Judul : Chika-nee ga Hoshii

Chapter : 2

Genre : Romance, hurt/comfort, Shota, Milf, mature dan OOC.

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Sakurako kimino

Crossover : Naruto x Lovelive

Pairing : Naruto x Chika

Rating : M

A/N :

Uhuk.. uhuk..
.

.

.

.

.

Don't like don't read

.

.

.

.

.

Naruto pov*

Sekitar 4 tahun lamanya aku meninggalkan kota ini sejak orangtuaku memutuskan untuk pindah ke Tokyo. Aku memangku wajahku di jendela mobil, aku memandangi pemandangan di luar dengan laut yang nampak kebiruan. Ayah dan Ibuku berbincang mengenai masa lalu saat kami berada di sini. Mereka memutuskan untuk liburan musim panas di tempat ini, sekalian mengunjungi teman lama katanya.

Aku sedikit mengingat masa kecil saat berada di sini dan itu sangat memalukan. Umurku sekarang 18 tahun, tentunya aku akan merasa canggung berada di tempat yang sudah lama tak ku kunjungi. Apalagi orangtuaku menyewa penginapan keluarga Takami. Tentu saja itu menjadi akar masalah utamanya saat ini.

"Naruto, bangun.. kita sudah sampai.." samar-samar aku mendengar suara Ibuku yang membangunkanku dengan mengguncang pundakku.

Aku berjalan membawa tasku di halaman penginapan Takami, aku mengikuti langkah orangtua menuju pintu rumah mereka yang sepertinya sudah di sambut oleh Shima-nee dan Mito-nee. Aku menginjak tatami rumah penginapan ini, karena rasa kantuk aku menguap sesaat. Sebenarnya aku merasa enggan untuk datang kemari, tapi mungkin ada satu hal yang membuatku ingin pergi.

"Oh Naru-chan.. Hisashiburi..!" mendengar sapaan dari suara wanita yang sudah lama tak kudengar membuatku terperangah, aku mendongak melihat wujudnya yang nampak berbeda dengan empat tahun yang lalu.

Rambutnya yang berwarna jingga nampak sudah memanjang hingga sepunggung, dia gerai sehingga membuatnya terlihat lebih dewasa. Baju yang dikenakannya juga nampak feminim daripada ketika dia remaja. Dia memakai kaos berwarna putih dan rok berwarna merah marun hingga sebatas betis. Dia tersenyum seiring mendekat padaku membuat dadaku menjadi bergejolak hanya dengan itu.

Dia cinta pertamaku. Teman masa kecilku yang sangat aku sayangi, Chika-nee. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, entah bagaimana itu terlihat seperti daya tarik untukku. Dia benar-benar berbeda dengan yang dulu, malah terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

"Naru-chan sudah besar ya, aku tidak melihatmu sejak kau masuk kelas 2 SMP.." jelasnya yang langsung ditimpali Ibuku soal betapa kerasnya dia membesarkanku lalu mereka melangkah ke dalam.

Aku memperhatikannya dari belakang yang tersenyum menanggapi Ibuku, entah bagaimana aku merindukan senyuman itu. Aku tidak melihatnya sejak pindah ke Tokyo, karena kami tidak memiliki kontak untuk saling menghubungi karena sepertinya Chika-nee ganti nomor telpon. Aku hanya anak kecil saat itu jadi aku pikir Chika-nee sudah punya pacar baru. Lagian dia lebih tua 6 tahun dariku. Pastinya dia pikir aku hanya anak-anak, 'bukan?

.

.

.

.

.

.

"Jadi Naruto-kun memutuskan untuk kuliah?" Shima-nee bertanya padaku di sela makan siang bersama.

"Begitulah, tapi ujiannya cukup sulit.. jadi banyak masalah ini dan itu kurasa.." aku menjawab sambil memakan nasiku.

"Kelihatannya kau sedang kesulitan.." Mito-nee menimpali.

"Yah, setidaknya kalian tak sungkan untuk berlibur kemari.." paman Takami terlihat senang dengan kedatanganku, sejak tadi dia minum sake bersama Ayah.

Satu hal penting paman Takami terlihat sangat ingin memiliki anak laki-laki jadi saat aku dititipkan di sini, dia sangat memanjakanku seperi anaknya sendiri. Dia orangtua yang baik. Kapan-kapan aku mengajaknya memancing sepertinya ide yang bagus.

"Jadi, Naruto-kun ingin masuk jurusan apa?" Mito-nee mulai bertanya yang langsung ditimpali Paman Takami.

"Dia akan masuk jurusan kedokteran, soalnya dia pewaris klinik Uzumaki, 'bukan?" Paman Takami mulai berkilah tanpa persetujuanku, yah meskipun aku memang tak punya rencana apapun tentang itu. Kurasa menjadi dokter itu mustahil.

"Sebenarnya itu sedikit.." aku ingin mengatakan bahwa itu mustahil.

"Otou-san, itu mudah untuk dikatakan tapi tidak untuk dilakukan.." Chika-nee membalas ucapan paman Takami.

"Ahahaha, aku senang kalian memikirkan masa depan putraku.. tapi, kami tidak ingin memaksanya untuk menjadi dokter.. kami lebih suka dia menempuh apa yang dia mau.." Ayahku menepuk kepalaku sedang membela masa depan yang cocok untukku.

"Membicarakan masa depan, aku jadi penasaran.." Ibuku mulai angkat bicara wajahnya mengarah pada Chika-nee yang sibuk mengunyah, "Chika-chan, bagaimana dengan omiainya? Aku dengar kau mengikuti perjodohan dengan Neji Hyuga-kun.."

Paman Takami langsung menjawab pertanyaan Ibuku, "Oh itu kabar yang bagus bukan, 'Kushina-san? Tentu saja-"

"Itu sudah gagal!" Chika-nee tiba-tiba langsung berteriak dan langsung membuat paman Takami histeris.

"Apa?! Tunggu, apa kalian bertengkar lagi?!" Paman Takami mulai mempertanyakan Chika-nee yang kelihatan sama sekali tak memikirkan perjodohan itu.

Chika-nee menatap gelas teh sebelum lanjut bicara, "Bukannya begitu.. hanya saja dia pria yang terlalu baik, aku jadi merasa bersalah.." kemudian dia meminum teh yang ada di dalamnya tanpa beban.

Ibuku terkejut mendengar pernyataan Chika-nee dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Benarkah? Sayang sekali, kupikir dia pria yang baik.. selain itu, dia guru yang mengajari Naruto Kendo dulu.."

"Mengingat banyak waktu yang kulalui dengannya tanpa perasaan membuatku nampak kejam, aku sudah berusaha semampuku tapi tetap saja sulit.." Chika-nee berujar lalu wajahnya berubah memerah dengan senyuman yang manis, "Lagipula, masih ada hal yang ingin kulakukan.." lanjutnya yang membuatku melirik padanya.

Chika-nee menolak perjodohannya. Sejujurnya aku merasa senang mendengar itu, aku merasa masih memiliki kesempatan untuk mendekatinya.

Aku tahu menyukainya adalah hal yang salah mengingat perbedaan umur kami. Apalagi sepertinya aku menyukainya sejak kecil. Hubunganku dengan Chika-nee terbilang cukup rumit. Aku pernah memintanya untuk membantuku tentang masalah pubertasku saat aku berumur 10 tahun. Tapi karena ketidak sengajaan karena perasaan yang bergejolak saat itu, kami berakhir melakukan hubungan seks.

Entah bagaimana kami menyebutnya sebagai latihan, lalu tanpa sadar menjadi candu yang berkepanjangan. Selama itu entah sudah berapa banyak aku melakukan hubungan seks dengan Chika-nee. Awalnya aku tidak mengerti, tapi semakin lama aku mulai menyadari bahwa itu tidak normal. Apalagi saat itu kami masih di bawah umur. Meskipun saat itu aku terdorong oleh perasaanku pada Chika-nee. Aku sendiri tidak tahu apa yang Chika-nee pikirkan tentangku.

"Gomen nee, kau jadi membantuku mencuci piringnya.. kau pelanggan, seharusnya kau pergi dengan yang lainnya melihat persiapan festival saja.." aku mendengarnya yang berada di sampingku, dia sedang sibuk menyabuni piring dengan busa.

"Tidak apa-apa, ini sudah biasa.. seperti dulu, 'bukan..? lagian keluar pun aku tidak tau mau kemana.." aku membalas ucapannya sementara sibuk membilas piring-piring.

Aku merasa dia menatapku terus sejak pembicaraan tadi, entah bagaimana itu membuatku gugup. Yah, soalnya dia cewek yang aku sukai. Tentu saja, aku merasa gugup bukan?! Dan lagi, tolong berhenti melihatku dengan intens seperti itu.

"Naru-chan sekarang terlihat lebih tampan ya~" ucapnya yang membuatku blushing.

"Heh? Apa? Aku?" Tentu saja, ini pertama kalinya ada cewek yang bilang aku tampan. Tapi, memang sejak dulu Chika-nee selalu memujiku. Sebenarnya dia terlihat seperti sesosok kakak perempuan yang selalu memanjakanku.

Dia mengangguk, "Sekarang kau lebih tinggi dariku, aku sampai pangling.. dan entah mengapa, auramu berbeda.. rasanya kau jadi keren, apa karena kau tinggal di Tokyo kali ya?"

"Yah, kalau sampai dibilang seperti itu aku jadi malu.."

"Pasti kau sekarang sudah punya pacar ya.." dia bertanya padaku dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa penasaran, tangannya memegang piring di hadapanku.

"Pacar? Aku tidak punya begituan.."

Entah bagaimana dia malah terkejut, "Hee~? Tapi pasti ada gadis yang kau suka, 'kan? Ayolah, beritahu aku.."

Itu kau.. tidak, mana mungkin aku bilang begitu.

Chika-nee mendorong sikutnya padaku dengan candaannya, dia terus memaksaku untuk mengatakannya. Aku bersikeras untuk menyembunyikannya. Akhirnya dia menyerah dan melanjutkan cucian piringnya.

"Kau harus tahu Naru-chan, perempuan akan meresponmu itu tergantung dari bagaimana caramu memperlakukannya lho.." jelasnya yang hanya ku dengarkan.

"Hm.. lalu?"

"Banyak pria menyepelekan itu karena merasa langkah yang mereka ambil sudah tepat, karena itu jika kau punya gadis yang kau suka.. jangan lupa bilang pada Chika-nee ya~" dia menatapku dengan senyuman manisnya membuatku menjadi gemas dengan situasi menyesakkan ini.

Apa kukatakan sekarang saja?

"Baiklah, kalau begitu akan ku katakan sekarang padamu.."

"Eh benarkah?"

Aku mengepalkan tanganku sesaat, aku langsung bergerak menghadap Chika-nee yang ada di sampingku. Aku memandang serius padanya, Chika-nee langsung terdiam sesaat tatapan mata kami bertemu. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perasaanku padanya.

"Chika-nee!" Chika-nee nampak terkejut mendengar aku menyebut namanya dengan keras, "A-aku.. Aku menyukaimu!" Dia terlihat terdiam beberapa saat.

"Kejadian 8 tahun lalu aku tidak bohong mengenai perasaanku, saat itu aku memang anak kecil. Tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu.. karena itu aku tidak masalah jika harus merahasiakan hubungan kita, jadi berkencanlah denganku.." aku bersikeras mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya.

Tiba-tiba bibirnya melengkung ke atas, "Ahahahaha! Naru-chan itu lucu sekali.."

Dia menganggap aku bercanda padahal aku serius, "Ke-kenapa kau tertawa?"

"Habis mana mungkin kau suka wanita tua ini~ ah mou~ kita tidak bisa berkencan.."

Hah? Kenapa?

Aku langsung memegang kedua pundaknya dan menariknya untuk melihat wajahku secara langsung. Aku menatap matanya yang terlihat terkejut ketika aku menatapnya dalam.

"Chika-nee! Aku serius..!" Aku berpandangan dengan wajahnya yang nampak kebingungan, aku masih menunggu jawabannya dengan wajah memerah mungkin.

"Tadaima.." tiba-tiba semua orang sudah kembali, Chika-nee melepaskan tanganku lalu pergi menuju pintu depan.

"Kita bicarakan ini nanti.." ucapnya yang kemudian menyambut orang-orang yang sepertinya juga ada tamu.

Aku mengepalkan tanganku merasa kesal dengan kejadian ini, "Memang kenapa kalau dia lebih tua dariku.."

Sekarang aku berada di ruangan tempat aku untuk tidur, aku bermain game di smartphone untuk melupakan apa yang barusan kulakukan. Aku mendengar langkah seseorang mendekat kemari, orang itu muncul di balik pintu geser. Dapat kulihat wajah cantiknya yang tersenyum padaku.

"Naru-chan, bisa ikut aku sebentar.." ucapnya dengan lembut.

Chika-nee memintaku untuk mengikutinya ke dalam kamarnya. Nuansanya masih sama seperti dulu. Aku melihat kasurnya yang masih terlihat sama posisinya. Dapat kuingat dengan jelas bahwa kami berulang kali melakukan seks di atas sana. Entah dia mengingatnya atau tidak, tapi itu adalah pertama kalinya aku menyentuh perempuan.

"Gomen nee, tadi aku tertawa.." dia mulai duduk di sampingku, kami duduk bersebelahan di pinggir kasur dengan jarak yang tak terlalu jauh.

"Tidak apa-apa, lagipula itu situasi yang rumit.."

"Umm.. Naru-chan, kau tahu bahwa aku dijodohkan 'bukan?"

Aku mulai meremas tanganku sendiri, "Awalnya aku berpikir untuk menyerah ketika mendengar kau dijodohkan, tapi.. jika kau menolaknya, itu beda lagi ceritanya.." aku mulai mengepalkan tanganku, "..aku tidak akan menghalangimu, tapi aku bisa menunggu.."

Aku merasakan tangan Chika-nee menyentuh tanganku, aku bisa melihat wajahnya berada sangat dekat di sampingku. Wajahnya terlihat merona manis, aku merasa terhanyut hanya dengan melihat bola matanya.

"Kalau hanya ciuman, apa kau tak apa dengan itu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

WARNING!
(SETELAH INI BERISI KONTEN 18+, TOLONG MENJAUH JIKA READERS MEMBENCINYA! UwU)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kami berhenti soal pembicaraan tadi, sekarang aku merasakan bibir Chika-nee yang bersentuhan dengan bibirku. Entah siapa yang memulai ciuman itu, tapi sepertinya kami berdua sudah terlena dalam kenikmatan sesaat. Ini pengalaman yang sekian kali tak akan pernah kulupakan. Tangannya dengan lembut menyentuh wajahku, memanduku untuk mengikuti gerakan pada ciuman manisnya.

Ciuman kami perdalam ketika aku mulai memiringkan kepalaku, dia membiarkan lidahku masuk ke dalam mulutnya untuk merasakan air liurnya yang entah kenapa terasa memabukkan. Dia mulai mendorongku untuk melepaskan ciuman yang semakin lama terasa menyesakkan.

Benang saliva tercipta di antara bibir kami, aku memandang wajahnya yang terengah untuk mengambil nafas. Wajahnya merona dengan bibirnya yang menjadi basah. Chika-nee menyentuh bibirnya sendiri dengan jarinya, matanya menatapku dengan wajah manisnya.

"Nee, ini akan jadi hubungan dengan perbedaan usia yang jauh.. kau tidak apa dengan itu?"

Aku mulai mendekat padanya lalu mencium pipinya dengan lembut, "Tentu saja, aku tidak masalah.."

Tangannya mulai melingkar di leherku, "Saat Naru-chan berusia 24 tahun, aku akan berusia 30 tahun.. aku akan jadi wanita tua lho.." kepalaku menurun menuju lehernya menghirup wangi citrus di sana.

"Iya aku tahu.." aku menatap wajahnya yang memerah berada di depanku, "Bagaimana pun Chika-nee, aku akan tetap menyukai-ah tidak, lebih tepatnya aku akan tetap mencintaimu..!" Setelah mengatakannya Chika-nee nampak terharu, aku langsung merebahkannya di kasur.

"Ahn! Tunggu, Naru-chan..!"

Tanganku langsung beralih pada dadanya yang masih mengenakan kaos berwarna putih. Aku meremasnya yang membuatnya menahan desahannya. Aku tak sabar melihat kedua buah dadanya, aku langsung menarik kaosnya ke atas. Terlihat dadanya yang sudah lama tak kulihat. Entah sudah berapa lama, dadanya terlihat lebih besar dari yang dulu.

"Tunggu, aku bilang kita hanya bisa berciuman.."

"Tapi, aku sudah tak bisa menahannya.."

"Jangan.. kalau melakukannya di sini akan mengganggu pelangga, kita pergi keluar saja ya.."

"Menurutku jauh lebih baik melakukannya di tempat tertutup seperti ini.."

"Tapi, kita bisa ketahuan.."

"Kalau kita melakukannya dengan tenang, akan baik-baik saja.."

Aku kembali pada dadanya, aku menarik branya ke bawah sehingga dadanya menyembul keluar. Dadanya menjadi lebih besar dan erotis. Aku mulai meremasnya dan memainkan putingnya dengan jariku. Chika-nee menggigit bibirnya terlihat menahan suaranya agar tidak keluar. Tanganku mulai turun ke bawah masuk melalui bawah roknya. Aku mulai menggesekan tanganku pada vaginanya yang tertutupi celana dalam.

Aku mulai membuka tangannya agar berada di posisi atas, aku melihat ketiaknya yang bersih tanpa bulu terbuka. Aku langsung menjilat bagian ketiaknya sehingga membuatnya terkejut.

"Ah! Jangan.. bagian itu kotor.."

"Tidak masalah, aku menyukai rasanya.. daripada itu.." tanganku yang menggesek vaginanya beralih ke atas pada dadanya yang terbuka lalu memerasnya, "..Chika-nee, apa oppaimu semakin membesar?" Aku mulai memegang dadanya lalu memasukan puting merah muda itu ke dalam mulutku, aku mulai mengemutnya dan menghisapnya.

"Ah hah! Naru-chan ecchi, aku sudah bilang hanya berciuman.. ah.."

Aku mulai turun ke bawah lalu membuka kakinya agar melebar, aku melihat vaginanya yang masih memakai celana dalamnya. Aku langsung menurunkan wajahku pada vaginanya, aku mencium harum vaginanya. Aku sangat merindukan harum semerbak yang Chika-nee hasilkan. Bau dari vaginanya sangat erotik, ketika aku mulai menjilatnya akan ada cairan manis yang meluber dari sana.

"Ah.. Naru-chan.. ah~ mn..ah!"

Aku menyampingkan celana dalamnya lalu kembali menjilat vaginanya yang basah secara langsung, kakinya bergerak-gerak ketika dia merasakan nikmat. Aku memasukan lidahku ke dalam lubang vaginanya yang terbuka membuatnya mendesah tanpa sadar.

"Ahn! Tidak.. ah.. kau tiba-tiba.. ahn~ ah.. kyah.."

"Pelankan suaramu Chika-nee atau mereka semua bisa tahu.." aku berkata lalu kembali ke atas mengemut dadanya, tanganku masuk ke celana dalamnya dan aku menggesekkan jariku pada klitorisnya yang menjadi keras.

"Kau bilang begitu.. ahn.. lakukan lebih lembut... mnn.. ah!"

Aku tidak mendengarkannya lalu mengemut putihnya lebih keras, aku mulai memasukan jari tengah dan manisku pada lubang vaginanya lalu bergerak keluar-masuk. Aku melihat wajahnya yang mencoba menahan desahan yang terus keluar melalui bibirnya.

"Uh.. Mn... mnmn.. ah!" Aku tersenyum melihat reaksinya yang tak bisa menahan dirinya, tangannya memeras bantal yang ada di kepalanya, "..Ini buruk Naru-chan, aku tidak bisa menahan suaraku.."

"Tenang saja, kita akan baik-baik saja.."

"Tidak.. Aaahhh! Ah.. mnnn.." dia langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan untuk meredam suaranya.

Aku terus menggerakkan tanganku pada vaginanya yang sudah sangat basah. Sebenarnya aku merasa bersalah melakukan hal ini di sini, sepertinya memang sebaiknya kita melakukannya di luar. Tapi karena sudah terlanjur aku tidak bisa menghentikannya. Di tambah reaksinya sangat manis, wajahnya menunjukkan ekspresi yang mesum ketika menahan desahannya. Aku jadi ingin melakukan hal yang lebih mesum padanya. Oh sial, adik kecilku udah bangun di bawah sana.

"Ah.. Chika-nee..!"

"Eh?! Kyah~!"

Aku langsung menarik celana dalamnya agar terlepas dari sana lalu membuka lebar kakinya yang menunjukkan vaginanya yang basah, aku kembali melahap vaginanya dengan mulutku. Aku memasukan lidahku ke lubang vaginanya lalu menjilat dari bawah ke atas. Kepalanya mendongak ke atas dan tangannya masih berusaha menutup bibirnya agar tak mengeluarkan desahan erotisnya.

"Haaa.. mn.. hhh.. uh.. mnn..hnnf.." dia kelihatan kewalahan untuk menahan suaranya.

Tangan kanannya terlihat menarik sprei hingga menjadi berantakan, sedangkan tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk menahan bibirnya. Aku mulai berinisiatif menggunakan tanganku untuk memasuki lubang vaginanya dan bergerak keluar-masuk, sedangkan lidahku tetap menjilat klitorisnya.

"Ah! Tidak, aku ingin keluar.. AH~!" Dia mulai mengeluarkan cairan cintanya, pinggangnya melengking ke atas membuatku menghisap cairan manis itu seperti madu.

Aku mulai tak bisa memikirkan apapun. Di kepalaku saat ini hanya ada Chika-nee seorang. Aku ingin melakukan hal yang lebih mesum dengannya. Tubuh Chika-nee ambruk ke bawah, wajahnya nampak lelah setelah mengalami orgasme pertamanya. Aku kemudian menurunkan celana pendekku lalu mengeluarkan penisku yang sudah tegang.

"Chika-nee, aku ingin melakukannya denganmu.."

"Kurasa lebih baik kita hentikan sampai di sini dulu, Naru-chan.."

"Maaf, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku mencintaimu.."

Wajahnya terlihat merona malu setelah aku menyatakan perasaanku sekali lagi, "Hah.. kau mengatakannya lagi, Chika-nee merasa malu mendengarnya.."

Ah, dia tersenyum.. kelihatannya dia sangat senang.. bukankah itu berarti dia menyukaiku?

"Chika-nee, kau belum mengatakan bagaimana perasaanmu.."

Matanya melirik-lirik padaku, "Aku tidak punya kontrasepsi, jadi keluarkan di luar ya.."

"Ba-baiklah..!"

"Apa kau yakin mau melakukannya denganku lagi?" Tanyanya.

"Tentu saja, aku tak ragu sedikitpun.."

Chika-nee kemudian mengubah posisinya membelakangiku, dia menungging memperlihat bokongnya padaku. Ini sulit dijelaskan, tapi posisi itu membuatnya terlihat lebih erotis. Dia mengangkat roknya yang menghalangi, aku dapat melihat kedua lubangnya dari sini.

"Kau tahu dimana itu harus dimasukan, 'bukan?"

"Uh.. Te-tentu saja.." aku mulai mendekat dan bersiap memasukan penisku ke dalam lubang vaginanya. Aku agak kesulitan karena entah bagaimana aku merasa gugup. Padahal kami sudah pernah melakukannya, tapi kenapa aku terlihat seperti perjaka.

"E-eh?"

"Ah.. itu agak ke bawah.." tangan Chika-nee membantu penisku untuk memasuki lubang vaginanya, ".. ah sou.. di sana.. jadilah pria, Naru-chan.." dia mengatakannya sebelum aku mulai mendorong penisku masuk ke dalam, tanganku memegang pinggangnya lalu dengan perlahan aku mendorong penis yang sudah setengah masuk.

"Ahn.. Aku merasakannya mulai berkedut.." Chika-nee menggunakan tangannya untuk membuka lubang vaginanya, "..mn.. ah.. penismu sangat besar ah! Mulai masuk ke dalam.. mnn... aaa..AH-mmmmnn!" Aku langsung membekap mulut Chika-nee yang hampir mendesah kencang bersamaan ketika aku langsung mendorong penisku dalam satu hentakan.

Aku merasakan vaginanya mulai mencengkram erat penisku, aku tak dapat berpikir apapun ketika merasakan hangatnya barada di dalam Chika-nee. Dalam satu hentakan aku merasa sudah mencapai ujung G-spotnya.

"Aaaah.." aku mulai melepaskan tanganku yang membekap mulutnya, wajahnya terlihat kacau dengan rona merah yang dapat kulihat dengan jelas.

"Chika-nee, kau baik-baik saja?"

"A-ah.. aku baik-baik saja.. bergeraklah.."

"Aku akan pelan-pelan.."

Aku merasa ini luar biasa, sebenarnya dalam satu hentakan tadi aku hampir saja mencapai puncakku. Kalau saja aku tidak menahannya ini semua pasti akan berakhir. Aku mulai bergerak maju-mundur dengan irama pelan, aku melihat penisku yang keluar-masuk melalui lubang vagina Chika-nee. Desahan Chika-nee yang dia coba pelankan masih terdengar melalui telingaku. Aku meremas bokongnya yang empuk itu, lalu membukanya untuk melihat proses berhubungan intim. Cairan kami yang bercampur membuatnya terlihat erotis.

Dadanya bergerak erotis ketika aku mengguncangnya. Chika-nee memang yang terbaik. Vaginanya terasa mencengkram penisku, sangat ketat, ini buruk. Aku mempercepat gerakanku hingga dia membenamkan wajahnya pada bantal. Aku bergerak semakin cepat ketika merasakan batasku akan datang. Pinggulku mati rasa, aku tidak bisa berhenti.

"Mn... mmh.. mmn... ah! Guah.. ahn.."

"Maaf, Chika-nee aku akan keluar.." aku langsung mengeluarkan penisku dari vaginanya yang langsung menyemburkan spermaku pada bokongnya.

Chika-nee berbalik menatapku yang ada di belakangnya, matanya yang sayu akibat melakukan seks terlihat jelas. Kedua pipinya merona membuatnya nampak lebih manis. Aku melihat bibir bawahnya yang basah karena dia emut sendiri. Dia menyentuh tanganku ketika aku mencoba untuk menyingkir dari atasnya.

"Jangan berhenti.. ayo kita lakukan lagi?" Dia menatap dengan mata yang memohon padaku.

"Chika-nee..!" Aku langsung kembali menindihnya lalu memasukan lidahku pada rongga mulutnya yang terbuka, dia membalas ciuman panas itu.

Aku mulai membuka bajuku karena gerah, begitupula Chika-nee yang juga membuka seluruh bajunya sehingga tak meninggalkan sehelai benang pun. Dia menuntunku untuk tidur di kasur. Dia berada di atasku sama seperti kejadian 8 tahun lalu.

Dia mulai menempatkan penisku pada lubang vaginanya lalu menurunkan tubuhnya. Dia membuka lebar kakinya di hadapanku, tangannya menapak di perutku untuk menjaga keseimbangan ketika dia mulai bergerak naik-turun.

Dadanya yang besar bergoyang erotis ketika dia bergerak dengan seluruh tenaganya, wajahnya berekspresi mesum ketika mendesah. Aku melihat penisku yang keluar-masuk di dalam vaginanya. Luar biasa, penisku melonjak-lonjak di dalam sana.

Aku menyentuh pinggangnya, "Ah.. Chika-nee.. ssst.."

"Ah! Naru-chan~! Aah~ itu bergesek di dalamku..! Ahn.. ehehe.. apa itu terasa enak~~? Ah~" Dia bergerak di atasku dengan lebih cepat, tangannya pindah ke belakang menopang tubuhnya dengan berpegangan pada lututku. Tubuhnya terlihat melengkung ke belakang, menunjukkan kakinya yang terbuka lebar padaku.

"Ah! Penismu berkedut di dalam.. ah.. ah.." Chika-nee terlihat kembali menopang tangannya pada perutku, aku melihat ekspresi tersenyumnya yang menatapku sensual, dalam sekali hentakan dia menelan penisku sangat dalam.

"Ahn~! Aku datang..! Aaah!" Aku merasakan cairan orgasme Chika-nee yang keluar meluber dari vaginanya yang masih tertancap penisku.

"Chika-nee..! Ugh..aah!" Kepalaku mendongak dengan mata tertutup ketika menikmati pergerakannya yang terlihat lebih unggul saat ini, meskipun dia sudah mencapai batasnya dia masih saja bergerak.

Aku terbangun lalu duduk di hadapannya yang masih bergerak naik-turun, aku menyentuh pinggangnya. Aku melihat wajahnya yang terlihat ketagihan menikmati seks yang kami lakukan. Rambutnya nampak sudah berantakan karena pergulingan yang kami lakukan.

"Dasar.. Chika-nee setidaknya biarkan aku istirahat sebentar.." aku mengeluh tentang betapa bersemangatnya dia melakukan ini, padahal sebelumnya dia menolak.

"Tidak! Ah.. ah.. aku tidak mungkin berhenti.. ahn~ ahnmm.." aku terkejut ketika dia mengatakannya terlebih dia melakukannya tanpa berhenti bergerak, "Ah.. ah.. aku tidak mau melepaskanmu~ ah..!"

"Ugh.. Chika-nee..!" Aku langsung berhamburan memeluk tubuhnya.

"Kyah..!" Dia berteriak ketika aku menjatuhkannya hingga dia berada di bawahku, "..mnmm.. hmm.." aku langsung membungkam bibirnya dengan ciuman menggebu-gebu, aku terus menciumnya sambil menggerakkan pinggulku dengan cepat.

Tanganku memeluk erat tubuhnya hingga Chika-nee menaik-turunkan sendiri pinggulnya mengikuti gerakanku, "..mnnmn..Ah~" aku melepaskan ciuman itu lalu dia mengeluarkan desahan indahnya, "Sepertinya bersikap lembut sudah tak ada gunanya.." aku bergerak lebih kencang menghujamnya.

"Ah.. oh! Ahn.. aah.. kau mencapai titik terdalamnya.. ahn~ ah.. ahh.. kau ..ah.. seperti sedang.. ahm!..membajakku! Ah! Ah! Ah!" Chika-nee mulai menarik sprei kasurnya hingga berantakan seperti pelampiasan karena rasa nikmat yang aku berikan, aku mengangkat sedikit pinggulnya lalu membuatnya duduk di pangkuanku.

Aku meremas bokongnya sambil terus bergerak, aku langsung kembali mencium bibirnya yang terasa memabukkan untukku. Dia melingkarkan tangannya di leherku ketika kami berciuman, ciumanku berlanjut pada lehernya yang membuatnya seketika mendongak sehingga memudahkanku mencium bau manis darinya. Tanganku mulai kembali meremas dadanya, aku mempercepat gerakanku ketika penisku mulai berkedut di dalam menandakan aku hampir mencapai puncak.

Aku memandang wajahnya yang sudah berkeringat dengan poni yang lepek, "ugh.. Chika-nee, aku sudah mau keluar.." jelasku padanya.

"Tidak apa.. mnm.. aku juga..keluar.. ah~"

Kami kembali berciuman dan berpelukan erat, "ah.. Chika-nee.. Chika-nee.. Chika-nee.." aku berulang mengucap namanya seiring mempercepat gerakanku.

Dia memelukku erat dengan tangannya yang mendorong kepalaku pada perpotongan lehernya, "ah! Ah! Naru-chan..! Naru-chan..! Naru-chan..! Aahn!" dia juga menyandar di perpotongan leherku dengan desahan sexynya yang merdu berada tepat di samping telingaku.

"Aahn~ datang.. ah..! Ah.. itu mulai membesar.. aaahh! Akan sangat banyak.. ahn~ iku..! Iku..! Itchauuuuu...!" Bersamaan dengan desahan Chika-nee aku langsung menghentakannya sekali dengan keras, "AAAAAHHN...!"aku langsung menyemburkan spermaku memenuhi vagina Chika-nee.

Aku merebahkan Chika-nee yang langsung ambruk di kasur dengan terengah kelelahan, aku mencabut penisku dari vaginanya yang membuat cairan spermaku meluber keluar. Aku yang melihat hal itu langsung teringat sesuatu. Aku mengeluarkannya di dalam, dan lagi aku tidak memakai kontrasepsi. Wajahku membiru begitu menyadari akan suatu hal yang akan menjadi masalah besar.

Chika-nee terlihat mulai bangun dari posisinya, tangannya menyentuh cairan spermaku yang meluber dari vaginanya. Wajahnya memerah melihat benda itu memenuhi bagian dalam tubuhnya. Dia langsung menatapku tajam membuatku bergidik ngeri.

"Ah mou.. Naru-chan, baka.. Chika-nee tidak akan memaafkanmu jika selingkuh.."

"Eh?! Te-tentu saja..!"

Baiklah, entah bagaimana akhirnya kami memulai hubungan ini. Meskipun liburan musim panas ini terasa singkat, aku akan menikmatinya bersama pacar cantikku, Chika-nee.

.

.

.

.

.

Omake

Semua orang yang berkumpul di ruang tengah sedang dilanda rasa malu karena mendengar dua insan yang bergumul dalam hubungan intim, sepertinya tanpa di sadari oleh Naruto atau Chika-nee, mereka melakukannya dengan suara yang terbilang tidak kecil malah terdengar kencang. Untung saja belum ada tamu yang datang ke penginapan selain Minato dan Kushina hari ini.

"Sepertinya mereka sudah tenang.." ucap Shima-nee dengan senyuman yang lega, dia sedang memberi makan bayinya yang sedang di gendong. Untung saja suaminya belum pulang bekerja dan anaknya masih terlalu dini untuk mengerti desahan sexy yang Chika-nee teriakan.

Mito-nee memangku wajahnya yang memerah menanggapi adik perempuannya baru saja melakukan hubungan intim, "Dasar mereka berdua.." ucapnya yang masih malu-malu untuk mengungkapkan.

"Ahahaha~ maaf, sepertinya putraku terlalu agresif pada Chika-chan~" anehnya, Kushina malah merasa bangga pada putranya, sedangkan Minato sedang menutupi wajahnya karena merasa malu.

"Putraku cepat sekali dewasanya~" sang Ayah yang polos justru menjadi terharu.

"Jadi, karena itu putriku menolak perjodohannya.. dia mencintai pria muda.. aku akan segera memiliki cucu lagi..hohoho~" paman Takami terlihat tidak marah, dia malah merasa senang dengan hal itu.

"Otou-san! Kau harusnya mengatakan pada mereka untuk tahu batasan, lagipula Naruto-kun masih terlalu muda, lho!" Mito-nee terlihat merasa aneh pada orangtua yang santai saja mendengar anaknya berhubungan intim.

"Mito-chan, kalau kau ingin memberitahu mereka tunggulah sebentar lagi ya.." entah bagaimana Shima-nee sudah menduga Mito-nee ingin segera menceramahi adiknya dan Naruto.

Wajah Mito-nee langsung memerah begitu tabiatnya ketahuan, "A-aku tahu! Akan jadi canggung kalau aku bilang sekarang bukan?!"

"Ah, dan juga jangan lupa beritahu mereka untuk lebih tenang saat ada tamu nanti yaa.." lanjut Shima-nee yang membuat Mito-nee merasa terganggu.

"Tunggu! Kenapa hanya aku yang harus memperingatkan mereka..?!"

.

.

.

.

.

.

Eeeeh..

Tamat? :v