Star 01
Bintang Gemilang
.
.
.
Dua bocah tampak berbaring-baring santai di rerumputan, di sebuah taman bermain yang belum terlalu ramai pada pagi hari nan cerah. Sebuah pohon rindang menaungi mereka dari sinar matahari yang sebenarnya tak terlalu terik. Sementara angin semilir bertiup lembut menyejukkan.
"Kak Ice," bocah yang lebih muda berkata, "apa planet kita akan baik-baik saja, ya?"
Sang kakak—yang sama-sama berpakaian dominan biru muda seperti adiknya—sontak membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Ia mengenali sekelumit kecemasan di dalam nada suara adiknya yang baru berusia sembilan tahun itu. Dan dia sama sekali tidak menyukainya.
"Maksudmu?" bocah tiga belas tahun yang dipanggil Ice itu menyahut, masih bergeming dalam posisinya semula.
Kali ini, sang adik memutuskan untuk beranjak dari posisi berbaringnya, kemudian duduk bersila. "Banyak planet sudah dijajah Jark Matter. Katanya, enggak lama lagi Bumi kita juga akan bernasib sama."
Tatapan Ice menajam sedikit. "Kata siapa?"
"Orang-orang dewasa banyak yang bilang begitu. Air dengar sendiri, kok."
Ice terdiam lagi. Adiknya menoleh sejenak untuk memeriksa, khawatir sang kakak tertidur di tengah pembicaraan. Tetapi, tidak. Sepasang iris aquamarine itu menatap jauh ke langit lepas.
"Saat seluruh galaksi jatuh ke dalam genggam tangan kekejaman, sembilan pahlawan akan dipilih oleh bintang-bintang untuk menyelamatkan alam semesta."
Ucapan tiba-tiba Ice menyentak adiknya sedikit. Bocah yang memiliki iris mata sama persis dengan Ice itu membulatkan kedua matanya.
"Kisah Sembilan Pahlawan Legendaris!" serunya antusias. "Tapi ... apa Sembilan Pahlawan itu beneran ada, Kak? Kata orang-orang dewasa, itu cuma dongeng."
Ice tersenyum sangat tipis. "Dengar ya, Air. Yang namanya 'dongeng' itu mungkin cuma cerita khayalan. Tapi tetap ada kebenaran di dalamnya."
Air memiringkan kepalanya, tampak bingung.
"Jadi," Ice melanjutkan, "kita hanya perlu percaya."
"Percaya?"
Ice ikut duduk, menempatkan diri berhadap-hadapan dengan Air.
"Lagipula, Kakak pasti akan melindungi Air. Jadi, Air enggak usah takut. Oke?"
Kalimat itu membuat Air langsung tersenyum. Kalau kakaknya sudah bilang begitu, tak ada lagi yang bisa membuatnya cemas. Karena Ice selalu melindunginya selama ini. Menjaganya semenjak ibu mereka meninggal dunia tak lama setelah melahirkan dirinya. Hanya Ice yang selalu ada untuknya, sebab ayah mereka pun sudah lebih dulu tiada ketika Air masih di dalam kandungan.
"Daripada mikirin itu ...," Ice menggantung kalimatnya sejenak. "Ngapain kamu ikut-ikutan Kakak berbaring-baring di sini? Main sana. Biar badanmu enggak terlalu gendut."
"Air enggak gendut!" Si adik cemberut seketika.
Ice terkekeh kecil. Masih jelas di dalam ingatannya, sosok Air sampai setahun yang lalu memang masih terlalu subur. Namun, kemudian, anak itu mulai rajin berolahraga dan mengurangi makan makanan manis kegemarannya. Berkat Ice yang menakut-nakutinya, kalau alien datang ke Bumi, maka anak-anak bertubuh gemuk seperti Air yang akan lebih dulu ditangkap karena larinya lambat.
"Iya, iya." Ice mengacak rambut adiknya dengan sayang. "Air udah enggak gendut lagi, kok, sekarang. Cuma pipinya masih kayak bakpao, he he he ..."
Ice mencolek pipi adiknya, membuat bocah itu menggembungkan pipi dengan wajah sebal.
"Tapi Air mau lebih kurusan lagi," kata Air tiba-tiba, "biar langsing semampai kayak Kak Ice."
"Semampai?" Ice hampir-hampir tertawa mendengarnya. "Dari mana kamu tahu kata itu? Artinya apaan, coba?"
"Semampai. Semeter tak sampai."
Air tergelak. Ia lalu berdiri, refleks menjauh dari Ice yang ingin menarik pipinya karena gemas.
"Ya udah! Air mau main dulu ya, Kak!"
Air berlari menjauh ke arah sebuah bola plastik biru yang tergeletak di dekat permainan jungkat-jungkit. Bola itu memang milik Air yang bergulir terlalu jauh ketika sedang dimainkannya bersama sang kakak beberapa saat lalu. Dan itulah asal muasal mengapa kedua kakak beradik itu lantas malah berbaring bermalas-malasan di rerumputan.
Air sudah membayangkan untuk melanjutkan lempar tangkap bola bersama sang kakak. Namun, baru juga Air meraih bolanya, mendadak terdengar derap langkah kaki yang sangat banyak, memasuki area taman. Reaksi pertama Air adalah mundur satu-dua langkah, sembari memeluk bolanya erat-erat.
"Kakak ...!"
Rengekan mendadak sang adik mencegah Ice dari niatnya untuk kembali memejamkan mata. Secepat matanya menangkap pemandangan di depan, dia berdiri dengan sigap.
Puluhan alien tinggi gagah memasuki taman dengan langkah tegap. Tubuh mereka yang mayoritas berwarna hijau tua atau muda, mengingatkan Ice kepada sosok orc jahat yang sering disebut-sebut di dalam dongeng pengantar tidur. Sebagian lagi memiliki warna tubuh yang agak cerah kekuningan. Semuanya memakai zirah ala kadarnya yang hanya menutupi bagian-bagian tubuh vital. Masing-masing membawa pula berbagai jenis senjata yang berbeda, dari pedang, tombak, sampai busur panah.
"Air!"
Dalam sekejap, Ice telah melindungi sang adik di dalam dekapannya. Sementara, angkasa biru nan damai itu pun telah ternoda oleh pesawat-pesawat angkasa, belasan atau puluhan jumlahnya. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan di seluruh dunia? Atau mungkin jauh melebihi itu.
Detik itu juga, Ice dan adiknya tahu, ketakutan para orang dewasa benar-benar sudah menjadi kenyataan. Bumi telah jatuh ke tangan Jark Matter. Namun, di tengah-tengah jantung yang menderu oleh rasa takut, keduanya merasakan sesuatu yang berbeda. Bahwa mereka tidak benar-benar setakut itu. Bahwa dunia mereka belum benar-benar berakhir.
Bahwa masih ada harapan.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Mengambil ide cerita dan beberapa unsur dari "Uchuu Sentai Kyuuranger" milik Toei Company©
Fanfiction "Blazing Stars" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Kyuuranger!AU. Adventure-Friendship-Action. Maybe OOC.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
.
Andai di semesta ini masih ada orang bodoh yang ingin menjelajah ruang angkasa, maka ia sungguh tidak beruntung. Sampai sekian abad lalu, barangkali hal tersebut masih dianggap sebagai cita-cita yang keren. Namun, saat ini, situasinya telah jauh berubah.
Planet-planet tidak lagi menjadi hak milik para warganya. Kekayaan alam dan sumber energi mereka direnggut paksa. Kebebasan pun telah menjadi isapan jempol belaka. Satu demi satu pemberontakan atas ketidakadilan ini, terpadamkan.
Akan tetapi, masih ada yang tetap berdiri tegak, berjuang demi mengembalikan apa-apa yang telah terenggut. Sekumpulan muda-mudi, bergerak dari planet ke planet, melawan Jark Matter yang meneror dengan pasukan Gijimo-nya.
Tiga kendaraan angkasa terlihat di angkasa biru kusam. Warna cokelat, hijau, dan kuning berpadu biru, tampak mencolok ketika ketiganya mendarat ke permukaan planet. Yang keluar dari dalam tiga kendaraan serupa motor itu adalah seorang pemuda dua puluh tahunan berpakaian dominan hitam dan cokelat, seorang pemuda lain yang lima atau enam tahun lebih muda serta berpakaian dominan hitam dan hijau, juga seorang gadis manis berkacamata dengan pakaian dominan kuning-biru.
"Kami pasti akan menghentikan kalian, Jark Matter!" si gadis berkacamata berseru nyaring.
Namun, kemudian, jam di pergelangan tangannya menyala. Lantas menampilkan hologram seorang gadis berambut cokelat sebahu, dengan gogle merah muda bertengger di atas kepalanya.
"Hei, Ying! Prioritas kita saat ini adalah mengamankan warga!" sosok hologram itu berkata galak.
"Waaah ... Hanna marah~!"
Kali ini si remaja hijau yang bicara. Akibatnya, sosok hologram yang sama pun muncul dari jam tangan serupa yang dikenakannya.
"Thorn! Sudah berapa kali kubilang? Anggota kita masih belum lengkap. Terlalu berbahaya untuk menghadapi Jark Matter secara langsung!"
Remaja putra yang dipanggil Thorn itu hanya tertawa kecil dengan ekspresi takut-takut.
"Kalau diibaratkan memasak," pemuda yang satu lagi berkata kalem, "maka jumlah koki kita sekarang belum cukup untuk membuat hidangan utama. Benar 'kan, Hanna?"
Ying terkikik geli ketika sosok hologram Hanna tampak sedikit salah tingkah dari alat komunikasinya.
"Gempa benar." Hanna berdeham sedikit. "Pokoknya, sekarang, prioritaskan evakuasi!"
"Okeee!" Thorn menyahut riang, sementara kedua rekannya mengangguk mantap.
"Larian Laju!"
Sambil berseru begitu, Ying maju duluan. Kecepatannya sungguh luar biasa, nyaris tak bisa diikuti oleh mata normal. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di dekat Alien Gijimo bertubuh hijau muda, dan langsung melepaskan tendangan memutar.
Dua warga planet setempat yang berada di dalam cengkeraman Gijimo itu terlepas. Keduanya segera berlari ke tempat yang sekiranya lebih aman. Sementara, Ying masih melanjutkan pertarungan, sembari berusaha menyelamatkan warga yang lain.
"Aku juga!"
Thorn ikut berlari maju. Entah sejak kapan, di kedua tangannya tergenggam anyaman mungil daun-daun berbentuk bintang.
"Lontaran Daun!"
Meskipun berupa daun, senjata lempar itu ternyata cukup tajam untuk melukai lawan. Beberapa Gijimo terjatuh, beberapa yang lain berhasil menghindar. Namun, Thorn belum selesai.
"Akar Menjalar!"
Sisa-sisa Gijimo dalam jangkauan serangan Thorn, sudah terikat kuat dalam waktu singkat, oleh sulur tanaman hijau nan kokoh. Thorn tersenyum lebar, tanpa menyadari sesuatu bergerak mendekatinya.
"Thorn! Awas!"
Suara Gempa. Sementara, sang remaja bertopi hijau yang dipakai miring ke kiri belakang itu, hanya sempat terkesiap. Ujung matanya menangkap sesosok Gijimo berbadan kekar sudah begitu dekat di belakangnya dengan gada terayun deras, tepat mengincar kepala.
"Tanah Pelindung!"
Gempa berseru sekali lagi. Posisinya sekarang masih beberapa meter terpisah dari Thorn, walau dia sudah berusaha berlari mendekat secepat mungkin. Namun, begitu ia menghantamkan kedua kepalan tangannya ke tanah, dinding pelindung dari tanah seketika muncul di antara Thorn dan Gijimo yang tadi mengincarnya. Serangan mengenai dinding tanah yang langsung hancur, tetapi Thorn selamat.
Sementara itu, para Gijimo lain ikut mendekat ke arah Thorn dan Gempa. Thorn tampak sedikit bingung dengan banyaknya musuh yang mengepung. Sementara, tatapan Gempa menajam, dengan ujung mata menyapu berkeliling secepat mungkin.
Di belakang mereka masih banyak warga yang belum sempat meloloskan diri. Sedangkan jalan untuk lari telah tertutup oleh kepungan para prajurit Gijimo.
"Tanah Tinggi!"
Gempa memutuskan untuk mendahului serangan. Tetap sedia di tempat, ia memukulkan kepalan tangan kanannya ke tanah. Mendadak tanah mencuat tajam pada arah jam tiga, di mana satu Gijimo terdekat telah siap menusukkan tombak ke arahnya. Gijimo itu terkejut, tetapi masih sempat menghindar pada detik terakhir.
Namun, tentu saja, Gempa tidak tinggal diam.
"Bertubi-tubi!"
Melanjutkan jurus yang dikeluarkan sebelumnya, Gempa memukulkan kepalan tangan kirinya ke tanah, diikuti yang kanan, dan terus bergantian secara cepat. Pilar-pilar tanah tajam terus bertumbuhan, mengincar satu demi satu Gijimo yang mencoba mendekat.
"Nggak ada habisnyaa ...," keluh Thorn yang baru saja mengeluarkan sulur pengikat untuk kesekian kalinya.
Ying yang sedang berada tak jauh dari Thorn, turut melihat berkeliling. Tampaknya, keributan yang dibuatnya bersama Gempa dan Thorn malah membuat lebih banyak pasukan Gijimo mendatangi mereka. Gadis berkacamata itu mencoba memikirkan solusi terbaik untuk mereka saat ini. Hanna benar, belum saatnya mereka sengaja bentrok dengan pasukan Jark Matter seperti ini.
"Lihat!" Tiba-tiba Thorn berseru, bersamaan dengan iris sewarna zamrud miliknya yang menangkap obyek terbang misterius di langit. "Apa itu?"
Ying mengikuti arah yang ditunjuk oleh Thorn. Seperti kendaraan terbang berukuran kecil dan berwarna mencolok, merah menyala. Daripada terbang, kendaraan itu tampak meliuk tak karuan, sebelum akhirnya mendarat darurat dengan hebohnya.
Dari dalam kendaraan yang telah kandas berasap itu, keluarlah sosok berpakaian antariksa serba merah, sama mencoloknya dengan kendaraan mirip motor yang dinaikinya. Sosok yang sepertinya sebaya dengan Thorn dan Ying itu melihat berkeliling sejenak, kemudian tersenyum lebar.
"Benar kata Tok Aba, aku memang beruntung! Pendaratan yang hebat!" serunya heboh sendiri. "Nggak ada yang terluka, wa ha ha ha ha ha ..."
Ying dan Gempa terdiam heran, masih terkejut. Sementara Thorn malah ikut terbawa tawa remaja misterius itu.
"Ying!" Gempa mendekat kepada Ying, sementara matanya lekat mengawasi sang tamu tak diundang. "Dia tadi ... jatuh, 'kan?"
Ying hanya mengangkat bahu.
"Kereeen!" Thorn ikut berkumpul dengan kedua rekannya. "Ying, Kak Gem! Lihat, deh! Dia membuka jalan, lho!"
Gempa dan Ying tersentak pelan. Memang benar, para Gijimo telah refleks menjauh dari area jatuhnya kendaraan merah tadi. Akibatnya, kepungan mereka terputus di satu titik.
"Betul juga," kata Ying. "Gempa!"
Gempa hanya mengangguk kecil ketika Ying menatapnya.
"Sarung Tangan Tanah!"
Pemuda itu berlutut sejenak sembari memukulkan kedua tangannya ke tanah. Seketika, tanah merangsek naik menyelimuti kedua tangannya, layaknya sarung tinju yang siap digunakan untuk bertarung.
"Ayo, semuanya!" Gempa memberi isyarat kepada para warga untuk mengikuti langkahnya. "Cepat, cepat, lewat sini!"
Sembari memimpin jalan bagi rombongan warga, Gempa menghantam setiap Gijimo yang mendekat dengan tinjunya. Thorn hanya mengikuti saja, sambil sesekali mendorong para prajurit Gijimo menjauh. Sementara, Ying mengamati sekelilingnya dengan cermat. Para Gijimo sudah mulai membentuk kepungannya kembali.
Berpikir akan merepotkan jika hal ini dibiarkan, Ying berlari dalam sekejapan mata ke luar kepungan. Ia lantas berbalik ke arah Gempa, Thorn, dan para warga, yang tengah berlari ke arah yang sama dengannya.
"Kuasa Slow-Mo!"
Sembari berseru, Ying menggunakan kekuatannya sekali lagi. Yang dijadikan sasaran adalah para Gijimo. Gerakan mereka semua melambat berkali-kali lipat, sehingga para warga bisa lewat dengan aman.
Tak jauh dari tempat Ying berdiri, sepasang iris merah berhias jingga terang tak lepas memandang kagum. Sedikit terlalu antusias.
"Keren sekali!" serunya dengan mata berbinar. "Aku juga mau ikut main!"
Tak perlu berpikir dua kali bagi sang pemuda untuk bergabung dengan rombongan kecil yang seketika menarik hatinya itu.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Blaze duduk santai saja sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Bukan cuma kaki, sejak tadi seluruh anggota geraknya sama sekali tak bisa diam. Ia pun terus melihat ke sana kemari, sementara dirinya mendadak telah menjadi tamu di sebuah kapal angkasa besar berwarna perak.
Ketika dibawa ke tempat ini oleh ketiga orang yang dijumpainya di planet tempatnya mendarat darurat, Blaze—dari dalam kendaraan angkasanya—sempat melihat kapal ini dari luar. Belum pernah Blaze melihat kapal angkasa sebesar dan sekokoh itu. Melayang tenang di keheningan ruang angkasa. Ditambah lagi, yang paling merampas perhatiannya, adalah semacam hiasan berbentuk kepala singa raksasa yang juga berwarna perak, di bagian depan kapal angkasa.
Tadinya Blaze mengira, bagian dalam kapal akan sama membosankannya dengan bagian luar, didominasi warna perak. Namun, ternyata interior kapal sangat hidup, penuh warna.
"Bon appétit."
Blaze tersentak sedikit ketika pemuda bertopi terbalik itu tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya, lantas meletakkan sesuatu di atas meja yang ada di hadapannya. Makanan yang tersaji indah di atas piring porselen. Jenis makanan yang belum pernah dilihatnya. Jujur, warna biru pucat dari semacam krim yang nyaris menutupi keseluruhan tampilannya itu cukup mencurigakan. Namun, Blaze mencium aroma manis yang langsung membangkitkan seleranya.
"Kamu yang membuat ini?" tanyanya dengan mata berbinar, sebelum mulai menyantap makanannya tanpa ragu. Manis dan lembut, hampir seperti kue buatan Tok Aba kegemarannya. Hanya saja, yang ini tanpa cokelat. "Enak!"
Blaze tersenyum lebar, lantas melanjutkan santapannya dengan raut wajah bahagia. Tentu saja, Gempa yang membuat kue khas planetnya sendiri itu pun, merasa senang karena sang tamu menyukai makanan buatan tangannya.
"Hei, namamu siapa?"
Thorn yang sejak tadi mengamati Blaze dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, akhirnya ikut mendekat.
"Namaku Blaze. Kalau kalian? Omong-omong kapal angkasa kalian ini keren sekali!"
"Iya, 'kan?" Thorn menyahut antusias. "Namanya ORION!"
"Hah?" Kening Blaze berkerut seketika. "Nama siapa?"
"Tentu saja kapal angkasa ini."
Bukan Thorn yang menjawab, melainkan seorang gadis berpenampilan serba pink yang baru saja datang bersama Ying.
"Offensive Resistance Interstellar Orbiter of RebellioN," gadis itu melajutkan. "ORION."
Blaze memperhatikan tulisan yang dimunculkan sang gadis serba pink dalam bentuk hologram, dari komputer tablet yang seingatnya—sejak menginjakkan kaki di dalam kapal ini—selalu dibawa oleh gadis itu. Isi tulisannya sama persis dengan apa yang diucapkan sang gadis tadi. Diikuti oleh semacam logo yang dalam pandangan Blaze membentuk huruf 'T'.
"Singkatnya, ORION adalah kapal induk organisasi kami." Gadis itu mematikan fungsi hologram dari pen tablet kesayangannya. "TAPOPS."
"TAPOPS?" Alis Blaze terangkat. Namun, sebelum sang gadis sempat menjawab, Blaze sudah bicara lagi. "Ah! Daripada itu, kalian benar-benar bisa memperbaiki kendaraanku?"
"Cukup sulit, tapi tidak masalah," kali ini Ying yang bicara. "Ya 'kan, Hanna?"
"Tentu saja." Gadis pink yang dipanggil Hanna itu menyahut penuh percaya diri. "Omong-omong, aku memeriksa catatan penerbanganmu. Kau benar-benar berasal dari sistem Leo? Itu kan lumayan jauh dari sini."
Blaze mengangguk. "Tepatnya dari Planet Volcania, di sistem Leo Minor."
"Kalau aku, namaku Thorn, dari sistem Chameleon," Thorn menyahut tiba-tiba, sementara matanya masih mengamati Blaze penuh minat.
"Aku Ying, dari sistem Taurus," gadis manis berkacamata itu ikut memperkenalkan diri. "Dan yang di sebelahku ini, Hanna. Dia adalah navigator kapal angkasa ini, merangkap mekanik sekaligus ajudan Komandan."
"Dan aku, Gempa," sang koki menyambung dengan senyuman lembut, "dari sistem Dorado."
"Waaah ... Kalian semua berasal dari tempat-tempat yang berjauhan, ya!" Blaze menatap takjub.
"Daripada itu," Hanna berkata cepat, "aku lebih tertarik, apa yang kaulakukan dengan kendaraan yang harusnya nggak bisa digunakan untuk perjalanan jauh itu?"
Kedua alis Blaze terangkat sejenak, sebelum senyum lebarnya mengembang.
"Aku pengembara! Sejak dulu, cita-citaku adalah ingin melihat ujung galaksi!"
"Dan Jark Matter tidak menyerangmu?" Gempa menyahut tak percaya. "Kamu benar-benar sangat beruntung."
Kali ini, Blaze mengerutkan kening.
"Jark Matter? Apa itu?"
Tempat itu mendadak hening. Para penghuni ORION sontak menatap Blaze dengan tatapan seperti baru saja melihat spesies langka yang hampir punah.
"Sebentar. Kamu ... nggak tahu Jark Matter?" Hanna merasa harus memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi yang aneh-aneh. Yang ditanya hanya menggeleng bingung. Meskipun cukup shock, Hanna tetap merasa berkewajiban untuk memberi penjelasan. "Jark Matter adalah kekaisaran angkasa yang mengambil kendali lebih dari 88 konstelasi, yang membuat mereka menjadi penguasa alam semesta."
"Mereka menghalalkan segala cara untuk bisa menguasai planet-planet!" sambung Ying geram. "Meskipun dengan kekerasan, hingga menimbulkan banyak korban!"
"Tunggu dulu!" Blaze mengerutkan kening. "Menguasai alam semesta yang seharusnya milik semua orang? Itu nggak bisa dibiarkan!"
Hanna mengangguk. "Saat ini, hampir seluruh galaksi sudah ditaklukkan. Tapi banyak juga planet yang masih melakukan perlawanan. Karena itulah, organisasi kami dibentuk untuk melawan tirani Jark Matter. Tactical Alliance Patrol of Planetary Saviour. Disingkat TAPOPS. Basis kami ada di Planet Rebellion, yang juga planet kelahiranku."
"Kedengarannya keren." Mata Blaze berbinar.
"Saat seluruh galaksi jatuh ke dalam genggam tangan kekejaman, sembilan pahlawan akan dipilih oleh bintang-bintang untuk menyelamatkan alam semesta." Hanna memberi jeda sejenak. "Kamu pernah dengar legenda itu?"
Blaze hanya menggeleng.
"Di setiap konstelasi, tersimpan kekuatan misterius yang dapat digunakan untuk melawan Jark Matter," lanjut Hanna. "Kekuatan itu berasal dari Power Sphera. Kami menyebutnya sebagai 'kuasa'—"
Ucapan Hanna terhenti tiba-tiba, sementara kedua matanya mendadak terpaku ke arah pergelangan tangan Blaze. Gadis itu pun cepat-cepat mendekat, lantas mencekal pergelangan tangan kanan Blaze.
"Hei—"
"Ini ... Jam Kuasa?!" Hanna memeriksa dan mengutak-atik sebentar jam berwarna hitam-jingga milik Blaze, hingga muncul proyeksi hologram berbentuk sebuah simbol. "Tidak salah lagi ... Ini lambang kuasa elemental api!"
Ucapan Hanna membuat semua mata menatap takjub gambar hologram merah berbentuk seperti nyala api itu. Kecuali Blaze, yang langsung menyentuh permukaan jamnya sehingga hologram itu lenyap. Ia lantas menarik tangannya kembali dari cekalan Hanna. Gadis itu tersentak sedikit, lalu malu-malu sendiri, menyadari dia sudah terlalu lama memegang tangan Blaze.
"Kau yakin, Hanna?" tanya Gempa, dijawab Hanna dengan anggukan.
"Sebelum ini, aku nggak melihat jam itu karena tertutup pakaian antariksa," Ying menyambung. Tentu saja, Blaze sudah melepaskan pakaian antariksanya begitu menginjakkan kaki ke dalam ORION. "Tapi sejak pertama bertemu, aku kepikiran dengan insignia di topi Blaze. Aku yakin pernah melihatnya, dan sekarang aku ingat. Itu lambang kuasa elemental api yang pernah kulihat di database kita."
Blaze sedikit jengah ketika semua orang ganti menatap simbol berbahan logam di bagian depan topinya.
"Kalian ngomong apa, sih?" kata Blaze. "Lambang di topi ini adalah lambang kerajaan tempat aku tinggal. Dan jam ini cuma jam biasa pemberian kakekku."
"Bukan Jam Kuasa?" Thorn memiringkan kepalanya.
"Aku bahkan nggak tahu Jam Kuasa itu apa."
Empat penghuni Kapal Induk ORION saling berpandangan.
"Kami juga memakai jam yang serupa milikmu. Lihatlah." Gempa ikut menunjukkan jam di pergelangan tangannya, diikuti yang lain. "Ini disebut Jam Kuasa. Kamu juga sudah melihat kekuatan yang kami pakai untuk bertarung, 'kan? Kekuatan itu bersumber dari Jam-Jam Kuasa ini."
"Waaah ..."
Blaze memperhatikan jam-jam itu dengan mata berbinar. Jam Kuasa milik Ying berwarna kuning dan biru. Sedangkan milik Gempa dan Thorn ...
"Lho? Jam kalian mirip punyaku," katanya sembari menatap Gempa dan Thorn bergantian. "Warnanya sama."
"Mungkin," Hanna yang menyahut, "karena sama-sama mengandung kekuatan elemen. Walau elemen kalian berlainan. Jujur saja, masih banyak hal yang belum diketahui tentang Power Sphera dan Jam Kuasa. Bahkan dari mana asalnya, siapa penciptanya, masih misterius sampai sekarang."
"Oooh, begitu ..." Blaze memfokuskan tatapannya kepada Hanna. "Kamu sendiri nggak punya Jam Kuasa?"
Hanna menggeleng. "Aku ini navigator sekaligus mekanik. Tidak ikut bertarung di garis depan."
"Beneran jam Blaze bukan Jam Kuasa?" Thorn bertanya lagi, masih penasaran.
"Sudah kubilang, ini jam biasa." Blaze berdiri mendadak. "Terima kasih, kalian sudah membantuku. Aku akan melanjutkan perjalanan."
Hanna tersentak. "Kamu yakin?"
"Nggak takut diserang Jark Matter?" sambung Thorn.
"Tenang saja! Aku ini orang paling beruntung di seluruh galaksi!" Blaze memamerkan satu senyum lebar. "Oh, ya. Sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau kubantu mencari orang-orang yang punya Jam Kuasa seperti kalian?"
"Kami memang sedang mencarinya di planet yang tadi, sih," ujar Ying. "Kata Hanna ada sinyal dari sana, tapi lemah."
"Planet Dargha'ya? Baiklaaah ... Aku akan pergi ke sana sekarang—"
"Tidak semudah itu," potong Hanna. "Alam semesta sangat luas. Lagipula, walaupun Jam Kuasa itu ditemukan, belum tentu ada orang yang bisa atau cocok menggunakannya. Misalnya, Jam Kuasa-mu. Waktu kuperiksa, kuasa elemental api di dalamnya tidak aktif."
"Harus berapa kali kubilang, ini cuma jam biasa."
"Kamu nggak percaya ucapanku? Begini-begini aku navigator dan mekanik terbaik di Planet Rebellion!"
"Terus apa hubungannya?"
"Hiiih! Kamu iniii—"
Gempa dan Ying hanya bisa tertawa kering ketika Hanna dan Blaze tiba-tiba sudah terlibat cekcok. Sedangkan Thorn benar-benar tertawa karena menganggapnya lucu.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Pokoknya, aku pasti akan membalas budi kalian!"
Belum sampai setengah jam lalu, Blaze mengatakan itu dengan penuh percaya diri di depan Hanna dan kawan-kawan. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Begitu memasuki kembali atmosfer Planet Dargha'ya, kendaraan angkasa Blaze lagi-lagi mengalami masalah dan harus mendarat darurat di area hutan.
"Katanya sudah diperbaiki."
Sambil menggerutu panjang-pendek, Blaze menekan tombol pada bagian dada pakaian antariksanya. Seketika, benda itu terlepas dengan mudahnya, lantas terkompresi secara otomatis ke arah belakang punggung Blaze. Hanya memakan waktu tujuh detik, pakaian antariksa itu sudah bertransformasi menjadi semacam tas ransel merah berukuran sedang.
Setelah menyimpan tas-pakaian-antariksa itu di kursi kemudi, Blaze bergegas turun dari kendaraannya yang masih sedikit berasap. Ia menatap berkeliling. Di mana-mana hanya ada perdu dan pohon-pohon besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tak butuh waktu lama bagi Blaze untuk memutuskan menjelajahi hutan tersebut. Di matanya, ini adalah petualangan baru yang menarik. Beberapa kali ia menemukan hewan-hewan kecil yang tak ada di planet asalnya. Atau buah-buahan yang terlihat lezat membangkitkan selera. Blaze pasti sudah memetik dan memakannya kalau bukan karena teringat nasihat Roktaroka sebelum ia berangkat: jangan makan sembarangan di planet asing.
"Hah?!"
Blaze mendadak merasakan bahaya ketika baru saja memasuki bagian hutan yang lebih lapang. Refleks saja, dia berguling ke samping, dan hanya sempat melihat sekelebat cahaya hijau yang nyaris saja mengenainya. Cahaya itu terus memelesat mengenai sebongkah batu yang tadinya ada di belakang Blaze. Detik berikutnya, batu besar itu sudah berubah menjadi semacam jamur raksasa setengah busuk.
"Apa—?!"
Tatapan Blaze menajam. Ia pun mengarahkan pandang lurus-lurus ke depan. Hanya sekian meter di hadapannya, telah berdiri seorang pemuda berkulit gelap dan berbadan gempal, dengan pakaian dominan hijau-kuning. Wajahnya penuh coreng-moreng, sementara tatapan matanya terasa sangat salah.
"Siapa kau?!"
Pemuda misterius itu tidak menjawab. Kedua matanya tiba-tiba menyala merah, kemudian tangan kanannya bergerak membentuk senapan jari yang langsung diarahkan kepada Blaze. Kali ini, Blaze melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ujung jari itu benar-benar bisa menembakkan cahaya hijau persis seperti yang dilihatnya tadi.
Blaze bergerak menghindar dengan lincah ke sana kemari. Semua benda yang terkena cahaya itu berubah menjadi makanan atau bahan makanan yang membusuk. Blaze mulai kesal karena dirinya hanya bisa menghindar. Sampai matanya menangkap jam berwarna dominan hijau di pergelangan tangan kanan pemuda gempal itu.
"Jangan-jangan itu ... Jam Kuasa?!"
Kemungkinannya sangat besar. Sedangkan Blaze sebagai manusia biasa, tentu akan kesulitan menghadapi lawan semacam ini.
"Hei! Kenapa kau menyerangku?!"
Tidak ada jawaban. Sejak tadi sepertinya percakapan memang hanya terjadi sepihak. Blaze makin kesal, tetapi tidak tahu harus bagaimana. Terus menjadi bulan-bulanan, atau lari?
Dua-duanya menyebalkan!
Sedikit kehilangan fokus, entah bagaimana Blaze terpeleset ketika bermaksud melompat menghindar ke belakang. Padahal, lawan sudah bersiap menembakkan cahaya hijau itu lagi.
"Celaka!"
Sudah terlambat untuk menghindar. Blaze geli sendiri membayangkan, akan jadi apa dirinya kalau sampai terkena cahaya itu.
"Akar Menjalar!"
"Eh?"
Sebelum Blaze menyadarinya, tahu-tahu badannya sudah terikat kuat oleh sulur hijau yang familier, lalu ditarik ke belakang. Dia terjengkang hingga jatuh terduduk ke tanah. Namun, setidaknya dia masih utuh.
"Blaze!"
"Kamu nggak apa-apa?"
Dua pemuda sigap menempatkan diri di depan Blaze dengan sikap tubuh siap tempur.
"Thorn, Gempa!" Blaze bangkit berdiri, sementara sulur Thorn terlepas darinya. "Kalian di sini?"
"Kami mencemaskanmu," sahut Gempa. "Planet ini sudah diinvasi oleh Jark Matter. Terlalu berbahaya membiarkanmu pergi sendirian."
"Terima kasih sudah datang." Blaze tersenyum spontan. "Lho? Ying nggak ikut?"
"Energi Jam Kuasa-nya belum pulih setelah menggunakan Kuasa Slow-Mo di pertarungan sebelumnya. Jurus itu sangat menguras tenaga," jelas Gempa. "Lalu ... itu siapa?"
"Mana kutahu? Aku baru sampai dan tiba-tiba diserang."
Gempa mengamati lawan mereka yang sama sekali tidak tampak bersahabat. Sejauh ini, dia belum bergerak lagi. Barangkali sedang mengamati situasi.
"Aku maju duluan!" Thorn berseru tiba-tiba sambil berlari maju. "Lontaran Daun!"
Thorn melemparkan beberapa anyaman daun berbentuk bintang ke arah musuh. Tidak tinggal diam diserang, musuhnya menembakkan berkas cahaya hijau ke arah daun-daun itu, mengubahnya menjadi semacam keripik berulat.
Melihat itu, Thorn bergidik. Perhatiannya sedikit teralih, memberi kesempatan kepada lawan untuk menembak lagi ke arahnya.
"Akar Menjalar!"
Thorn yang kebingungan, refleks mengeluarkan sulur yang diarahkannya ke dahan pohon terdekat. Sulur terikat dengan cepat, menjadikannya seperti tali yang bisa digunakan untuk berayun menghindar. Namun, lawan lebih sigap. Ia menembakkan sinar hijaunya lagi, kali ini mengincar sulur.
Thorn yang masih bergelantungan, terkejut ketika sulur yang digunakannya untuk bergelantungan itu berubah wujud menjadi sesuatu yang lain. Seekor binatang berbadan panjang dan bersisik.
"Huwaaa!"
Thorn panik seketika. Ikatan 'sulur' otomatis terlepas, sehingga kaki Thorn kembali menjejak tanah. Akan tetapi, sulur yang telah berubah menjadi makhluk lain itu masih digenggamnya. Thorn merengek takut, lantas tertawa, sebelum akhirnya berteriak dengan hebohnya.
"Ulaaaaaaar!"
Di tengah kepanikan, Thorn melempar ular jadi-jadian itu ke arah Blaze. Yang dilempari kaget, tapi refleks menangkapnya.
"Woi! Kenapa dilempar ke sini?!" Blaze memprotes. "Ambil ini!"
Ular dilempar kembali ke arah Thorn, yang entah kenapa malah menangkapnya.
"Nggak mau, huweeeee ..."
Dan dilempar balik ke arah Blaze.
"Jangan dilempar ke aku, lah!"
Begitu seterusnya. Gempa yang melihat itu jadi bingung harus tertawa atau marah.
"Thorn, Blaze! Kalian ngapain, sih!"
Daripada mengurusi kedua bocah yang masih lempar-lemparan ular, Gempa kembali fokus kepada musuh. Tepat waktu, karena musuh tengah bersiap menembak lagi ke arah Blaze dan Thorn yang lengah. Dengan sigap, Gempa berlari ke depan kedua remaja itu. Tepat sebelum sinar hijau benar-benar ditembakkan.
"Tanah Pelindung!"
Dalam sedetik, sinar hijau mengenai dinding tanah yang dibuat Gempa, mengubahnya menjadi semacam kerupuk raksasa. Saat Gempa masih terkejut, musuh telah bergerak mendekat sambil mengubah tangan kanannya sendiri menjadi batu.
Begitu tiba di depan dinding kerupuk, ia langsung melepaskan tinju batunya. Dinding rapuh itu hancur dengan mudahnya. Sementara, tinju batu terus melaju mengincar Gempa yang ada di baliknya. Untung saja, Gempa masih sempat menempatkan kedua tangan berbalut tanah keras di depan dada untuk melindungi tubuhnya.
Namun, batu masih lebih kuat. Sarung tangan tanah Gempa hancur, dan tubuhnya terdorong jatuh ke belakang.
"Gempa!"
"Kak Gem!"
Melihat Gempa roboh, Thorn dan Blaze berhenti ribut sendiri. Blaze membuang jauh-jauh ular jelmaan sulur, lantas bersiap untuk membantu Gempa. Begitu pula Thorn, sebelum sesuatu yang tiba-tiba hinggap di batu besar tepat di sampingnya, sontak menarik perhatian remaja pengendali tumbuhan itu.
"Waaah ... ada katak!" serunya riang. "Warnanya ungu! Wa ha ha ha ha ha ... Lucuuu ..."
"Eh? Mana, mana?"
Blaze seketika ikut salah fokus mendengar ada katak berwarna ungu. Ia pun ikut mendekat, lantas mengamati katak misterius itu bersama Thorn.
Sementara itu, dari kejauhan, Gempa pun melihat makhluk itu. Ia mengerutkan kening, merasa tiba-tiba teringat sesuatu, tetapi hanya samar-samar.
"Kalau tidak salah, katak itu, 'kan ..." Gempa tersentak sendiri. "Blaze! Thorn! Jangan lihat matanya!"
Terlambat. Di kedua mata sang katak telah terbentuk pola spiral merah berputar. Mata Blaze serta Thorn telah telanjur terpaku ke sana, dan pola yang sama ikut berputar di mata mereka.
Gempa menggeretakkan rahang. Sejak melihat lawannya yang dapat mengubah bentuk benda-benda, ia sudah merasa aneh dengan tingkah laku orang itu. Seperti tubuh yang bergerak tanpa kesadaran diri. Atau dikendalikan orang lain. Atau makhluk lain.
Gempa bangkit sambil membentuk sarung tangan tanahnya kembali. Ia berpikir satu-dua pukulan mungkin dapat menyadarkan kawan-kawannya. Walaupun itu sedikit kasar.
Namun, belum sempat ia melaksanakan niatnya, seseorang mendadak sudah berada di belakang katak ungu itu. Seseorang itu langsung menutup kedua mata si katak dengan kain merah. Thorn dan Blaze segera tersadar kembali.
"Kalian tidak apa-apa?" orang yang baru datang itu menyapa ramah, sementara Gempa berjalan mendekat sambil mengawasinya.
Ia berbadan tegap, wajahnya tampak ramah kebapakan, menghapus kesan seram dari tubuh putihnya yang dihiasi loreng-loreng merah tua. Gempa mengenalinya sebagai ras manusia harimau yang umum bermukim di sistem Draco.
"Paman siapa?" tanya Blaze.
"Nama saya Tarung." Sang manusia harimau putih menepuk pelan kepala si katak ungu yang entah kenapa sangat tenang. "Saya berkeliling dari planet ke planet untuk mencari spesies langka. Seperti Katakululu ini."
"Katakululu?" ulang Blaze dan Thorn.
"Namanya lucu!" Dan begitulah, dalam sekejap Thorn sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kudengar, Katakululu punya kemampuan hipnotis." Gempa mengabaikan Thorn. "Jadi ... untuk apa Tuan mencarinya?"
"Untuk melindunginya, tentu saja." Tarung menjawab. "Anak ini hanya ketakutan karena ada manusia yang tiba-tiba memasuki wilayahnya. Dia tidak jahat, hanya sistem pertahanan alami tubuhnya untuk melindungi diri."
Setelah sedikit basa-basi, Tarung berpamitan kemudian membawa pergi Katakululu bersamanya.
"Hebat ya, Paman Tarung itu," komentar Blaze dengan mata masih berbinar-binar.
Thorn mengangguk-angguk penuh semangat. Sedangkan Gempa menghela napas lega sambil melepas sarung tangan tanahnya.
"Orang itu juga sepertinya hanya terkena hipnotis Katakululu, sehingga menyerang kita." Gempa memandang ke arah satu orang lagi yang masih berada di sana selain mereka bertiga. Tatapan mereka bertemu, dan orang itu tersentak, tampak takut sekaligus masih kebingungan. "Sebaiknya kita bicara padanya."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Jadi ... kamu berada di sini karena menghindari Jark Matter?" Thorn mengulangi informasi yang baru didengarnya.
"Hei! Kenapa kamu nggak bergabung dengan TAPOPS saja?" cetus Blaze tiba-tiba.
Pemuda itu tersentak. "Kalian anggota TAPOPS?"
"Aku bukan, sih," Blaze menyahut santai. "Tapi walau tidak punya kekuatan, aku akan ikut bertarung bersama mereka."
Gempa berdecak setengah putus asa. "Blaze, sudah kubilang itu terlalu berbahaya!"
"Lebih baik kalian pergi! Jark Matter terlalu kuat! Melawan mereka sama saja bunuh diri!"
Ucapan tiba-tiba si pemuda mengagetkan Blaze dan yang lain. Blaze tampaknya sudah akan mengatakan sesuatu, tetapi terhenti oleh komunikasi dari Hanna yang tiba-tiba masuk lewat Jam Kuasa Gempa.
"Gempa! Kita baru saja mendapat kontak dari kelompok pejuang di Planet Darghaya. Ada desa kecil yang akan diserang oleh pasukan Jark Matter, lokasinya di pinggir hutan tempat kalian sekarang berada! Mereka meminta bantuan, karena posisi mereka saat ini masih terlalu jauh. Tidak akan sempat untuk datang tepat waktu."
"Baik, aku mengerti. Aku dan Thorn segera ke sana."
Komunikasi diputus. Gempa segera beranjak bersama Thorn.
"Tunggu!" seru Blaze. "Aku juga—"
"Tidak!" Gempa menyela tegas. "Kamu tetap di sini."
Pada akhirnya, Blaze hanya bisa bersungut-sungut sendiri sambil memandangi punggung Gempa dan Thorn yang makin menjauh.
"Kamu beneran nggak mau bantu mereka?" Blaze bertanya kepada pemuda pemilik Jam Kuasa hijau itu. Yang ditanya hanya menunduk tanpa semangat. "Pengecut. Kamu nggak pantas memiliki Jam Kuasa itu!"
Ucapan Blaze kali ini membuat sang pemuda akhirnya bereaksi.
"Kamu nggak tahu apa-apa!" Dia mencengkeram pakaian Blaze di bagian depan. "Pikirkan dirimu sendiri! Kamu nggak punya kekuatan, kenapa masih memaksa ingin bertarung?!"
Blaze menepis kasar tangan si pemuda hingga cengkeramannya terlepas.
"Kalau kamu punya kekuatan, kenapa nggak mau bertarung?!" balasnya.
"Aku sudah bertarung!" Suara pemuda itu melemah. "Aku sudah bertarung ... bersama teman-temanku ... Tapi ... mereka semua ... sudah ..."
Blaze terdiam. Matanya menangkap getaran halus di seluruh tubuh si pemuda.
"Maaf, aku memang nggak tahu apa-apa tentangmu." Blaze berbalik membelakangi lawan bicaranya. "Kalau begitu, biar aku saja yang pergi."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Gempa dan Thorn terlibat pertarungan sengit dengan para prajurit Gijimo. Karena hanya berdua, tadinya mereka bermaksud mengutamakan evakuasi warga, tetapi itu pun sulit dilakukan. Seakan keadaan belum cukup genting, tiba-tiba datang pasukan udara Gijimo dengan kendaraan terbangnya yang memiliki senjata laser. Jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi sudah cukup untuk memojokkan kedua anggota TAPOPS.
"Gempa! Thorn! Aku akan membantu kalian!"
Dari arah hutan, tiba-tiba datanglah Blaze dengan kendaraan angkasanya yang masih sedikit berasap. Namun, karena kendaraan itu tidak dilengkapi sistem persenjataan, Blaze hanya bisa menggunakannya untuk menabrak satu-dua kendaraan terbang Gijimo. Lantas ia sendiri melompat ke salah satu kendaraan terdekat, sebelum kendaraannya ikut jatuh.
"Blaze! Jangan nekat!" Gempa berseru sia-sia.
Kendaraan terbang berwarna putih keruh itu terus membawa Blaze naik. Terus menembus lapis demi lapis atmosfer, sementara Blaze hanya bisa berpegangan erat-erat.
"Akan kubuang kau ke luar angkasa!"
Blaze agak kaget ketika Gijimo pengendara benda terbang itu bicara kepadanya. Kecepatan bertambah, hingga kendaraan benar-benar terlepas dari gravitasi. Kemudian melakukan manuver sederhana, cukup untuk menyentak lepas pegangan Blaze, lantas secepatnya berbalik kembali menuju permukaan planet. Meninggalkan Blaze melayang sendirian di ruang angkasa hampa.
Senyap.
Gelap.
Dingin.
Blaze bisa merasakan tubuhnya mulai membeku. Rasanya sangat berat hanya untuk membuka mata. Ia mulai diserang kantuk luar biasa. Rasanya lebih nyaman bila membiarkan kesadarannya terenggut perlahan. Namun, sisi lain dirinya masih menolak untuk menyerah.
Apakah aku akan berakhir di sini?
Pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Blaze. Pertanyaan yang ia sangat tahu jawabannya.
Tidak!
Mata Blaze telah terpejam sempurna. Namun, di dadanya, sesuatu terasa membara.
Aku tidak mau berakhir di sini!
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Nggak mungkin ... Blaze ..."
Thorn menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak bisa fokus setelah melihat apa yang terjadi kepada Blaze. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Gijimo yang hendak menebasnya dari belakang. Beruntung Gempa ada di dekat situ dan langsung mendatangi Gijimo tadi sembari melepaskan satu tinju keras.
"Thorn! Bertahanlah!"
Tepat setelah Gempa berkata begitu, mendadak seberkas cahaya merah berpendar di langit. Garis-garis cahaya membentuk sebuah gambaran yang familier.
"Konstelasi Leo?" Gempa menatap dengan mata melebar antusias. "Mustahil ... Jangan-jangan ...!"
Seluruh tatap mata seolah dirampas oleh pemandangan di langit Darghaya saat ini. Bukan hanya Gempa, tetapi juga Thorn, bahkan para Gijimo. Begitu pula pemuda gempal pemilik Jam Kuasa hijau, yang ternyata mengikuti Blaze ke tempat ini.
"Meteor Berapi!"
Teriakan penuh semangat terdengar dari langit. Hujan meteor tiba-tiba datang entah dari mana. Blaze berdiri di atas salah satu batu meteor terbesar yang tengah meluncur deras ke permukaan tanah, dengan puluhan atau mungkin ratusan batu meteor kecil bersamanya. Makin dekat jarak Blaze, Gempa akhirnya bisa melihat pendar merah terang dari jam di tangan Blaze.
"Itu ... Kuasa elemental api telah bangkit!" serunya.
"Jadi jam punya Blaze beneran Jam Kuasa?" Mata Thorn makin berbinar. "Kereeen~"
Pertarungan kembali berlanjut, kali ini dengan keuntungan di pihak TAPOPS. Meteor-meteor yang dibawa Blaze terus meluncur turun, hingga akhirnya berjatuhan mengenai kumpulan Gijimo. Seolah Blaze bisa mengendalikan arah jatuhnya.
Batu meteor terbesar yang dinaiki Blaze pun akhirnya jatuh menimpa kerumunan Gijimo yang paling ramai. Namun, Blaze sudah terlebih dahulu melompat turun sebelum itu terjadi. Pendaratannya mulus, sebab Blaze mampu menggunakan kuasa api untuk membuat dirinya melayang.
"Aku pasti akan merebut kembali seluruh galaksi!"
Seruan Blaze menyentak semua yang berada di tempat itu. Tak terkecuali sang pemuda pemilik Jam Kuasa hijau. Pemandangan luar biasa yang baru saja disaksikannya, serta sosok Blaze yang sungguh tampak gagah di matanya, telah menimbulkan suatu getaran di hatinya.
Getaran yang berarti semangat untuk tetap berjuang. Dan mungkin juga sedikit keberanian yang dia sendiri pun kaget ketika menyadarinya.
"Aku, Gopal, akan ikut berjuang bersama kalian!"
Seruan tanpa ragu itu menyentak Blaze sejenak, begitu pula Gempa dan Thorn. Blaze tertawa sembari mengacungkan ibu jari kanan kepada rekan barunya. Dengan bantuan Gopal yang mengubah senjata dan zirah musuh menjadi bermacam-macam makanan, sisa-sisa pasukan Gijimo yang tidak seberapa itu pun dapat ditumpas dengan mudah.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Tak sampai setengah jam kemudian, keributan telah mereda. Kelompok pejuang telah tiba, sehingga TAPOPS bisa menyerahkan perlindungan para penduduk desa ke tangan mereka.
Hari nyaris sampai ke penghujung senja ketika Blaze, Gempa, Thorn, bersama Gopal, berkumpul di pinggiran desa. Dekat dengan hutan yang menjadi saksi bergabungnya Blaze dan Gopal ke dalam TAPOPS.
"Dengan begini, lima orang sudah terkumpul!" seru Blaze dengan senyum lebar menghias wajah. "Menurut legenda itu, ada sembilan orang, 'kan? Berarti tinggal empat lagi!"
"Dasar!" Gempa menghela napas pelan. "Mau dipikirkan bagaimanapun, ini memang keberuntungan luar biasa."
"Blaze memang keren!" sambung Thorn sambil ikut tersenyum lebar.
"Aku memang pengecut," kata Gopal tiba-tiba. "Tapi ... aku tidak mau menyerah begitu saja pada Jark Matter. Demi mendiang teman-temanku juga."
Blaze menatap ketiga kawan barunya bergantian. Lantas ia tersenyum lebar sembari mengacungkan ibu jari kanan. Saat ini, perasaannya begitu meluap. Banyak hal ingin dikatakannya, tetapi kata-kata sebanyak apa pun rasanya takkan pernah cukup. Sampai akhirnya ia sadar, saat ini hanya ada satu kata yang bisa mengekspresikan semuanya.
"Terbaik."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Blaze dan kawan-kawan begitu larut di dalam kegembiraan dan perasaan seolah mereka tak terkalahkan. Tak seorang pun dari mereka menyadari, sepasang mata tengah mengawasi mereka dari kegelapan yang mulai merajai hutan.
Sepasang mata tajam beriris biru kehijauan milik manusia harimau putih bernama Tarung.
"Jadi mereka anggota-anggota baru TAPOPS?" pria itu bergumam sendiri. "Mentah."
Sebagaimana kedatangannya yang tak diketahui siapa pun, pria itu berbalik pergi. Lantas menghilang ke dalam pekatnya hutan rimba.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, semua~! Apa kabar? :-D
Bab pertama Blazing Stars akhirnya update setelah sekian lama. Terima kasih sudah sabar menunggu. *bow*
Lumayan banyak karakter yang diperkenalkan di bab ini, juga penjelasan seputar world-building. Semoga nggak terlalu bikin bingung pembaca, ahahaha ... XD *ditabok*
Bab pertama ini sangat berkesan buatku pribadi, karena cukup ribet nulisnya. Gimana caranya biar nggak terlalu 'penuh' dan nggak bikin bosen. Inilah hasilnya. Moga-moga bisa dinikmati. uwu
Oya, sempet bingung itu soal prajurit keroconya. Secara, di BoBoiBoy dan juga Galaxy, hampir nggak ada nama kelompok villain. Pilihanku jatuh kepada sosok alien Gijimo, yang muncul di episode 'cetak rompak' BoBoiBoy Galaxy. Tapi, di sini, 'Gijimo' kujadikan nama ras, alih-alih individu.
Dah, segitu aja deh, cuap-cuapnya. Silakan review dan masukannya.
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya~ ;-)
.
Regards,
kurohimeNoir
9.12.2019
