Part 9

.

.

.

"Yes. I'm not your mother. Tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu bebas mengobrol dengan laki-laki yang menghancurkan hidupmu dan mantan kekasihnya dalam satu ruangan di rumah sakit?! Bagaimana jika mereka menjebakmu dan membelah otakmu, lalu mengambil organ-organ vital di tubuhmu dan membuang sisa tubuhmu ke sungai?!" Hermione menggelengkan kepalanya, mengeluarkan nada setengah mengomel setengah khawatir. Harry memilih memperhatikan Ron yang sedang memanaskan air di poci untuk membuatkan Harry teh hangat.

Hermione menyeretnya untuk bertemu Ron. Mereka sampai ke rumah tunangan Hermione itu (sebenarnya secara teknis Hermione pun sudah lebih sering tinggal di sana dibandingkan apartemen sewaannya di pusat kota London), mereka tiba sekitar jam tujuh malam. Dia bilang mereka harus melakukan rapat darurat. Entahlah. Insting intelijen Hermione bekerja sepertinya, ia merasa ada yang tidak beres dengan semua hal ini. Oke, itu atau otak Hermione sudah terlalu dicemari kisah-kisah detektif dan pembunuhan berantai.

"Oke... Aku tahu soal Cedric menghubungimu dan mengajak bertemu. Itu aneh. Tapi tidak seaneh Chochang memintamu bertemu di rumah sakit?" Hermione dan sifat paranoidnya berbicara sendiri sejak tadi. Ron hanya membukakan pintu dan berkata 'hai', lalu berlalu ke dapur dan langsung menyeduh teh. Sepertinya wajah kebingungan Harry dan ekspresi waspada dan kesal di muka Hermione cukup untuk membuat Ron tahu bahwa sebaiknya ia tidak buka suara terlebih dahulu.

"Entahlah 'Mione... rasanya bukan sesuatu yang terlalu mencurigakan... maksudku mungkin saja memang ada keluarga atau teman mereka yang sakit dan tidak bisa ditinggal...?" Harry mengeluarkan dengan nada tanya. Dan sesungguhnya itu kemungkinan yang masuk akal, mengingat Harry bukan terbilang teman dekat atau semacam kerabat jauh dengan Cedric atau Chochang. Ia tidak pernah benar-benar tahu silsilah keluarga atau jaringan pertemanan mereka. Jadi, kemungkinan keluarga atau teman yang sakit memiliki probabilitas yang cukup tinggi.

Ron yang selesai dengan tehnya duduk terlebih dahulu, setelah meletakkan dua cangkir di depan Harry dan Hermione yang berjalan bolak-balik di seberangnya.

Hermione tidak terdistraksi sama sekali dengan aroma melati teh kesukaannya, ia masih menatap tajam Harry dan memberi penghakiman, "Kau tidak merasa aneh? Bagaimana kalau ini jebakan? Untuk menghancurkan karirmu sekali lagi?"

Harry mengernyit merasa asumsi itu terlalu berlebihan, "Aku tidak melihat bagaimana sekedar pertemuan ini bisa menjadi sebuah rencana besar untuk menghancurkan karirku?"

"Karena..." Hermione menarik nafas. Tanda ia akan berbicara panjang lebar, "Dengar... kita bicara soal Cedric di sini. Laki-laki yang menghancurkan hidupmu dan baru punya kesadaran untuk meminta maaf setelah sepuluh tahun berlalu." Harry mengangkat tangannya berusaha menyela. "Aku belum selesai. Lalu kemudian seakan itu tidak cukup menyebalkan dan mencurigakan. Tiba-tiba saja Chochang mantan kekasih si brengsek Cedric itu muncul untuk bicara denganmu... Mengajak minum kopi seakan kalian teman lama yang sudah lama tidak bertemu? Maksudku? Apa kau tidak merasa janggal? Lalu seakan kurang aneh... mereka kemudian mengajakmu bertemu di rumah sakit... Entah aku yang bodoh atau mereka benar-benar merencanakan sebuah blackmail tingkat tinggi."

"Kalau kau bodoh, lalu kami apa?" Ron akhirnya angkat bicara.

Hermione tersenyum tipis, lalu berkata singkat, "Exactly..."

"Jadi, menurutmu yang tersisa adalah kemungkinan bahwa mereka merencanakan sesuatu?" Harry bicara akhirnya. Masih dengan nada skeptis tentu saja.

"Thank God! Kamu masih bisa berpikir jernih. Jadi saranku adalah kau tidak perlu menemui mereka. Sama sekali. Move on with your life. Just focusing on being lovey dovey couple with Draco or whatever..."

Sambil otomatis mengangguk Harry menjawab, "Yea—eh?" lalu berhenti sesaat begitu menyadari perkataan Hermione. "What? I'm not gonna be lovey dovey couple like you two..." Harry langsung membela diri.

"Oh... tapi Blaise bilang kalian menghabiskan malam yang romantis kemarin jika Malfoy yang senyum-senyum sepanjang pekerjaan hari ini menjadi indikasi betapa lovey dovey-nya kalian sekarang." Harry tidak mengerti dengan sistem pertemanan para manajer artis ini, oke, atau lebih tepatnya sistem pergosipan antara Hermione dan Blaise. Entahlah, rasa-rasanya jika ada yang bertanya siapa shipper nomor satu Harry dan Draco, itu adalah Blaise dan Hermione. Mungkin nomor satu adalah predikat milik Blaise. Hermione mungkin bukan nomor dua juga mengingat sikaps keptisnya pada Draco terlalu tinggi. Harry akan memberikan predikat shipper terkuat pada Ron, mungkin.

"Aku tidak..." Harry dengan wajah memerah, berusaha menjawab Hermione sekaligus melemparkan tatapan permohonan bantuan ke arah Ron. Yang diberi sinyal SOS hanya menyeruput tehnya santai.

"Traitor..." Harry berbisik lemah. Masih sambil berpikir tentang berbagai kemungkinan.

Ia juga merasa aneh tentu saja dengan ajakan pertemuan ini.

Tapi entahlah. Menolak atau tidak datang sama sekali pun terdengar salah.

Jadi, entahlah.

"Menurutmu aku harus memberi tahu Draco?",pertanyaan diarahkan ke Hermione yang sekarang sudah duduk dan berhenti berkacak pinggang.

Ia menarik nafas, menatap Ron, yang ditatap akhirnya buka suara, "Aku rasa sebaiknya begitu... Tapi itu keputusanmu."

Harry berpikir ulang. Mungkin sebaiknya ia meminta pendapat Draco.

Bagaimanapun Harry punya kekasih saat ini. Ia sebaiknya membicarakan apapun yang mengganggu pikirannya pada pasangannya kan? Lagipula orang bilang hal yang trepenting dalam hubungan adalah komunikasi.

"Kau akan menelponnya sekarang?" Ron bertanya.

Harry terdiam. Entahlah. Tapi bagaimana jika Draco tidak menyukai ide ini dan marah pada Harry?

Draco mungkin akan membencinya?

Nah~ Draco sudah pernah membencinya sebelumnya.

Mungkin seharusnya ia tidak pernah menerima Draco.

Pada akhirnya Draco akan membencinya juga, ya kan?

Mungkin seharusnya ia sudah tidak hidup dan menyusahkan banyak orang dengan eksistensinya.

Sekedar hidup saja ia sudah sangat menyusahkan lagipula.

"Harry..." tiba-tiba saja Hermione sudah duduk di sebelahnya. Di wajahnya terpampang wajah yang yang jelas menggambarkan kekhawatiran. Sisa sketsa ketakutan seakan-akan ia sekali lagi menemukan Harry di kamar mandi dengan nadi yang tersayat.

"Are you okay?" pertanyaan membosankan, pikir Harry.

"I'm fine." kebohongan klise yang sudah otomatis ia keluarkan. Harry merasa sirkuit di otaknya sudah bekerja otomatis menjawab pertanyaan itu dengan hapalan dusta yang sama dan berulang. Repetitif setiap kali ia merasa terlalu jengah untuk sekedar menjelaskan. Untuk sekedar bicara.

"Kurasa kau sebaiknya pulang dan istirahat..." Ron akhirnya angkat bicara. Di wajah sahabatnya terpatri ekspresi yang sama. Kecemasan yang berulang.

Teror yang sama.

Darah dan kematian.

Setan yang tak terkalahkan di dalam pikiran.

Harry melawan dirinya sendiri. Berusaha memasang senyum palsu yang biasa ia pakai sebagai perisai dari pertanyaan-pertanyaan bodoh dari mereka yang berusaha peduli. Tapi tetap tidak mengerti.

"Aku akan memanggil Uber..." ujar Harry lalu bangkit dan mengambil mantelnya di sandaran tangan pada sofa ruang tamu.

"Ron bisa mengantarmu pulang jika kau mau?"

Harry menatap kedua sahabatnya. Memaksakan senyum lainnya. "Nah... I'm fine."

... hening.

Lalu suara decit pintu yang membuka.

Menutup.

Dan Harry sendirian. Karena ia ingin begitu.

Karena sudah seharusnya ia begitu.

.

.

.

Draco baru saja menyelesaikan beberapa berkas perjanjian yang harus diperiksanya, menandatangani beberapa yang sudah lulus sensor olehnya. Ketika telepon dari Hermione masuk ke ponsel pintarnya. Draco yang masih punya sisa satu berkas di tangannya untuk ditandatangani, berhenti sekejap.

"Halo?"

"Apa Harry meneleponmu?" suara Hermione terdengar khawatir. Khawatir yang berlebihan. Tapi jika kau seorang manajer artis yang begitu kau sayang, Draco bisa memahami sikap protektif Hermione pada Harry.

Dan Draco jadi teringat bahwa Harry melanggar janjinya untuk menelepon sore tadi setelah selesai pemotretan.

"Uhmmm... belum..." Draco yang menjawab sambil menyelesaikan berkas terakhirnya menjadi tertular kekhawatiran Hermione.

"Shit!" Draco mendengar tarikan nafas yang terdengar dipaksa. Ada suara lelaki di belakang Hermione. Mereka berdiskusi tentang sesuatu. Ada nama Harry dan Cedric di sela diskusi bisik-bisik. Draco mengernyit beberapa detik. Menunggu pembicaraan dua orang itu terhenti dan mulai melibatkannya kembali.

"Dengar... aku minta kau untuk tidak panik... karena kami sudah panik. Dan kami butuh bantuan dari seseorang yang peduli pada Harry dan paling penting tidak panik." Hermione akhirnya berbicara.

Draco hanya menggumam mengiyakan, membiarkan Hermione menjelaskan. "Oke. Jadi, apa Harry sudah cerita soal Cedric mulai kembali menghubunginya lagi?"

"Harry tidak cerita... well... Tapi kau tahu perkelahian kecilku dengan Cedric kan?"

"Oh iya... yang kau mematahkan hidungnya kan? Good job, by the way..."

Draco terkekeh, senang mereka berbagi perasaan tidak suka yang sama pada Cedric. Cara terbaik untuk mengakrabkan diri adalah berbagi kebencian yang sama pada suatu subjek. Setidaknya begitu di keadaan Draco saat ini dengan Hermione.

"Oke... kembali ke intinya... Tadi ketika pemotretan, Chochang menelepon..."

Draco langsung saja menggumamkan keheranannya, "Chochang?"

"Ya kan? Bukankah aneh kau menghubungi selingkuhan mantan kekasihmu dan membuat perjanjian untuk melakukan pertemuan?" Hermione terdengar lega mereka berbagi perasaan janggal yang sama. "Dan entahlah... Kau tahu akhir-akhir ini Harry sedikit distant... karena beberapa minggu terakhir sangat menyibukkan, Harry tidak sempat pergi untuk konsultasi rutinnya. Dan selain itu aku tidak terlalu rutin memperhatikan apakah ia meminum obat anti depresannya."

Draco baru dengar hal ini. Ia tidak tahu bahwa Harry punya dosis rutin anti depresan. "Anti depresan...?"

"Yah... Dia sedikit, aku tidak ingin menggunakan istilah ini. Tapi ia mengalami relapse ketika kau tahu... ketika kau menolak bicara dengannya. Tidak sampai percobaan bunuh diri tapi... aku tidak bisa menjelaskannya. Yang jelas sekarang aku kehilangan jejak Harry setelah ia pulang dari rumah Ron." Hermione kembali pada mode paniknya.

"Kau sudah pergi ke apartemennya? Mengeceknya? Siapa tahu ia langsung pulang ke apartemennya dan tidur?" meskipun Hermione sebelumnya berkata untuk tenang ia tidak sepenuhnya tenang. Bagaimanapun ini adalah Harry. Pria dengan pemikiran yang luar biasa indah dan sekaligus mematikan. Tapi jika Hemrione berpikir bahwa tenang adalah apa yang Harry butuhkan, meskipun secara teknis bukan Harry yang memintanya secara langsung. Ia akan mencoba melakukannya.

"Aku sudah meminta penjaga apartemennya untuk mengecek ke kamarnya. Dan sistem keamanan mereka bilang tidak ada aktivitas apapun dari CCTV di dekat lorong apartemen Harry. Jadi, itu berarti ia belum pulang." Draco mendengar suara seorang pria di belakang Hermione yang berteriak "Sebaiknya kita pergi sambil mencari Harry!" Sepertinya Ron. Siapa lagi lagipula?

Draco berusaha mengingat ke mana kemungkinan Harry pergi.

"Kau tahu ada kafe yang beberapa bulan lalu Harry promosikan milik lesbian power couple yang Harry selalu puji chocolate latte-nya? Mungkin dia ke sana." Draco sudah mulai berdiri. Memastikan semua berkas penting untuk besok pagi sudah tertandatangani . Jika, entahlah, semoga saja tidak. Tapi jika sesuatu tejadi pada Harry, Draco mungkin akan absen dari kantor besok.

"Yah... Kau di mana? Kantor agensimu?" Draco bisa mendengar bunyi mobil di jalanan. Sepertinya Hermione dan Ron mulai bergerak mencari Harry.

"Tidak... Aku ada di salah satu anak perusahaan Malfoy. Sekitar Bridgemuse Avenue." Draco mendengarkan diskusi singkat kira-kira tempat apa yang paling dekat yang bisa Draco cek, yang berkemungkinan Harry kunjungi saat ini.

"Halo?" Tentu saja, Ron Weasley gantian bicara saat ini. Dan sambil menyupir sepertinya jika menilai dari 'shit' dan bunyi klakson mobil. Draco jadi berharap ia kembali saja berbicara dengan Hermione. Hal terakhir yang dibutuhkan saat ini adalah Ron dan Hermione terlibat dalam kecelakaan mobil. "Sorry... Okay... Kau tahu Harry suka musik kolot kan?" Draco tersenyum, mengingat wajah Harry yang terlihat tenang sambil mendengarkan David Bowie, lalu mengangguk ketika kemudian sadar lawan bicaranya tak bisa melihatnya. Jadi ia menjawab 'yes' dengan singkat. "Oke. Di dekat situ ada record music shop retro yang menjual piringan hitam kuno, kurasa kalau tidak salah nama tokonya 'Threshold'. Coba kau cek ke sana..."

"Apa tidak sebaiknya kita bertanya pada teman-teman Harry? siapa tahu ia mengunjungi salah satu temannya?" Draco memberi saran.

Suara desahan, perempuan. Telepon genggam kembali ke tangan Hermione. "Kau sudah bertemu Harry kan? Dia punya banyak kolega dan mungkin teman. Tapi ini si pria introvert yang punya obsesi pada puisi dan pohon karet yang tak dia siram. Jika ada teman yang akan ia hubungi ketika ada masalah, dan aku bukan mengada-ada, itu hanya aku atau Ron."

Yah, Draco mengerti mengenai hal itu. Harry adalah wonderful kindest person. Tapi di saat bersamaan juga seorang tertutup yang tidak pernah mengerti kapan saatnya berteriak meminta bantuan ketika dunia sudah terasa terlalu berat ada di pundaknya. Tipe pria yang membantu siapapun yang bisa ia bantu, namun lupa caranya meminta bantuan.

Draco mengenakan mantelnya sambil mendengarkan list beberapa tempat lagi yang berkemungkinan Harry datangi saat ini jika ia ingin menenangkan diri. Ron juga menceritakan baju terakhir yang Harry kenakan ketika keluar dari rumahnya petang tadi. Draco berusaha tak berpikir macam-macam ketika membayangkan bahwa Harry pasti terlihat seksi dengan pakaiannya saat ini. Dan rapuh. Fokus Draco.

Draco mengeluarkan kunci mobilnya dan mengingat-ingat cara penyetingan GPS yang baru Blaise tambahkan ke mobil pribadinya karena Draco akhir-akhir ini lebih senang menyupir sendiri. Dan kebiasaan disupiri membuatnya tidak benar-benar hapal seluk beluk jalanan London.

Suara Ron terdengar jauh, Hermione berdebat kecil soal sesuatu.

Draco ingin bertanya.

Selain percobaan bunuh diri dengan siletnya, apa Harry pernah mencoba melakukannya dengan cara lain? Menabrakkan diri ke rel kereta? Meloncat dari gedung tinggi?

Draco merasa mereka juga perlu membuat list untuk tempat-tempat yang Harry ingin datangi sebagai tempat terakhirnya. Harry seorang sentimentil. Ia akan mencari tempat 'yang tepat' jika ingin melakukan hal itu. Tapi Draco menahan diri untuk bertanya. Ia tahu itu hanya akan menambah keruh suasana. Itu jika kepanikan Hermione kita jadikan patokan seberapa urgentnya situasi ini.

Draco menahan kalimatnya dan menggigit bagian dalam bibirnya.

Jika mereka membicarakannya. Bahwa ada kemungkinan besar. Chance, bahwa Harry mungkin melakukan tindakan bunuh diri. Tapi jika mereka membicarakannya itu seperti mengonfirmasi kekhawatiran.

Ia tidak ingin melakukan itu.

Ia menginginkan Harrynya kembali. Draco menutup pintu ruangannya setelah sebelumnya mematikan lampu di ruangan kecil itu.

Draco mengucapkan 'bye' dan menyudahi sambungan teleponnya.

Beberapa lampu di lorong sudah dimatikan dan kantor itu sudah sepi. Tinggal sisa beberapa karyawan lembur yang mengerjakan entah apa. Draco hanya tersenyum tipis pada mereka yang masih cukup peka dengan kehadiran orang lain dan menoleh ke arah bos mereka.

Draco mengerti yang mereka cari. Kepuasan diri dalam pekerjaan. Kemungkinan untuk mendapatkan promosi. Pembuktian diri. Semacam itu.

Draco selalu merasa begitu.

Tapi ia tidak yakin ia menginginkan hal itu lagi.

Ia hanya ingin bekerja dan menjadi lebih baik untuk saat ini. Namun ia sendiri tidak yakin apa yang orang-orang sebut dengan 'lebih baik'? Apakah itu berarti lebih sukses? Apa pula itu sukses?

Jika kau punya lebih banyak mobil mewah? Kesempatan berlibur keluar negeri dengan tetap dibayar? Apa itu sukses? Atau mungkin memiliki pasangan hidup? Atau mungkin sukses adalah bisa datang ke pertemuan orang tua dan melihat anakmu belajar dengan baik di sekolah? Apa sebenarnya definisi sukses yang ingin coba Draco raih?

Draco harus memikirkannya lain waktu. Sekarang ia sudah sampai di Lobby lantai dasar dan masih belum memutuskan untuk mencari kemana terlebih dahulu kekasihnya yang tiba-tiba hilang. Literally.

Draco baru akan menjawab dengan anggukan kaku satpam penunggu lobi kantornya ketika ia melihat pemuda dengan mantel hitam panjang dan rambut acak-acakan. Berdiri mengarah pada jalanan. Di dekat mobilnya terparkir.

"Harry?"

Pemuda itu berbalik cepat. Melempar senyum tipis pada Draco. Di tangannya ada sebotol kaleng soda dengan rasa orange. Malam gelap tanpa bintang di langit London. Mata emerald Harry tersembunyi detailnya namun Draco rasa ia baik-baik saja.

"Kau mau makan sushi?" ujarnya sambil melebarkan senyum tipisnya.

Dan Draco tidak tahu harus bernafas lega atau kembali jatuh cinta pada saat yang sama?

.

.

.

"So, Yeah... I kinda went too far and end up in like this station that have Japanese culture shop..." Harry berhenti bercerita untuk menyeruput spagetinya.

Kedua pemuda itu berputar selama hampir setengah jam mencari restoran sushi yang masih buka pukul setengah satu malam. Draco tidak sadar bahwa ia pulang kantor terlalu larut. Dan Harry tidak sadar bahwa makan malam hanya dengan mengunyah permen karet dan meminum sekaleng soda ternyata tidak cukup untuk perutnya. Jadilah, dua kekasih yang mungkin kasmaran dan positif kelaparan ini berhenti di sebuah kedai pizza sederhana dengan tulisan 24 jam. Isinya adalah dua orang pelayan pria dengan apron unik bertuliskan 'We Put Hug, in Thug'. Terlihat mencurigakan karena mereka masih begitu bersemangat untuk melayani pelanggan setelah lewat dini hari seperti ini. Draco membeli lasagna dan Harry memesan spageti, meskipun pelayan mereka berkata bahwa menu terbaik mereka adalah pizza dengan double cheese and mushroom. Keduanya sedang tidak tertarik dengan menu itu.

Draco yang selesai mengunyah, menelan sendokan lasagnanya dan berusaha merangkum cerita Harry.

"Oke. Jadi, kau bosan membuat khawatir Hermione dan Ron, lalu merasa butuh udara segar dan meminta taksimu membawamu ke stasiun kereta bawah tanah terdekat. Naik kereta dari sana dan terdampar di stasiun antah berantah lalu membeli souvenir dengan karakter kuning telur?"

Harry terkekeh kecil. Merasa geli dengan petualangannya malam ini. "Yap. He's so lazy that's cute..."

Draco ingin memprotes dan mencibir tingkah kekanakan Harry. Tapi pemuda itu untuk pertama kalinya terlihat benar-benar puas dengan souvenir yang ia beli. Terlihat benar-benar bahagia. Sesuatu yang jarang dan janggal di wajah puitis Harry yang memang ditakdirkan berekspresi melankolis. Draco bertanya-tanya apakah karena berwajah melankolis Harry pun menjadi sentimentil? Ataukah kerena ia otaknya bekerja terlalu puitis wajahnya pun mengikuti dengan ekspresi melankolis?

"Gudetama?" Draco membaca karakter huruf Jepang pada gantungan kunci yang Harry beli. Dua belas gantungan kunci yang Harry beli. Dua belas. Yap. Harry tiba-tiba saja terobsesi.

Semua karakternya berekspresi minimalis penuh kemalasan. Dengan potongan-potongan kalimat pendek yang berputar soal tema kemalasan. It's cute. Yeah. And feels vulnerable at the same time.

Coba tebak siapa yang memiliki aura seperti itu?

Harry, ia tersenyum pada Draco dengan sedikit sisa saus spageti di ujung bibirnya. Draco mengambil sehelai tisu yang disediakan di pinggir meja mereka dan mengelap noda itu. Harry terdiam dan berhenti tersenyum. Untuk sesaat wajahnya berekspresi seakan melihat hal teraneh di dunia. Di matanya ada kehangatan dan kekagetan. Seakan itu afeksi yang tidak disangka-sangka akan ia terima dari Draco. Draco berdehem pelan. Ingin mencium Harry saat itu juga. Namun memilih untuk tidak melakukannya karena terdengar terlalu klise di otaknya.

Jadi tangan Draco menjauh, dan ia kembali memulai pembicaraan.

"Kau tahu kalau Hermione meneleponmu berkali-kali kan?" Harry kembali tersenyum. Terasa ramah dan familiar. Draco merasa aneh tentu saja tapi tak berkomentar. Menunggu pertanyaannya di jawab.

Harry berhenti tersenyum setelah memikirkan ulang kalimat Draco, sedikit melotot kaget matanya. "Really?" Harry mengeluarkan smartphonenya dan baru sadar bahwa benda eletronik itu sudah padam entah sejak kapan. "Oh shit!" ujar Harry panik karena ia tahu seberapa murkanya Hermione padanya jika ia membuatnya khawatir.

"Kau bahkan tidak ingat untuk mengecek handphonemu?" Draco sudah siap untuk mengomel. Tapi menahannya karena Harry terlihat menyesal saat ini.

Ia hanya menghela nafas dan berkata, "Setidaknya kau baik-baik saja."

"Yah..." ekspresi Harry berubah sedikit, lekukan senyum tipisnya menyisakan misteri bagi Draco. Tentu, Harry selalu menjadi misteri. Tapi malam ini seperti puncak dari segala misteri. Draco merasa seperti berada di film horror. Menjadi si bintang tersohor, dikejar semacam teror. Draco sedang menunggu apa itu hantu atau monster. Atau kegilaan yang bersemayam dalam otak manusia, makhluk yang katanya berada di mata rantai teratas. The survivor.

"Kau ingin bicara sesuatu?" Draco menggenggam tangan kiri Harry yang tergeletak begitu saja pada meja.

Harry terlihat ragu untuk sesaat. Menatap ke piring spagetinya dalam selama beberapa saat, "Kau tahu kebanyakan pernikahan atau hubungan yang gagal karena salah satu atau kedua orang tersebut sebenarnya sejak awal tidak bahagia. Bagaimana jika aku tetap tidak bahagia?" Harry bertanya pada Draco.

Terdengar seperti fakta yang Harry dapat setelah membaca judul artikel di majalah fashion wanita yang sebenarnya tidak sepenuhnya menggunakan data penelitian dengan benar. Tapi mengingat ini Harry yang mengatakannya. Mungkin saja ini hasil pemikiran Harry selama beberapa hari terakhir, atau selama beberapa bulan terakhir, atau sejak bertahun-tahun lalu ketika ia pertama kali berada dalam belenggu depresi?

Draco tidak ingin mengambil resiko.

"Maka kau akan berusaha untuk menjadi lebih bahagia dengan bantuanku." Draco beralasan sederhana. Dengan Harry kau bicara segara kekompleksan kesadaran manusia tentang eksistensi.

Draco belajar jika kau tidak bisa menjadi lebih 'dalam' atau 'sama dalamnya' dengan Harry, maka jadilah seringan mungkin. Jadikan diskusimu cukup masuk akal untuk dimengerti kalian berdua.

"Bagaimana jika kita adalah dua pemanjat tebing dan aku terpelanting. Membawamu tergelincir ke jurang sepi?" sekali lagi. Abaikan metafora dan coba terjemahkan sesederhana mungkin.

"Aku akan dengan senang hati tetap bersamamu meskipun berada di titik tersulit." Draco menjawab singkat lagi. Memainkan salah satu gantungan Gudetama di tangannya. Menatap kalimat pendek, "Darkness." Dan gambar kuning telur yang wajahnya tertutupi cangkang telur itu membuatnya merinding saat ini.

"Mengapa kau begitu terobsesi untuk berenang menyelamatkan jiwa yang sudah tenggelam?" Draco berpikir untuk sesaat. Tidak ingin memberikan jawaban yang mendiskreditkan pernyataan yang bagi Harry adalah fakta tak terbantahkan. Tapi tidak ingin juga membenarkan kabut kebohongan dalam pikiran Harry yang menggelapkan dunianya selama ini.

Draco terdiam terlalu lama tampaknya ketika Harry kembali pada senyum ramahnya. Senyum kekeluargaan. Berusaha keras terlihat familiar. Draco tidak familiar dengan ini. Draco merasakan sesuatu berbeda pada kekasihnya malam ini. Ia selalu unsettling. Tentu saja. Tapi Harry malam ini ada pada puncak ambiguitas yang tak dapat Draco sembarangan terjemahkan.

Ia ingin memeluknya dan berkata semua akan baik-baik saja. Tentu itu tidak bekerja sepanjang waktu. Tapi malam ini entah kenapa akal sehat Draco berkata bahwa itu seratus persen tidak akan bekerja.

"Aku tahu kenapa." Harry bicara. Mengisi ruang kosong obrolan mereka. "Karena kau juga sesungguhnya tenggelam. Hanya dengan cara yang berbeda."

"Maksudmu?" Draco sadar ia melakukan kesalahan. Pertanyaan tidak akan memberikan jawaban jika berhadapan dengan Harry dengan kondisi seperti saat ini. Pertanyaan hanya akan membeberkan ambiguitas lain. Pertanyaanmu, seberapa besarnya kau ingin terjawab, tidak akan pernah terjawab. Suaramu hanya jadi retorika.

"Mengapa dua jiwa tarik menarik dalam lingkaran?" Harry bertanya, dalam nada yang nyaris seperti menjawab. "Apakah gravitasi atau medan magnet ketidakberdayaan?"

Ia berhenti dan menarik nafas.

Spageti, dinginnya bersisa tertinggal di piringnya. Bercak saus di taplak meja putih. Noda tak terarah. Draco ingin pergi dari sana dan mebersihkan nodanya. Lalu berkata pada Harry semua akan baik-baik saja. Tapi tidak bisa sesederhana itu, tidak pernah bisa.

"Atau mungkin kita hanya tidak ingin sendirian dalam kesepian?" Harry berkata dan kehilangan senyumnya. "Aku selalu bertanya mana yang lebih baik, kesepian dalam keramaian atau kesepian dalam kesendirian. Kau tahu? Aku tidak pernah mendapat jawabannya."

Draco tehipnotis selama beberapa lama. Harry tidak sedang membacakan puisi padanya tapi ia terdengar seperti memainkan peran. Mungkin gadis protagonis yang berlari dari kejaran teror malamnya. Ia tidak berteriak ketakutan tapi memberi pertanyaan menakutkan. Mempertanyakan kehidupan sambil dikejar kematian.

Pada dasarnya sama seperti yang semua manusia lakukan.

"Bagaimana jika kita tak perlu berada dalam keramaian? Bagaimana jika yang kau butuhkan untuk membunuh kesepian adalah orang lain yang mengerti tentang kesepian?" Draco spontan bicara. Saat ini ia tidak memikirkan apa-apa. Tidak memikirkan resiko salah bicara.

Ia hanya memikirkan bahwa ia ingin membawa Harry kembali. Pada Harry yang bisa ia peluk dan bisiki, bahwa semua akan baik-baik saja.

Harry malam ini terasa asing baginya. Ia masih Harry dengan segala kalimat puitisnya. Dengan wajah melankolisnya. Tapi Harry malam ini tersenyum bahagia padanya, memamerkan Gudetama, lalu berbicara soal kematian. Draco rasanya mengenal Harry. tapi malam ini puncak segala kebingungan yang pernah dimilikinya. Tentang misteri bernama Harry. membuatnya terpukau dalam saat yang bersamaan, pun ia ketakutan.

Mungkin sebaliknya pun sama. Harry merasa asing dengan Draco. Merasa asing dengan kekhawatirannya. Merasa asing dengan afeksinya. Harry tebiasa dnegan kekhawatiran Hermione atau Ron. Tapi ia tidak terbiasa dengan tatapan lembut Draco dan bagaimana ia memaafkan keteledoran Harry malam ini.

Bagaimana ia mengelap saus dari ujung bibir Harry.

Draco membawa keterasingan tersendiri.

Harry menginginkan keterasingan itu. Menginginkan seseorang yang bangun di sampingnya pada pagi hari dan memasakkannya sarapan. Membantu Harry mengelap air sisa keramas di rambutnya yang tidak pernah kering dengan benar. Mengkhawatirkan Harry ketika ia tidak memberi kabar dan tersasar ke sebuah stasiun kereta bawah tanah yang tidak ia kenal.

Harry ingin Draco memeluknya dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Tapi bukankah itu terasa asing bagi lelaki yang kehadirannya tak pernah benar-benar diinginkan dunia?

Malam ini sesungguhnya adalah puncak keterasingan yang Harry rasakan dari keberadaan Draco dalam hidupnya.

Jika bagi Draco, Harry adalah teka-teki. Begitu juga sebaliknya.

"Kurasa aku harus menelepon Hermione." Harry memecah kebisuan di antara keduanya. "Boleh kupinjam handphone -mu sebentar?" Draco tidak tahu apa ia punya pilihan lain untuk tidak melakukan permintaan Harry saat ini. Jadi ia merogoh saku celananya dan memberikan handphonenya pada Harry.

"Sebentar..." ujar Harry sambil bangkit dan menjauh menuju pintu keluar. Draco tidak berkata apa-apa, hanya memerhatikan penampakan tubuh Harry yang menghilang di balik pintu.

.

.

.

Ron sedang berbelok arah menuju jalan pulang ketika Hermione mengangkat telepon dari Draco. Dengan wajah penuh harap dan kecemasan.

Detik berikutnya Ronald Weasley tidak berharap untuk mendengar jeritan tunangannya.

"HARRY!" tarikan nafas sesaat. "OhMYLORD! Kau membuatku khawatir setengah mati! Kau tahu? Atau kau memang berusaha membuatku menjadi setengah mati sebelum hari pernikahanku, huh? That's not cool, Harry... Kau ke mana saja? Pergi dengan siapa? Di mana Draco menemukanmu? Kau baik-baik saja kan?" Yap, separagraf pertanyaan tanpa sedetikpun kesempatan untuk Harry menjawabnya.

Ron memelankan laju kendaraan mereka, memberi isyarat pada Hermione untuk menyalakan mode speaker pada smartphonenya. Satu sentuhan dan Ron bisa mendengar suara Harry sedikit terbata menjawab omelan dan pertanyaan bertubi-tubi Hermione.

"Intinya aku tersasar karena tertidur di kereta bawah tanah dan berakhir di kantor Draco..." Hermione berbagi pandangan yang mengatakan "Aku tidak percaya menghabiskan waktu tiga jam berkeliling jalanan London untuk mencari pemuda yang tertidur di kereta bawah tanah." Ron hanya menepuk pelan pundak Hermione dengan sebelah tangannya, sementara yang lain tetap pada setir mobilnya.

"Kau beruntung tidak ada penjahat trafficing yang menjualmu ke Afrika untuk dijadikan budak..." Hermione berkomentar pedas. Yang diajwab Harry dengan santai lewat pertanyaan, "Ada Ron di sana?"

Hermione memutar bola matanya dan mendekatkan smartphonenya pada Harry, "Don't give me random heart attack like that, Mate..." Ron akhirnya bicara. Harry meminta maaf. Tapi tidak terdengar benar-benar menyesal.

Ron punya firasat minggu depan ia sudah akan berkeliling London lagi untuk mencari aktor kesayangan Hermione ini.

"Can I ask you two about something?" Harry terdengar lebih ragu dari sebelumnya. "Menurut kalian apa sebaiknya aku menceritakan semuanya soal Cedric pada Draco?"

Ron menjawab kilat, "Jika kau pikir Draco cukup dewasa untuk tidak tiba-tiba mendatangi Cedric dan mematahkan hidungnya lagi? Kurasa bukan masalah..."

Tapi Hermione punya pertanyaan lain sebelum menjawab pertanyaan Harry, "Tunggu dulu, maksudmu semuanya 'semuanya'?"

Harry berhenti sesaat. Menatap jalanan kosong London di dini hari.

"Aku sudah mengatakan semuanya?"

"Tentang kisah cinta singkat kalian?"

Harry menggumam mengiyakan.

"Tentang kau yang masih berusaha menghubunginya meskipun—" Harry memotong Hermione cepat. "He's my first love..." Harry beralasan.

"My first love is my fellow math club member, that I even no longer remember his middle name." Hermione berhenti untuk menggumamkan 'don't get jealous' pada Ron yang tatapannya tiba-tiba siaga mendengar Hermione membicarakan cinta pertamanya.

"Your first love is different. Cinta pertamamu adalah satu-satunya laki-laki yang pacaran denganmu. Cinta pertamamu adalah laki-laki yang wajahnya mengisi berbagai film dan series yang kau tonton setiap kali ia mengeluarkan karya baru. Cinta pertamamu adalah laki-laki yang secara obsesif kau baca puisinya. Cinta pertamamu adalah laki-laki yang mengisi setiap puisi yang kau buat. Apa kau sudah mengatakan itu pada Draco?"

Harry terdiam sepanjang Hermione bicara. Tidak ada bintang di langit malam London. Mungkin mendung. Mungkin polusi cahaya. Harry berpikir jika ada bintang ia bisa mempertanyakan tujuannya. Mempertanyakan arah hidupnya. Itu yang orang-orang lakukan pada jaman dahulu kala kan? Dan mungkin masih dilakukan oleh sebagian orang saat ini.

"I don't know..."

Hermione mendesah. Ron berusaha fokus pada jalanan namun menatap aspal hitam yang digelapkan malam dnegan khawatir. Ini seharusnya bukan pembicaraan yang mereka lakukan melalui saluran telepon. Ini tipe pembicaraan yang kau lakukan dengan terapismu di ruangan nyaman sambil terapismu mencatat apa yang salah dengan kejiwaanmu.

Hermione bukan terapis.

Dan Harry berada entah berpuluh kilometer jauhnya dari mereka.

"Do you really trust him, Harry?"

...

...

Harry dan diam.

Tidak memberimu apa-apa.

Hermione menunggu jawaban.

Ron mendengarnya mendesah entah untuk kesekian kalinya.

"Do you trust me?" jawaban Harry keluar.

Berupa pertanyaan.

Masih tak memberi apa-apa.

"Of course." Hermione menyelipkan poninya ke belakang telinga.

"Aku akan bicara soal Cedric."

Harry menunggu. Hermione mendesah. Lagi-lagi mendesah. Kau tahu? Desahan lelah seorang ibu yang berpikir bahwa ia sudah selesai membesarkanmu ketika kau sudah besar? Dan ternyata tetap tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu meskipun kau sendiri sudah punya anak untuk dikhawatirkan? Yah. Desahan Hermione semacam desahan itu.

"Kau tahu mencintai seseorang bisa membunuhmu?" Hermione bicara lagi ketika Harry sudah berniat akan memutuskan panggilan.

"Dan kau tahu bahwa aku sudah pernah hampir terbunuh?" Hermione tidak menjawab.

Lama keduanya terdiam.

Lalu nada sambungan terputus yang terdengar.

Panggilan telepon mereka berakhir begitu saja.

Hermione menatap pada Ron yang sekilas balik menatapnya sambil tetap memperhatikan jalanan.

"Kau tahu aku tidak akan membunuhmu kan?" Ron berkata sambil berbelok menuju jalanan perumahannya.

"Tentu tidak. Aku bukan Harry, lagipula."

Hermione bersandar kepalanya pada jendela mobil.

Menatap jalanan yang diterangi lampu taman. Dimana gelap masih mengelilingi sekitarnya.

.

.

.

Dering telepon tidak pada waktunya bukan hal biasa bagi Blaise. Jika, pekerjaanmu adalah memastikan semua jadwal kehidupan Draco Malfoy, seorang selebritas dan pangeran (yang sedang tidak diakui oleh) keluarga ningrat. Hal yang perlu kau tahu adalah ironisnya, jadwal hidupmu sendiri tidak akan teratur.

Blaise baru pergi tidur sekitar satu jam setengah. Setelah memeriksa beberapa dokumen yang ia bawa ke rumah.

Tentu, bahwa ironisnya ia mengeluhkan workaholic Draco. Entah bagaimana ia akan mengeluh soal dirinya sendiri. Untungnya ia tidak punya waktu untuk itu.

Intinya adalah ia bahkan masih tetap diganggu dering telepon pada pukul tiga dini hari.

"Draco?" Blaise bertanya, mengusap wajahnya dengan tangan kanannya dan memegang Handphone dengan tangan kirinya.

"Kau bisa mengcancel atau menunda semua jadwal hari ini?" Draco bertanya. Suaranya terdengar kabur. Seperti ia sedang berkendara di jalanan.

"Kau mau melarikan diri ke mana?" Blaise bertanya, terdengar bercanda namun dirinya sendiri tidak yakin ia sedang bercanda. Hal terakhir yang ia butuhkan untuk memastikan semua jadwal Draco terpenuhi adalah Draco yang menghilang dan tidak bisa memenuhi satupun jadwalnya.

"Harry..." Draco terdengar ragu.

Oh ya... tentu saja ini tentang Harry.

Jangan salah paham, Blaise mendukung keras hubungan Draco dan Harry. ia tidak pernah melihat Draco tergila-gila semacam ini. Ia pikir itu sebuah perubahan yang bagus.

Tapi, please God, terkadang ia berharap Draco jatuh cinta pada seseorang yang memiliki emosional yang lebih stabil dibanding Harry. Atau setidaknya seseorang yang tidak mengundang bahaya kemanapun dia pergi.

Cerita keduanya begitu dramatis.

Hingga Blaise merasa tidak perlu memasng tv channel lagi dan bergosip dengan Hermione soal dua artis mereka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan drama dalam hidup Blaise.

Tapi sungguh, terkadang ia benar-benar berharap Harry adalah lelaki normal yang tidak perlu sedikit-sedikit Draco khawatirkan. Yang tidak perlu sedikit-sedikit Draco pikirkan. Dan Draco juga jatuh cinta secara normal, dimana ia tidak terlihat melamun tiba-tiba mengkhawatirkan pasangannya itu. Sejauh ini memang belum mengganggu hasil kerja Draco. Tapi entahlah. Kita lihat saja.

"Ada apa dengan Harry?"

Blaise tidak begitu ingin tahu saat ini. Besok malam ada launching produk baru untuk perusahaan parfum Draco. Dan ada beberapa wawancara singkat dan meeting luar biasa penting dengan klien dari Dubai soal anak perusahaan Malfoy di Timur Tengah.

Ia selalu suka gosip mengenai Draco dan Harry.

Tapi ia berharap tidak perlu meng-cancel semua pertemuan. Karena itu akan luar biasa menyusahkan.

"Aku harus menemaninya ke suatu tempat." Oke, Blaise mungkin tidak begitu peduli. Tapi ia ingin jawaban yang lebih konkrit dari ini.

"Dia tidak bisa pergi sendiri ke 'suatu tempat' ini?" menahan nada sarkasme dan frustrasinya. "Kau tahu besok malam ada launching produk terbaru kita dan kita punya klien penting untuk ditemui sehabis pesta itu?" Blaise berusaha untuk tidak meluap emosinya. Ia kelelahan. Dan ia tidak yakin bisa membuat para orang kaya dan penting yang berurusan dengan Draco mengerti dengan alasan bahwa Draco harus mengantar kekasihnya ke 'SUATU TEMPAT'. Setidaknya Draco harus menjelaskan urgensi tempat ini, untuk membuatnya bsia kembali tidur dengan tenang. Tenang hingga jam lima pagi setidaknya.

"Harry berkata ia mempercayaiku. Jadi ia menginginkanku bersamanya..."

Draco terdengar memelas. Blaise tidak ingin mendengar si pangeran angkuh Malfoy memelas.

Blaise menutup mata dan memijat pelipisnya pelan. "Kau bisa kembali sebelum makan malam?" pemuda itu mengusap wajah setengah mengantuknya, memutar otak dan membuat list pertemuan apa saja yang bisa coba ia undur atau batalkan.

"Kau yang terbaik." Draco terdengar gembira.

"Kau pikir kenapa aku masih sanggup bekerja denganmu?" Blaise tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli.

"Yah..." Draco mendesah lega. "Akan kuusahakan kami kembali ke London sebelum pukul tujuh malam."

"Kau ke luar kota?"

Draco menggumam mengiyakan, "Fasilitas rehabilitas, semacam rumah sakit kejiwaan. Entahlah. Ada di pinggir London."

"Harry butuh 'berobat'?" Karena jika iya, Blaise tahu beberapa terapis bagus yang tidak perlu membuat mereka pergi ke luar kota.

"Tidak. Kami pergi menemui Chochang." Oke. Sekarang Blaise kehilangan arah pembicaraan ini. Apa hubungannya mantan kekasih Cedric itu dengan perjalanan mereka?

"Ceritanya panjang." Draco membaca pikiran Balise yang penuh pertanyaan.

Blaise hanya menggumam lagi, "Huh? Ingatkan aku untuk bertanya pada Hermione nanti."

Blaise memutuskan sambungan telepon seluler mereka.

.

.

.

Draco dan Harry sampai di parkiran fasilitas kesehatan atau sebutlah rumah sakit, pada pukul lima pagi. Terpencil dan berkabut, Draco berharap ini bukan rumah skait kosong berhantu yang akan memakannya hidup-hidup.

Harry tertidur sepanjang perjalanan sejak mereka keluar jalanan utama London. Draco memastikan ia mengemudi dengan hati-hati dan cenderung perlahan agar tidur Harry tak terganggu. Entahlah. Sebut Draco sentimentil. Tapi rasanya ia tidak pernah melihat seorang manusia tidur dengan wajah semelelahkan Harry.

Jadi, ia berusaha tak mengganggu tidur singkat itu.

Harry menceritakan soal Cedric, soal Cedric yang menghubunginya kembali beberapa kali sejak insiden kuis beberapa waktu lalu. Meminta Harry untuk menemuinya. Dia tidak menawarkan penjelasan. Hanya meminta Harry untuk mungkin mempertimbangkan memaafkannya dan mereka bisa berteman.

Dan yah, omong kosong jika Draco tidak merasa cemburu. Draco tidak pernah merasa partner-partner romantisnya sebelumnya cukup signifikan untuk kehidupannya. Sehingga ia tidak pernah benar-benar peduli dengan apa yang mereka lakukan atau jika mereka merasa normal-normal saja untuk hook up dengan orang lain selain Draco.

Tapi dengan Harry, Draco sedikit posesif. Oh, baiklah, siapa yang coba dia kelabui lagipula? Draco sangat posesif. Lagipula, apa lagi yang bisa menjelaskan fistfight antara Cedric dan Draco setelah konferensi pers waktu itu, hah?

Namun pada saat yang sama tetap seorang pengecut brengsek yang tidak cukup berani untuk mengkonfrontasi Harry. untuk mengkonfrontasi perasaannya pada Harry.

Itu sebabnya, Draco cukup tahu diri untuk menahan diri kali ini dan tidak membiarkan rasa cemburu membakar dirinya.

Ia akan mengantar Harry menemui Cedric, dan lalu mereka pulang Draco bisa kembali menjalankan jadwal bisnisnya. Dan Harry dan dirinya bisa hidup bahagia selamanya, atau setidaknya sampai pertengkaran berikutnya.

"Apa kau melihat kedai kopi sekitar sini?" suara Harry tak begitu jelas. Kalimatnya nyaris seperti gumaman. "Aku lapar dan sangat mengantuk. Juga aku butuh kafein untuk pertemuan aneh ini." ia menggeliat dari posisi tidur duduknya? Entahlah, jangan tanya Draco apa nama posisi itu tepatnya.

Ah, ya, tentu saja. Draco setuju. Sayangnya di sekitar situ tidak ada kedai kopi atau kafe atau semacamnya.

Hanya ada halaman luas dari fasilitas rumah sakit yang berbau steril dan membuatmu muak karena bau obat.

"Ini semacam fasilitas psikiatris?" Harry mengangguk.

"Aku tidak tahu apa yang Cho Chang inginkan dengan aku berada di sini." Harry mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai membuka fitur text. "Mungkin sebaiknya kita memberi tahukan kita sudah sampai..." Harry menggumam lagi, kali ini sambil menguap.

Selang dua menit dari pengiriman teks barusan. Draco melihat melalui kaca spionnya, seorang gadis dengan baju terusan putih berlengan sesikut berlari kecil menuju mereka.

Draco tak langsung mengenali wajahnya, tapi Harry menggumam, "Chochang?" Dan itu cukup menjawab pertanyaan di wajah Draco.

Gadis itu membawa plastik putih kecil berisi dua botol kecil minuman kopi dari mesin pendingin.

Dan mengetuk kaca mobil Draco pada bagian Harry. Harry menekan tombol otomatis untuk menurunkan kaca jendela tersebut. "Aku pikir kau tidak akan datang." ia bicara begitu saja sebelum kaca mobil Draco benar-benar terbuka. "Cedric akan marah padaku karena kau ada di sini." ia tersenyum ramah ketika mengatakan itu sambil menyodorkan kantong plastik yang dibawanya.

Draco memasang wajah WTF-nya. Gadis ini lebih aneh dari kedengarannya.

"Kau akan mengerti nanti... tunggu di sini dulu... akan kupanggil nanti ketika sudah waktunya." lalu gadis itu kembali berlari kecil ke dalam bangunan putih tersebut.

Draco dan Harry berpandangan. Berbagi keheranan.

.

.

.

Pada pukul delapan Cho Chang kembali muncul. Kali ini mengenakan kardigan merah di atas dress putihnya tadi.

Kembali mengetuk kaca jendela mobil Draco dan menginstruksikan keduanya untuk keluar.

"Ini..." Chochang memberikan sebuah kunci kamar pada Harry. Kunci dengan gantungan nomor 217. "Ruangannya ada di lantai tiga, sebelah kiri dari lift..." Harry dengan wajah penuh tanda tanya menerima kunci itu.

"Pergilah ke sana..." Chochang menunggu reaksi Harry. yang ditunggu hanya melempar wajah penuh tanda tanya, "Kau akan menegrti nanti..." Chochang berusaha menjawab pertanyaan di wajah Harry.

"Kau tidak akan ikut?" Harry bertanya ragu.

"Aku hanya bilang padanya ia akan menemui tamu..." Chochang melebarkan senyum, "Ia akan mengamuk padaku jika ia tahu aku membawamu."

"Sakit apa sebenarnya?" Draco bertanya akhirnya.

Harry mengangguk, "Ya, kurasa aku harus setidaknya tahu sedikit pasien penyakit apa yang akan aku kunjungi?"

Chochang hanya memainkan bahunya. Tidak memberi jawaban apa-apa.

"Aku bilang temui saja. Kau akan mengerti nanti..." gadis itu kembali dengan senyum tenangnya. Draco melihat sekilas kesedihan dan kepasrahan. Dan dia tidak mengerti apa maksudnya.

Tapi ia tidak punya cukup keberanian untuk bertanya dan terblokir oleh jawaban kosong.

Jadi ia mengikuti langkah Harry menuju rumah sakit itu atau baiklah bangunan tempat perawatan pasien psikiatris atau semacamnya.

Tiba-tiba saja Chochang mencengkeram lengan Draco. "Biarkan Harry saja..." suaranya memerintah. Draco ingin tersinggung dan mulai kembali mengeluarkan sifat angkuh Malfoynya. Tapi sesuatu terasa final di mata Chochang. Ia tidak akan menerima argumen.

Entah mengapa.

Untuk suatu alasan tertentu gadis ini ingin mempertemukan mantan selingkuhan mantannya dengan mantan kekasihnya. Dan meskipun ia terluka dengan ide itu. Draco melihat ia memasrahkan banyak hal.

Dan katakan sekali lagi, tapi Draco menjadi sangat sentimentil mengenai hal ini.

Harry yang sempat terhenti langkahnya masih terdiam menyaksikan adegan pemberhentian paksa langkah Draco ini.

"Please Harry." sekarang ia memelas. Dan Draco makin tidak mengerti. Seperti ia melaksanakan satu permintaan terakhir.

Sebelum mati? Sebenarnya penyakit mematikan apa yang diderita Cedric?

Draco mulai muak dengan segala misteri ini.

Tapi ia menatap Harry. Harry seakan menunggu izin. Draco terdiam sejenak. Menarik nafas dan mengangguk.

Membiarkan Harry pergi sendiri memasuki gedung.

Siluetnya hilang, ditelan riuh rendah pasien dan para karyawan yang memulai aktivitas pagi mereka.

"Thank you." Chochang berbisik. Sambil menunduk. Draco melihat sekilas air mata jatuh dari pipinya. Tapi mungkin itu hanya ilusi matanya. Karena beberapa detik kemudian Chochang kembali tersenyum dengan senyum ramahnya. "Kau mau sarapan?"

.

.

.

Draco memandangi omelet di depan matanya. Kafetaria di fasilitas itu tidak begitu buruk. Ada cukup banyak menu dengan gambar yang mengundang selera. Dan presentasi omelet di hadapannya tidak begitu mengecewakan.

Hanya saja Harry sudah pergi selama setengah jam dan Draco tidak yakin ia bisa menahan psikosomatis rasa mual mengingat kekasihnya bersama Cedric Diggory saat ini.

Dan Chochang dengan lahapnya memakan potongan roti bakar keduanya.

"Aku tahu ini sedikit aneh." Chochang berhenti mengunyah. Ketika akhirnya ia mau sedikit memberi perhatian pada teman sarapan paginya saat ini.

Draco ingin berkata, no shit, Sherlock! Tapi itu terdengar terlalu klise untuk situasi di luar standar normal saat ini. Jadi ia hanya diam dan mengangguk.

Lalu diam lagi. Keduanya hening dan Draco mulai sedikit memberi perhatian pada omeletnya. Ia mengabaikan Chochang yang kembali mengabaikannya dan melanjutkan potongan roti ketiganya. Gadis ini terlihat sedikit kelaparan, Draco menilai dari kecepatannya menghabiskan tiga potong roti bakar yang dipesannya. Itu atau ia juga sedang menutupi kecemasan, entahlah.

"Aku dan Cedric lebih seperti teman kecil yang berubah menjadi kekasih, karena kami berdua berpikir itu yang orang-orang inginkan dari kami." Chochang tanpa aba-aba buka suara kembali. Setelah meminum sedikit teh hangatnya. Membantu menelan kunyahan terakhir roti bakarnya.

"Kau pernah merasa seperti itu?" ia bertanya. Matanya tak menatap Draco tapi lebih jauh. Tentu, logikanya pertanyaan itu untuk Draco sebagai seseorang yang duduk di hadapan gadis ini dan manusia yang paling mungkin mendengar kalimat tanya yang nyaris berbisik barusan.

"Merasa seperti?" Draco akhirnya menjawab. Dengan pertanyaan lagi karena secara general situasi ini membingungkannya.

Dan secara spesifik pertanyaan itu terbuka ambiguitasnya.

"Merasa seperti jatuh cinta karena kau bertanggungjawab untuk merasakannya?" Chochang kini menatapnya. Mata sipit khas Asianya terlihat lebih tajam dari detik-detik sebelumnya.

Draco tidak terintimidasi tentu saja. Ia menghadapi Hermione sebelumnya. Ia hanya tidak mengerti kenapa ia harus diberi tatapan seperti itu. "Tidak." ujarnya singkat.

"Really?" Chochang tidak mengeluarkan nada skeptis yang menghakimi, lebih terdengar seperti seseorang yang kaget sejujur-jujurnya kaget karena prediksinya tidak terpenuhi. "Kukira itu yang kau rasakan dengan Harry."

Draco tidak yakin untuk saat ini ia merasakan hal itu dengan Harry. entahlah. Mungkin ketika awal sekali ketika ia tiba-tiba mencium Harry di depan banyak khalayak. Itu terdengar seperti tanggung jawab untuk membuat sebuah hubungan palsu untuk menyelamatkan karirnya atau semacamnya. Tapi bahkan saat itu sesuatu terdengar salah karena Draco sudah mencium Harry terlebih dahulu sebelum ada perjanjian apapun.

Sebelum ada pembicaraan tentang skandal palsu untuk meningkatkan penjualan tiket film mereka.

Draco sudah mencium Harry. Di luar kesadarannya. Mungkin Draco sudah jatuh cinta pada Harry jauh sebelum perasaan nyaman yang bertumbuh seiring waktu saat ini.

Shit! Pikir Draco. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Ia selalu sengaja membiarkan pertanyaan kenapa ia mencium Harry malam itu tak terjawab. Mungkin ini sebabnya, karena ia sudah jauh lebih dulu jatuh cinta pada Harry bahkan sebelum kekacauan ini.

Sebelum Harry mempercayakan kata-katanya pada Draco.

Jauh sebelum Harry bisa tersenyum dan tertawa bersama Draco.

Jauh ketika interaksi mereka kebanyakan berisi pertengkaran tidak penting di tempat syuting.

Shit.

"Kenapa kau mempertanyakan ini? Apa kami terlihat seperti itu?" Draco sekarang menjadi lebih ingin tahu soal bagaimana pandangan orang lain tentang hubungan mereka daripada memikirkan kemungkinan bahwa Draco sesungguhnya sudah jatuh cinta terlalu dalam tanpa ia sadari. Bodoh sekali. Dan terdengar pengecut. Seperti biasanya.

"Entahlah. Mungkin karena kalian terlihat seperti stage act dengan ciuman dramatis di atas panggung? Atau mungkin aku hanya berpikir bahwa 'akhirnya, dua orang dengan nasib sama sepertiku'?" Chochang tersenyum tipis. Ekspresinya seperti meminta pemakluman. Draco tidak mengerti.

Jadi ia bertanya, "Nasib seperti apa maksudmu?"

"Berpura-pura jatuh cinta untuk kepentingan rating?" Oh. Draco pikir. Oh! Ketika Draco menyadari yang Chochang bicarakan adalah hubungannya dengan Cedric. Britania sweetest couple is a stage act?! Draco bisa membayangkan membacanya di halaman depan tabloid gosip.

Draco menegakkan badannya. Pembicaraan ini sekarang berada di luar kendalinya. Jadi ia sengaja melepas kendali dan bertanya, "Tapi kalian...?" sepotong kalimat yang tidak tuntas bisa dimaknai apapun bagi lawan bicaranya.

"Tidak terlihat seperti sekedar pasangan sensasi? Tetap bersama meskipun acara kami sudah lama selesai? Tetap bersama bahkan setelah 'Harry'?" Chochang terkekeh. Kekehan yang benar-benar mempelihatkan amusement dan bukan kekehan sentimentil atau sarkasme.

"Kau ingin membeberkan rahasia?" Draco bertanya akhirnya. Ia merasa seperti pembawa acara talkshow semacam Oprah Winfrey atau 60 Minutes.

"Tengantung." Chochang tersenyum menantang. "Apa kau benar-benar ingin tahu? Apa kau bisa menyimpan rahasia? Apa kau siap menghilangkan kebingungan?"

Draco berpikir sesaat. Mencari jawaban. "Ya." ujarnya.

Dan senyum Chochang berubah menipis. Mata dengan kepasarahannya kembali.

Draco berpikir untuk menyiapkan diri. Mungkin di akhir cerita ia akan mengerti bagaimana kepasrahan menggelayuti.

.

.

.

Beberapa orang berkata bahwa memori adalah yang membuat manusia; manusia. Metafora mewarnai kata-kata. Kita berjalan di batas antara tidak dan nyata. Warna-warna dan bentuk. Tentang apa itu kucing dan hewan melata. Mempersepsi dalam-dalam, memaknai keadaan.

Harry berjalan di lorong penuh pintu-pintu. Lalu berhenti. Di depan lift ada sebuah pot bunga, entah bunga apa namun berwarna kuning. Bentuknya cantik, Harry pikir.

Ia mengaguminya, berpikir untuk mengganti pohon karetnya yang hampir mati.

Terdiam beberapa saat. Harry berpikir bahwa ia bisa saja mati.

Dan digantikan dengan sesuatu yang lebih cantik, pikirnya.

Detik.

Menjadi menit.

Menit, menit, menit.

Terdiam lama merenung, mungkin sekitar sepuluh? Dua puluh menit? – Sampai Harry berjalan kembali menyusuri lorong. Di lantai baru. Di lantai Chochang menjanjikan ia bertemu Cedric.

Harry tidak tahu apa yang perlu ia antisipasi.

Harry bertanya-tanya sejak terakhir ia berpikir tentang mati. Apakah ada lagi yang ia antisipasi? Namanya cukup dikenal publik? Bukan catatan sejarah hidup yang membanggakan tapi cukup menarik lah untuk dibuat biografi. Harry bertanya-tanya apa yang lebih membuat hidupnya dramatis. Mengakhiri hidup dengan pil atau gantung diri? Harry berpikir mungkin ia harus bertanya pada Marilyn. Atau Kurt Cobain?

Harry tak semelegenda Robin Williams. Ia tidak yakin akan ada lilin-lilin menyala untuk mendoakannya.

Harry tidak punya karakter yang ia mainkan semelegenda Heart Ledger Joker, ia tidak yakin akan ada yang membandingkan perannya dengan orang lain yang memerankan peran yang sama.

Mungkin seharusnya ia mengambil tawaran peran antagonis di salah satu film Marvel, sebelum mati. Atau DC.

Pulang dari sini Harry akan meminta Hermione menghubungi Marvel atau DC. Kedengaran menarik. Harry selalu bermimpi menjadi Batman dahulu kala. Sekarang ia rasa ia akan lebih memilih menjadi penguin agar bisa berakting seflamboyan mungkin dan mengacungkan jari tengah pada siapapun yang mengatakan ia membuat penguin terlihat gay. For fuck sake! Penguin memang seorang pria Flamboyan.

Harry mulai terlalu jauh berangan-angan. Memikirkan hidupnya yang seringkali tidak masuk akal.

Hidup komikal, akting berakal.

Harry ingin membuka satu-satu pintu di lorong itu. Ingin bertemu siapapun yang ada di dalamnya. Meminta mereka bercerita. Tentang dirinya. Tentang kisah hidupnya. Tentang penyakitnya. Tentang penderitaannya. Tentang makan siang apa yang mereka makan kemarin. Tentang pekerjaan apa yang mereka lakukan. Tentang presiden mana yang menurut mereka seharusnya tertembak mati. Tentang perang dunia ketiga yang mungkin akan terjadi. Tentang cinta mereka. Tentang keluarga mereka. Tentang apa yang ingin mereka tinggalkan.

Tentang mati, dan sebagainya.

Hidup tidak lebih dari akal yang berakting komikal. Seakan-akan ada sesuatu yang bisa kita sebut nyata.

Harry ingin berada di pemakamannya ketika ia dimakamkan.

Sadar dan mendengarkan orang-orang bicara tentangnya.

Atau tentang tema pemakamannya.

Atau musik yang mereka perdengarkan.

Atau peti mati yang keluarganya pilihkan.

Harry mengingat-ingat. Wajah siapa yang paling ingin ia lihat.

Mungkin Ron, mungkin Hermione. Mungkin ayahnya, mungkin ibunya.

Mungkin juga Draco.

Untuk Draco, Harry ingin bertahan beberapa waktu.

Ia bertaruh dalam sebulan ia akan menjadi pohon karet mati. Dan Draco akan menggantikannya dengan pot berisi bunga yang jauh lebih cantik.

Harry ingin melihat bunga itu, penggantinya.

Mengangguminya.

Ironisnya.

Itu terdengar membahagiakan.

Mungkin sebaiknya Harry membuat wasiat tentang playlist untuk pemakamannya. Harry akan memasukkan Stayin' Alive untuk membuat pemakamannya super ironis.

Harry berjalan sangat perlahan. Bukan karena takut dengan hasil yang tidak ia ekspektasi.

Ia tidak lagi takut bertemu Cedric. Ia tidak takut bertemu sosok yang ada di balik pintu yang kuncinya kini Harry genggam. Ia sesungguhnya tidak takut apapun.

Tidak, tentu itu bohong. Harry masih takut banyak hal.

Ia hanya tidak lagi merasakan sentimen yang sama ketika seharusnya kau merasa takut. Ketika pistol ditodongkan di keningmu. Ketika berdiri di pinggir jurang. Ketika belati berada di dekat nadimu. Harry ingin merasakan kegugupan dan adrenalin di saat yang bersamaan. Tapi ia tahu tidak akan ada yang ia rasakan. Tidak tahu bahwa seharusnya ia merasakan.

Harry menjadi versi anomali lainnya. Tidak merasa apa-apa.

Jadi sesungguhnya ia benar-benar ingin membuka satu-satu pintu ini. Menodongkan pistol ke arah penghuni di balik pintu dan meminta mereka menceritakan kegugupan dan adrenalin ketika ia menodongkan pistol di kepala mereka.

Hentikan berpikir.

Harry masih berjalan. Rasanya sudah selamanya.

Ia berhenti di depan dua pintu sebelum pintu yang dituju. Seorang ibu tua didorong seorang perawat pria di kursi roda. Mereka berbincang. Harry mencuri dengar.

"Kau tahu aku sudah tidak kuat lagi untuk makan merica. Mereka bilang suatu hari nanti merica akan menyelamatkan dunia. Kau tahu apa yang membuat sebagian besar Asia menjadi budak? Merica. Dan rempah-rempah lainnya." ibu tua itu meracau. Harry tahu.

Perawat pria di belakangnya tersenyum sabar dan hanya menanggapi dengan "Iya, kau hebat Ramon, bisa mengingat semua itu." Itu mengehentikan racauan si ibu tua ketika mereka sampai di depan lift.

Ketika pintu lift berdenting, si ibu tua mulai meracau lagi. Soal ia tidak ingat apakah sudah ke kamar mandi pagi ini, karena ia merasa seharusnya ia sudah buang air kecil. Perawat pria di belakangnya hanya tersenyum sabar dan berkata, "Sudah."

Harry tersenyum ketika tadi perawat yang mendorong Ramon melewatinya. Ia tidak yakin Ramon menangkap senyumnya atau tidak karena pemuda itu terus saja berjalan melewatinya sambil mendorong kursi roda.

Harry berharap bisa menghentikan mereka dan meminta Ramon bercerita.

Dan Ramon mengingatkannya bahwa ia belum ke kamar mandi sejak kemarin malam.

Mungkin sebaiknya ia mencari toilet sebelum melakukan konfrontasi dengan mantan pacar –slash- penghancur hidupnya.

Harry menggelengkan kepala. Ia sampai di kamar yang ia tuju. Yang Cho bilang seharusnya ia tuju. Semoga ia tidak salah kamar.

Harry membiarkan dirinya tak berpikir. Lengannya bergerak begitu saja dan memutar kunci yang sudah masuk ke lubang kunci. Membuka pintu tanpa berekspektasi apapun.

Ia mungkin berekspektasi sedikit.

Menemukan Cedric yang terbaring sakit keras, ia menderita semacam tumor ganas. Efek samping dari kekurangajarannya menghancurkan hidup orang seenaknya? Bisa jadi. Dunia butuh lebih banyak penyakit seperti itu sepertinya.

Kau tahu, seperti tangan berjamur sebagai efek samping dari sexual harrasment. Atau lidah kaku akibat berbohong. Sesuatu semacam itu.

"Cho Chang?" suara dari dalam terdengar seperti Cedric. Tapi versi lemah dan pasrah. Versi seseorang yang sudah menyerah.

Bukan Cedric versi pujangga yang mencuri hati Harry lalu meninggalkannya begitu saja untuk hidup normal bersama Chochang.

Bukan Cedric versi sepuluh tahun kemudian yang dengan kurang ajar dan keras kepala berusaha keras untuk masuk kembali ke kehidupan Harry.

Ada tarikan nafas tertahan milik suara Cedric begitu Harry memasuki ruangan.

Cedric dalam balutan piyama rumah sakit berwarna biru pastel, duduk di atas ranjang. Secara sekilas tak banyak perubahan berarti. Kecuali bahwa tubuhnya menjadi sangat kurus, ia terlihat pucat dan kantung matanya terlihat begitu tebal. Cedric lebih terlihat seperti seseorang yang tidak mendapat asupan makanan yang cukup daripada pasien kanker.

Atau mungkin Harry harus mulai mencari tahu lebih mendalam mengenai tanda-tanda kanker dan tidak menelan mentah-mentah deskripsi John Green dalam 'The Fault in Our Stars'.

"Harry?" itu kata yang Cedric lontarkan, sebelum tersenyum pada Harry bagaikan dirinya orang asing.

Harry tidak mengharapkan tatapan hangat atau rindu tentu tatapan ini terasa kosong. Tatapan ini seperti mencerminkan Harry tak ada lagi dalam ingatan Cedric.

Pemuda berambut hitam itu, dengan langkah hati-hati, memasuki ruangan.

Tidak berani terlalu dekat ia berdiri di sebelah sofa dimana beberapa barang yang sepertinya milik Chochang bergeletakan begitu saja.

Harry membuka mulutnya. Tapi tidak keluar suara. Menatap balik Cedric yang kini menatap Harry seperti ia adalah kenangan yang amat jauh di masa lampau.

.

.

.

"Dementia adalah terminologi umum untuk menjelaskan penolakan beberapa kemampuan mental untuk mengerjakan tugasnya dan cukup untuk mengganggu kegiatan individu sehari-hari. Sementara Alzheimer adalah salah satu tipe dari dementia, alzheimer... penyakit yang menyebabkan gangguan dalam mengingat, berpikir dan bertindak." Draco tidak benar-benar mendengarkan penjelasan Cho Chang yang sepertinya sudah ia latih dan hapalkan selama beberapa lama.

Entah untuk menjelaskan pada siapa.

"Kau bilang ayah Cedric menderita penyakit yang sama."

"Ya."

Draco menyamankan posisi duduknya di bangku taman itu. Harry belum juga kembali. Draco bimbang antara harus merasa cemburu (ketakutan jika Harry kembali dibuat jatuh cinta oleh pria itu) atau khawatir (bisa jadi mereka terlibat pertengkaran hebat menyebabkan salah satu dari mereka kehilangan nyawa, Draco mulai memikirkan jalan keluar untuk menyembunyikan mayat).

Tapi terlalu lama menunggu akhirnya membuat Draco berhasil membujuk Chochang untuk buka suara.

"Aku tidak tahu bahwa Alzheimer penyakit turunan."

"Tidak seratus persen, tapi jika kau dari keturunan yang menderita hal tersebut kemungkinan untuk terkena menjadi lebih besar." Chochang tersenyum masam, dipaksakan dan lebih seperti senyum yang ia keluarkan hanya karna ia tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan dengan otot wajahnya.

Ekspresi apa yang selayaknya ia keluarkan.

"Dan kau ingin Cedric bertemu dengan Harry karena kondisi," –si brengsek Cedric- Draco berhenti sesaat untuk memilih hati-hati kata berikutnya, "Karena Cedric mulai kehilangan memorinya soal Harry?" Draco tidak ingin menatap Cho Chang kali ini. Gadis ini berubah dari membingungkan menjadi manusia yang ingin Draco beri simpati. Dan Draco tidak yakin bagaimana ia harus bersikap soal itu.

Jadi ia menatap ke taman. Kebanyakan orang tua berjalan dituntun atau dipapah oleh perawat mereka. Beberapa dibawa dengan bantuan kursi roda. Menikmati, bukan—bukan menikmati, sekedar mengisi hari dari waktu-waktu yang tersisa dari hidup mereka. Draco tidak pernah ingin menjadi tua jika seperti ini masa depannya. Tapi entahlah. Tidak pernah ada manusia yang tahu apa yang akan terjadi pada hidup mereka.

Dengan kebanyakan dominasi orang-orang lanjut usia, tidak berarti Draco tidak melihat anak muda sama sekali. Ada seorang pemuda yang bebicara sendirian pada pepohonan, bernafas dan berdiri tegak dengan tangan yan terletang horizontal. Seperti senam dalam satu gerakan.

"That's Mario, Skizofrenia, yakin bahwa dirinya seorang tentara dan seringkali melakukan penyamaran sebagai benda-benda mati; pohon, batu..." Now that sounds more depressing, Draco pikir.

Lalu Chochang melanjutkan bicara untuk menjawab pertanyaan Draco, "Aku membawa Harry menemui Cedric, bukan karena Cedric melupakannya." Chochang lalu terkekeh beberapa saat. Draco tidak melihat atau merasa ada sesuatu yang lucu di sekitar mereka. "Tapi karena satu-satunya hal yang selalu ia ingat dengan baik adalah Harry. Dan persaannya pada lelaki itu." Chochang terdengar seperti seorang ibu yang sudah menyerah pada kecanduan anaknya pada narkoba, atau seorang jenderal yang akhirnya menerima bahwa semua tentaranya sudah mati di medan perang dan ia kalah.

Chochang terdengar seperti ia pernah berusaha, sangat keras malah, tapi ia sudah kalah bahkan tanpa musuhnya sadar bahwa ia sudah mengalahkan Chochang.

Wow, pikir Draco. Kali ini terdengar lebih depresif.

.

.

.

"Chochang ya kan?" Cedric terkekeh, tapi kekehannya terdengar hampa. Dia terlihat seperti vampir yang baru saja dibiarkan berjemur di bawah sinar matahari pagi. Makhluk malam yang dihabisi oleh terang dan sinar kehidupan, nyaris mati ketika ia ditarik kembali ke dalam kegelapan.

"Dia bilang aku harus menemui di sini. Terdengar penuh urgensi seakan kau akan mati," jawab Harry yang dibalas kekehan lagi oleh Cedric.

"Dia tidak salah..." tangan kurus Cedric dibalut perban kecil bekas suntikan. Ia tidak dipasangi selang infus atau hidungnya tidak ditutupi selang oksigen.

"Apa kau terkena kanker?" Harry masih pada kesimpulan berdasarkan novel remaja yang pernah dibacanya tentu saja ragu. Tapi ia tidak punya perkiraan lain.

"Tebakan bagus..." Cedric terkekeh lagi. Cedric yang sakit punya selera humor yang sangat receh, pikir Harry. Lalu kekehan Cedric berhenti absurd. Dengan nafas yang seakan terhenti juga, ia menariknya perlahan. "Kau tahu Alzheimer?"

Harry pernah mendengarnya tentu saja. "Kukira itu hanya menyerang orang tua."

"Ya, ayahku meninggal karena ini..." Cedric membuat isyarat dengan tangan kurusnya menunjuk kepalanya. "Something about plaques and tangles that get my brain difficult to work normally."

Cedric kini menatap ke arah Harry tepat di emeraldnya, kali ini mereka terasa familiar bagi emerald Harry. Cedric yang menatapnya detik ini sama seperti Cedric yang menatapnya sepuluh tahun lalu. Ketika mereka pertama kali menyelesaikan syuting bersama. Harry merasakan afeksi yang kuat. Sesuatu yang tak bisa ia namai kala itu, tidak juga kini. Tapi bersamaan itu ada penyesalan. Ada ketakutan.

"Aku tidak ingin meninggalkanmu." Cedric mulai bicara. "Ketika berita itu menyebar? Aku ingin berlari ke rumah bibimu dan menjemputmu, lalu kita melarikan diri ke ujung dunia bersama." Cedric dengan suaranya yang tenang dan lebih terasa familiar kini nyaris seperti mendongengkan fairytales pada Harry.

Harry mendekat, kini berdiri di samping ranjang Cedric dan menatapnya balik dengan tantangan. Dengan tuntutan akan sebuah kejujuran. Karena Harry merasakannya. Setiap kali Cedric muncul di televisi dan menatap ke kamera, Cedric tidak terlihat seperti lelaki yang menyesal. Ia terlihat seperti lelaki yang baru saja divonis penjara seumur hidupnya. Itu sebabnya Harry masih meneleponnya. Mengiriminya surat. Karena Cedric masih ingin bersama dengan Harry.

Pemuda lima belas tahun itu dapat memaknai tatapan permintaan pertolongan yang Cedric – sadar atau tidak sadar- sebarkan pada dunia setiap konferensi pers bersama Cho Chang. Ia hanya tidak ingin melihat lelaki yang dicintainya, manusia pertama yang dicintainya menderita.

Namun ketika Cedric tak juga membalasnya. Ketika Cedric tak berhenti meminta maaf pada Chochang dan terus menyebarkan kebohongan mengenai hubungan mereka.

Harry sadar, bahwa mungkin, it's just a wishful thought. Hanya fatamorgana di otak Harry yang menginginkan Cedric untuk masih menginginkannya.

Harry berusaha melakukan reality check. Dan ia pikir sudah berjalan terlalu jauh dari yang seharusnya ia lakukan.

Dan kini, sepuluh tahun kemudian, Cedric kembali dengan tatapan memohon itu. Di baliknya ada permintaan pengampunan tak terbahasakan. Di baliknya ada penyataan cinta tak teraksarakan.

"Aku anak tunggal, Harry, ibuku sudah meninggal dan ayahku sakit." there is desperation, ia begitu ingin Harry mengerti, Harry harus mengerti.

"Kau tidak pernah kembali selama sepuluh tahun. Aku menunggu dalam diam, balasan surat, telepon, email, bahkan burung merpati jika perlu. Tapi kau tidak pernah berbicara padaku. Tidak pernah menjelaskan padaku." Harry sadar nada bicaranya naik, sadar bahwa seharusnya ia tidak berteriak pada orang sakit.

Tapi Cedric tidak menciut pada nada suara Harry, di matanya hanya bertambah pecahan kaca sebagai penghias, hampir berjatuhan namun belum benar-benar jatuh. Ia masih menahannya. Ia selalu menahannya.

"Kau bisa katakan itu padaku, kau tahu? Kau bisa memberiku penjelasan. Satu penjelasan dan satu pernyataan bahwa 'kita' nyata, cukup untukku. Tapi Kau—" Harry memotong kalimatnya, sadar bahwa kali ini suaranya yang terdengar pecah. Di matanya ada gelinang air mata yang mengucur jatuh.

Ia bersumpah ini terakhir kalinya ia akan menangis untuk pria ini.

"Aku tahu..." Cedric mengulurkan tangan kurusnya pada Harry. tidak sengaja memamerkan luka bekas tusukan jarum di beberapa bagian lengannya. Kemeja piyama Cedric berlengan pendek, tidak cukup untuk menyembunyikan betapa sakit dirinya saat ini.

Harry menatap selama satu menit lebih tangan Cedric yang terjulur. Untuk sekali ini mengikuti kemauan Cedric dan membiarkan tangannya juga meraihnya. Tangan Cedric menggenggam lemah tangannya.

Ini seperti pertemuan kembali dua kekasih yang lama terpisah.

Dan Harry tidak suka mendengar bagaimana kepalanya memutar balikkan keadaan mereka dengan penggambaran romantis saat ini.

Itu bodoh.

Mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih, pikir Harry. Ia hanya sebuah penyesalan kecil yang tidak bisa Cedric keluarkan dari kepalanya meskipun ia mulai melupakan segalanya.

Dan Harry datang kemari. Harry datang kemari. Entahlah. Harry tidak begitu yakin apa yang membuatnya setuju untuk datang kemari. Mungkin asa. Mungkin simpati. Mungkin keinginan lama untuk melihat cinta pertamanya. Mungkin ia ingin melihat lelaki yang menghancurkan hidupnya menderita.

Harry tidak yakin dengan apa yang ia harus rasakan saat ini.

"Kau tidak perlu merasakan apa-apa..." Cedric tersenyum, senyum yang selalu ia gunakna dulu, sepuluh tahun lalu, tiap kali ia meyakinkan Harry mengenai hubungan mereka. Bahwa ia akan selalu mencintai Harry, bahwa ia akan menjaganya. Bahwa mereka akan melawan dunia bersama yang menentang keduanya untuk bersama.

Bahwa kebohongan bisa terasa begitu meyakinkan jika kau remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

"Aku tidak akan bisa menerimamu kembali, jika itu yang kau minta." Harry berujar lemah. Berusaha untuk tidak terdistraksi oleh kenangan dan senyum juga kehangatan Cedric yang terasa familiar saat ini.

Draco menunggumu untuk segera pulang. Harry mengingatkan dirinya.

Cedric melebarkan lagi senyumnya, kali ini membahasakan pemakluman. "Tentu. Tentu saja tidak. Aku hanya memintamu untuk mendengarkan pernyataan ini hingga selesai. Lalu memberiku pengampunan dosa."

Harry tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum balik, "Aku tidak yakin Vatikan setuju seorang gay sepertiku membantu proses pengampunan dosa."

Pada detik itu. Semua terasa familiar.

Seakan ia lima belas tahun lagi.

Berdua bersama cinta pertamanya.

.

.

.

Draco mendengarkan. Dan mendengarkan.

Dan mendengarkan.

Cerita yang keluar dari mulut Cho Chang terdengar seperti kisah tragis yang dikarang oleh Hemingway bersama sajak-sajak depresifnya.

"Kurasa pada satu titik kami saling menyukai. Sementara aku jatuh cinta, Cedric mulai merasa bosan. Pada saat itu ia bertemu Harry kurasa. Dengan hidup yang penuh rasa bosan, Harry terlalu eksektrik untuk kau lewatkan." Draco mengangguk-angguk, ia mengerti betul apa yang Chochang bicarakan. Hmmm... mungkin itu yang membuat insiden ciuman pertama mereka di atas panggung bisa terjadi.

Atau mungkin saja Draco seharusnya tidak membiarkan Ron membuat Harry satu panggung dengannya dan menseduksi Draco dengan tatapan rapuhnya.

Ya, mungkin saja.

"Aku tahu ketika Cedric mulai sering membicarakannya, ketika mereka mulai sering pergi bersama untuk menonton pertunjukan puisi. Aku sudah kehilangan kesempatan untuk membuat Cedric jatuh cinta. Tapi aku pikir, Cedric tidak akan melakukannya, tidak akan sampai berani menyatakan sesuatu pada Harry. Kau tahu? Karena Cedric dibesarkan di lingkungan religius, gay adalah dosa besar yang akan dihukum dengan pisau panas menyala dan pembakaran di api neraka. Aku yakin sekali bahwa tidak akan sampai terjadi kekacauan, aku melihat Harry. dan aku melihat seseorang yang sudah cukup tahu diri di usia mudanya ketika ia sebenarnya bisa bersikap seenaknya dengan statusnya sebagai anak orang kaya dan selebritas papan atas di usia muda. Harry tidak akan melakukan apa-apa." Chochang menarik nafas.

Draco mengisi jeda, "Tapi mereka melakukannya."

"Ya, dan dengan ceroboh membiarkan publik mengetahuinya. Ketika Cedric kembali aku tidak perlu marah atau berteriak. Aku hanya perlu duduk diam di ujung ruangan karena ayahnya, ayah Cedric yang sangat lembut dan baik hati yang berteriak dan menyumpahi anaknya akan terbakar di neraka. Aku tidak perlu melakukan apa-apa. Cedric menyayangi ayahnya dan di atas semua itu, ia pengecut sejati yang tidak akan membiarkan hidupnya hancur karena satu skandal asmara." Gadis itu menatap tajam ke arah Draco yang menatapnya menyamping karena posisi duduk mereka yang berdampingan di bangku taman.

"Kau tahu siapa yang bukan seorang pengecut dan penuh dengan kekeraskepalaan? Harry. Pemuda itu berani mempertaruhkan segalanya. Cedric beberapa kali hampir goyah. Sampai akhirnya Harry menyerah. Dan wasiat terakhir ayah Cedric sebelum meninggal adalah bahwa ia ingin memiliki cucu dari Cedric. Dan aku. Sesuatu yang tentu tidak mungkin terjadi bersama Harry. Itu sebabnya aku masih melanjutkan ini semua." Draco menatapnya heran kini. Menatap gadis dengan cerita yang nyaris sama menyedihkannya dengan Harry. Yap, nyaris. Jika mengingat bagaimana Draco menambahkan banyak penderitaan untuk Harry.

"Lalu kenapa kau membiarkan Harry datang lagi saat ini?" Draco bertanya, dengan keingintahuan serius luar biasa.

"Karena Cedric berjanji untuk menikahiku, menjalani sisa hidupnya denganku, yang kau tahu, mungkin tidak begitu lama mengingat pasien alzheimer punya kemungkinan hidup hanya sekitar empat sampai lima tahun. Atau sepuluh sampai lima belas tahun dengan perawatan eksklusif." Chochang menarik nafas lagi." Dan jika kau bertanya kenapa? Kurasa semenjijikkan atau seklise apapun kedengarannya, aku melakukannya karena cinta."

Gadis itu tersenyum, ada sedikit sinar pada senyumnya kali ini.

Ada sedikit sinar.

Draco berpikir, mungkin itu yang membawanya duduk bersama Chochang siang ini.

Menunggu Harry, pria yang ia curi ciumannya di sebuah pesta.

.

.

.

Mereka terdiam. Saling tatap dalam genggaman kehangatan dan nostalgia.

Harry mendengarkan cerita Cedric. Penjelasan tentang ayahnya. Tentang wasiat terakhir ayahnya. Tentang betapa Harry tak pernah benar-benar meninggalkan pikirannya.

Tentang sepuluh tahun kemudian ketika ia kembali bisa bertemu langsung dengan Harry ia tidak tahu harus berbuat apa.

Harry yang pertama kali melepas kontak, "Kau sudah selesai?" tapi Cedric meraih kembali genggaman Harry. Dan mengejutkan dengan cukup kuat menarik kembali tubuh Harry mendekat ke arahnya.

Wajah mereka berada cukup dekat kini, hanya tersisa jarak sejengkal dan bibir pucat Cedric mengingatkan Harry pada malam pertama kali Cedric menciumnya. Cedric yang mabuk berat dan habis memuntahkan racun alkoholnya.

"Kau masih mencintaiku." ujar Cedric, bukan pertanyaan. Bukan kalimat perintah. Suaranya terdengar hangat. Suaranya terdengar familiar. Suaranya mengirimkan detakan jantung yang menjadi luar biasa cepat pada Harry.

"Aku memiliki kekasih sekarang." ujar Harry menjelaskan.

"Satu ciuman terakhir yang tak perlu ia tahu, satu ciuman perpisahan. Tidak akan melukainya."

"Kau akan kembali bersmaa Chochang, kau ingat?"

Cedric terlihat sedih. Luar biasa sedih mendengar nama Chochang disebutkan, "Dan aku hanya mendapatkan beberapa menit denganmu."

Harry menahan nafasnya ketiak wajah Cedric mendekat. Sebagian dirinya yang terjebak dalam atmosfer nostalgia cinta pertamanya ingin teteap bertahan di posisi itu dan membiarkan Cedric menciumnya.

Sebagian lagi adalah perasaan setia pada Draco yang tidak ingin mengkhianati kekasihnya.

Jadi di detik terakhir sebelum bibir mereka bersentuhan, Harry menarik dirinya.

Dengan nafas terengah-engah menjauh dari ranjang Cedric. Dengan mata yang ketakutan. Berdiri bersandar pada pintu keluar.

"Harry?" di mata Cedric ada kehilangan. Ada kekecewaan besar. "Kau benar-benar mencintai si Malfoy itu, hah?" Harry tidak bisa menjawab.

Cedric menunduk, mengatur nafasnya. Lalu menatap kembali ke arah Harry dengan tatapan asing seperti pertama kali ketika Harry masuk ke ruangan itu.

Seakan keduanya tidak saling mengenal.

Seakan Harry adalah orang lain yang bahkan tidak pernah berpapasan di jalan dengan Cedric.

"Aku tidak mengenalmu." Cedric berkata.

Harry menjawab, "Ya, karena aku sudah memaafkanmu."

Harry bukan remaja lima belas tahun lagi yang jatuh cinta pada Cedric karena kekaguman.

Ia bukan lagi Harry yang menyimpan dendam dan kemarahan pada Cedric dan dunia.

Ia hanya Harry sekarang.

Dan ia kekasih Draco Malfoy dan dunia mengetahuinya.

Harry tersneyum untuk terakhir kali. Cedric membalasnya dengan senyum sopan. Senyum yang kau berikan pada orang asing yang tak sengaja saling bertatapan di jalan.

Harry akan dihapus dari ingatan lemah itu.

Dan mungkin itu bagian terbaik dari semuanya.

.

.

.

Harry menemukan Draco sedang duduk bersebelahan bersama Chochang di bangku taman belakang.

Dan tanpa ba bi bu hanya berkata, "Ayo kita pulang." pada Draco dan menariknya menjauh dari Chochang tanpa berpamitan.

Tidak perlu, pikir Harry.

Mereka tidaka akn bertemu lagi.

"Hei... Harry... pelan-pelan..." Draco yang ia tarik beberapa kali hampir tersandung ketika akhirnya mereka sampai ke parkiran mobil.

Ketika keduanya berhenti di samping mobil Draco, Harry tanpa pikir panjang menarik Draco. Menubrukkan tubuh rampingnya ke pintu bagian supir dan membawa tubuh Draco untuk menghimpitnya. Lalu menyerang bibir Draco yang wajahnya masih dihiasi kebingungan. Rasanya nyaris komikal ketika Draco berhenti kebingungan dan balas mencium Harry.

Sama putus asanya.

Sama penuh kerinduannya.

Berapa lama mereka berpisah?

Satu jam?

Dua jam?

Satu kehidupan yang lalu?

Draco terasa lebih familiar bagi Harry. Bibir tipis Draco dan lidah dominannya, yang sering mengeluarkan kalimat jahil dan ejekan terasa seperti satu kehidupan lalu.

Mungkin dahulu Harry dan Draco juga musuh bebuyutan di kehidupan sebelumnya.

Jatuh cinta namun tidak bisa bersama karena keduanya ada di pihak yang berbeda.

Mungkin dahulu keduanya penyihir dan bersaing menjadi yang terbaik dari kelompoknya masing-masing.

Mungkin saja. Pikir Harry.

Jika di kehidupan lalu mereka tidak bersama. Harry tidak akan melepaskan Draco di kehidupan ini.

"Apa yang kau bicarakan dengan Cedric sampai membuatmu terangsang seperti ini?" Draco dengan nada jahilnya, menekankan poin pembicaraan dengan menekan satu kakinya pada bagian kejantanan Harry. Harry sendiri tidak sadar bahwa dirinya mulai mengeras.

Bahwa dirinya terdengar begitu desperate ketika ia mengeluarkan desahan akibat perlakuan Draco.

"I don't know but... can you fuck me?" Harry berbisik.

Dan Draco mengeluarkan nada frustrasi.

"Masuk ke mobil! Kita cari penginapan terdekat di sekitar sini!" ujar Draco sebelum mencium Harry untuk terakhir kali sebelum ia membuka kunci mobil.

Keduanya masuk terburu-buru. Draco hampir menggores mobil orang lain ketika keluar dari posisi parkirnya.

Harry menenangkan nafasnya. Menatap Draco dan membiarkan rongga dadanya dipenuhi kehangatan menyaksikan Draco yang mengebut keluar dari fasilitas kesehatan tersebut.

"Aku mencintaimu." ujar Harry tiba-tiba ketika Draco sedang fokus dengan jalanan. Mengebut sesuka hatinya di jalanan luar kota yang cenderung lengang.

Draco memelankan mobilnya, "Aku tahu." Menyempatkan diri untuk menatap Harry dan tersenyum.

"Cedric akan melupakan banyak hal. Termasuk aku."

"Aku tahu." ujar Draco lagi, kini setelah adrenalin dari ciuman panas tadi mereda. Mulai kembali menyetir seperti warga negara yang baik dan taat peraturan. "Aku tidak keberatan soal itu?"

Harry menggeleng, "Tidak masalah. Lagipula Harry yang hidup diingatannya bukan Harry yang dulu."

"Aku tidak mengenal Harry yang dulu," ujar Drao tanpa pikir panjang.

"Kau tidak akan begitu menyukainya."

"Kenapa?" Draco bertanya.

"Karena Harry yang dulu kemungkinan besar tidak akan menyukaimu, Harry yang dulu punya selera yang buruk soal pria. Buakn berarti Harry yang sekarang sudah lebih baik seleranya."

Draco terbahak. Benar-benar-benar terbahak. Entah kenapa terdengar luar biasa lucu dan ironis di kepalanya.

"Tapi Harry yang sekarang mencintaiku?" Draco bertanya usil.

Harry hanya menggumam mengiyakan. "Dan Harry yang sekarang berharap kau tak akan melupakannya?"

Serahkan pada Harry untuk mengubah mood dari ringan dan romantis, pada kesenduan yang tragis.

Draco memberhentikan mobil mereka di pinggir jalan.

Dekat dengan hutan. Sekitar delapan puluh kilometer lagi sebelum memasuki tol dalam kota London.

Draco menatap emerlad Harry dalam. Harry membiarkan dirinya tenggelam dalam kesungguhan iris kelabu Draco.

"Tidak, tidak akan pernah. Karena Draco yang sekarang juga mencintaimu sama besarnya..." Draco tersenyum tipis, lalu menambahkan, "Scarhead." dengan nada iseng khas miliknya.

Harry tersenyum balik, melepas sabuk pengamannya dan mencium Draco lagi. Kali ini lebih hangat. Lebih penuh kasih sayang.

Lebih penuh kehati-hatian.

Harry akan menyimpan bagian ini di bagian khusus di kepalanya. Sesuatu yang akan ia ingat selalu sepanjang hidupnya.

Jika memori yang membuat manusia; manusia.

Harry ingin membuat memori ini menjadi memori yang menjelaskan hubungan mereka.

.

.

.

TBC

Halo, para pembaca yang budiman dan penuh kesabaran.

Yap, saya masih hidup. Sudah bukan mahasiswa lagi, btw. Tahun ini sangat luar biasa super duper hectic. Skripsi, seminar, sidang, wisuda, cari kerja, mulai kerja. Dan di antara faktor-faktor itu semua ada faktor kemalasan yang luar biasa dari saya untuk sekedar membuka laptop. Apalagi buka laptop untuk mengetik ff. Karena setelah beres skripsi rasanya ada trauma tersendiri kalau buka word di laptop... hahahahahaha.

So? Ini mungkin hampir chapter terakhir. Mungkin saya akan menambahkan 1 atau 2 chapter lagi sebelum mengakhiri cerita ini.

Mungkin bisa juga chapter berikutnya cuma sekedar epilog. Silahkan komen. Menurut kalian apakah chapter ini cukup untuk jadi ending atau kalian merasa ada hal yang ingin kalian jelaskan dari AU ini...

Segitu saja, sekali lagi saya minta maaf untuk ketidaknyamanan penantian luar biasa panjang yang harus anda hadapi sebagai pembaca saya... wkwkwk *mendadak formal*

But please... keep the support guys... Dengan support kalian saya jadi akhirnya bisa menyelesaikan chapter ini. Review dan message yang masuk ke inbox itu luar biasa buat saya.

Ini mungkin ga sebagus yang kalian harapkan, mungkin di cerita berikutnya saya akan berusaha untuk bikin ceirta yang lebih baik. Thank you.

Dan thank you juga buat editor saya Miss ichinisan1-3 a.k.a Anna... sobat saya sejak SMP sampai sekarang udah mulai sama-sama ditagih supaya cepet nikah sama orang tua masing-masing... wkwkwk

P. S. Sesungguhnya sedikit lagi, kalau saya boleh beralasan kenapa saya rasanya ingin berhenti nulis FF yaoi, karena isu gay yang lumayan kencang akhir-akhir ini di Indonesia. I know this is for fun but I can't help myself not to get involved on thinking. Did I do something wrong? Did I support the wrong group of people? Did I even really support them? So I don't know.

Maybe next time I keep my story lighter than this one. Maybe I make some M-Preg Au where we don't argue about what is right or what is wrong... XD

I don't know...

Just thank you

Dan terakhir, selamat tahun baru semuanya. Semoga tahun 2018 ada lebih banyak kejadian baik dan kita juga jadi lebih baik lagi. Dan saya bisa lebih sering update lagi... wkwkwk.

Salam Kecup Basah,

erelra