Judul : Isshouni Abimashou

Chapter : 4

Genre : Romance, hurt/comfort, Milf, mature, AU dan OOC.

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Sakurako kimino

Crossover : Naruto x Lovelive sunshine

Pairing : Naruto x Chika

Rating : M

A/N :

Wkwkwk

.

.

.

.

.

.

.

WARNING!

Langsung adegan 18+, back jika tak suka

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto pov*

Aku kembali ke penginapan begitu langit sudah berubah senja, bermain dengan anak-anak yang enerjik itu sangat melelahkan. Padahal saat masih balita dulu Konohamaru sangat lucu. Aku melihat Shiitake yang menggonggong senang melihat aku yang kembali sembari berlari memutariku. Aku hanya tertawa dengan tingkah anjing tua itu.

Aku masuk ke dalam penginapan dan melihat Shima-nee dengan bayi di gendongan punggungnya yang muncul di balik ruang dapur. Dia tersenyum padaku yang sedang duduk di depan pintu sambil mengelus Shiitake.

"Naruto-kun, kau sudah kembali? Sebentar lagi makan malamnya akan siap.."

"Oh benarkah? Tou-chan dan ojisan, pasti dapat banyak ikan ya.." jelasku yang bangkit lalu masuk ke dalam, aku mengibaskan kaosku karena gerah, "..Sepertinya aku akan mandi dulu, aku sangat berkeringat.." jelasku yang ingin masuk ke dalam kamar penginapanku untuk mengambil pakaian ganti.

Aku mengambil pakaianku lalu pergi menuju ruang pemandian. Di sana aku memasuki ruangan dimana berdiri rak dengan keranjang di dalamnya untuk menyimpan baju kotor dan baju ganti. Ketika aku mulai untuk membuka bajuku, aku merasa ada seseorang yang memasuki ruang ganti.

"Naru-chan.." aku seperti mendengar suara Chika-nee memanggilku, aku terkejut begitu merasakan sepasang tangan yang melingkari tubuhku dari belakang.

Wajahku memerah begitu menoleh ke belakang dan melihat Chika-nee yang menatapku dengan wajah meronanya, "C-Chika-nee?!"

Aku berbalik padanya ketika dia mulai melepaskan pelukannya, aku terkejut ketika dia menaikkan rok dari minidressnya sehingga aku melihat dia tidak memakai apapun di baliknya. Aku langsung panik berharap tidak ada orang yang datang kemari.

Kakinya terlihat bergerak tak nyaman, "Naru-chan.. uh.. Saat ini, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.. uumm.. Benda itu terus bergerak di dalam tubuhku.." jelasnya dengan terengah-engah, dari wajahnya dia terlihat sangat tidak berdaya.

Hal yang membuatku terkejut adalah dia belum melepaskan vibrator yang kita pakai tadi, "K-kau masih memakainya?!"

Dia mengalihkan pandangannya dariku, "..A-aku tidak tahu, bagaimana cara melepaskannya.." jawabnya yang membuatku tercengang, Chika-nee kau memang wanita polos.

Dia bilang akan baik-baik saja dan menyuruhku pergi. Jadi aku pikir dia bisa melepaskannya sendiri. Aku menatapnya yang masih berdiri di depanku, aku menggaruk kepalaku karena ini menjadi situasi yang aneh.

"Seharusnya kau bilang dulu sebelumnya.." jelasku padanya.

"..maaf, tapi saat itu ada Konohamaru.. aku tidak bisa bilang.." jelasnya yang membuatku tersenyum.

"Baiklah, sekarang coba berbaliklah.. aku akan melepaskannya.." ucapku memberi intruksi padanya.

Dia berpegangan pada rak lalu menungging menunjukkan bokongnya padaku, aku menelan ludah ketika melihat pemandangan sexy di depanku ini. Tapi, aku mencoba menahan diriku. Jelas di sana terlihat vibrator yang ujungnya sedikit terlihat. Aku memegang bongkahan bokong Chika-nee untuk menahannya.

Aku mengambil ujung benda itu lalu mulai menariknya perlahan, Chika-nee entah mengapa mulai menegangkan tubuhnya. Ketika satu bulatan itu sudah keluar aku langsung memegangnya.

"Chika-nee, aku akan menariknya lho.." jelasku sebelum menarik benda itu dan mendapatkan anggukan darinya.

Aku langsung menarik benda itu keluar bersamaan dengan Chika-nee yang mengeluarkan desahan kencang, "AAAHN..!" setelah benda itu lepas aku melihat lubang belakang Chika-nee yang bergerak kembang kempis, oh sial itu benar-benar terlihat sangat mesum.

Aku merasa adik kecilku di bawah mulai terbangun. Chika-nee terlihat masih terengah-engah lalu menatapku yang berada di belakangnya. Wajahnya menatapku dengan sangat intens. Chika-nee mulai mendekat padaku lalu memelukku dengan cukup keras hingga aku terjatuh dan terbaring di lantai. Aku bisa merasakan dia menjilati dadaku sehingga membuatku merinding.

"Maaf, Naru-chan.. hah.. tubuhku terasa panas, aku... mnn.. aku tidak bisa menahan diriku lagi.." dia tersenyum padaku dengan pandangan yang aneh, "..ehehe~ ayo, lakukan hal yang nakal..!"

Mendengarnya yang menggodaku itu membuatku senang sih, tapi..

Tunggu-tunggu, jika kita melakukannya di sini. Ini akan sangat berbahaya. Bagaimana jika ada pelanggan yang akan datang?!

"..C-Chika-nee?! Mmnn-!" Aku terkejut ketika bongkahan bokong sexy Chika-nee menduduki kepalaku, aku merasa bibirku menempel pada liang senggamanya.

"Uh.. hya~ itu terasa enak.. mnn.." aku malah mendengarnya yang meracau tentang bagaimana nikmat yang dia rasakan, bernafas tepat di bagian sensitifnya membuatku dapat mencium bau yang luar biasa.

Bau ini, aroma dari tubuh manis Chika-nee bercampur dengan cairan cintanya. Aku mulai memegang bokongnya lalu menjilat kemaluan yang membuatnya meracau lebih keras, Chika-nee juga sudah menurunkan celanaku dengan tangannya yang mengocok batang kemaluanku dengan gerakan yang cukup kencang.

Kepalaku terasa jadi pusing. Bau dari kemaluannya membuat insting liarku tak terkendali. Aku tidak bisa menggambarkan rasa nikmat seperti ini kesenangan atau kesakitan.

"Aahn! Aku keluar..! Naru-chan~ Aku keluaaaar..!" Dengan tanda dari desahan Chika-nee, benar saja cairan manis itu keluar dari kemaluannya yang membuatku dengan senang hati menelannya, bersamaan dengan itu aku juga mencapai puncakku ketika kemaluanku mengeluarkan cairan sperma.

"Luar biasa.. hah.. hah.." jelas Chika-nee yang terlihat bahagia ketika mencapai puncaknya, cuma perasaanku saja atau memang semakin lama Chika-nee semakin mesum.

Dia mulai menarik kemaluannya yang basah dari mulutku sehingga terlihat cairan salivaku yang yang menjadi benang tipis hingga putus. Chika-nee memandangku dengan senyuman nakalnya dengan wajah memerah. Dia benar-benar sudah menjadi wanita mesum sekarang. Padahal biasanya dia tsundere. Sepertinya vibrator itu sudah membuat pikirannya kacau.

"Chika-nee.. biarkan aku beristirahat sebentar.. hah..hah.." entah bagaimana hal ini langsung membuatku lelah.

"Tidak mau~" jelasnya yang membuatku terkejut lalu dia melirik pada batang kemaluanku yang masih berdiri tegak, "..soalnya Ochinpo terlihat belum puas.." jawabnya dengan pandangan malu-malu, dia kembali merangkak mendekatiku.

Aku terbangun mengubah posisi menjadi duduk, pandangan kami bertemu dengan pandangan yang cukup dekat. Mataku beralih pada oppai besarnya di balik minidress itu. Chika-nee bersikap menjadi wanita yang agresif, entah ini keberuntungan yang terasa aneh. Dia mulai kembali mengocok batang kemaluanku lagi dengan tangan lembutnya. Bibir basahnya mengemut leherku sembari melakukannya.

Aku memegang pundaknya lalu mendorongnya untuk menjauh, "C-Chika-nee! Kurasa sebaiknya kita mandi terlebih dahulu.." aku mulai menjelaskannya yang mendapat wajahnya menatapku penuh pertanyaan.

"Maksudku..! Kalau mau, bagaimana jika kita mandi bersama..?" Jelasku yang mendapati wajah memerahnya yang malu-malu kemudian aku mendapati dirinya mengangguk.

Kami kembali mulai berdiri, aku membuka bajuku dengan tergesah-gesah setelah kejadian luar biasa tadi. Aku melihat kesampingku ketika Chika-nee mulai menarik ke atas minidressnya, aku melihat dadanya yang bergoyang ketika bajunya berhasil lepas. Sudah lama, sejak kita mandi bersama. Terakhir kali kami mandi bersama saat usiaku 6 tahun. Tapi setelah hubungan kami sudah sejauh ini, tak ada artinya untuk merasa malu.

Aku kembali memandangnya yang sedang melipat bajunya pada keranjang, mataku tak bisa berhenti untuk memperhatikannya. Aku sudah tahu kalau dia cantik, tapi tetap saja aku merasa gugup di dekatnya. Terutama, ketika aku melihat dadanya dan bokongnya itu. Tubuhnya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, cewek seusiaku sih tidak ada yang semenarik ini. Ah sial, batang kemaluanku jadi lebih keras. Aku langsung menutupinya dengan handuk.

Aku berjalan ke pintu masuk pemandian, "Aku akan masuk duluan.."

"Ah, iya.." jelasnya yang sedang memegang handuk untuk menutupi tubuhnya.

.

.

.

.

.

Akhirnya sekarang kami di dalam pemandian, aku sedang membasuh tubuhku dengan air di depan barisan shower yang menyamping. Di sebelahku terdapat Chika-nee yang sedang membasuh rambutnya setelah memakai shampo. Mataku beralih padanya, melihat air yang menyelusuri tubuhnya membuat pikiran kotorku kembali menghasut. Dilihat berapa kali pun Chika-nee memang memiliki tubuh yang sangat sexy.

"..sudah lama ya, kita tidak mandi bersama.." jelasnya yang terlihat menunduk.

"Oh, iya.. dulu kita sering mandi bersama ya.." jelasku mengingat masalalu, masih terlintas di kepalaku ketika Chika-nee mencuci rambutku.

"Kalau begitu, mau aku gosokkan punggungmu?" Tanyanya yang membuatku mengalihkan wajahku ke arah lain, kuharap dia tidak menyadari kegugupan yang kurasakan.

"Boleh, aku akan menyerahkannya padamu.."

Kemudian Chika-nee terlihat meremas busa mandi yang sudah diberi sabun hingga mengeluarkan busa yang banyak. Memikirkan bahwa Chika-nee akan membersihkan tubuhku terdengar aneh sekarang, tentu saja ini sangat berbeda saat kami masih kecil dulu. Saat masih kecil, bagiku mandi bersama itu seperti bermain air.

Sekarang sudah beda cerita, melihat wanita telanjang di sebelahku membuatku berpikir ingin menyentuhnya. Terutama sebelumnya dia membuatku jadi merasa nafsu. Chika-nee yang ingin membersihkan tubuhku membuatku berpikir seandainya dia menggunakan tubuh sexynya itu untuk membersihkan tubuhku. Ah sial, aku benar-benar ingin menyentuhnya!

"Hm.. kurasa akan jauh lebih menarik jika Chika-nee menggosok punggungku dengan tubuh sungguhan~" ucapku menggoda Chika-nee yang nampak terkejut dengan ucapanku.

"Maksudmu dengan tubuhku..?" Chika-nee dengan wajah memerah memeluk tubuhnya sendiri.

Aku tersenyum padanya, "Iya.." jelasku yang membuatnya sedikit mundur.

"Naru-chan ecchi~"

"Tentu saja, itu kan insting kelakianku.." jelasku padanya yang terlihat tak bisa membalas, pandangannya beralih ke arah lain lalu melirik padaku dengan malu-malu.

"Baiklah, aku akan melakukan.."

"Baiklah, aku menunggu.."

Aku melihatnya yang mulai menggosok busa mandi itu pada tubuhnya hingga dilumuri oleh busa sabun, hal itu menyebabkan kulitnya terlihat mengkilap. Aku menelan ludahku melihatnya mulai bersiap mendekat padaku, aku berbalik membelakanginya lalu merasakan tangannya mulai memegang pundakku.

"..Aku akan mulai" jelasnya yang seketika aku merasakan benda kenyal yang menempel di punggungku, oh sensasi ini, aku yakin oppai besarnya itu sedang menempel di sana.

"Whoa~~" aku menutup mataku ketika dia mulai menggesekkan tubuhnya pada punggungku.

"Apa ini enak..?" Tanyanya yang membuatku kehilangan akal untuk menjawab, terasa enak karena ini licin dan lembut ditambah tangannya bergerak mengelus dada dan perutku.

"Iya, itu enak.. Kau menggosok semuanya.." jelasku ketika Chika-nee berhenti lalu memeluk tubuhku.

"Kau tahu..? Saat aku membersihkanmu seperti ini, aku ingat dulu kau sering memintaku untuk menyabunimu.."

"Ouh benar, itu pernah terjadi.."

"Dulu tubuhmu sangat kecil dan kurus.." jelasnya yang kembali menggesekkan tubuhnya, "..Tapi sekarang saat aku menggosok punggung dan lenganmu, aku merasakan otot pada tubuhmu.. aku menyadari tubuh kita sudah sangat berbeda, kau benar-benar sudah tumbuh besar.." mendengarnya membuatku terharu, entah bagaimana aku jadi merindukan sosok Chika-nee di masalalu.

Aku kembali merasakan dadanya yang menekan punggungku, "Chika-nee, sebenarnya tubuhmu juga sudah tumbuh besar.." jelasku yang menoleh ke belakang padanya lalu menatap pada dadanya, "..khususnya pada bagian tertentu, hehe.." aku tersenyum mesum melihat dua gunung kembar di depanku, Chika-nee langsung menutupi dadanya dengan tangannya.

Wajahnya menatapku tajam dengan menggembungkan kedua pipinya, sikap tsunderenya juga menjadi point plus. Sebenarnya batang kemaluanku dari tadi sudah berdiri tegak. Chika-nee tampak tersenyum melihatnya, dia kembali mendekat dari belakangku. Kedua tangannya mulai menggosok batang kemaluanku dengan perlahan.

"Sepertinya sudah saatnya membersihkan yang satu ini.." jelasnya yang mengocok batang kemaluanku dengan salah satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengelus dada bidangku.

"Baiklah, tolong bersihkan dengan benar ya.."

"Apa hanya menggunakan tangan terasa kurang enak..?"

"Tidak juga, ini terasa enak.."

Justru hal ini membuat pikiranku jadi kosong. Tangan lembutnya bergerak mengocok batang kemaluanku, tangannya yang lain memainkan dada bidangku, dan dada besarnya itu bergesekan dengan lenganku. Lelaki manapun yang merasakan godaan ini tentu saja akan bilang enak.

"Bagian atas dan bawah tubuhmu, keduanya terasa enak?"

"Saking enaknya, sulit untuk dijelaskan.."

"Ufufu~ itu bagus!"

Aku memandang wajahnya yang berada di samping wajahku, "Baiklah, kurasa sudah saatnya aku yang membersihkan Chika-nee.."

"Oh benarkah? Terima kasih.."

"Kalau begitu.." aku menepuk pahaku, "..duduklah di sini" jelasku yang mendapat wajah meronanya.

"Umm.. baiklah"

Chika-nee kemudian bersiap menurunkan tubuhnya untuk duduk di pangkuanku, kakinya terbuka lebar di hadapanku. Aku memegang pahanya dan mengelusnya lembut. Kami saling berpandangan dengan wajah memerah. Dia mengalungkan tangannya pada leherku.

"Seperti ini?"

"Iya, baiklah sekarang aku akan membersihkan oppaimu.." aku langsung menangkup dua buah dadanya dengan tanganku, lalu meremasnya dengan gemas.

"Ah.. mnn..mmnnn~" Chika-nee mulai mendesah dengan nikmat.

Oh, ini bahaya. Bentuknya besar dan bulat sempurna, karena sabun membuatnya licin ketika kusentuh. Sebenarnya sejak tadi aku hanya ingin menyentuh buntalan daging kenyal ini.

"Ah~ mmn.. caramu membersihkan.. mnn.. sangat mesum..ah~" racaunya.

"Kau juga, dari tadi kau meremas Ochinchinku dengan mesum.. agh.." balasku yang melihat kedua tangan Chika-nee meremas batang kemaluanku.

Aku mulai memainkan puting dada Chika-nee dengan menjepitnya dengan jariku, "..Ah.. kelicinannya membuat sensasinya jadi berbeda.. mnn.. ah~" racaunya ketika kedua tanganku pindah untuk meremas bokongnya, aku memainkan lubang di bagian belakangnya hingga dia mendesah lebih keras.

"Chika-nee, aku akan keluar lho.." jelasku ketika merasa akan mencapai puncak kenikmatan pada batang kemaluanku yang terus diremas oleh tangannya.

Chika-nee mempercepat pergerakan tangannya, "ehehe.. Jangan ditahan, kita di pemandian jadi keluarkan saja semuanya~"

"AGH..!" Aku ikut mendesah ketika spermaku langsung menyembur keluar mengenai dada dan perut Chika-nee, aku terkejut karena cairan itu lebih banyak dari biasanya.

Batang kemaluanku masih terlihat tegang dan keras, aku terengah setelah selesai mencapai puncak.

"Wah.. sangat banyak.." jelas Chika-nee melihat cairan sperma itu melumer di tubuhnya.

"A-aku sendiri juga terkejut.."

Kemudian karena hal ini mengotori tubuh kami, akhirnya kami kembali membersihkan diri dari awal.

.

.

.

.

.

"Ini terasa sangat enak.. berendam di kolam air panas, membuat letihku hilang.. pemandian keluarga Takami memang hebat~" jelasku yang menikmati berendam di kolam air panas, entah bagaimana aku merasa tenagaku terkuras banyak hari ini.

"Kau benar~" ucap Chika-nee yang menurunkan tubuhnya di kolam hingga hanya menyisakan separuh wajahnya.

Tiba-tiba dia berdiri lalu duduk di pinggir kolam, "Naru-chan.."

"Hm? Ada apa?"

"Apa Ochinpomu masih tegak?"

Pertanyaan macam apa ini?

"Tentu saja, aku tidak akan cukup dengan hal tadi.. tapi, melakukannya di pemandian itu agak.."

Tentu saja, melakukannya di pemandian penginapan sangat beresiko tinggi kau akan ketahuan oleh orang yang menginap. Aku tidak ingin menghadapi resiko besar itu, cukup ketauhan oleh anak kecil seperti Konohamaru tadi siang saja sudah merepotkan. Belum lagi, ceramah panjang Mito-nee jika dia tahu itu. Semoga Konohamaru mengerti apa yang aku katakan untuk tak membicarakan hal yang dia dengar di gudang pada siapapun.

"Naru-chan, sebenarnya.." aku mendongak menatap Chika-nee yang sudah merona, "..aku tidak bisa menahannya lagi.." jelasnya tangannya diapit oleh kedua pahanya yang bergerak-gerak.

"Chika-nee.."

"Melakukannya sambil mandi ternyata begitu menggairahkan, jadi aku pikir pasti hal ini terasa lebih nikmat.." jelasnya dengan wajah memerah, aku langsung berdiri di hadapannya yang menatapku.

"Kalau kau tidak apa dengan itu, mau melakukannya sekarang?" Chika-nee terlihat menatap pada batang kemaluanku yang masih tegang.

Chika-nee berdiri lalu berbalik, tangannya bertumpu di pinggir kolam lalu menungging menunjukkan bokongnya di hadapanku. Wajahnya yang malu-malu seperti biasa menatapku. Aku langsung mendekat padanya dengan menempatkan batang kemaluanku di liang senggamanya. Aku mulai mendorong perlahan sehingga aku merasakan liang senggamanya yang hangat mengelilingi kemaluanku.

"Setelah ini, aku tidak akan berhenti lho.." aku berbisik tepat di samping telinga Chika-nee.

"I-iya..mnn..lakukan saja sesukamu..Ah! Ah! Ahn~" ucapan Chika-nee berubah menjadi desahan erotis ketika aku langsung bergerak in-out untuk memompa liang kenikmatannya.

Kecipak air terdengar ketika kami bergumul dalam persatuan tubuh, aku mendengar bagaimana desahannya yang erotis bergema di ruang pemandian terbuka ini. Melakukan seks di pemandian besar itu benar-benar tidak normal. Ini jelas hal yang memalukan. Perasaan bebas ini mengalir keluar dengan sendirinya, seakan hanya ada aku dan Chika-nee di tempat ini.

Chika-nee yang bertumpu di pinggir kolam menatapku dengan mata sayunya, "Benar, 'kan? Melakukannya saat mandi lebih menggairahkan? Ahn~ ah! Ah!"

"Kau tahu? Jika kita ketahuan Shima-nee, dia pasti marah besar.."

"Ahn! Ah.. mmn... itu akan jadi hal buruk.. Ahmn!"

"Kalau begitu, kita hanya perlu melakukannya dengan cepat.." jelasku mempercepat pergerakanku menghujamnya, dada besarnya bergoyang mengikuti irama dengan gerakanku.

Aku langsung meremas dadanya lalu menariknya hingga berdiri, salah satu tangannya menyentuh kepalaku menarikku untuk mendekat pada wajahnya yang menoleh ke samping menghadapku. Aku mengikuti kemauannya untuk berciuman, kami berciuman hingga bersilat lidah. Aku meremas kuat salah satu dadanya dan tanganku yang satunya memeluk perutnya.

Chika-nee melepaskan ciumannya lalu mendesah kencang ketika aku semakin keras menghujamnya, "Ah! Uh~ kau mencapai.. mnnn.. ujungnya.. Uahn!" Seperti ucapannya aku terus menghujamnya lebih dalam lagi.

"Kyah! Hnn.. ah! Ah! Itu enak.. ah.. Naru-chan, setubuhi aku lebih kuat~ ahn!" Kata-kata kotornya bergema ke seluruh pemandian, mendengarnya membuatku semakin bersemangat.

Setiap kali aku menghujamnya lebih dalam, tubuh Chika-nee langsung melengking dan liang senggamanya terasa berkedut seperti mencengkeram kencang kemaluanku yang tertancap di dalamnya. Hal ini berulang kali membuatku semakin terangsang. Mendorong dalam satu hentakan dengan kencang hingga aku berhasil mencapai G-spotnya.

"Chika-nee, kau suka itu kan?" Aku bertanya padanya yang melemas hingga kembali bertumpu di pinggiran kolam dengan tangannya.

"Ja-jangan di sana! Aku akan keluar..! Ah~ ah~" aku tidak mempedulikannya dan terus mengguncangkan dengan kencang ketika aku juga merasa akan sampai puncaknya.

"Itu benar, aku juga hampir datang..!"

Chika-nee mulai lemas dia menjatuhkan tubuhnya pada lantai di pinggir kolam dengan masih menungging, aku mencengkeram bongkahan bokongnya dengan tangan agar Chika-nee tetap berada di posisi tersebut.

"Ahh.. ahn~ ah! Ah! Ah! Ah! Tidak! Aku akan.. ah! AAAH..!" Aku merasakan cairan cinta Chika-nee yang keluar lebih dulu, aku menghentakan lebih keras ketika merasa aku mencapai puncak juga.

"Agh..! Aku keluaaar..!" Aku langsung mengeluarkan batang kemaluanku dari liang senggama Chika-nee, lalu menyemburkan cairan spermaku hingga mengenai punggungnya.

"Hah.. hah.. ini luar biasa.." ucapku diakhir lalu menunduk dan memeluk Chika-nee yang juga kelelahan.

"I-iya.. hah.. hah.."

"Oh sial, kita jadi harus membersihkan diri kita lagi.."

"Eh?"

.

.

Akhirnya kami selesai membersihkan diri dan kembali berendam di kolam, kali aku memeluk Chika-nee yang duduk di depanku.

"Melakukannya di pemandian ternyata boleh juga, tapi kepalaku jadi pusing.."

Chika-nee bersandar di dadaku, "Aku juga.. kita sudah terlalu lama berendam di air panas.."

"Kurasa kita harus keluar sekarang.." jelasku melihat Chika-nee yang memainkan tanganku di genggamanya, "..Apa yang kau lakukan?"

"Ah, tidak.." dia kembali melihat tangaku, "..tanganmu lebih lebar dari tanganku, sebelumnya ini lebih kecil dariku.. tidak disangka, sekarang kita akhirnya memiliki hubungan seperti ini.." jelasnya dengan wajah memerah.

"Chika-nee, sebenarnya sejak aku mulai masuk kelas 4 SD aku sudah menyukaimu.. bagaimana denganmu?"

"Ke-kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?!" Dia langsung merona malu dengan puncak rambutnya yang terlihat menciut.

~~saat ini, Chika-nee sedang mengingat masalalunya ketika dia pertama kali melihat Naruto yang baru lahir lalu berpikir bahwa dia menyukai bayi itu yang tertawa ketika melihatnya. Dan dia tidak mungkin bilang menyukai Naruto sejak bayi, itu pasti terdengar aneh~~

Wajahnya memerah, sebenarnya apa yang dia pikirkan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

Minato Uzumaki yang sudah memakai handuk bersiap masuk ke dalam pemandian. Kepala keluarga Uzumaki ini berniat mandi bersama putranya setelah lelah memancing ikan di laut seharian, ketika membuka pintu pemandian tersebut dia terdiam. Kali ini harapannya untuk segera mandi langsung mendadak terhenti.

"Ah! Uh~ kau mencapai.. mnnn.. ujungnya.. Uahn!"

"Kyah! Hnn.. ah! Ah! Itu enak.. ah.. Naru-chan, setubuhi aku lebih kuat~ ahn!"

"Chika-nee, kau suka itu kan?"

Minato yang mendengar desahan dari anak dengan pacarnya yang sedang skidipapap biskuit ahoy langsung menutup pintu pemandian dengan wajah tersenyum, namun menyiratkan akan kegundahan hati.

Naruto...kenapa kau melakukannya di pemandian..? Minato menangis dalam hati.

Setelah ini, Minato akan mencoba membicarakannya dengan Naruto diam-diam agar tahu tempat untuk melakukannya.

.

.

.

.

.

TBC

Buat pertanyaan dari fadjrinwira-san,

Setahu erocc di Jepang legal kontrasepsi darurat kayak obat gitu.. diminum sebelum 12 jam berhubungan.. (misal kondom bocor) coba anda, cari google.. keputusan Chika hamil apa nggaknya tergantung keputusan Erocc di akhir nanti ehehe..

Oh yeah, Erocc baru buat akun IG lho~ akhirnya Erocc punya IG, follow yeah akunnya sama kok "Erocchin23"

Di situ rencananya buat info erocc menulis dan berisi fanart ecchi yg erocc buat ehehe..

Intinya akun erocchin23 emang dibuat untuk ketidakfaedahan ini..

Btw, erocc mencoba mengubah diksi erocc dengan lebih sopan.. menurut readers gimana? Apa enakan diksi erocc yang sebelumnya, lebih to the point?