Judul : Ai Tegami
Chapter : 5
Genre : Romance, hurt/comfort, Milf, mature, AU dan OOC.
Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Sakurako kimino
Crossover : Naruto x Lovelive sunshine
Pairing : Naruto x Chika
Rating : M
A/N :
Hmm...
.
.
.
.
.
.
.
WARNING!
18+ story, rape, not children..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto pov*
"Hahahaha..! Dasar bodoh.." aku tertawa ketika membaca manga JUMP bergenre komedi sambil tiduran di lantai ruangan bergaya tradisional jepang, terdapat meja kecil di tengah ruangan yang diatasnya terdapat buku-buku pelajaran dan buku catatanku, lebih tepatnya itu PR musim panasku yang belum diselesaikan.
Sebuah manga yang sedang kubaca tiba-tiba ditarik oleh tangan seseorang, aku melihat wajah cantiknya yang menatapku tajam. Tentu saja, wanita cantik di depanku adalah Chika-nee. Sudah 2 minggu aku menghabiskan waktu liburan di sini, juga sejak aku dan Chika-nee mulai berkencan.
"Kora! Dari pada malas-malasan.. bukankah lebih baik menyelesaikan PRmu?" Jelasnya yang membuatku berguling hingga tengkurap.
"He~ aku malas~" ucapku tak peduli dengan PRku itu, soalnya belajar itu membosankan.
Sebenarnya saat ini, aku berada di kamar Chika-nee untuk mengerjakan PR musim panasku, karena di bawah banyak pelanggan penginapan dari klub yang sepertinya mengadakan training camp. Di tambah anak tetangga yang juga datang bermain, tentu saja suara gaduh dari mereka membuatku tidak fokus.
Chika-nee terlihat duduk di lantai dekat meja kecil sambil menggerutu, "Kau sudah kelas tiga, 'bukan? Kau harus lebih serius belajar.." jelasnya yang membuatku menoleh padanya, dan melihat rok pendek pada kakinya yang agak tersingkap sehingga aku melihat paha putih mulusnya yang menggiurkan.
Dia terlihat tenang mengupas jeruk di tangannya.
"Aku sedang tidak ingin melakukan hal yang tidak ingin kulakukan.."
Belajar itu membosankan, tapi dia benar aku sudah kelas 3. Mau tidak mau, aku harus belajar biar lulus ujian.
"Ah mou.. kau ini susah dibilangi, padahal waktu kecil kau sangat lucu.." dia mulai memasukkan jeruk kecil itu ke dalam mulutnya, bibirnya juga terlihat menggiurkan.
Aku mengalihkan perhatianku ke arah lain agar tidak segera menyerangnya, Chika-nee memang cantik dan memiliki kaki ramping yang bagus sehingga beberapa kali aku membayangkan hal kotor tentang itu. Hebat sekali, setelah tidak bertemu dalam waktu lama, dia berubah menjadi lebih montok daripada sebelumnya. Apakah ini sebuah keberuntungan yang memang sudah ditakdirkan? Mungkin.
Aku beberapa kali melirik melihat paha putihnya yang terangkat sehingga aku melihat celana dalamnya yang bermotif belang putih-kuning. Aku menelan ludahku melihat pemandangan mesum itu. Tidak tahan dan merasa gemas dengan situasi ini, aku mengubah posisiku menjadi duduk di sampingnya yang sedang makan jeruk. Tanganku merambat pada pahanya lalu mengelusnya sedikit.
"Kyah~!" Dia nampak tersentak ketika aku menyentuhnya, dia langsung menepis tanganku dari sana lalu menutup pahanya yang tersingkap itu dengan rok bajunya.
Dia menatapku dengan tajam, "Itu geli..!"
"Gomen, tanganku bergerak sendiri.."
"Tidak ada tangan yang bergerak sendiri..!"
Tentu saja, itu mana mungkin. aku hanya asal bicara. Chika-nee mulai terlihat malu-malu ditandai dengan wajah memerahnya yang manis. Oh sial, aku beneran ingin menyentuhnya sekarang!
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala kuningku. Aku mulai menunduk memperhatikan wajah Chika-nee yang tidak mau menatapku. Aku tersenyum sebelum mengatakan apa yang kuinginkan darinya, tanganku kembali mengelus ke dalam roknya yang kembali tersingkap.
"Ah~ apa yang kau lakukan, Naru-chan..?!" Dia mulai salah tingkah, tangannya mulai bergerak untuk menghentikan tanganku yang mengelus pahanya.
"Ini salah Chika-nee karena terlihat begitu menggoda.." wajahnya langsung memerah lalu berpaling dariku, aku langsung mendorongnya hingga terbaring di lantai dengan kedua tanganku yang mengelus pahanya lalu merambat ke atas hingga salah satu tanganku menekan area kemaluannya yang masih tertutupi oleh celana dalam. Tangannya beberapa kali mendorong bahuku untuk menjauh tapi aku tidak mau kalah dan terus menggerakkan tanganku di sana.
"Chika-nee, jika aku menyelesaikan PRku dan belajar serius.. apa aku boleh minta hadiah dari Chika-nee?" Aku menekan jariku lebih kuat hingga membuatnya menggeliat, dia menggigit bibirnya untuk meredam desahannya agar tak keluar.
"Mmmn.. Ti-tidak, kau pasti ingin melakukan hal mesum, 'bukan?"
Aku terkesan, dia menebaknya dengan tepat.
Aku langsung menekan-nekan pinggangku pada Chika-nee hingga adik kecilku yang mengeras menekan kemaluannya, "..Tapi, bukankah Chika-nee juga menginginkannya?" Dia menatap pada kemaluan kami yang saling menekan, wajahnya sudah sangat memerah berkat hal ini.
Matanya melirik padaku, "Benar juga, meski masih muda.. Naru-chan juga laki-laki ya.." tangan Chika-nee turun lalu memegang kejantananku yang sudah sesak di dalam celana jeans yang aku kenakan.
"Ah.. jika kau menyentuhnya.."
Tangan lembut Chika-nee menyentuhku, hanya dengan itu saja aku sudah mau keluar.
Aku buru-buru melepaskan diri darinya hingga dia berhenti melakukannya, dia kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatapku lalu berpindah pada bagian bawahku.
"Baiklah, kau boleh melakukannya.." dia berucap dengan malu-malu.
"Eh? Benarkah?!"
"I-iya, tapi kau harus menyelesaikan tugasmu dulu.." lanjutnya yang membuatku langsung duduk di meja memegang buku pelajaran dan membacanya.
Aku menunjukkan jempolku padanya lalu tersenyum setampan mungkin di hadapannya, "Aku akan pastikan menyelesainya dengan cepat..!" Jelasku yang menjadi semangat untuk belajar dan menyelesaikan PRku.
"Ka-kau langsung cepat bertindak jika soal ini.." aku mendengarnya yang bergumam sebelum akhirnya dia berdiri, "Kalau begitu, aku akan pergi dulu untuk bersih-bersih.." jelasnya yang berjalan ke arah pintu lalu menutup pintunya, Chika-nee terkadang harus bekerja sebagai pengurus penginapan jadi kita tidak bisa sering bersama.
.
.
.
.
.
Tak terasa sudah jam 3 sore sejak aku mengerjakan PRku, aku meremehkan PR ini ternyata jauh lebih sulit dari yang kukira. Aku menggaruk kepalaku ketika mencoba menjawab pertanyaan Matematika yang sulit sekali kutemukan jawabannya hingga aku melewatkan pertanyaan itu. Aku kemudian kembali menulis jawabanku dengan pensil mekanik di buku catatan. Tapi, isi dari pensilnya ternyata sudah habis.
"Oh sial, aku ingin cepat menyelesaikannya.." aku kemudian mencari isi pensil di dalam tasku tapi ternyata tidak ada.
Aku kemudian bangun lalu melihat sekitar kamar Chika-nee yang mungkin memiliki isi pensil. Aku berjalan ke meja belajarnya lalu mencari alat tulis di atas meja itu yang tidak kutemukan. Tidak ada di sini, dimana dia menaruh alat tulisnya. Aku akhirnya memutuskan membuka laci meja belajarnya yang berada diurutan paling bawah. Tapi, aku tidak menemukan apapun selain tumpukan amplop.
Aku merasa ada yang janggal dari tumpukan amplop itu yang tersemat nama dan alamat rumahku di Tokyo. Seingatku aku tidak pernah mendapatkan surat dari Chika-nee. Melihat benda itu, membuat rasa penasaranku membesar. Aku langsung mengambil surat yang terlihat sudah usang itu.
Aku mulai membuka salah satunya yang berisi kertas dengan sebuah tulisan. Aku membaca per bait demi bait kalimatnya. Aku terkejut bahwa di secarik kertas ini berisi perasaan Chika-nee. Dia berulang kali mengatakan sangat ingin bertemu denganku, kabarku bagaimana, atau pertanyaan mengenai kehidupanku di Tokyo. Kata-katanya sangat memalukan, jadi Chika-nee menulis semua ini untukku.
Di lihat dari masing-masing surat, tanggalnya tersemat berbeda-beda dari setiap waktu. Dia menulis surat sebanyak ini, tapi kenapa dia tidak mengirimnya padaku? Membaca kalimat itu membuatku sadar bahwa Chika-nee sudah menyukaiku sejak lama. Terakhir aku membaca surat dengan amplop pink, dimana ketika aku membukanya itu menceritakan kepindahanku ke Tokyo. Di bagian terakhirnya tertulis sebuah kata yang membuat hatiku langsung bergetar.
Sebenarnya Chika-nee selalu mencintaimu.. bukan sebagai adik, tapi laki-laki yang Chika-nee sukai..
Aku menutup mulutku ketika rasanya aku ingin berteriak betapa senangnya aku membaca surat cintanya. Ah sial, tingkahnya bikin aku makin cinta padanya.
Grek..!
Aku mendengar pintu kamar bergeser di belakangku.
"Naru-chan, aku membawa cemilan untukmu-" ucapannya terhenti ketika melihatku duduk di bangku meja belajarnya dengan tumpukan surat di atas mejanya, ditambah laci mejanya yang terbuka.
Matanya berpindah pada secarik kertas di tanganku lalu seluruh wajahnya langsung memerah, dia meletakkan cemilan yang dia bawa di meja kecil lalu berjalan ke arahku dan terlihat ingin mengambil surat yang sedang aku baca. Aku langsung menghindar darinya lalu mengambil tumpukan surat di meja tadi ke tanganku.
"Tidak..! Jangan baca itu..!" Ucapnya yang mendekat padaku yang mengangkat surat itu lebih tinggi agar dia tidak bisa mengambilnya.
"Kenapa..? Ini untukku, 'kan? Jadi biarkan aku yang menyimpannya dan membacanya sampai selesai.."
"Tidak..! Itu memalukan..!"
"Bagiku surat ini sangat berharga..!" Aku tanpa sadar berteriak hingga Chika-nee terdiam.
"Akhirnya aku tahu kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali.. padahal, aku selalu menunggumu.."
"Habis, kau masih terlalu muda.. aku juga tidak tahu tentang perasaanmu, atau mungkin kau sudah menyukai oranglain di sana.." jelasnya yang menunduk, menghindari kontak mata padaku.
"Aku tidak akan tidur denganmu, jika aku tidak suka padamu.." dia tersentak setelah aku mengatakannya.
Aku meletakkan surat itu kembali di meja lalu aku mendekat pada Chika-nee, aku langsung memeluknya mendekat. Wajah kami saling bertatapan, ketika aku melihat matanya yang bergerak gelisah.
Aku tersenyum lalu berbisik di telinganya, "Chika-nee, mau melakukannya sekarang..?" tanganku menurunkan cardigan hingga menunjukkan bahunya yang memperlihatkan tanktop hitam di baliknya.
.
.
.
.
.
"Mmnn.. ah.. mnnn.. uuh.." dia meracau tak jelas ketika bibirku bergerak memainkan kemaluannya, tanganku membuka kakinya agar mengangkang lebih lebar, dia bersandar di pinggir kasur sambil menahan mulutnya dengan tangannya.
Aku sudah membuka setengah pakaiannya yang sekarang berserakan di lantai, hingga dia hanya menggunakan tanktop yang sudah tertarik ke atas, memperlihatkan dada besarnya yang membusung ketika dia menggeliat. Aku mencium aroma cintanya lalu menjilat tepat pada lubang senggamanya. Aku melihat wajahnya yang pasrah dari sini ketika aku memberikan kenikmatan pada kemaluannya yang dibanjiri cairan manisnya.
Dia terlihat bagus dari sini. Aku berhenti lalu pindah ke belakang Chika-nee dan memandunya untuk duduk di depanku dan melebarkan kakinya. Tanganku bergerak meremas dadanya yang sangat lembut, jariku bergerak mencubit putingnya lalu menekannya hingga dia menggeliat tak nyaman. Di rasa cukup aku merambatkan tanganku pada kemaluan yang sudah basah, lalu aku menggesek jariku di bibir kemaluannya hingga membuatnya kembali mengeluarkan desahan yang sedang ditahannya.
"Ah.. ah~ mmn.. mmm...nnnn.. hhha.."
"Jangan ditahan, mendesah saja.." bisikku ketika dia menyenderkan tubuhnya.
"Mmn.. Ti-tidak, nanti.. ah~ pelanggan di lantai bawah.. mmn.. akan mendengarnya.." dia menutup matanya ketika aku mulai menunduk untuk mencium bibir basahnya yang menggoda.
Dia membalas ciumanku lalu membuka akses mulutnya untuk memasukan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Dia semakin memperdalam ciuman kami ketika dia memiringkan kepalanya. Aku mulai memasukan satu jari ke dalam liang senggamanya dan bergerak keluar masuk di sana, sedangkan tanganku yang lain bergerak menekan klitorisnya yang menjadi keras. Kemudian aku kembali memasukan satu jari lagi ke liang senggamanya hingga dia melepaskan ciumannya dan mendesah cukup keras.
"Kyah! Aah! Mnn.." dia kembali menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya, "..kau melakukannya terlalu keras... mmnn.. Naru-chan.. hhn.."nafasnya mulai tersenggal dan wajahnya memerah, ditambah dia melebarkan kakinya sendiri seakan menikmatinya.
Melihat hal menggoda seperti ini, mana mungkin membuatku sabar ketika melakukannya!
Aku tidak peduli dengan apa yang dia inginkan lalu menggerakkan jariku keluar-masuk dengan lebih keras, "MNNH..!" Dia menahan desahannya dengan mata tertutup.
"Chika-nee, kau sebenarnya mesum.. kau berkata begitu, tapi kau membuka selangkanganmu lebih lebar.. kau menikmatinya, 'bukan?"aku berkata untuk menggodakannya yang masih menahan desahannya, tanganku bergerak cepat menusuk liang senggamanya yang mengetat.
"..Tidak..! Ini.. karena Naru-chan.. mmn.. ah! Ah! Ahn~ membuatku jadi wanita mesum.. hmnm~" aku tersenyum dengan reaksinya.
"Chika-nee bohong, padahal di bawah sini sudah sangat basah.." aku bergerak lebih cepat hingga dia bergelinja hebat saat cairan cintanya melumer dari liang senggamanya.
"HMNNN..!" Dia membekap mulutnya sendiri ketika mencapai orgasmenya, cairan cintanya sampai membasahi lantai kamar ini.
.
.
Duk!
Sementara itu anak-anak klub sepak bola yang sedang menginap di penginapan Takami, mendengar sesuatu dari lantai atas yang terdengar sangat berisik. Mereka yang baru saja selesai berlatih sedang berkumpul di sebuah ruangan untuk beristirahat.
Kegaduhan membuat mereka menatap ke langit-langit ruangan tersebut, "di lantai atas berisik sekali.." salah satu dari mereka yang terganggu mulai berkilah.
"Mungkin sedang ada renovasi.." tebak temannya.
.
.
Aku mengeluarkan jariku dari sana lalu memperlihat jariku yang dilumuri cairan cinta pada Chika-nee yang langsung membuat wajahnya memerah, "Lihat? Chika-nee, kau benar-benar wanita mesum.."
"Naru-chan baka! Jangan memperlihatkannya padaku.."
Aku tertawa mendapati reaksi Chika-nee yang malu-malu untuk mengakuinya, Aku akhirnya mulai berdiri di hadapan Chika-nee. Aku membuka resleting celanaku lalu menunjukkan tepat di depan wajah Chika-nee kejantananku yang sudah berdiri tegak. Matanya melebar melihatku yang menunjukkan batang kemaluanku yang sudah sangat terangsang.
"Aku ingin mencoba blowjob darimu.." aku mendekatkan kejantananku tepat di wajahnya yang terkejut.
Matanya melirik ke atas melihat tepat pada mataku, "Kau ingin aku memasukannya ke mulutku?" Tanyanya.
"Iya, sama seperti yang aku lakukan padamu.." ujarku yang melihat ekspresi wajahnya seperti terganggu.
"Apa itu mengganggumu? Aku tidak akan memaksa, jika kau tidak mau.."
Dia menggeleng lalu menyentuh bibirnya dengan jari tangannya, "Ini pertama kalinya bagiku untuk melakukan hal seperti itu, sangat memalukan.." jelasnya dengan wajah memerah, dia mengalihkan wajahnya dariku.
"Begitu ya?" Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ide cemerlang, "Chika-nee, aku tahu apa yang bisa membuatmu tidak malu.."
Seingatku aku sempat melihat benda itu ketika tiduran di kasur Chika-nee tadi. Aku kemudian mencari benda itu, aku menemukannya di balik bantal. Benda itu langsung saja aku perlihatkan pada Chika-nee yang masih duduk manis di bawah kasur.
"Aku menemukannya.."
"Ah itu.."
Chika-nee sekarang menggunakan penutup mata untuk tidur. Aku pikir ini langkah tepat jika dia masih malu untuk melakukan oral. Tapi melihatnya yang sekarang telanjang bulat dengan penutup mata membuat situasi saat ini lebih mesum. Baiklah, ini memang agak mengerikan, aku berpikir untuk mengikat tangan dan kakinya. Tapi aku tidak enak jika melakukan hal berlebihan seperti itu tanpa persetujuannya.
Aku menuntun tangan Chika-nee untuk memegang kejantananku yang ada di hadapannya. Dia memegangnya lalu mengelusnya dengan tangannya yang lembut, terkadang dia juga meremasnya kecil. Aku yang berdiri di hadapannya menuntun kepala Chika-nee untuk mendekat pada kejantananku.
"Sekarang coba jilat itu.." jelasku padanya yang seketika dia mengeluarkan lidahnya dan mengobservasi kejantananku sehingga terlumuri oleh air liurnya.
Aku menikmati sensasi hangat lidahnya yang berjalan-jalan di kejantananku. Dia menjilatnya seperti permen yang manis. Melihatnya yang melakukan hal semacam ini benar-benar membangkitkan hasratku. Aku kemudian mengarahkan kejantananku untuk memasuki mulutnya.
"Sekarang masukan itu ke dalam mulutmu.." jelasku yang langsung dilakukannya.
Mulutnya terbuka lalu melahap kejantananku ke dalam mulutnya, aku dapat merasakan betapa hangatnya rongga mulutnya dengan lidahnya yang bergerak-gerak. Dia kemudian mengemut kepala kejantananku dengan keras menimbulkan sensasi luar biasa, lalu dia kembali memasukannya ke dalam. Dia memaju-mundurkan kepalanya sehingga kejantananku keluar-masuk di dalam mulutnya.
Aku tidak percaya bahwa rasanya bisa seenak ini di dalam mulutnya. Suara decapan terdengar jelas seiring gerakannya yang semakin cepat. Dia menyampingkan kepalanya hingga kejantananku mengenai dinding pipinya yang melentur.
Aku terkejut ini pertama kalinya Chika-nee melakukan oral, tapi dia sangat hebat. Chika-nee kemudian mengeluarkan kejantananku dari mulutnya lalu menjilat dari bawah hingga atas, lidahnya berhenti di atas kepala kejantananku lalu menciumnya dengan bibirnya. Dia kembali memasukan kejantananku ke dalam mulutnya lalu melakukan gerakan maju-mundur dengan cepat.
Aku memegang kepalanya yang bergerak sangat cepat, Chika-nee memegang erat pinggangku. Chika-nee sangat hebat, aku merasa sebentar lagi akan keluar-tanpa sadar aku juga menggerakkan pinggangku juga. Cairan precum-ku dan air liur Chika-nee bercampur jadi satu hingga memenuhi rongga mulut Chika-nee. Hal ini menyebabkan cairan itu melumer keluar lalu menetes di lantai karena tak cukup di tampung.
"Ssst.. Uh.. aaakh..!" Cairan sperma langsung menyembur keluar dari kejantananku memenuhi rongga mulut Chika-nee, setelah mengeluarkan semua cairan putih itu aku menarik kejantananku perlahan dari mulut Chika-nee.
Bersamaan dengan itu, Chika-nee langsung mengeluarkan cairan putih itu dari mulutnya. Tetesan sperma yang kental mengotori lantai kamar. Chika-nee nampak terengah dengan tangannya yang berpijak di lantai. Aku langsung turun berjongkok lalu melepas penutup mata dari wajahnya. Matanya terlihat berair dengan pipi merona merah yang manis, aku langsung mencium bibirnya yang basah tersebut.
Kami saling berpagutan dalam waktu yang cukup lama. Aku melepaskan kaos yang aku pakai hingga telanjang tanpa sehelai benang pun, sama seperti Chika-nee. Aku menarik tubuhnya mendekat lalu berbisik di telinganya untuk pindah ke atas ranjang.
"Ayo, pindah ke ranjang.." jelasku yang hendak mengangkat tubuhnya tapi tangannya menghentikanku.
"Tunggu, kalau kita melakukannya di ranjang, orang-orang bisa mendengarnya.."
"Benar juga, sekarang masih ada pelanggan di bawah.." Aku kemudian tersenyum, "Baiklah, kita akan melakukannya di sini saja.."
Chika-nee kemudian terbaring tak peduli jika dia berada di lantai, dia membuka akses kemaluannya di depanku yang semakin terangsang. Tangan Chika-nee digunakan untuk menahan pahanya yang terangkat ke atas. Dia memperlihatkan liang senggamanya yang basah akibat cairan cintanya.
"Bagaimana jika seperti ini? Tapi, aku merasa ini terlihat aneh.." ucap Chika-nee yang meragukan posisi sexy yang dia lakukan.
"Tidak, itu terlihat cantik sekali..!" Jelasku mengacungkan jempol dengan tanpa sadar dari hidungku menetes darah mimisan, akibat melihat Chika-nee begitu menggiurkan saat ini.
Tanpa menunggu lama, aku mulai mendekat padanya. Dengan tangan aku menggenggam lalu menempatkan kejantananku tepat di liang senggama Chika-nee yang terbuka. Begitu aku menekannya Chika-nee langsung menutup mata dan menggigit bibir bawahnya, aku memegang paha Chika-nee untuk menahannya ketika aku langsung melesakkan kejantananku ke dalamnya dengan sekali hentakan.
"AAH..!" dia langsung berteriak ketika kejantananku berhasil masuk di liang senggamanya yang hangat.
Pinggangku langsung bergerak maju-mundur dengan tempo sedang, kaki Chika-nee kemudian melebar dan melingkari pinggangku. Aku langsung menunduk padanya untuk menjilat lehernya yang langsung mendongak ke atas, tangan Chika-nee kemudian melingkar di punggung dan kepalaku yang rambutnya diremas-remas oleh jemari tangannya.
"Ah..! Ahn.. mnm.. mnn.. uh..ah! Ahn!"
"Arg.. Chika-nee.. kau mencengkramku sangat kencang..!" Jelasku yang bergerak semakin cepat ketika aku merasa liang senggamannya mencengram kejantananku sangat erat.
Aku kemudian melihat wajahnya di bawahku yang sudah berekspresi kenikmatan akan hujaman yang aku lakukan, aku kemudian memegang kedua dadanya lalu meremasnya gemas sembari menekan putingnya yang sudah mengeras. Chika-nee mendesah semakin kencang ketika aku menarik tubuhnya untuk berganti posisi, dimana sekarang aku yang terbaring dan Chika-nee yang duduk di atasku.
Kali ini dia yang bergerak maju-mundur seperti sedang menaiki kuda, dada besarnya bergoyang nakal di hadapanku. Chika-nee menahan tubuhnya dengan menapakkan tangannya di perutku. Wajahnya sudah merona dengan mata yang menatap nafsu padaku dan tersenyum senang ketika bergerak dengan tubuhnya. Rambut panjangnya menjadi berantakan akibat pergumulan yang kami lakukan.
Chika-nee tertawa kecil di sela desahannya, "ehehe~ Penismu ada.. ah! Ahn.. di dalamku.. ah! Ahn! AH!" Liang senggamanya terasa hangat menyelimuti kejantananku, rasanya seperti dihisap terus masuk ke dalamnya.
Oh sial, Chika-nee benar-benar enak.
Tubuhnya seperti candu yang membuatku tak bisa menahan gerakan pada pinggangku, aku ingin menghujamnya lebih dalam lagi. Aku langsung bergerak lebih cepat untuk menghujamnya yang bergoyang di atasku dengan desahannya yang memenuhi kamar ini. Tanganku kembali mencengkram dadanya yang aku remas dengan perlahan hingga menimbulkan Chika-nee yang mendesah lebih keras.
Tiba-tiba Chika-nee menundukkan tubuhnya hingga dada besarnya berhimpitan dengan dada bidangku. Tangannya dia letakkan di antara kedua sisi kepalaku, sekarang kami saling menatap dengan wajah yang jaraknya sangat dekat. Pantatnya dia gerakan maju-mundur untuk mempompa kejantananku yang berada di dalamnya.
Tangannya menyentuh pipi wajahku, "ah.. ahn.. Naru-chan, cium aku.. ah!" dia langsung menjulurkan lidahnya yang langsung aku lahap dengan senang hati, lidah kami saling melilit untuk merasakan rongga mulut kami, terkadang lidah Chika-nee menjilat bibirku lalu kembali saling melumat dengan liar.
Aku pun memegang pahanya lalu menggerakkan pinggangku maju-mundur dengan cepat sembari merasakan lidah kami yang saling terjulur dan melilit, Chika-nee terus mendesah dalam aktivitas erotisnya saat ini.
"Agh.. Chika-nee, kau sangat liar hari ini.. uh.."
"Mnn.. ah.. tidak! nmmnn.. itu karena.. ahn~ penismu lebih keras dan besar hari ini.. ah.. ahn! Ah! Ah!"
"Mungkin melihat surat-surat itu membuatku jadi lebih terangsang.. ah~ Chika-nee.."
"Ahn! Ahmnn! Naru-chan.. ini enak, lakukan lebih keraaass..! Ahn.. ah! Uh.. mnn.. ah!"
Dia menjadi semakin liar saja dengan aktivitas seks kami, kalau seperti ini terus aku tidak rela meninggalkannya ke Tokyo setelah liburan selesai nanti. Ah, Chika-nee aku benar-benar menyukaimu. Aku pun menghentakan kejantananku lebih keras ke dalamnya hingga suara persetubuhan antar selangkanganku dan liang senggamanya semakin keras.
"Mnmm.. ah.. ah!"
Dia melepaskan lidah kami yang saling melilit lalu kembali bangkit menjadi posisi duduk hingga aku melihat dadanya itu bergoyang mengikuti gerakanku yang menghujamnya, raut wajahnya tersenyum seakan menikmatinya, dengan bola matanya yang menatap ke langit-langit. Chika-nee benar-benar sudah menjadi wanitaku yang mesum.
"Hh.. Sudah kuduga, Chika-nee kau memang mesum.." aku tersenyum menatap wajahnya yang berubah menjadi malu-malu lagi.
"Ah! Ah! Tidak..! Uh.. bukan begitu.. ahn! Ah!" Aku kemudian berhenti bergerak sehingga terlihat Chika-nee yang menggerakkan tubuhnya naik-turun dengan sendirinya.
Aku tersenyum melihatnya bergerak seperti membutuhkan kejantananku untuk memuaskannya, "Kau bilang tidak, tapi sekarang lihat.. kau yang sangat bersemangat meremas penisku.."
Matanya menatap gelisah padaku ketika dia sadar aku sudah berhenti bergerak, "Tidak, itu tidak benar.." dia juga berhenti bergerak sepertinya dia merasa terganggu dengan hal ini.
"Kau yakin untuk berhenti? Aku tidak akan bergerak sampai kau mengakuinya.." jelasku yang membuatnya menatapku dengan ekspresi kebingungan.
"Naru-chan curang~!" jelasnya yang mulai merajuk.
"Ya sudah, kalau begitu kita berhenti saja.."
Chika-nee nampak tak senang dengan hal itu, dia menatap memohon padaku agar tidak berhenti hubungan intim ini di tengah jalan. Oh sial, itu kelemahanku ketika melihatnya memohon seperti itu, tapi aku tidak akan menarik kata-kataku. Chika-nee terlihat tak bisa menahan hasratnya lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu dengan terpaksa dia kembali bergerak maju-mundur.
"Uwahh.. kau benar-benar melakukannya.."
"Naru-chan baka, mana mungkin aku bisa berhenti.. hmm.. ahn ah.."
"He.. jadi, kau mengakuinya?"
Chika-nee menatap ke arah lain dengan malu-malu dia berucap, "Mnn..a-aku.. ah! Aku wanita mesum.."
Aku terkejut mendengarnya lalu bangkit untuk mendorongnya yang kembali terbaring di bawahku dengan kedua pasang kakinya yang terangkat ke atas tepat di pundakku, dalam sekejap aku langsung menghentakan pinggulku dengan keras dan cepat hingga membuatnya mendesah kencang. Aku langsung melahap bibirnya dan mengemut bibir bawahnya sembari menggerakkan pinggulku.
"Itu bagus, kau akhirnya mengakuinya.. arg..!"
"Tidak..! Ahn~ ah.. posisi ini.. hmm! Ahnm! Ah! Aku terlihat seperti pelacurmu.. ahn! Ah.. berhenti, mnm.. Naru-chan..!"
"Uhh.. Iya, Chika-nee.. kau pelacur hanya untukku.. ah! Kau semakin basah.. apa posisi ini membuatmu terangsang..? Argh.."
Aku menatap wajahnya yang sudah terlihat tak berdaya di bawahku, dia nampaknya sangat menikmati pergesekan antar kejantananku dengan liang senggamanya. Kami jatuh ke dalam kenikmatan, sampai aku merasakan kejantananku yang sebentar lagi mencapai klimaksnya. Di tambah liang senggama Chika-nee mulai berkedut-kedut.
"Aha~ Naru-chan..! Aku akan keluar..! Ahn ahmn! Ah!"
"Aku juga, aargh..!"
Aku langsung memasukan seluruh kejantananku beberapa detik ke dalam liang senggamanya yang mengeluarkan cairan cintanya yang begitu hangat, begitu terasa aku akan sampai puncakku juga, aku langsung melepaskan Chika-nee yang terbaring lemas. Kejantananku yang sudah lepas langsung menyemburkan cairan sperma hingga mengenai perut Chika-nee.
Aku langsung duduk di lantai dan menyenderkan tubuhku di pinggiran kasur karena lelah. Chika-nee yang terbaring mulai bangkit lalu pandangannya mengarah pada buku pelajaran di mejaku yang masih berantakan dengan peralatannya. Entah penasaran atau apa, dia tiba-tiba bertanya padaku.
"Naru-chan, kau sudah selesai mengerjakan PR musim panasmu, 'kan?"
Aku bergidik, "Eh.. i-itu.." aku tertawa canggung sambil memainkan jari tanganku, "Se-sebenarnya masih belum selesai.." jawabku pasrah dengan keadaan.
Kemudian aku merasakan bantal yang menabrak tepat di depan wajahku, tentu saja yang melemparnya adalah Chika-nee. Bantal itu kemudian terjatuh dan menunjukkan wajah marah Chika-nee. Dia kembali mengambil bantal itu lalu memukulnya padaku yang melindungi diriku dengan tangan.
"Naru-chan bohong! kau bilang untuk melakukannya setelah kau selesai mengerjakan PRmu, 'kan?" Dia merajuk padaku yang masih memukulku dengan bantalnya.
"Tapi, tadi aku sudah tanya.. dan Chika-nee yang mau juga, 'kan?" Belaku yang seketika membuatnya berhenti memukulku dengan bantal, dia terkejut dengan wajah merona lalu kembali memukul bantalnya padaku.
"I-itu karena kukira.. kau sudah mengerjakan PRmu, Naru-chan hentai!" Jelasnya yang benar-benar membuat hatiku kratak dengan ucapannya, dari status ecchi yang dikatakannya sekarang berubah jadi hentai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Omake
Duk! Duk! Gedebak! Gedebuk!
Suara kegaduhan terdengar sejak tadi, membuat anak-anak klub sepak bola yang berkumpul mulai terganggu. Rasanya sangat aneh jika renovasi ruangan terdengar segaduh itu. Salah satu pemuda dari mereka kemudian keluar ruangan, lalu melihat dua wanita kakak-beradik yang mengelola tempat penginapan itu.
Kemudian pemuda itu menjelaskan pada mereka dengan suara gaduh yang sangat mengganggu dari atas ruangan mereka. Pandangan Mito-nee mulai terlihat kesal, sedangkan Shima-nee hanya tersenyum saja memakluminya. Mereka sudah tahu ruangan di atas itu adalah kamar adik mereka, dan mereka tahu juga Naruto ada di dalamnya.
Mito-nee yang tidak ingin hanya dirinya yang menasehati adiknya dan pacarnya yang sedang sayang-sayangnya itu, memaksa Shima-nee agar ikut menasehati mereka.
"Oneechan, kau jangan terlalu memanjakan mereka kali ini. Sebagai orang yang lebih tua, kita harus lebih keras pada mereka berdua!" Omel Mito-nee sembari berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Shima-nee hanya menyentuh pipinya dengan tersenyum lembut, "Hn~ apa aku terlalu memanjakan mereka?" Ungkapnya.
Mereka berjalan di lorong lantai dua yang bergaya jepang itu, lalu melihat kamar adik mereka yang terdengar desahan sexy dari adik bungsu mereka. Ditambah, suara hentakan dari hubungan intim terdengar jelas di telingah mereka. Mito-nee hanya menampakan ekspresi merona malu karena membayangkan apa yang dilakukan kedua manusia itu di dalam, tapi kalau sudah sampai tahap sejauh ini membuatnya jadi ragu untuk membuka pintu geser di depannya.
Berbeda dengan Mito-nee, si kakak sulung malah penasaran lalu tangannya sedikit menggeser pintu kamar adiknya hingga menciptakan celah kecil. Mito-nee sangat terkejut karena mengira kakaknya itu akan membukanya secara lebar. Shima-nee melambaikan tangannya agar Mito-nee mendekatkan.
"Oneechan, apa yang kau lakukan?!" Seru Mito-nee yang berbisik karena takut ketahuan.
"Ehehe.. mengintip sedikit tak masalah, 'kan? Terkadang aku jadi penasaran seberapa hebat Naruto-kun di ranjang, hingga membuat Chika mendesah sekeras itu.." jelasnya yang berseri-seri membuat Mito-nee memandangnya aneh.
Tapi sejujurnya Mito-nee juga penasaran dengan hal ini, akhirnya mereka berdua mengintip dari celah kecil itu. Mereka terkejut begitu melihat posisi tak biasa yang dilakukan Naruto pada Chika-nee. Dimana sepasang kaki Chika-nee yang terangkat dan tertahan di pundak Naruto yang menghujamnya dengan cepat.
"Tidak..! Ahn~ ah.. posisi ini.. hmm! Ahnm! Ah! Aku terlihat seperti pelacurmu.. ahn! Ah.. berhenti, mnm.. Naru-chan..!"
"Uhh.. Iya, Chika-nee.. kau pelacur hanya untukku.. ah! Kau semakin basah.. apa posisi ini membuatmu terangsang..? Argh.."
"Aha~ Naru-chan..! Aku akan keluar..! Ahn ahmn! Ah!"
"Aku juga, aargh..!"
Kalimat itu terdengar dari Naruto dan Chika-nee yang tengah berhubungan badan, Mito-nee hanya terdiam dengan mulut terbuka melihat kedua pasangan itu dari posisi menyamping.
"Me-mereka pasangan yang bersemangat sekali.." komentar Mito-nee.
"Ahaha.. oh anak muda~" mendengarnya membuat Shima-nee tertawa memaklumi Naruto yang masih muda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC begitu saja..
Chapter 6 akan menjadi chapter terakhir.. :v
Bentar lagi puasa, lemonnya harus di kurangi..
Readers hati-hati terhadap Corona ya!
