Part 6

Kita bertanya pada kepalsuan

Berdiri di tengah penderitaan, kita diakibatkan

Hilang ditelan keraguan

Suara teriakan, sedu sedan, dalam senyap

Kita bertanya pada kepalsuan

Tentang hidup, tentang makna

Tentang cinta

Tak bermakna

Jika cinta adalah kepalsuan

Maka kepalsuan, biarkan aku bertanya

Dapatkah kita bertukar peran sekedar aku dapat merasakannya?

.

.

.

+Squidwardhopesanddream SmittyWerbenjagermanjensen

DracoMalfoy so, you miss 'Him'?

+Draco Malfoy DracoMalfoy

SmittyWerbenjagermanjensen I can't answer your question without you elaborate who's him?

+Squidwardhopesanddream SmittyWerbenjagermanjensen

DracoMalfoy You know who. And btw UR pretty bad liar

.

.

.

"Kau tidak perlu menyalakan televisi jika kemudian yang kau pilih adalah saluran dengan acara gosip murahan, 'Mione..." Harry keluar dari kamar dengan kernyitan. Ia mendengarkan sekilas sebelum Hermione buru-buru mematikan alat elektronik yang dibicarakan Harry barusan.

"Sorry... Biasanya kau makan waktu lebih lama untuk mandi?!" Hermione mengambilkan mantel Harry dan membantu aktor kesayangannya dan sumber penghasilannya itu untuk mengenakannya.

"Kau sendiri yang bilang kita terlambat..."

"Tidak juga sebenarnya. Pertemuan diadakan jam 10, sekarang baru jam 8 lebih 13 menit." Sebelum Harry sempat protes karena Hermione sekitar 10 menit yang lalu masuk ke dalam apartemennya dan mengganggu rutinitas pagi santai ala Harry yang sedang menyeduh kopi, dan berteriak-teriak soal jadwal padat dan keterlambatan. Mendorong Harry memasuki kamar mandi dan mengancam menelanjangi Harry jika Harry lebih memilih keluar lagi dari kamar mandi dan melanjutkan proses pembuatan segelas kopi paginya.

"Aku mengatakan terlambat untuk estimasi mandimu yang biasanya melebihi sejam..." Harry tidak jadi memprotes, mulutnya tertutup kembali karena Hermione punya point bagus di situ. Ia memang biasanya menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi.

"Oke..." Harry menyabet sepotong roti bakar yang dibuatkan Hermione, mengunyah sambil merapikan rambutnya dengan tangannya.

Hermione menatap Harry sesaat. Memperhatikan keseluruhan figurnya. Mencari-cari sesuatu di ekspresi wajah Harry. Sesuatu seperti kesedihan. Kehilangan. Kerinduan.

Tapi Harry masih berekspresi seperti biasa. Seperti sebelum-sebelumnya, sebelum segala urusan dengan Draco Malfoy ini dimulai.

"Aku tidak apa-apa." Hermione menatap terlalu lama tanpa sadar ketika Harry menatap balik.

"Yah. Aku tahu tapi..."

"Kita tidak akan membahas ini." lalu Harry memutari meja dapurnya dan menyimpan piringnya di wastafel. Lalu meraih ke mug kesayangannya yang bertuliskan I(heart)London, menyeruput jatah kafein paginya. "Setidaknya tidak di pagi hari."

Hermione masih menatapnya khawatir. Harry mengabaikannya dan berusaha tidak membiarkan tatapan itu merusak moodnya pagi ini.

Harry bukan barang pecah belah.

Orang-orang tidak perlu bersikap begitu hati-hati dan cermat di sekitarnya. Seakan satu kata yang salah, satu nama tabu terucap. Harry akan hancur berantakan.

Dia tidak akan hancur berantakan.

Setidaknya tidak lagi.

Hari dimana ia mendatangi Draco, dan Draco tak berkata apa-apa padanya. Hari itu Harry hancur berantakan. Tapi ia sudah menangis dan berteriak pada bantal dan di dalam kamar mandinya. Sudah meninju cermin di kamar mandinya dan membiarkan lukanya selama semalam. Darah mengering ketika esok paginya Harry terbangun setelah Hermione meminta bantuan satpam apartemen mendobrak pintu kamar mandinya.

Setelah itu ia di rumah sakit lagi selama beberapa hari.

Orang tuanya mengirimkan alamat terapis baru.

Harry mendatanginya beberapa kali.

Pers, kali ini setidaknya, tidak begitu mengusiknya. Lebih ramai pada berita putusnya Taylor Swift dan Calvin Haris dan drama twitter mereka.

Ah... tapi sayangnya beberapa persen sorotan media menyorot Draco sebagai gantinya.

Album Draco keluar dua minggu setelah kunjungan Harry ke rumah sakit. Single barunya C'mon, puisi terakhir yang Harry kirim pada Draco, melesat ke chart nomor 4 Billboard. Dan album Draco ada di urutan nomor 2 di i-tunes.

Popularitas album draco sangat luar biasa jika dibandingkan dua album sebelumnya, yang terima kasih pada sorotan pers tentang akhir hubungan mereka yang absurd. Dan beberapa komunitas gay yang mempertanyakan pembagian profit yang adil atas penggunaan puisi Harry sebagai lirik Draco. Mereka takut Draco bertindak curang, lagi. Beberapa aktivis LGBT menuduh Draco memanfaatkan Harry untuk sorotan, yang anehnya kemudian menjadi bad shaming kepada para biseksual.

Yah, karena sebelumnya Draco mengaku biseksual ketika akhirnya satu-satunya –semacam- hubungan sesama jenis yang ia miliki lebih seperti sensasi sampah yang dibuat-buat. Kecurigaan terhadap mereka yang mengaku biseksual meningkat. Apakah LGBT akan menghilangkan B dari singkatannya? Begitu kira-kira tulisan provokatif dari judul sebuah talkshow di NBC.

Harry tidak mengerti mengapa ini menjadi semacam big deal untuk banyak orang.

Tapi akhirnya Harry mau tidak mau harus membuat pernyataan panjang di twitter untuk menenangkan perang dunia maya dan pers ini. Ia membuat sampai lima belas tweet, mencantumkan nama-nama yang dia tahu sebagai biseksualdan teman baiknya sampai sekarang. Dan hati-hati tidak menyebut nama Draco dalam tweetnya.

Ia hanya secara implisit menyebutkan, "dan jangan hanya karena satu orang, kita lalu menganggap sebuah orientasi seksual yang dimiliki banyak orang itu palsu."

Satu tweet itu yang paling banyak mendapat respon.

Jadi, itu tweet terakhir Harry. Karena setelahnya ia mematikan gadgetnya dan mengambil vodka di tempat penyimpanannya. Membawanya ke kamar dan menonton Roman Holiday, dan membiarkan dirinya menatap kosong ketika Audrey Hepburn harus kembali menjadi putri dan meninggalkan cinta dan semua kenangan petualangannya di Roma, Italia.

Harry merasa kembali menjadi remaja lelaki lima belas tahun yang ketakutan pada kenyataan.

Berdiri tegak di hadapan segalanya.

Tapi menemukan setiap perkataan. Setiap gesture. Setiap senyum. Setiap perhatian yang ditujukan padanya. Hanya kepalsuan.

Bahwa ia tidak memiliki tempat untuk berlindung dari semuanya.

Mungkin ia terlalu banyak menatap ke cermin. Tidak untuk merias wajahnya atau mencari-cari kecacatan yang harus ditutupinya.

Ia melihat ke dalam matanya lewat cermin.

Ke dalam keterpakuan, ke dalam kematian rasa di dalam matanya.

Orang-orang selalu memuji mata emeraldnya yang indah.

Ia memuji orang-orang itu yang masih bisa melihat keindahan di dalamnya.

Di dalam mata tak berjiwa yang Harry tampilkan di hadapan mereka.

"Harry?" Hermione menepuknya. Tiba-tiba saja keduanya sudah berada di lift, pintu otomatisnya terbuka menunjukkan mereka sudah sampai di lantai dasar. Harry mengikuti langkah Hermione yang gesit dengan wedgesnya pagi ini. Harry membenci Hermione ketika ia memakai hak tinggi. Harry pria, dan ia pendek, dan Hermione memakai hak tinggi dan berjalan-jalan sepanjang hari di sampingnya sungguh-sungguh merusak kepercayaan diri.

"Kau yakin bisa syuting hari ini?"

"Ini hanya promosi pendek untuk program next top model itu kan? Aku bisa. Tersenyum dan melambai." Harry terkekeh dan secara otomatis memasang goofy smilenya. "Seperti penguin di Madagascar. Lucu dan menggemaskan."

"Kau harus berhenti menonton ulang Penguin of Madagascar sekedar untuk mendengarkan Benedict Cumberbatch mengucapkan 'pengwings'".

"But that's the hilarious part of this movie! How come Benedict who can't say penguin got a role in penguin animated movie?!" Harry terlihat excited berbicara dengan gesture tangan yang liar.

Hermione terkekeh, mengimbangi senyum Harry. Namun begitu tawa mereda ia kembali pada pandangan simpatik yang secara konstan ia tampilkan, ia tujukan pada Harry. Harry muak melihatnya.

Tentu ia bersyukur bahwa pada akhirnya publik sepertinya mulai punya otak, Harry punya cukup banyak pembela setelah... bagaimana menyebutnya? Katakanlah dicampakkan oleh Draco begitu saja.

Entah bagaimana... kata mencampakkan masih terlalu baik. See? Masalahnya adalah bahwa Harry bahkan tidak yakin bahwa Draco bahkan punya perasaan atau setidaknya tertarik pada Harry.

Draco membuktikan segala harapan konyol Harry mengenai bahwa mungkin kali ini ia tidak membuat kesalahan adalah salah besar.

Mencampakkan berarti sebelumnya ada saling kepemilikan. Permasalahannya keduanya tidak pernah saling mengakui apapun. Tidak bahkan pada diri mereka sendiri. Tentu Draco pernah menawarkan diri untuk mengakui. Tapi sedikit saja debat kecil dari Harry. Niat Draco mengerdil.

Harry seperti bumi yang meminta matahari berhenti berputar sesaat. Tapi tentu saja itu permintaan bodoh karena matahari tak bisa berhenti meski sesaat. Karena jika matahari berhenti berputar sesaat, mungkin akan ada planet yang terbakar karena terlalu banyak menerima cahaya. Dan yang lainnya membeku karena tak mendapat cukup cahaya.

Maka matahari harus terus bergerak.

Harry merasa bodoh bahwa ia kecewa.

Harry merasa bodoh ketika ia tahu dirinya sendiri yang sejak awal tidak mengiyakan apapun dari Draco. Dan Draco pun tak berusaha cukup keras untuk meyakinkan Harry.

Ini.

Perpisahan ini.

Adalah sesuatu yang seniscaya perlintasan matahari.

Tapi begini masalahnya. Harry baik-baik saja. Ia sudah siap untuk menerima badai cacian lainnya tapi ia justru mendapat simpati.

Ia mendapati orang-orang yang peduli.

Dan beberapa orang yang menyerang Draco atas keegoisan diri.

Masalah muncul di sini ketika Harry justru berusaha melemparkan pernyataan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia dan Draco masih teman, kau tahu, seperti sebelumnya mereka berteman yang artinya nyaris saling tidak mengenal. Sekedar kolega. Ia meminta orang-orang untuk berhenti saling berperang hanya untuk mempertahankan posisi antara Draco atau Harry.

Kalian bertanya-tanya apa Harry butuh kata-kata manis motivatif ini dengan coklat di atasnya? Tidak.

Dan Harry merasa semakin bodoh ketika melihat bahwa ia satu-satunya yang peduli dengan mini chaos ini. Draco hanya menjawab no comment atau membelokkan ke jawaban lain jika diminta bicara soal Harry atau kebiseksualannya.

Ketika Draco menikmati karir baru musiknya.

Ketika Draco bersiap untuk datang ke Oscar sebagai nominasi Best Actor.

Ketika Draco pada akhirnya sama seperti Cedric, mendapatkan semuanya kembali.

Harry menbenci dirinya, karena ia masih peduli.

Juga perasaan protektifnya pada Draco yang tak hilang begitu saja.

"Kau melamun lagi..." Hermione menengok dari kursi penumpang di samping supir ke jok belakang dimana Harry duduk tegak, pandangan lurus ke depan menatap kosong jalanan.

Ia cepat-cepat tersenyum.

"Hanya memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyorakkan tag line untuk promosi nanti."

"Kau tahu, lakukan wink andalanmu... para penggemarmu menyukainya."

"Yah... maksudku aku melakukannya untuk iklan coklat ketika aku sepuluh tahun. That never gets old!" Harry excited untuk hari ini. Hermione melihat ke kesuluruhan bahasa tubuhnya bahwa semakin lama, semakin terdistrak perhatian Harry pada pekerjaan. Harry semakin baik-baik saja.

Tidak begitu saja baik-baik saja, tentu saja.

Tapi mereka mengarah ke sana.

Mobil sewaan hari ini memiliki audio yang cukup baik. Setelah tiga puluh menit perjalanan Harry meminta supir mereka menyalakan radio, mencari saluran radio yang memutar lagu tua.

Beruntung menemukan sebuah stasiun yang memutarkan satu menit terakhir 'Stayin Alive'. Hermione harus menutup telinganya ketika Harry berusaha mencapai falsetto.

Harry terkekeh seperti maniak.

Hidup terlihat baik-baik saja.

Harry masih memandang cermin terlalu lama terkadang. Tapi ia baik-baik saja.

.

.

.

Sebuah kereta kuda terhenti lajunya. Pandangan pria berambut platina menajam. Ia menepuk jemari gadis yang kini tertidur di pundaknya. Nona muda aristokrat cantik dengan mata cokelat lembayung, menatap ke arah pemuda itu, "Kenapa kita berhenti?" Ada kantuk dalam suaranya.

Pemuda itu tak menjawab. Hanya menggunakan telunjuknya untuk berisyarat agar sang gadis diam dan tenang.

Ia membuka pintu kereta kuda itu perlahan.

"CUT!" Draco mengedipkan matanya. Kru penata cahaya menyingkirkan cermin cahaya di depan pintu kereta kuda dan penata rias berdatangan mendekati Draco.

"It's nice, gentleman..." seorang lelaki paruh baya dengan hidung bengkok dan topi berburu ala Sherlock Holmes berteriak. "Persiapkan Scene 78!" Draco meminta Blaise mendekat. Pemuda itu mengerti maksudnya dan membawakan script ke dekat Draco. Draco sudah menghapal naskahnya tentu saja. Menjiwainya bisa dibilang.

Tapi ia selalu membaca ulang dengan scanning sekedar memastikan ia benar-benar tidak melewatkan satupun kalimat. Draco tentu baik dalam improvisasi, tapi ketika ada naskah yang dipegangnya, yang menjadi tanggung jawab untuk ia perankan. Naskah menjadi kitab suci yang mengamankan jiwa yang ia perankan.

"Aku punya berita baik." Draco berhenti men-scanning naskah di tangannya.

Lalu mereka terdiam beberapa detik. "Biasanya ketika orang mengatakan itu mereka juga membawa berita buruk."

"Well, aku tidak yakin apa ini buruk atau tidak. Kau yang putuskan."

Draco melihat sekelilingnya, para kru mulai menyiapkan lighting dan perlengkapan audio juga beberapa stuntman untuk adegan perkelahian yang akan menjadi adegan berikutnya. Draco berpikir ia punya sekitar sepuluh menit sebelum semua persiapan selesai.

"Oke..." Draco mengembalikan naskahnya pada penata make up yang merapikan sedikit bedak di pipinya. "Aku mendengarkan."

"Albummu ada di urutan pertama i-tunes..." Draco membulat iris matanya, membelalak tidak percaya.

"Kau! Bercanda kan?" ujarnya sambil menunjuk Blaise tepat di depan hidungnya. Blaise menggeleng dan Draco tertawa. Tawa lepas yang tidak pernah dilihat siapapun sebelumnya. Semua orang di lokasi syuting di pinggir hutan itu menghentikan kegiatan mereka untuk beberapa detik paling berharga. Mendengarkan Draco Malfoy yang hanya memunculkan senyum tampan atau ekspresi ala pangeran es jika tidak sedang berakting tentu saja sesuatu yang sangat luar biasa.

"This is great!" Draco bertepuk tangan untuk dirinya sendiri dan berusaha mengatur nafasnya. Melihat sekeliling dan tidak peduli dengan tatapan heran yang ditujukan padanya. "Baiklah, aku tidak tahu berita apa yang kau miliki berikutnya. Aku rasa itu tidak akan cukup buruk untuk menghancurkan mood-ku..." senyum lebar Malfoy belum reda. Dan beberapa gadis berbisik terpesona.

Blaise mulai tidak nyaman mendapatkan peran sebagai penyampai pesan. Ia bahagia tentu saja dengan pencapaian bosnya ini, tapi berita berikutnya. Entahlah. Ia berharap Draco benar bahwa berita ini tidak akan merusak suasana hatinya. Jika tidak adegan berikutnya, ketika Draco harus membunuh salah satu penyerangnya.

Draco mungkin benar-benar membunuhnya.

"Jadi... Kau dengar soal mini series tiga episode tentang Guy Fawkes versi abad 21 yang sedang syuting?"

"Ya." Draco menarik nafas. Ini tidak bagus. Draco tahu Harry mendapatkan salah satu peran dalam drama series itu. Jadi ini pasti berkaitan dengan Harry. Dan bahkan tanpa satu orang pun menyebut nama pemuda itu di hadapan Draco. Draco merasakan beban berat di dadanya. Setengah kerinduan yang tak bisa ia ekspresikan dan setengah penyesalan yang tak bisa ia tebuskan.

Blaise melihat perubahan raut wajah Draco dalam sekejap dan berpikir untuk berhenti bicara saat itu juga. Draco tersenyum, senyum palsu yang berkata ia baik-baik saja setiap kali ada yang memulai pembicaraan soal Harry Potter.

Blaise tahu di luar sana bahwa Draco terlihat seperti ialah yang membuang Harry. Dan, oke, fairly enough itu yang Draco lakukan. Draco tak menghubungi Harry dan ketika Harry datang pada Draco sekali waktu itu dengan bantuan Blaise, Draco tak mengatakan apa-apa.

Bagaimana Blaise tahu itu ketika Blaise bahkan tidak ada di ruangan ketika Draco dan Harry bicara? Tentu Blaise tidak menguping lewat interkom atau menonton lewat cctv, percayalah, Blaise dibayar untuk mengurus segala keperluan pribadi dan pekerjaan Draco Malfoy, ia punya lebih banyak kegiatan untuk dilakukan dibandingkan hal itu.

Jadi bagaimana Blaise tahu bahwa Draco terlalu pengecut untuk sekedar mengatakan sesuatu?

Because he found Draco F*cking Malfoy crying.

Blaise melihat Harry keluar ruangan dengan wajah dingin. Dan hanya mengucapkan basa-basi sebelum kemudian pergi menuju lift.

Jadi, Balise tahu bahwa pertemuan keduanya tidak berjalan baik, dan Blaise meskipun tidak secara langsung bisa kita anggap sebagai teman dari keduanya tetap merasa bersalah. Kau tahu, seperti ketika Kau pikir kau bisa mencomblangkan kedua temanmu namun pada akhirnya tidak berjalan baik. Yah, Blaise masuk ke ruang rapat dimana Draco masih berdiri terdiam dan bersandar pada tepian meja dengan perasaan seperti itu.

Dan Draco hanya berkata satu kalimat pada Blaise, "I couldn't even say proper goodbye to him." Lalu Draco perlahan membungkuk tubuhnya, lalu duduk berjongkok. Dan menangis selama setengah jam lamanya.

Dan Blaise hanya bisa berdiri diam di sana.

Draco tidak pernah terlihat lemah sebelumnya. Draco selalu menjadi si bocah kaya sombong yang bisa melakukan apa saja semaunya menggunakan kekuatan ayahnya, ia kemudian tumbuh menjadi selebritis dengan telenta luar biasa namun sepaket dengan tingkah yang juga luar biasa menyebalkannya.

"Cedric Diggory menerima peran sebagai pemimpin kepolisian -dan sekedar spoiler itu bukan peran penting, ia mati setelah ada dua menit pertama episode 2- tapi... Mereka akan bermain bersama. Dan Harry sudah menandatangani kontrak ia tidak mungkin mundur dari proses syuting saat ini." Draco menatap dingin ke arah Blaise.

Oke. Sekarang Cedric Diggory. Bagaimana Draco menjelaskannya tapi ia merasa bahwa pemuda itu meskipun berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa ia tidak pernah tertarik pada Harry, ia jelas-jelas berusaha membuntuti karir Harry.

"Aku tidak bisa melakukan sesuatu soal itu. Kau tahu." Blaise mengangguk. "Aku tidak peduli." Draco berpaling dari pandangan yang ia bagi dengan Blaise sedetik lalu. Fokus untuk merapikan pakaian tunik ala renaissance.

"Aku hanya berpikir Kau perlu tahu. Maksudmu memang kemungkinannya kecil Cedric akan kembali bersama Harry... dan juga, aku tahu kau mungkin tidak peduli. Tapi..." Blaise tampak memikirkan sesuatu, rangkaian kalimat yang tepat untuk Draco. "Lupakan." Ujarnya pada akhirnya.

Draco menatap Blaise sekilas, "Ya. Lupakan..."

"Okay. Gentleman, get ready for scene 78!" Blaise mengambil kembali naskah Draco dan berlari ketempat para kru terlihat sibuk. Ia memperhatikan Draco yang sekali lagi diinspeksi tata riasnya.

Para stuntman bersiap di posisi mereka. Untuk sesaat Draco menutup mata, Blaise melihat kegelisahan di sudut matanya. Ia tahu seharusnya tidak membicarakan Harry di lokasi syuting. Tapi ia tidak bisa menahan dirinya.

Blaise sedikit banyak merasa bersalah dengan ketidakmulusan ini. Entahlah, meskipun Draco Malfoy adalah bosnya dan semua orang tahu seburuk apa terkadang sikap Draco padanya. Draco tetap, bisa dibilang, salah satu teman Blaise. Dan Harry tidak buruk, ya, bahwa terkadang pemuda itu terlalu naif dan emosional. Tapi ia orang baik juga aktor yang mumpuni, Blaise menyukai beberapa filmnya. Dan untuk beberapa kesempatan ia sempat berbicara secara pribadi dengan Harry, Harry cukup menyenangkan.

Tentu yang terpenting adalah ia tidak pernah melihat Draco sebahagia ketika bersama Harry sebelumnya.

Itu alasan utamanya.

Entah kenapa ia merasa punya tanggung jawab untuk membuat Draco melakukan sesuatu.

Ia ingin membuat sekali pertemuan lagi.

Ia ingin mereka bicara. Jika, setelah itu menurut keduanya mereka tidak bisa diperjuangkan Blaise akan berhenti ikut campur.

"Cut!" ada nada frustasi di ujung teriakan sutradara film ini. "Mr. Malfoy, jangan menatap ke langit! Tatap ke depan, pastikan matamu fokus! Mengerti? Kau akan menghadapi musuh!"

Take ulang? Pikir Blaise. Sial, dia benar-benar tidak seharusnya mengatakan soal Harry ini pada Draco.

"Bisa minta waktu sebentar?!" semua kru memandang Draco heran. Ia mungkin seperti bertanya dan meminta izin pada sutradara mereka namun ia begitu saja berlari ke arah Blaise.

Ketika cukup dekat pada Blaise, dengan setengah berbisik Draco berkata, "Mereka menawariku untuk mengisi soundtrack drama seri itu, iya kan?"

"Dan kau sudah menolaknya dengan alasan kau sibuk dengan promosi albummu yang setengah benar. Tapi setengah kebenarannya lagi karena..."

"Harry ada di sana." Draco memotong kalimat Balise. "Bisa kau hubungi mereka lagi?" Draco terdengar memohon kini.

Blaise mengernyit.

"Mr. Malfoy?!" asisten sutradara mereka mendekat.

"Dua menit! Oke?" Draco berbalik sekilas dan menjawab dengan sedikit membentak.

"Aku akan bicara dengannya kali ini." ujarnya begitu ia kembali beradu tatap dengan Blaise. "Aku butuh satu kesempatan ini."

"Kau tidak akan perlu datang ke tempat syuting jika hanya mengisi soundtrack. Kau tahu itu kan?"

Draco menggeleng, "Tapi setidaknya aku punya alasan sebagai seseorang yang berada di tim yang sama. Please Blaise... Just this one!" Blaise meneguk ludah lalu mengangguk.

Dan Draco tidak sumringah, ia hanya sedikit menyeringai sebelum kembali berbalik ke posisi dimana ia seharusnya berada.

"Kau baik-baik saja Malfoy?" sutradara mereka bertanya sinis. Draco mengangguk elegan, khas bangsawan. Mengabaikan kekesalan sutradaranya. Kembali memasuki kereta kudanya.

"Oke! Semua siap. Scene 78 take 2...Camera rolling? Action!"

Dan setelah itu Draco melakukan semua adegannya tanpa take ulang.

.

.

.

"You know I didn't care about that!" satu hal yang Harry benci dari ibunya adalah ketika ibunya mulai terlalu khawatir tentang dirinya dan kekhawatirannya justru menimbulkan perdebatan panjang dengan Harry.

"Kau berkata begitu sekarang... dengar Harry... mereka masih bisa mencari orang lain kan? Bagaimana bisa kau bekerja dengan si busuk Diggory itu dan Malfoy lagi nak?" suara ibunya terdengar parau.

Tanyakan pada Harry apa yang lebih ia benci daripada berdebat dengan ibunya?

Yap. Berdebat dengan ibunya lewat sambungan telepon.

Berkilah jadi jauh lebih mudah tentu saja. Ibunya pembaca ekspresi yang baik, terima kasih pada latihan aktingnya yang termasuk di dalamnya mengobservasi siapapun di hadapannya. Ketika di telepon tentu saja Lily Evans-Potter tidak bisa melakukannya. Tapi katakanlah intuisi keibuannya lebih besar dibandingkan para ibu rata-rata. Atau omong kosong semacam itu. Tapi Harry tahu ia tidak bisa menghindar dari pertanyaan berikutnya.

"Kau masih mencintai that Draco kid, right?" suaranya halus, ada perasaan iba dan haru. Ibunya pernah mengisi suara untuk beberapa tokoh animasi, tapi Harry tidak pernah tahu ibunya bias memainkan beragam emosi lewat sepotong kalimat macam begini.

"I don't know..." Harry membenci jawabannya yang terdengar inadequate... tidak kata-katanya. Tidak nadanya.

Ia ingin kembali ke ranjangnya dan menyembunyikan diri di balik selimut jika saja ia tidak sedang di lokasi pemotretan saat ini.

Syuting drama seri itu akan dimulai lagi besok. Harry sudah mempersiapkan diri. Ia melatih wajahnya di depan cermin kamar mandi berjam-jam. Berusaha mengatur ekspresi senyumnya untuk tetap terlihat profesional ketika bertemu Cedric nantinya.

Atau Draco, jika ia sedang sial.

"Mr. Potter!" gadis sekretaris pribadi sang fotografer memanggilnya. Masih dengan pensil di telinganya. Membuatnya lebih terlihat seperti pencatat resep dibandingkan sekretaris salah satu fotografer paling memukau di London. "You're up in five minutes!"

Harry mengacungkan jempolnya sebagai isyarat bahwa ia siap. "Ok. Sorry Mum... Kau tahu, pekerjaan. Yap... I love you too... Goodbye." Harry mematikan telepon genggamnya dan memberikannya pada Hermione. Mengikuti langkah sekretaris tadi menuju ke ruang pemotretan.

Fotografernya mengajaknya bicara, basa-basi sekali lagi tentang apa konsep pemotretan hari ini.

Harry sudah membaca deskripsi konsepnya di dalam kontrak. Tapi menyenangkan mendengarkan mereka yang punya passion tentang hal tersebut membicarakannya. Jadi Harry mendengarkan.

Harry tidak pernah merasa dirinya sebagai pendengar yang baik. Tapi ia selalu berusaha.

Ia tahu Hermione memperhatikannya sekilas tadi dengan wajah khawatir, mungkin semakin lama semakin mirip dengan ekspresi ibunya.

Dua menit sebelum mulai Harry mendekati Hermione lagi. Meminta air mineralnya dengan isyarat tangan. Setelah beberapa teguk Harry bicara, "Aku memberimu libur, ingat? Kau tidak perlu mengantarku sampai apartemen malam ini."

"Ini pekerjaanku. Ron akan mengerti."

"Dan aku temannya Ron, aku yang tidak mengerti bagaimana bisa ia mengerti?"

Hermione mendesah, "Ini hanya makan malam biasa—" Harry memberi Hermione senyuman serba tahunya. Lalu menggeleng.

"Ia membooking sebuah meja di restoran dengan tiga bintang Michelin. Mengundangmu sejak tiga hari yang lalu, itu artinya ia sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Aku berbicara dengan Mrs. Weasley kemarin dan ia membicarakan soal mawar apa yang cocok untukmu. Tidak, ini bukan sesuatu yang biasa jika sejauh ini yang kudengar dari kencan kalian adalah pergi ke bioskop atau restoran cepat saji." Harry memberi Hermione deadpan andalannya.

"Tapi ia bilang tidak apa-apa. Aku bertanya apa ada sesuatu yang spesial dan ia jawab ti—"

"Karena ia mau memberimu kejutan, oke?"

"Aku bisa menangani ini. Pemotretanmu selesai jam enam, aku mengantarmu dan masih punya waktu sekitar dua puluh menit sebelum ia menjemputku jam delapan malam."

"Dan kau tidak akan punya waktu untuk memilih gaun jadi kau akan memakai gaun terakhir yang kau pakai. Kau perlu berdandan, 'Mione..." Hermione menunjuk wajahnya dan memperlihatkan tata riasnya.

"Bukan untuk bekerja."

"Mereka menunggumu..." Hermione menunjuk sekretaris fotografer tadi yang sudah berada di belakang mereka. Tampaknya waktu dua menit Harry habis.

"Shit!"

"Language, Harry!"

"Tapi ia menanyakan pendapatku soal cincin, oke?!" Harry tiba-tiba saja menyemprotkan kata-kata itu. Hermione membulat matanya. Menutup mulutnya. "Shit! Tolong jangan katakan apapun pada Ron soal aku mengatakan kalimat barusan. Tapi sungguh! Pergilah! Aku akan baik-baik saja..."

Hermione menatap Harry selama beberapa detik. "Oke. Mereka menunggumu!" Hermione menunjuk lagi. Harry kemudian pergi dan berlari kecil menempati posisi di hadapan kamera. Sekilas ia melihat Hermione yang terburu-buru keluar ruangan. Perfect, pikirnya. Dan tersenyum lebih lebar dari yang diinginkan fotografernya.

.

.

.

Harry merapatkan jaketnya begitu ia sampai di lokasi syuting hari ini. Hermione tidak mengantarnya. Tapi Ron mengirimkan mobil pribadi dan supirnya untuk menggantikan mobil sewaan yang lupa Hermione ingatkan untuk datang pagi ini. Sepertinya, Hermione akhirnya mengambil jatah cutinya dan akan menghabiskan liburannya dengan Ronald Weasley di rumahnya.

Ron mengirimkan foto jemari lentik Hermione kini yang dihiasi cincin dengan berlian putih kecil pemberiannya.

Jadi, Harry membalasnya dengan, "I bet you have your best sex last night". Dan mencari emoji dengan senyum paling mesum yang bisa ia temukan.

"Kau terlihat baik-baik saja untuk ukuran seseorang yang baru saja patah hati?" Oh great! Pikir Harry, Cedric Diggory menjadi orang pertama yang menyapanya di lokasi syuting sama sekali bukan sesuatu yang membangkitkan mood.

"Aku bukan remaja lima belas tahun lagi, Cedric... Hidup bukan lagi soal drama" setelah pertemuan terakhir tak terduga mereka di acara kuis beberapa waktu lalu Harry sudah merasa lebih baik soal interaksi dengan makhluk satu ini.

Kau tahu, Harry semacam mendapat tamparan dari kenyataan bahwa yang kau butuhkan adalah menghadapi sumber ketakutanmu dan hal itu kemudian dengan sendirinya berubah menjadi tidak begitu menakutkan.

Saat ini melihat wajah Cedric hanya membuat Harry sedikit merasa kesal. Seperti bertemu musuh lama, atau dengan seseorang yang memotong antrian panjang atau mereka yang membully-mu secara online. Tidak lagi seperti melihat hantu masa lalu yang begitu ingin kau lupakan tapi di sisi lain masih ingin kau pegang erat-erat kenangan manis tentangnya.

Mungkin Harry menjadi lebih dewasa.

Atau mungkin Harry punya hantu masa lalu baru untuk dipikirkan.

Mungkin juga keduanya.

"Jadi... Kau mengakui kau baru saja patah hati?" Cedric tersenyum sambil berjalan semakin dekat ke arah Harry.

Hingga tinggal tersisa spasi dua langkah yang memisahkan keduanya, Harry baru menjawab, "Yah.. Kau tahu aku, aku tidak pernah menjadi pihak yang membantah soal kebenaran. Aku bukan mereka yang mencium seseorang lalu berkata pada media itu hanya sebuah taruhan."

"Ouch!" Cedric terlihat tidak nyaman dengan jawaban Harry dan menutupinya dengan kekehan canggungnya, "Slow down Harry... I'm not coming for a fight..."

"Aku tidak yakin soal itu. Terakhir kali kita bertemu aku memintamu sejauh mungkin untuk pergi dan tidak pernah melibatkan diri denganku lagi." Harry bukan expert dalam masalah delik mendelik. Tapi akhir-akhir ini ia semakin jago dalam melakukannya, terutama pada para pewawancara yang berusaha mengorek lebih jauh soal hubungannya dengan Draco. Beberapa sumber berita online mengkritisi perubahan image Harry dari sweetheart boy menjadi si sinis yang pandai mendelik.

Tapi Harry dapat banyak dukungan dari fansnya. Berkata bahwa sudah saatnya Harry terlihat lebih real dalam penciptaan citra publiknya. Dan itu adalah sesuatu yang manusiawi ketika seseorang terus menerus berusaha membahas apa yang tidak ingin dibahas. Harry merasa tidak nyaman, dan sekedar delikan bahkan tidak cukup jahat sebenarnya.

"Hei... Aku bilang padamu waktu itu, ketika kita bertemu di kuis itu bahwa aku ingin kita berteman. Seperti sebelumnya..." Harry sudah akan memotong kalimat Cedric tapi Cedric tetap melanjutkan kata-katanya. "Aku tahu, apa yang terjadi sepuluh tahun lalu luar biasa menyakitkan untukmu dan tentu bukan hal yang mudah untuk memaafkan asshole sepertiku. Aku tidak meminta secara paksa maaf darimu, kau bisa memaafkanku kapan saja kau merasa siap untuk hal itu, aku tidak memintamu mengerti posisiku sepuluh tahun lalu, karena aku tahu posisimu selalu lebih buruk dan sampai beberapa bulan lalu aku masih tidak peduli soal itu. Tapi aku pikir, bukan sesuatu yang buruk untuk terlihat berdamai di depan kamera, setidaknya... Dan karena jujur saja, kau teman yang menyenangkan Harry..." Cedric berhenti sesaat.

Seperti menunggu Harry mengisi kekosongan dalam percakapan ini.

Tapi Harry diam, sudah tidak berminat untuk mengeluarkan kata-katanya lagi.

"Oke... Aku tidak mengharapkan apa-apa. Maksudku, selain kita bisa berteman." Cedric melanjutkan.

"Aku rasa aku tidak bisa." Akhirnya Harry bersuara.

Cedric memberanikan diri menatap wajah Harry, setelah menundukkan pandangannya sepanjang kalimat panjang yang ia katakan tadi. Ia meihat ekspresi dingin yang kini sering Harry tampilkan di depan kamera tanpa sadar.

"Ya. Aku tahu. Tapi setidaknya aku mencobanya, kurasa."

Harry mendesah, "Kenapa sekarang?"

Cedric mengernyit, Harry menjelaskan lebih lanjut. "Kenapa sekarang meminta maaf? Kenapa sekarang sadar bahwa kau si brengsek yang menghancurkan hidup orang lain? Ke mana kesadaran itu selama sepuluh tahun ini?" nada bicara Harry mulai naik. Beberapa kru yang sedari tadi lewat begitu saja dan mondar-mandir jadi sedikit mencuri-curi dengar.

Harry seperti biasa tidak peduli.

Tapi Cedric perduli jadi kalimat berikutnya yang ia keluarkan setengah berbisik, "Karena aku melihat video Draco yang menciummu." ujarnya datar. Harry yang dibuat bingung oleh jawaban Cedric menyatu alisnya. "Selama sepuluh tahun aku meyakinkan diriku bahwa perasaanku padamu hanya sekedar aku yang terbawa situasi. Hanya sekedar perasaan sesaat dan tidak berarti apa-apa." Harry makin dalam kerutannya. Ia bisa memprediksi ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Dan ia tidak suka arah pembicaraan itu.

"Berhenti di situ." Jadi Harry mundur beberapa langkah dari bisikan Cedric. Jadi Harry mundur beberapa langkah sebelum tanpa sadar ia terjebak lagi.

"Oke." Cedric tersenyum dengan luka. Atau sesuatu yang lain. Entahlah. Seperti kerinduan atau semacamnya.

"Kau masih bersama Cho selama bertahun-tahun pasti karena suatu alasan." Harry akhirnya bicara. "Don't ruin that!"

"Bagaimana jika hubungan itu yang menghancurkanku...?" Cedric maju lagi beberapa langkah. Berdiri lebih dekat dari sebelumnya ketika Harry belum mundur dari dirinya. Nyaris seperti menjebak Harry dan dinding ruangan.

Harry meneguk ludah dan memberanikan diri untuk menatap Cedric, "Itu... mungkin karena kau tidak pernah tahu cara menghargai sesuatu yang kau miliki."

Harry melihat sutradara mereka lewat dan buru-buru memanggilnya dengan kencang. Seakan mencari jalan keluar dari deadlock kali ini dengan Cedric. "Mr. Leadger!" sedetik Cedric teralihkan fokusnya, Harry buru-buru meloloskan diri dari posisi awkward barusan dan menyelamatkan dirinya dari tuduhan mencuri kekasih orang lain, lagi. Kau tahu, jika ada paparazziyang melihat mereka, dan punya foto mereka di posisi tadi. Harry akan berubah dari pihak yang diberi simpati menjadi pihak yang dicacimaki dalam beberapa detik. Percayalah, Harry benar-benar belajar dari pengalamannya.

Ia mengeluarkan nafas lega, karena ia melihat Cedric menyerah untuk saat ini dan pergi ke arah lain.

"Mr. Potter, you earlier than you should be..." sutradara mereka adalah anak muda berbakat yang ditemukan youtube lima tahun lalu membuat film dokumentasi tentang kehidupan para pelacur di sudut kota London dengan modal kamera digital ibunya, aplikasi gratis di komputernya dan kreatifitas. Setahun kemudian ia ada di festival film London berdiri di podium dengan piala untuk film dokumentasi lainnya. Ia memulai membuat film fiksi setengah tahun kemudian, mendapat kritikan pedas. Dan ia baru mencoba lagi dua tahun kemudian, mengangkat cerita dari novel pop remaja yang menjadi buah bibir tahun itu tentang remaja lelaki transgender yang tidak sengaja dihamili sahabat lelakinya. Yang tentu dicintainya diam-diam selama tujuh belas tahun hidupnya. Film yang mengharukan dan berani untuk mengangkat sesuatu yang tak berani diangkat sebelumnya.

Mereka bersalaman sebelum Harry menjawab, "Aku bersemangat untuk adegan pernikahanku..." Harry tertawa.

"Kau tahu akan ada setidaknya dua puluh orang yang mati di adegan itu kan?" di wajah muda pemuda itu ada kesan humor yang salah, maksudku, kau tidak menertawakan kematian. Tapi Harry punya selera humor yang sama jadi ia membalasnya dengan kekehan.

"Well, itu bagian hebatnya..."

Mereka menghabiskan beberapa menit berjalan sambil membicarakan beberapa adegan yang akan diambil hari ini. Sampai pemuda yang mungkin lebih muda setahun dua tahun terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri. Jadi Harry yang menembaknya dengan pertanyaan.

"Kau ingin membicarakan sesuatu, Mr. Leadger?"

Pemuda itu tersenyum canggung. Ada kerutan ragu di dahinya, "Kau tahu, kita tak butuh promosi berlebihan dengan fanservice kan?" lalu dengan cepat menambahkan, "Ngomong-ngomong kau bisa memanggilku Ryan, tidak perlu terlalu formal."

Harry terkekeh kecil, "Maksudmu Cedric dan aku?"

Pemuda itu memainkan gesture di tangannya, terlihat tak nyaman untuk menjawab.

Harry memamerkan kekehan menyebalkannya selama beberapa saat, merasa lucu ketika orang-orang berpikir masih ada sesuatu antara ia dan Cedric. "Dengar... I'm like 25 this year... after this my body's gonna quit, you know... like my metabolism gonna like 'I'm gonna take a vacation, see you when it's time to die'... you know what I mean?"

Mr. Leadger tertawa cukup kencang dan seakan keluar dari mulut seseorang yang bukan peraih nominasi festival film ternama.

"I got the point" setelah tawanya mereda. Ia merapikan sweater abu kesayangannya yang rasanya hampir ia gunakan setiap hari di lokasi syuting, atau pemuda ini punya lebih dari selusin sweater yang sama di lemarinya. Entahlah. "Kau ingin fokus pada karirmu."

"Jadi... tentu bukan keputusan yang bagus untuk seseorang yang berusaha membuat talentanya dilihat menggunakan hantu masa lalu sebagai bahan popularitas. "Mr. Leadger mengangguk-angguk.

Keduanya terdiam sebentar di depan ruang make up sebelum pintu membuka dan seorang gadis berkacamata tebal muncul dengan wajah panik. "There you are, Mr. Potter... you up in 20 minutes! Come on!"

Harry tertawa, mengangguk sekilas pada sutradaranya dan mengikuti wanita itu memasuki ruangan yang disambut dengan nafas lega seluruh kru penata rias. Harry dan selera humor buruknya merasa lucu untuk bekomentar, "Calm down, Beyonce!" yang kemudian dibalas death glare dari setidaknya tiga kru. Jadi Harry buru-buru meminta maaf setengah hati, "Ok, sorry 'bout that..."

Harry membiarkan dirinya di dudukan di depan cermin besar yang diterangi lampu-lampu keemasan di pinggirannya. Harry menatap matanya dan masih melihat luka.

Tapi ia bisa mengelabui semuanya.

Jika harus, ia akan mengelabui dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, ia percaya bahwa dirinya baik-baik saja.

You know, fake it 'till you make it.

.

.

.

Harry bukan seseorang yang memeriksa kotak posnya atau emailnya setiap hari. Tapi setelah sepanjang hari (dan malam) proses syuting yang melelahkan dan sampai di apartemennya hampir jam dua dini hari. Harry sudah melewatkan jam biologisnya dan ia tahu ia tidak akan tertidur sampai jam lima pagi. Dan ia harus kembali ke lokasi syuting jam sebelas siang. Jadi, ia pikir daripada menghabiskan waktu melamunkan sesuatu yang kemudian membuatnya menangis dan tidak bsia tidur sama sekali pada akhirnya.

Ia menghampiri box pos di apartemennya dan mengecek surat masuk. Mendapati ada lima surat tagihan, bertumpuk-tumpuk surat penggemar (yang entah bagaimana mengetahui alamatnya), dan beberapa paket hadiah (yang Harry duga juga dari penggemar yang entah bagaimana bisa mengetahui alamat aslinya).

See...? Harry tahu bahwa apartemennya, terutama sejak kejadian Draco, muncul beberapa kali di televisi. Tapi ia tidak pernah mendengar mereka menyebutkan alamat tepat apartemennya. Jadi, Harry (sebagai seorang introvert) berharap orang-orang tidak cukup jeli dan menemukan alamat aslinya. Dan sekali lagi, Harry tidak mengerti bagaimana pada kru infotaiment itu mengetahui alamatnya. Agensinya tentu saja adalah kemungkinan paling masuk akal.

Dan sekali lagi, setelah ini Harry berpikir untuk pindah. Tapi ia terlanjur nyaman dengan lingkungan di sekitar sini, dan tentu saja induk semang terbaik yang bisa diharapkannya ketika ia sedang mood untuk mendapat makanan gratis.

Tapi, sekali lagi, Harry merasa butuh lingkungan yang lebih tenang. Dan tabungannya juga cukup untuk membeli sebuah rumah mewah di kawasan yang lebih privat. Tapi sebelum itu ada baiknya ia berpikir untuk membeli kendaraan terlebih dahulu dan menghire seorang supir agar Hermione berhenti kelabakan setiap kali gadis itu lupa memanggilkan mobil sewaan untuk Harry. Sejujurnya, Harry bisa membeli dan mempekerjakan beberapa orang supir dengan bayaran yang ia dapat sekarang. Harry hanya terlalu malas untuk menambah orang yang berurusan dengannya on daily basis. Satu Hermione sudah cukup untuk membuat kepalanya pusing setiap kali gadis itu mengingatkan jadwal Harry yang mudah sekali pemuda itu lupakan.

I'm gonna be thinking about that later...

Harry memasuki kamar mandinya dan membersihkan diri. Tidak begitu lama. Mencari snack dini hari dan memutuskan untuk mengiris persediaan kejunya lalu mengambil cracker gandum kesukaannya. Duduk di depan televisi ia memilih segelas susu untuk menemani acara makan malam yang terlambat beberapa jam dari seharusnya ini. Harry menyalakan tv dan menemukan beberapa acara talkshow yang disiarkan ulang. Ia berhenti di saluranyang sedang membicarakan soal AIDS dan bahaya seks bebas yang cenderung dilakukan kaum gay.

Lalu secara autopilot tangannya membuka satu persatu surat yang ia lempar asal di meja kaca di depan televisinya.

Harry sedang membuka sebuah amplop besar yang ia kira berisi surat tagihan lainnya, kau tahu, dengan pekerjaan tidak tetap, pajak yang kau bayarkan pun jadi bisa datang dari berbagai hal? Entahlah, Harry akan menyerahkan surat-surat ini pada Hermione di pagi hari lagipula, membiarkan gadis itu yang berurusan dengan hal-hal membosankan ini. Tapi amplop besar itu berisi hal lain.

Di dalamnya ada piringan hitam. Bersampul cokelat dengan tinta keemasan pada kemasannya. Harry tidak merasa memesannya jadi ia yakin itu berasal dari fansnya. Yang, thank god! Seseorang akhirnya mengerti bahwa Harry adalah lelaki klasik yang menyukai musik lewat gramophone.

Tidak ada nama pengirimnya. Tidak ada pesan di dalamnya. Harry punya rasa ingin tahu yang tinggi, jadi ia mematikan televisinya. Menghampiri pemutar vinylnya dan memasangkan piringan hitam itu.

Suara pertama yang keluar adalah riff gitar yang merdu. Lalu berhenti. Harry mendengar suara nafas. Dan ia langsung mengenalinya.

Draco?

Lalu riff gitar yang sama dimulai lagi, kali ini terdengar lebih yakin dan ditemani suara desau angin atau entahlah, Harry bukan pakar soal alat musik. Harry langsung merasakan kesenduan.

Lalu suara Draco yang Harry kenal betul dalam banyak bentuk. Mengerikan dalam waktu singkat kau tanpa sadar mengetahui setiap detail kecil mengenai seseorang. Tapi kemudian merasa tak mengenali sikapnya sama sekali ketika ia memutuskan pergi.

Harry berusaha fokus pada kata-kata Draco... menahan air mata yang ia janji tak akan ia tumpahkan lagi untuk pemuda itu.

So long to all my friends

Everyone of them met tragic ends

With every passing day

I'd be lying if I didn't say

That I miss them all tonight

And if they only knew what I would say

Ada urgensi yang lebih pada akhir kalimat berikutnya, namun Harry tahu ini belum puncak emosi yang coba disampaikan. Musik orkestra menambah semarak kesenduan.

If I could be with you tonight

I would sing you to sleep

Never let them take the light behind your eyes

One day I'll lose this fight

As we fade in the dark

Just remember you will always burn as bright

Harry mendengar suara biola masuk, mengalun indah bersamaan dengan suara Draco yang melantunkan verse kedua dengan lebih emosional.

Be strong and hold my hand

Time—it comes for us, you'll understand

We'll say goodbye today

And I'm sorry how it ends this way

Ada perpotongan, setelah ini chorus berulang. Tapi sebelum itu Draco berusaha mengantarkannya dengan urgensi emosi yang sama. Dengan kepekatan kesedihan yang sama. Ada kekecewaan di sana. Namun ada harapan. Sesuatu pada kalimat sebelum chorus ini yang berusaha Draco sampaikan.

If you promise not to cry

Then I'll tell you just what I would say

Lalu chorus berulang lebih tajam dari yang sebelumnya. Lebih mengandung emosi dan ada crack di suara Draco. Pada chorus berikutnya.

If I could be with you tonight

I would sing you to sleep

Never let them take the light behind your eyes

I'll fail and lose this fight

Never fade in the dark

Just remember you will always burn as bright

Diiringi full orkestra, musik pada chorus yang kedua terasa lebih kaya.

Lalu Draco mengulang kalimat.

The light behind your eyes

Harry merasa tersedak oleh emosi ketika mendengar perpecahan suara Draco pada pengulangan berikutnya.

The light behind your

Draco seperti berteriak. Seperti memanggil. Seperti menjerit. Tapi ia menahannya, mengantarkan emosinya secara hati-hati dengan dinamika pada bridge berikutnya.

Sometimes we must grow stronger and

You can be stronger when I'm gone

When I'm here, no longer

You must be stronger and

Lalu chorus berulang.

Harry berkelakar dalam kepalanya, membayangkan Draco ada di hadapannya dan menyanyi untuknya.

Ia menutup matanya ketika musik kembali hanya pada riff gitar seperti di awal.

Dengan suara Draco yang mengulang sepenggal kalimat.

The light behind your eyes

Harry mengingat Draco yang bercerita ketika pertama kali menciumnya, itu karena ia tersihir. Melihat sesuatu di mata Harry. Para kru radio yang mewawancarai mereka saat itu ber-awww ria. Harry berusaha menunduk sedalam-dalamnya untuk menyembunyikan semu mereah. Karena ia lelaki dewasa yang tidak seharusnya termakan rayuan payah semacam itu.

The light behind your eyes

Harry mengingat satu titik di hari mereka berparade, bermesraan di sekitar London. Draco menatap matanya setiap kali menciumnya. Itu Harry dimana sesuatu di kepala Harry seperti berputar pada satu poros kesimpulan. Lewat tatapan Draco padanya. Harry tahu lelaki itu benar-benar jatuh cinta padanya. And that's basically, just f*cked up.

The light behind your eyes

Malam setelah mereka pertama kali melakukannya. Harry ingat setelah euforia orgasme mereka memudar. Draco memeluknya, untuk sesaat mereka beperlukan di lantai. Di tumpukan baju mereka. Draco mencium keningnya, mengelus lembut pelipis Harry. sinar keabuannya nampak lebih hidup dari yang pernah Harry lihat selama ini. Draco seperti awan mega sebelum hujan, gelap, namun berkilap. Ada kilatan bahagia itu yang Harry coba hindari, coba tak ia biarkan dirinya terhipnotis.

Tapi Draco di sana.

Ada hangat tubuhnya.

Ia diam, tapi tatapannya membiacarakan semua yang perlu dibicarakan. Bahkan hal-hal yang tak pernah berani mereka utarakan.

Harry mengingat sepenggal kalimat Draco padanya, "This moment..." just that. Tapi Harry buru-buru memaksakan dirinya untuk bangun dan terlepas. Karena jiak tidak. Ia tahu ia akan terjebak selamanya dalam satu momen itu.

The light behind your eyes

Piringan hitam itu tak berisi apa-apa lagi.

Kecuali sekeping lagu, yang meluluhlantahkan kepingan hati Harry.

Lagi.

.

.

.

Dering ponsel adalah dilema tersendiri bagi manusia, Draco pikir. Ia merasa bersalah ketika memasukkannya pada mode silent dan melewatkan panggilan penting. Tapi ia juga kesal pada dirinya sendiri yang menset dering memekakkan dan membangunkannya pada... jam berapa sekarang? Draco buru-buru melihat dengan mata setengah kantuknya. Siapa yang cukup berani membangunkan Draco Malfoy di jam tiga dinihari?!

"Halo?" Draco buru-buru terduduk begitu mendengar suara yang menyapanya di telepon genggamnya. Harry Potter. Tentu saja. Draco seharusnya melihat ID pemanggil sebelum refleks menerima panggilan begitu saja.

Sekarang Draco terbata menjawab, "H—hi..." grogi bangun tidur Draco berubah menjadi campur aduk perasaan yang tidak karuan.

Draco berpikir Harry akan mulai memaki-makinya ketika yang ia terima adalah hening selama beberapa lama. Jadi ia kembali bicara, "It's 3 AM in the morning, Harry. Ini seharusnya penting, karena bukankah besok kau akan kembali syuting?"

"Kau masih mengetahui jadwalku?" Draco menyesali begitu saja ucapannya sebelumnya. Ia menyiapkan berbagai kalimat jika suatu saat ia akan kembali berbicara dengan Harry. Namun, suatu saat itu tidak pernah Draco rencanakan untuk dilakukan jam tiga dini hari. "Ini jam dua lebih empat puluh tujuh menit lebih tepatnya lagipula..."

"Really, Harry?" Draco berusaha untuk menahan nada kesalnya. "Kau meneleponku hanya untuk membicarakan ini?"

"Aku hanya ingin bicara sebenarnya."

Kalimat itu membuat Draco menggigit bibirnya nervous. Mengembalikan keadaan, Draco kembali merasa bersalah dan helaan nafas Harry bahkan terdengar menghakimi baginya.

"Kenapa kau mengirimiku piringan hitam itu?"

Sesungguhnya? Draco tidak begitu yakin apa alasannya. Ini seperti kembali ketika Draco mencium Harry tiba-tiba di depan puluhan paparazzi. Draco ingin mengundang Harry bicara dan memperdengarkan lagu barunya. Tapi ia terlalu pengecut, jadi memilih mengirimkan sebuah priingan hitam yang hanya berisi rekaman awal yang belum sempurna begitu saja. Kau tahu? Draco biasanya bukan pria yang bertindak tanpa berpikir sebelumnya. Namun terkadang terlalu banyak hal di kepalanya yang membuatnya tersedak, lalu melakukan hal-hal gila tanpa pikir panjang.

"Kenapa?" Harry bertanya lagi. Terdnegar lebih tidak sabar dari sebelumnya.

"Kurasa, karena aku ingin bicara, juga. Kau tahu... ingin meminta pendapatmu soal gaya lirikku yang baru yang terinspirasi darimu. Ingin berbicara tentang pendapatmu soal lagu itu untuk menjadi soundtrack di mini seri yang kau bintangi. Soal banyak hal yang kulewatkan dari beberapa bulan ini. Soal aku yang terlalu pengecut untuk berbicara padamu terakhir kali kita bertemu. Soal semua hal tentang sandiwara ini yang berakhir begitu absurd, soal..."

Harry memotongnya, "You know, you're rambling right now, right?" Lalu ada kekehan. Musik magis yang menjebak Draco dalam pesona Harry beberapa kali sebelumnya. "Kukira kita sudah berakhir."

Draco tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum pada kalimat itu. Bahasa lain Harry untuk mengatakan I miss you, but I don't know if you did miss me too.

"Aku melihat beberapa fotomu akhir-akhir ini. Kau terlihat, uhmmm... fine, I guess..."

"Nah... not really, but I'm trying."

"Kau akan datang ke Oscar minggu depan?"

"Aku ingin melihatmu menang."

"Kau tidak marah atau sesuatu, karena, kau tahu semua orang berkata kau lebih baik dariku?"

"Aku bukan jurinya, Draco..." Draco merinding mendengar Harry menyebut namanya lagi. "Mereka yang berpendapat seperti itu juga bukan. Mereka yang menjadi juri merasa kau layak, dan itu yang penting." Draco merasa setengah rasa bersalahnya terangkat. "Keculai kau menyuap mereka, itu lain cerita." Harry buru-buru menambahkan. Dan keduanya berbagi tawa di hening malam.

Ketika reda, Draco hati-hati bertanya. "Kau menyukai lagunya?"

"Kau membuatku melanggar janji lagi."

Draco mengernyit, "Maksudmu?"

"Kau membuatku menangis ketika selesai mendengarnya." Draco bersumpah mendengar rintihan di ujung kalimat. Untuk sedetik ia khawatir melakukan kesalahan fatal sekali lagi. Lalu Harry buru-buru menambahkan, "Aku ingin bertanya."

Yang Draco jawab dengan sigap, "Go ahead..."

"Apa kau menyadarinya?" ada ujung yang tak Harry aksarakan lewat lisannya. Tapi entah mengapa Draco tahu apa maksudnya.

"Ya. Itu sebabnya aku menulis lagu itu."

"Kau tahu orang-orang kembali akan membicarakan kita?"

"Aku berharap jika itu terjadi, kali ini kita tahu apa sebenarnya 'kita'?"

Harry mendesah, "Ini benar-benar jam tiga dini hari, Draco..."

"Aku tahu..." Draco menatap jam dindingnya. "Bukan ide bagus."

"Aku tak bisa mempercayai diriku di jam tiga dini hari." Harry berbisik. Ada sesuatu yang dalam dan gelap pada kalimat itu.

Draco tahu Harry membicarakan percobaan bunuh dirinya.

Serahkan pada Harry untuk membuat percakapan tidak masuk akal ini penuh metafora.

"Aku tak pernah bisa mempercayai diriku jika itu berurusan denganmu..." Draco menjawab akhirnya. "Kau mau mengakhiri panggilan ini dan berjanji untuk segera tidur?" Draco khawatir sekarang.

Harry dan keindahan metaforanya, adalah manifestasi dari kekacaubalauan di dalam kepalanya. Chaos dalam berbagai rupa yang menjelma dalam kepedihan kata-kata. Puisi bagi yang mendengar, sayatan lirih bagi yang merasakan. Harry adalah mahakarya. Dari segala nasib buruk yang ia terima dengan luar biasa sok kuat di luar sana.

Dari Draco dan segala keraguannya.

"Selama kau berjanji untuk menghubungiku lagi."

"Tapi aku tidak berjanji akan ada sesuatu yang pasti ketika aku menghubungimu lagi."

Draco nyaris seperti mendengar senyum melecehkan yang ia kenal ketika Harry terkikik kecil, "Yeah, I know..."

Dan sambungan telepon itu terputus.

.

.

.

Konferensi pers hampir bisa dikatakan adalah laporan evaluasi yang harus diserahkan para pelaku dunia hiburan pada khalayak. Kau tahu, semacam SOP cleaning service soal apa saja yang sudah ia kerjakan dari perawatan perbulan yang menjadi job descriptionnya. Oke, Draco mulai melantur.

Karena ini sudah dua bulan sejak telepon terakhirnya dengan Harry. Draco belum menelepon Harry sesuai janjinya atau menemuinya tentu saja, kau tahu kepengecutan sama seperti adiksi pada rokok. Tidak akan hilang dalam semalam. Tapi ia menyempatkan diri untuk berkirim salam lewat Blaise yang sepertinya masih mempertahankan Hermione sebagai teman bergosipnya. Dan Harry membalas salamnya, terkadang dengan selipan puisi yang Draco kemudian akan kembalikan dalam bentuk piringan hitam berupa sepotong-sepotong lagu dari potongan-potongan puisi Harry. Draco merasa bertingkah seperti anak SD yang baru pertama kali jatuh cinta. Hanya saja dengan biaya yang lebih mahal.

Dan mereka sekarang duduk satu meja, menjadi panel di comic con sebelum penayangan drama mini seri mereka dan peluncuran eksklusif limited edition original soundtrack yang Draco isi bersama ConfidentalMX yang cukup populer setelah mengisi lagu tema untuk Joker di Suicide Squad.

Untungnya... atau ruginya... entahlah, Draco duduk di ujung kanan panel sementara Harry duduk di sisi kiri. Di sebelah Harry ada seorang aktris muda yang menjadi lawan main Harry; Analeigh Tipton, lalu Cedric, pemeran Guy Fawkes;James McAvoy, director's mini series ini Mr. Leadger, lawan main Guy Fawkes; Dakota Fanning-yang mengecat ikonik blondenya menjadi cokelat. Lalu rival atau entahlah semacam antagonis (jika antagonis artinya dalah lawan dari protagonis, mengingat meledakkan parlemen terdengar seperti perbuatan antagonis); Adrien Broody. Lalu dua pemeran lainnya yang tidak begitu Draco anggap penting dan Draco. Pada awalnya Draco tidak akan datang dan meminta ConfidentalMX untuk mengambil tempat di panel itu. Tapi tentu siapa yang tidak akan melewatkan popularitas Draco untuk mendongkrak filmnya, dan tentu saja untuk mempertemukan pertama kalinya semua pemeran deadlock cinta segitiga antara Harry, Draco dan Cedric, yang sejujurnya kinda ridiculous menurut Draco, karena ia dan Harry tidak memiliki hubungan yang jelas, sedang Cedric... entahlah, Cedric seakan ada di antara mereka tapi Cedric nyaris tidak berada sama sekali di anatra mereka. Draco bersyukur tak mencoba membicarakan kalimat barusan karena bahkan dalam otaknya itu terdengar luar biasa seperti bullsh*t, thank you.

Maka tiba-tiba seminggu sebelumnya perwakilan dari manajer ConfidentalMX mengatakan mereka mendapat jadwal tampil mendadak di Swiss. Draco sama sekali tidak kaget. Hanya... you know, kinda pissed off.

Jadi, tentu saja beginilah jadinya.

Sejauh ini, pertanyaan dan pembicaraan di panel ini masih respectable. Draco baru dua kali bicara sepanjang sejam ini, waktu mereka akan berakhir mungkin sekitar lima belas menit lagi.

Sutradara mereka baru saja menjelaskan, "Tentu sebelumnya ada V for Vendetta yang mengadaptasi kisah Guy Fawkes ke setting yang lebih modern. Tapi entah kenapa kita butuh untuk memperkenalkan lagi tokoh inspiratif dan kontroversial ini dalam versi lain yang lebih hidup pada jaman ini."

Draco merasa bodoh ketika diirnya berpikir akan bisa bernafas lega, ketika mendengar pertanyaan dari seorang jurnalis tentang ambiguitas lirik Draco.

Quote

They're strong lyrics about bonding teammate in some kind of fight. About the end of the battle and struggle. And that's pretty impressive, I give to you, Draco... But some people kinda wondering about the phrase the light behind your eyes, which sounds more personal and people began talking about that part... there's an assumption that's that part is about something else... (berhenti sesaat, melempar senyuman menyebalkan sok serba tahu)

Or maybe someone else?

Unquote

Setelah itu seisi ruangan gaduh. Draco berdehem cukup kencang pada mikrofonnya untuk menghentikan kegaduhan itu.

"Setiap lirik yang saya buat, pasti memiliki sesuatu yang personal. Bahkan ketika saya punya tim untuk membantu saya menciptakan dan memutuskan lirik mana yang akan dipakai di sebuah lagu. Saya bukan tipe artis yang membiarkan orang lain melakukan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan, termasuk dalam otoritas lirik yang saya gunakan." Draco menghele nafas. Seluruh ruangan juga melakukan hal yang sama.

Ini seperti kondisi ketika Draco mencium Harry.

Semua terdiam.

Semua seperti masuk ke dalam mode silent.

Diorama yang menunggu terbangun akan satu mantra. Mereka menunggu kalimat Draco selanjutnya.

Menunggu apa keputusan yang Draco buat dalam kalimat selanjutnya. Apakah akan mempertahankan keambiguitasan seperti jawaban-jawaban Draco sebelumnya? Ataukah memastikan sesuatu, berbagai rumor yang berkeliaran di luar sana?

Draco dalam satu tarikan nafas berpikir keras. Ini kesempatannya.

Mungkin ia tidak pernah akan mendapatkannya lagi.

Tapi kepengecutan sekali lagi sudah mendarah daging.

Draco akan mneyerah lagi tentu saja pada kepengcutan itu bukan?

Tidak?

Tapi apa Draco bisa memikirkan dalam sepersekian detik apa akibat dari perkataannya setelah ini.

Maka ketika helaan nafas, perputaran logika itu menumpulkan Draco, instingnya bekerja dan kalimat berikutnya membuat gaduh ruangan.

Quote

Everyone can have different interpretation about that part, that's not a problem. For me that one part of the lyrics is kinda my way to say, I'm still loving you and the light behind your eyes...

Unquote

Dan Draco menatap Harry setelah ia mengatakannya. Di antara jepretan blitz kamera. Draco melihatnya. Harry balik menatapnya.

Dengan sekilat harapan.

Cahaya yang sempat hilang.

Dan Draco tahu setelah ini, dunia dan seisinya, termasuk James Potter di dalamnya, tidak akan membuatnya gentar.

Setidaknya untuk satu momen itu. Draco merasa seperti itu.

.

.

.

Setelah panel bubar, orang pertama yang mendatangi Draco bukan Harry. Karena Harry terburu-buru pergi bersama Hermione, menerobos kerumunan, untuk pergi ke sebuah siaran radio yang sudah mengontraknya.

Draco menemukan dirinya berhadapan dnegan Cedric di toilet pria.

Sesuatu terdengar salah tentang tempat pertemuan ini, tapi Draco mengabaikannya dan membalas tatapan, -entahlah, sinis? Cemburu? Marah?- Cedric padanya.

"Kau tahu apa yang kau lakukan?" Cedric bertanya tajam

"Kau tahu apa yang sepuluh tahun lalu kau lakukan?" Draco balik bertanya dengan keras kepala.

Lalu Cedric mundur selangkah. Menarik nafas, seperti akan mnegakhiri pembicaraan sebelum dimulai. Ketika tiba-tiba saja sebuah kepalan tangan menghantam hidung Draco.

"Aku tahu aku tidak pantas, tapi itu untuk mengabaikan Harry."

Draco mengabaikan keyakinan bahwa tulang hidungnya patah. Dan darah yang berceceran mengenai kemejanya. Ia buru-buru bangkit dan berkata, "Oh... tentu saja kau tidak pantas..." Dan balas meninju rahang Cedric.

Draco tidak tahu berapa lama mereka meneruskan fist fight itu sampai mereka ditemukan oleh LO mereka dan Blaise yang kemudian memisahkannya dari Cedric yang ia tindih tubuhnya dan ia pukuli wajahnya. Cedric yang masih membalas memukulnya meskipun berada di posisi yang tidak menguntungkan.

Draco diantar pulang dan membatalkan jadwal pemotretan.

Draco tidak pernah tahu apa maksud dan inti dari perkelahian itu.

Draco tidak pernah tahu.

Sampai lima hari kemudian televisi penuh dengan berita putusnya Cedric dan Chochang dan batalnya pernikahan mereka.

Draco berpikir sesaat sebelum sadar, itu sebuah genderang perang.

.

.

.

DrarryShipperforlife DRARRY4EVaaaaaaah

So guess what? DRARRY IS BACK, B*TCHES!

.

.

.

TBC

Fanficnya telat lagi... lalalalalala yeyeyeyeye *dilempar granat*

Saya sedang mengusahakan Happy Ending setelah chapter kemarin yang niatnya cuma pengisi jadi –setelah saya baca ulang- mengubah setengah prediksi saya tentang betapa angstnya hubungan mereka kemarin... XD

Kalau niat awal saya chapter ini mereka udah baikan chapter depan tinggal epilogue... tapi apalah artinya niat ketika jemari saya jalan sendiri di atas keyboard dan jadilah cerita ini... XDDD

Sebagai author, saya memang ababil, maafkan. Rada kayak Moriarty emang, tapi itu cuma satu kelemahan saya. Dan mungkin malesnya saya baca typo... XD

Salah satu review kemarin ada yang bilang kalau karakter Harry OOC, dan setelah saya baca lagi, emang... kikikikikikik Karena saya emang berusaha awalnya ngambil karakter Harry yang dicampur dengan karakteristik Mas Dan yang saya tahu ya... karena saya bukan sobatnya... walau ngarep jadi istrinya *dibombardir massa* asisten rumah tangga juga boleh sih sebenarnya... #plak

Intinya, saya baru nyadar kemarin seberapa OOC Harry dan entah kenapa bagian-bagian depresi Harry mengingatkan saya sama apa ya... saya ga bilang saya depresif, tapi kadang di hari-hari tertentu saya mikir kalau, semacam the life is not worth living? So, begitulah jadinya Harry.

Saya harap ga ada yang keberatan. Saya berusaha menyampaikan pesan untuk lebih peka terhadap sekitar. Orang-orang yang depresif yang saya kenal adalah orang-orang yang biasanya justru kelihatan paling kuat. Stres, perasaan tertekan bukan sesuatu yang memalukan, jadi kalau kalian merasakannya, siapapun itu kalian, cari bantuan. Stay strong and be happy you all... :)

Maaf karena terlambat dan mungkin banyak typo... karena saya baru sembuh sakit, kecapean dengan tugas kuliah dan organisasi... XD *suka ga sadar diri emang*

Salam kecup basah

Erelra

P. S. lirik lagu punya my chemical romance judul lagunya The Light Behind Your Eyes. Saya sempat debat dan dilema sama diri saya sendiri karena kayaknya Talk Me down-nya Troye Sivan juga cocok buat chap ini, makanya ada kalimat Harry yang aku tidak bias mempecayai diriku pada jam 3 dini hari, itu dari lagu Troye. Tapi MCR lebih pas setelah dipikir ulang karna kita butuh lagu yang ambigu yang bisa buat semacam perjuangan dan persahabatan gitu... hehehe

P. S. (lagi) Jangan lupa bahagia... :)