Judul : Naru-chan ga Hoshii
Chapter : 3
Genre : Romance, hurt/comfort, Milf, mature dan OOC.
Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Sakurako kimino
Crossover : Naruto x Lovelive
Pairing : Naruto x Chika
Rating : M
A/N :
Entah mengapa ff ini malah terus berlanjut padahal hanya ingin oneshot tadinya :'v
.
.
.
.
.
-Flashback mode on-
Chika pov*
"Chika, kudengar kau menolak Neji-kun? Sebenarnya apa yang kau pikirkan..?" Mito-nee mulai berucap ketika kami sedang berkumpul di ruang tengah, aku yang sedang mengupas jeruk hanya merenung.
"Aku merasa jahat jika terus berkencan dengannya, lagipula aku tidak ada niatan untuk menerima lamarannya.."
Mito-nee menghela nafas di depanku. Kedua kakakku sudah menikah. Shima-nee bahkan sudah punya anak. Karena itu, aku tertinggal oleh mereka berdua. Keluargaku berpikir akan jauh lebih mudah jika aku juga segera menikah. Setelah itu, Ayahku mendapat tawaran omiai untukku. Meskipun aku tidak memiliki niat, aku tetap mencobanya agar tak mengecewakan Ayah.
Tapi semakin dalam hubunganku dengan Neji-kun malah membuatku tidak nyaman. Lagipula sebenarnya aku menyukai orang lain. Aku tidak pernah bertemu dengannya sejak 4 tahun yang lalu, hanya saja wajahnya masih dapat kuingat. Dia teman masa kecilku, lebih muda 6 tahun dariku, hal itu membuatku berada di posisi yang sulit. Terutama aku orang dewasa, mana mungkin aku memaksa anak kecil mengikuti keegoisanku.
Waktu pertama kali bertemu, dia anak yang cengeng juga penuh semangat. Kupikir dia sangat manis sekali. Aku lebih tua jadi aku selalu bertindak sebagai kakaknya. Meskipun begitu, aku tetap berharap bisa bertemu dengannya lagi. Seperti apa ya dia sekarang?
"Tadaima.." Shima-nee muncul dari balik pintu dengan bahan makanan yang cukup banyak.
"..Okaeri" aku dan Mito-nee menjawab salam dari Shima-nee, dia menggendong anaknya di punggung dengan membawa belanjaan yang cukup banyak. Aku berdiri dan membantu membawakannya ke dapur.
"Hari ini, kau belanja banyak sekali.. apa ada tamu..?" Mito-nee bertanya pada Shima-nee yang sedang menaruh bayinya di lantai, Shima-nee hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Tentu, aku mendapat telpon dari teman lama.." ujarnya ketika aku memasukan bahan-bahan makanan pada kulkas sambil mendengar perbincangan mereka.
"Heh.. tumben sekali, memangnya siapa?" Mito-nee kembali bertanya.
Shima-nee menepuk tangannya dengan penuh semangat, "Keluarga Uzumaki-san.. mereka sudah lama pindah, tapi katanya akan datang untuk liburan musim panas.."
"Wuah..!"
Mendengar itu aku langsung tersentak lalu menjatuhkan sebungkus apel yang menyebar di lantai, kedua saudaraku menyadari itu. Aku dapat melihat Shima-nee tersenyum aneh seakan sengaja mengerjaiku, sedangkan Mito-nee menatapku dengan terkejut. Aku langsung mengambil apel itu kembali ke dalam bungkusnya.
"Hey, kau baik-baik saja?" Tanya Mito-nee yang langsung aku jawab.
"A-aku baik-baik saja.."
"Ara-ara.. Chika-chan, apa kau senang dengan berita keluarga Uzumaki-san yang akan berkunjung?" Shima-nee tersenyum memperhatikanku yang entah mengapa jadi salah tingkah, "..benar juga, Chika-chan sejak dulu dekat sekali dengan Naruto-kun, kau pasti ingin sekali bertemu dengannya~" lanjut Shima-nee memegang kedua pipi dengan tangannya dan wajah berseri seperti meledekku.
Aku memegang bungkus apel di tanganku, "A-apa maksudnya? Tentu saja, orangtuanya kan sering membantu kita.." entah mengapa aku menjadi gugup karena pembicaraan ini.
"Hm.. kenapa Chika-chan terlihat malu-malu begitu..? Wajahmu memerah lho.." Tanya Shima-nee lagi, dia masih gencar menggodaku.
Aku meletakkan sebungkus apel di meja patri lalu berteriak di hadapan kedua kakakku, "Sudah kubilang bukan begitu..!" Aku langsung berlari ke lantai dua, dimana kamarku berada.
"Ah, dia marah.."
"Dia hanya malu.."
.
.
.
.
.
Aku langsung berguling-guling di atas kasur. Aku sendiri merasa gelisah begitu mengetahui sosok Naru-chan yang akan datang besok. Aku masih ingat jelas ketika kita berpisah di stasiun kereta karena kepindahannya. Bocah berumur 14 tahun saat itu hanya mengatakan bahwa aku harus jaga diri dengan senyumannya.
Aku membuka laci meja belajarku yang sudah tua, di sana terdapat kotak yang aku bawa keluar. Aku membuka tutup kotak itu, melihat tumpukan kertas yang berisi kabarku padanya dan sekedar menanyakan keadaannya. Ini surat yang kutulis untuknya. Ah, rasanya akan canggung kalau aku memberikannya jadi tidak pernah kukirim.
Di hari terakhir itu aku juga berniat memberikan surat cinta padanya, tapi pada akhirnya tidak kuberikan karena hubungan yang cukup rumit. Naru-chan masih terlalu muda, terlibat hubungan jarak jauh tidak ada jaminan dia tidak akan berselingkuh, dia bisa saja jatuh cinta pada gadis seusianya yang lebih manis.
Tapi kalau dia datang kemari dengan fakta itu, mungkin aku akan menangis seharian. Surat ini kutulis sejak 4 tahun yang lalu, sudah tampak usang dengan noda tinta yang tak pernah hilang seperti perasaanku padanya yang tidak pernah tersampaikan. Aku mulai kembali memasukan surat-surat itu ke dalam kotak lagi. Aku bersandar di meja dengan tumpuan tanganku sebagai bantalan seraya menghela nafas.
Padahal sudah 4 tahun berlalu tapi aku tetap menyukainya, meskipun aku mencoba mengikuti perjodohan aku tetap tidak bisa melupakannya. Kira-kira bagaimana dengannya? Apa sedikit saja dia pernah memikirkanku? Aku ingat sekali bagaimana ekspresi wajahnya sejak kecil hingga dia remaja awal, bahkan ekspresinya saat kita melakukan hubungan badan. Mengingatnya membuatku merasa malu.
Saat itu dia masih muda, jadi tidak bisa menahan diri. Pada akhirnya aku memberikan keperawananku padanya. Aku tidak menyesal memberikannya, tapi aku berpikir itu satu-satunya cara aku bisa merasa memilikinya. Kalau sekarang apa yang dia pikirkan tentang kejadian itu? Apa dia berpikir aku wanita yang bisa terangsang oleh anak-anak? Padahal itu karena dia Naru-chan, aku jadi tidak bisa menahan diriku.
Percuma saja memikirkan itu sekarang, aku hanya mengkhawatirkan hal yang belum tentu dia pikirkan..
.
.
.
.
.
Aku membuka jendela kamarku begitu mendengar suara mobil yang tiba di siang hari dari luar di halaman depan, sebenarnya sejak pagi tadi aku terus gelisah dengan kedatangan keluarga Uzumaki. Lebih tepatnya kedatangan anak laki-laki mereka. Aku melihat Paman Minato dan Bibi Kushina sedang membuka garasi dan mengambil barang-barangnya.
Terlihat Bibi Kushina kembali ke dalam bagian belakang mobil, dia seperti mengatakan sesuatu pada seseorang. Entah bagaimana aku yakin itu dia. Bibi Kushina kemudian pergi lebih dulu. Aku melihat terus pada mobil itu untuk melihatnya. Di sana aku dapat melihat rambut pirangnya menyembul keluar lalu kulihat seluruh dirinya yang nampak berbeda dengan 4 tahun yang lalu.
Naru-chan berjalan menuju bagian depan penginapan, tanpa sadar aku terus-terusan melihatnya. Dia terlihat lebih dewasa dari sebelumnya, aku memegang kedua pipiku yang terasa memanas dengan detak jantung yang berdegub kencang. Hah~ apa aku baru saja terpesona? Bagaimana ini? Dia benar-benar tampan..
Aku menghitung tahun dengan jari tanganku, 4 tahun berlalu terasa cepat sekali. Apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya? Apa yang harus ku katakan ya? Aku memandang ke depan cermin pada diriku, aku tidak terlihat aneh, 'kan? Aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku lalu menuju lantai bawah.
Aku mengintip dari balik tembok terlihat kedua kakak perempuanku yang membantu membawakan barang dengan mempersilakan masuk mereka. Aku melihat kemunculan Naru-chan yang sedang menguap karena mengantuk. Ternyata dilihat dari dekat dia terlihat lebih keren, aku langsung menggeleng untuk berhenti terpesona padanya. Aku mulai melangkah maju ke arahnya.
"Oh Naru-chan.. Hisashiburi..!" Aku melambaikan tangan padanya yang menatapku, ini pertama kalinya kami saling menatap sejak 4 tahun lalu.
Aku mendekat padanya dengan senyuman, aku merasa gugup dengan tatapannya. Aku menyelipkan rambutku di belakang telinga karena merasa gugup untuk mengatakan suatu hal atas kedatangannya.
Aku kembali membalas tatapannya, "Naru-chan sudah besar ya, aku tidak melihatmu sejak kau masuk kelas 2 SMP.." belum mendengar jawabannya Bibi Kushina langsung menjawab pertanyaanku tentang bagaimana dia merawat Naru-chan, aku langsung menanggapinya dengan tawaan ketika dia mengatakan diusia remaja Naru-chan sangat suka membangkang.
Akhirnya kami melanjutkannya dengan acara makan siang yang sudah disediakan Shima-nee. Aku memperhatikannya yang makan dengan tenang, sampai Shima-nee bertanya padanya tentang rencana masa depannya.
"Jadi Naruto-kun memutuskan untuk kuliah?"
"Begitulah, tapi ujiannya cukup sulit.. jadi banyak masalah ini dan itu kurasa.."
Hmm.. dia ingin kuliah ya.. masa-masa kuliah adalah masa rumit, aku sendiri sudah mengalaminya.
"Jadi, Naruto-kun ingin masuk jurusan apa?" Mito-nee ikut bertanya yang kemudian diselak Ayah kami yang sok tahu.
"Dia akan masuk jurusan kedokteran, soalnya dia pewaris klinik Uzumaki, 'bukan?" Ayahku bicara dengan seenaknya tanpa memikirkan Naruto yang terlihat ingin mengelak dari harapan Ayahku.
"Sebenarnya itu sedikit.."
"Otou-san, itu mudah untuk dikatakan tapi tidak untuk dilakukan.." aku membalas ucapan Ayahku tentang betapa mengerikannya harapan orangtua.
"Ahahaha, aku senang kalian memikirkan masa depan putraku.. tapi, kami tidak ingin memaksanya untuk menjadi dokter.. kami lebih suka dia menempuh apa yang dia mau.." Paman Minato terlihat menepuk kepala Naru-chan, dia memang Ayah yang baik.
Walaupun, wajahnya sangat mirip dengan Naru-chan tapi sifatnya kalem sekali. Menurutku sifat Naru-chan lebih didominasi oleh Bibi Kushina sih..
"Membicarakan masa depan, aku jadi penasaran.." Bibi Kushina mulai angkat bicara wajahnya mengarah padaku yang sibuk mengunyah, "Chika-chan, bagaimana dengan omiainya? Aku dengar kau mengikuti perjodohan dengan Neji Hyuga-kun.." mendengarnya aku langsung terdiam mematung, aku tidak tahu harus mengatakan apa, terlebih lagi di hadapan Naru-chan di sini.
Ayahku langsung menjawab pertanyaan Bibi Kushina, "Oh itu kabar yang bagus bukan, 'Kushina-san? Tentu saja-"
"Itu sudah gagal!" Tiba-tiba aku langsung berteriak ketika Ayahku dengan sok tahunya memasuki pembicaraan, dia berteriak histeris karena perkataanku.
Sejak awal aku tidak meminta dijodohkan, aku mencoba karena desakan Ayah dan Ibuku yang terus berkata bahwa aku harus segera menikah seperti kedua saudaraku. Aku melirik pada Naru-chan sesaat yang terlihat terkejut dengan reaksiku, jangan mengatakan perjodohan itu di depannya, aku tidak ingin dia salah paham. Aku tidak sanggup melihatnya jadi beralih memandang pantulan wajahku di gelas teh.
"Apa?! Tunggu, apa kalian bertengkar lagi?!"
"Bukannya begitu.. hanya saja dia pria yang terlalu baik, aku jadi merasa bersalah.." kemudian aku meminum teh yang ada di dalamnya untuk menghilangkan guratan kekhawatiran di wajahku.
Bibi Kushina terkejut mendengar pernyataanku dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Benarkah? Sayang sekali, kupikir dia pria yang baik.. selain itu, dia guru yang mengajari Naruto Kendo dulu.."
"Mengingat banyak waktu yang kulalui dengannya tanpa perasaan membuatku nampak kejam, aku sudah berusaha semampuku tapi tetap saja sulit.." aku memeras gelas yang kupegang dan tersenyum ketika membayangkan Naru-chan, "Lagipula, masih ada hal yang ingin kulakukan.." lanjutku yang dapat kupastikan dia sedang melihatku sekilas.
Aku juga beberapa kali meliriknya tapi aku tidak ingin terlihat bahwa aku memperhatikannya jadi aku mencoba bersikap biasa saja, setelah mendengar keputusanku kira-kira apa yang dia pikirkan? Aku benar-benar penasaran, aku ingin bicara dengannya. Kalau aku mengatakan perasaanku, apa dia menjauh?
.
.
.
.
.
"Gomen nee, kau jadi membantuku mencuci piringnya.. kau pelanggan, seharusnya kau pergi dengan yang lainnya melihat persiapan festival saja.." aku mengatakan padanya yang berada di sampingku, dia membantu mencuci peralatan makan.
"Tidak apa-apa, ini sudah biasa.. seperti dulu, 'bukan..? lagian keluar pun aku tidak tau mau kemana.." Naru-chan membalas ucapanku dengan senyuman sementara sibuk membilas piring-piring.
Aku mendongak ke samping padanya yang terlihat sudah lebih tinggi dariku, bahkan sekarang aku harus mendongak hanya untuk menatap wajahnya. Dia sudah tumbuh besar hanya dalam waktu 4 tahun, anak laki-laki itu cepat sekali berubah. Aku terus memperhatikan wajahnya yang nampak lebih tegas, mata, hidung, juga bibirnya. Hah~ dia terlihat lebih keren, hanya berada di sampingnya membuatku gugup. Padahal aku bukan gadis remaja lagi.
"Naru-chan sekarang terlihat lebih tampan ya~" ucapku yang membuatnya blushing.
Ah, dia malu..manisnya..
"Heh? Apa? Aku?"
Aku mengangguk lalu kembali menyabuni piring kotor, "Sekarang kau lebih tinggi dariku, aku sampai pangling.. dan entah mengapa, auramu berbeda.. rasanya kau jadi keren, apa karena kau tinggal di Tokyo kali ya?"
"Yah, kalau sampai dibilang seperti itu aku jadi malu.." wajahnya tersipu malu.
Sekarang dia memang menjadi lebih keren. Dia juga sudah tinggal di Tokyo dalam waktu yang lama, pasti banyak gadis yang suka padanya. Aku penasaran seberapa banyak dia mendapat coklat di hari valentine. Kemungkinan juga dia sudah pernah punya pacar, 'kan? Aku jadi cemburu tapi, bagaimana dengan sekarang ya?
"Pasti kau sekarang sudah punya pacar ya.." aku mulai bertanya padanya dengan penasaran, tanganku memegang piring dengan erat membuatku gugup.
"Pacar? Aku tidak punya begituan.."
Benarkah? Apa itu berarti masih ada kesempatan untukku?
"Hee~? Tapi pasti ada gadis yang kau suka, 'kan? Ayolah, beritahu aku.." Aku terus-terusan mendorong sikutku padanya dengan meledeknya, tapi dia bersikeras untuk menyembunyikannya. Akhirnya aku memutuskan menyerah dan melanjutkan cucian piringnya.
Tentu saja, pasti ada 'kan? Aku memang bodoh..
"Kau harus tahu Naru-chan, perempuan akan meresponmu itu tergantung dari bagaimana caramu memperlakukannya lho.." jelasku yang hanya dia dengarkan dengan santai.
"Hm.. lalu?"
"Banyak pria menyepelekan itu karena merasa langkah yang mereka ambil sudah tepat, karena itu jika kau punya gadis yang kau suka.. jangan lupa bilang pada Chika-nee ya~" aku menatapnya dengan senyuman untuk menyembunyikan kegelisahanku tentang itu, untuk sekarang jika dia menyukai oranglain, aku tidak masalah hanya dengan menjadi teman curhatnya.
Kami terdiam beberapa saat sampai dia akhirnya berkata, "Baiklah, kalau begitu akan ku katakan sekarang padamu.."
"Eh benarkah?"
Aku terkejut mendengar keberaniannya yang tiba-tiba muncul, dia terlihat gugup untuk mengatakannya. Tangannya terlihat mengepal dengan wajah serius memandangku, aku terhanyut dan tak mampu mengatakan apapun.
"Chika-nee!" Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengarnya menyebut namaku dengan keras-aku bersiap mendengar kata-kata selanjutnya, sebenarnya aku tidak ingin mendengar nama oranglain yang dia suka tapi..
"A-aku.. Aku menyukaimu!"
Aku memandangnya tak percaya, aku terdiam memproses hal yang baru saja dia katakan. Seperti lagu yang kusuka, ucapannya barusan seperti terus-terusan terngiang di kepalaku. Aku merasakan wajahku memanas bersamaan dengan wajah Naru-chan yang ikutan merona malu.
"Kejadian 8 tahun lalu aku tidak bohong mengenai perasaanku, saat itu aku memang anak kecil. Tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu.. karena itu aku tidak masalah jika harus merahasiakan hubungan kita, jadi berkencanlah denganku.."
Benarkah? A-apa aku bermimpi? habisnya dia tidak terlihat memikirkannya sama sekali. Perasaan aneh berkecamuk dalam benakku seketika membuat bibirku terangkat ke atas.
"Ahahahaha! Naru-chan itu lucu sekali.." aku tertawa sambil memegangi perutku, Naru-chan terlihat terkejut dengan memperlihatkan wajah bodohnya.
"Ke-kenapa kau tertawa?"
"Habis mana mungkin kau suka wanita tua ini~ ah mou~ kita tidak bisa berkencan.."
Hah.. aku tidak menyangkanya, tapi Naru-chan suka mengerjaiku waktu kecil. Jika ini tipuan, aku tidak ingin kecewa dengan itu.
Aku terkejut ketika dia langsung memegang kedua pundakku dan menarikku untuk melihat wajahnya secara langsung. Aku menatap matanya yang terlihat serius ketika dia menatapku dalam. Aku dibuat tak berdaya olehnya.
"Chika-nee! Aku serius..!" dia memandangku dengan ekspresi yang terlihat tidak bercanda, sepertinya wajah kami menjadi memerah satu sama lain.
Kepalaku terasa berputar-putar, a-apa yang harus aku lakukan sekarang? A-aku juga menyukainya, ketika bibirku mulai terbuka untuk mengatakan bahwa aku menerimanya-
"Tadaima.." dari arah pintu masuk terlihat orang beramai-ramai datang, kami memandang ke arah suara itu berasal.
Aku langsung melepas cengkraman Naru-chan pada pundakku dan berlari kecil menuju pintu depan, aku berhenti sesaat sebelumnya untuk bicara, "Kita bicarakan ini nanti.." aku meninggalkannya yang terlihat terdiam di sana, mengatakannya saat banyak orang seperti sekarang bukan waktu yang tepat.
"Chika, kenapa berdiri di situ? Cepat, bantu Okaa-san membawa cucian ini.." Ibuku mulai bertitah tentangku.
"Uh.. um!"
"Wajahmu merah, apa kau baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja..!" Aku langsung membawa cucian itu dan berlari ke dalam.
"Anak itu kenapa ya?" Ibuku bertanya.
"Ahaha~ anak muda~" entah apa yang Shima-nee maksud.
-Flashback mode off-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
WARNING!
( SETELAH INI BERISI KONTEN 18+, BACK JIKA TAK SUKA)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan hari ini entah bagaimana kami mulai berpacaran. Ini sudah hari ke enam liburan musim panas Naru-chan sejak dia datang. Hari itu kami memutuskan untuk merahasiakan hubungan kami, tapi mendengar ceramah dari Mito-nee sepertinya semua orang sudah mengetahuinya. Tapi, baiknya mereka semua terlihat tidak terlalu mempersalahkan hal itu. Itu bagus, sehingga kami bisa berkencan tanpa harus bersembunyi.
Naru-chan tidak memiliki waktu yang lama di sini, jadi kami melakukan apa yang kami inginkan. Dan hari ini, orangtua kami pergi untuk memancing di laut. Meskipun di rumah ada Shima-nee dan Mito-nee, juga anak tetangga yang mampir untuk bermain. Aku dan Naru-chan melakukan hubungan seks.
Aku memejamkan mataku ketika bibir kami sudah saling menempel dan melumat satu sama lain, kami bersilat lidah ketika Naru-chan mulai bermain dengan dadaku. Naru-chan memojokkanku pada tembok dimana ruangan ini dipenuhi oleh barang-barang yang sudah tak terpakai. Saat aku sedang menaruh barang bekas di gudang, ternyata Naru-chan mengikutiku lalu tiba-tiba menarikku pada bagian dalam gudang. Dimana kami terhalangi oleh rak-rak untuk menyimpan barang.
Tangan Naru-chan mulai menurunkan tali mini dress pada pundakku sehingga dada telanjangku langsung terlihat olehnya, dia menatapnya beberapa saat hingga membuatku malu ditatap seperti itu. Wajahnya terlihat kagum entah karena apa, kenapa dia harus sekagum itu padahal sudah sering melihatnya. Kemudian dia menyentuh kedua buah dadaku, memerasnya dengan gerakan berputar.
"Ternyata benar dada Chika-nee menjadi lebih besar dari sebelumnya.." jelasnya yang langsung membuatku salah tingkah.
"Ba-baka! Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu..!" Ucapku mengomel kecil karena komentarnya mengenai dadaku, mau bagaimana lagi aku tidak bisa menahan pertumbuhan tubuhku, aku bahkan tidak berharap dadaku jadi besar.
"Meskipun begitu, aku juga menyukainya.." dia mengatakannya lalu menyandarkan wajahnya di tengah dadaku sambil tetap meremasnya, "..Ini sangat lembut dan hangat seperti mochi baru matang..! Maji-sukiii..!" aku merona malu setelah mendengar pengandaian yang dikatakannya dengan sangat bersemangat.
"Ko-kora!"
"Ah, benar juga.. aku punya sesuatu yang bagus untuk sekarang.." dia melepaskan genggaman pada dadaku, lalu mengambil sesuatu di belakang tubuhnya.
Kemudian dia memperlihat benda yang terlihat seperti kelereng memanjang di depanku, aku sedikit bingung dengan benda aneh yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku menatap Naru-chan lalu mempertanyakan benda apa itu.
"Naru-chan, itu apa?"
Wajah Naru-chan terlihat berubah sendu lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menangis terharu, "Yokatta~ Chika-nee masih polos hingga sekarang.. aku sempat khawatir sebelumnya.." jelas Naru-chan yang entah mengapa seperti mengejekku, aku langsung tersinggung dengan ucapannya.
"Kau jadi lebih sombong sekarang ya..? Cepat, beritahu aku.." Sindirku padanya yang tertawa sebelum menjelaskan benda itu.
"Ini mainan seks, aku selalu penasaran bagaimana untuk menggunakannya.." jelasnya yang melihat benda itu dengan kagum, aku langsung salah tingkah setelah mengerti bahwa benda itu adalah mainan seks.
Tiba-tiba aku langsung teringat film luar negeri yang kutonton memperlihat adegan BDSM pada kekasihnya meskipun tidak terlalu diperlihatkan dengan jelas, itu tetap saja membuatku ngeri. Dan sekarang Naru-chan ingin melakukan hal yang sama. I-ini terlalu cepat untukku..!
"Naru-chan ecchi~!" Teriakku padanya yang membuatnya tersentak.
"Eh?! Tentu saja, aku kan laki-laki..!" Aku tidak bisa mengelak bahwa itu benar.
Aku kembali melirik benda itu, "Na-naru-chan, kau dapat benda itu darimana..?" Aku bertanya padanya yang menunjukkan benda itu tepat di depan wajahku.
"Oh ini? Aku membelinya secara online lusa lalu, aku terkejut karena cepat sekali sampainya.." jelas Naru-chan yang membuatku tercengang.
"Ka-kau ingin memakainya padaku?" Tanyaku lagi yang membuatnya menatapku dengan serius dan kemudian mengurungku dengan kedua tangannya yang menempel di tembok.
"Tentu saja, selama ini Chika-nee yang selalu membuatku merasakan kenikmatan.. Ketika memikirkan itu, aku juga ingin membuatmu merasakan kenikmatan yang sama juga.. Karena itu, aku membeli benda ini agar membuatmu bahagia..!" Lanjut Naru-chan yang membuatku tidak menyangka bahwa dia sampai memikirkan hal seperti itu.
Aku mengalihkan perhatianku dari tatapannya karena malu juga bingung, "Ah, gomen.. apa ini mengganggumu?" Sekarang dia terlihat kecewa dan itu membuatku merasa bersalah.
Aku langsung menggeleng setelahnya, "Ti-tidak! Bukan begitu, hanya saja rasanya memalukan ketika melakukannya dengan benda asing, dan lagi kita melakukannya di gudang.." jelasku kembali menatapnya meskipun merasa malu mengatakan hal tersebut.
"Percaya padaku, benda ini bisa membuatmu merasa lebih nikmat dari biasanya.." jelasnya menepuk pundakku lalu kembali menunjukkan benda itu padaku.
Dia sangat yakin..! Entah mengapa dari wajahnya, aku merasa dia hanya ingin coba-coba saja..
Kemudian dia mulai bersimpuh ke bawah, tangannya masuk ke dalam mini dress bagian bawahku, aku dapat merasakan dia menurunkan celana dalam yang kukenakan hingga mata kaki untuk melepaskannya, lalu langsung menggantungnya di rak sebelah kami. Naru-chan mengangkat kaki sebelah kiriku lalu meletakkannya di pundaknya sehingga kemaluanku sedikit terbuka.
"Sugoi~ di sini kau sudah sangat basah, Chika-nee.." pujinya yang membuatku malu.
"Ta-tapi kenapa kita melakukannya di gudang..?" Tanyaku pada Naru-chan yang fokus melihat pada kemaluanku.
"Karena di penginapan ada Shima-nee dan Mito-nee, lalu anak-anak tidak akan ada yang datang kemari.. apa gudang kurang nyaman untukmu?" Tanyanya yang membuatku mengalihkan pandangan darinya.
"Tidak, ini sangat menakutkan ketika mencoba melakukannya di luar penginapan.." jawabku jujur yang membuat Naru-chan tersenyum.
"Kita pacaran, 'kan? Jika ada yang melihat kurasa mereka akan mengerti.." lanjutnya dengan aura blink-blink.
Iya, mengerti untuk menganggap kita pasangan mesum~ huhu~
Naru-chan menggunakan jarinya untuk melebarkan akses pada lubang vaginaku, aku tak berani menatap ke bawah ketika benda itu mulai mendekat. Aku menutup mataku dan menggigit bibir bawahku ketika ujung benda itu mulai dimasukan ke dalam vaginaku.
"Hyah~!" Aku meracau ketika perlahan benda itu masuk, benda bulat seperti kelereng itu terasa mulai memenuhi bagian bawahku ketika Naru-chan memasukannya satu persatu.
"Kita tidak pernah mencoba mainan seks sebelumnya, apa ini nikmat untukmu?" Tanya Naru-chan yang kemudian memasukan benda itu dengan lebih keras.
"Ah..! Jangan.. terlalu kuat.. hyah~" aku menyender pada tembok di belakangku, benda itu terasa bergerak di dalam seperti menyerap tenagaku.
Naru-chan berhenti memasukan benda itu ketika tinggal satu kelereng yang terlihat, "Ah, Chika-nee apa puting dadamu mengeras?" salah satu tangannya tiba-tiba memainkan puting dadaku yang sudah mengeras dengan jarinya, dia memencetnya seperti tombol.
"Ahn~" aku kembali meracau ketika dia mulai mencubit puting dadaku.
Tangan Naru-chan yang satunya memegang kelereng itu entah untuk apa, "Chika-nee, kau sudah siap..? Aku akan menariknya.." jelas Naru-chan yang membuatku terkejut ketika dia menarik benda itu dari vaginaku secara tiba-tiba bersamaan dengan putingku yang dicubitnya.
"Aaaahn!" Aku langsung berteriak ketika benda itu langsung dipaksa keluar sehingga menimbulkan getaran aneh pada vaginaku, aku bahkan tidak mengerti itu nikmat atau tidak, itu membuatku merasa aneh.
Aku langsung ambruk ke bawah ketika Naru-chan mulai berdiri dari posisi bersimpuhnya, aku terengah dengan memegang vaginaku yang terasa aneh dengan benda tadi. Aku merasa vaginaku menjadi lebih basah dari sebelumnya.
Aku melihat Naru-chan yang mulai menurunkan celana pendeknya hingga sebatas paha lalu dia membuka bungkus kecil yang terlihat seperti kontrasepsi. Aku melihatnya yang memakai benda itu untuk melapisi penisnya yang sudah berdiri tegak. Aku memandang penis itu dengan senyuman ketika membayangkan hal mesum tentangnya, begitu tersadar dengan pemikiran itu aku langsung menggeleng.
"Chika-nee, kau masih ingin lanjut, 'bukan?" Tanya Naru-chan yang terlihat sudah selesai memakai kontrasepsi pada penisnya.
"Mnn.. Tentu saja.."
Aku memegang ujung bawah mini dress yang kupakai lalu mengangkatnya sambil berdiri, aku membelakangi Naru-chan aku bersandar pada tembok di depanku lalu menungging di hadapan Naru-chan yang terlihat terteguk. Aku menggunakan salah satu tanganku untuk membuka lebar lubang vaginaku di hadapan Naru-chan.
Aku menatap ke belakang pada Naru-chan dengan malu-malu, "Ayo lakukan.." ucapku padanya.
Dia melangkah mendekat padaku lalu mengarahkan penis besarnya itu pada lubang vaginaku yang terbuka untuknya, "..Aku akan masukan sekarang, Chika-nee.." ucapnya yang kemudian aku merasakan penisnya mulai merangsek masuk pada vaginaku.
"AAH..!" Aku langsung berteriak ketika Naru-chan baru setengah memasukan batang penisnya, ini lebih besar dari biasanya, apa dia bersemangat setelah menggunakan mainan seks tadi?
"Maaf, Chika-nee.. apa kau baik-baik saja?" Tanya Naru-chan dengan nada khawatir.
Aku tersenyum canggung menatap ke lantai yang berada di bawah, "A-aku.. mnn.. baik-baik saja, kurasa.. I-itu besar jadi pelan-pelan ya.." ungkapku pada Naru-chan yang mulai memegang pinggangku.
"..Aku akan pelan-pelan.." ucap Naru-chan ketika aku merasakan dia mulai mendorong pinggulnya secara perlahan, aku kembali menggigit bibirku dengan mata terpejam.
"Ung.. gomen, sedikit lagi.." jelas Naru-chan yang tiba-tiba memegang lenganku.
Dia tiba-tiba langsung mendorong penisnya hingga seluruhnya telah berada di dalamku, aku terguncang hingga menabrak tembok di depanku.
"UAHN..!" aku langsung memekik ketika merasakan penisnya yang lebih besar itu masuk hingga rasanya mencapai ujung rahimku, kakiku hampir terpeleset jika Naru-chan tidak menahan lenganku.
Aku kembali bersender di tembok menahan tubuhku, "mmnn.. su-sudah kubilang.. hmmn.. untuk pelan-pelan.. Mou.." dapat kurasakan penisnya yang memenuhi setiap tempat di dalamku.
"Gomen naa, tapi pinggangku bergerak dengan sendirinya.." setelah mengucapkan itu Naru-chan mengangkat kaki sebelah kananku lalu menahannya di atas dengan lengannya, sehingga aku berdiri hanya dengan satu kaki.
Kemudian dia bergerak in-out dengan sangat cepat hingga seluruh tubuhku terasa berguncang, tanganku terangkat untuk berpegangan pada tembok agar tidak terjatuh. Aku hanya mendesah dengan pergerakkannya yang sangat tidak sabaran. Hal ini membuat dadaku bergoyang-goyang, aku merasa Naru-chan terus-terus melihatnya dengan tersenyum nakal.
"Aku selalu tak bisa menahannya, berada di dalam Chika-nee terasa enak.. uh..!" Dia mulai mencodongkan tubuhnya mendekat padaku.
Tangan yang satunya mulai merangsek pada dadaku dan meremasnya dengan puting dadaku yang dia apit dengan kedua jarinya, aku semakin mendesah kencang atas perlakuannya.
"Ahn~! Ah.. mnmm.. ah.. ah uh..!"
"Bau Chika-nee juga manis sekali.. kau terlihat menggiurkan.." jelas Naru-chan yang menjilat ketiakku yang terbuka.
"Aaah..! Kau lagi-lagi menjilatnya.. ahn~ sudah kubilang.. mnmnm.. kalau itu kotor.. ah~" Naru-chan tetap menjilatnya seperti menikmati bagian itu.
Beberapa saat kemudian dia berhenti lalu perlahan menurunkan kakiku dari lengannya hingga kembali menapak di lantai, "Chika-nee, apa kau masih kuat..?"
Aku melirik ke belakang ketika dia bertanya, "Eh..? Kenapa?" Tanyaku padanya yang memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya tanpa mengeluarkan penisnya dari vaginaku.
Dia menarikku ke dalam pelukannya sembari meremas bongkahan pantatku, "aku selalu penasaran untuk mencobanya.." jelasnya yang menekan lubang bagian belakangku sehingga membuatku memeluknya karena melemas, "..sepertinya ini sudah licin berkat cairan dari vaginamu tadi.." lanjutnya ketika aku merasakan sesuatu memasuki lubang pada bagian belakangku.
"Eh..? Tunggu, ada sesuatu masuk melalui pantatku.." aku terkejut ketika benda itu terasa sama seperti kelereng tadi, "Naru-AH..!" perkataanku terhenti ketika benda itu langsung melesak ke dalam hingga menyisakan satu kelereng di luar.
Tubuhku langsung menegang hingga mencengkram kaos yang Naru-chan kenakan dengan sangat kuat, "Sugoi..! Chika-nee, tubuhmu langsung melengking.." ungkapnya dengan nada ceria dan membuatku merasa dipermalukan atas perbuatannya.
"Ko-kora! Naru-chan ecchi~! Aku tidak menginginkan ini..!" Omelku padanya karena ini memalukan.
Wajahnya Naru-chan kembali menatapku dengan serius, "Tenang Chika-nee, dengarkan dulu penjelasanku.. apa kau tahu, apa yang membuat mainan seks terasa nikmat?" Tanyanya yang membuatku menggeleng.
"Tidak.. itu terasa aneh..Ahn~!" Tiba-tiba Naru-chan mengangkat kedua kakiku hingga aku langsung memeluknya karena takut terjatuh, dia mengangkat tubuhku dengan memeluk pinggangku hingga aku terangkat di dalam gendongannya.
Dia bahkan melakukannya dengan posisi seperti ini. anak kecil yang dulu terlihat cengeng dan manis seperti malaikat, sekarang sudah berubah menjadi iblis kecil mesum. Aku seperti melihat dua tanduk iblis ketika dia menatapku dengan menyeringai mesum. Mataku melebar ketika dia menekan satu kelereng itu yang sudah memenuhi lubang bagian belakangku hingga benda itu mengetat di dalam.
"Ahn..!" Aku hanya berteriak dengan hal tersebut.
"Itu terasa nikmat ketika benda itu bergerak di dalam.." jelasnya kemudian langsung bergerak in-out, aku langsung memeluk tubuhnya dengan mendesah semakin kencang hingga pikiranku menjadi kosong.
Naru-chan mengguncangku cukup kencang, aku merasakan benda seperti kelereng itu bergerak-gerak di dalam bagian belakangku. Rasanya sangat sesak dimasukan benda asing pada kedua lubangku. Aku tidak habis pikir bahwa hal ini memberikan kenikmatan. Tapi guncangannya membuatku semakin terangsang meskipun rasanya sangat aneh. Aku merasa seperti dihujam oleh dua orang Naru-chan. Tidak, pikiranku mulai menjadi aneh.
"Wogh! Chika-nee, di dalam terasa berkedut terus-menerus.. agh~" Naru-chan mempercepat gerakannya hingga membuatku kewalahan, "..Rasanya seperti listrik yang menyetrum penisku..!" Lanjutnya memojokkanku di tembok.
Aku tidak memikirkan apapun selain ejakulasi yang akan datang untuk memberikan kenikmatan, aku mulai berpikiran mesum sekarang membayangkan sedang disetubuhi oleh dua orang Naru-chan. Tidak, ini terasa nikmat ketika benda itu bergerak oleh guncangan Naru-chan.
"Ah.. ahn.. ah~ ah~ aku akan datang..! Naru-chan, Chika-nee akan keluar..! Uh! Ah! Ah!" Aku menatap wajah Naru-chan yang juga menatapku dengan peluh yang membasahinya.
"Agh..! Aku juga..! Uh~ ah! Aku akan datang, Chika-nee... mmnnmm.." aku langsung mencium bibirnya dan memasukan lidahku pada rongga mulut Naru-chan yang terbuka, kami berpagutan sambil Naru-chan yang mempercepat gerakannya.
"Aku keluar, Chika-nee..! Aaaakh..!"
"Aaaaaaahn! Naru-chanmnn..!"
Dalam sekali hentakan Naru-chan, aku dapat merasakan cairan yang keluar melalui penisnya yang memenuhi kontrasepsi yang dia gunakan. Dia menurunkan kakiku yang diangkatnya hingga kembali menapak di lantai. Kami terengah bersama dengan saling berpelukan, Naru-chan melepaskan penisnya dari lubang vaginaku yang menunjukkan kontrasepsi yang sudah terisi oleh cairan spermanya.
"Chika-nee, kau masih bisa berjalan kan? Mau pindah ke kamar saja..?" Naru-chan menatapku khawatir ketika aku hanya berdiri terdiam dengan terengah.
Naru-chan melepas benda itu dari penisnya lalu dia mulai mencoba memakai celananya kembali, tiba-tiba terdengar suara langkah berlari menuju gudang.
"Naruto-niichan, mikke..!" Ucapnya dengan suara nyaring yang tiba-tiba muncul memergoki kami, Naru-chan yang panik langsung mengangkat celananya ke atas sedangkan aku langsung membelakangi mereka karena setengah telanjang dengan mini dress yang berantakan.
"Ko-konohamaru..?! Kenapa kemari?" Naru-chan kemudian berdiri seperti menghalangiku agar tidak terlihat oleh bocah SD berumur 6 tahun itu.
"Aku mencari Naruto-niichan~ Kau tiba-tiba menghilang saat makan cemilan tadi, kore! Padahal kau berjanji setelah makan cemilan akan bermain baseball denganku dan lainnya~" jelas Konohamaru merengek pada Naru-chan dengan memperlihatkan tongkat baseballnya, aku cepat-cepat langsung menarik ke atas tali mini dress pada pundakku lalu merapikannya, aku juga mengambil celana dalamku yang di gantung pada rak.
"Be-benarkah? Ah gomen, Niichan lupa ahaha!" Jelas Naru-chan sedang mengulur waktu, aku berjongkok untuk memudahkanku memakai celana dalam agar tak terlihat.
"Omong-omong, apa yang sedang kalian lakukan di gudang-kore?" Tanya Konohamaru dengan wajah polos pada Naru-chan yang terdiam sejenak lalu menggaruk belakang kepalanya dan mengalihkan matanya dari Konohamaru.
"Ti-tidak ada.. tidak ada apa-apa kok.." jelas Naru-chan yang kelihatan sekali bohongnya.
Konohamaru menunjuk Naru-chan dengan pandangan tak yakin, "Bohong! Naruto-niichan pasti bohong.. Tadi aku dengar sendiri Chika-neechan berteriak keras seperti ketakutan-kore" Jelas Konohamaru yang membuat Naru-chan tersentak, aku juga ikut tersentak lalu berhenti saat menarik celana dalam yang baru sampai paha.
Aku menutupi celana dalamku dengan rok lalu memutar tubuhku ke depan pada Konohamaru, "Ki-kita sedang main petak umpet, Konohamaru-kun.." jelasku yang kemudian berdiri dari posisi jongkok dengan cepat aku langsung menarik celana dalamku ke atas.
"Benar, kami sedang bermain petak umpet tadi!" Tambah Naru-chan yang membuat Konohamaru cemberut terlihat ngambek pada Naru-chan yang tidak mengajaknya.
"Naruto-niichan, sebelum bermain dengan orang lain harusnya kau tepati janjimu dulu padaku-kore~!" Aku hanya tertawa mendengar rengekannya.
"Maa.. maa.. kita bisa bermain lain kali-" tiba-tiba tangan Naru-chan langsung ditarik oleh Konohamaru untuk keluar gudang.
"Tidak, pokoknya kau harus bermain denganku sekarang..!" Teriak Konohamaru yang terus memaksa Naru-chan.
"O-oy..!" Naru-chan terlihat masih menahan diri, dia menatapku dengan wajah khawatir.
Aku hanya tersenyum padanya, "Tidak apa-apa, kau pergi bermain dengan anak-anak saja.. aku akan kembali ke rumah lebih dulu.." jelasku.
"Eh? Tapi.." Naru-chan terlihat ragu.
"Sudahlah Naruto-niichan, Chika-neechan bilang tak apa, 'bukan?!" Konohamaru masih menarik-narik lengan Naru-chan.
Naru-chan berubah tersenyum padaku, "Baiklah, aku akan segera kembali.." jelasnya yang kemudian berlalu pergi bersama Konohamaru meninggalkanku di dalam gudang sendirian.
Aku melambai padanya dengan senyuman tapi meskipun aku bilang begitu, aku menggerakkan kakiku tak nyaman. Aku masih merasakan mainan seks itu di dalam lubang bagian belakangku. Rasanya bergerak sedikit benda itu seakan bergetar. Seharusnya aku minta Naru-chan melepaskan benda ini dulu~~~
.
.
.
.
.
Eeee.. TBC? :v
Yak, kembali lagi dalam ff lemon Erocc yang laknat.. semoga ff ini membantu anda mencari inspirasi..
Sekalian hujat Erocc di kolom review dengan kata-kata bijak ya~ biar semangat.. xD
Jangan lupa fav dan follownya, ehe~
Untuk request fict dgn chara atau crossover fandom lain, mungkin Erocc bakal lama.. tapi tunggu saja, nanti juga ad ff baru..
Udah buat kok tpi erocc mendadak buntu gitu khayalannya wwokkwowkk~
