Anak-Anak Tomioka-Kocho
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu
Saya tidak mengambil keuntungan dalam pembuatan fanfiksi ini, kecuali kesenangan semata.
Warn : AU! OOC, typos, alur maju mundur seperti hubunganku dengan dia/apaan sih, humor receh, bahasa gak baku dan kekurangan lainnya. So, don't like don't read
Chapter 2 : Tomioka Ryota
Cerita 1 : Papa!
"Papa!" baby Ryota yang waktu itu berumur delapan bulan memanggil. Giyuu yang tadinya fokus menyesapi kopi dengan koran ditangan sekarang membelalakkan netra birunya. Giyuu mengerjapkan matanya beberapa kali menatap buah hati kecilnya yang sekarang sedang merangkak menuju dirinya.
"Papa!" setelah Giyuu melihat dengan mata kepala sendiri bahwa memang fotokopi Shinobu versi cowok yang memanggil, ia langsung bangkit dan menyerbu Ryota dengan penuh cinta.
Gimana Giyuu gak kelewat senang dan antusias? Baru satu minggu buah hatinya belajar membeo kata-kata yang didengarnya. Namun hanya kata "Mama" saja yang dapat diucapkan di tiga hari pertama. Kemudian empat hari berikutnya baby Ryota mulai bisa mengatakan kata lain seperti "Itan!" (Ikan) "Kuda! "Luusa" (Rusa), "Cicaa!" (Cicak) dan kata binatang lainnya. Padahal setiap Tomioka Giyuu berpapasan dengan buah cintanya bersama Shinobu, ia selalu mengajarinya (baca : menyuruh) bayi delapan bulan itu berkata "Papa!". Harga dirinya sempat runtuh saat anak pertamanya itu justru lebih mudah mengucapkan kata binatang dibanding berkata "Papa". Hati seorang Tomioka Giyuu dibuat meringis dengan bayi 8 bulan.
"Coba ngomong sekali lagi sayang?" Giyuu berada didepan Ryota dengan wajah yang sebelas dua belas saat dirinya disajeni salmon daikon.
"Papa!" Ryota berkata dengan nada manis serta liur yang menyiprat ke wajah sang ayah.
Kemudian dengan kecepatan kilat kepala keluarga Tomioka itu menggendong sang anak menuju dapur bermaksud memamerkan bahwa Ryota juga bisa ngomong 'Papa' dong.
"Shinobu! Ryota manggil aku Papa!" Giyuu berujar didepan Shinobu yang kini sedang mencicipi sup buatannya.
"Kan kamu Papanya. Wajar kalau dia ngomong Papa ke kamu"
"Akhirnya dia bisa ngomong selain Mama"
"Mau aku gebuk pake centong gak?" dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya Shinobu mengeluarkan perempatan siku-siku didahinya. Memang kata 'Mama' jelek apa?
Jadi di kelurga kecil nan coretdamaicoret ribut Tomioka-Kocho, persaingan antara Papa dan Mama selalu terjadi semenjak kemunculan baby Ryota. Entah itu bersaing soal siapa yang lebih bagus dalam menyuapi Ryota, siapa yang lebih bagus dalam meninabobokan Ryota, siapa yang lebih bagus dalam memandikan Ryota dan yang baru-baru ini soal siapa yang lebih dulu dipanggil oleh Ryota. Dari semua persaingan tersebut tentu saja Giyuu kalah. Kalah telak malah, tapi Giyuu tetap berkata aku gapapa aku kan setronk dalam hatinya. Oleh karena itu disaat baby Ryota dapat menceloskan kata Papa dari mulut yang belum ditumbuhi gigi, dirinya merasa bangga tak tertinggal jauh.
"Coba ngomong Papa" Giyuu dengan nada penuh kelemah lembutan berujar pada Ryota untuk memanggilnya—
"Mama!"
"Papa sayang"
"Mama!"
"Papa"
"Ma-maa" bahkan sekarang Ryota mulai menampakkan kilat bening yang siap diluncurkan dikedua netra ungunya
"Papa". Namun Giyuu masih mencoba (baca : memaksa) bayi kecilnya berujar 'Papa'.
"Yuk makan aja. Terlalu lapar membuat halusinasi berlebihan" Shinobu memberi puk-puk pada Giyuu lalu menyendok sup buatannya ke mangkuk dan pergi menuju meja makan meninggalkan Giyuu dan Ryota yang kini kedua sama-sama terdiam. Disaat Shinobu sudah jauh keheningan itu pecah karena baby Ryota berkata "Papa!" tak lupa dengan diiringi tawa.
Tuh kan bisa! emang sengaja gak mau nunjukin nih anak!
Sedari kecil Tomioka Ryota memiliki potensi mengejek Tomioka Giyuu.
Cerita 2 : Cium
Masih dengan cerita Ryota saat masih imut-lucu-gemesin bin unyu yang sekarang usianya 10 bulan. Kalau diusia 8 bulan baby Ryota mulai belajar membeo maka dua bulan berikutnya baby Ryota mulai belajar untuk mencium. Bayi dengan dua gigi menghiasi gusi bawah dua dan dua gigi menghiasi gusi gusi atas, Ryota mencium (baca : mencurahkan segala liurnya) pada sang ibu. Ciuman penuh rasa cinta ditambah bonus air liur yang kata Shinobu "Baunya sedap kok", membuat yang dicium justru merasa segar kembali padahal baru saja dirinya selesai pulang dari apotek miliknya.
"Ryo-chan cium Mama lagi dong~" dan Ryota pun menurut kembali membuat Shinobu terkekeh karena bibir Ryota kembali membasahi pipinya dengan liur bahkan gigi serinya sekarang ikut menggigit pipi Shinobu manja.
Kali ini pun Giyuu kembali kalah dalam persaingan mendapatkan ciuman Ryota. Ya sebenarnya gak heran sih kalau kalah, Giyuu kan butuh seribu tahun untuk bisa mengalahkan Shinobu, begitu kata pendamping hidupnya.
"Coba cium Papa Ryo-chan" dengan coretmaksud tertentucoret dan penuh kebaikan hati Shinobu menyuruh putra semata wayangnya untuk mencium pipi Tomioka Giyuu. Bayi 10 bulan itu menelisik dahulu orang didepannya kemudian mulut kecil yang diisi empat gigi seri itu mendaratkan kecupan singkat didpipi sang Ayah, membuat yang dicium bertanya dalam hati Kok beda dengan ciuman yang dikasih ke Shinobu?
"Cium Papa lagi dong Ryo-chan". Shinobu memberi Ryota perintah seperti sebelumnya namun ditanggapi tak seperti sebelumnya, karena kini baby Ryota malah membuang muka.
"Wah, sepertinya Ryo-chan nyesel udah cium kamu. Sekarang otak jeniusnya tak mau melakukan hal yang dia gak suka untuk kedua kalinya"
Semenjak itu, saat Shinobu hamil anak kedua, Giyuu tak pernah meminta untuk memiliki anak perempuan seperti yang kebanyak orang doakan seperti "Semoga dede bayinya perempuan ya. Biar sepasang". Tapi Giyuu hanya minta anak yang tak menurunkan sifat ibunya. Cukup Ryota dan Shinobu yang membully dirinya.
Cerita 3 : Hari pertama masuk
Sekarang mari kita bahas Ryota yang sudah bisa membuat para gadis ber-Kyaah ria karena paras tampan, senyum sejuta watt serta kata-kata manis yang selalu menghiasi bibir kemerahannya itu.
Setelah libur panjang natal dan tahun baru dimulailah kekejaman legendaris para guru dengan berkata "Kan libur kalian setahun" lalu memberi tugas seabrek. Sisa satu hari menuju kegiatan kerja lembur bagai kuda membuat Ryota berpikir keras bagaimana agar liburnya dapat diperpanjang. Ryota yang gak terima kegiatan game-makan-tidur-chatingnnya diganggu. Oleh karena itu ia mengedipkan kedua matanya pada Shinobu yang saat itu sedang menghangatkan sayur untuk makan malam.
"Ma" yang kemudian dibalas dengan "Hm?"
"Hari pertama masuk kan gak ngapa-ngapain". Shinobu yang mengerti maksud pembicaraan ini mengarah kemana hanya mnaggut-manggut lalu menjawab "Kalau gitu gak usah masuk aja. Kamu juga cuma kotorin baju".
Nah ini jawaban yang dimau!
Mendapat jawaban yang dimau walau disertai rasa sedikit sakit—karena Ryota dianggap cuma ngotorin baju kalau masuk sekolah—membuat Ryota menatap penuh cinta kepada sang ibu tak lupa ia menghadiahkan kecup jarak jauh.
Mizu Tomioka yang sedang menyiapkan beberapa buku kedalam tasnya mengomentari percakapan tak jelas antar anak-ibu tersebut "Masuk aja Kak …" ia membalik beberapa lembar buku kemudian kembali memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Kalau masuk seengaknya dapat uang saku". Alasan logis, singkat, jelas padat dan tentunya menguntungkan tersebut membuat Ryota mengubah pemikirannya "Aku masuk deh Ma hehe". Kemudian si casanova Kimetsu Gakuen balik bubar jalan menuju kamarnya.
Kepergian sang kak membuat Mizu meneguk ludah karena aura tak enak dari belakangnya yang berasal dari sang ibu. Netra birunya menatap lalu bertanya hati-hati "Eh ... Kenapa Ma?"
"MAMA GAK IKHLAS HARUS KASIH UANG SAKU KE ANAK YANG CUMA NGOTORIN BAJU!"
Ya memang cuma ngotorin baju. Karena hari pertama masuk biasanya gak ada kegiatan belajar mengajar.
Cerita 4 : Tak direstui
"Ma! Memang hubunganku dengan Aiko-chan tak bisa ditolong apa?"
Pernah baca keluhan di sosmed soal "Kenapa sih sepupu pasti lebih menggoda?". Sekarang Ryota merasaknnya, membuat sakitnya tuh disini sambil menunjuk dadanya. Dikarenakan adanya hubungan darah justru memisahkan untuk bersatu—walau tanpa hubungan darah pun rasanya susah juga untuk bersatu— begitulah hubungan Ryota dan Shinazugawa Aiko, anak pertama dari Sanemi dan Kanae.
Walau berapa kali gadis itu meneriaki Ryota "Baka!" tak lupa dengan rona merah yang selalu yang menghiasi wajah cewek dengan body bak gitar spanyol itu, Ryota tetap tersenyum. Sepupu yang seumuran dengannya itu kadang tak segan untuk memukul, menendang dan mmeberi siksaan lainnya saat Ryota mulai menggodanya, tapi hal tersebut justru membuat Ryota makin 'aku padamu muacchh' pada gadis surai putih yang suka dikuncir ekor kuda disertai hair pin kupu-kupu khas Khoco bersaudara.
"Gak bisa. Alasan pertama kalian sepupu" Shinobu menjelaskan, Ryota duduk disampingnya mendengarkan dengan seksama. Kemudian ibu dua anak itu melanjutkan "Dan alasan yang lebih terutama dari yang pertama karena Giyuu". Penuturan Shinobu membuat Ryota mengerutkan alisnya dalam dan menaruh seluruh perhatianya pada netra ungu sang ibu.
"Karena Sanemi-san gak akan mau besanan dengan Giyuu"
Okee guys, jangan lupa saksikan FTV Kocho-Tomioka Family dengan judul 'Cintaku Terhalang Restu'.
Cerita 5 : Sister complex
Sekarang netra biru Tomoika Ryota menatap tajam setajam silet pria didepannya, tak lupa tubuhnya mengeluarkan aura tak bersahabat. Bibir kemerahan yang selalu menampilkan senyum sejuta watt penakluk wanita sekarang justru mengeluarkan geraman. Kakak dari Tomioka Mizu itu semakin dongkol saat dua makhluk didepannya justru berbincang mengabaikan dirinya.
"Lu siapanya Mizu-chan?"
Pertanyaan untuk Kazuo Kamado—Putra Kamado Tanjiro—mengalihkan atensi Mizu yang saat ini sedang berbunga karena dengan repot-repot uhukgebetanuhuk teman sekelasnya datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun di hari libur tak lupa dengan cupcake ditangannya. Kedongkolan Ryota semakin melampaui ambang batas saat Mizu memberi perlakuan berbeda antara dirinya dengan si Kamado waktu memberi ucapan ulang tahun pada putri semata wayang Tomioka-Kocho.
Hari ini tanggal 29 Februari. Tanggal yang hanya ada setiap empat tahun sekali itu merupakan hari lahir putri Tomioka-Kocho. Sebagai kakak yang baik, tentu saja Ryota sudah menyiapkan hadiah ditambah ucapan selamat ulang tahun yang ia post di seluruh akun sosial medianya (dengan tujuan pencitraan). Namun perlakuan adiknya yang manis tapi-lebih-manis-dirinya membuat Ryota gemas ingin mencubit. Setalah Ryota memberi Mizu kado,jangan harap ada kecup singkat dipipi sebagai tanda terima kasih, perkataan manis seperti "Arigatou Onii-chan" aja gak ada. Bahkan buka kado aja enggak cuma dilirik guys. Dilirik dilirik dilirik aja seperti syair lagu.
"Karena kamu selalu kasih barang yang aneh-aneh" Shinobu memberi alasan soal perkara hadiah ulang tahun yang hanya mendapat lirikan mata. Padahal Ryota hanya memberi buku bacaan saja, karena yang ia tahu Mizu suka membaca. "Tapi judul buku seperti '1001 Cara Mendapat Teman' atau 'Bagaimana Cara Menjadi Adik Idaman' adalah hal yang salah". Shinobu memberi tahu kesalahan Ryota yang tentunya Ryota sendiri sadar tapi sok gak tau dengan berdrama Apa salahku?!
Kita kembali lagi pada Mizu, sang uhukgebetanuhuk dan si sister complex akut.
"Teman" Kazuo menjawab dengan senyumnya. Ryota tersenyum puas akan jawaban Kazuo Kamado sebagai teman.
Awalnya sih begitu ….
Namun Ryota rasa jawaban tersebut kurang tepat karena tiba-tiba gadis yang hari ini berumur 17 tahun berkata "Aku mau ke belakang dulu" membuat Ryota yang amat sangat peka terhadap wanita kembali mengiris Kazuo dengan tatapan tajamnya.
"Berani banget lu anggap adek gue hanya teman?!" ujarnya saat Mizu sudah benar-benar pasti kebelakang dan tidak mendengar percakapan keduanya.
"Eh?"
"Lu gak tau saat wanita dikatakan hubungannya sebagai teman dan kemudian pergi itu tandanya dia kecewa!". Kazuo mengganguk menerima kuliah singkat dari casanova Kimetsu Gakuen. Sebenarnya ia ingin berkata lebih dari teman, sahabat misalnya (ya benar kan sahabat lebih dari teman?). Namun niatnya diurungkan karena Ryota sedari awal selalu mengeluarkan hawa sister complex yang mengancam nyawanya.
Ryota memperbaiki posisi duduknya kemudian kedua tangannya ia lipatkan diatas dada. "Ngerti gak lu bocah!?" kemudian dijawab anggukan membuat Ryota tersenyum puas.
"Jadi kalau lebih dari teman gak apa?"
"YA ENGGAK JUGA!"
Ruwet urusannya sama kakak yang mengidap Sister Complex akut.
Cerita ke 6 : Kena Semprot
Hari ini sepertinya Dewi Fortuna tak sayang pada Ryota. Pemikiran tersebut ada dikarenakan seharian full seorang Ryota Tomioka mendapat kesialan bertubi-tubi. Dimulai dari pagi hari motornya kena tilang, lalu terlambat masuk sekolah, lupa bawa uang sehingga tak jajan, dan tak sengaja sang Mama tercinta menemukan beberapa hasil ulangan didalam tas Ryota. Oleh karena itu Ryota seperti ini sekarang.
"Kamu tahu. Kamu disekolahin buat apa?"
Shinobu berdiri dengan sapu lidi ditangannya sedangkan Ryota hanya bisa duduk dilantai menatap kebawah tanpa adanya perlawanan.
Hal yang lebih sial dari kesialan yang telah Ryota paparkan sebelumnya adalah, Shinobu sedang masa PMS singkatan dari coretPerempuan Mode Setancoret maksudnya Pre Menstruasi Syndrome. Dianogsa bahwa Shinobu sedang PMS dikarenakan pagi hari dirinya melihat botol K*ranti di meja makan. Ryota hafal kalau adanya keberadaan minuman pereda nyeri haid artinya sang Mama sedang dalam masa senggol bacok. Oleh karena itu bagi Ryota diam adalah pilihan terbaik.
"Kok diam a—"
"Shinobu?" suara sang ayah menjeda kemarahan sang Ibu. Membuat Ryota bernafas lega karena ada penolong disaat-saat genting.
Aku padamu pa! berjuanglah pa!
"Aku mau—"
"Kamu tau aku lagi apa Giyuu?"
Ryota yang melihat ekspersi Shinobu tak ada senyum-senyumnya atau ia sebut sebagai mode senggol bacok langsung menelan ludah. Keliatannya jagoan gue udah kalah sebelum bertrung nih.
"Aku cuma mau—"
"Duduk Giyuu?"
"Hah?"
Tomioka Giyuu yang sudah sekitar 19 tahun hidup bersama Shinobu membangun rumah tangga, namun masih saja tak peka akan apa yang terjadi membuat Ryota mau tak mau menggapai ujung bajunya lalu dengan tatapan Udah nurut aja udah. Masih mau hidup kan? menariknya untuk duduk seperti yang Shinobu perintahkan. Pada akhirnya sang kepala keluarga Tomioka duduk bersimpuh didepan Shinobu bersama sang anak sulung disebelahnya siap menerima ocehan nonstop dari Shinobu.
Padahal kan Giyuu hanya ingin mengatakan "Shinobu aku mau tanya, gunting kuku dimana ya?" namun di situasi dan kondisi yang salah
Cerita 7 : Sayang
Belajar dari pengalaman sang Aayah yang menyandang status suami-suami takut istri, Ryota jadi berpikir berapa ratus kali untuk memperjuangkan cinta pada Aiko-chan putri tunggal Sanemi-Kanae. Gadis yang seumuran dengannya dan memiliki sifat judes diatas batas normal serta perilaku yang beringas keturunan sang ayah membuat Ryota tak jadi menambatkan hati pada Shinazugawa Aiko takut dirinya kelak juga menurunkan gelar suami-suami takut istri seperti sang ayah.
Terlebih lagi sekarang didepannya ada gadis cantik, ayu lemah lembut membuat hati adam berasa adem. Berdua dihalte menunggu adanya kendaraan umum lewat membuat Ryota gatal ingin menyapa gadis yang terlihat sibuk menatap tetesan hujan dibandingkan orang tampan disebalhnya.
"Hai" Ryota memasang senyum andalannya yang mampu membuat wanita manapun (Kecuali Mizu Tomioka tentunya) ber-Kyaah ria. Namun si objek yang ingin ia buat ber-Kyah ria malah mengedipkan kedua netra hijaunya tanpa ada balasan dari sapaan Ryota. Oke, kalau senyum gak berefek mungkin gombalan akan memberi efek.
"Kalau jawab sapaan aku kita kenalan. Tapi kalau gak jawab, kita juga kenalan" Ryota mulai melancarkan aksi gombal gembelnya.
Ryota tahu gadis dengan surai pink yang lurus dan dikepang dua itu adalah teman sekelasnya di kuliah fisika dasar barusan. Hal yang membuat Tomioka Ryota tertarik tidak hanya penampilannya yang membuat siapun yang melihatnya menjadi adem namun juga karena Ryota tak pernah melihat gadis tersebut. Mahasiswa Kimetsu University sebagian besar adalah lulusan dari Kimetsu Gakuen yang artinya orangnya ya itu-itu saja. Jadi bagi Ryota yang semenjak Sekolah Dasar sudah menimba ilmu di Kimetsu Gakuen, gadis disampingnya ini nampak asing.
"Kalau gitu harus kenalan dong?" jawaban polos dengan suara lembut dari gadis disamping Ryota membuat Ryota menggangukan kepala sambil berkata "Yaps! bethul!" dengan kedua tangan membentuk tembakan yang diarahkan kepada gadis dengan surai identik warna sakura.
"Aku Saki. Kamu?"
"Aku Ryota Tomioka. Kamu boleh panggil aku Ryota-kun, Ryo-kun" dirinya menjeda "Atau sayang juga boleh" gombalan menutup perkenalannya.
"Sayang"
Saki berujar dengan maksud "Sayang?" tolong diitalic, bold dan underline sekaligus kalau ada tanda tanya setelah kata 'sayang'. Hal ini dikarenakan Saki merasa aneh akan panggilan tersebut. Namun suara yang memang sudah didesain dari sana lemah lembutnya maka yang terdegar di telinga sang Casanova justru seperti panggilan "Sayang" memberi efek samping oleng pada Ryota.
BRAK
"Sayang gapapa?"
Kepolosanmu membuatku kenapa-napa
Cerita 8 : Pulang
Tomioka Giyuu hanya bisa menatap handphone hitamnya sesekali, lalu tak lama jemarinya mengotak-atik, kemudian ia mendecih saat orang yang dicari justru tak merespon.
"Tenang aja ... Ryota kan sudah besar" Shinobu mendudukan pantatnya disebelah Giyuu setelah menaruh dua cangkir dimeja ruang tamu. "Lagian dia laki-laki, jadi gak akan kenapa-kenapa kalau pulang malam"
Sekarang Tomioka Giyuu, seorang ayah yang taat peraturan dan kolotnya kebangetan sedang menghkawatirkan anak sulungnya yang tak kunjung pulang padahal jam sudah menunjukkan angka 6 sore. Walau Ryota sempat protes soal aturan harus pulang sebelum jam 6.30 malam dengan alasan "Aku kan udah kuliah Pa?!" Giyuu hanya memberi toleransi keterlambatan 30 menit alias jam 7 malam.
"Aturan tetaplah aturan"
Shinobu terkekeh. Giyuu masih sama seperti yang dulu.
"Okee ... Oke …" Shinobu memcari handphonenya lalu menghela nafas. Sepertinya ia harus turun tangan akan Ryota, lagipula sepertinya sekarang ia butuh baby sister untuk mengajak Kentaro main.
Yang Shinobu tau, akhir-akhir ini anaknya yang Super duper yummy itu, lagi melancarkan modus tak lupa juga median, mean (ga gitu) kepada gadis bernama Saki.
Berdasarkan curhatan putranya, mendekati gadis bernama Saki adalah pertaruhan nyawa. Okey lebay, maksudnya ada risiko yang masuk dalam kategori kelas berat. Bagaimana tidak dikategorikan sebagai risiko kelas berat kalau ayah dari Saki adalah dosen biologi yang kesukaannya membawa ular dan masuk dalam Top 3 Dosen Killer di Kimetsu University. Membuat Shinobu yang mendengar penuturan menggebu-gebu Ryota tertawa karena teman seangkatannya dicap sebagai Dosen Killer.
Tapi namanya juga bocah lanang, makin dihambat makin diterobos. Bermodalkan alibi mengerjakan tugas Kimia bareng, hari ini Ryota menghabiskan waktu bersama Saki di salah satu Café dekat kampus, menurut penuturan yang bersangkutan tadi pagi. Namanya juga kesempatan langka, jadi wajar jika Ryota kelupaan waktu.
"Nih, lihat bagaimana caranya menyuruh Ryota pulang" setelahnya Shinobu meload speaker handphone miliknya kemudian berbunyi "Tut … Tut …"
"Halo Ma?" suara Ryota diseberang menandakan sedang tersambungnya telepon membuat Giyuu mendengus karena sedari tadi ia mencoba menelpon tak diangkat. Memang sengaja kan?
"Kamu dimana?"
"Masih di Café Ma. Kenapa?"
"Oh, tadi Obanai nanya. Saki-chan dimana ya?"
"MA! BILANG SAMA OM OBANAI! Bentar lagi sampe, ini lagi otw. Serius deh!" kemudian terdengar suara terdengar suara "BRAK!" dan "KOMPRANG!" sebelum telepon ditutup sepihak.
"Gitu caranya"
Ryota Tomioka lebih taku dengan uhukcalon mertuauhuk dibanding kedua orang tuanya.
A/N : Maaf ya lama banget updatenya..
Aku sih ngerasa kayak kurang feel yang ini. Selain karena ide utama yang tiba-tiba raib dikarenakan rusaknya Hp, aku juga mengerjakan disela-sela kuliah yang mulai hetic ._.
Sebenarnya aku mau update saat ultah Giyuu 8 Februari kemarin tapi gak bisa. HBD Kang santuy *tebar konfeti* /maaf telat. Okee! Akhir kata bersedia Review? Kritik saran saya terima. Tunggu chapter selanjutnya ya!
