Part 8
Orang-orang bicara soal hari
Suatu hari
Pada suatu hari
Aku bermimpi tentang hari
Hari dimana hujan tak menghapus rasa bibirmu pada bibirku
Hari dimana hal itu terjadi...
Hari dimana aku akan berhenti bermimpi
Dan kita bersama lagi
-Pagi, hari dimana Harry berhenti bermimpi-
Jam alarm berbunyi nyaring di kamar Harry. Harry merasakan tubuhnya sulit bergerak untuk menjangkau benda yang seharusnya cuma berjarak sekitar 50 cm dari posisinya kini. Harry berusaha berfikir menggunakan rumus fisika tentang kemungkinan daya gravitasi menahannya bangun, lagipula gravitasi ranjang sepertinya lebih besar dari kebanyakan tempat. Harry mulai berfikir bahwa ada alasan universal kenapa orang-orang lebih memilih terlambat daripada meninggalkan tempat tidur mereka. Pasti garvitasi. Pikir Harry. Tapi lalu alarm Harry mati, tidak mati dengan sendirinya. Tapi ada tangan lain yang menjangkau alarm jam itu. Harry dibuat pusing karena tangan itu bergerak bersamaan dengan tubuh lain yang ternyata setengah menindih tubuh Harry.
Oke. Harry tahu ini terlalu pagi untuk memikirkan soal gravitasi atau rumus fisika lain.
Dan jelas terlalu pagi untuk menyikut sekuat tenaga tubuh seseorang yang tiba-tiba memeluk Harry lagi begitu ia selesai mematikan alarm.
Sebelum orang yang Harry sikut itu sempat berkata 'awww' dengan suara dalamnya, Harry sudah memenuhi ruang suara di kamarnya dengan bunyi 'bruk' yang cukup kencang. Dan menyakitkan karena itu tubuh Harry yang berusaha menjauh dari tubuh siapapun-orang-yang-barusan-memeluknya-dari-belakang-dan-mematikan-jam–wekernya. Harry sedang sibuk memikirkan nickname lain ketika tubuh tersebut bersuara dan Harry langsung mengenali suara merdu dan dalam pria itu.
"What the f*ck, Harry!" Malfoy. Harry memiringkan kepalanya dan memasang tampang bingung.
Oh. Harry terdiam detik berikutnya begitu teringat kejadian semalam.
Oh. "Sorry?" Harry menawarkan pesan perdamaian dengan nada tidak yakin. Draco hanya memutar bola matanya sambil terus sibuk memijat bagian ulu hatinya yang jadi korban sasaran sikutan Harry.
"Kau bilang, kau tidak keberatan 'being the little spoon'?" Harry berpikir sesaat, ya dia tidak keberatan. Masalahnya adalah ia baru saja mendapat serangan panik karena ia lupa bahwa semalam ia pergi tidur dengan Draco Malfoy dan setuju untuk, you know, cuddling?
"Sorry..." Harry menawarkan lagi. Kali ini ia kembali ke atas ranjang dan mendekati Draco hati-hati. Dan dengan sangat manly berusaha mengeluarkan pupyy eyes andalannya agar Draco cepat memaafkannya.
"Yeah... whatever..." Draco menghentikan sesi pijat mandirinya dan melebarkan tangannya, menginstruksikan agar Harry mendekat ke pelukannya.
Harry memamerkan wajah skeptis sebelum perlahan mendekat dan membiarkan Draco memeluknya.
"Kau panik." bukan pertanyaan, pikir Harry. Draco menjadi pembaca pikiran yang baik sejauh ini.
"Untuk sesaat aku lupa bahwa semalam aku mendapat kekasih baru?"
Draco berhenti mengelus rambut Harry untuk sesaat. "Ya..." Draco mencium rambut Harry yang 10 kali lebih berantakan karena ia baru saja bangun tidur. Ya. Pikir Harry.
Kekasih kedengaran asing di telinga keduanya.
Tapi kata itu adalah bagian dari nama hubungan mereka saat ini.
"Berapa lama biasanya kau beradaptasi dengan suatu hal baru dalam hidupmu?"
Selamanya? Suara tak yakin keluar dari pikiran Harry. Jadi untuk mengulur waktu Harry mengeluarkan suara menggumam tanda ia sedang mempertimbangkan sesuatu. "Cukup lama..."
"Menurutmu aku harus mulai tidur dengan kostum rugby untuk menghindari cedera jika setiap pagi aku harus dibangunkan oleh sikutan?"
"Nah..." Harry menjawab, lalu tertawa tergelitik.
Ini terasa seperti mimpi. Angan-angan yang akan hancur dalam beberapa detik begitu alarm di jam Harry benar-benar menyala kali ini.
Tapi hangat tubuh Draco terasa begitu nyata dan dekapan eratnya menyulitkan nafas Harry. semua terasa manis. Dan Harry menunggu sesuatu terjadi.
Mungkin gempa bumi atau ledakan granat.
Harry tahu ia tidak berada di Jepang atau Suriah. Tapi detik sempurna seperti ini membuatnya ketakutan.
Ia selalu merasa asing dengan kebahagiaan. Dan ketika sesuatu yang sempurna terjadi padanya itu terdengar seperti pembuka lelucon lain dari kehidupan untuknya. Ia merasa seperti itu ketika ia memuncaki karirnya di usia muda. Ia merasa seperti itu ketika Cedric berkata mencintainya. Ia merasa seperti itu ketika ia mendapat pekerjaannya kembali sebagai aktor.
Dan sekarang Draco yang mendekapnya.
Draco yang menciumi rambutnya.
Pelipisnya.
Hidungnya.
Bibirnya.
Harry merasakan sengatan listrik kecil dari bibirnya mengalir ke seluruh tubuhnya.
"What do you think for breakfast?" Draco bertanya. Melepaskan pelukannya pada Harry dan mulai bangkit dari ranjang.
Kaki jenjangnya melangkah perlahan menuju meja rias cokelat kehitaman di dekat lemari baju Harry yang hitam besar. Merapikan tatanan rambutnya yang juga cukup berantakan di pagi Harry. He is adorable, pikir Harry. Lalu menggeleng perlahan dan mulai menjawab, "Aku tidak punya banyak bahan masakan, kurasa roti panggang dan telur mata sapi?"
"Kuharap kau punya jus apel atau orange."
Harry menggeleng lalu sambil terkekeh sambil mengganti kata maaf, "Tapi aku punya kopi?" Harry menawarkan sambil ikut bangkit.
Mendekat ke arah Draco dan mengambil sisir. Karena jika rambut Draco bisa dijinakkan hanya menggunakan jemari jenjangnya, rambut Harry akan butuh lebih dari satu sisir untuk benar-benar terlihat rapi.
Draco menunggu di depan pintu kamar Harry, menatap Harry yang bergumul dengan rambutnya. Harry yang sadar diperhatikan mengarahkan tatapan curiga pada Draco. "What?"
"Kopi juga?" tanya Draco, terdengar seperti pengalihan isu bagi Harry.
Tapi Harry menjawab, "Ya, dengan krim dan gula yang banyak. Beberapa manusia punya toleransi rendah pada rasa pahit, Drac..."
Draco terkekeh mencemooh. Harry merasa flashback pada hari-hari syuting Folie a Deux. "Yeah... I can work with that..." Draco dengan langkah santai kembali mendekati Harry dan mencium kening pemuda itu.
Lalu pergi begitu saja, meninggalkan Harry yang terbengong-bengong dengan kelakuan Draco barusan saja. "One day you're gonna give heart attack, d*ckhead!!" Harry berteriak ke luar kamar.
Draco balik berteriak dengan nada kelewat manis, "You're welcome, sweetheart..."
Harry melanjutkan pekerjaan menyisirnya sambil terkekeh.
Yeah, we can work with this.
-Beberapa hari, sebelum hari dimana Harry berhenti bermimpi-
"Kau tidak akan memperbaiki apapun, kau tahu itu?"
Harry berbalik dari cermin, memeriksa riasan matanya untuk pemotretan hari ini. Melirik Hermione yang sedang menyeruput pelan Starbucksnya setelah komentar tadi. "Aku tidak sedang memperbaiki apapun."
"Aku tidak sedang memperbaiki apapun." Hermione meng-copy kalimat Harry dan mengeluarkannya dengan anda mengolok-olok. Harry membiarkannya saja. Ia sedang tidak dalam mood untuk bertengkar.
2 hari lalu ia menceritakan kejadian sehabis hujan antara ia dan Draco pada Hermione. Gadis itu tidak begitu bisa menerima alasan Harry yang melepaskan Draco, hanya karena ia tidak bisa menjawab teka-teki. "Kau terdengar konyol, kau tahu itu?" Harry tidak yakin sejak kapan. Tapi Hermione sekarang sudah seratus persen berada di pihak Draco.
"Ia bisa saja bertahan jika dia mau..." suara Harry keluar lemah. Ia mengingat hari itu, tatapan Draco padanya hari itu. Kilatan kesedihan seraya kepasrahan yang absolut dalam matanya.
Harry mengerti bahwa Draco tahu pasti, hari itu bukan keputusannya untuk bertahan.
Itu keputusan Harry.
Harry tidak belajar medis, tapi ia tahu kesedihan semacam itu bisa mengancam kesehatan jiwa.
Harry merasakannya sebelumnya.
Jika ia keras kepala untuk menolak kembali pada Draco saat ini, itu bukan karena Harry tidak peduli. Ia hanya... entahlah.
Sesuatu menahannya.
Keraguan...?
Bisa jadi.
Seseorang seperti berbicara dalam kepala Harry setiap kali Harry melihat telepon genggamnya dan begitu saja membuka kontak nomor telepon. Jarinya menari ragu di depan kontak itu. Dan setiap kali ia mencoba memantapkan hati untuk menyentuh kontak itu. Deret nomor itu.
Seseorang mengusik.
Seseorang di kepala Harry berbisik.
Kau yakin ia akan berubah?
Kau yakin dia sudah berubah?
Apa kau bisa berubah?
Si pelacur yang merebut kekasih orang dan menyebutnya cinta? Hah? Kau tidak berharga Harry...
Semua orang melihat seperti yang Cedric lihat.
Semua orang melihat seperti yang Draco lihat.
Seorang lelaki murahan yang jatuh cinta pada lelaki-lelaki yang jelas terlalu jauh dari kelasnya.
Dan Harry akan menutup mata. Berusaha keras untuk tidak berteriak. Genggaman tangannya yang begitu kuat membiru.
Ia berusaha menghindari pandangan siapapun. Bahkan pantulan dirinya sendiri.
Karena di sana ada kelabu. Di iris hijau yang berukir sembilu.
"Harry!" Lelaki dengan kontak lens hitam itu terbangun dari lamunannya. Akhir-akhir ini ia tak butuh tertidur untuk mimpi buruk.
"Kau baik-baik saja?" suara Hermione lagi. Seakan kekesalannya sebelumnya sama sekali tidak ada, Hermione kini bernafas dengan penuh kecemasan.
Kau hanya beban.
"Ya... Aku baik-baik saja..." suara monoton Harry tak mengelabui siapapun. Termasuk Hermione yang mengernyit dalam dahinya.
"Kau yakin...?" Hermione bertanya hati-hati. Di belakang Hermione sekretaris fotografer yang akan memotret Harry siang ini mendekat. Mengisyaratkan mereka akan segera mulai.
Kau seonggok sampah.
"Ya..." ujarnya pelan. Kemudian bangkit.
Harry membiarkan perisanya merapikan lagi eyeliner di matanya. Tema hari ini gothic. Harry terlihat gelap dan antik.
"Kalau kau mau, aku bisa membuat schedule hari ini dikurangi..." Hermione gadis cerdas. Ia tidak mudah dibohongi.
Tapi satu hal soal Harry, ia mungkin bukan pembohong ulung.
Namun ia bisa dengan keras kepala berdusta.
Jadi ia tersenyum. Seharusnya sayatanmu malam itu lebih dalam lagi.
"Tidak perlu." Semua orang bisa hidup lebih baik tanpamu.
Harry tahu ia memaksakan senyum. "I'm fine."
Ya. Seharusnya aku sudah mati.
riddlemethatriddlemethis
+HarryPottah wut's ur favorite song, my most handsome prince?! Xoxo
HarryPottah
+riddlemethatriddlemethis 1)I'm ugly little bean & 2)for now? Maybe landslide3
kawaisuma
+HarryPottah ARE YOU BLIND?! U're the cutest thing from England. XO fromTokyo
HarryPottah
+Kawaisuma I AGREE. U'r the cutest letter.
"He looks fine..." Blaise mengomentari foto terbaru Harry yang Draco pesan khusus untuk dibelikannya tadi pagi. "Kau tidak akan menggunakannya untuk masturbasi kan?" Draco berhasil melempar deathglare terkejam yang pernah dilemparkan kepada manusia sepanjang sejarah.
"Just saying..." Dan Blaise lebih berhasil lagi memasang tampang tidak pedulinya. "Maksudku ada semacam kode etik untuk tidak melakukan 'itu' menggunakan imajinasi tentang mantanmu?" Blaise memainkan alisnya. Melempar tampang yang Draco kategorikan 'tidak senonoh' dalam kamusnya.
"Kami tidak pernah menjadi pasangan..." Blaise mendiamkan respon melankolis Draco. Mereka sedang menikmati sisa jam makan siang mereka yang dimulai terlambat di sebuah restoran bintang lima.
Hari ini ada rapat besar di brand perfume milik Draco.
Beberapa pemodal mempertanyakan keabsahan Draco sebagai pemimpin project mereka setelah dirinya tidak diakui lagi sebagai keluarga Malfoy.
Tapi sebuah surat perintah yang jelas ditandatangani Lucius Malfoy berhasil membungkam mereka untuk sementara waktu.
Sialnya saja surat itu tadi datang terlambat sehingga perdebatan sengit terjadi. Setengah jam terakhir sebelum rapat berakhir, setelah menghabiskan hampir 3 jam di dalam ruangan oval tersebut, Blaise mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk menulis surat resign pada perusahaan tempatnya bekerja hampir 5 tahun terakhir ini.
Entahlah.
Sesuatu tentang menyaksikan Boss kesayangannya dihina habis-habisan oleh para pemberi modal sok suci itu, membuat Blaise muak luar biasa pada bisnis ini.
Ia berpikir untuk membuat tyler durden versinya sendiri dan meledakkan seluruh perusahaan dan anak perusahaan Malfoy.
Atau mungkin memulai protes di jalan-jalan dan membawa poster bertuliskan 'Hentikan Kapitalisme! Hancurkan TIRANI MALFOY!'
"Hentikan wajah itu Blaise, berapa kali kukatakan meskipun aku bukan Malfoy lagi aku tidak akan mengikutimu untuk menggelar longmarch menentang nama keluargaku sendiri..." ujar Draco santai sambil membalik halaman selanjutnya yang masih berisi foto-foto Harry. Blaise hanya memasang pouting yang paling tidak manly di wajah manlynya. Draco mengkerut. Satu kata dari ekspresinya terbaca. Disgusting.
Jadi ia memustuskan untuk kembali fokus pada Harry dibandingkan menanggapi Blaise. Draco menyukai tema pemotretan ini. Harry jarang sekali bergaya seperti ini. Draco sedikt terobsesi dengan aura gelap yang dikeluarkan Harry dari tidap fotonya.
Seperti ia menggunakan topeng tanpa memakai topeng.
Seperti bukan dirinya yang menggerakkan dirinya.
Harry dengan balutan baju serba hitam dan berdiri di sebuah ruangan dengan hiasan patung hitam yang menggambarkan mahluk bersayap dengan tanduk besar dan mata yang tajam. Harry terlihat berkuasa namun di saat bersamaan terkungkung sesuatu.
Draco menyukai sesi foto ini dibandingkan sesi-sesi foto yang lain yang kebanyakn memperlihatkan image Harry sebagai sosok yang polos, suci atau terkadang sedikit kekanakan. Beberapa lebih menjurus ke sexy, dan oke, Draco juga menyukai tipe-tipe foto sexy Harry.
Tapi entahlah, ia memfavoritkan foto ini dibanding foto-foto yang lain.
Bagaimana Harry memotret kekosongan dalam matanya? Bagaimana senyumnya tak terasa menginterpretasikan kebaikan. Tidak juga kejahatan. Hanya plain saja. Dull.
Tak ada makna.
Hal ini menggetarkan Draco. Sekaligus membuatnya khawatir.
"Kau menyadarinya?" Blaise mulai bicara lagi setelah menyelesaikan memakan es krim coklat yang ditaburi puding coklat dengan sirup vanilla dan stroberi sebagai penutup mulutnya.
"Apa?" Draco akhirnya melepaskan fokusnya dari majalahnya dan menutup majalah tersebut. Menaruhnya hati-hati di meja sehingga posisinya menurutnya cukup aman, tidak terlalu tengah dan terkena makanan dan tidak terlalu pinggir kalau-kalau majalah itu sampai terjatuh.
"Hermione bercerita padaku..." Draco memutar bola matanya menanggapi persahabatan/kemitraan aneh yang terjalin antara Blaise dan Hermione. "Shut up..." ujar Blaise kesal baru kemudian melanjutkan kembali kalimatnya. "Jadi, kami tidak sengaja bertemu kemarin di kedai kopi. Harry sedang melakukan wawancara dengan sebuah statiun radio di dekat agency kita. Ia bilang akhir-akhir ini Harry seperti mengalami regresi."
Draco menelan protesnya soal kenapa Blaise tidak bercerita soal hal ini lebih cepat dan fokus pada pertanyaan lain, "Maksudnya?"
"Kau tahu Harry pernah depresi beberapa tahun lalu?"
"Maksudmu setelah Cedric dan ketika ia mulai meniti karirnya lagi di dunia akting?"
Blaise mengangguk. "Menurut Hermione, Harry sedikit mengeluarkan symptom-symptom itu lagi. Kau tahu... semacam withdrawal."
"Semacam relapse?" Draco bertanya. Sekedar meyakinkan mereka membicarakan hal yang sama.
"Ya... entahlah. Harry masih mengerjakan tugasnya dengan baik sejauh ini. Namun, ia semakin berusaha mengurung diri di kamar. Hermione bilang ia menolak acara sosialita beberapa kali selama sebulan terakhir ini."
"Tapi, kau tahu, dia kan sedikit introvert." Draco mengusir khawatir di hatinya. Tapi sisi itu mengusiknya dan ia menatap mata kosong Harry pada sampul majalah.
Harry dengan tuxedo serba hitam. Iris matanya yang juga dibuat hitam. Atau mungkin kontak lens. Mungkin kontak lens yang membuat matanya. Tatapannya. Terasa jauh. Terasa tak hidup.
Ya... "Entahlah." ujar Blaise sambil menyendok dari es krim bosnya yang sama sekali tidak tersentuh. Ia pikir, Draco bukan Malfoy lagi. Jika ia memesan sesuatu, seharusnya tidak ada yang terbuang. Bukan saatnya foya-foya jika hak warismu dicabut begitu saja kan?
Namun Draco nampaknya tidak peduli.
Ia hanya sibuk menatapi sampul majalah itu.
Harry yang menciumnya sore itu.
Draco yang terlalu pengecut untuk memperbaiki hal ini sebelum semuanya sehancur ini.
Harry berlari lagi. Sudah bolak-balik 3 kali mengelilingi kompleks aparetemen, perkantoran dan taman-taman kecil yang mengisi kawasan sekitar rumahnya.
London cerah hari ini.
Harry menggunakan jaket hoodie putih dan celana training abu. Hari ini ia tidak berdandan seperti penculik anak. Dan sepertinya itu berhasil membuatnya tidak dikuntit mobil polisi.
Di kantung celananya ada sebuah botol biru. Prescription dari psikiatrisnya untuk menanggulangi perasaan kelam yang menguasainya beberapa hari terakhir.
Sejak Draco datang menciumnya ke apartemennya.
Tidak, sebelum itu.
Sejak Cedric mengiriminya kabar dan meminta bertemu.
Tidak, sebelum itu.
Sejak penolakan Draco untuk bertemu.
Ya, mungkin itu.
Harry berusaha untuk tidak meminumnya. Setiap kali meminumnya tenggorokannya akan sangat kering dan ia merasa semua tulangnya sakit. Anti-depresan sama sekali bukan gula-gula yang Harry sarankan untuk dimakan siapapun.
Tapi akibat dari tidak meminum obat ini kentara sekali. Harry tahu betul.
Ia menjadi distant.
Ia lebih seperti tidak bisa bergerak terkadang. Saat ia melakukan pekerjaannya. Pikirannya tidak ada di sana.
Dunia terasa berputar 20 kali lebih cepat di sekitarnya.
Terasa seperti semua melaluinya begitu saja.
Dan ia hanya terdiam.
Harry adalah patung tua selamat datang. Di tengah lalu lintas kota metropolitan.
Usang.
Tak bergerak.
Dan psikiatrisnya berusaha memberinya pilihan untuk rehat, menjalani terapi dengan pemberian obat yang tak setinggi dosis yang ada di kantung celana Harry.
Jadi, Harry memilih berlari. Harry berlari perlahan. Lalu mempercepat langkahnya. Memperpanjang jarak dirinya dengan kenyataan.
Tapi ia masih berputar di lingkungan yang sama. Dan semua tidak berguna.
Berusaha agar beban di kantong celananya tak terasa.
Berpura-pura ia seperti orang normal biasa.
Berlari pagi untuk kesehatan fisik.
Bukan berusaha menenangkan setan di dalam kepalanya.
Bukan berusaha melupakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan kimiawi di otaknya.
Just kill yourself already...
Harry tersenyum pada gadis remaja tanggung yang sepertinya kaget bukan main melihat pemain film kesayangannya berlari melewati taman kecil di lingkungannya.
You think people really like you?
Harry berhenti, mengatur nafas.
They're just pretending.
Harry memperhatikan pasangan kakek-nenek yang saling tuntun melewati taman.
Kau akan sendirian selamnya.
Harry mempercepat larinya. Berusaha tak bertemu pandang dengan siapapun. Ekstra hati-hati dalam melangkah ketika menyebrang jalan. Setengah pikirannya menginginkan Harry berhenti begitu saja dan membiarkan dirinya tertabrak mobil truk pindahan. Tapi setengah dirinya berusaha melawan dan memaksakan kakinya untuk sampai ke seberang jalan.
"Harry!" Harry melihat sesosok gadis melambai ke arahnya. Jarak Harry dan gadis yang kini berdiri tepat di depan apatemen Harry tersebut masih sekitar 50 meter. Operasi lasik Harry menyisakan minus setengah pada tiap matanya. Jadi, ia tidak begitu mengenalinya awalnya.
Ketika ia semakin dekat.
Harry tidak tahu apa yang harus dirasakannya. Melihat senyum malu-malu Chochang padanya. Mungkin sebaiknya ia menampar dirinya sendiri atau melemparkan tubuhnya ke tengah jalan dan menunggu beberapa detik sebelum sebuah mobil yang melaju menabrak dirinya.
"Hi!" ujar perempuan dengan rambut panjang lurus itu dengan casual. "Mau menemaniku minum kopi?"
Jadi Harry menahan nafas. Melihat senyum malu-malu Chochang padanya.
Scarlet Lover adalah tipe tempat nongkrong anak muda gaul London. Cafe yang biasanya Harry hindari untuk sekedar nongkrong.
Terlalu ramai.
Terlalu bising.
Terlalu pengap untuk Harry yang introvert sekaligus awkward dalam kebanyakan situasi sosial.
Ya, tentu Harry terbiasa untuk bersikap sopan. Tapi hanya sopan. Harry tidak tahu bagaiamana harus mulai berbicara dengan orang baru. Itu sebabnya kebanyakn lawan mainnya harus lebih dulu membuka diri agar Harry bisa terbiasa dengan mereka.
Atau mengajaknya bertengkar setiap saat seperti Draco. Yap. Itu juga berhasil.
"Mereka punya menu aneh semacam creamy foam 3D dengan bentuk-bentuk khusus film-film Disney. Kau tahu?" Harry menggeleng sekedarnya, lalu kembali menekuni menu di tangannya. Kebingungan apa yang harus dipilihnya saat ini.
Kira-kira minuman apa yang bisa membuat dosa-dosamu termaafkan? Harry menjadi selingkuhan kekasih gadis ini ketika ia masih remaja. Dan mereka tidak pernah berbicara lagi setelah berita membombardir mereka. Setelah Harry dan Cedric tertangkap basah. Setelah Cedric meninggalkannya dan lebih memilih Cho, tentu saja.
Secara personal. Chochang adalah pribadi yang likeable. Sweet dan sedikit datar menurut Harry untuk tipe seperti Cedric. Begitu kesan pertama Harry pada Chochang. Masih seperti itu bahkan ketika Harry dalam fase denial soal perasaannya pada Cedric.
Ia sama sekali tidak merasa wanita ini sebagai pesaing atau semacamnya.
Ya, ia cemburu terkadang. Tapi ia cukup tahu diri saat itu.
Sesungguhnya, jika Cedric sama sekali tidak memulai inisiatif. Harry benar-benar lihai dalam menyembunyikan perasaannya. Dan mungkin hidup Harry tidak akan serumit ini.
"Mereka juga punya beberapa ramuan teh herbal yang sangat berkhasiat, kudengar..." Harry membalas senyum hangat Chochang padanya saat ini.
Gadis itu melambaikan tangannya dan salah satu pramusaji mendekati mereka. Ia mengucapkan pesanannya. Harry diberikan waktu beberapa saat sebelum akhirnya memilih meminum teh hijau saja.
"Well..." ujar Chochang menyidekapkan kedua tangannya di atas meja setelah pelayan mereka pergi membawa pesanan mereka.
"Kurasa aku berhasil mengejutkanmu?" ujar Chochang ringan. Gadis itu tersenyum hingga mata sipitnya makin menyipit.
Harry terkekeh kikuk "Sedikit..." Harry memainkan nadanya agar keluar seperti bercanda, mengikuti permainan Chochang sejauh ini yang membuat pertemuan kali ini seperti reuni antara dua teman lama yang sudah tak lama bersua.
Bukan pertemuan antara si pengkhianat dan gadis yang dikhianati.
"Kau terlihat sehat..." ujar Chochang menunjuk outfit Harry yang membuatnya seperti para pecinta olahraga.
Tidak juga sebenarnya.
Harry hanya hobi lari dari masalah. Like literally, lari dari masalah.
Sampai pada titik ia sadar bahwa masalahnya adalah dirinya sendiri dan ia tidak bisa menghindar. Tapi ia tetap berlari karena mengelabui dirinya sendiri terdengar seperti sebuah rencana. Yang mungkin akan berhasil.
"Kau juga terlihat baik..." ujar Harry membalas pujian. Suaranya terdengar seperti robot yang diprogram.
"Ya kan?" ada nada bangga di kalimat itu. Tapi kemudian lanjutannya menohok Harry, "Maksudku untuk ukuran seorang gadis yang dibatalkan perkawinannya oleh kekasih yang dipacarinya selama 10 tahun?"
Shit. Pikir Harry.
Apa ini artinya permainan dimulai? Seseorang seharusnya membunyikan gong.
Tapi lalu Chochang terkekeh melihat perubahan wajah Harry. "Tenang... aku tidak datang untuk membahas sakit hati atau semacamnya. Atau berusaha menyalahkanmu atau Cedric." Cho tersenyum sambil menutup buku menu di depannya. "Meskipun sebenarnya itu terdengar menyenangkan.. " ujar gadis itu dengan senyum yang lebih lebar.
Harry seharusnya membawa pistol. Tidak, dia tidak punya pistol di apartemennya. In fact, ia tidak memilikinya sama sekali. Hanya saja saat ini ia merasa seperti membutuhkan pistol untuk ia bawa kemana-mana. Tidak, tidak untuk pertahanan diri. Lebih untuk menembak kepalanya sendiri.
"Aku berkesimpulan, kau ingin membicarakan sesuatu yang penting?" Harry bertanya ragu. Suaranya lembut dan nyaris tak terdengar karena bersamaan dengan masuknya segerombolan gadis-gadis yang berjalan sambil bergosip.
Tapi Chochang mendengarnya. Karena kini senyum gadis itu menghilang, "Aku ingin memintamu menemui Cedric."
Harry dibuat mengernyit.
"Apa dia yang memintamu mendatangiku hanya untuk menanyakan hal ini?" nada suara Harry sedikit naik. Entah mengapa ia merasa setengah geram atas sikap Cedric. Ia marah untuk Chochang. Bagaimana ia bisa menyuruh mantan kekasih yang pernah diselingkuhinya, untuk mengatur pertemuan dengan mantan selingkuhannya?
"Tidak. Well, setidaknya secara langsung..." ujar Chochang, senyum kembali menghiasi bibirnya. Namun lebih tipis dan disaputi duka.
Harry dibuat tidak mengerti, terima kasih banyak.
Ekspresi adalah teka-teki silang mingguan di koran tua. Kau bertanya-tanya apa jawabannya, tapi koran berikutnya yang berisi jawaban sudah terlewat untuk kau baca.
"Dengar... ini mungkin akan terdengar aneh. Tapi aku tahu Cedric berhasil meyakinkanmu untuk bertemu dan mengobrol. Tapi kalian belum menyepakati waktunya..."
"Ya, dia bilang dia sedang keluar negeri untuk pekerjaan."
Chochang mengangguk. "Ya... anggap saja saat ini ia tidak bisa menghubungimu langsung. Tapi aku tahu ia ingin menghubungimu?"
Sebelum Harry sempat bertanya lebih lanjut pesanan mereka datang. Frappuchino untuk Chochang dan semacam teh tawar herbal untuk Harry.
Perbincangan mereka terpotong basa basi Chochang mengucapkan terima kasih untuk waiter mereka.
"Jadi, bagaimana keadaanmu?" entah mengapa tapi Chochang terburu-buru bertanya sebelum Harry sempat membuka suara untuk menanyakan lebih lanjut kalimat sebelumnya.
Harry mendesah. "Aku bukan tidak senang untuk membicarakan kehidupanku yang fantastic..." sarkasme bertaburan di kalimat Harry. Maksudku, ia masih menjadi aktor kelas dua yang diperas perusahaannya, ia tidak bisa memutuskan kontrak begitu saja, depresinya mulai kembali mengambil alih nalarnya dan hubungannya dengan Draco masih sangat mengambang. Everything is fantastic, thank you very much.
"Tapi apa maksudmu ia tidak bisa menghubungiku saat ini?"
Chochang memasang senyum super lebarnya lagi. "Yah... kau tahu... ia bepergian ke Cina dan biaya untuk menghubungimu sangat mahal di sana..."
Terdengar seperti omong kosong untuk Harry. "Dia bisa menghubungiku lewat internet."
"Kau tahu kan kalau pemerintahan Cina membatasi penggunaan internet?"
Ya, tentu Harry tahu. Tapi tidak seterbatas itu sampai Cedric harus menggunakan orang lain untuk sebagai burung pengantar pesan.
"Dia pergi ke Cina atau Korea Utara sebenarnya?" Harry bertanya. Setengah menyerah akhirnya.
"Nah... sama saja... Jadi, kau masih belum mengubah pikiran untuk bertemu dengannya kan?"
Harry terdiam sesaat. Jika ia ingin jalan keluar, ini jalan keluar yang ditawarkan padanya. Ia bisa menolak sekarang dan mengabaikan eksistensi Cedric lagi seperti 10 tahun terakhir hidupnya.
"Ya... Aku masih ingin bertemu dengannya..." Dan ekspresi teraneh Chochang saat ini adalah senyum terlebarnya sepanjang pertemuan hari ini.
Seakan ia begitu lega mantan kekasihnya bisa bertemu lagi mantan selingkuhannya, minggu depan, hari Sabtu, jam makan siang.
Dan jika Harry merasa hidupnya penuh dengan keanehan. Pertemuan tadi adalah salah satu moment teraneh dalam hidupnya.
"Kau berjanji tidak ada Draco Malfoy malam ini?!" Harry berbisik dan setengah berteriak secara bersamaan pada Hermione. Mereka sedang berada di pembukaan galeri salah satu teman Hermione Luna Lovegood, seorang seniman dan pelukis kontemporer. Gadis yang sedikit aneh tapi lewat Hermione, ia menjadi salah satu teman yang Harry percaya.
Ia senang membicarakan mahluk mistik dan legenda-legenda mitologis. Dengan nada suara seperti orang-orang yang sedang menjelaskan kondisi politik saat ini, atau kau tahu brexit. Atau Harry dan teman-teman aktivis LGBTQnya membicarakan undang-undang pernikahan sesama jenis yang hampir rampung.
"I swear... Aku mengecek dan Blaise bilang malam ini mereka harus menghadiri sebuah penggalangan dana untuk rumah sakit yang dinaungi anak perusahaan Malfoy..." Hermione mengikuti Harry yang bersembunyi di sudut tersepi. Dekat lukisan makhluk yang seperti burung dan seperti kuda menarik kereta, entahlah. Luna pernah menceritakan makhluk ini dan apa namanya pada Harry tapi ia sudah lupa.
"Oh? Begitu?", Harry terdengar frustasi dan tidak percaya. Ia meminum antidepresannya lagi secara rutin setelah 2 hari lalu bertemu Chochang. Lebih karena ia berpikir ia mulai berhalusinasi soal Chochang dan pertemuannya di cafe.
Entahlah. Harry ingat pulang ke apartemen dan tertidur. Tapi ketika bangun ia terlihat seperti tidak pernah keluar dari apartemennya sama sekali. Dan ia tidak suka ide bahwa ia mulai berhalusinasi jadi ia mulai meminum obatnya lagi. Dan ia benar-benar berpikir ia berhalusinasi melihat Draco Malfoy dari ujung ruangan 2 menit yang lalu, jika ia tidak cepat-cepat bertemu Hermione yang mengiyakan kedatangan Malfoy satu itu.
Tidak aneh memang jika Malfoy ada di sini.
Karena meskipun 'nyentrik' lukisan Luna cukup terkenal di beberapa negara Eropa dan gadis itu sudah punya nama sebagai salah satu seniman muda berbakat saat ini.
Sekali lagi ini acara sosialita.
Dan Harry menjebak dirinya sendiri karena ia tidak ingin mengecewakan Luna karena tidak hadir.
"Kurasa aku akan menemui Luna dan pamit..."
"Harry... jangan seperti anak kecil..."
"Dia tidak mengerti 'Mione... aku bertanya dan dia tidak mengerti. Dia keluar begitu saja dari pintu dan tidak bertahan. Jika dia benar-benar menginginkan ini..." Harry menunjuk dirinya. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Tapi ia tidak menginginkan ini! Tapi aku mengerti siapa yang menginginkan hubungan dengan tragedi sepertiku!" Harry tahu ia merendahkan dirinya saat ini. Dan ia sedikit merasa menyesal melihat tatapan terluka di wajah Hermione.
But it's true.
"kenapa kau tidak mencoba bicara?"
"Aku mencoba bicara oke? Aku datang ke kantornya. Aku datang padanya. Dan dia menolakku. Aku memberinya kesempatan lain dan dia tidak mengerti. Dia meninju Cedr-"
"Jangan mulai..." Hermione menghentikan Harry. "Jangan mulai dengan Cedric. Kita sepakat untuk tidak membahas that bastard."
Harry menarik nafas. "I gotta go..."
"Harry..." Hermione dan blouse satin putihnya yang tipis dan rok bawahan berwarna birunya terlihat anggun dan santai malam ini. Harry tahu malam ini ia datang sebagai teman, begitu juga Hermione. Ini bukan malam bisnis dimana Harry harus memaksakan diri berinteraksi dengan sosialitas atau selebriti lainnya untuk mendapatkan kontak yang bisa membantu karirnya.
"Hi Harry... Hi Hermione." suara kecil dan quirky khas Luna mengagetkan keduanya. "Kalian sudah mencoba champagne-nya? Bukan favoritku, tapi manajer galeri ini bilang kadar alkoholnya cukup untuk membuat orang mengapresiasi karya seniku." ujar gadis itu dengan penuh senyum polos dan menyodorkan dua gelas tinggi ramping pada keduanya.
"Kedengarannya seperti hinaan bagiku. Kau seharusnya mencari galeri lain jika mereka merendahkan karya senimu, Luna..." Harry dan jiwa ksatria pembela kebenarannya tidak menyukai mereka yang sering meremehkan orang lain.
"Ke mana sepatumu?" Hermione bertanya setelah sekilas melihat Luna yang tak bersepatu.
"Sesuatu mengambilnya..." bisik Luna penuh misteri lalu terkekeh kecil. "Ayo... Karena kalian bertanya soal sepatuku, akan kuperlihatkan ilustrasi mahluk yang mengambilnya…"
Harry dengan senang hati menerima uluran tangan Luna. Alasan bagus untuk melepaskan diri dari diskusi yang coba Hermione buka dengannya. Ia tidak ingin membicarakan Draco. Tidak ingin membicarakan apa-apa. Tidak hidupnya. Tidak semua kesalahan besar yang berputar seperti longsoran salju.
Takdir menyedihkan Harry sama seperti pemanasan global. Itu nyata dan benar adanya. Dan sama seperti manusia lainnya, Harry berusaha menyangkalnya.
Sayangnya hal lain yang terjadi justru kebalikan dari yang Harry perkirakan.
Luna membawanya mendekati Draco yang sedang memperhatikan lukisan daun dengan efek 3D yang membuatnya seakan bergerak. Luna menyebutnya pohon Dedalu atau sesuatu semacam itu. Gadis itu bersumpah bahwa ia pernah melihatnya, dengan mata kepalanya sendiri.
Itu mungkin saja.
Tapi saat ini Harry lebih fokus pada bagaimana caranya melepaskan genggaman tangan Luna darinya dan kabur sejauh mungkin agar tak perlu berkonfrontasi dengan Pangeran Malfoy satu itu. Dan tentu saja keberuntungan busuk Harry memutuskan untuk terlibat dalam lelucon ini. Draco berbalik ke arah mereka datang. Tatapan keduanya begitu saja bertemu pandang.
Lurus saling menatap.
Emerald Harry terlihat gemerlap dari sisi Draco yang tak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar.
Di sebelah Harry, Luna terkikik geli. Membicarakan tentang makhluk aneh bercahaya yang sekarang sedang berterbangan di kepala Harry.
Harry tidak peduli. Jadi ia memutuskan kontak mata itu, dan menahan langkah Luna.
Bersamaan dengan Luna yang kebingungan dengan Harry yang tiba-tiba melepas genggaman tangannya dan berlari menuju pintu keluar. Draco juga kehilangan senyumnya.
Lalu entah dari mana Hermione muncul di dekat Luna, setengah berteriak pada Draco. "Jika kau tidak mengejarnya sekarang, ia akan lari seumur hidupnya!" semua orang yang sedang fokus dan tadinya tidak memperhatikan adegan mematahkan hati barusan mendadak penasaran.
Semua pembicaraan soal seni berhenti.
Semua diskusi soal aesthetic pun sunyi.
Tertuju fokus para pengunjung pagelaran itu pada Hermione yang berekspresi setengah memohon dan setengah murka. Dan Luna yang masih membicarakan mahluk aneh yang bercahaya.
Draco maju perlahan.
Blaise menahan nafasnya.
"Dia tidak menginginkanku." ujarnya pada Hermione.
Hermione mengendalikan respirasi nafasnya. Menggeleng kemudian. "Tidak." ujarnya yakin. "Ia hanya takut..." kali ini suara Hemrione seratus persen memohon.
Draco terkesiap mendengarnya.
Lalu semua orang bisa melihat perubahan pada sinar matanya. Ada sebuah tekad.
"Kau harus meyakinkannya..." Hermione menepuk pundak Draco. "Ia tidak bisa bersembunyi selamnya..."
Draco mengangguk. Berlari keluar ruangan sambil melepaskan tuxedonya. Dan entah mengapa tiba-tiba saja seluruh ruangan bertepuk tangan dan menyoraki. Seakan menyemangati meskipun sebagian besar manusia di sana tidak mengetahui konteks kehebohan ini.
Blaise mendekati Hermione dan Luna sambil berbisik. "Boys..." ujarnya dengan gaya paling banci yang bisa dilakukan lelaki kekar, tinggi dan berkulit eksotis seperti Blaise.
Hermione dibuat terkekeh, "Yeah... Our two complicated boys...!"
Draco menemukan Harry di bar terdekat dan terlihat paling menyedihkan yang bisa ia temukan di kawasan itu. Benar-benar tempat yang cocok dengan raut muka defeated yang Harry pasang di depan gelas kosong ke-5nya. Draco mulai merasa ngeri betapa ia mengetahui seluk beluk mengenai Harry. Hingga pada tempat seperti apa kemungkinan ia akan kabur.
"Kau tahu aku akan lebih memilih bir daripada vodka di tempat seperti ini..." Draco menyimpan jas tuxedonya terlebih dahulu baru kemudian duduk di dekat Harry.
"Aku tidak butuh pendapatmu soal selera minumanku..." Harry memberi gesture untuk meminta tambahan satu shoot lagi pada bartender.
Bartender tinggi besar dengan kumis tebal menggelengkan kepalanya, tapi tetap mengambilkan pesanan Harry. Dan dengan dingin menaruh gelas kecil berisi minuman memabukkan itu di depan hidung Harry yang kepalanya setengah tergelatak di meja. Draco menghela nafas, ikut menggeletakkan kepalanya juga di samping Harry. Harry tak menggunakan kacamatanya malam ini dan juga pandangannya mengabur. Kenyataan memang selalu kabur, pikir Harry.
Draco di depannya terlihat tirus dan kelelahan.
Aura aristokratisnya masih ada.
Namun sesuatu hilang dari matanya.
Harry menghela nafas, menutup mata. Menghirup udara dari dekat gelas kecil vodkanya.
"Bagaimana bisa kita sampai di sini?" Draco berbicara akhirnya. Suaranya terdengar serak. Seperti seluruh beban perasaannya menahan suara indahnya untuk keluar.
"Aku sudah melepasmu." Harry menjawab cepat. Suaranya terdengar memburu bersamaan dengan nafasnya.
"Kau tahu, aku yang tak bisa melepasmu."
Di bibir Harry ada pertanyaan kenapa, namun tak berhasil keluar.
"Kau hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku..." lalu buru-buru Draco tambahkan. "Seklise apapun itu terdengarnya."
"Aku membuatmu kehilangan harta warisanmu."
"Kau membuatku benar-benar berani menghadapi konsekuensi."
"Aku mengacaukan reputasimu.."
"Kau membuatku berani menghadapi apapun kata dunia." Lalu Draco memandang lurus ke emerald Harry. Seperti mengupasi jiwa lelaki yang lebih muda itu. "Kau tahu, kau membuat hal-hal menyebalkan tentang menjadi dewasa terasa tidak begitu buruk."
"Kau tahu, I'm complicated."
"Me too..." Draco tersenyum meyakinkan. "Bukankah itu berarti seperti kita itu semacam soulmate or whatever..."
"No, that just means we are the worst couple ever." Harry memandang Draco dengan tatapan memelas. Seolah meminta Draco menghentikan tatapan tajamnya. Tatapan yang tak menghakiminya. Tapi membuatnya merasa ditelanjangi di saat bersamaan.
"Tidak terdengar begitu buruk bagiku." Harry mengeluarkan nafas panjang. Lalau menutup mata dan Draco membiarkannya. Meneruskan profesi barunya sebagai pengelus kening Harry.
Keduanya duduk sangat berdekatan, lutut bersentuhan, tangan bergantung dan beberapa kali tak sengaja menyentuh. Dua lelaki dengan tuxedo mahal dan wajah kesepian. Dua pecinta yang tak menjadi sepasang.
Draco mengangkat tangannya, mengusapi kening Harry yang tertutupi poni, "Kau harus konsultasi dengan stylish soal gaya rambutmu..." Harry terkekeh kecil. Membiarkan Draco mengusapinya dan sesekali menghirup aroma vodka yang kuat menguar ke arah hidungnya.
Selama beberapa saat keduanya bertahan dalam posisi itu. Bartender tinggi besar dan berkumis cukup tebal itu membiarkan saja mereka tanpa menginterupsi sama sekali. Melayani beberapa pelanggan lain yang datang silih berganti. Orang-orang menatap heran awalnya, tapi kemudian membiarkan saja. Bar bukan sebuah tempat aneh untuk menemukan pemandangan depresif seperti ini.
Draco berhenti tiba-tiba gerakan tangannya. Harry langsung membuka matanya. Menatapnya kebingungan. "Love." bisik Draco.
Harry menatapnya kebingungan. Draco sedikit menyeringai, senyum-senyum jahil ala-ala Malfoy yang Harry kenal (dan rindukan, tapi Harry lebih baik mati daripada mengakuinya). "I can't be bought-"
Harry melanjutkan dengan bisikan sama rendah nada suaranya, "but I can be stolen with one glance."
Draco tersenyum tipis, menamatkan ujung kalimar teka teki itu, "I'm worthless to one..."
"But priceless to two." Ujar keduanya bersamaan.
Bartender tinggi besar dengan kumis tebal memilih saat itu untuk menginterupsi, dengan segelas vodka lain di depan wajah Draco. Lalu mengangguk dengan anggukan mantap. Dan pergi begitu saja ke ruang karyawan.
Draco dan Harry bertukar tatap kebingungan. Lalu menetap dua gelas kecil vodka di depan mereka.
"One last shoot?" tanya Draco.
"One last shoot." ujar Harry. Meyakinkan dirinya sendiri.
Kedua tangan mereka bersilang dan menenggak cairan itu dalam satu tegukan.
Air kamar mandi di apartemen Harry terasa hangat di tubuhnya yang menggigil. Udara malam London cukup menggigit jika hanya dilalui dengan kemeja tuxedo yang tak seberapa tebal. Draco memutarkan sedikit lagi ke kanan untuk menambah suhu air hangat yang mengguyurnya.
"Kau akan membuat kulitku melepuh, Drac..." komplain Harry begitu merasakan kulitnya yang sensitif terasa terbakar saat ini.
"Bukan salahku. Kau yang mengikutiku masuk..."
Harrry men-deathglare Draco, "Kau yang menarikku, pervert."
Draco tertawa, terbahak dan lepas. Harry yang berusaha mempertahankan wajah cemberutnya tak bisa menahan diri dan tersenyum. Draco berhenti tawanya dan mengecilkan suhunya kembali, "You're welcome..." ujarnya.
Harry tahu ia seharusnya memukulnya atau mengajak Draco beradu panco saat ini. Sekonyol apapun itu terdengarnya untuk dilakukan di dalam bilik showernya yang sempit untuk diisi dua lelaki dewasa. Tapi hal masuk akal saat ini adalah untuk mencium Draco.
Bibir Harry sensitif dan memerah karena air hangat.
Draco merasakan kumis tipis yang dipertahankan pemuda itu menggelitiknya.
Ketika ciuman terlepas, dengan cepat Harry bertanya. "Menurutmu seberapa bahaya melakukan sex di kamar mandi?"
"Entahlah." Draco memasang tampang berpikir. "Kemungkinan kita terpeleset yang mengakibatkan cedera atau gegar otak."
Harry menyeringai, "Kedengarannya menyenangkan."
Draco tertawa sekali lagi. Terbahak. Sebelum kembali mencium Harry.
-Pagi, hari dimana Harry berhenti bermimpi-
Ruang makan di dekat dapur kecil saja. Berisi meja makan kayu dengan plitur krem dan 4 kursi minimalis. Di bibir Harry terselip roti bakar dengan olesan selai coklat, berdiri di counter dapur untuk membuat gelas kedua kopinya hari ini. Ia bilang hari ini ada pemotretan dan ia minum terlalu banyak Vodka semalam. Draco memberikan tatapan I–told-you-so terbaiknya. Dibalas Harry dengan pengabaian kelas profesional. Jadi Draco menciumnya dan membiarkan Harry membuat gelas kopi keduanya. Sementara Draco berusaha terlihat tetap beradab dengan memotongi terlebih dahulu roti panggangnya dan memakannya menggunakan garpu. Harry tidak berkomentar, hanya menggelengkan kepala.
Pagi itu terasa nyaman.
Pagi itu terasa aman.
Namun Harry bisa merasakan mereka berdua menunggu sesuatu.
Lemparan batu pada ruangan kaca. Lalu semuanya terpecah belah.
Harry menunggu mimpi ini berakhir.
Tapi ia sudah terbangun sedari tadi. Dan Draco masih di sampingnya.
Jadi. Ini mungkin kesempatan terakhir mereka.
"Aku—"
"Aku—"
Keduanya berpandangan, lalu terkekeh kecil. "Aku mengatakan bahwa soulmate itu omong kosong. Tapi jika kita terus menerus begini, bukan tidak mungkin aku mempercayainya."
Harry tertawa, "Maksudmu kita akan menua bersama seperti 10 menit pertama film UP?"
"Atau 10 menit terakhir Folie a Deux." ujar Draco ringan.
Harry berhenti mengaduk kopinya. "Kuharap bukan aku yang kau tinggalkan lagi kali ini." Lalu ia buru-buru terkekeh, menutupi nada pathetic yang keluar dari mulutnya barsuan. Tentu. Serahkan pada Harry untuk menghancurkan suasana lovey dovey dengan berbagai metafora angsty di kepalanya.
"Hei..." Draco bangkit. Memeluknya dari belakang. Mengelus keningnya. Merasakan luka yang berbentuk kilat di dahinya. Mengusapinya perlahan. "This is a good morning. Dan aku bersamamu."
Lalu Draco membalik tubuh Harry dan mencium luka di keningnya. Hidungnya. Bibirnya.
"Dan di pagi yang buruk. Aku juga masih di sini." ujarnya menyentuhkan jemarinya pada dada sebelah kiri Harry. Detakan jantungnya menjadi perlahan.
Pagi yang nyaman.
Pagi yang aman.
Harry melepas posisi mereka dan berkata, "Aku punya puisi baru. Mau melihatnya?"
Draco tersenyum dan mengangguk.
Pada saatnya, waktu berlalu
Langkah tak memadu
Kita tak menyatu
Kita tak beradu
Kau menyanyikan selamat tidur
Ketika aku masih jauh sebelum menutup mata
Kau tertidur lebih dulu
Aku mengawasi, membuka mata
Angin dan bayangan hitam
Mendung di langit yang tak pernah hilang
Kepalamu adalah penjara terkuat
Aku tak pernah bebas
Aku mabuk ketika tak meminum apapun
Aku tetap terjaga setelah menelan obat tidurku
Aku tetap mati meksipun maish bernafas
Aku tetap hidup meskipun merasa mati
Tapi Kau menyanyikan selamat tidur
Maka sampai jumpa di pagi yang baru
Hermione terburu-buru mengangkat telepon yang masuk ke handphone Harry yang sedang berada di depan kamera saat ini. Berpose diarahkan oleh teriakan sang fotografer. Di wajahnya ada setumpuk make up. Ia terlihat edgy hari ini. Hermione tidak begitu menyukainya, menurutnya make up Harry terlalu tebal hari ini dan kulit wajah Harry itu sensitif. Hermione harap ia tidak perlu dealing dengan kulit wajah Harry yang bermasalah. Bulan ini jadwal pemotretan Harry cukup padat.
"Halo?" Hermione mengeluarkan suara profesionalnya.
"Uhm..." suara tidak yakin di ujung sana. "Ini nomor pribadi Harry Potter?" suara tidak yakin Hermione membuatnya ragu untuk menjawab iya.
Tapi ia mengiyakannya akhirnya. "Oh. Syukurlah..."
"Ini dengan siapa?"
"Chochang." jawab suara gadis di ujung speaker. Hermione mengernyit. Melihat kontak di nomor Harry. Kontak itu ada di bawah nama 'The Bastard Diggory'.
Oke. Sekarang apa yang dibutuhkan pasangan aneh ini?
"Apa maumu?" sisi defensif Hermione muncul begitu saja.
"Oh. Tenanglah..." ujar suara gadis itu tenang, namun kau bisa merasakan kegoyahannya. Sisi protektif Hermione bisa melakukan itu pada semua orang, di manapun, sejauh apapun jarak mereka berbicara.
"Aku hanya memastikan bahwa janji bertemu antara aku dan Harry untuk besok masih tetap berlaku."
Hermione mengernyit. Harry tidak memberitahunya soal ini. Ia tidak begitu yakin harus menjawab apa.
Tapi Chochang meneruskan bicaranya, menganggap diamnya Hermione sebagai persetujuan. "Hanya saja tempat pertemuannya akan sedikit diubah. Ada sesuatu yang terjadi di luar perkiraan."
"Apa maksudmu?" nada interograsi Hermione keluar.
"Aku kirim text alamatnya." ujarnya benar-benar luar biasa tenang saat ini. "Thanks."
Sambungan mati. Dua menit kemudian text masuk ke handphone Harry.
Bersamaan dengan Hermione yang membaca text itu. Harry berlari kecil dengan gembira karena akhirnya ia bisa menghapus make upnya.
Tapi senyum Harry menghilang begitu Hermione mendongakkan wajahnya dari layar Handphone Harry.
"Harry..." ujar Hemrione. Suaranya dipenuhi kebingungan dan kebimbangan. "Kenapa Chochang ingin menemuimu di rumah sakit?"
Dan Harry hanya bsia balik mengernyit pada pertanyaan itu.
TBC
Author Note :
Hi... (Muncul sambil ngumpet karena takut ditimpukin setelah gak update berbulan-bulan)
Sorry guys... Tadinya mau hiatus dan mungkin bahkan ga nerusin nulis ff dulu. Lagi skripsian soalnya. Bukannya sibuk atau sok sibuk. Tapi kepalanya yang sibuk jadi gak bisa mikirin FF untuk sementara. Terus lagi ngurusin seminar lumayan besar juga di kampus. Jadi, maafkan...
Dan kali ini saya punya editor loh... hehehehehehe
Mudah-mudahan typonya berkurang banyak ya... dan bikin kalian nyaman buat bacanya.
Berterimakasihlah sama Anna tapi kalau di nama penanya : ichinisan1-3
Kalau buat kalian penggemar K-pop silahkan cek akunnya... :)
Oh iya, sorry yang ini gak ada lagunya. Gak kehabisan lagu sih tapi lagi gak pingin aja...
Kalau buat kalian yang ngerasa ada lagu yang cocok buat ff ini bilang ya,,, hehehe
Oh iya, aku mau nanggapin satu komen soal guideline ffn yang bilang kita gak bisa pakai lagu atau lirik atau apapun lah... punya orang lain. Tapi apa ya... rada aneh aja... orang fanfiction aja basicnya kan cerita yang dibikin dari inspirasi soal cerita orang lain terutama untuk fandom film, buku, manga atau komik.
Rada aneh aja... dan kayaknya saya bakal mengabaikan itu untuk saat ini, hehehe *peace*
Toh, saya gak bilang kalau lirik itu punya saya dan tetep nyantumin siapa yang punya lagunya.
Terus satu lagi... Makasih semuanya yang masih mau baca dan sampai nge-pm buat minta ff ini lanjut... :)
Jangan lupa review ya... Mudah-mudahan tidak mengecewakan...
Salam kecup basah virtual,
Erelra.
