Part 7
Draco sedang berada di sebuah pesta koktail dengan kemeja biru dan celana pendek berwarna krem. Beberapa gadis memperhatikannya dengan kekaguman. Bukan sesuatu yang baru. Tidak banyak yang berubah soal kekaguman itu, lebih semacam pada legitimasi bahwa Draco masih memiliki tubuh yang bagus dan paras yang menawan. Titik. Tidak masalah soal seksualitasnya. Tidak ada masalah soal kepribadiannya.
Draco berbincang dengan beberapa aktor dan artis lain yang diundang dalam pesta itu. Draco sedikit lupa siapa yang mengundangnya sesungguhnya. Semacam orang penting, arsitek ternama atau semacamnya, perancang sebuah musium seni baru yang akan diresmikan di London bulan depan. Ini semacam acara perayaan. Draco tidak begitu mengerti arsitektrur. Tidak begitu mengerti kenapa ia diundang selain untuk alasan sosial, walau Draco tidak yakin menyebut dirinya sosialita adalah sesuatu yang tepat. Setidaknya tidak setelah berbagai kejadian selama beberapa bulan ini dengan Harry. Draco sedikit menghindari sorotan soal dirinya, bisa dibilang, berusaha tidak terlibat masalah yang biasanya rajin ia buat. Tanyakan Blaise berapa aktor atau sutradara yang nyaris atau sudah menuntutnya atas pencemaran nama baik atau tindakan tidak menyenangkan. Draco berusaha berubah, sesungguhnya. Menjadi selebritis manis yang fokus pada karirnya dan bukan sorotan kehidupan pribadi tentu saja. Meskipun tentu tidak menghindarkan sorotan pers soal dirinya dan Harry.
Draco memandang sekeliling setelah lepas dari 3 orang gadis cantik bintang sebuah serial tv ternama di inggris yang sibuk memuji akting Draco di drama seri terbarunya. Dekorasi taman yang terkesan sangat Renaissans. Beberapa patung marmer putih dengan penggambaran dewa dan dewi yunani. Taman yang luas dihiasi bunga-bunga berwarna-warni. Draco selalu berusaha mencari kata-kata yang tepat ketika matanya memandang sesuatu yang indah. Tapi ia selalu tahu kata-kata memiliki batas untuk mewujudkan setiap detail keindahan yang dilihatnya.
Dan disana ia melihatnya. Ada lapangan tenis di ujung taman bunga, disitu Draco melihat Harry, dengan celana pendek putih dan kaos polo bercorak abu dengan lengan pendek. Setahu Draco, Harry bukan tipe yang senang memamerkan badannya, kecuali untuk alasan seni- Draco tahu bertahun-tahun lalu Harry pernah terlibat sebuah pementasan teater yang mengharuskannya bugil pada satu adegan, sayang Draco belum tertarik mengenai Harry Potter saat itu. Dan setahu Draco lagi, Harry bukan tipe yang menerima undangan pesta koktail dari seseorang yang tak benar-benar ia kenal. Mungkin Harry mengenal orang ini. Mungkin Draco harus berbincang dengan tuan rumah, jika ia mengenal Harry. Orang yang bagi Harry penting, maka penting untuk Draco mengenalnya juga.
Draco mencicipi sepotong pai stroberi sambil menikmati semilir angin. Berdiri di pinggir lapangan memantau permainan Harry dengan seorang aktor tampan lain, pendatang baru, Draco mengenalnya, setidaknya pernah berkenalan. Tapi tidak merasa cukup penting untuk benar-benar berteman, Draco mengingat namanya... sebentar... Ah! Eddie Redmayne. He has some good thing right now... Draco tersenyum dalam hati, salah satu aktor yang akan menjadi kelas satu dalam hitungan tahun.
Oh ya, Draco lupa ia sudah berjanji untuk berhenti mengelompokan para artis berdasarkan kasta. Yap. Tapi sudah terbiasa. Draco hanya harus belajar tidak membiarkan prejudice-nya berubah menjadi tindakan diskriminasi. Yap. Yap. Lebih mudah dikatakan daripada dipraktikan tentu saja.
Sepotong pai Draco sudah habis dari piring kecilnya, ia membiarkan seorang pelayan mengambil piringnya dan melangkah lebih dekat ke sisi lapangan tempat artis-artis berkumpul menyaksikan pertandingan. Draco tidak bersorak seperti beberapa tamu lain setiap kali salah satu dari mereka mendapatkan nilai. Ia lebih memperhatikan pergerakan tubuh Harry. Bagaimana otot-ototnya terlihat luwes ketika ia harus meloncat atau menjatuhkan diri untuk sekedar menyelamatkan dirinya dari kehilangan angka. Draco tidak yakin Harry menyadari kehadirannya. Tidak, Harry pasti tidak menyadari kehadirannya karena jika ia sadar mungkin saat ini permainan sudah berhenti dan Harry cepat cepat-cepat pergi dari pesta tersebut. It's maybe rude, but it's necessary. At least for Harry.
Jadi, ok... bagaimana menjelaskannya? Sebut saja Harry menjauhinya. Dan Draco tidak begitu mengerti apa masalahnya. Okey, mungkin membalas tinjuan Cedric sekitar sebulan lalu adalah keputusan yang buruk. Draco hanya tidak sempat berfikir waktu itu untuk menahan kepalan tangannya dari membuat pipi Cedric lebam dan membiru, bahwa perkelahian mereka akan berakhir di majalah gossip, cetak dan online. See? Draco sederhananya hanya membela diri, yang jika kemudian ia terbawa suasana dan membuat Cedric harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapat jahitan di pelipis. Itu bukan salahnya jika setelah itu justru Cedric memutuskan pertunangannya dengan Cho Chang dan menggemparkan seluruh inggris. Draco tidak hiperbolis sungguh, inggris benar-benar berguncang dengan kabar itu karena tanggal pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
Dan tebak? Tentu nama Harry terseret dalam masalah ini.
Jadi sekali lagi, kemudian Harry membuktikan dirinya adalah pasangan yang serasi bagi Draco. Kenapa? Karena ia tidak berfikir lebih jauh ketika hari dimana Draco datang untuk mengajak Harry berkencan dan semacam mengajak "balikan" (setelah dipikir ulang mereka tidak bisa melakukan itu karena tidak pernah benar-benar terlibat dalam semacam 'hubungan yang jelas' sebelumnya jadi sulit untuk menentukan mereka akan "balik" atau entah kembali kemana karna tidak ada titik awal). Tapi masa bodoh, Draco pikir, ia memesan meja di sebuah restoran yang cukup mewah tapi bukan kelas termewah, restoran dengan pelayanan yang nyaman namun tetap berkesan homey kau tahu seperti kepribadian Harry. Dan ketika Draco datang dengan sebuket bunga dan tuxedo hitamnya. Harry membukakan pintu, check. Mempersilahkan masuk, check. Semua kelihatannya akan berjalan lancar? Check. Sampai kemudian Harry mulai bertanya dengan wajah sinis,"APA MAUMU MALFOY?"
Draco sedikit tergeragap karena tidak melihat penolakan datang. Alhasil mereka berdebat kecil. Kau tahu? Semacam perdebatan ketika mereka di Paris. Tapi kali ini Draco membuat Harry meledak dengan kalimat,"Kau tahu Kau merasakan sesuatu. Aku merasakan sesuatu. Kenapa kita tidak bisa membuatnya mudah? Kenapa kau harus memperumit segala hal?!"
Yang dijawab Harry dengan dada naik turun dan nafas yang berusaha ia atur agar tidak kehilangan kendali emosi. "Karna, sekali lagi Malfoy, bukan 'mereka' yang kemudian mendapat tudingan dan harus mengklarifikasi segala hal?"
"Kau terus menerus menempatkan dirimu sebagai korban dan melupakan Aku, yang mengorbankan diri dan menghancurkan reputasiku untuk membelamu dari kata-kata Cedric dan berakhir babak belur!".
Harry tertawa. Tawa tanpa humor yang jauh lebih kering kerontang dari sahara. Draco sudah akan mendekat dan berusaha menenangkan Harry. Tapi kemudian kepalan tangan Harry meninju Draco di perutnya dan melempar buket bunganya ke tong sampah.
Draco tidak menyerah dan berusaha kembali berdiri tegak. Harry, nafasnya masih terengah namun tak lagi terlihat marah. Hanya terlihat patah. Ketika Draco berusaha membelai pipi Harry dan menyebutnya terlihat tampan dalam setelan piyama bergambar batmannya. "You didn't get it right?", Harry tak mendorong Draco agar menjauh. Hanya memalingkan sedikit wajahnya agar bibir Draco tak tepat mengenai bibirnya. Sebuah penolakan yang lembut dan elegan namun berhasil menyuramkan sinar harapan yang entah mengapa masih Draco lihat pada hubungan mereka.
Jadi Draco menjauh dan berusaha merapikan tuxedonya. Harry juga bergerak menjauh. Sambil menghindari pandangan Draco ia berujar.
Quote
Dengar, aku tidak perduli Kau mengirimiku bunga, cokelat, tiket pertunjukan mahal. Kau tidak bisa membeliku. Aku bisa membela diriku sendiri. Aku tidak perlu orang lain untuk memukuli mantan kekasihku yang bajingan. Dan aku sudah tidak tertarik lagi dengan semua urusan romansa ini.
Terima kasih. Silahkan pergi.
Unquote
Dan Harry tidak mengantar Draco sampai pintu keluar. Ia kembali masuk ke ruangan tvnya dan melanjutkan menonton 4 orang anak yang sedang melawan monster aneh dengan lendir yang menjijikan. Draco mendengar serial tv itu, sesuatu yang sedang jadi trending di netflix. Draco berusaha mengingat nama acara itu sampai Harry kembali berbalik, menatap Draco bingung dengan alis yang menyatu, sambil bertanya,"Bagian mana dari kata silahkan pergi yang kurang jelas?"
Draco menahan nyeri di perutnya dan memaksakan dirinya berdiri tegak," Bagian bahwa sebenarnya Kau masih mencintaiku?", terdengar murahan. Memang. Narsistik. Check.
Tapi Draco merasakan kemananan ketika Harry terburu-buru mengalihkan pandangannya pada apapun selain Draco. "No, i don't."ujarnya tegas. Tapi Harry bukan pembohong ulung jika tidak berada di depan kamera.
"Yeah... keep telling yourself that..."lalu Draco pergi, namun sebelum itu mengambil kembali bunganya, mengambil setangkai mawar yang tidak patah akibat bantingan Harry dan kartu ucapannya. Menyimpannya di meja kaca dimana Harry menyimpan telepon rumah kunonya. Telepon itu tidak tersambung kemanapun, telepon yang asli berfungsi menggantung di dapur. Tapi Draco tersenyum pada telepon tua, telepon putar dengan gagang yang berat itu. Lalu menutup pintu. Tanpa berbalik.
Draco terkesiap begitu mendengar riuh sorakan. Kembali ke dunia nyata.
Berhenti memutar memoar perpisahan.
Permainan selesai, Harry menang tipis di dua ronde terakhir. Dia tertawa riang dan membiarkan dirinya memeluk rival permainannnya yang lebih tinggi beberapa senti darinya. Setelah pelukan terlepas dan mata Harry memandang acak ke arah kerumunan yang menonton mereka. Kedua iris itu bertemu. Draco tak ingin menyebutnya takdir, tapi terasa seperti itu. Kemilau emerald Harry tak pernah pudar meskipun dalam sendu, bahkan terkadang dengan sendu, kemilau emerald Harry jadi lebih terasa kaya. Entah apa maksudnya itu.
Tanyakan pada degup jantung Draco yang terpacu.
Tapi Draco cukup cerdas untuk tak memaksakan keberuntungannya. Maka setelah detik yang katakanlah ditakdirkan itu berakhir, dan Harry buru-buru memindahkan pandangan ke arah lain dengan wajah terganggu.
Draco buru-buru berbalik, mencari tuan rumah, basa-basi dan pergi.
Sedikit yang Draco tahu setelah ia memunggungi Harry.
Harry tak bisa manahan diri, menatap ke kerumunan lagi.
Berharap bertemu pandang lagi. Tapi Draco telah pergi.
Dan mungkin untuk saat ini, itu yang terbaik.
"Kau terlihat sehat, Mr. Zabini...",Hermione menambahkan tawa renyah di ujung komentarnya begitu Blaise berbalik ke arahnya. Mereka berdua tidak sengaja bertemu di sebuah kantor notaris, biro hukum, yah semacamnya. Hermione butuh nasihat hukum dari temannya untuk sebuah kontrak yang ditawarkan ke Harry. Dan Blaise butuh menemui salah satu pengacara terbaik mereka untuk melaporkan kasus penipuan yang merugikan perusahaan brand kosmetik yang berada di bawah sayap perusahaan Malfoy.
Blaise menunjuk kantung matanya yang bertumpuk karena hampir 3 malam penuh tidak mendapatkan tidur cukup. Katakan itu pada bossnya yang workaholic terlebih setelah saat ini nasib percintaannya digantung tidak pasti. "Kau masih punya humor yang payah, Mrs. Weasley...",Blaise menampilkan senyum jenaka di ujung kalimatnya Hermione tertawa.
"Masih Granger, pernikahan kami masih sebulan lagi."
"Menikah di musim gugur? Kedengannya sedikit melankolis."
"Sisi baiknya harga pernikahan dan sewa gedung sedikit lebih murah dibandingkan pernikahan musim semi atau musim panas..."Hermione terkekeh.
"Yeah. Point." Blaise menarik nafas dan merapikan beberapa map yang dibawanya kemudian ikut duduk bersama Hermione di ruang tunggu. "Jadi... Harry? Masih marah?"
Hermione mengernyit, sebelum melepas kacamatanya dan berbalik pada Blaise untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Aku tidak yakin menyebut marah adalah kata yang tepat. Ia lebih seperti kecewa."lalu diam beberapa saat seperti menimang,"Dan keras kepala. But that's Harry Potter for you".
Blaise mengangguk. Giliran Hermione bertanya,"Sesungguhnya aku berharap Draco lebih keras kepala lagi dari Harry? lebih pantang menyerah... maksudku ia Malfoy."
Blaise menatap Hermione dnegan bingung,"Aku sudah berurusan dengan Malfoy sepanjang hidupku, Hermione... Dan kami tidak menggunakan frasa pantang menyerah untuk keluarga Malfoy. Mereka tidak bertahan memiliki bisnis besar dan berada di jajaran keluarga ningrat karena sifat pantang menyerah. Lebih karena taktik. Nyaris kearah licik. "
"Well, aku tidak melihat mengirimi Harry piringan hitam dengan rekaman sebuah atau dua buah lagu dan kata-kata mutiara sebagai sesuatu yang taktis. Aku berharap lebih banyak konfrontasi langsung."
"Aku juga, kurasa... Tapi Draco berbicara tentang pertemuan terakhir mereka yang tidak berjalan baik. Tidak detail tapi sepertinya buruk."Blaise menjawab dengan tidak yakin. "Draco seseorang yang persistent biasanya, cenderung memaksa setiap keinginannya untuk terpenuhi. Tapi aku rasa Harry sesuatu yang spesial untuknya. Ia tidak memaksa, tapi juga belum menyerah."
"I don't get it..."
"Yeah. We're in the same boat, i guess.."
Lalu seorang sekretaris wanita memanggil nama Hermione dan mereka berpisah hanya dengan jabat tangan dan anggukan kecil layaknya kolega yang baru saja membicarakan bisnis.
Lampu gantung besar di ruang makan keluarga Malfoy menyala temaram. Malam yang sepi ditemani suara hujan ringan di luar sana. Ruang makan mereka dekat dengan sebuah beranda besar yang berada di lantai dua. Jika kau melihat ke bawah kau bisa melihat taman besar yang megah. Selain ruang makan ini yang direnovasi setahun lalu tak banyak yang diubah dari rumah tua ini. Tentu ada pemugaran dari tahun ke tahun tapi hanya perawatan.
Draco mengusulkan untuk merubah suasana ruang makan mereka agar terasa lebih modern, agar tamu-tamu bisnis mereka yang datang dari berbagai usia tidak melulu disuguhi hal-hal kuno sepanjang mereka mengelilingi rumah. Draco berhasil meyakinkan ayahnya untuk mengganti dinding ruangan menjadi putih dari abu yang kelabu, dengan sisi-sisi pinggiran atas dan bawah berhiaskan keramik bercorak mawar merah dan putih yang terlilit dengan latar hijau yang cantik. Dan mengganti hiasan-hiasan lilin tempelan dinding yang sudah lama tidak digunakan, dengan lampu-lampu kecil yang membantu cahaya ruang makan. Meja makan mereka tak diganti tapi Draco meminta salah satu kenalannya mengecat ulang dan memperbaiki beberapa bagian yang sudah usang. Mengganti kursi-kursi cokelat membosankan menjadi berwarna putih dengan bantalan berwarna putih gading yang empuk.
Draco tidak begitu yakin kenapa ia bersikeras soal hal ini. Ia hanya merasa harus membuat perubahan sedikit demi sedikit jika suatu hari ia akan mewarisi istana tua ini.
"Kau harus coba bekerja sama dengan sutradara yang membuat Silver Lining Playbook...", ibunya menyela suapan daging domba panggangnya yang diirisinya tipis-tipis.
"David O Russel? Aku sudah pernah memainkan peran kecil di filmnya 3 tahun lalu... "Draco menjawab sambil mengambil gelas air putihnya untuk menelan makanan yang baru saja di kunyahnya.
Sambil membiarkan Draco meminum air putihnya,"Dia juga yang membuat American Hustle, ya kan?", Lucius Malfoy masuk ke dalam pembicaraan dengan serius, ia menyimpan pisau dan garpunya untuk membuat anak dan istrinya memperhatikannya.
Draco, tentu saja tanpa gesture itu akan tetap memperhatikan ayahnya. Ia tidak suka kekolotan ayahnya atau kecenderungannya untuk berpikir picik dan bertindak licik. Tapi Draco sudah ikut terjun ke dunia bisnis, membagi waktu dengan karir akting. Draco tahu hidup yang ayahnya jalani membuatnya harus seperti itu.
Yah, point bahwa Lucius Malfoy masih membiarkannya mengikuti passionnya untuk menjadi aktor adalah satu hal yang membuat Draco sedikit lebih menyukai ayahnya daripada sebelumnya. Ia menghormatinya, selalu, tapi bukan berarti ia setuju dengan banyak sikap dan tindakan ayahnya. Seringkali ia mengikuti yang ayahnya lakukan, hanya sekedar menuruti kemauannya.
"Ya, tapi entahlah... dia punya kecenderungan sangat statis mengenai masalah aktor yang ia casting untuk filmnya. Ia memakaiku sekali, kemudian sepertinya tidak begitu cocok dengan gayaku, jadi ia tidak pernah memanggilku lagi dan aku tidak perduli.. Dia lebih mengandalkan keberuntungan dan nepotisme menurutku... walau harus kuakui cukup banyak karyanya yang berkualitas.", Draco juga ikut meletakan garpu dan pisaunya.
Narcissa berdehem,"Tapi justru itu pointnya , nak.. Ia punya keberuntungan. Kau hanya tinggal sedikit lagi untuk memenangkan kategori aktor utama terbaik di Oscar. Pria itu bisa membantumu dengan keberuntungannya, Kau tahu..."
Draco sebenarnya tidak berharap kekalahannya di ajang oscar tahun ini akan menjadi bahasan dalam makan malam kali ini. Draco sedikit banyak merasa bahwa kekalahannya karena memang seharusnya Harrylah yang masuk nominasi.
Ayahnya berdehem. Draco tidak yakin sejak kapan, tapi sebentar lagi ia tahu akan ada perdebatan antara pentingnya keberuntungan dan tidak antara ayah dan ibunya.
"Cissy... Bukan hal bagus untuk bergantung pada keberuntungan. Draco seorang Malfoy, ia punya kemampuan untuk memenangkan apapun yang ingin ia menangkan.",Kan?
Draco tersenyum sedikit lebar mendukung komentar ayahnya. Tentu saja, sikap sombong Draco tidak muncul begitu saja alias bawaan lahir. Ada pengaruh pola didik ayahnya yang membuatnya senarsistik dan semenyebalkan orang-orang keluhkan. Well, setidaknya Draco membayarnya dengan talenta dan kerja keras.
"But... ", ibunya ikut menaruh pisaunya, tapi masih memegangi garpunya. "Kita tahu sebaik apa Draco bermain di film Ron Weasley kemarin, ia hanya butuh sedikit dorongan takdir untuk hal itu."Ibunya tipikal keluarga Black, percaya pada pergerakan rasi-rasi bintang akan membantu penentuan nasib manusia.
Mungkin, pikir Draco.
"Maksudku.."ibunya melanjutkan. "Jenifer Lawrence bukan kandidat terbaik untuk memenangkan Oscar 2012, in fact dia mungkin kandidat terlemah disana, Silver Lining Playbook berbicara tentang mereka dengan gangguan mental health dan film itu dirasa kurang menggambarkan. Tapi? Dia menang. Katakan padaku jika itu bukan keberuntungan lalu apa?".
Draco menjawab cepat,"penilaian subjektif penel juri yang keliru?". Diakhiri dengan nada tidak yakin karena ia tidak ingin terdengar terlalu menentang ibunya. Dan secara semena-mena menentang hasil penilaian juri Oscar.
Lucius yang sudah kembali mengiris hidangan utama makan malamnya menunjuk Draco menggunakan pisau di tangan kanannya dan mengangguk setuju.
"Tapi, jika ibu bersikeras, aku akan menelpon Jesse..."
Ayahnya yang menyahut kali ini,"Jesse Rosenthal?"
Draco mengangguk, menelan potongan makan malamnya baru menjawab. "Dia art directror untuk American Hustle... Kita tidak bisa memancing ikan tanpa umpan yang tepat, lagipula..."
"Atau mengeluarkan pemangsa dari sarangnya tanpa umpan untuk menggoda", Lucius tertawa di akhir kalimat. Draco mengangkat gelas winenya bersulang untuk kalimat ayahnya.
Ibunya tersenyum dan mengangguk puas dengan janji anaknya.
"Ah.."ibunya berusara seperti baru mengingat sesuatu. "Harry Potter."ucapnya sambil menatap Draco dengan pertanyaan namun kalimat yang dikeluarkannya datar saja seperti tanpa maksud apa-apa.
Draco mengernyit, tak buru-buru menjawab. Menunggu ibunya memperjelas pernyataan atau pertanyaan barusan.
Sejujurnya, cukup membingungkan bagi Draco bahwa tidak sekalipun setiap kali ia pergi makan malam ke rumah orangtuanya, ke kastil Malfoy yang megah, kedua orangnya membicarakan topik tentang Harry. Mungkin karena mereka mendapat laporan dari Severus terus menerus bahwa itu hanya sebuah strategi bisnis. Tapi sekalipun setelah itu mereka berpisah dan sekitar 2 minggu yang lalu Draco pulang dengan babak belur setelah adu jotos dengan Cedric Diggory, nama Harry sama sekali tidak disebut di meja makan ini. Itu membuat Draco sedikit terlena sepertinya.
Ini tidak akan berakhir bagus.
"Do you like him?", Ibunya akhirnya bertanya. Ayahnya melanjutkan makannya, berpura-pura seperti tak mendengar. Draco tidak yakin apa itu pertanda buruk atau bukan?
Draco berfikir untuk sesaat lalu menjawab dengan tegas," Yes... i like 'like' him.".
"Ok."Ibunya menjawab singkat. Lalu tak ada pertanyaan atau pernyataan lagi.
Makan malam berlanjut dengan pembicaraan mengenai proyek film Draco berikutnya dan bagaimana pendanaan terhadap film itu akan memberikan keuntungan untuk keluarga Malfoy.
Draco berusaha tak memikirkan konsekuensi dari sepotong pembicaraan tentang Harry di meja makannya.
Tidak sampai Blaise datang padanya keesokan paginya.
Dengan sebuah surat menyatakan pencabutan hak waris Draco atas harta Malfoy sampai waktu yang belum ditentukan.
Ada gesekan yang berkesan-terburu-buru dari suara biola yang mengiringi suara Draco. tak seutuhnya seirama dengan ringkihnya suara DRaco kali ini.
My Pretty sleeper
Your twisted mind
Like snow on the road
Your shaking shoulder
Proof that is colder
Inside your head
Than winter out there
Harry menatap ke piringan hitamnya kali ini. Berhenti berfikir dan hanya menatap ke temaram ruangan tengahnya.
Suara Draco berlanjut.
Draco hanya bernyanyi di pinringan hitam ini.
Tidak ada suara lain.
I will tell you
I love you
But the mocks on your ears
Cradle your fear
"Aku tidak takut, Drac...",ujarnya pada kegelapan.
Please, take my hand
We're in foreign land
As we travel trough snow
Together we go...
Piringan hitam berhenti. Harry berdiri, menyalakan kembali lampu utama ruangan dan televisi.
Kehebohan beredar di luaran sana.
Draco masih Malfoy tentu saja.
Tapi ia tak lagi berhak atas apa-apa yang seharusnya menjadi warisannya.
Seorang pembawa berita cantik berkulit hitam, beraksen irlandia dengan lantang dan tertata menceritakan,"Pencabutan hak waris atas Draco Malfoy, aktor dan penyanyi ternama yang juga selama ini dikenal sebagai pangeran dari keluarga Malfoy salah satu keluarga tertua dan terkaya di dataran Inggris. Disinyalir memiliki hubungan dengan pernyataan Draco Malfoy yang kontroversial di beberapa media mengenai affairnya dengan aktor muda berbakat lainnya Harry Potter. Sejauh ini kami belum mendapat pernyataan resmi baik dari Draco Malfoy maupun Harry Potter. Namun, kuasa hukum keluarga Malfoy mengatakan bahwa pencabutan hak waris tersebut benar dan saat ini posisi Draco Malfoy sama seperti pegawai biasa lainnya di perusahaan mereka."
Harry mematikan televisi lagi.
Mendekati piringan hitamnya, memutar kembali piringan hitam yang sama.
Piringan hitam terakhir yang Draco kirimkan padanya kemarin malam.
Please, take my hand
We're in foreign land
As we travel trough snow
Together we go...
"Kau tidak mau bicara dengan mereka?"
"Tidak perlu."
Severus menatap putra baptisnya dengan penuh ketidakpercayaan. Lelaki muda ini baru saja 'dibuang' oleh kedua orangtuanya dan bukannya datang ke mansion Malfoy dan mempertanyakan ketidakadilan yang menimpanya. Ia datang ke perusahaan seperti biasa. Masuk ke bagian departemen kosmetik dan menjalankan tugasnya sebagian direktur bagian produksi. Ia bekerja seperti biasa sampai setidaknya ketika Severus masuk dengan dramatisnya dengan mantel hitam kelamnya dan wajah bersungut-sungut.
Selama beberapa saat mereka beradu tatap. Severus menantang Draco lewat ancaman di matanya.
"Mereka membuangku sebagai anak, tidak berarti mereka memecatku sebagai pegawai."
"Dan kau tidak perduli tak lagi mereka anggap sebagai anak selama kau masih menjadi salah satu 'buruh kasar' mereka?", sekretaris pribadi Draco di perusahaan, bukan Blaise tapi Martha, mendelik ke arah severus setelah kata-kata terakhirnya.
"Jangan tersinggung, Miss Lane.."ucap Draco yang akhirnya bangkit dari duduknya di meja dan menutup file yang sedang di-scanningnya. "Dan mungkin ada baiknya Kau antarkan dokumen ini ke Mr. Higgins dan minta dia untuk memeriksa kontraktor persediaan kita sampai bulan depan."Gadis yang sedari tadi berdiri diam dan patuh menunggu Draco memeriksa dokumen akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
"Severus", ujarnya sambil menatap ke bawah gedung 22 lantai tempat kantornya berada. Jendela besar yang menjadi dinding di bagian belakang meja kerjanya menampakan pemandangan yang luar biasa setiap harinya.
Draco tidak pernah berfikir untuk berhenti sejenak dari bekerjanya sebelumnya. Dan menggunakan fungsi relaksasi yang ditawarkan pemandangan di luar sana. Ya, ini masih jalanan macet di salah satu pusat kota london. Berbaris bersama begitu banyak gedung tua dan gedung modern lainnya. Gedung ini yang paling menjulang setidaknya di jalan ini.
"Aku tidak heran dengan tindakan ini."
Severus menatap Draco dengan dingin matanya,"oh yeah.. I bet..."ujarnya penuh sarkasme.
Berdiri di pinggiran jendela, jika tanpa jendela, tarikan untuk menjatuhkan diri terdengar menggoda. Mungkin ini yang Harry rasakan ketika melihat pisau atau silet atau benda tajam apapun yang ia pergunakan untuk mengiris nadinya. Dengan segala kegaduhan di sekitarmu dan di kepalamu. Kau hanya ingin mati, sekedar membuktikan bahwa neraka yang kau tinggalkan adalah kehidupan?
"Dan anehnya lagi, aku tidak menyalahkan mereka."Draco mempelajari konsep baru saat ini. Pasrah.
Severus melihat kedamaian di kilau kelabu Draco. Tapi ia tidak bisa mengerti. Karena Draco adalah putra mahkota yang mendapatkan apapun yang ia inginkan. Apa yang tidak bisa ia dapatkan dengan mudah, tak akan dibiarkan begitu saja lepas tanpa perlawanan.
Maka jangan merasa aneh jika melihat Severus terheran-heran saat ini menatap Draco.
"Drac..."
"Tidak perlu."Potong Draco tegas. "Kita lihat, jika memang layak, maka aku akan dapatkan kembali semuanya."Draco mengusap kaca jendela, berusaha terlihat melankolis dan dramatis namun justru menemukan debu. Ia berfikir untuk meminta cleaning service lebih teliti dalam membersihkan ruangannya.
"Ada lagi yang mau Kau sampaikan?", Draco berbalik, kembali menatap tatapan dingin yang ditawarkan Severus padanya. Lelaki paruh baya itu hanya mendesah, dan melangkah keluar ruangan tanpa salam perpisahan.
"Harry, Aku tahu Kau selalu menghindari pertanyaan ini dengan jawaban ambigu. Tapi sekali ini saja... ",Harry menegakan duduknya dan melebarkan senyum aktor tampannya. Ia tahu apa yang akan Graham Norton saat ini padanya. "You can take your time, but please, as a good friend of mine... Can you answer it as honest as you can?".
Harry mengambil gelas berisi air dingin yang ada di depannya. Meminumnya seteguk dan membiarkan semua orang menunggu Mr. Norton menyelesaikan pertanyaannya. Ya, Graham Norton adalah sedikit dari selebritis Inggris yang tetap mengakui karir cemerlangnya setelah skandal dengan Cedric. Ia pernah berkomentar pada sebuah wawancara majalah fashion dari Prancis ketika ditanya mengenai aktor inggris cilik yang punya bakat gemilang untuk bertahan di Hollywood. Mr. Norton menyebutkan namanya dalam list.
Harry bertanya-tanya sampai saat ini apa itu semata-mata karena kebaikan hatinya? Atau karena baru belakangan ini Mr. Norton adalah salah satu publik figur yang perduli terhadap kaum gay? Entahlah.
"Apa pendapatmu mengenai dihapusnya hak waris Draco Malfoy?",Harry berhenti sesaat dari berfikir. Mengosongkan pikirannya dan fokus pada kancing lengan jasnya yang sepertinya tidak dijahit cukup rapi dan terasa longgar.
Harry menatap balik Mr. Norton,"Apa pentingnya pendapatku?" Harry berkata, nadanya keluar lebih dingin dibanding yang ia harapkan. Ia mendengar beberapa nafas tertahan di bangku penonton.
Mr. Norton tersenyum lebar, senyum kebapakan yang ia pamerkan pada sampul majalah yang sama ketika ia menyebutkan nama Harry. "I don't know. Tapi beberapa pihak berpendapat bahwa hal itu ada kaitannya denganmu..."
"Bagaimana bisa Aku berkaitan dengan urusan keluarga Malfoy?",Harry merasa suara yang keluar dari mulutnya makin berani. Nyaris seperti bukan suaranya sendiri. Seperti orang lain yang berbicara, namun memang maish suara Harry yang keluar.
Ada kilat kecewa di wajah Mr. Norton, tapi ia masih tetap mempertahankan senyum kebapakaannya. "Honestly? I don't know."
Harry tersenyum. Melihat lawan bicaranya menyerah. "Pendapatku..."Harry memotong kalimatnya sejenak. "Ini bukan soal Malfoy atau bukan. Atau ada hubungannya denganku atau tidak. Pendapatku adalah bahwa keluarga manapun yang membuang anaknya hanya karena ia memilih untuk mencintai siapapun yang ia cintai, tidak perduli gender atau dari ras apa orang itu. Mereka sudah kehilangan sesuatu yang berharga."
Jawaban Harry membuat seisi studio terdiam. Tidak ada riuh tepuk tangan atau kode dari koordinator penonton di studio untuk bertepuk tangan. Tapi Mr. Norton tersenyum lebar,"Yah... Kurasa Kau tetap Harry Potter yang sama seperti yang dulu." Dan senyum kebapakannya yang ia lempar ke arah kamera menjadi kode untuk tepuk tangan para penonton.
Beberapa hari kemudian Cedric muncul dengan senyum kebanggaannya. Boys charm yang masih bisa memikat banyak orang di sebuah pameran sastra. Dan berkesempatan membacakan sebuah puisi.
Setelah bait terakhir yang indah.
"If being wrong's a crime, I'm serving forever
If being strong's your kind, then I need help here with this feather
If being afraid is a crime, we hang side by side
At the swingin' party down the line"
"Puisi tadi karya Ella Marija Lani Yelich-O'Connor. Pada intinya bahwa menajdi berbeda bukan sesuatu yang salah. Dan Saya ingin menjadi salah satu yang membantu menyebarkan pesan itu.", lalau tarikan nafas dalam dan matanya menatap ke satu-persatu kamera yanga da di ruangan. "I'm bisexual, that's real and fine. Thank you."
Lalu Cedric Diggory turun dengan langkah tegap. Menuruni panggung dengan santai ketika dari kiri-kanan para reporter menyerbunya.
Semua majalah gossip, cetak maupun online membicarakannya.
Dan mau tidak mau pernyataan Harry beberapa hari sebelumnya di Graham Norton Show dituding sebagai pemicunya.
From : Cedric A**hole Diggory
To : Harry Potter
Subject: Let's Meet.
"Can we talk? Restoran itali yang dulu Kau suka baru saja selesai di renovasi. Aku menunggu dari jam 7 malam. Hubungi Aku jika ingin kujemput. Aku tidak menerma jawaban tidak. Aku akan tetap datang, menunggu sampai pelayan mengusirku, bahkan jiak mereka mengusirku aku menunggu di luar restoran. Aku tidak pergi, sampai Kau datang."
Langit gelap dan pemandangan pedesaan yang tak sepenuhnya diterangi lampu. Namun, tempat mereka syuting kastil tua milik seorang Tuan Tanah di daerah ini dnegan batu bata merah dan gossip tentang hantu nampak lengang dan sempit secara bersamaan dipenuhi oleh para kru. Harry memegang erat nashkah di tangannya. menatap ke arahnya tapi Hermione tahu pemuda itu tak membacanya.
"Harry?",Hermione memperhatikan gerak-gerik pemuda itu yang nampak gelisah. Mereka sednag berada di Laincester untuk sebuah syuting videoclip dari seorang penyanyi pendatang baru. Gadis berumur 17 tahun, yang menyabet beberapa nominasi Grammy tahun kemarin.
Harry tahu beberapa lagunya. Jadi ia memutuskan bahwa gadis itu, meskipun bukan selera musiknya, layak untuk mendapat apresiasi.
"Kau harus menelponnya."
"Dia tidak akan datang Hermione."
"Dia datang tentu saja."Harry terpotong nafasnya oleh tatapan Hermione sebelum sempat menyela,"Kau sendiri yang bilang pemud aitu berubah tatapannya sekarang. Cedric Diggory yang sekarang lebih keras kepala dan tidak tahu kapan menyerah." Harry mengucek matanya yang kali ini tak dilengkapi kacamata bundarnya, yangs ekarang menjadi aksesoris kesukaannya meskipun ia tak lagi membutuhkannya.
"Tapi dia tidak akan menunggu." Harry berbisik. Meyakinkan dirinya sendiri.
Hermione mengabaikan kalimat Harry dan hanya mengeluarkan pointing looks-nya. Ia menyodorkan smartphone Harry. "Setidaknya telepon dia."
Harry mendesah. Dengan bahu yang merendah seakan ia kalah. Ia menyabet handphonenya dan pergi ke sudut sepi.
Suara Cedric terdengar mengigil ketika menjawab 'Halo'.
Harry tak berkata banyak. Pemuda itu memohon padanya untuk datang. Harry menjelaskan situasinya. Dan meminta Draco menjadwal ulang.
"Kau mau bertemu denganku?"
"Jika itu artinya Kau berhenti mengganggu kehidupanku."Harry mendesah keras. Tetap merasa kalah meskipun ia terpaksa mengalah. "Kapan Kau kosong?"
"Mungkin sebulan lagi, ada jadwal pemotretan di Asia mulai lusa dan kau bilang kau baru kembali ke London 3 hari lagi?"
"Ya."
"Baiklah... Sebulan lagi. Aku akan menelponmu lagi."
"Ya. Dan Cedric... Tolong jangan membuat kegaduhan lainnya lewat pers."
Pemuda itu hanya terkekeh di ujung nafasnya sebelum berkata. "Aku hanya ingin minta maaf."Lalu telepon terputus.
Mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Harry pikir.
Harry berhenti mendengarkan begitu wanita di muda didepannya, yang nampak sama cerdas dan berkelasnya dengan Hermione, menjelaskan apa dampak buruk dari tindakan Harry di acara Graham Norton semalam. Harry ingin memprotes karena a) itu bukan sebuah tindakan, itu Cuma pendapat b)dampak buruk apa yang bisa didapatkan dari perkataan yang Harry keluarkan sekedar itu meng-encourage mereka yang merasa 'berbeda'. Tapi Harry menutup mulutnya dan karena menurutnya mulutnya sepaket dengan telingnya. Jadilah ia juga tidak mendengarkan.
15 menit kemudian wanita dengan rambut hitam dan mata hitam serta kacamat tipis itu sedikit berbisik dan mendekat pada Hermione. Memberikan tanda-tanda ia akan segera pamit dan omong kosong ini bisa disudahi. Jadi, Harry mulai mendengarkan ketika ia berpamitan,"Kami dari agency akan mulai lebih 'selektif' dalam pengambilan peran yang akan Anda ambil selama Anda masih berada dalam kontrak kerjasama dengan kami, Mr. Potter", lalu senyum bisnis.
Harry perlu disikut oleh Hermione sebelum berdiri dan menyambut jabat tangan wanita itu. Lalu keluarlah perempuan itu dari ruangan rapat ini.
Hermione menatap Harry dengan tatapan yang mengatakan,'You did just not?!'
"What?", Harry memasang wajah innocent-nya.
"Katakan setidaknya, Kau tahu siapa yang tadi baru saja 'meeting' dengan kita? Hmm?", Hermione menatap Harry dengan desakan persetujuan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Well, it's PR right?" Harry memberikan senyuman mengejeknya. Hermione memutar bola matanya dan berdiri.
"Yeah. Yang tadi baru saja keluar dari pintu itu. Fiona Tesse. Dia yang terkejam dari yang paling kejam di bisnis ini. Agency menurunkannya untuk mengurusmu, berarti Kau adalah kasus serius."
Harry memainkan alis matanya dan berdiri. Menatap tumpukan dokumen di depannya. "Jadi, apa masalahnya untukku?"
"Kau tidak mendengarkan?"
Harry memasang tampang 'Kau baru mengenalku kemarin?! Tentu saja aku tidak mendengarkan'. Lengkap dengan gesture tangan yang ia buat seperti belalang sembah kebingungan.
Hermione mendesah. "Pasal 12 ayat 1 dikontrakmu, berkata yang intinya perusahaan memiliki kapasitas penuh untuk menentukan jalan karirmu, tentu dengan basa-basi bahwa kau punya hak untuk berpendapat yang sekali lagi tolong garisa bawahi, basa-basi."
Harry mengernyit,"Perusahaan tidak suka dengan sikap terang-teranganmu yang mendukung LGBT. Tidak baik untuk pasar. Sekedar sensasi, mungkin. Tapi tidak ketika Kau serius dnegan setiap perkataanmu. Bukan hal bagus. Nah..",Hermione menggelengkan kepalanya dan menunjukan ayat yang yang barusan ia bacakan. Harry yang sedang merasa ingin bergaya cupu hari ini memakai lagi kacamata lamanya.
Tentu hanya tinggal bingkai bundarnya dan dengan kaca yang tidak lagi difungsikan untuk mendukung penglihatan buruk Harry yang minus 5.
"Lalu?"
"Kau sedikit lambat hari ini ya?", Hermione memasukan dokumennya tadi. "Ini daftar pekerjaanmu selama setahun ke depan." Harry memperhatikannya.
"Sayangnya, Kau bukan aktor 'besar' yang sudah bisa memilih perannya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Begitu menurut mereka. Jadi, tidak ada peran gay dan pembatasan konten wawancara dalam acara-acara talkshow besar seperti Graham Norton dan lain-lain."
Harry melihat daftar perannya. Ada 4 film besar dan sebuah series yang harus ia kerjakan selama setahun ke depan. "Mereka membuatku kerja rodi? Dengan peran-peran yang nyaris sama? What the—?!"Hermione memberi tatapan memperingatkan khas ibu-ibu pada Harry sebelum Harry sempat menyelesaikan ucapannya.
"James Navis, seorang psikopat, pendiam, bla-bla-bla. Lalu Jacob Handson, memilikikepirbadian ganda, bla-bla-bla. Mereka berusaha membuatku menjadi aktor monokrom?"
"Kabar baiknya kontrakmu akan habis satu setengah tahun lagi."Hermione menpuk punggung Harry dan mulai berjalan keluar ruang rapat.
"Tapi aku tidka punya kesempatan berkembang!"Harry sedikit naik nada suaranya. Wanita dengan cincin tunangan pemberian Ron Weasley di depannya berjalan saja tenang.
"Mione..."
Sepatu hak tinggi berwarna tosca Hermione berhenti di depan lift. Harry yang mengikuti langkahnya di belakang Hermione sambil merajuk pun berhenti. "Bekerja keraslah... dan mungkin belajarlah sedikit menjilat. Kau punya jadwal menemui Mr. Lockhart besok. Bermanis-manislah sedikit padanya. Mungkin Fiona kita bisa digantikan dengan orang lain dan kita bisa 'berpendapat' seperti yang disebutkan dalam kontrak? Hmm?"
Harry mendesah,"Kau tahu aku benci orang itu 'Mione..."
"Kau harus berusaha, jika Kau menginginkan kasting sebagai Arthur Kipps yang ditawarkan padamu minggu depan." Mata Harry berbinar. "Yap. Sayangnya itu tidak ada didaftar jadwal pekerjaanmu setahun ke depan." Ekspresi Harry berubah muram durja luar biasa.
"sedikit saja Harry..."mereka di dalam lift. Hanya berdua, Hermione mengeraskan suaranya. "Kill him with kindness."
Dan pintu lift terbuka.
Harry buru-buru melesat mengikuti Hermione yang juga langkah dengan hak tingginya terkesan-tergesa-gesa. "Jika tidak berhasil?"
"Kau akan terjebak selama setahun ke depan dengan pekerjaan yang tidak Kau inginkan."Hermione berbisik tajam pada Harry lalu sedetik kemudian menyapa dengan wajah ramah ke receptionist mereka hari ini. "Hi Ariel!"
Harry hanya mengimbangi Hermione dengan senyum sopan seadanya. Sambil berjalan menuju mobil sewaan mereka. "Jika aku menolak dan memilih melanggar kontrak?"
Hermione sengaja menghentikan langkahnya dengan dramatis. Hak sepatunya mengeluarkan bunyi decit yang tak kalah hiperbolis. "Aktor terakhir yang melakukan itu dan melawan Fiona Tesse, berakhir di penjara dan denda, Harry. Dengar, Aku suka pekerjaanku dan tidak mau menacari majikan lain. Jadi tolong jadi majikan yang baik dan usahakan keinginanmu, okay?". Harry mengangguk saja, karena di sinar mata Hermione ada keseriusan yang tak seperti biasanya. "Dan lain kali dengarkan baik-baik ketika aku mencoba membelamu setidaknya."
Mobil sewaan mereka datang dan Hermione memabnting pintu. Duduk sejauh mungkin dari sisi Harry. seseorang kesal, pikir Harry.
Harry jadi sedikit menyesal tak mendengarkan adu mulut kecil anatar dua wanita cerdas tadi.
Pesan moral: Jangan memulai mode mute katika ada dua orang yang sedang berdebat tentang kelanjutan karirmu.
"Kudengar dari Hermione, Kau menjadi si menyebalkan yang sok idealis dan tidak perduli dengan orang yang mati-matian membelamu?"
"Hi juga Ron.", Harry mendengus sebal saja pada sapaan pertama yang iadapat dari sahabatnya itu. Weasley di sebelahnya hanya tertawa.
"Kau akan tampil malam ini?", Ron membiarkan Daniel, bartender langganan mereka, membawakan segelas scotch untuknya. Harry merebutnya sebelum ron sempat menyentuh gelasnya.
Mengeluarkan smirk andalannya,"Ya. Tapi aku butuh beberapa gelas lagi sebelum itu."
Mereka ada di sebuah bar di sudut kota London. Bar tersebut bukan bar tua, baru berdiri mungkin sekitar 7 atau 8 tahun, tapi selama hampir 5 tahun belakangan menjadi basecamp para musisi jalanan dan para pecinta puisi, terletak di bawah tanah, ada kesan suram dan lembab pada dinding bangunan. Kua bisa mendengar lintasan kereta api di samping atas bangunan. Kerumunan yang datang biasanya adalah mahasiswa-mahasiswa yang paham sastra atau sekedar menggemarinya sebagai sampingan disela-sela disiplin ilmu yang dipelajarinya. Beberapa anak-anak remaja tanggung yang bisa mausk bar dengan ID yang mereka lagi orangtua dan dewasa yang punya pekerjaan membosankan mencari hiburan yang tidak biasa tanpa benar-benar melanggar hukum yang ada, Kau tahu semacam prostituasi atau klub malam ilegal yang menjual narkoba. Dan yah... itu tadi para musisi idealis yang tidak punya tempat untuk menampung karya seni mereka.
Dengan cahya temaram dari lampu-lampu pijar di pinggiran dan sebuah chandelier besar yang dengan kemegahannya nampak salah alamat. Panggung kecil yang hanya setinggi 30 cm dan dilapisi karpet usang yang sepertinya dibeli bekas oleh pemilik bar. Tapi disini satu-satunya tempat Harry cukup berani untuk bicara. Satu-satunya tempat yang Harry berani sebut Rumah.
Rumah dalam artian ia bisa mengungkapkan apapu yang dibendungnya. Mengungkapkan karya apapun. Pikiran apapun. Terkadang ia menuliskan kata-katanya, terkadang ia melisankan apa yang sudah dituliskan orang lain. Malam ini sepertinya ia akan memilih yang kedua.
Sudah lama ia tak kemari. Tapi ia baru saja mendapatkan kesempatan untuk kasting peran yang ia inginkan dan kesepakatan pengurangan jatah pekerjaan atau setidaknya penundaan. Maish dalam konfirmasi dengan pihak bersangkutan. 'sabralah', begitu kata Mr. Lockhart. Yang tadi siang baru saja Harry puji habis-habisan dan Hary janji akan sebutkan pertama kali di pidato kemenangannya jika ia memenangkan nominasinya di British Academy Television Award tahun ini.
Jadi, tentu ini malam dimana ia membutuhkan minuman keras dan berteriak keras-keras. Ia menelpon Ron, karena ia tahu ia kaan butuh seseorang untuk memastikan ia sampai rumah dengan selamat.
"This Lads get better after i never came, Dan..",Daniel hanya tersenyum ramah dan mengelap tumpahan whisky di depan tangan Harry.
"Kau yakin bisa tampil jika bicaramu saja mulai ngawur?", Ron sedikit banyak cukup perduli dengan karir Harry karena itu bersangkutan dengan karir calon istrinya, mengeluarkan nada khawatir.
"Aku hanya akan mengulang kalimat orang lain. Sudah lama tidak membawakan karya Erykah Badu."
"Wuooooh... Kau pasti benar-benar dibuat kesal jika sampai mengeluarkan aksen wanita kuit hitam di atas panggung."Harry tidak menjawab. Hanya mengedipkan sebelah matanya sambil memaksa tangan Ron untuk membuat kedua gelas kecil mereka bertemu dan mengeluarkan denting tanda bersulang.
"Wish me luck...", ujarnya setelah sedikit menjauh dan mulai mendekat ke arah panggung.
MC malam itu dengan gaya RnB nya memperkenalkan Harry dengan nama penanya,"Kita sambut bersama, JACOB GERSHON!", beberapa tepuk tangan cukup riuh karena sepertinya pernah mendengar nama itu sebelumnya. Harry tersenyum rikuh dan malu-malu meskipun telah mendapat bantuan alkohol untuk meningkatkan self esteemnya.
"Kalian pernah mendnegar puisi ini mungkin beberapa tahun lalu.",seorang kru membawakan tiga lembar karton ukuran A3 yang membuat para penonton penasaran pada tulisan dibaliknya. "Kalian akan tahu sebentar lagi. Ini karya Erykah Badu ; Friends, Fans & Artist must meet." Harry tesenyum dan menurunkan lebih dalam sedikit kupluk hitam yang menyembunyikan sebagian besar dahinya. Memperbaikai letak kacamata hitamnya. Ia menarik nafas dan begitu menatap lagi ke kerumunan wajahnya tak lagi menampilkan persona Harry Potter tapi Jacob Gershon.
Nerdehem kecil, suara Harry kemudian tak lagi beraksen inggris tapi berkesan afro-amerika. Tepatnya wanita Afro-Amerika.
"Friends, fans, artists must meet
Which one are you, which one is me?
Friends, fans, and artist must meet
Which one are you, which one are me?", Harry menatap kerumunan untuk sesaat lalu berkata lantang sambil membentangkan karton bertuliskan 'FANS' dengan tangan kanannya,"SAY IT !"
Penonton Harry menjawab serentak dengan sedikit keraguan,"FANS!"
Harry tersenyum tipis lalu melanjutkan.
"God, please, o, please let him breathe my way
If he sing my song today I can be okay
See I understand the message in the song he write
I was really happy for him when he won tonight
He a rebel for the struggle, fighting just like me
I know he down to sing at the cookout for free",Harry bergerak sedikit-sedikit, melangkah dan memeragakan menggunakan gesture yang sekiranya diperlukan untuk menekankan kata-kata pada tiap kalimatnya. Ketika berpuisi, Harry bermain peran. Ketika bermian peran, Harry adalah puisi tanpa kata-kata namun gerakan.
"I was kinda disappointed with the song he wrote
Went to er website, wrote a long ass note", beberapa penonton tertawa, beberapa gadis muda, para pelajar, remaja ilegal saling tunjuk karena merasa tersindir. Harry tersenyum mengejek namun masih berkesan jenaka lalu melanjutkan kalimatnya.
"He done made a million dollars, but he down to earth
He be rocking Chuck Taylors and a thrift sto' purse
Signing autographs 'til the park was dark
I know it's kinda hard when they love your art
In the magazines they be twisting up the facts
But his response was fair, I like how he come back
He be sanging for the world, sharing all his pain
When He fell up in the game he had changed".
"Friends, fans, artists must meet
Which one are you, which one is me?
Friends, fans, and artist must meet
Which one are you, which one are me?"
Harry mengangkat kertas A3 lainnya. Kali ini penonton Harry sudah dnegan sendirinya serentak membaca tulisan di kertas itu, " FRIENDS!"
"Folk in the face like she ain't the same
Still the same bitch, she just changed her name
She don't really like to hang around with us no mo '
Wasn't nothing like that back in '94
She be falling in the spot with a fat aass grin
Now she roll a Benz, she don't need no friends
She only really made it cause her skin is light
Don't nobody really understand that shit she write
She done made a million dollars ,she can give us some
She be having fun, shit we wanna have fun
Seen her early in the morning looking bad as hell
Gon' be looking really funny when her shit don't sell
Airport, 'bout to miss a flight
Four carry-ons talking 'bout "pack light"
Oo, please, o, please give the queen her tea
I only come to the show cause i get in free", Kali ini Harry tak begitu banyak berjalan-jalan di sekitar panggung. Lebih banyak fokus pada ekspresi dan menekankan logatnya.
Ron memperhatikan dari jauh. Berusaha tak tersindir karena ia tahu yang Harry bicarakan adalah teman-teman di zaman karir awalnya ketika ia baru terbentuk.
Seseorang duduk di sebelah Ron. Ron berbalik karena merasa kehadiaran pria itu sedikit mengganggunya.
Ron terbelalak sebentar ketika ia dihadapkan dengan seringai sombong dan mata kebauan, juga rambut pirang.
"Kau?"
"Hi juga Ron.",Draco Malfoy menipiskan senyumnya dan kembali menatap ke arah Harry.
Harry berdiri di tengah panggung dan kakinya seakan membeku.
"Friends, fans, artists must meet
Which one are you, which one is me?
Friends, fans, and artist must meet
Which one are you, which one are me?"
Kertas A3 terakhir terangkat. Draco bersama seluruh penonton bahkan bartender Daniel tersihir untuk sama-sama berkata dalam satu komando yang tak pernah ada,"ARTIST!"
Ron merasa tidak yakin sebelumnya, tapi Harry kini menatap ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah pria disampingnya. Jangan-jangan? Harry yang mengundangnya.
Seperti membaca pikiran Ron, Draco hanya menjawab singkat,"Ya." Dengan suara berbisik yang misterius.
"Folk in my face cause I'm a superstar",Harry membuang tiga kertas A3nya ke kerumunan, dengan wajah seangkuh yang ia bisa.
"People's hang around cause of who I are
Get a lot of love cause of what I got
Say they happy for me, but they really not", Harry maju selangkah setelah menyelsaikan bait itu.
"Sell a lot of records and I roll a Benz
Fall up in the spot, now I'm losing friends
All I wanna do is give the world my heart
Record label trying to make me compromise my art ?", Setahu Ron itu bukan kalimat tanya. Tapi Harry membuatnya bernada tanya dan seakan menjawab pertanyaan pemuda itu Draco mengangguk.
"Make a million dollars, make a million more
Tax time come around, still a people po'
I wanna say wait, but I'm scared to ask
The world start spinning and it's moving fast",Harry memutar kepalanya dan berdirinya mulai terlihat tak tegak. Pengaruh adrenalin dan alkohol disaat bersamaan.
Harry kembali bicara, memegangi kepalanya yang baik metafora maupun literal terasa berputar.
"Try to stay sane, it's the price of fame
Spending my life trying to numb the pain", Harry menunjuk urat nadinya, menggambarkan gesture menyilet dan beberapa penonton menahan nafasnya. Draco menarik nafas, berusaha memblock bayangan Harry yang benar-benar berusaha mengakhiri hidupnya.
"I shake that load off and sing the song
Liberate the mind and I go on home",Harry berbalik pada kata terakhir. Bersamaan dengan riuh tepuk tangan. Berbisik kecil pada mic di tangannya namun sebagain besar penonton tak mendnegarnya jelas,"For you, Drac."
Ia dihentikan oleh MC sebelum benar-benar turun dari panggung dna diminta memberikan kesan dan pesan. Harry hanya mengucapkan terima kaish dan selamat malam. Menuruni panggung, menemui Ron.
"Dia menghilang begitu saja."Ron menyambut Harry dengan segelas penuh Guiness di tangannya.
"Aku tidak memintanya untuk tinggal."
"Tapi Kau memintanya datang."
Harry hanya mengeluarkan seringan yang kini menurut Ron membuatnya terlihat mirip seperti Draco, si pangeran Malfoy yang dibuang. "Yah."jawabnya setelah selesai menenggak habis isi gelasnya. " Aku juga berkata padanya, Tapi dengan satu syarat jangan sampai Aku melihat wajahmu".
HaileyforDrarry
+DracoMalfoy What wish that you still hoping to happen?
Draco Malfoy
+HaileyforDrarry I wish he always be happy:)
Hujan tidak begitu deras mengguyur London. Beberapa pejalan kaki memilih berteduh, mencari kafe atau sekedar halte bus.
Harry potter? Ia memilih berlari dengan celana olahraga panjang dan jaket anti air.
Melewati beberapa kali sebuah rumah yang sudah lama berganti penghuni.
Rumah tua dengan tanaman-tanaman bonsai dan sebuah pohon kayu hijau, Harry tidak yakin apa jenisnya.
Harry pernah berkunjung sekali, setelah ia kembali dari sebuah syuting pertamanya lagi sebagai pemeran utama. Alih-alih ibu-ibu tua dengan senyum ramah yang memberinya sebuah pohon karet yang tak nampak begitu sehat, ia bertemu seorang wanita muda. Dengan dua anak kecil, kembar laki-laki yang bersembunyi dibalik rok panjang yang dikenakannya.
Harry membawa kue chiffon yang sepertinya cocok untuk minum teh. Ia ingin mengobrol dengan wanita tua ramah yang memberinya pohon bonsai tanpa menyanyakan namanya, atau sebaliknya, memberitahu namanya.
Tapi wanita tua itu sudah tak ada.
Perempuan muda dengan dua anak kembar berkata ia dan suaminya membeli rumah itu dari pemilik sebelumnya lewat perusahaan perantara. Ia tidak tahu kemana perginya ibu tua dengan senyum ramah.
Jadi, Harry memberikan kue chiffonnya dan pergi.
Itu sudah sekitar 3 tahun lalu. Harry tak yakin. Tapi ia masih berlari melewati rumah itu setiap kali ia merasa perlu berlari.
Sepatu nikenya basah dan berlumpur. Hermione akan marah padanya jika ia terkena flu karena berlari di tengah hujan tanpa sarapan pagi sebelumnya.
Harry berhenti terlalu lama sepertinya di depan rumah itu, dan seseorang yang tetap berlari dengan jaket hitam di tengah hujan sepertinya mencurigakan. Harry melihat sebuah mobil patroli polisi lalu lintas mendekat. Jadi, ia melanjutkan joggingnya sebelum mobil itu terlalu dekat.
Karena sesungguhnya Harry tidak punya alasan bagus jika ada yang bertanya apa yang ia lakukan berlari di tengah hujan mengitari rumah orang asing dan berpenampilan seperti penculik anak atau pembunuh berantai?
Harry memikirkan sebuah alasan sambil berlari kecil melewati jalan pulang ke apartemennya. Halamannya kosong kini setelah para wartawan dan papparazi akhirnya harus mengalah pada hujan yang cukup deras dan tenda darurat mereka dihancurkan angin kencangnya tadi malam. Harry tidak bisa menyalahkan kengotototan mereka. Berita adalah penghasilan mereka, terlepas dari akurat atau tidaknya sebuah berita. Dusta atau fakta. Lagipula apa itu nyata?
Bertahun-tahun bekerja dan dibayar untuk memainkan peran?
Harry terkadang lupa bagian mana dari dirinya yang sebenarnya dia?
Harry berhenti berfikir ketika sebuah bayangan payung dan sepasang tungkai panjang mensejajari langkah larinya,"Kau tahu, kedengarannya mungkin romantis menunggu seseorang yang kau cintai di bawah hujan, tapi sesungguhnya tidak juga..."
"Drac?"
Draco berhenti langkahnya dari mengikuti Harry ketika mendengar namanya disebut tadi. Harry ikut berhenti. "Kau memanggilku apa tadi?", ujar Draco sambil kembali memayungi wajah Harry yang untuk sesaat kembali ditindas air hujan yang makin mengganas.
"Drac.", ujar Harry datar, dengan sedikit senyum di ujung suaranya. "Kau tidak memayungi dirimu kau tahu?"
"Ya.."ujar Draco. "Ya." Lalu ia menarik nafas. "Aku berharap melihatku kehujanan seseorang akan cukup berbaik hati untuk mengundangku ke apartemennya untuk secangkir teh?"
Harry terkekeh. "Aku kehabisan teh, tapi kurasa aku punya cokelat hangat..."ujarnya sambil kembali berjalan menuju apartemennya dan Draco mengikutinya di sebelahnya.
"Orang inggris macam apa yang bisa sampai kehabisan teh di rumahnya?", tanya Draco sambil mereka berjalan. Harry tidak menjawabnya. Hanya melempar tatapan amused ke arah Draco dan melanjutkan berjalan.
Draco tidak mengerti dengan undangan lewat email untuk datang ke pembacaan puisi, namun dengan syarat jangan sampai mereka bertatap muka. Ia tidak mengerti dengan undangan untuk datang ke apartemen Harry. Dan tentu ia lebih tidak mengerti lagi bagaimana sekarang ia bisa berada di balik pintu apartemen Harry, basah kuyup, namun menikmati ciuman panas dari Harry yang menjebaknya dengan tubuhnya dan pintu kayunya.
Harry mendesah. Dan semuanya tedengar tak lagi realistis begitu Harry dengan tangannya yang basah mengusapi pipi Draco. Emeraldnya dipenuhi nafsu dan pertanyaan. Kebingungan yang sama besarnya yang mungkin ditampakan kilau kelabu Draco saat ini.
"Kukira aku datang untuk cokelat?",Draco bertanya akhirnya setelah ada cukup oksigen di otaknya untuk membuat serangkai kalimat.
"Ya."Harry menciumnya lagi. Sebuah ciuman kecil yang kali ini lebih berkesan manis dan main-main. "Asal Kau menjawab satu pertanyaan."
Dada keduanya menempel. Jas kerja Draco yang mahal bertemu dengan jaket parasut Harry. "Yes..?"Jawaban Draco keluar ragu.
Harry mengeluarkan smirk yang tidak Draco kenal sebelumnya. Hampir berkesan antagonis di wajah sendu Harry yang puitis. "I can't be bought, but I can stolen with one glance. I wothless to one, but priceless to two. What am I?"
Draco mengernyit. Harry menjauh. Dan Draco hampir secara tak sadar secara otomatis berusaha menjangkau Harry.
Tubuhnya meskipun sesaat merasa terlalu butuh dengan kehangatan yang Harry tawarkan.
"Kau bisa menjawabnya?" Harry tersenyum dengan senyum sendu bodohnya. "Atau Kau keluar sekarang dan mungkin kita bicara ketika kita berdua sudah lebih siap?"
"Harry..", Tangan kanan Draco berusaha menjangkau tubuh Harry yang sekejap tadi ada di pelukannya namun kini terasa berjuta milyar cahaya jauhnya.
"Kau kebingungan."
"Karna semua ini membingungkan. Sikapmu membingungkan."nada bicara Draco, ia jaga hati-hati sekali agar tidak naik.
Harry memeluk tubuhnya sendiri. "Ya. Karena aku menginginkanmu. Tapi yang Kau lakukan sebelumnya selalu membuatku ketakutan."
Harry menahan suaranya yang akan pecah, mengulang kalimat yang sama sebelumnya," Kau bisa menjawabnya? Atau kau keluar dan kita bicara ketika kita berdua sudah siap?"
Draco menatap emerald Harry. ketakutan dan kebingungan di dalamnya.
Merasa bersalah terhadap perlakuannya sebelumnya.
"Aku akan keluar. Tapi berjanjilah Kau akan baik-baik saja?", Harry tersenyum kecil.
Dan Draco meninggalkannya. Bersama sejuta keraguan apakah ia melakukan hal yang benar?
TBC
Happy New Years Guys...!
Anggaplah kado tahun baru dan permintaan maaf. Maaf kalau berkesan terburu-buru dan seadanya. Tugas di tingkat akhir bikin mau pecah kepala...hahahahahah*nangis di pojokan*
Terima kaish buat yang sudha mau menunggu dan maaf karena sekali lagi , lama ya updatenya. Saya sudah mau updtae dari akhir oktober tapi ide di kepala stuck. Begitu udah ada idenya di akhir november eh modemnya rusak jadi ga bisa buka ffn karena kalau paka modem yang satunya kena internet bersih, atau sehat , atau apalah itu whatever. Jadi bisa buka ffn tapi ga bisa buka buat log in.
Thanks buat Yoitedumb yang sampe nge-pm.
Disclaimer tambahan : lirik lagu Oh Miss Believer by twenty one pilots, buat adegan piringan hitam.
Friends, fans & artist must meet by erykah Badu, buat adegan pembacaan puisi.
Swingin' party by Ella Marija Lani Yelich-O'Connor a.k.a Lorde. Muehehehehe...
Terus buat teka-teki di adegan terakhir yang Harry tanyain ke Draco itu dari kata-kata Edward Nygma dari series Gotham Season 3 episode 4.
Kalau ga salah sih segitu aja... Kalau ada salah-salah maaf. Kalau banyak typo maaf. Maaf kalau chapter ini kurang meuaskan.
Mudah-mudahan taun ini saya bis aberkarya lebih serius. Amiiiiin.
Salah sejahtera dan damai buat kita semua.
Salam Kecup Basah, Erelra.
