Anak-Anak Tomioka-Kocho
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu
Saya tidak mengambil keuntungan dalam pembuatan fanfiksi ini, kecuali kesenangan semata.
Warn : AU! OOC, typos, humor receh, bahasa gak baku dan kekurangan lainnya. So, don't like don't read
Chapter 4 : Tomioka Kentaro
Cerita 1 : Selingkuh
Perbedaan umur yang jauh antara Tomioka Kentaro dengan kedua kakaknya menjadikan Kentaro memiliki sifat banyak bertanya, karena diksi yang digunakan orang-orang di sekitarnya, mampu membuat Kentaro mengernyitkan alis. Alhasil, Kentaro dapat dengan mulus bertanya beberapa kata yang tidak ia mengerti pada orang di dekatnya, seperti saat ini.
"Kak Ryo." Bocah empat tahun itu memanggil Ryota yang saat itu sedang duduk dengan pose-jangan-ditiru, tepat di sebelahnya.
Tatapan Ryota masih fokus pada buku komik di tangannya, tanpa melirik sedikit pun ia membalas. "Hm?"
"Selingkuh itu apa?"
Respon awal yang Ryota beri adalah berlebay ria. Pertama, Ryota mengubah posisi duduk dari ngangkang menjadi bersila, lalu tangan yang tadi ingin membalik halaman seketika berhenti, iris ungunya ia kedipkan dua kali, selanjutnya dengan gerakan slow montion, lehernya ia arahkan ke kanan, ke tempat Kentaro berada.
Bengek tiba-tiba menyempurnakan tindakan kaget nan hiperbola ala Ryota. "Ka-kamu tanya apa tadi?"
"Selingkuh itu apa?" dengan nada jengah, Kentaro mengulang pertanyaan.
"Kamu dapat kata itu dari mana?"
Telunjuk kecil itu mengarah ke tv yang sedang menayangkan Sinema Pintu Taubat. Lagu dengan lirik 'Terangkanlah~" menjadi backsound sumpah serapah Tomioka Ryota (dalam hati).
Orang gila mana yang memilihkan channel Azab untuk anak dibawah umur?!
Nyatanya, Kentaro dapat menonton channel yang senantiasa menyangkan sinema Pintu Taubat siang dan malam karena tidak adanya pengawasan Ryota yang saat itu ada di sebelahnya.
Saat itu juga, DNA otak encer dari Shinobu menguap. Kepala Ryota harus mengepul selama tiga menit untuk menyusun definisi selingkuh untuk anak berumur empat tahun.
"Jadi begini adikku." Permata ungu milik Ryota menatap intens permata biru laut milik Kentaro. "Selingkuh artinya tak setia pada pasangan."
Respon "Gak ngerti" di detik berikutnya membuat Ryota menepok jidat.
"Sederhananya gini. Papa lagi bersama wanita lain yang bukan Mama. Ngerti?"
Anggukan Kentaro membuat Ryota kembali bergelut dengan komik, tak lupa dengan posisi duduk tidak-boleh-ditiru. Sedangkan Kentaro tidak menonton kembali sinema yang membuatnya bertanya arti selingkuh, karena kakinya langsung lari kedepan rumah saat suara bel terdengar sampai ke telinganya, menandakan Papanya baru pulang. Bocah empat tahun itu sadar, membuka pintu merupakan tugas mulia milknya. Karena pantat kak Ryota seakan ditempeli lem jika tangannya sudah memegang komik.
Kentaro perlu usaha saat dirinya sudah sampai di depan pintu. Kakinya ia jinjitkan agar tangan kecilnya dapat menyentuh gagang pintu. Namun rasanya segala usahanya menjadi sia-sia saat disuguhi pemandangan di balik pintu.
Iris biru bulat itu terbelalak saat menangkap pemandangan di depannya. Ayahnya memang berdiri di depan pintu, tapi … di sebelahnya berdiri Tante Mitsuri. Walau Tante Mitsuri adalah teman Papa tapi masuk kategori wanita-lain-yang-bukan-Mama kan?
'Sederhananya gini, Papa lagi bersama wanita lain yang bukan Mama' Pengertian selingkuh dari Ryota langsung terulang di kepala Kentaro.
"Papa … selingkuh…."
Jika nanti malam terjadi badai dalam keluarga Tomioka, Ryota lah yang pantas disalahkan.
Cerita 2 : Seperma
Setelah insiden pertanyaan selingkuh, Ryota membelikan Kentaro buku bacaan fabel agar anak tersebut tidak bertanya hal aneh-aneh. Atau alasan utamanya, karena Ryota tak ingin menyesatkan Kentaro lebih jauh.
Hari minggu, hari libur, maka sedari pagi bocah empat tahun itu duduk dengan khidmat di sofa bersama Ryota. Mata biru Kentaro, memperhatikan setiap huruf dalam buku berjudul 'Kancil dan Buaya' yang dibelikan oleh Ryota. Sampai akhirnya, halaman 15 membuat keningnya berkerut dalam.
"Kak Ryo."
Ryota merasa de javu akan panggilan tersebut.
"Seperma itu apa?" pertanyaan Kentaro berikutnya membuat Ryota bagai disambar petir di siang bolong. Iris ungu Ryota terbelalak sempurna, seandainya ia masuk dalam dunia kartun mungkin bola matanya sudah keluar. Lalu bibir kemerahan itu buka tutup layaknya ikan yang terdampar di darat. Ryota hanya bisa berkata "Hah?!" dari pertanyaan mendadak Kentaro.
Mempunyai Kentaro sebagai adik bagaikan ujian. Jika hari ini bisa menjawab, maka hari esok akan ada pertanyaan dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.
"Seperma itu apa, Kak Ryo!" suara cempreng itu kembali mengeluarkan pertanyaan yang sama.
Seandainya Kentaro bukan bocah empat tahun, Ryota dengan senang hati akan menjelaskan panjang lebar. Gini-gini dia jago Biologi, apalagi materi reproduksi—untuk kepentingan masa depan katanya. Tapi, jika ia salah menyampaikan, bisa-bisa kepalanya jadi sasaran bogem mentah dari sang Mama.
Disela-sela Ryota menjentikkan tangan mencari kata yang pas, sang penyelamat datang. "Oy! Mizu-chan! Sini dong!" tak lupa dengan pupy eyes no jutsu.
Satu-satunya putri keluarga Tomioka itu mengubah haluan dari ke arah kamar pribadi menjadi ke arah ruang tamu. Ia mengubah haluan bukan karena Ryota yang mengirimkan sinyal SOS ya …,= tapi karena instingnya berkata Kentaro yang dalam bahaya ajaran sesat.
"Kak Mizu, seperma itu apa?" Tanpa basa-basi Kentaro bertanya. Awalnya Mizu kaget, dapat dilihat dari gelas susu yang Mizu pegang kini berhenti di udara—ditunda untuk diminum. Namun ia cepat mengendalikan diri dan bertanya balik. "Kenta-kun dapat kata itu dari mana?"
Berbeda dengan Ryota, Mizu Tomioka akan tenang dan menganalisa keadaan lalu memberikan jawaban yang relevan.
"Sini." Pandangan Mizu fokus ke kalimat paling bawah buku cerita yang Kentaro pegang. Tangan kecil tersebut menunjuk tepat ke kata 'seperma' yang dimaksud. Ryota hanya melirik dari ekor matanya saat Mizu mengambil buku cerita tersebut, lalu dengan santai gadis tersebut menjelaskan.
"Oh … itu ada lanjutan di halaman berikutnya. Bukan seperma aja, tapi seperma—inan. Sepermainan."
Mulut yang membulat dan anggukan di kepala tanda Kentaro puas dan mengerti. Mengupingnya membuat Ryota langsung komentar. "Orang bodoh mana yang memenggal kata dengan ambigu!"
"Dan orang bodoh mana yang langsung panik, bukannya menganalisa keadaan?" jawaban Mizu Tomioka bagaikan peluru tepat sasaran. Membuat target yang dimaksud diam tak mampu berkutik apalagi membantah.
Sejak saat itu, Ryota memiliki trauma jika duduk berdua saja dengan Kentaro.
Cerita 3 : Dua
Sama seperti Ryota waktu masih bayi, Kentaro pernah membuat badai dalam keluarga kecil Tomioka lho. Tragedi tersebut terjadi saat umur Kentaro delapan bulan.
Diumurnya yang kedelapan bulan, Kentaro sudah mampu mengatakan beberapa kata sederhana, Salah satunya adalah angka. Kentaro dengan mudah dapat berhitung dan memahami satu sampai lima. Sehingga Ryota sering bertanya jumlah dari beberapa hal, seperti
"Kenta-kun punya bola berapa?"
"Dua!"
"Kenta-kun punya bebek berapa?"
"Dua!"
"Kenta-kun punya kakak berapa?"
"Dua!"
Sampai akhirnya, saat Tomioka Giyuu iseng ikut bertanya, tragedi itu dimulai.
"Kenta-kun punya Mama berapa?"
"Dua!"
Shinobu yang saat itu sedang mengaduk teh langsung melangkahkan kaki ke tempat kejadian. "Maksudnya apa Giyuu, sayang?"
Giyuu menelan ludah saat Shinobu memanggilnya sayang. 'Bentar lagi keluar ekor Sembilan guys' iner nista Ryota saat melihat ruang tamu disulap jadi medan perang.
"Jangan salah paham Shinobu, Kentaro hanya bisa berkata dua."
Tapi suasan kembali menegang saat Ryota menyulutkan bensin ke dalam api, dengan sebuah pertanyaan. "Papa Kenta-kun ada berapa?"
"Satu!"
Nah kan, pembelaan Giyuu jadi tak ada artinya. Selanjutnya silahkan interpetasi apa yang terjadi, karena adu bacot adalah jalan pernikah GiyuuShino.
Cerita 4 : Keluarga Idaman
Mizu memang tidak membenci anak kecil, namun bukan berarti Mizu suka anak-anak. Pandangan Mizu Tomioka akan anak-anak adalah netral, termasuk pada Kentaro. Tapi untuk saat ini, bolehkan Mizu menjadi tak suka pada adiknya sendiri?
Bocah empat tahun itu akhir-akhir ini lebih memilih menempel pada kakak ceweknya dibanding dengan Ryota. Karena semakin kesini, isengnya Ryota semakin menjadi-jadi. Jika Ryota boleh mengeluarkan quotes, mungkin begini bunyinya "Tangisanmu adalah kesenaganku". Tiada hari tanpa tangisan Kentaro, lama-lama Ryota semakin pantas menerima award Kakak Akhlakless.
Oleh karena hal tersebut, Kentaro jadi tak mau pisah dengan Mizu, terlebih lagi kedua orang tuanya masih aktif bekerja. Seperti sekarang, Kentaro jadi menempel kemanapun Mizu pergi. Membuat Mizu menghela napas. Kehadiran Kentaro menggangu kencannya dengan putra sulung Kamado.
Susah payah dapat izin kencan dari ayah protektif dan kakak posesif, sekarang disaat bisa kencan adiknya malah ikut? Wajah yang tampak tenang kini cemberut.
"Karena ada Kentaro, aku beli tiket film kartun. Gak apa kan?" suara Kamado Kazuo membuyarkan lamunannya. Berbeda dengan Mizu, Kamado Kazuo malah tak tega saat Kentaro berguling dilantai minta ikut. Jadi agar anak tersebut tak menangis, Kazuo langsung menggendongnya dan mengikutkannya dalam kencan. Dan tadi, baru saja pria pujaan hati Mizu membeli tiket, popcorn dan minuman dengan tangan kanannya senantiasa menggandeng Kentaro.
"Aku senang Kentaro ikut." Kazuo mendudukkan pantatnya di sebelah Mizu, dengan Kentaro yang duduk dipangkuannya. ".. karena banyak yang bilang kita seperti keluarga muda idaman."
Kepolosan Kazuo membuat Mizu merona. Seperti sihir, cemberut dalam wajah Mizu seketika itu juga hilang sirna. Kazuo benar-benar tahu bagaimana cara membuat wanitanya good mood kembali.
Sejak saat itu, tanpa disuruh Mizu selalu membawa Kentaro saat kencan.
Cerita 5 : Papa
Kalau Mizu dulu ogah banget ngajak Kentaro ikut pergi dengannya, maka kakanda Ryota justru kebalikannya. Kakanda Ryota harus bernegoisasi dulu dengan yang mulia Kentaro agar bocah empat tahun itu mau ikut dengannya. Tak jarang, Ryota akan berpuasa tidak membuat nangis Kentaro selama satu hari agar permohonannya diterima.
"Mau ya ikut kakak~"
Mata biru itu sekarang memincing tajam. Kentaro memang masih balita, tapi ia tahu niat busuk dibalik ajakan tersebut. "Aku disuruh jadi apa?" Ryota kalau ngajak pasti ada maunya.
Kedua tangan yang menutupi mulut menunjukkan kekagetan yang dibuat-buat oleh Ryota. Kentaro memang terlalu pintar dibanding anak seusianya.
"Jadi anak kakak. Kalau mau, nanti kita makan salmon daikon 1 minggu. Gimana?"
Sayangnya, Kentaro juga masih anak-anak. Sekuat dan seteguh apapun keyakinannya, akan goyah jika disogok hal yang ia suka. Kentaro yang tadinya dingin bagaikan es batu, akhirnya memberi anggukan tanda persetujuan. Jika kata salmon daikon sudah dikumandangkan, es dalam hati Kentaro dapat meleleh juga.
Dan Ryota langsung menyampaikan skenario 'anak bohongan'nya.
xxx
Reuni SMA Kimetsu Gakuen akhirnya tiba. Reuni yang diadakan di aula Kimetsu Gakuen itu diadakan oleh Angkatan 37—angkatannya Ryota. Reuni angkata 37 adalah reuni tercepat dalam sejarah, karena diadakan tujuh tahun setelah lulus. Terlalu cepatnya waktu membuat Ryota sedikit kelabakan. Kelabakan dalam mencari pasangan.
Dulu pada masa jayanya, Ryota pernah menjalin cinta layaknya Romeo dan Juliet, membuat tiap pasang mata yang melihat memancarkan kilat iri. Tapi sayangnya hubungan fenomenal itu putus dengan tak kalah fenomenal. Dan berdasarkan informasi hasil ngestalk, wanita yang dulu pernah mengisi relung hatinya sudah tunangan?
'Baru tujuh tahun lulus udah tunangan aja? Gue aja masih berjuang untuk mendapat restu Om Obanai!'
Tadinya Ryota mau mengajak Saki-chan—Putri keluarga Iguro—tapi tak mendapat restu sang ayah karena acaranya malam. Hal inilah yang mendasari Ryota menyuruh Kentaro berpura-pura menjadi anaknya. Biar gak dikata jomblo. Padahal menjadi jomblo gak dosa, tapi jika menyandang predikat tersebut Ryota merasa harus menyembunyikannya, seakan itu adalah sebuah dosa besar.
"Hai Ryo-kun"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Orang yang dimaksud menghampirinya.
"Hai, Sumire-chan."
Sumire, nama wanita yang pernah berpacaran satu tahun dengan Ryota. Wanita yang memilih gaun ungu glamor sebagai pakaian untuk reuni berjalan mendekati Ryota. Di sebelahnya berdiri tegap pria yang ikut-ikutan menelisik Ryota dari atas sampai bawah. Ryota tahu pria di sebelahnya pasti tunangannya, sehingga Ryota berkomentar 'Gantengan juga gue' dalam hatinya.
"Kamu kesini sendiri?"
Tuh kan. Ryota tahu, nih nenek lampir—semenjak jadi mantan, itulah panggilan sayang Ryota padanya—pasti ada dendam kesumut. Sudur bibir berlapis lipstick merah darah terangkat saat Ryota tak ada gandengan, seakan jomblonya mantan adalah kemenangan bagi Sumire. Dan disaat semua atensi mengumpul pada Ryota dan Sumire, disitulah Kentaro muncul.
"Papi." Kentaro dengan mengusap matanya.
"Ya baby?"
Kentaro mati-matian menahan muntah saat dipanggil 'baby' oleh kakanda Ryota.
"Ngantuk. Mau pulang."
Tak perlu memiliki otak encer, tapi siapapun dapat menyimpulkan fakta berdasarkan kejadian tadi bahwa Ryota sudah menikah … Bahkan sudah punya anak? Sumire menggertakan giginya. Ia merasa satu langkah di belakang Ryota. Walau nyatanya justru Ryota yang tertinggal.
Tanpa basa-basi lagi, tangan Ryota langsung menggandeng tangan Kentaro bermaksud balik kanan bubar jalan. Namun ada yang lupa, ia tolehkan kebelakang. "Pulang dulu ya. Semoga cepat nyusul~"
Senyum kemenangan di wajah Ryota, mengakitbatkan cebikan di bibir Sumire semakin dalam. Sumire tahu itu bukan doa, namun ledekan. Dengan keluarnya Ryota, suasana kembali normal, karena tak ada tontonan gratis lagi.
Di luar ruangan, Kentaro yang kurang lebih memahami situasi yang terjadi berkomentar. "Kak Ryo bocah banget."
A/N
Hai ... sudah lama ya aku menelantarkan FF ini ... maaf ya.
Mungkin akan selesai dalam satu chapter lagi yang lebih fokus ke GiyuuShino.
