Sabaku Gaara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hujan deras mengguyur Tokyo pagi itu sehingga jalanan terlihat samar-samar dan pagi yang harusnya cerah malah terlihat seperti malam. Sempat terpikir oleh Gaara untuk berhenti sejenak dan menunggu hujan sedikit lebih reda. Namun ia ada meeting dengan salah satu perusahaan terkait kerja sama yang akan mereka jalin. Jadi ia tidak punya waktu untuk berhenti dan menunggu hujan deras ini mereda. Tapi untuk keselamatannya, Gaara memilih untuk memperlambat kecepatan mobilnya.
Lima menit berjalan dengan kecepatan yang menurut Gaara sama dengan jalannya siput, hujan akhirnya mereda. Langit mulai menunjukkan warna kebiruannya dan jalanan mulai terlihat dengan jelas. Hujan masih turun namun tidak selebat tadi. Di tepi jalan, Gaara melihat seorag wanita yang melambaikan tangannya pada setiap pengendara yang lewat. Dari ekspresi wajahnya Gaara tahu bahwa wanita itu tengah meminta pertolongan.
Gaara adalah anak yang selalu mendengar nasihat ibunya. Sabaku Karura selalu berpesan agar anak-anaknya selalu membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Apalagi kalau kita adala dalam kondisi yang mampu untuk menolong. Karena itu tanpa berpikir, Gaara menghentikan mobilnya tepat di depan mobil putih itu. Gaara mengambil payung di bawah bangku belakang dan keluar dari mobilnya. Wanita itu sudah basah kuyup, namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia lega karena ada yang menolongnya. Ada dua pertanyaan yang muncuk dibenak Gaara pada detik pertama ia sampai di depan wanita itu dan memberikan payungnya. Pertama, bagaimana mungkin seorang wanita bisa terlihat sangat cantik bahkan dibawah guyuran hujan dengan bibir yang membiru? Kedua, apa yang terjadi pada jantungnya yang mendadak drum show hanya karena menatap mata sebiru langit wanita itu?
.
.
.
The HusBoss Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.
Story By : Yana Kim
Lenght : Chaptered
Rate : M
WARNING!
Cerita diciptakan untuk dinikmati juga dihargai. Apabila terdapat kesalahan pada penulisan dan penggambaran karakter, harap maklum ya guys.
Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino
SUM:
Husband plus Boss. Yamanaka Ino, manager Divisi PR yang bertugas menyelesaikan masalah yang dibuat oleh bosnya, Uchiha Sasuke. Bos tempramen yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Ino berharap ia segera menemukan lelaki yang ia cintai dan mencintainya sehingga ia terbebas dari Sasuke.
.
.
.
Dua
.
.
.
"Dia kehujanan! Badannya panas sekali! Jangan banyak tanya lagi, cepat datang kemari Kabuto brengsek! Kalau tidak aku akan membunuhmu dan membuang mayatmu ke jurang!"
Sasuke menutup telponnya dan melemparkan benda persegi panjang itu ke sofa. Ia gusar sendiri. Pingsannya Ino tidak ada dalam bayangannya. Baru saja ia merasa menang karena Ino tidak punya balasan untuk melawan perkataannya. Bukannya tidak bisa membalas, ternyata wanita itu sedang sakit. Sasuke memandang pada Ino yang tengah berbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat dan tubuhnya panas sekali. Ini pertama kalinya Ino sakit setelah enam bulan pernikahan mereka. Wanita itu selalu terlihat fit dan tangguh. Melihat keadaan Ino saat ini entah kenapa membuat Sasuke merasa lebih baik kalau wanita itu sehat dan membalas setiap kata-katanya dengan nada ketus nan dingin yang selalu berhasil mempermainkan emosi Sasuke.
Kabuto datang dua puluh menit kemudian. Sasuke langsung menggiring pria itu ke kamar mereka dimana Ino berada. Kabuto langsung memulai pemeriksaan. Hanya butuh lima menit baginya untuk menyelesaikan kegiatannya. Tangannya dengan gesit mengeluarkan plester penurun panas dari dalam tas kerjanya dan menempelkannya pada kening Ino. Kemudian dia mengeluarkan lagi tiga jenis jenis obat.
"Bagaimana?" tanya Sasuke. Kelihatan tidak sabar.
"Demamnya cukup tinggi. Ini obat penurun demamnya, juga vitamin C untuk daya tahan tubuhnya. Semuanya tiga kali sehari. Kalau demamnya sudah turun tidak perlu di berikan lagi." Kabuto melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ini jam lima sore. Nanti sekitar jam sepuluh ganti plesternya. Kalau bisa bangunkan dia untuk makan malam sebelum meminum obatnya. Jangan makanan yang keras ya. Dia pingsan karena tensi darahnya rendah. Mungkin dia belum makan sejak kehujanan tadi." Kabuto meletakkan sekotak plester penurun demam di nakas bersamaan dengan obat lainnya.
"Hn. Terimakasih."
"Aku pulang dulu. Hei, jangan panik begitu. Ini hanya demam." Kabuto tertawa.
"Aku tidak panik."
Kabuto hanya mendengus.
"Sudah lama sejak aku melihatmu panik begini. Terakhir pada saat... pada saat itu." Kabuto berdeham, kemudian menepuk pelan bahu Sasuke sebelum beranjak dari kamar itu.
"Jangan lupa transfer biaya pengobatannya. Aku hanya dokter dengan klinik kecil di pinggir kota, tahu."
"Hn. Hati-hati."
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika Sasuke selesai dengan kegiatannya di dapur. Pria itu baru saja menyelesaikan masakannya. Hanya bubur putih yang dimasak sedemikian rupa dengan cara mencampurkan sup ayam kedalamnya saat memasak. Bubur dengan resep rahasia yang selalu dimakannya saat sakit. Entah kenapa ia memikirkan bubur ini untuk di berikan kepada Ino. Ya, wanita itu memang sedang sakit. Tapi Sasuke tidak tahu kenapa dirinya punya inisiatif untuk memasak makanan itu. Makanan yang secara pribadi punya kenangan tersendiri untuknya.
Ia menuangkan bubur itu kedalam sebuah mangkuk berukuran sedang. Sambil menunggu makanan itu agak mendingin, Sasuke membuat segelah teh hangat dengan teh hitam yang dibawa ibunya sebagai oleh-oleh dari Inggris. Sasuke meletakkan bubur dan juga teh yang sudah di buatnya keatas sebuah nampan. Ia kemudian berjalan ke kamar mereka untuk membangunkan Ino. Seperti kata Kabuto, Ino butuh makan sebelum mengkonsumsi obatnya.
Saat Sasuke masuk, Ino sudah membuka matanya. Manik birunya memandang kosong pada langit-langit kamar yang polos. Tidak merasa terkecoh oleh kedatangan Sasuke.
"Baguslah kau sudah bangun. Makan ini."
Sasuke meletakkan nampan itu di atas nakas, tepat di sebelah obat yang diberikan Kabuto. Suara Sasuke membuat Ino mengalihkan pandangannya. Ia mendudukkan dirinya dengan perlahan karena masih lemas akibat demam. Kini ia memandang pada semangkuk bubur dan segelas teh yang ada di sana.
"Aku tidak tahu kalau akan peduli padaku?" Ino berujar lemas. Sasuke melipat tangannya di dada.
"Aku melakukannya bukan karena aku peduli. Tapi karena akan jadi masalah kalau ibu datang tiba-tiba, melihatmu sakit dan melihat aku tidak melakukan apa-apa. Bisa-bisa aku di bunuhnya. Kau lupa sekarang yang jadi anaknya itu kau, bukan aku."
"Ibu akan datang?" tanya Ino.
"Tidak. Ini untuk jaga-jaga."
Sasuke selalu sukses membuatnya kesal. Tapi Ino tahu, saat ini dia dalam kondisi yang memang harus menerima apa yang telah Sasuke siapkan. Perlahan ia mengambil mangkuk bubur dan dari nakas di sebelahnya dan mulai memakannya. Sasuke sendiri hanya berdiri menonton Ino menghabiskan buburnya walaupun dalam waktu yang cukup lama. Setelah Ino menyelesaikan suapan terakhir, Sasuke mengambil mangkuk itu dan meletakkannya ke tempat semula dan mengambil teh untuk memberikannya pada Ino. Ia kemudian mengambil tiga butir obat dari tiga strip yang disediakan oleh Kabuto dan memberikannya pada Ino.
Ino menerimanya dan meminumnya. Sasuke kembali mengambil gelas dari Ino dan meletakkannya dinampan. Ia kemudian beranjak dari kamar dengan membawa nampan berisi mangkuk dan gelas yang sudah kosong itu tanpa suara. Ino memandang Sasuke yang sudah berlalu. Merasa tidak ada yang bisa di lakukan, Ino kembali membaringkan dirinya.
Sasuke kembali ke kamar ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Selesai membereskan dapur dari kegiatan masaknya juga bekas makan Ino tadi, Sasuke memilih untuk ke perpustakaan yang merangkap sebagai ruang kerjanya. Ino sudah tertidur ketika ia masuk. Sasuke langsung menuju kamar mandi untuk menyikat giginya. Ia cukup mengantuk, sehingga tanpa membuang waktu lagi ia segera naik ke tempat tidur.
Sasuke berbaring membelakangi Ino. Ia juga membiarkan Ino menguasai selimut malam itu. Biasanya ia tidak akan mau mengalah. Ia tidak suka panas, namun merasa terlalu dingin bila AC dinyalakan. Untungnya selimut mereka sangat lebar sehingga tidak masalah untuk berbagi selimut meskipun sepanjang malam mereka tidur dengan saling membelakangi.
Baru saja akan memejamkan matanya, Sasuke tiba-tiba teringat akan pesan dari Kabuto. Ia harus mengganti plester penurun panas Ino dengan yang baru agar demam Ino segera turun. Menghela nafas, Sasuke bangkit dan mendudukkan dirinya. Dengan perlahan Sasuke membuka plester yang sebelumnya tertempel di kening Ino. Kemudian tanpa turun dari kasur, Sasuke mengambil sebuah plester dari kotak plester penurun panas yang ada di nakas di sebelah Ino. Tak lupa ia membuka stiker pelapisnya. Dengan perlahan pula, ia menurunkan posisinya agar bisa menempelkan benda itu pada kening Ino. Karena sensasi dingin yang di rasakan di permukaan kulitnya, membuat Ino membuka matanya. Hal pertama yang di lihatnya adalah onyx Sasuke yang berada sangat dekat dengannya. Keduanya saling bertatapan selama tiga detik, sebelum akhirnya saling membuang muka. Ino memalingkan wajahnya ke arah berlawanan sedangkan Sasuke yang sebelumnya duduk pun segera memalingkan wajahnya kearah lain. Dengan canggung, Sasuke membaringkan dirinya dan mencoba memejamkan matanya.
"Terimakasih."
Belum lima detik Sasuke memejamkan matanya, ia mendengar suara Ino.
"Hn." Masih dalam posisinya, Sasuke menyahut. Ia hanya melakukan perintah Kabuto. Ya, hanya itu.
Pasangan yang saling membelakangi itu memejamkan mata mereka. Dalam hati keduanya berharap, agar suara detak jantung yang berdegub abnormal itu, tidak didengar oleh satu sama lain.
.
.
.
Paginya Ino sudah merasa lebih baik. Kepalanya tidak lagi pusing dan ia merasa demamnya sudah mendingan. Sasuke masih berbaring di sampingnya. Hanya saja posisinya tidak lagi membelakangi. Pria itu berbaring telentang dengan lengan yang menutupi wajahnya. Ia merasa sanggup untuk masuk kerja hari ini. Karena itu Ino segera beranjak ke kamar mandi untuk kemudian menuju dapur dan memasak.
Saat melewati wastafel, Ino berhenti. Ia memandang pada cermin yang menampilkan wajahnya dengan sebuah plester penurun panas yang menutupi sepanjang keningnya. Tangannya naik menyentuh benda putih itu. Ingatannya otomatis bergerak menuju kejadian semalam dimana Sasuke merawatnya. Bisa dibilang merawat kan? Pria itu membuatkan makanan untuknya dan menyiapkan obatnya serta mengganti plesternya. Ino heran karena sejak mengenal Sasuke, pria itu bukanlah orang yang peduli dengan sekitar. Tapi kembali lagi pada alasan pria itu. Ia hanya merasa bertanggung jawab dan jaga-jaga kalau-kalau ibunya datang. Ya, hanya itu. Ino menegaskan pada hatinya untuk tidak terpengaruh pada perhatian tanpa ikhlas yang laki-laki itu lakukan tadi malam. Toh, ia juga sudah berterimakasih.
Selesai mandi, Ino memilih untuk menyiapkan sarapan. Mungkin sedikit istimewa tidak apa-apa mengingat apa yang sudah Sasuke lakukan. Ia menyiapkan kare daging dengan ekstra tomat. Ino tahu kalau Sasuke adalah penggemar tomat dari mertuanya. Mikoto juga meminta Ino untuk memasok tomat saat wanita itu belanja bulanan karena Sasuke sering kali memakan tomat sebagai snack dan jus tomat sebagai minumannya.
Sasuke belum bangun bahkan saat Ino selesai masak, sarapan dan kembali ke kamar untuk bersiap. Ini berarti pria itu memilih untuk berangkat siang. Selesai berpakaian, Ino segera berangkat ke kantor. Ia mendapati mobilnya sudah terparkir sempurna di garasi. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Sasuke. Ino segera mengeluarkan mobilnya dan berlalu dari sana.
Sesampainya di kantor, Ino disambut oleh wajah khawatir Moegi. Gadis itu juga lega karena kondisi Ino sudah lebih baik. Untungnya kemarin tidak ada masalah apapun yang terjadi jadi unit kerja mereka bisa melalui hari dengan tenang.
Ino memilih memeriksa laporan bawahannya terkait kerja sama mereka untuk iklan promosi produk baru Uchiha Corp yang akan launching seminggu lagi. Promosi memang tugas unit marketing, tapi menjalin hubungan yang baik adalah tugas mereka. Ino menghabis waktu di ruangannya sampai telepon di sudut kanan mejanya berdering. Matanya melirik ke arah jam di dinding sebelum mengangkatnya.
"Siang, dengan Yamanaka."
"Yamanaka-san. Ada yang mencari anda. Namanya Sabaku-san. Apa anda ingin bertemu?" Ternyata bagian resepsionis. Hanya Ayame dari resepsionis yang punya suara layaknya operator layanan telepon. Ino cukup kaget mendengar nama yang di sebutkan Ayame. Tidak menyangka kalau orang itu akan datang ke kantornya.
"Oh. Boleh minta seseorang mengantar beliau ke ruanganku, Ayame-san?"
"Baik, Yamanaka-san."
"Terimakasih, Ayame-san."
Ino menutup telepon. Tangannya dengan sigap mengambil pouch kecil yang ada di laci kana mejanya dan mengeluarkan sebuah cermin kecil. Ia meneliti wajahnya. Make upnya masih oke. Cepolan rambutnya juga masih rapi. Ino menyimpan pouch berisi make up misi set dan juga cermin kecil itu. Ia melirik pada pakaiannya. Setelan rok dan blazer coklatnya masih rapi, begitu juga dengan kemeja berenda berwarna krim yang ada di balik blazernya.
Ketukan pintu membuatnya menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara ketukan pada pintunya. Entah kenapa ia jadi merasa gugup.
"Silahkan masuk," Ino berseru pelan dan kemudian bangkit dari duduknya dan menyambut orang itu.
Pria itu datang bersama dengan seorang office boy yang Ino ketahui bernama Lee. Dia adalah Sabaku Gaara. Pria berambut merah dengan mata jade yang mempesona. Dia adalah orang yang menolong Ino mengatasi masalah mobilnya di tengah hujan kemarin.
"Saya permisi, Yamanaka-san."
"Terimakasih, Lee."
Lee beranjak dari sana dan menutup pintu ruangan Ino. Ruangan Ino memang menggunakan material kaca pada sebagian dinding yang mengarah pada kubikel bawahannya. Sehingga dari ruangannya, Ino bisa melihat Moegi mengintip dari pembatas kubikelnya bersama dengan Udon.
"Selamat datang, Sabaku-san. Silahkan duduk." Ino mengarahkan Gaara pada satu set sofa yang ada di sudut ruangannya, tempat dimana ia biasanya bertemy dengan tamunya. Ino duduk pada salah satu sofa tunggal sedangkan Gaara pada sofa yang panjang.
"Saya tidak menyangka anda akan datang. Ah, akan saya panggikan OB untuk mengantarkan minuman." Entah kenapa Ino mendadak gugup berhadapan dengan pria ini. Mereka sudah berkenalan kemarin, karena itula Gaara tahu kalau Ino berkerja di perusahaan Uchiha, begitu juga dengan Ino yang mengetahui kalau Gaara adalah Direktur dari perusahaan yang menciptakan rangkaian skin care yang ia gunakan sehari-hari, Sands Group.
"Tidak perlu, Yamakana-san. Sebenarnya aku kemari karena ingin mengajakmu makan siang."
Ino tidak jadi bangkit untuk menelepon pihak OB. Atensinya memandang pada Gaara yang memandangnya dengan mata hijau yang dingin namun meneduhkan disaat bersamaan itu.
"Makan siang?" tanya Ino seolah memastikan padahal ia sudah mendengarnya dengan jelas. Gaara mengangguk.
"Aku harap kau tidak keberatan. Aku ingat kemarin kau bilang ingin membalas apa yang sudah aku lakukan."
Ino masih terdiam. Berpikir apakah tidak apa-apa makan siang dengan pria yang baru dikenalnya kemarin. Meskipun pria ini sudah membantunya dan identitasnya jelas, tapi Ino seakan masih ragu.
"Kalau kau keberatan, tidak apa-apa. Aku bisa pergi."
"Saya tidak keberatan." Ino menjawab cepat sebelum pria ini hendak beranjak dari duduknya. Ia sendiri yang berjanji akan membalas kebaikan pria ini. Agar tidak merasa berhutang budi, Ino akan menerima ajakan pria ini.
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat?" tanya Gaara.
"Saya yang akan membayar billnya." Ino memberikan senyuman terbaiknya. Senyum yang ternyata menular hingga Gaara ikut mengangkat sudut bibirnya.
"Aku setuju."
.
.
.
Sasuke memilih untuk datang ke kantor siang hari. Ia bangun pukul sembilan karena lapar dan mendapati kare dalam panci di atas kompor. Sasuke selalu menyukai masakan Ino. Kenyataan bahwa wanita itu selalu menambahkan ekstra tomat untuk makanannya membuat Sasuke berpikir bahwa setidaknya Ino menghargai Sasuke sebagai suaminya. Masakan Ino tidak pernah mengecewakannya meskipun mulut wanita itu sepedas Carolina Reaper. Selesai makan, Sasuke memutuskan untuk berleha-leha sambil menonton tv sembari menunggu niatnya untuk bersiap ke kantor muncul. Juugo sudah mengatakan kalau hari ini Sasuke tidak mempunyai jadwal genting. Sasuke tidak tahu kalau acara gosip selebriti ternyata cukup menarik. Ia bahkan tidak menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul dua belas kalau saja Juugo tidak meneleponnya.
Sasuke tiba di kantor tiga puluh menit kemudian. Juugo menyambutnya Di depan pintu masuk sementara petugas keamanan memarkirkan mobilnya.
"Selamat datang, Uchiha-sama."
"Hn." Sasuke membalas salam Juugo sekenanya. Keduanya berjalan memasuki lobi dan sedang menunggu sebuah lift yang akan turun.
"Sands Group tiba-tiba mengirimkan proposal kerja sama dengan mereka. Karena ini cukup menarik dari segi keuntungan dan perkembangan kita, saya rasa anda harus segera melihatnya."
"Oh ya?" Sasuke memandang bagian atas pintu lift yang menunjukkan angka empat pertanda sebentar lagi benda itu akan segera terbuka.
"Benar, Uchiha-sama. Berkasnya ada di ruangan and—"
Juugo terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya ketika mendapati Sasuke mundur satu langkah dengan mata terbelalak melihat dua orang keluar dari lift. Kedua orang itu menghentikan langkahnya melihat Sasuke. Ino membungkuk singkat pada Sasuke. Walau bagaimanapun, mereka sedang di kantor.
"Senang bertemu denganmu,Uchiha. Tidak terasa sudah delapan tahun ya."
"Kalian... sudah saling mengenal?" Ino bertanya pada keduanya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Sabaku?" tanya Sasuke dingin. Ino dapat melihat bagaimana Sasuke mengepalkan tangannya dan anehnya Gaara juga melakukannya. Berbeda dengan Sasuke yang tampak penuh emosi, Gaara justru tampak tenang. Bibirnya tertarik membentuk sebuah seringaian.
"Hanya mengajak seorang teman makan siang. Mari, Yamanaka-san."
Ino melihat Sasuke sebentar, sebelum mengikuti langkah Gaara. Meninggalkan Sasuke yang diam di tempatnya dengan tangan terkepal dan memandang penuh emosi pada pintu lift yang sudah tertutup kembali.
'Apa yang Gaara lakukan di sini? Dan bagaimana ia bisa mengenal Ino?'
.
.
.
"Makanannya enak. Padahal dekat dengan kantor, tapi saya tidak pernah tahu ada restoran seenak ini." Ino meminum jus pesananya kemudian mengusap bibirnya dengan tisu pertanda sudah selesai. Gaara sendiri sudah selesai dengan kegiatannya makannya beberapa saat lalu. Yang ia lakukan hanyalah memandang wajah Ino dengan seksama.
"Aku hanya pernah makan di sini sekali tanpa sengaja. Tapi karena lokasinya yg jauh dari kantorku, aku tidak bisa datang lagi."
"Begitu. Terimakasih karena sudah memperkenalkan restauran ini. Saya akan sering-sering kemari."
"Bisakah kau tidak bicara dengan formal padaku? Padahal aku sudah berusaha untuk berbicara santai sejak tadi."
"Maafkan saya eh, maksudnya maafkan aku. Karena bekerja di bagian PR, aku terbiasa untuk berbicara formal karena dituntun harus bisa berkomunikasi dengan baik di depan media maupun investor dan yang lainnya. Aku akan berusaha."
Gaara mengangguk.
"Karena makan siang hari ini kau yang bayar, lain kali aku yang akan melakukannya." Gaara meminum air putihnya hingga habis.
"Lain kali?"
"Apa kau keberatan kalau kita makan siang bersama lagi, lain kali?"
"Bukan begitu, tapi..."
"Kau sudah punya kekasih?"
"T-tidak ada." 'Kalau suami ada.' Ino menambahkan dalam hati.
"Baguslah. Sebenarnya, aku ingin mengenalmu lebih lagi, Ino. Boleh aku memanggilmu begitu?"
"Ha?"
Perempuan itu tampak kaget dan bingung.
"Apa aku terkesan terburu-buru? Maaf Yamanaka-san."
"T-tidak, tidak. Aku hanya... hanya... umm mungkin sedikit gugup? Kau melihatku sejak tadi."
Dengan malu-malu Ino memandang ke arah Gaara. Ayolah, siapa yang tidak gugup bila ada seorang pria tampan yang sejak tadi mengamatimu dengan intens?
"Aa. Maaf. Mungkin karena kau terlalu cantik. Aku jadi tidak bisa mengalihkan pandanganku."
Wajah Ino sontak memerah. Pria ini membuatnya gugup dan merona sejak tadi. Pria ini membukakan pintu untuknya, membiarkannya jalan terlebih dahulu, menarik kursi untuknya dan dengan sopan menanyakan pesanannya.
"Aku tidak bermaksud menggodamu. Maaf. Aku juga bingung kenapa aku begini. Sungguh." Gaara memegang tengkuknya. Membuat Ino menyadari kalau pria ini sama gugupnya dengan dirinya.
"Oh. Ya. Aku bisa mengerti." Ino akhirnya bisa tersenyum.
"Tapi soal aku yang ingin lebih mengenalmu. Aku bersungguh-sungguh."
Apa ini pertanda dari Kami-sama? Pertanda bahwa ia akan segera bebas dari Uchiha Sasuke. Apa Gaara adalah laki-laki yang di kirim untuk membebaskannya?
"Baiklah. Aku akan memanggilmu Gaara mulai sekarang."
.
.
.
"Bad day! Bad day! Hati-hati!"
"Benarkah?"
"Inuzuka-san dari Divisi Keuangan di semprot habis-habisan! Laporannya di robek!"
Ino sedang berada di lift untuk naik ke lantai Divisinya ketika dua orang masuk ke dalam dan mulai bergosip ria. Bad day? Ada apa lagi sekarang? Bad day adalah istilah yang digunakan seluruh karyawan untuk menandakan bahwa mood Uchiha Sasuke hari itu buruk atau bisa jadi sangat buruk. Dan hal itu sangat berpengaruh bagi setiap karyawan karena Uchiha Sasuke akan membentak dan mempermalukan karyawan yang hanya melakukan kesalahan kecil. Bahkan karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengannya akan di bentak dengan alasan tidak suka dengan cara karyawan itu menatapnya.
Dua orang tersebut keluar di lantai sepuluh, pertanda mereka dari divisi marketing. Lift akhirnya berhenti di lantai lima belas. Ino keluar untuk masuk ke divisinya. Alangkah terkejutnya Ino ketika melihat Moegi menangis dan Udon terlihat tengah menenangkannya. Sedangkan para bawahannya yang lain hanya bisa memandang prihatin pada Moegi.
"Moegi, ada apa?" Ino segera mendekati Moegi di kubikelnya.
"Dia di panggil oleh Uchiha-sama untuk diminta laporan terkait kerja sama yang divisi kita jalin dengan para pengiklan." Udon menjelaskan.
"Bukanya dia seharunya memanggilku?" tanya Ino heran.
"Sebenarnya Uchiha-sama memanggil para Manager setiap divisi. Tapi karena anda tidak ada, seseorang di suruh untuk menggantikan."
"Aku sudah menjelaskan sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Tapi dia malah bilang laporan kita itu laporan sampah." Moegi menangis lagi.
"Brengsek! Maafkan aku ya Moegi. Kalau saja aku datang lebih cepat."
"Tidak, senpai. Ini memang tugasku sebagai wakil anda kan?" Moegi yang mulai tenang menjelaskan pada Ino.
"Karena itulah aku paling benci 'bad day'. Dia berubah jadi monster kalau sudah begini." Udon menambahkan.
Ino mengepalkan tangannya. Pria itu! Sepertinya penyebab bad day Uchiha Sasuke hari ini adalah pertemuannya dengan Gaara. Ino yakin ada sesuatu di antara mereka. Bisa saja Gaara adalah musuh Sasuke sama seperti Danzou. Tapi bagaimana mungkin? Apa yang di produksi perusahaan Gaara tidak ada hubungannya dengan perusahaan Uchiha. Tidak seperti Danzou yang sama-sama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang elektronik dan perangkat lunak, Sands merupakan perusahaan yang menghasilkan produk perawatan kulit. Sangat bertolak belakang.
Ino masuk ke ruangannya untuk meletakkan tasnya dan keluar dari ruangannya dengan membawa laporan divisi mereka. Laporan yang sama yang di bawa oleh Moegi keruangan Sasuke. Ino memasuki lift dan menekan angka tiga dan nol. Ia harus meminta penjelasan Uchiha brengsek itu. Lift terbuka di lantai tiga puluh. Ketika keluar, Ino berpapasan dengan Nara Shikamaru dari Divisi IT. Sepertinya benar kalau semua manager divisi di panggil oleh Sasuke. Tidak ada yang berubah dari wajah Shikamaru. Pria Nara itu selalu menunjukkan wajah malasnya. Namun dia adalah andalan Uchiha Corp. Keduanya menghentikan langkahnya.
"Bad day." Shikamaru berujar malas.
"Laporanmu?" tanya Ino.
"Dia memasukkan flashdisk berisi presentasi milikku ke kopinya. Sial! Padahal deadline laporannya masih beberapa hari lagi kan?"
Ino memandang prihatin pada Shikamaru yang menghelas nafas panjang.
"Aku pergi. Hati-hati, Ino."
Shikamaru berlalu menuju pintu lift. Tanpa menunggu lagi, Ino melewati meja Juugo dan masuk ke ruangan Sasuke tanpa mengetuk pintu. Ia menghempaskan laporannya ke atas meja Sasuke.
"Wah wah. Sopan santunmu hilang setelah makan siang dengan Sabaku?"
"Kenapa kau membentak timku? Tidak bisakah kau menungguku untuk membahas laporan divisi kami?" Ino meletakkan kedua tangannya pada pinggiran meja Sasuke, mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu dan memandangnya dengan sinis.
"Anak itu terlalu lamban menjelaskan detailnya dan kau... sedang asyik menghabiskan waktu makan siang dengan Sabaku."
"Ada apa antara kau dan Gaara?" tanya Ino. Ekspresi Sasuke berubah jadi lebih dingin. Ino dengan jelas melihatnya.
Sasuke berdiri dan melakukan seperti apa yang Ino lakukan. Menyandarkan kedua tangannya pada mejanya dan mencondongkan tubuhnya pada Ino hingga jarak mereka kini hanya lima senti meter.
"Bukankah aku yang seharunya bertanya? Ada apa antara kau dan Gaara? Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Ini pertama kalinya Sasuke memandangnya dengan pandangan sinis dan hampir menelannya. Biasanya Sasuke selalu memandangnya jahil seolah mengejeknya. Kali ini, pria ini tampak marah. Sangat marah. Tapi Ino tidak gentar.
"Hanya kenalanku. Dia menolongku saat aku kehujanan kemarin. Kau sendiri? Apa hubunganmu dengannya?"
"Kau makan siang dengan orang yang baru kau kenal kemarin? Bagus sekali! Aku tidak tahu kau semurahan ini."
PLAK!
Tamparan telak mengenai wajah putih Sasuke.
"Kau berani menamparku?!" Sasuke berseru dengan suara keras.
"Brengsek!" Ino mendesis. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Sasuke membeku melihat pemandangan di depannya itu.
"Kau membuatku semakin membencimu, Sasuke. Aku akan melakukan apapun. Apapun untuk bisa bercerai darimu."
Ino berbalik dan keluar dari ruangan dengan atmosfer panas itu. Dan Sasuke melihatnya. Melihat bagaimana setetes air mata menuruni pipi Ino tepat sebelum wanita itu berbalik.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yang berharap Gaara sebagai orang ketiga berbahagialah. Karena kita sehatiii... Hahahha... Mungkin Gaara sedikit OOC disini, atau banyak? Hehehe. Untuk alurnya yg lambat dan mereka yang belum juga jatuh cintong alias jatuh cinta, harap bersabar ya gaess. Oh iya, oneshot Tenten Darui yang singkat sesingkat-singkatnya kayak proklamasi udah up kemarin ya. Boleh lah atuh singgah barang sejenak.
Terimakasih banyak sebanyak-banyakanya buat teman-teman yang sudah favorit dan follow. Juga buat teman-teman yang meninggalkan jejak jejak cinta alias ripiu. Semoga suka ya teman-temanku.
Salam
Yana Kim ^_^
