Part 5
.
.
.
Seseorang melemparkan batu di tengah ruangan kaca. Lalu hempasannya tak hanya membuat gaduh, tapi juga menghancurkan segala yang ada.
Seseorang melemparkan batu, pikir Harry.
Ketika ia bangun, atau setidaknya berpikir untuk bangun, ia merasa seperti di matanya ada serpihan kaca.
Berat dan menyakitkan.
Seseorang melemparkan batu tepat ke kepalanya. Atau mungkin itu bukan batu.
Mungkin hanya sebuah cahaya. Lalu hilang dan lenyap.
Tapi Harry bersumpah mendengar suara memekakkan.
Sebelum semuanya senyap.
.
.
.
"Ya, terima kasih... Tidak, dia belum bangun." Draco terbatuk, berusaha melegakan tenggorokannya lalu lanjut bicara. "Harus ada seseorang yang menungguinya." Lalu tawa yang dipaksakan. "Tentu, dia bukan yatim piatu, tapi pesawat orang tuanya baru bisa sampai sore ini. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri."
Draco menengadah dari sepatunya yang menjadi pusat pandangannya sejak tadi. Merasakan hangat dari gelas kopi yang disodorkan Hermione ke dekat wajahnya. Ia tersenyum, mengucapkan sebentar dengan bahasa isyarat setelah itu menyudahi dengan basa-basi, "Yea... it's srewed, but we can't help it I guess... thankyou for your concern..."
"Sudah kubilang kau masih punya waktu untuk sampai ke Festival Film Cannes tepat waktu."
"Mereka mengirim kru untuk merekam ucapan terima kasihku, aku tidak perlu ke sana..."
Hermione tersenyum lembut. Jauh dari ekspresi mengancamnya yang ia berikan padanya ketika mereka melakukan pembicaraan tentang fake dating dengan Harry. Draco tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa ia akan menyukai senyum manis gadis ini.
"Kau melakukan banyak hal untuknya, Aku menghargai itu..." ucap Hermione sambil memberikan kopi yang tadi sempat ditolak Draco.
Draco mengeluarkan smirk andalannya. "Ini tidak akan terjadi jika aku menahannya pergi atau setidaknya ikut bersamanya."
Hermione mendesah, beberapa helai rambutnya yang tak terikat rapi jatuh menutupi mata sebelah kiri. Ia masih menggunakan kemeja kemarin malam yang sedikit terlalu besar untuk badan ramping Hermione dan celana jeans biru juga jaket jeans, jauh dari kesan formal. Draco menyukainya, untuk beberapa saat ia merasa tenang bahwa Hermione jauh terlihat seperti teman daripada manajer. Ia butuh seorang 'teman' untuk mengerti krisi yang baru dihadapinya semalam tadi.
"Kau tahu ini bukan lifetime movie dengan salah satu tokoh utamanya yang sekarat karena kanker atau alzheimer, jangan membuatku memulai pidato bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan bukan salah siapa-siapa ketika seseorang mengalami musibah yang tidak teprediksi. Karena memang itu yang terjadi, kau tidak tahu bahwa Harry akan kecelakaan. Ya, bahwa menolak ajakannya dan memulai pertengkaran is a d*ck move, Tapi mari kita lewatkan itu dan aku tahu kau menyesal. Tapi kau harus berhenti menyalahkan dirimu." penekanan nada Hermione di ujung menghangatkan rongga dada Draco.
Draco terkekeh, 'itu kalimat yang panjang untuk seseorang yang tak ingin berpidato'. Draco ingin melempar balasan kalimat itu, namun ia berpikir bahwa lorong rumah sakit bukan tempat yang tepat untuk memulai argumen. Dan lagi, Draco berpikir bahwa tidak pernah ada tempat yang tepat untuk memulai argumen.
Jadi, Draco hanya mengangguk dan tanpa kata-kata, mereka saling setuju untuk kembali ke ruangan Harry. Rumah sakit ini terlihat sibuk, sebagian besar korban kecelakaan dilarikan kemari karena ini adalah rumah sakit terdekat, namun beberapa pasien yang membutuhkan penanganan khusus dan operasi tertentu dibawa ke rumah sakit yang lebih besar.
Draco hanya bisa bersyukur pada entah apapun yang mengatur takdir di atas sana bahwa Harry hanya butuh beberapa jahitan di tangan dan kepala, meskipun ia belum juga siuman.
Draco tetap bersyukur dan merasa lucu dengan perasaan itu.
Draco terkekeh lagi ketika mereka berjalan kembali ke ruangan Harry. Hermione menatapnya bingung.
Draco merapatkan jasnya, ini jam 12 siang dan Harry belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari pingsannya. Draco ingin kembali ke kamar hotel, mandi dan mungkin tidur beberapa jam. Tapi ia tahu, ia tidak bisa meninggalkan Harry lagi, tidak sekarang. Ketika ia tahu bahwa Harry baik-baik saja, setidaknya, setelah kecelakaan semalam. Harry mungkin tidak ada di mobil yang paling hancur, tapi taksi yang membawanya menubruk mobil sedan dan menjadi mobil terakhir di urutan tabrakan beruntun itu.
Pintu kursi penumpang sebelah kiri cukup hancur karena supir taksi berusaha untuk menghentikan mobil. Yang tentu saja percuma, karena kemudian ia tidak cukup cepat untuk menghindari momentum tabrakan. Ia hanya mengubah arah dan membuat tubrukan paling keras justru terjadi pada bagian samping mobil. Draco tidak tahu apa yang membuat Harry tetap sadar selama beberapa menit dan sempat memanggilnya ketika Draco sampai di tempat kejadian perkara dan langkahnya tertahan oleh petugas keamanan.
Kepalanya mengalami benturan. Tangan kirinya memerlukan beberapa jahitan. Dokter bilang tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Tapi sampai Harry siuman, mereka masih belum tahu sepenuhnya bagaimana kondisi Harry sebenarnya.
Intinya, Harry adalah prioritas untuk Draco saat ini.
Mandi bisa menunggu nanti.
Juga kantuk yang menghinggapi.
"Kau harus berhenti terkekeh sendiri atau aku akan memanggil psikiater?!" Hermione memperingatkan ketika ia membuka pintu ruangan Harry.
"Ok... sorry..." Hermione menampilkan tatapan khawatir yang dimix dengan kebingungan, Draco bisa membaca pertanyaan dari tarikan bingung di alis Hermione, "Apa yang lucu?'
Kenyataan bahwa rasanya aku menjadi lebih dewasa dalam satu malam dibandingkan selama 27 tahun hidupku sebelumnya?
"Tidak... tidak ada apa-apa..." Draco mempercepat langkahnya dan menepuk pundak Blaise yang tertidur di sofa panjang di ujung ruangan Harry. Blaise tergeragap bangun. "Kembali ke hotel, kau butuh tidur." Blaise mengusap wajahnya dan berusaha untuk menampilkan wajah sepenuhnya sadar ketika matanya tanpa sadar menutup kembali.
Draco menggeleng simpatik, "Hermione, kau tidak keberatan mengantarkan Blaise pulang?" Hermione skeptis selama beberapa detik.
"Kau juga butuh tidur, kau tahu?"
No shit, Sherlock... pikir Draco. Tapi ia pikir ia masih butuh bantuan Hermione untuk mengantar Blaise kembali ke hotel dan mengeluarkan sikap brengseknya yang biasanya selalu ia pergunakan di setiap kesempatan tentu bukan pilihan bagus saat ini. "Please... ok? Kau kembalilah bawakan beberapa keperluan Harry dan istirahat sebentar. Kembali sore dan kita gantian menjaga Harry."
"Kau bisa menunggu sampai orang tua Harry datang?" Hermione mengeluarkan nada kompromi. "Pesawat mereka mendarat sekitar jam 2. Aku akan menjemput mereka. Dan setelah mereka datang, kau pulang."
Draco mengangguk, rasanya seperti mendengar ibunya menyuruhnya menyikat gigi dan mencuci kaki sebelum tidur. Gadis ini bisa membuatnya merasa seperti anak umur 10 tahun. Draco tahu sekarang kenapa, tepatnya, ia tidak tertarik pada Hermione, gadis ini terlalu dominan untuk seleranya. Gadis cerdas yang tahu apa yang dia inginkan dan apa konsekuensinya. Draco lebih menyukai tipe yang sedikit naif dan tak serasional Hermione. Tipe yang mungkin lebih menyukai romantisme dalam kehidupan meskipun hal itu mengarahkan pada sesuatu yang depresif. Draco menyukai mereka yang indah dalam kerapuhan.
Draco tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh lagi, terdengar seperti seseorang...
"Kau harus berhenti terkekeh karena itu mulai creepy sekarang, oke?" Hermione membawa tas selendangnya dan menepuk pundak Blaise cukup keras hingga pemuda itu terbangun dalam sekejap. Pandangannya berputar-putar seperti mencari sesuatu, sebelum menemukan seringai jahil Hermione.
"Come on, sleepy boy... Kuantar kau pulang." Dan Blaise berdiri limbung, sebelum kemudian Hermione menariknya menuju pintu keluar. Dan sebelum menutup pintu ia menyempatkan diri berkata, "Take care..." dengan tatapan penuh kekhawatiran. Draco hanya mengangguk.
Lalu duduk di sofa yang tadi diduduki Blaise.
Menatap ke arah Harry. Menatap nafasnya, tidak, nafas tidak terlihat, tapi Draco melihat naik turun dada Harry dalam tempo yang perlahan.
Draco bangkit dan mendekat. Menyentuh hidung pemuda itu dengan jemarinya. Perban jahitan di pelipisnya.
Draco tidak yakin emosi apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Salah satu emosi itu bertanggungjawab dengan membuatnya tetap terbangun untuk menatap Harry. Menatap segala kecemasannya yang terbungkus selimut rumah sakit.
Menatap satu lagi kesalahan yang dilakukannya.
Tubuh Harry yang terpasangi infus dan dihiasi beberapa jahitan di sini dan di sana.
Sesuatu yang terlalu aneh, bahwa Draco tidak menangis. Ia hanya merasa matanya perih, yang mungkin bisa disalahkan pada kurang tidur. Tapi sesuatu yang lain ada pada rasa perih itu. Mungkin karena air mata yang tak keluar itu, mungkin itu. Tapi Draco tidak seperti sengaja menahannya.
Ia hanya, tidak bisa.
Ia profesional dalam menangis. Salah satu scene menangisnya membawanya menjadi peraih Oscar.
Tapi entah mengapa kali ini, ketika sesuatu bermakna untuk ditangisi. Draco mematikan semua emosinya dan membiarkannya bergejolak di dalam tanpa sedikitpun mengeluarkannya.
"You're always like this, aren't you? I'm always falling for you... even when you fall apart all over again."
Lalu ia menarik diri dari dekat Harry. Kembali duduk di sofa, memandangi dan merenungi.
Ia lega, marah, kecewa, sedih, terluka. Dan sendiri bersama tubuh Harry yang tak sadarkan diri Draco menutup matanya, berpikir bahwa tidur yang akan menguasainya.
Ternyata serpihan kaca, air mata, berat dan menyakitkan.
Kerumunan orang berdiri ngeri dan ingin tahu di pinggiran jalan. Lampu-lampu mobil ambulans dan polisi yang berdatangan beserta sirine mereka. Suasana gaduh dan panik juga beberapa kamera handphone yang berusaha merekam kejadian. Entah untuk memori atau berusaha menjadi jurnalis jadi-jadian. Atau mungkin memang ada beberapa jurnalis yang tidak sengaja lewat dan meninggalkan kamera di rumahnya. Kepulan asap masih mengepul meskipun tangki air pemadam kebakaran sudah habis untuk memadamkan mobil pertama dan kedua yang bertabrakan, sebuah minivan dan truk pengangkut tepung gandum.
Draco tidak mengerti apa yang membuat mereka terburu-buru hingga bertemu di satu momentum yang salah. Draco ingin tahu, sungguh.
Mungkin begitu juga kerumunan yang menahan langkah Draco untuk tembus ke tengah-tengah tempat kejadian perkara. Kecelakaan cukup panjang. Ada sekitar tujuh mobil dan sebuah sepeda motor terlibat. Draco ada di ujung yang paling ramai, dekat dengan kecelakaan pertama.
Ketika ia berhasil menembus massa dan mengembalikan pikirannya pada sesuatu yang positif dan bahwa mungkin saja Harry tak ada disana.
Mungkin saja Harry masih di teater dan berbincang dengan beberapa teman lama Draco yang mengenalinya sebagai kekasihnya?
Mungkin saja Harry masih di ujung lain jalan, di dalam taksi dan tercegat kemacetan?
Mungkin saja Harry kemudian turun dari taksi dan memilih menggunakan commuter dan sekarang mungkin sudah ada di stasiun dekat hotel mereka?
Dan firasat Draco mungkin hanya 'false alarm' seperti biasanya?
Draco tidak tahu. Ia memegangi saku jasnya erat di sudut lain pikirannya ia khawatir dengan copet yang berkeliaran. Paris bukan kota paling aman sedunia, bom di awal tahun kemarin membuktikannya. Dan kepadatan kota entah bagaimana mengundang para kriminal.
Jadi Draco berusaha memenuhi otaknya dengan kemungkinan-kemungkinan positif bahwa mungkin Harry tak terjebak di salah satu dari mobil disana, mobil-mobil ringsek yang Draco tidak yakin masih bisa diperbaiki atau tidak. Ia berusaha memikirkan Harry sekarang sudah sampai di hotel dan Hermione memarahinya karena tidak memberi kabar dan Harry hanya melemparkan 'goofy smile' andalannya. Draco berusaha untuk memikirkan senyum Harry sedetail mungkin ketika ia sampai di barisan terdepan kerumunan tersebut dan dihadiahi pemandangan seorang gadis kecil yang terhimpit di pecahan kaca mobil, ia menangis dan masih hidup. Hidungnya berdarah dan draco melihat setengah wajahnya rusak oleh pecahan kaca. Dan ia tidak bisa keluar dari sana. Petugas pemadam kebakaran tengah berusaha mencari cara untuk mengeluarkan setengah tubuh bagian bawahnya yang terjepit dashboard mobilnya.
Draco buru-buru berbalik, detail senyum Harry terganti dengan wajah Harry yang penuh darah. Draco berusaha bergeser dan mendekati petugas, sambil mencari alasan yang bagus untuk mendekat lebih jauh dan memastikan Harry tidak ada disana.
Ketika petugas perempuan berambut blonde yang didekatinya dengan seragam kepolisian Perancis yang ketat di badannya, berbalik ke arahnya, Draco berhenti sesaat karena ia melihat di ujung lain kecelakaan. Mobil terakhir, sebuah taksi dan punggung penumpangnya yang sedang dipapah menuju ambulans terdekat. Draco mengenali jas panjangnya dan scarf hitam yang digunakan pemuda itu.
Dan dia tidak tinggi.
Damn! Tinggi badan Harry adalah clue paling mudah untuk membuatnya terlihat di antara para korban lain. Juga rambut hitam acak-acakannya.
"Je suis une partie de la famille de victime!" ujarnya ngotot dan setengah maniak kepada pertugas blonde di depannya. Perempuan itu berkata balik mengenai sesuatu seperti larangan atau entahlah. Yang jelas ia menahan dada Draco dan mendorongnya cukup kencang untuk membuat Draco termundur limbung beberapa langkah.
"Pardonnez moi, monsieur!" wanita bertubuh tinggi besar itu mengatakan beberapa kata lain,menjelaskan bahwa mereka belum mengidentifikasi korban dan Draco diminta menunggu, tapi Draco tidak mendengarkannya, karena detik berikutnya ia menerabas lagi. Kali ini petugas perempuan itu tidak melihat bahwa Draco akan secepat itu bangkit, lalu, menubrukkan badannya dan berlari secepat mungkin ke ujung lain garis polisi. Ke ujung lain dimana ambulans-ambulans memenuhi jalan dan sebuah mobil televisi pemerintah yang baru saja tiba menyiapkan peralatan untuk menyiarkan 'breaking news'.
"Harry!"Karena persetan dengan ambulans, petugas kepolisian dan kamera televisi. Harry yang baru saja merebah di tandu yang dibawa ambulans menengok sedetik, tersenyum lemah, di wajahnya ada darah, jas bagian tangannya terkoyak pecahan kaca.
Lalu ledakan!
Semua berguncang dan Draco menengok kembali ke arah tadi ia berlari. Truk gandum itu meledak.
Mereka yang tadinya mendekat karena ingin tahu, beberapa kini berjatuhan. Polisi yang sedang mengamankan daerah itu kini berdarah-darah, Draco meringis ngeri.
Dan ketika ia berbalik ke arah Harry. Ia menutup mata lagi.
.
.
.
"Kami tidak mau bicara soal kegilaan ini, Mr. Lockhart! Seseorang seharusnya bisa berhenti memuat berita tentang anak kami seakan ini adalah tragedi yang memuakkan. Ya, dia terlibat kecelakaan, lalu kenapa? Seseorang harus berhenti fokus pada kisah asmara jadi-jadian ini dan berhenti membicarakan Draco dan Harry. Kalian harus menghentikan ini! Anakku terlibat kecelakaan, for God sake! Dan yang mereka tanyakan padaku justru apakah rencana pernikahan mereka batal?! Aku tidak pernah mendengar rencana pernikahan dan aku baru tahu hari ini anakku memiliki kekasih jadi-jadian! Aku mempercayakan anakku pada entertainment anda! Dan anda menjerumuskan anak saya ke dalam persoalan yang complicated! Dunia mulai gila!" Hermione meringis mendengar nada ancamannya tidak kasat mata dalam kalimat-kalimat yang dilontarkan Mrs. Lily Evan-Potter ke atasannya.
Dan tanpa basa-basi lagi telepon ditutup, "Dan bukankah aku juga menitipkan Harry padamu Hermione?" ujarnya masih dalam nada kemarahan yang sama yang ia lontarkan pada Lockhart dan sisa-sisa pandangan kemurkaan. Mr. Potter dalam diam duduk di sebelah, mengusap lengan atas istrinya, mencoba menenangkannya.
"Yes, I apologize..." Hermione tahu ia tidak punya kalimat lain yang lebih baik untuk diucapkan sekarang ini.
"It's fine, Hermione. Aku tahu ini bukan salahmu sebagai manajer. Lily..." ujarnya dengan nada memperingatkan. Lily Potter mendesah lelah. "Kau tahu ini bukan salah siapa-siapa. Ia ingin keluar untruk menonton teater. Dan kau tahu seberapa keraskepalanya Harry jika ia menginginkan sesuatu..."
"Yeah... just... can they give my little Harry a break? Dia belum sadarkan diri dan berita macam-macam berkeliaran di mana-mana."
Hermione berusaha untuk tidak mendengarkan sepenuhnya pembicaraan itu karena itu membuat dadanya tersayat. Aktris Lily Potter hanya sesosok ibu biasa yang mengkhawatirkan anaknya. Dan bukan salah Harry jika Draco memilih untuk tidak hadir ke festival film untuk menungguinya. Dan orang-orang entah kenapa senang sekali mencibir Harry, mengatakan karena kebodohan dan kecerobohan Harry, Draco harus mengorbankan diri.
Beberapa komentar tajam mempertanyakan seberapa jauh hubungan mereka hingga Draco peduli. Sebelumnya memang belum ada kekasih Draco yang mengalami kecelakaan sebesar ini, tapi Hermione mengerti kenapa beberapa orang mungkin bertanya karena pada beberapa kesempatan Draco lebih memilih profesinya dibanding kekasihnya. Lebih memilih menghadiri pesta perayaan Oscar daripada menemani operasi tulang legimen salah satu atlet tenis yang dikencaninya.
Tentu, banyak orang yang prihatin bahwa Harry mengalami kecelakaan. Cukup sial untuk berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Atau waktu yang tepat dan tempat yang tepat untuk sebuah momentum kecelakaan. Hermione menggeleng dan berbelok untuk ke luar dari tol.
"Hermione..." Lily memanggilnya dengan nama lengkap, dengan nada khawatir yang sangat. Hermione tahu kalimat selanjutnya yang keluar akan sangat penting dari bibir wanita itu. "This Draco boy..." Oke, pikir Hermione. Sekarang ibu kandung Harry akan menanyai Hermione soal hubungan Draco dan Harry. Hermione tahu itu. Ia berusaha berpikir cepat. Semua orang bilang dirinya jenius tapi ia tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan tentang Harry dan Draco sebelum pertanyaan dilontarkan dan Hermione kemudian akan terdiam lama untuk memikirkan tanggapan.
"Draco Malfoy bukan orang sembarangan. Bukan berasal dari keluarga sembarangan. Aku tidak mengerti kenapa kalian bisa memiliki ide gila semacam ini? Dan mengapa orang-orang berpikir bahwa masuk akal untuk seorang bangsawan seperti Malfoy bisa begitu terbuka memiliki hubungan asmara dengan sesama jenis? Kau tahu ini seperti berpikir bahwa keluarga kerajaan tidak akan tersinggung ketika Lady Di menggugat cerai Pangeran Charles. That's just nonsense!" Baiklah, Hermione pikir. Belum ada pertanyaan sejauh ini, ya, tentu banyak sekali pertanyaan selama lima detik tadi tapi tidak ada pertanyaan yang Hermione pikirkan.
"Mrs. Potter, anda tahu rumor ini berawal dari permainan kecil di atas panggung?"
"Ya, ciuman itu. Aku membaca beberapa artikel soal itu. Dan ini seperti kembali ke 10 tahun lalu dimana nama anakku disebut di setiap infotainment dari pagi hingga malam hari." Hermione menunggu beberapa saat sebelum menjawab.
"Semua dimulai dari sana, kami melakukan pertemuan dan memikirkan cara untuk meredam keingintahuan media massa dan publik."
Lalu suara Mr. Potter muncul ke permukaan, "Dan kenapa kemudian hasil dari pertemuan itu adalah memperbesar keributan dan bukan meredamnya?"
Oke. Itu pertanyaan yang sulit. Pikir Hermione.
"Baiklah... Ini ide dari Draco. Ia bilang bahwa..." Hermione diam sesaat. "Mereka berdua tidak pernah mendapatkan sorotan sebesar ini sebelumnya. Draco berpikir bahwa daripada membiarkan semua ini lewat begitu saja, mengapa tidak memainkan sorotan ini dengan elegan, dan memanfaatkannya untuk publisitas film Harry dan Draco juga album terbaru Draco?"
Hermione melihat tatapan skeptis muncul di wajah Mr. Potter, "dan rencana pemanfaatan secara elegan itu adalah bermesraan dengan Harry tanpa menjelaskan apa sebenarnya status mereka?"
"Publik menyukai a little gay stage act..." lalu menarik nafas lagi. Entah kenapa merasa berada di posisi yang sangat dipojokkan dengan sekarang nada Mr. James Potter yang juga terdengar menginterogasi.
"It's not little gay stage act anymore, i guess," tiba-tiba Mrs. Potter kembali ke pembicaraan. "Aku melihat wajah Harry di beberapa foto-foto paparazzi. Dia aktor yang hebat tentu saja, tapi dia juga salah satu manusia paling sederhana yang pernah aku temui." Hermione menunggu konklusi dari kalimat yang berkesan menggantung itu.
Hermione menengok sekilas. James dan Lily Potter kini tengah berbagi pandang. Berbicara lewat aksara yang tak memerlukan suara, atau bentuk baku yang ditentukan manusia.
Hermione bisa membaca auranya. Kekhawatiran. Kecemasan.
Tapi Hermione tahu mereka berbagi berjuta-juta kalimat dalam diam.
Hermione, hanya saja, bukan bagian dari pembicaraan.
.
.
.
"Terima kasih, Mr. Malfoy..." gadis berkulit eksotis yang memimpin kru yang datang dari penghargaan mengulurkan jabat tangan. Draco terlebih dahulu mengelapkan telapak tangannya yang berkeringat ke celana jeansnya.
"Ya... Maafkan kalau kata-kata tidak cukup meyakinkan. Ada banyak hal yang berputar di kepalaku saat ini."
"It's alright, Mr. Malfoy..." aksen Perancis dalam kalimat wanita muda itu dan suara lembutnya yang mengayomi, memberikan ketenangan tersendiri untuk Draco.
"Yah... aku berharap internet yang mengatakan itu, tapi orang-orang selalu punya pendapat untuk dikatakan sepertinya." Draco biasanya bukan seseorang yang menambah-nambah pembicaraan yang tidak diperlukan. Tidak seperti Harry yang sepertinya memelihara keramahan khas commonwealth Inggris. Tapi seharian menemani Harry, ketika mereka berparade dan bermesraan di setiap sudut London sepertinya membuat Draco menangkap kebiasaan ini dari Harry.
Tentu saja Harry ramah dalam that awkward adorable way. Sementara Draco lebih kepada 'that douchey guy that you would love to bang but not the one you would marry' way.
Or whatever.
Draco harus berhenti membiarkan pikirannya berputar terlalu cepat, berpindah dari satu topik ke topik lain.
"Maaf saya tidak bisa menemani lebih lama, saya harus kembali ke..." Draco hanya bangkit dan membuat gesture ke arah kamar Harry. Kru dari penghargaan mengangguk.
Gadis dengan aksen Perancis dan suara lembut berkata, "Semoga Mr. Potter cepat membaik Mr. Malfoy..." Draco hanya tersenyum sebelum berbalik dan sambil berjalan mengenakan kembali mantelnya.
Mengambil secangkir kopi hitam rumah sakit yang rasanya jauh lebih mirip ampas teh dibandingkan kopi. Well, setidaknya masih ada sedikit bau kopi dan cairan encer itu jelas masih mengandung kafein karena Draco terbantu untuk tetap terbangun saat ini.
Ketika ia memasuki ruangan Harry, suster yang tadi mengelap badan Harry sedang merapikan peralatannya.
Sang suster tersenyum simpatik ke arah draco, sesuatu yang sepanjang 12 jam ini sepertinya sering sekali ia dapatkan. Lalu dalam bahasa Perancis ia berkata semacam, "Saya akan datang lagi jam satu." Dan semacam permisi. Atau hanya gumaman tidak jelas. Kepala Draco mulai berdenyut karena ia belum memakan apapun kecuali bagel yang dibawakan suster yang datang tadi pagi. Dan belum tertidur sama sekali. Belum mandi, dan semua orang tahu bagaimana Draco biasanya sangat berhati-hati pada kehigienisan tubuh dan lingkungan sekitarnya.
Dan ketika kini Draco tidak peduli. Sepertinya fisiknya peduli dan Draco tidak bisa membohongi tubuhnya, ia lelah.
Hermione mengiriminya teks bahwa pesawat orang tua Harry mengalami delay dan ia harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Draco hanya menjawab oke, karena kepalanya ia istirahatkan untuk tidak membuat kalimat atau kata yang terlalu panjang.
Ia menyisakan tenaganya untuk video footage kemenangannya. Draco berharap senyumnya cukup meyakinkan bahwa ia bahagia dengan penghargaan yang diterimanya.
Draco berhenti memikirkan ketidaknyamanan tubuhnya ketika ia mendengar lenguhan kecil. Ia berbalik ke arah Harry dan terburu-buru duduk di posisinya kembali. Di samping Harry.
"Hey..." Draco memanggilnya pelan, berharap ia tidak hanya berimajinasi dan Harry benar-benar mulai sadar.
Dan, Draco hidup di dunia entertainment dimana ia pernah melihat berbagai gerakan tubuh pada penari dan penghibur lainnya membuatnya bahagia. Tapi gerakan kecil Harry, gerakan kepala dan matanya yang mulai membuka, membuat Draco tak bisa berkata-kata.
Maka proses Harry yang tersadar dilakukan dalam hening ruangan. Draco tahu mata Harry tak langsung fokus karena ia mengedip beberapa kali. Dan tambahan beberapa kedipan hanya seperti memastikan apa yang dilihat di depan matanya nyata.
"Harry...?" akhirnya Draco bicara, satu kata yang ia harap Harry mengerti sebagai suara yang bertanya mengenai berbagai macam hal. Mengenai berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang dimiliki pemuda di hadapannya.
Draco sedikit panik ketika melihat Harry mengernyit kesakitan. Dan tangannya bergerak untuk menutup telinganya.
"It hurts..." Mata Harry menutup kembali sebelum membuka sepenuhnya, Draco berusaha untuk tidak panik dan memencet bel untuk memanggil suster.
"Harry?" Draco berbicara lagi. Harry tidak menggubris. Hanya mengernyit kesakitan. Hati Draco mencelos melihat pemandangan ini. Ia menyentuh tangan Harry dan berusaha mengeluarkan kalimat menenangkan. "Apa yang sakit?" Draco bertanya. "Tenang... semua akan baik-baik saja..." atau sekedar "Shuuu... you'll be fine..."
Ketika suster dan dokter yang akan memriksa Harry datang Draco bangkit dan memberi ruang. Handphone di saku Draco bergetar dan Draco menjadi lebih panik ketika berpikir untuk lebih memilih yang mana, keluar dan mengangkat telepon atau diam di sana dan menemani Harry. Draco keluar akhirnya setelah Harry menjerit karena kesakitan akan menggeliat dan menutup telinganya kini dan suster meminta beberapa perawat lain untuk datang dan Draco diusir agar tak mengganggu proses perawatan.
Ketika Draco hendak mengangkat telepon dan melihat ID Hermione, suara Hermione ada di belakangnya memanggil namanya. Jadi Draco berbalik dan melihat Hermione bersama orang tua Harry. Jadi, sebelum mereka cukup dekat dengan Draco, ia berkata, "Fuck!" Hanya karena ia tidak tahu bagaimana tapi hidupnya selalu bisa lebih kacau dari sebelumnya.
"Bagaimana Harry?" Lily Potter dengan segala keanggunannya berjalan sangat cepat sambil berbicara ke arah Draco.
Draco menelan ludah, "Ia baru saja sadar... Tapi..."
Pandangan mata ketiga orang di hadapannya terus mengulitinya. Draco diselamatkan dengan pintu yang terbuka dan dokter yang melangkah keluar bersama beberapa perawat lain. "Keluarga Mr. Potter?" Ibu Harry langsung maju dan membanjiri dokter tersebut dengan pertanyaan.
Sang dokter berbahasa Inggris cukup fasih dengan aksen Perancis yang tak terlalu kental, ia menjawab perlahan, "Kami harus melakukan CT scan. Mr. Potter sempat tersadar baru saja, namun mengeluhkan sakit luar biasa di kepalanya dan dengung di telinganya. Hasil dari pemeriksaan awal kami tidak melihat ada sesuatu yang salah tapi untuk saat ini kita belum tahu sebelum ada pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh. Kami memberikan sedative untuk Mr. Potter karena kesakitannya membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Saat ini Mr. Potter masih sadar namun dalam kontrol obat penenang sehingga mungkin tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik."
Draco mendengarkan dari jauh, karena setelah keluarga Harry datang ia menjadi bukan siapa-siapa. Hermione sudah mengenal Harry bertahun-tahun dan berdiri membaur dengan kedua orang tua Harry nyaris seperti keluarga. Sementara Draco merasakan atmosfer sebagai outsider saat ini. Jadi ia berdiri sedikit lebih jauh dari mereka. Begitu dipersilahkan untuk masuk ke kamar Harry, Lily Potter tidak mempedulikan apapun lagi. Mr. Potter mengangguk kecil ke arah Draco kemudian masuk ke kamar Harry sementara Hermione mengikuti Lily Potter tepat di belakangnya.
Draco tidak yakin apa harus mengikuti mereka atau tidak.
Jadi, ia memilih berdiri di samping pintu kamar. Berpikir untuk menghubungi Blaise untuk menjemputnya pulang ke kamar hotel, tapi ia tidak ingin mengganggu tidur Blaise, mungkin lebih baik naik taksi.
"Hey..." Draco berbalik dan Hermione menutup pintu perlahan. "Kau mau masuk?" Draco menggeleng. Mengusap rambutnya, Hermione menatapnya penuh simpati dan ia mulai muak dengan tatapan itu.
Draco mendesah keras, "Apa yang akan kulakukan sekarang?" Draco bertanya pada Hermione. Hermione mengernyit kebingungan, alis cantiknya yang secara alami menukik tajam menyatu kini. "Aku pikir aku tidak mencintainya." Draco memulai. "Aku tidak pernah benar-benar yakin sampai aku hampir kahilangan Harry, sampai aku menyaksikan kesakitannya menyakitiku juga." Hermione tetap diam, mendengarkan.
"Harry selalu berkata pada setiap pernyataanku bahwa, tidak, aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya..." Draco berhenti, matanya memandang ke dinding polos di hadapannya. "entah kenapa Harry selalu berhasil membuatku ragu. Bahwa aku hanya terjebak dalam perasaan sesaat. Dan sekarang dengan semua keadaan buruk seperti ini, aku mneyadarinya. Dan bahwa Harry mendorongku menjauh karena ia juga merasakan hal yang sama. Tapi ia tahu ini akan berat untukku. Ia begitu peduli padaku, dan aku tidak menyadarinya." Draco menarik nafas. Lalu melanjutkan, "Shit!"
Hermione membiarkan Draco berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bicara, "Mr. James Potter ingin bicara denganmu..." Hermione lalu memperhatikan Draco dari atas hingga ke bawah. "Kita ke kafetaria, kau harus makan. Dan setelah kalian selesai bicara aku akan mengantarmu ke hotel. Blaise bilang kalian harus berangkat kembali ke Inggris malam ini?" Draco mengangguk. "Kalau begitu turunlah duluan. Aku panggil Mr. Potter dulu..." Draco mengangguk. Membiarkan Hermione mengusap pundaknya perlahan dan memberi pengayoman.
Draco tidak pernah bepikir ia akan berteman atau katakanlah bisa berdamai dengan Hermione karena gadis ini selalu terlihat membencinya sejak Draco pertama kali memasuki tempat syuting. Ekspresi serupa yang juga Harry pakai ketika menatap Draco datang. Sepertinya keduanya marah pada satu hal yang sama bahwa Draco menyusahkan –red. Menyiksa—Ronald Weasley di film sebelumnya. Tapi Hermione cukup sering terlihat berbincang dengan Blaise. Mungkin di belakang Draco, Blaise suka bergosip dengan Hermione atau semacamnya, Draco tidak tahu. Tapi ia tidak pernah membayangkan bisa berinteraksi seperti ini, tidak dengan Hermione. Ataupun dengan Harry.
Hermione menggumamkan sesuatu tentang memanggil Mr. Potter dan bahwa ia akan menyusul Draco ke kafetaria nanti.
"It's just a kiss." Draco menggumam ketika Hermione menjauh, dan ingatan tentang ciuman pertamanya dengan Harry menghampiri.
Draco menuruti saran Hermione dan mulai melangkah menuju lift. Ia mematikan paket internet di handphonenya dan berusaha untuk memastikan telepon yang masuk hanya telepon penting. Ia bersyukur bahwa baik Severus maupun para petinggi agensinya belum menghubunginya lagi selain memberitahu soal kemenangannya di award malam ini.
Pemuda berambut platina itu memperhatikan sekeliling ketika lift membuka. Berjalan dengan langkah cukup gontai, tungkai kaki panjangnya ia usahakan untuk tetap tegak dengan sisa-sisa tenaga. Draco tidak tahu apa yang membuatnya lebih lelah. Fisiknya yang kurang istirahat atau psikisnya yang kelebihan beban pikiran, kumpulan muslihat yang membuatmu penuh perasaan insecure yang sebelumnya tak terlihat.
Rumah sakit tentu bukan tempat paling ceria di belahan dunia manapun. Maka disambut dengan atmosfer murung dan menjemukan, menambah khidmat kebosanan yang Draco rasakan. Draco seperti memasuki kuil ketika melihat bahwa kafetaria, bagi rumah sakit adalah tempat berkumpul keluarga-keluarga yang lelah dalam duka. Atau mereka yang baru saja mendapati realita kejam tentang sesuatu yang terjadi dalam tubuhnya.
Isi kepala pemuda itu tidak lebih dari pikiran-pikiran kacau ketika ia memesan paket sarapan pada jam 4 sore. Meskipun pelayannya memandang aneh dengan kilat simpati. Draco menumpulkan senyumnya. Lelah berpura-pura berterimakasih. Karena simpati tak bermakna apa-apa kini.
Harry kesakitan.
Dan Draco harus pergi dari sampingnya.
Draco tidak bisa di sana, karena ketika Draco menyadarinya. Ketika perjalanan dalam hubungan dengan Harry membawanya terbang, Draco lupa bahwa pada dasarnya mereka hanya bermain di belakang layar hijau sebagai realita. Lalu teknologi mengubahnya menjadi kastil dan istana. Realita hanya layar hijau membosankan.
Itu sebabnya Draco menyukai film-film tua, 60-an, 70-an, 80-an... Ketika kau bisa melihat imajinasi manusia yang berkembang dan belum beralat. Kau menemukan banyak cacat. Tapi merasa terpesona oleh kemampuan dan bakat. Seni, saat itu, tentang komitmen untuk menampilkan yang terbaik dari seorang aktor. Bukan masalah efek gambar atau background.
Draco menghormati ratusan orang yang terlibat untuk menciptakan animative di belakang layar.
Itu bukan perkerjaan mudah.
Tapi dengan segala hormat, Draco mencintai film tua. Dengan segala kecacatan gambar dan bising yang tak diperlukan.
"Kau melamun..." Draco tidak ingat memilih kursi di dekat jendela. Tidak ingat sudah menggigit sedikit sosis yang dipesannya. Tidak ingat kapan pesanannya datang tepatnya.
Suara James Potter tidak mirip dengan Harry. Walau setelah melirik sekilas Draco sadar bahwa Harry benar-benar replika ayahnya, tentu Harry adalah versi yang lebih pendek. Meskipun bentuk wajah Harry lebih lonjong dan panjang juga garis rahang Harry lebih halus. Dan jangan lupakan emerald hijau Harry. Tapi melihat James Potter berdiri di hadapannya saat ini membuatnya sedikit, apa istilahnya? Freaking out... yeah, a little freak out.
"Hermione harus menunggui Harry, karena Lily harus bicara lebih lanjut dengan dokter Harry. Hermione bilang kau bisa membawa mobilnya jika kau mau dan meminta petugas hotel mengantarkannya kembali ke sini..." James Potter mendorong kunci itu di atas meja. Draco menatap seperti orang dungu ke arah kunci itu selama beberapa lama.
James Potter bicara lagi,n"Hermione bilang kau menungguinya sejak malam tadi. Dan ia tidak yakin kau sudah makan, jadi ia memintaku untuk memastikan kau makan dan punya tenaga sebelum mengendarai mobilnya. Dia bilang: 'Itu mobil sewaan paling mahal dari hotel, aku tidak mau menghabiskan gajiku untuk membayar perbaikan mobil itu jika Draco memustuskan untuk tiba-tiba pingsan di tengah jalan dan mengubah mobil itu menjadi potongan pinata yang dikeroyok sepuluh bocah yang kelebihan gula dalam darah mereka'. Unquoute. " Draco tersenyum tipis. Membayangkan wajah Hermione yang biasa mengatakan kalimat sepanjang itu dengan wajah dingin dan satu tarikan nafas.
Draco meraih sendoknya dan mengunyah sesendok bubur kentangnya. "Mungkin sebaiknya anda juga memesan sesuatu?" Draco memberi sugesti, sambil menyiapkan suapan berikutnya. Tiba-tiba saja sense tubuhnya kembali dan ia merasa lapar.
James Potter menggeleng pelan sambil membuka kopi kalengannya. "Tidak. Kurasa tidak, aku akan mencari makanan yang lebih layak nanti."
Draco menyelesaikan kunyahannya, karena yah... bagaimanapun ia dibesarkan sebagai anak bangsawan yang tahu tata krama. "Tidak begitu buruk sebenarnya."
James Potter mengangguk dan kali ini benar-benar menatap ke arah Draco. "Kau seperti James Dean saat ini." ujarnya.
Draco mengernyit sebagai jawaban. Menghentikan aktivitas menyantap sarapan di sore harinya dan membiarkan pertanyaan tertulis di raut wajahnya.
"Dan Harry akan menjadi William Blast." statement itu membuat Draco berpikir selama beberapa saat. Ya, tentu ia tahu aktor iconic androgini tahun 50-an yang tewas pada kecelakaan mobil itu, Rebel Without a Cause adalah salah satu favoritnya. Dan yang ia tahu soal William Blast adalah ia seorang penulis skenario, teman dekat James Dean sejak kuliah, penulis buku biografi pertama James Dean dan –oh! – pikir Draco, menurut kontroversi terlibat dalam hubungan eksperimental pertama James Dean dengan sesama jenis.
"William Blast tidak sepenuhnya gay..." Draco menjawab akhirnya setelah logikanya berhasil mengikuti ke mana arah pembicaraan yang diinginkan James Potter dengannya saat ini. Ia akan mengatakan bahwa Harry hanya sekedar 'teman' eksperimen dalam hubungan ini.
"Kau juga tidak se-iconic James Dean, atau belum setidaknya..." James Potter masih menawarkan wajah yang sama. Senyum lebar yang mempesona, kepercayaan diri yang sedikit dicederai kelelahan. Tapi tidak ada penghakiman di nada suaranya seperti tatapan Lily Potter tadi pada Draco ketika mereka bertemu sekilas. James Potter seakan menempatkan dirinya di tempat netral sambil mengorek bukti bahwa Draco hanya mempermainkan anaknya.
Entahlah. Draco hanya berusaha menganalisa.
Bisa saja ia terlalu negative thinking akibat kurang tidur.
"James Dean tidak pernah benar-benar mengakui apapun dengan Blast. Aku mengakui Harry."
"Hanya karena itu bagian dari permainan yang kalian mainkan."
Draco kehilangan selera makannya. Ia meletakkan garpu dan sendoknya. Berusaha fokus secara penuh pada ayah Harry kini.
"Apa ini pernyataan bahwa anda tidak merestui kami?" Draco berusaha mengubah jalur dan membuat ini menjadi pertarungan terbuka dengan pertanyaan yang langsung ke inti masalah.
James Potter sayangnya, tidak mudah termakan gertak, "Apa yang perlu kurestui, Mr. Malfoy?"
Draco terdiam. Pertanyaan balik itu mengenainya. Karena memang, bahkan bagi Harry, mereka bukan apa-apa selain bagian dari aksi promosi.
Mungkin bagi banyak fans yang mencintai akting mereka baik di layar perak maupun dunia nyata, ya, mereka memiliki sesuatu. Dan mungkin itu juga benar.
Tapi tak ada status.
Tak ada nama.
Tak ada kepastian.
James Potter mendesah lelah. Draco dibuat menegak duduknya melihat wajah James Potter yang menyimpan berjuta emosi. Seakan menimang, lelaki paruh baya yang masih tampak gagah itu menatap ke satu titik di sisi lain meja bundar mereka.
Ketika ia menatap Draco kemudian, "Tolong jauhi Harry." Bukan kalimat perintah. Datar, tapi Draco tahu di baliknya tak ada tawar menawar.
"Mengapa?"
James Potter menatap ke dalam kilau abunya selama beberapa saat. Seperti mengukur atau memeriksa setiap sudut ketulusan jiwa Draco. "Karena kau Malfoy, nak... Karena aku melihat karir cemerlang untukmu, aku melihat tanggung jawab besar di pundakmu, aku melihat simbol baru untuk perfilman. Dan jika kau memilih Harry, kita tahu akan menjadi dua atau bahkan lima kali lebih sulit untuk mendapatkannya." Berhenti, James Potter menutup mata dan Draco mengingat wajah Harry yang sangat mirip kini dengan ayahnya saat ini. Tanpa penanda warna iris, mereka tentu sulit dibedakan.
"Kau seorang petualang seperti James Dean. Kau tidak pernah settle down sebelumnya. Dan Harry adalah pemuda sederhana yang tentu akan terkagum-kagum pada kemampuanmu. Pada segala hal tentang dirimu." James Potter mendesah lagi. "Aku tidak bermasalah dengan orientasi seksualmu atau apapun, Draco." pangeran Malfoy kita mengernyit ketika James Potter memanggilnya dengan nama depannya.
"Tapi?" Draco bertanya akhirnya untuk mengisi waktu ketika James mempersiapkan kalimat selanjutnya.
"Ketika pertama kali kembali terjun ke dunia akting, setelah... kau tahu?" Draco mengangguk pada tatapan isyarat Mr. Potter yang penuh pernyataan. "Harry pernah mencoba bunuh diri." Lalu hening.
Mr. Potter membiarkan Draco mencerna informasi baru itu. Draco biasanya adalah salah satu manusia dengan wajah stoic, kurang tidur dan kelelahan sepertinya mengambil hal itu dari Draco kini.
"Kurasa Harry belum memberitahumu..."
Draco menggeleng, "Harry pernah memberi potongan cerita, hanya sepenggal kalimat. Aku menarik kesimpulan bahwa Harry hanya melakukan... mhmmm... semacam self harm?"
James Potter tersenyum, di matanya terukir kenangan buruk, "Yah, kami terlambat menyadari coping mechanism Harry yang satu itu. Hingga pada satu sore ia memutuskan untuk membuat luka yang lebih dalam dari biasanya dan lebih dekat ke nadinya..."
Draco merasa ingin memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Sekarang di kepalanya berputar gambaran jelas yang mengerikan.
"Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman." James Potter menegakkan punggung seakan bersiap menuntaskan pembicaraan. "Intinya adalah... Harry mungkin terlihat kuat dan tangguh di luar. Itu sebabnya kurasa, publik tidak menyukai ketangguhan itu. Ia tidak menunjukkan kerapuhannya pada sembarang orang, itu kurasa, yang membuat dunia terus berusaha menaklukkannya, dan mereka hampir berhasil, sekali." Helaan nafas. James Potter melanjutkan, "Harry tidak sestabil itu. Itu yang coba aku katakan. Jadi, tolong jauhi Harry. Hermione menceritakan pertengkaran kalian kemarin memicu Harry pergi sendiri. Ia masih seperti itu, kau tahu? Melakukan keputusan sesaat. Kali ini mungkin kecelakaan, tapi jika kalian bersama. Kau punya sejarahmu sendiri dan kau adalah salah satu selebriti yang secara konstan ada dalam sorotan. Aku tidak yakin Harry bisa menghandle itu."
Helaan nafas lagi, lebih panjang. "Jadi tolong berhenti membuat bingung Harry. Aku tidak melarangmu, jika suatu saat kau kembali dengan keputusan bulat di kepalamu. Tapi aku melihatmu, nak." James Potter berdiri kini. Meninggalkan kopi kalengnya di meja Draco. "Kau pun masih ragu dengan semua ini. Dan terakhir kali ada pemuda yang ragu-ragu tentang Harry, itu berakhir menghancurkan karir anakku dan hidupnya. Aku hanya berusaha melindungi Harry, Jadi mengertilah..."
Lalu sebuah anggukan formal. Lelaki itu pergi sambil mengeluarkan pemantik api. Menuju keluar gedung rumah sakit.
Draco diam di sana selama beberapa saat.
Menatap kosong ke arah meja. Ke sisa makanan yang membuat perutnya mual, berputar tak nyaman. Ke kunci mobil sewaan dari hotel. Ke kaleng kopi milik James Potter. Ke bercak saus tua yang sepertinya membandel di taplak meja kafetaria itu.
Draco lalu bangkit, menyabet kunci di meja dan berjalan menuju tempat parkir.
Ia tidak bisa berpikir sekarang.
Ia butuh tidur. Dan mandi.
Lalu berpikir setelahnya.
.
.
.
Gendang telinga kiri Harry mengalami kerusakan. Itu inti dari penjelasan dokter beraksen Perancis yang sulit Harry mengerti, kepada ibu Harry. Itu sebabnya Harry sering mendengar dengung secara konstan dan membuat pusing menyakitkan di kepala bagian kiri belakang. Itu sebabnya Harry harus melakukan semacam operasi beberapa jam lagi dari sekarang jika tidak ingin mengalami kehilangan pendengaran sebelah kiri.
Harry sudah terbangun selama seharian, tapi ia menghabiskan banyak waktunya untuk kembali tidur.
Ia berusaha untuk tidak mendengarkan pembicaraan apapun.
Satu-satunya pembicaraan yang ia coba dengarkan secara seksama adalah pembicaraan tentang operasi tadi.
Selebihnya orang tua Harry dan Hermione yang bergantian menungguinya berbicara dengan volume saling berbisik. Harry menghargai itu karena memang setelah usaha terakhirnya untuk mendengarkan pembicaraan berakhir dengan dirinya yang mengerang kesakitan.
Jadi, jika ia tidak tidur, Harry mulai belajar memperhatikan gerak bibir kedua orang tuanya dan Hermione atau para suster. Ia makin mahir dalam beberapa jam terakhir.
Ia menangkap informasi seperti sekitar lima jam yang lalu tissue toilet di kamar Harry habis.
Tentang Hermione yang diajak mengobrol oleh seorang pemuda Perancis ketika ia mengambilkan obat Harry, dan mendapat ajakan kencan dalam bahasa Inggris yang separuhnya Hermione tidak mengerti. Hermione menolaknya, rupanya.
Tentang pidato kemenangan Draco, yang Harry baru tahu memenangkan kategori aktor terbaik.
Tentang Draco dan kru film Folie a Deux menyabet banyak penghargaan.
Tentang Ron yang sempat menengok ketika Harry tidur dan harus terburu-buru pergi.
Tentang menu sarapan yang payah di kafetaria tapi mereka punya kopi kaleng yang lumayan enak.
Tentang Hermione yang menguping gosip para suster lantai tempat Harry dirawat, seorang dokter kepergok mencium pasiennya. Yang bersuami.
Dan tentang Draco yang harus kembali ke Inggris untuk menyelesaikan albumnya.
Lalu sisanya ayah Harry meminta Hermione untuk bicara di luar dengannya. Jadi Harry tidak bisa membaca gerak bibir mereka.
Samar-samar Harry mengingat Draco ada di sampingnya dan memanggil namanya lembut ketika ia terbangun dengan dengung menyakitkan di kamarnya.
Setelah itu ia ingat serombongan suster masuk dan seorang dokter, memeriksa ini itu dan keributan biasa itu membuat kepala Harry sakit luar biasa karena denging dari kebisingan kegiatan mereka.
Ketika ia terbangun dari obat penenangnya dan setelah selesai melakukan CT scan. Ia berharap menemukan wajah Draco lagi. Tapi saat ini ia tidak datang kembali. Dan ia pergi begitu saja. Hermione beralasan mereka terburu-buru. Jadwal padat.
Harry bertanya-tanya apa ini sudah waktunya ia dinafikkan seperti sebelumnya?
Mereka sudah molor beberapa lama. Draco sudah menjalankan peran dengan baik. Harry hanya berharap jika Draco berpikir ini sudah waktunya mengakhiri sandiwara. Ia akan mendapat ucapan selamat tinggal. Tapi ini sepertinya sama seperti sebelumnya, Harry hanya tak pernah belajar untuk tidak berharap.
Lily Potter kembali masuk ruangan Harry dengan didampingi dokter yang akan membedah Harry. Sepertinya sudah waktunya masuk rumah sakit. Harry membaca dari gerak bibir ibunya berkata, "It's Alright..." Harry tersenyum dan mencoba mempercayainya.
Lalu Harry merasakan tusukan jarum suntik. Dan matanya mulai terlalu berat untuk membaca gerakan dan kalimat-kalimat lain di bibir ibunya.
Ketika matanya menutup, ia melihat bayangan Draco dan senyumnya. Juga ciuman dari bibir tipisnya.
Di saat terakhir sebelum kesadarannya hilang. Harry merasakan sesak di dadanya. Sesak yang sama ketika ia sadar. Cedric meninggalkannya.
Dan Draco juga melakukan hal yang sama.
Lagipula siapa yang mau berurusan dengan aktor gay kelas dua yang sekarang punya masalah pendengaran?
Harry menyempatkan tertawa dalam logikanya.
Lalu terlelap dalam ketidaksadarannya.
.
.
.
"Kau tidak mengecewakan kami, Mr. Malfoy." Draco akhirnya bisa menghela nafas lega setelah ketiga lagunya plus satu lagu bonus barunya selesai diperdengarkan.
Mrs. Anderson tersenyum penuh kemenangan pada seisi ruangan. Seakan berkata menempatkan kepercayaannya pada Draco bukan keputusan yang salah.
Well, Draco tidak akan menyalahkannya.
Jadi, ia memasang senyum sopan ala pemuda baik-baiknya. Cara lain untuk mengejek mereka yang meragukannya dan selama sebulan ini hanya bisa mengeluh ke agensinya. Membuat Severus Snape bertingkah seperti gadis yang sedang PMS setiap kali bertemu dengan Draco atau Blaise. Draco tidak tahu apa urusannya dengan Blaise tapi itu membuat Blaise juga mengeluh melulu soal Severus. Tapi, setidaknya sekarang sudah selesai, semua tinggal dipindahkan ke tangan bagian produksi dan penjualan.
Ia mendapatkan janji 300 ribu copynya tanpa protes apapun dari siapapun. Dan Draco bisa beristirahat.
Setidaknya dari kegiatan studio musik. Ia tidak istirahat tentu saja dari jadwal promosi. Semakin sibuk malah karena ia harus menggantikan posisi Harry juga untuk saat ini.
Draco belum menghubungi Harry tentu saja.
Ia bilang pada dirinya sendiri ia akan menelepon begitu kondisi Harry membaik dalam beberapa hari setelah ia kembali ke Inggris. Tapi kegiatan produksi dan berbagai promosi membuatnya terlalu sibuk bahkan untuk sekedar bernafas. Ia juga sempat tumbang karena kelelahan sehari sebelum rapat ini. Jadi, Yah... Draco punya cukup alasan untuk menghindari rasa bersalahnya karena belum juga menghubungi Harry.
Tapi tentu alasan utamanya adalah kalimat James Potter padanya.
Dan kepengecutan Draco.
Draco membuat janji pada dirinya, jika sekalipun segala urusan dengan Harry ini harus berakhir, ia akan mengakhirinya dengan baik-baik. Dengan bicara seperti seharusnya yang orang dewasa lakukan. Bagaimanapun juga ini bisnis yang melibatkan dua perusahaan.
Tapi tentu Draco terlalu pengecut untuk itu.
Itu sebabnya hari menjadi minggu, dan minggu menjadi sebulan. Dan Draco membiarkan dirinya mengikuti ibu dan ayahnya untuk mengikuti beberapa pertemuan para bangsawan, malam amal dan pesta koktail dan membiarkan paparazzi memotretnya berdansa dengan beberapa gadis di pesta-pesta tersebut.
Internet yang sudah lama rebut, semakin ribut. Draco membiarkannya dan tak menjawab apapun lewat akun sosialnya. Ia menghindari pertanyaan soal Harry dari setiap pewawancaranya.
Dan Draco mendengar Harry sudah kembali ke Inggris dan dalam bed rest sampai kondisi pendengarannya pulih sepenuhnya.
Mungkin sekitar beberapa minggu lagi.
Tentu sebelumnya Draco punya alasan untuk tidak mengunjungi Harry karena perwatan intensifnya di Perancis.
Namun sekarang Harry berada di apartemennya kembali pun Draco tidak cukup berani untuk datang dan mengetuk pintu. Membawakan bunga atau kartu ucapan semoga lekas sembuh.
Bahkan Blaise sempat pergi ke sana. Ia membawakan bunga atas nama Draco tanpa Draco minta.
Draco tidak tahu apa yang Blaise katakan pada Harry.
Dan Blaise juga tidak bicara apapun soal apa yang Harry katakan padanya tentang Draco.
"Kau seharusnya berhenti melamunkan? Kau seharusnya sudah tidak perlu memasang tampang banyak masalah itu kan?" Tom Riddle mendekat ke arahnya. Draco bahkan tidak sadar kapan pertemuan ini berakhir.
"Ya..." Draco menyisirkan rambutnya ke belakang. "Ya, maaf..." ujarnya terbata.
Tom Riddle dengan wajah pucat dinginnya tersenyum, senyum atau seringai. Entahlah. "That's Potter boy got you really bad, huh?"
Draco tidak tahu harus menjawab apa. Tom Riddle hanya mengeluarkan his obnoxious laugh. Lalu menepuk pundak Draco, berbisik di telinganya. "Forget it, Draco... It's not worth it."
Lalu tertawa sekali lagi. Memenuhi ruangan dan memekakkan telinga.
Draco mengikuti langkah bosnya itu keluar ruangan, Blaise yang menunggu Draco di depan pintu juga menjadi sasaran bisikan dan tawa memekakkan telinga lainnya.
Begitu Blaise mendekat, "Mungkin kita harus pindah agensi." Draco berbisik. Blaise hanya terkekeh.
"Kau tahu dia mungkin gila tapi ia salah satu yang terbaik dalam industri ini. Dan kau tahu apa yang terjadi pada artis-artis yang keluar dari agensinya dan melupakan 'balas budi' padanya."
Draco yang balik tertawa kecil kini, "Ya, mereka mati."
"Euh..." Blaise membuat wajah tak yakin soal komentar tersebut. "Lebih tepatnya karir mereka hancur dan kebanyakan memilih bunuh diri, ya, tapi tidak semua. Tidak semua..." Blaise mengakhiri kalimatnya sambil mengangguk-angguk. "Anyway... Aku punya berita baik dan buruk."
"Tolong jangan memintaku memilih mana lebih dulu yang ingin kudengar." Draco bersandar kepada meja ruang konferensi yang berbentuk oval memanjang. Memakan sebagian besar space yang ada di ruangan itu.
"Well, okay, pertama, panitia Oscar baru saja menelepon, dan kau masuk dalam nominasi Best Actor tahun ini." Draco membulat matanya dan di wajahnya tersungging senyum lebar. Blaise tidak tahu jika Draco bisa tersenyum lebar dan tulus seperti itu. Ia terlihat benar-benar senang.
"Oh! Shit! Sekarang aku menyesal karena tidak memilih. Aku tidak berpikir beritanya akan sebesar dan semenyenangkan ini..." Draco mengumpat sekali lagi dan lalu berusaha menenangkan nafasnya. "Oke, berita buruknya?"
Draco tampak ragu. Ia belum ingin menghapus senyum Draco saat ini. Tapi pasti akan aneh kalua sekarang ia meminta izin untuk memfoto Draco kan? Atau tidak? Mengingat makhluk ini jarang sekali terlihat benar-benar bahagia.
Ah ya... Balise melihat senyum ini sebelumnya ketika memperhatikan foto-foto paparazzi Draco bersama Harry.
Tapi saat itu Blaise tidak yakin apa itu tulus atau akting yang sangat bagus.
"Blaise?"
Pemuda itu ikut bersandar pada meja. Ia berdiri di samping Draco sehingga tidak perlu melihat wajah Draco ketika mendengar berita berikutnya.
"Kau tahu bagaimana para kritikus film menilai bahwa akting kau dan Harry sama-sama berada di level yang seharusnya layak masuk nominasi Best Actor di Academy Awards?"
Draco mengangguk. Blaise melihatnya dari sudut matanya dan melanjutkan. "Unfortunately... Harry tidak masuk dalam nominasi ini."
"Oh." Draco tahu apa artinya itu. Keributan lainnya di internet. Dan perdebatan pro kontra lainnya yang akan memenuhi pertanyaan setiap interview yang Draco harus hadiri. Baik ia menang, atau tidak.
"Yah... setidaknya ia masuk Best supporting actor..." Ya, tapi ia tahu itu tidak akan cukup. "Kau tahu, mereka tidak bisa menempatkan dua nama aktor dari satu film di satu nominasi."
Yap. Draco tahu.
"Menurutmu aku harus menemui Harry?"
"Menurutku kau harus membiarkan dia menemuimu..." Blaise tersenyum dan tatapannya mengarah ke pintu masuk ruangan. "Harry..." panggilnya pelan.
Draco terdiam dengan pupil yang sedikit membesar, tanda keterkejutan. Harry berdiri di sana. Ia memakai beanie dan kacamata besar juga, terlihat cemas dan ketakutan. Draco tahu paparazzi semakin menggila dan pasti membuatnya tidak nyaman.
Para fans dan haters sama ributnya di dunia sosial.
Harry terlihat begitu kecil dan rapuh dalam balutan tumpukan pakaian yang menyembunyikan postur tubuhnya itu.
"Kuharap kau tidak keberatan aku datang." Harry berkata akhirnya setelah mendekat perlahan.
Diam selama beberapa saat. Keheningan menguasai atmosfer ruangan.
Sampai Blaise mengeluarkan suara batuk palsu dan undur diri dengan alasan absurd.
Draco menegakkan caranya berdiri. Sekali lagi memperhatikan Harry dari ujung kepala sampai kaki. Menemukan pemuda yang mencuri hatinya kini berdiri di hadapannya. Pemuda yang dihindarinya. Tapi tak bisa berhenti ia pikirkan.
"Dulu Cedric tidak pernah menjawab permintaanku untuk satu pertemuan terakhir. Aku hanya sangat takut kau juga menolak mengangkat teleponku atau membalas pesanku, jadi aku menghubungi Blaise. Aku minta maaf muncul tiba-tiba..." ada yang masih akan Harry katakan, tapi kalimatnya terpotong suara tangisan. Harry merunduk dalam. Air matnya meluncur langsung ke lantai.
Draco ingin memeluknya. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja dan Harry tidak perlu takut ia tidak menginginkannya lagi. Mereka masih bisa berteman? Seaneh apapun itu kedengarannya.
Selama beberapa saat pertemuan itu hanya diisi suara sesegukan Harry.
Setelah reda, Harry tersenyum kecil. Ada jejak air mata di wajahnya. "Selamat..." ujarnya. "kau pantas untuk nominasi ini..."
Draco menggumamakan 'thanks' kecil dan berusaha menghindari mata Harry. Sekilas Draco melihat kilat terluka di emerald itu. Dan Harry menggigit bibir bawahnya.
"Kurasa begini saja..." Harry memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya.
Harry menunggu Draco berkata sesuatu. Tapi Draco terlalu pengecut untuk bersuara. Atau menatap Harry dalam situasi ini.
"Oke..." Harry mengehla nafas. "Aku hanya ingin minta maaf atas perkataanku malam itu. Ada banyak hal yang seharusnya tak kukatakan padamu." lalu dengan awkward ia menepuk pundak Draco. Dua manusia yang pernah berbagi keintiman paling dalam, sepanjang hidup mereka, kini hanya berbagi sentuhan kecil.
Draco tidka tahu ide dari mana bahwa Harry harus meminta maaf. Ia tidak melakukan apapun yang salah. Ia tidak mengatakan sesuatu yang salah soal Draco. Draco layak menerima makian Harry malam itu. Draco yang seharusnya meminta maaf kini.
Dan pengecutnya lagi, Draco tidak cukup berani bahkan untuk balas menepuk Harry.
Harry berdiri sesaat, waktu yang berhenti untuk keduanya dan Draco memberanikan diri menatap Harry secara personal terakhir kalinya. Harry hanya berjarak dua langkah darinya. Kini. Tapi ada jutaan tahun cahaya yang memisahkan keduanya secara psikis.
Harry tersenyum kecil, melihat Draco akhirnya menatapnya.
Lalu. "Ok. goodbye, Draco..."
.
.
.
Seseorang melempar batu ke tengah sungai yang tenang.
Membuat riak.
Dan kebisingan.
Lalu si pengecut, berbalik.
Dan hanya diam.
.
.
.
-Frozenisstillbetterlovestorythantwilight— 1month ago
If they break up or break for a moment or anything. At least tell the public. They get their publicity and then just leave.. WHAT THE FUCK DRARRY!
-Levi'sfromAzusa—2 weeks ago
I honestly think that maybe this is it... well, who's we kidding. Of course Draco won't take this, his career is his life. He can't just buy Harry and forget about his responsibility as a Malfoy right?!
Honestly, i see it coming already.
-Sylveon - Rocket League –1 week ago
It's not that I hate gay people, it's just that I feel way too unsettled by seeing them interacting in such a way, definitely ruined the song for me ;_; its such a shame because take me to church is a really good song.
-Karolline Gonçalves –2weeks ago
Eu gosto de escutar essa música sempre quando estou cheia de ouvir ou ler comentários homofobicos, é uma forma de expressar oque eu e milhares de gays/bissexuais sentem diante de toda opressão da sociedade, apesar de ser triste tanto a música quanto o clipe eu sinto um alívio em saber que não estou sozinha, e que apesar do preconceito de muitos, ainda existem muitas pessoas sensatas sendo heteros ou não...
-Godblessoursoul –2 weeks ago
I'm just glad this two satanic icons parted away... it's easier to fight against demon when they're alone.
-Smitty Werbenjagermanjensen –6 days ago
love has no gender. Real or not. These two beautiful human beings give us beautiful message in their short time together.
-Litty iggi witty – 2 days ago
It's such a shame that Harry performed 200% better and didn't even get nominated on best actor. You know why? Because he's gay and Malfoy not. Malfoy just experimented and used Harry at the end like Cedric did years ago...
So i'm done. I'm not gonna wacth oscar this year.
-Gabriel Vásquez—1 day ago
See guys... God made Adam and eve, not Adam and Steve. Sorry, or in this case Draco and Harry...XDDD
-Rebecca Spearey—3 days ago
Omg this is so sad they were amazing together :( I think the reason I love them both so much is because they remind me of me and my girlfriend. I hope they both know they have my love and support in this heart breaking and sad time.
TBC
So? Just sorry guys... i promise it's not gonna be angst... hehe
Disclaimer beberapa komentar itu modifikasi dari komentar asli di video take me to church.
(wink.. wink)
Tapi untuk sekarang resapi kesedihannya oke.
Seperti biasa maaf karna lama... (Saya harus belajar untuk membuat ini ga terlambat, minimal sebulan sekali up date, but i'm a huge procastinator... so...)
Maaf kalau ada typo..
Chapter ini ga ada lirik.
Sebenernya lebih ke fill in the blank chapter sih..
Chapter berikutnya bakal lebih greget, mudah-mudahan...
Mumpung maish syawal, Mohon maaf lahir bathin guys...
Love you all..
Salam kecup basah, Erelra... :*
