Draco menegang. Ia tidak melihat hal ini datang.

"Aku merindukanmu…" bisik Harry lirih.

"Percayalah, kau ingin aku mandi." Draco berdehem gugup. Bukan berarti ia tidak pernah membayangkan sexy time dengan Harry. Ia berfantasi mengenai pemuda ini lebih banyak dari yang ia butuhkan. Memotong setengah waktu produktifnya untuk berkarya.

Draco hanya tidak bisa begitu saja mengubah mode fokusnya ke mode yang… ya begitulah. Lagipula rasanya tidak benar untuk melakukan ini sementara mereka belum benar-benar sepakat mengenai hubungan antara Draco dan Harry. Atau yah... katakanlah saling mengakui perasaan satu sama lain jika label hubungan dirasa tidak penting.

Draco tahu Harry menyukainya, ayolah… mereka terlibat ciuman panas berkali-kali dan Harry tidak pernah menolak. Kadang memulai, seperti saat ini misalnya.

Dan sejujurnya Draco tahu ia tinggal meminta. Harry sudah tak lagi keberatan soal kemesraan.

Mereka masih mengambang memang. Setiap kali ia berusaha membawa topik mengenai keseriusan tawaran Draco soal hubungan mereka, Harry mengalihkan pembicaraan. Menciumnya atau berkata bahwa ia lapar atau mengeluhkan cuaca London yang semakin kelam dengan hujan.

Mungkin itu sebabnya Draco tak berani melangkah lebih jauh dari sekedar ciuman panas.

"Blaise bilang kau butuh bantuan untuk rileks…" Harry berbisik lagi. Dan ada suara lain yang mengikuti. Pikir Draco. Tangan Harry menghilang, dan ada suara ritsleting yang diturunkan. Harry sedang membuka jaketnya ketika Draco berbalik, melemparnya ke arah amplifier Draco.

Di baliknya Harry memakai kaos oblong hitam bertuliskan 'I Love Banana' dengan gambar pisang kuning yang tersenyum mesum ke arahnya. Draco terpingkal, melihatnya. "Lelucon bagus Harry…"

"Aku tahu…" Harry terkekeh. "Sepertinya kau butuh hiburan lagipula…" lalu suara tawa Draco tertutup suara ciuman. Bibir Harry tertumbuk di sana. Ciuman melibatkan lidah, menari basah dengan saliva.

Draco benar-benar tidak melihat dari mana datangnya ini. Harry tidak melepas ciuman mereka ketika tangan kanannya mulai menggerayang masuk. Draco mengerang ketika Harry berhasil menemukan barang pribadinya. Ada smirk yang menghiasi wajahnya ketika Draco melempar kepalanya ke belakang dan mengekspos lehernya untuk Harry eksplorasi menggunakan lidah. Di tulang perbatasan lehernya Harry mengisap dalam, suara bass Draco mendesah keluar.

Lalu dalam waktu beberapa detik bibir Harry sudah berada di kepala bagian penting Draco, bereksperimen dengan jilatan. Tangan Draco mengacak rambut hitam Harry. Bagian batang masuk perlahan ke mulut Harry, Draco mengeluarkan suara desah gelisah. Tangannya mencengkeram erat di antara helaian rambut hitam Harry.

"Shit! Harry!" suara lain yang keluar dari bibir Draco tidak cukup koheren untuk diidentifikasi lagi ketika Harry memulai gerakan maju mundur. Pada satu titik Draco bisa merasakan keseluruhan miliknya tertelan. Ia bisa merasakan benturan dengan dinding tenggorokan Harry yang basah. Harry sempat refleks seperti akan muntah, tapi Draco tahu ia menahan dirinya dan tetap melanjutkan eksperimennya. Dengan jilatan, dengan isapan. Hingga Draco tahu pada akhirnya Harry tak lagi bergerak, seutuhnya diam dan membiarkan Draco yang mendominasi mulutnya. Draco menggeram ketika merasakan panas yang bertumpuk di ujung. Sedikit lagi... pikirnya. Dan Draco mendesah. Berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Harry, namun pemuda itu menahan kepalanya. Cairan milik Draco membuncah keluar di mulut Harry, dan ia masih menghisap hingga seluruh cairan Draco benar-benar tak bersisa.

Ketika terlepas, Draco melihat bibir Harry yang basah, ada sisa cairan miliknya yang mengalir keluar dari sudut bibir. Merah dan terlihat 'terpakai'. Bibir Harry selalu merah muda, terkadang merah ketika Harry gugup dan tanpa sadar menggigitnya. Tapi Harry tidak pernah terlihat se-sexy ini sebelumnya.

Jadi Draco hanya berkata, "Wow!" Dan Harry tersenyum puas dibuatnya.

"Glad you like it…" Draco menarik Harry untuk berdiri kemudian mendorong Harry. Menjebak tubuhnya di antara tubuh Draco dan dinding terdekat. Lalu menciumnya. Seharusnya terasa menjijikan, merasakan dirinya sendiri di bibir Harry. Dan Draco pernah membaca mengenai seberapa banyak kuman dan bakteri yang bisa ditularkan dari ciuman setelah oral sex. Tapi Draco tidak peduli.

Giliran Harry yang mengumpat. Lututnya melemah dan ia butuh Draco untuk menumpunya. Draco membuka ikat pinggang dan ritsleting celana Harry dan dengan kasar menurunkan celana jeans Harry hingga lutut bersama dengan boxernya. Desahan Harry terdengar lebih tinggi dari Draco dan lebih needy. Milik Harry sudah tegak berdiri tanpa sentuhan apapun. Draco menggosoknya beberapa kali, jari tangannya yang kasar karena belakangan ini terlalu sering bekerja dengan senar gitar memberikan sensasi tersendiri untuk Harry.

"Drac… Aku—"Harry nyaris keluar tapi Draco menahan ujung kepala milik Harry dan cairan Harry tertahan. Remasan Draco cukup kuat, memberikan kesakitan dan kenikmatan di saat bersamaan.

"Wait... Kau mau melakukan yang lebih jauh?" tanya Draco sembari sebelah tangannya yang bebas tugas dari urusan dengan milik Harry menggerayang ke bagian belakang, memisahkan kedua belahan bagian belakang Harry.

"Drac…" desah Harry tertahan ketika sebuah jari Draco yang kering dan kasar memasuki lubangnya tanpa pelicin apapun. Ada rasa terbakar yang menyakitkan, tapi menjanjikan. Draco tidak pernah melakukannya dengan pria. Tapi ia tahu cara kerjanya, terima kasih pada porn dan Blaise yang terlalu perhatian dengan kehidupan seksual Draco dan membelikan buku kamasutra versi gay untuk Draco. Tidak, Draco tidak mempelajarinya dengan tekun, tapi ia pernah membacanya beberapa kali. Dan ia tahu, lubang Harry terasa bersih, ia mempersiapkan diri. Draco tersenyum dengan bayangan Harry yang mempersiapkan dirinya untuk Draco.

"Aku…" desah Harry ketika jari Draco yang panjang mulai bergerak. "Tidak pernah…" Draco mengernyit dan mengeluarkan jarinya. Menjauh dari Harry. Oke? Draco tidak berharap akan melakukan ini dengan virgin juga. Dua virgin yang melakukan seks tidak pernah terasa benar, terlalu banyak coba-coba. Percayalah, Draco belajar dari pengalaman.

Dan entahlah, ia ingin Harry memiliki kenangan seks yang menyenangkan dengannya. Bukan sesuatu yang penuh percobaan.

"Kau virgin?" Harry menatap Draco penuh putus asa, alat genitalnya berdenyut nyeri karena cairannya yang tertahan, bibirnya basah dan memerah, matanya berair. Dan Draco sekarang menatapnya dengan keraguan besar. "Kau 25 tahun dan?"

Harry tidak mengerti kenapa Draco harus berhenti. Oke. Mungkin virgin di umur 25 tahun kedengarannya impresif di dunia barat terlebih Harry selebriti, lebih kurang.

"Aku tidak pernah bisa mempercayai orang lain…" Harry bekerja keras agar otaknya dapat mengeluarkan kalimat itu dengan jelas. Dan ia berharap itu cukup membuat Draco melanjutkan permainan mereka dan menghilangkan raut khawatir di wajahnya saat ini. "Please, Drac…"

Shit! Pikir Draco. Apa ia bisa menolak Harry yang begitu menggoda seperti ini di hadapannya? Dan pikiran tentang mengambil keperjakaan ini tiba-tiba menghangatkan dada Draco, nyaris seperti arousal tapi lebih hangat dan lebih menyayat.

"Come on…" Harry terlihat mengumpulkan seluruh sisa tenaganya dan berusaha keras untuk tidak keluar saat itu juga ketika ia maju dan mencium Draco. Posesif. Ada keputusasaan. Draco seperti membaca lirik Harry.

"Sorry..." ujar Draco kembali menyentuh batang kemaluan Harry. Harry mendesah, menahan tangan Draco bergerak.

"Don't! Aku menginginkanmu…" untuk menegaskan poinnya Harry meraba kemaluan Draco yang sudah mulai menegak kembali. "Aku mempercayaimu." tambah Harry. Draco menatap emerald Harry yang penuh birahi, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dari kilat mata Harry.

Draco tahu dirinya tamak. Dan ia selalu menginginkan lebih dari yang seharusnya ia dapatkan, dari yang layak ia dapatkan…

Tapi Harry yang mendesah, memintanya untuk melanjutkan sama sekali tidak membantu ego Draco untuk menahan diri.

Jadi, ia mencium Harry lagi. Membawa tubuhnya tanpa melepaskan ciuman mereka ke dekat amplifier Draco. Benda hitam besar itu memiliki tinggi yang pas. Draco menaikkan tubuh langsing Harry ke atasnya. Dan menaruh kedua kaki Harry di pundaknya. Kepalanya mulai turun, ia mencium belahan dalam paha Harry.

"Oh! Aaaaaah…" Harry mendesah ketika merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengeksplorasi bagian dalam lubangnya. Ia sudah membersihkan diri sebelum sampai ke sini, tapi ia tidak pernah berpikir untuk meminta Draco menjilati bagian itu. Karena sejujurnya, bahkan bagi Harry yang seorang gay. Ide itu terdengar lebih menjijikan daripada merangsang. Tapi pada prakteknya, kebalikannya.

Harry menyimpan telapak tangan kananya di mulut, berusaha menahan suara memalukan. Desahan dengan nada tinggi akibat permainan lidah Draco di lubangnya. Ketika mendengar suara tertahan Harry, Draco berhenti.

Ada seringai jahat dari si jahil Draco Malfoy yang Harry kenal. Ia bergidik. Setengah dari dirinya takut jika Draco tiba-tiba berubah pikiran dan mulai berkata bahwa Harry tak semenarik itu. Lalu meninggalkannya begitu saja di ruangan ini. Draco bisa melakukan itu. Ia mematahkan hati puluhan artis dan bukan berarti ia tidak bisa melakukan hal yang sama pada seorang Harry. Yang bukan siapa-siapa.

"Hey…" Draco mengusap rambut Harry. Seringainya berubah senyum, "Kau terlalu banyak berfikir…" ia mengusap pipi Harry dan Harry membiarkan kepalanya mengikuti arah gerakan tangan Draco.

Draco mendekatkan wajah mereka menahan kedua tangan Harry dengan sebelah tangannya di atas kepala Harry. Harry tidak mengerti dari mana Draco mendapat tenaga ini, tapi ia menyukai perasaan terkontrol dalam genggaman Draco ini. Sebelah tangan Draco yang bebas bergerak dari bibir Harry, turun ke lehernya, lalu ke dadanya menyempatkan memelintir secara bergentian nipple Harry. Harry nyaris sampai tapi Draco terburu-buru menahan lubang Harry sekali lagi.

Ia meraba bibir Harry. Harry menjilat ujung-ujung jari Draco itu. Draco menatapnya dengan seduktif. "Kita mulai lagi?" Harry mengangguk dan membasahi seluruh jemari Draco dengan salivanya. Draco memasukkan jari pertama, lalu kedua, gerakan menggunting dan jari ketiga. Draco sedikit terburu-buru, mungkin karena kemaluan Harry yang sedari tadi menahan diri terlihat semakin memerah ujungnya.

"Kau indah…" Draco melepaskan kedua tangan Harry, dan Harry refleks menaruhnya pada wajah Draco.

"Kau harus belajar membaca puisi..." ujar Harry, setengah skeptis setengah terpesona.

Draco terkekeh. Lalu menatap Harry serius, "Ini mungkin bukan saat yang tepat, tapi…" Harry merasakan kemaluan Draco berada di depan lubangnya. Siap menginvasi dirinya.

"I love you…" dan batang kemaluan Draco menerabas masuk. Harry tidak sempat memikirkan jawaban dari pengakuan Draco. Karena setelah itu mereka terlibat kegiatan paling intim yang pernah keduanya rasakan.

Menyatu dalam harmoni gerakan. Draco memimpin simfoni ini, tapi desahan Harry adalah lirik yang melengkapinya. Draco tidak mengingat apakah Harry menjawabnya. Draco hanya ingat keduanya sampai pada saat bersamaan, dan mendesahkan nama satu sama lain dalam dekapan.

.

.

.

Draco melewati koridor demi koridor secepat yang ia bisa.

Seharusnya aku menghentikannya

Harry tidak pernah bicara bahasa Perancis sebelumnya. Harry tidak pernah tertarik dengan apapun soal Perancis sebelumnya. Tapi ia akan mendengarkan Draco berbicara berjam-jam soal keindahan Paris dan setiap detil seluk beluk jalanan kotanya. Mereka masih di Paris, dua hari yang lalu berangkat bersama dan bergandengan tangan di bandara. Netizen menyebut ini bulan madu sebelum pernikahan.

Draco akan senang jika memang seperti itu kejadiannya. Tapi yang ia lakukan adalah memastikan mixing dua lagu barunya selesai begitu ia sampai kembali ke London dan ia tinggal merekamnya. Ia cukup bangga dengan dirinya dan karyanya kali ini. Ia membuat sebuah lagu yang full melodinya dan liriknya.

Dan mereka memiliki satu hari libur sebelum berangkat ke hotel di dekat pantai Cannes. Harry datang ke kamarnya dan membawa banyak brosur tempat-tempat pariwisata di sekitar Paris yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki lima menit sampai setengah jam.

Dan mulailah mereka bertengkar, "Ayolah… Tidak akan lama…" Harry merayu, Draco mendengus dan tetap memfokuskan matanya pada laptopnya.

"Kau yang membuatku penasaran pada tempat-tempat ini! Betanggungjawablah sedikit dan bawa aku berkencan!" Harry memerintah dengan datar, kalimatnya keluar seperti sebuah dalil. Sesuatu yang harus Draco lakukan. Draco bisa mengabaikan itu. Tapi emeraldnya berada dekat sekali, Draco bisa melihatnya membulat indah dari sudut matanya. Emerald Harry adalah titik lemah Draco. Tapi ia punya pekerjaan dan janji yang menentukan karirnya.

Draco merasakan tangan Harry di pundaknya. Perlahan ia melepaskan sebelah headset Draco yang sudah menggantung tidak benar di telinganya. "Kau bekerja terlalu keras…" ujar Harry, lebih lembut daripada kalimat-kalimat sebelumnya. Draco tahu bahwa Harry hanya berusaha untuk membawanya keluar ruangan dan berhenti terlalu mencemaskan pekerjaannya ketika mereka seharusnya berlibur.

Tapi ia kelelahan, dan Harry tidak merayunya dengan cukup baik-baik. Jadi Draco melempar tatapan sinis ke arahnya dan berujar dingin, "Aku bukan pekerja keras, kau tahu itu. Pekerja keras hanya untuk mereka yang tidak punya kemampuan dan tidak bisa menerima kenyataan jika mereka sudah gagal sejak awal." Datar sampai akhir. Draco seperti melihat Harry bergidik, seperti, tapi ia tidak yakin.

"Aku bekerja keras." Itu jawaban Harry. Ada sesirat keguncangan. Shit! Harry pasti tersinggung, pikir Draco.

"Tapi kau berbeda, oke?"

Harry mengernyit. Berdiri, dan sekarang bersandar pada dinding dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. "Aku tidak berbeda. Aku bekerja keras seperti semua manusia lainnya di muka bumi ini!"

"Tapi kau menjadi lebih baik, mengerti?"

"Lalu kau bilang para pekerja keras yang lain tidak bisa menjadi lebih baik?"

"Para pekerja keras kelas dua, oke?" Draco sekarang berdiri. Lalu setelah diam yang awkward selama beberapa detik. "Kau bukan kelas dua…"

Harry tertawa, terasa kering dan sema sekali tidak mengandung humor. "Kau menyebut aktingku sampah ketika pertama kali kita syuting, ingat?" Ya, Draco mengingatnya. Dan Harry meninju perutnya setelah Draco mengeluarkan kalimat lain dan kemudian Harry memutuskan pergi begitu saja sebelum Draco sempat memulihkan diri untuk membalas serangan sebelumnya. Tapi dua hari kemudian ketika mereka memulai syuting lagi, Harry datang dengan kualitas akting tiga kali lipat dari sebelumnya. Dengan intensitas seluruh pergerakan tubuh yang menceritakan emosinya. Draco tidak memuji Harry atas perkembangannya secara langsung.

Tapi hari itu Draco tidak mencari masalah langsung dengan Harry atau mengejek Harry. Ia lebih memilih menghina petugas katering dan mereka bertengkar lagi karena Harry selalu punya kewajiban untuk mereka yang ditindas oleh Draco. Entahlah.

"Dengar, kau bukan kelas dua, bukan mereka yang bertahan di dunia akting sekedar untuk membayar tagihan dan tidak mencari sesuatu yang lebih dalam karirnya dan setidaknya kau bukan mereka yang menyebarkan skandal hanya untuk bertahan dalam popularitas, oke?" Draco berhenti. Senyap lagi. Diam lagi, hening. Memuakkan. Draco tahu tanda ketika ia salah bicara. Wajah Cedric terlintas di pikirannya dan, shit!

Harry pernah terlibat skandal, stupid. Draco membenturkan kepalanya keras sekali dalam imajinasinya. Berharap itu cukup untuk menghentikan banjir rasa bersalah yang memenuhi kepalanya kini.

Lalu Harry tertawa lagi, tawa kering tanpa rasa humor di dalamya. Terpingkal sekali. Tapi ketika emerlad bertubruk dengan tatap iris abu. Draco tahu ia menambah luka baru pada tatapan sendu itu.

"Terserah!" Harry akhirnya bicara. Menaruh sesuatu di atas meja rias hotel yang Draco penuhi dengan kumpulan parfumnya yang selalu ia bawa ke manapun ia pergi. "Tadinya aku pikir kita bisa 'berkencan' di Paris dan menonton pertunjukan yang bagus. "Draco kenal dari mana tiket itu. Itu sebuah teater drama musikal yang sering Draco ceritakan pada Harry. Teater dimana dulu ia belajar akting.

"Aku lupa kau tidak akan mau pergi dengan aktor kelas dua." Harry tersenyum sinis. Lalu Harry melangkah begitu saja, ia tidak menubruk pundak Draco dan langkahnya pun tidak penuh agresi. Tapi Draco merasakan setengah oksigen yang tengah dihirupnya terbawa ketika Harry melewatinya. Dan ia merasakan aura dingin yang menyeramkan. Draco tahu ia tidak akan begitu saja dimaafkan.

Lalu Harry berhenti sebelum memasuki lorong menuju pintu keluar dari kamar suite hotel Draco yang sangat luas. "Kau tahu? Bekerja keras bukan sesuatu yang buruk. Entah kau sadar atau tidak tapi kau bekerja keras. Mungkin tidak dalam akting tapi jelas-jelas dalam musik. Terserah mau kau akui atau tidak." Harry masih tetap memunggungi Draco.

"Dan aku tidak peduli mengenai pendapatmu soal aktor atau aktris kelas dua…" Harry berbalik akhirnya. Awalnya tatapannya memaku tanah. Lalu ia menaikkan dagunya dan bertemu tatap dengan Draco. "Aku bekerja dengan para aktor berdedikasi tinggi dan mereka yang memulai karir dari skandal lalu memperbaiki diri. Aku bangga dengan mereka. Kau mungkin tidak pernah mengerti." dan Harry pergi. Menutup pintu meninggalkan Draco seakan ia melewatkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.

Ada kehampaan tiba-tiba.

Dan Draco merasa tiba-tiba ingin mengubah lirik dari lagu terakhirnya.

Jadi, ia melakukannya. Mengurung diri dan mengurung segala perasaannya dan memfokuskan diri untuk bekerja. Sampai ketika jam sebelas malam, Blaise mengetuk pintu kamar hotelnya. Dan ia berkata, "Kau lihat Harry? Ia menghilang seharian ini dan belum juga kembali. Hermione panik!" Dan Draco tahu Blaise juga panik. Draco pun panik ketika kemudian sudut matanya bertemu dengan tiket yang Harry berikan.

Jadi, Draco mengambil tiket itu dan jaketnya. Lalu berlari keluar hotel, menubruk Blaise dan beberapa orang lainnya di lift. Mencegat taksi. Pertunjukan selesai sejak jam sembilan. Dan Draco tahu betul jalanan menuju tempat pertunjukan itu.

Dan Draco dalam rangka memblokade segala pikirannya sejak siang sampai malam tadi menyetel sebuah stasiun berita dan mendengar sekilas tentang kecelakaan beruntun sekitar sejam lalu. Ada headline news yang memotong sebuah acara stand up comedy yang Draco dengarkan sekilas.

Perasaan Draco tidak enak.

Dan ketika ia turun dari taksi. Masih sekitar empat kilometer lagi dari jalanan yang ia tuju karena macet berat dan Draco harus pergi sampai lebih cepat.

Firasat Draco buruk.

Seharusnya aku pergi bersamanya.

Draco memblok semua pikiran buruk. Draco memblok bunyi handphone di sakunya. Draco mengabaikan klakson dan teriakan cacian dalam bahasa Perancis ketika Draco menyeberang jalan dengan begitu absurd dan hampir menyebabkan kecelakaan baru.

Seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi.

Draco mengingat cahaya di kemilau hijau.

Emerald sendu Harry berbayang di matanya.

Firasat Draco buruk. Dan jika terjadi sesuatu. Ia tahu satu hal yang pasti.

Semua ini salahku.

.

.

.

TBC

Maaf terlambat, seperti biasa. Saya banyak acara di kampus dan berbagai alasan lainnya. Tadinya pingin update kemaren sekalian april mop, hehe

Tapi ga kesampaian. Baru kesampaian update sekarang. Maafkan kalau banyak typo. Saya baru beres uts dan menyempatkan diri untuk ngetik lanjutan… XD Saya ga terlalu suka smutnya dan saya ga terlalu puas sama penulisan chapter ini. Tapi mudah-mudahan kalian suka. Lirik yang di atas itu lagu panic! at the disco featuring Fun. Judulnya Come On. Silahkan dicek.

Hope you all enjoy it! And as always, Review, pelase…

Always & Forever Love