Chapter 2. Gelap Mata
Biar kata kembali ke kamar, Killua praktis tak istirahat apalagi tidur. Bukan cuma karena hari masih siang. Tak lain, pernyataan Leorio tadi—yang ia ucapkan dengan begitu ringan bak lelucon—tak urung membuat pikirannya kusut bukan alang kepalang. Kekusutan kepalanya tak berkurang, malah bertambah, ketika Gon (digiring Alluka) datang menengoknya untuk minta maaf sekaligus mengecek keadaannya.
Dengan adanya bekal pernyataan Leorio, ia jadi dapat melihat segalanya dalam perspektif baru. Bagaimana kerlingan Gon pada adiknya, misalnya. Atau bagaimana Alluka tanpa sungkan memukul bahu pemuda itu setiap kali ia mengatakan sesuatu yang bodoh. Serta bagaimana sesuatu yang tak nyaman bergerak di perutnya, setiap kali ia melihat gerakan kecil tersebut.
Tapi Gon ... dan Alluka?
Apa, apa, apa yang ia lewatkan?
Ia tahu adiknya akrab dengan Gon bahkan sejak sebelum mereka bertemu lagi sebulan lalu. Killua melarang keras adiknya mengirim foto atau memberi tahu lokasi mereka, atau apapun detail yang kiranya bisa menjadi petunjuk seandainya Milluki mau bersusah-payah melacak keberadaan mereka, tapi toh ia tahu dan tidak melarang mereka saling chat dan bertelepon ria. Sebulan ini, adiknya nyaris mengikuti ke manapun Gon pergi, bahkan saat Killua tidak bersama mereka. Killua dengan bodohnya menganggap bahwa adiknya hanya senang mendapat teman atau mungkin kakak, dan Gon juga senang mendapat adik perempuan yang tak pernah ia punya. Tapi kalau memang ia melewatkan sesuatu, entah apa, yang sangat penting dalam hubungan mereka...
Satu pelajaran yang selalu terngiang di benak Killua dari masa pelatihannya sebagai pembunuh bayaran: ia harus selalu mendahulukan ketepatan ketimbang kecepatan. Pembunuh itu bak ninja—ia bersembunyi di balik bayangan, mengamati, menganalisis, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang dengan presisi dan cepat. Inti dari keberhasilan dalam tugas bukan cuma kecepatan, tapi lebih pada ketepatan menganalisis situasi dan mengambil keputusan. Dan pada proses itu, ia tak boleh membiarkan biarkan apapun—emosi, prasangka, ketakutan—untuk mengeruhkan penilaiannya.
Kali ini juga. Ia tak bisa begitu saja mengambil kesimpulan soal Alluka dan Gon.
Killua memutuskan untuk memasang mata elang. Besok kebetulan hari libur, sehingga Gon tidak perlu pergi ke sekolah. Entah itu keberuntungan atau tidak. Keberuntungan karena artinya ia bisa mengawasi dua orang itu. Tidak bisa dibilang keberuntungan, karena itu artinya Gon dan Alluka punya banyak waktu bersama.
Bersama artinya berdua. Tanpa Killua.
Itu jelas bukan kondisi ideal saat ini. Gon mungkin sahabatnya, tapi ia juga cowok 17 tahun, dan Killua tahu seperti apa pikiran cowok seumurnya. Ditambah, tidak seperti Killua yang bahkan sampai detik ini tidak pernah sekalipun berkencan, Gon sudah berpengalaman dalam soal kencan bahkan sebelum usianya 12 tahun. Jika dulu waktu masih kecil saja ia berhasil menggaet wanita-wanita yang usianya jauh di atasnya (termasuk memikat satu badut pedofil), bagaimana sekarang? Ditambah, sekarang ia bersekolah, pastilah ada saja cewek yang ia kencani dalam tiga tahun terakhir. Obrolan mereka sejauh ini memang tidak pernah merambah ke area-area terlarang, tapi kalau mau jujur, melihat track record-nya, Killua bahkan tidak yakin Gon masih perjaka.
Oke, ia memang masih begitu kekanakan dan inosens, tapi itu memang karakter dasarnya. Malah, justru itu membuatnya makin berbahaya, karena ia dengan mudah bisa memikat dan merayu siapapun tanpa mangsanya sadar bahwa ia masuk perangkap.
Melihat bagaimana Ging mendapatkan Gon waktu usianya 20 (berarti ia menghamili cewek-entah-mana waktu usianya 19, kan?), bukan tidak mungkin Gon juga mewarisi bakat ayahnya. Dengan kondisi Alluka, ia tak perlu khawatir soal kehamilan remaja... Tapi tetap saja, adiknya baru 14 tahun. Dan jika Gon benar-benar seperti ayahnya, lalu satu saat ia meninggalkan Alluka begitu saja sesudah merenggut keperawanannya...
Sungguh Killua bergidik memikirkannya. Sebaiknya hal itu tidak perlu terjadi, sehingga ia tak harus berurusan dengan apapun kekusutan setelahnya. Nah, untuk memastikan hal itu, ia harus benar-benar mengawasi keduanya.
.
.
Benar saja, ia merasa seperti kutu.
Pagi itu, Killua, Alluka, dan Gon berjalan bertiga ke pasar terdekat untuk belanja. Mito-san sudah berangkat sebelum fajar—ia bukan cuma penjaga bar, tetapi juga seorang bidan, Killua baru tahu—karena katanya harus membantu orang melahirkan. Ketika ia turun, Leorio dan Kurapika sibuk dengan teleponnya masing-masing. Leorio tampaknya berusaha meyakinkan profesornya di kampus untuk mengizinkannya membolos lagi untuk 'tugas Hunter', sedangkan Kurapika tengah mengurus 'bisnis' dengan wajah tegang—dari beberapa patah kata yang Killua tangkap, sepertinya beberapa anak buahnya terlibat masalah dengan geng lain, sehingga ia harus turun tangan mengatasinya. Alhasil, mereka tak bisa ikut ketika Gon mengajak mereka semua ke kota, karena rupanya bahan makanan sudah habis.
Dalam hati Killua bingung. Kemarin Gon masak untuk orang sekampung, kenapa juga pagi ini sudah tak ada sisa sedikitpun? Apa Gon menghabiskannya? Kadang-kadang ia suka bertanya-tanya ular macam apa yang bersarang di perut sahabatnya, mengingat makannya setara dengan sepuluh ekor kuda. Ia memang masih dalam masa pertumbuhan, tapi sungguh nafsu makannya sangat berlebihan. Semoga saja nanti dia tidak jadi seperti Milluki.
Gon dan Alluka tadinya pergi berdua saja, berhubung Gon masih merasa bersalah karena membuat Killua sakit dan tidak tega membangunkannya. Mendengar hal itu dari Leorio ketika ia turun untuk mengambil minum, tentu saja alarm di kepala Killua langsung berdering keras. Tanpa pikir panjang, ia langsung mencuci muka dan menggosok gigi seadanya, lantas berlari menyusul dua orang itu.
Dan ia menyesal.
Betapa tidak, ia merasa bagai orang ketiga. Ia yang berjalan di belakang mereka berdua, ketika mereka berjalan berendengan menelusuri jalan setapak ke hutan. Ia yang berdiri bersandar pada sebatang pohon, sekitar semeter dari mereka, ketika Gon menunjukkan sarang kelinci di salah satu relung pohon di hutan. Ia yang hanya diam mengawasi, ketika Gon memetikkan mulberry liar dan Alluka mencicipinya dengan agak meringis, karena rupanya rasanya terlalu asam. Ia juga yang menggemeretakkan gigi dengan tangan terkepal, ketika Gon memetik bunga-bunga liar, merangkaikannya dalam lilitan mahkota bunga, dan menyematkannya di kepala Alluka.
Dalam hati ia mengutuk. Si sial Gon itu berani-beraninya terang-terangan menjadikannya orang ketiga, seolah bilang, "Aku tidak ingin kau di sini, Killua... Kumohon mengertilah sedikit, aku ingin pdkt dengan adikmu." Masalahnya, Gon salah besar kalau ia pikir Killua akan tahu diri lantas mundur memberi ruang agar ia bisa leluasa merayu adiknya. Terlebih, Gon sendiri tidak pernah bilang apa-apa, lebih lagi minta izin. Begitu, ia kira Killua akan menerimanya sebagai adik ipar?
.
Mereka menyelesaikan belanja dengan cepat, lalu kembali ke rumah melewati hutan. Biar kata hari kemarin ikan melimpah, hari ini tidak ada ikan di pasar—katanya ada bos besar dari daratan yang memborong ikan, mungkin ia bahagia tak perlu mengeluarkan ongkos untuk melaut sehari. Leorio bilang Kurapika belakangan diet anti daging merah dan unggas, entah apa alasannya, jadi mereka memutuskan untuk memancing sebentar sebelum kembali ke rumah. Killua sudah mengatakan percuma, tidak akan ada ikan dalam beberapa hari ini karena insiden kemarin lusa, tapi Gon bilang ia tahu danau yang pastinya masih dihuni ikan, jadi ke sanalah mereka menuju.
Danau yang dikatakan Gon rupanya adalah danau yang pernah dikunjunginya dulu, dulu sekali, sewaktu ia berkunjung ke Pulau Paus ketika usianya masih 12. Gon mengambil posisinya di sebuah tebing tinggi yang menjorok ke danau, sekitar 10 meter dari permukaan danau. Sebatang pohon dengan dahan-dahannya yang besar menudungi mereka dari matahari yang mulai memanjat naik.
"Hebat!" seru Alluka, bertepuk tangan begitu Gon menarik kailnya. Ikan itu melayang di udara, menggelepar-gelepar di ujung mata pancing, sebelum Gon menaruhnya di ember yang entah ia dapat dari mana.
"Satu jam cuma dapat satu...," gerutu Killua, melongokkan kepalanya ke ember berisi air tempat si ikan tadi berenang berputar-putar. Gon selalu bersikeras membawa ikan tangkapannya pulang dalam keadaan hidup, katanya jauh lebih segar sewaktu mengolahnya nanti.
"Salah siapa memang?" balas Gon sambil lalu, mengaitkan cacing di ujung kail dan melemparkannya lagi.
"Tidak ada hubungannya denganku! Danau ini kan terpisah dari laut!" seru Killua, jelas tidak mau disalahkan. "Lagipula siapa yang melemparku?"
"Sudah, sudah," Alluka melerai. "Daripada begitu, Gon, coba ajari aku. Aku juga mau coba memancing!" katanya yang langsung mendapat perhatian Gon. Di depan mata Killua, ia beringsut mendekati Alluka, kemudian membimbing tangannya untuk mengambil pose 'cara memancing yang benar'.
Dalam benak Killua, bermain adegan entah berapa tahun lalu, ketika Gon mengajarinya hal yang sama. Memasang umpan, melontarkan kail, menarik-ulur pancing, hingga mendapatkan hadiah yang dinanti. Kini saat ia melihat hal yang sama di hadapannya, baru ia sadari perbedaan antara apa yang dilakukan Gon dahulu, padanya, dan sekarang, pada Alluka.
Gon tidak pernah menyentuhnya, dulu waktu ia mengajarinya memancing. Ia tidak membantunya memasang umpan. Ia tidak membetulkan posisi tangannya, kala mengambil ancang-ancang untuk melempar kail. Ia tidak tertawa seperti itu, kala kail yang dilempar Alluka justru mengait dahan pohon. Dan jelas ia tidak merangkul tubuhnya dari belakang, dengan alasan membantunya 'memegang joran dengan benar', 'menegakkan posisi', atau semacamnya. Ia juga tidak membisikkannya petunjuk demi petunjuk dengan suara demikian lembut, dengan jarak yang begitu dekat...
Entah mengapa, itu membuat Killua mual.
Ia ingin berteriak, "Jangan menyentuh adikku!" atau semacamnya, karena jelas, sejauh ini apa yang mereka berdua lakukan terlihat inosens. Memang ada kemungkinan Gon tertarik pada Alluka, tapi bisa jadi juga ia hanya menganggapnya sebagai adik, kan? Gon toh memang selalu kelewat akrab dengan semua orang... Dan sangat memalukan, jika ia terlihat terlalu campur tangan dan protektif, apalagi jika dugaannya salah. Terlebih, Alluka pun sama sekali tak terlihat keberatan dengan semua perhatian yang diberikan Gon.
Jika Gon memang menyukai Alluka, ia akan bilang terlebih dahulu pada Killua, kan? Meminta izinnya atau semacamnya...
Ya, ia mungkin terlalu berlebihan. Alluka punya tiga kakak, tapi sejauh ini hanya satu orang yang benar-benar memperlakukannya sebagai adik, bukan, hanya satu orang yang menganggapnya manusia. Dan Gon malah anak tunggal. Mungkin memang seperti Killua, Gon mungkin hanya berusaha menjadi kakak yang baik bagi Alluka.
"Oh, Killua, mau ke mana?" Gon mengalihkan perhatiannya dari upayanya memberi tahu Alluka tanda-tanda jika ada ikan yang menarik umpannya, ketika disadarinya Killua bangkit dari posisi duduknya di batu besar di pinggir tebing.
"Mau ke belakang," jawab Killua singkat.
"Oh, oke," ia mengacungkan jempol sembari memberikan cengirannya. Itu masih ditambah sedikit kedipan yang membuat Killua mengerung, sebelum kembali mendaratkan perhatiannya pada Alluka. Ketika Killua berjalan menjauh, ia bisa mendengar kedua orang itu mendadak heboh. Tampaknya betulan ada ikan yang memakan umpan, dan kini Gon berusaha memberi pelajaran cara menarik-ulur tali pancing untuk membuat si ikan kelelahan, sebelum menunggu saat yang tepat untuk memutar reel pancing.
Apapunlah. Killua merasa butuh mendinginkan kepala.
.
Ketika ia kembali, apa yang dilihatnya membuat jantungnya serasa diremas begitu keras hingga berhenti berdetak.
Di sana, di bawah pohon yang menjadi tempat kenangan berharganya bersama Gon, dilihatnya sahabatnya—orang yang selama ini begitu dekat dengannya, orang yang deminya ia siap mengorbankan apapun, bahkan nyawa—sedang berciuman dengan adiknya.
Berciuman mungkin adalah kata yang salah, karena bagaimanapun, itu mengindikasikan tindakan resiprokal. Yang lebih tepat mungkin Gon mencium adiknya—bisa terlihat dari tubuhnya yang condong ke arah Alluka, tangannya di tengkuk Alluka, matanya yang terpejam... Sementara Alluka tampak terpana seolah tak tahu yang harus ia lakukan. Tangannya tertangkup di dadanya, dan matanya tampak membelalak, seolah tak menyangka datangnya ciuman itu. Tapi itu mungkin hanya beberapa detik, karena berikutnya mata Alluka terpejam perlahan, dan ia menelengkan kepalanya sedikit, membalas sekaligus memberi akses bagi Gon untuk memperdalam ciumannya...
Suara entah-apa membuat Gon melirik ke arahnya. Mata coklat itu mengembang nanar, dan detik itu pula ia memutus ciumannya.
Jantung Killua yang sempat berhenti langsung mengguruh, dan tanpa ia sadari benar-benar, ia melesat menerjang Gon.
"Ki-Killua ... tu-tunggu!"
Jawaban bagi seruan Gon adalah cakar yang langsung mengarah ke dadanya. Untung Gon sudah terlatih untuk menghindari serangan Killua, karena kalau tidak, pasti ia sudah menjadi lembar-lembar tipis daging Wagyu sekarang, siap untuk dipanggang di atas bara. Tapi bukan berarti ia bisa dengan mudah lolos. Killua dalam kondisi biasa saja sudah sangat berbahaya, bahkan walau tanpa nen, apalagi dalam mode pembunuh.
"Ki-Killua!" teriak Gon, bersaput rasa perih, ketika cakar Killua berhasil menggores lengannya. "Hentikan, kumohon!"
Killua tak menggubris. Ia masih menyerang membabi-buta. Jauh di luar kesadarannya, ia bisa mendengar seseorang—Alluka?—berteriak ngeri, tetapi ia bahkan tak bisa menjangkau kesadarannya untuk menghentikan serangannya.
Ia merunduk pada saat yang tepat ketika Killua berusaha menyabet lehernya, tepat di hadapan sebatang pohon. Mungkin gerakan itu memang direncanakan, karena alih-alih membuntunginya, cakar Killua justru terperangkap di batang pohon.
"Killua, kumohon!" seru Gon frustrasi, melompat menjauh. "Dengarkan penjelasanku!"
"Apa yang harus kudengar?" Killua mencabut cakarnya dari batang pohon. "Kau jelas-jelas punya maksud buruk pada adikku!"
"Itu bukan … uhm, maksudku, aku tidak memaksa atau semacamnya! Ini murni suka sama suka!"
Kata-kata itu justru membuat Killua meradang. "Suka sama suka, hah?!" geramnya. "Berarti memang benar kau berniat yang bukan-bukan! Kaupikir aku akan membiarkanmu? Akan kupotong anumu sebelum kau menyentuh Alluka!"
"Uwaaaaaa, Ki-Killua! Tu-Tungguuuuuu!"
"Rasakan ini! Izutsushi!"
"KI-KILLUAAAAA!"
Killua dengan kecepatan Kanmaru dan Jurus Tapak Petir-nya jelas bukan tandingan Gon. Dalam sekejap, ia sudah terkapar dengan seluruh tubuh mengeluarkan asap. Ia masih sadar, tentu, butuh lebih dari sekadar petir dalam voltase tadi untuk benar-benar menumbangkan Gon. Tapi justru itu yang Killua inginkan.
"Kau harus bersyukur aku tidak menyerangmu dengan Narukami, karena kalau begitu, kau pasti sudah jadi babi panggang sekarang," Killua menatap lawannya yang terkapar di tanah dengan tatapan membunuh. "Sekarang bersiaplah!" ia mengangkat tangannya, menyengajakan mengeluarkan cakarnya di hadapan Gon untuk memberinya ketakutan maksimal. "Ucapkan selamat tinggal pada anumu!"
"ONIICHAN!"
Entah bagaimana, tahu-tahu Alluka sudah berlutut di hadapannya, kedua tangannya terentang menghalangi Killua.
"Minggir, Alluka!"
"Oniichan tidak boleh jahat sama Gon!"
"Aku berusaha melindungimu, tahu!"
"Gon bukan orang jahat!"
"Di-dia berusaha melakukan hal buruk padamu!"
"Hal buruk apa? Tadi Gon sudah bilang, dia tidak memaksaku! Aku juga cinta Gon, Killu-nii!"
"Ta-tahu apa kau soal cinta! Kau masih 14!"
"Terus kenapa? Aku bukan anak kecil lagi! Aku tahu perasaanku sendiri!"
"Perasaan apa? Kata siapa itu cinta? Kau masih terlalu muda, kau tidak bisa membedakan mana cinta dan mana yang cuma sekadar suka!"
Atau persahabatan... Atau simpati... Atau kekaguman...
"Cuma karena Oniichan tidak pernah jatuh cinta, bukan berarti aku tidak bisa merasakan cinta!"
Tidak pernah jatuh cinta, dia bilang?
"Ka-kau belum cukup umur, Alluka!"
"Umur, umur, umur! Kenapa selalu itu masalahnya? Sudah kubilang aku bukan anak kecil! Kau tidak bisa terus mengaturku, Killu-nii!"
"Aku tahu yang terbaik untukmu!"
"Uh, kau sama saja dengan Illu-nii!"
Kata-kata Alluka tegas menohoknya. Illumi? Alluka menyamakannya dengan Illumi?
Memori dan pengetahuan Alluka mengenai Illumi mungkin sangat terbatas. Ia hanya tahu Illumi sebagai sosok yang kerap mendatanginya di selnya, mengantar pelayan untuk memenuhi kebutuhannya atau sesekali memeriksa keadaannya. Oh, ia juga tahu Illumi sebagai salah satu orang yang mengejarnya, sewaktu Insiden Gon beberapa tahun lalu, dan masih hingga kini. Selama perjalanan mereka, Killua sempat menjelaskan siapa Illumi dan apa arti keberadaannya bagi mereka berdua. Yang jujur saja, mungkin sangat subyektif. Di benak Alluka, seperti apa yang dijejali Killua padanya, Illumi adalah tokoh antagonis utama dalam hidup mereka, sosok kakak yang kelewat suka mengatur dan sama sekali tak mengerti arti 'kebebasan'. Sosok yang harus mereka hindari seumur hidup, jika mereka bahkan ingin mencecap udara.
Dan kini, Alluka menyamakannya dengan Illumi?
Killua menyarungkan cakar dan kembali menegakkan dirinya. "Oke, kalau kaupikir kau tahu yang terbaik. Asal jangan datang menangis padaku kalau ada apa-apa."
Dengan itu ia berbalik, dan lekas menembus pepohonan untuk kembali ke rumah Mito-san. Ia bahkan tidak ingat untuk memerintahkan Nanika menyembuhkan Gon.
