"Lihat lihat! Gadis itu sangat cantik ya. Hehehe. Kalau aku dekati dia mau memberikan nomornya tidak ya?" seorang pemuda berambut kuning cerah menunjuk pada seorang wanita yang mengenakan pakaian seksi. Suara dentuman musik membuat pemuda itu harus menaikkan volume suaranya.
"Dobe, jangan macam-macam. Kita bisa ketahuan!" pemuda berambut raven mengingatkan.
"Sasuke benar, Naruto. Kita bisa tertangkap kalau kau bertindak seenaknya."
"Kita tidak tahu kalau tidak mencoba kan? Kalian jangan kaku begitu. Tunggu di sini."
Pemuda bernama Naruto itu meninggalkan meja bartender dan mulai mendekati wanita yang sebelumnya menjadi targetnya yang ada di lantai dansa. Sang target tampak tersenyum dan menanggapi Naruto. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Naruto kemudian berjalan cepat menuju kedua sahabatnya.
"Gaara, Sasuke, gawat! Ayo pergi."
"Ada apa?" tanya Gaara.
"Aku kelepasan bilang kalau aku sekolah di Konoha Gakuen!"
"Baka!" Sasuke dan Gaara berujar bersamaan.
Dan benar saja. Dua orang penjaga bar yang muncul tak lama kemudian dan berjalan ke arah. Ketiganya berlari menuju pintu keluar. Sayangnya penjaga pintu tampaknya sudah di hubungi oleh teman-temannya. Seorang pria dengan badan tak kalah kekar dari rekan-rekannya tadi menghalangi jalan mereka.
"Beraninya anak di bawah umur menyusup kemari!"
Ketiganya tampak panik. Sasuke kemudian berlari ke arah penjaga itu dan menyusup melalui celah diantara kaki penjaga itu kemudian menendang punggung pria itu hingga terjatuh ke depan.
"Ayo." Sasuke dapat melihat dua rekan yang sebelumnya mengejar sudah dekat.
Gaara dan Naruto berlari mengikuti Sasuke. Naruto bahkan menyempatkan diri untuk menginjak bokong pria yang jatuh itu. Ketiganya berlari kencang di gelapnya malam dan sepinya jalanan Akatsuki Bar. Naruto mengajak kedua sahabatnya itu untuk bersembunyi di balik tiga buah tong sampah warna warni yag dibagi menurut jenisnya. Tampaknya penjaga yang mengejar mereka sudah menyerah. Karena setelah lima menit mereka bersembunyi, tidak ada tanda-tanda mereka muncul. Ketiganya saling bertatapan satu sama lain dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang tak beraturan.
"Hahahahaha!" Ketiganya kemudian tertawa. Menertawakan apa yang baru saja terjadi.
"Hah... hah... hah... Tadi itu keren sekali, Sasuke!" Naruto mengusap keringatnya dengan punggung tangan dan mengatur nafasnya.
"Hah... Diam kau. Ini semua gara-gara kau, baka!" Sasuke mendorong Naruto kemudian berdiri. Menarik nafas panjang kemudian membuangnya.
"Rencana minum kita jadi batal." Gaara mengikuti Sasuke berdiri.
"Setidaknya kalian sempat minum kan? Aku belum minum apa-apa, tahu!" Naruto mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di dada.
"Kau pikir ini gara-gara siapa?" Sasuke berujar kesal pada Naruto.
"Sudahlah, ayo kita pulang." Gaara melangkahkan kakinya di ikuti Sasuke. Keduanya berjalan beriringan, hingga kemudian Naruto melompat dan melingkarkan kedua tangannya pada masing-masing leher sahabatnya dan ikut berjalan beriringan.
"Lain kali kita pergi lagi ya! Tapi jangan di Akatsuki lagi. Hehehe."
.
.
.
The HusBoss Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.
Story By : Yana Kim
Lenght : Chaptered
Rate : M
WARNING!
Cerita diciptakan untuk dinikmati juga dihargai. Apabila terdapat kesalahan pada penulisan dan penggambaran karakter, harap maklum ya guys.
Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino
SUM:
Husband plus Boss. Yamanaka Ino, manager Divisi PR yang bertugas menyelesaikan masalah yang dibuat oleh bosnya, Uchiha Sasuke. Bos tempramen yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Ino berharap ia segera menemukan lelaki yang ia cintai dan mencintainya sehingga ia terbebas dari Sasuke.
.
.
.
Tiga
.
.
.
"Sialan. Sialan. Sialan!"
Sasuke melemparkan semua benda yang ada di meja kerjanya. Tidak peduli pada laptop keluaran terbaru yang merupakan penunjang pekerjaannya. Benda itu kini sudah teronggok tak berdaya di lantai bersama dengan berkas-berkas bernilai milyaran yen. Sasuke benar-benar perlu meluapkan emosinya. Kenapa? Kenapa Gaara muncul? Tidakkah pria itu sadar kalau dia sudah membuat Sasuke mengingat sesuatu yang sudah lama di kuburnya? Dan kenapa harus dengan Ino? Kenapa tidak dengan wanita lain saja? Ino juga. Kenapa wanita itu menangis hanya karena Sasuke membentaknya? Dan kenapa melihat wanita itu menangis membuat hatinya sakit begini?
Terlalu banyak kenapa, hingga Sasuke tidak mampu menjawab satu pun dari banyak pertanyaan yang timbul di benaknya.
Sementara itu di toilet wanita.
"Dasar brengsek!"
Ino menarik tisu dari kotak besar yang tertempel di dinding di sebelah wastafel. Mengusap kasar air matanya tanpa peduli dengan maskara dan eyeliner yang sudah melebar tak tentu arah itu. Ia memandang pada cermin yang memantulkan bayangan dirinya dengan airmata yang tak henti mengalir. Ia sedang berada di toilet wanita lantai tiga puluh. Lantai dimana ruangan Sasuke berada. Tidak akan ada yang datang kemari kecuali Sasuke ada meeting dengan tamu wanita dan Ino rasa tidak akan ada yang kemari karena Sasuke sendiri pasti tidak dalam mood yang mau menerima tamu.
Ino kembali mengusap air mata yang mengaliri pipinya dengan derasnya. Ini pertama kalinya Ino menangis setelah sekian lama. Ia bukanlah tipe wanita yang cengeng dan sebenarnya ia sangat ahli dalam hal mengontrol emosi. Karena kalau tidak, ia tidak akan bisa mengurusi masalah perusahaan sebesar Uchiha Group. Tapi perkataan Sasuke beberapa saat lalu membuat hatinya sangat sakit dan tanpa bisa di tahan, air matanya turun.
"Sial. Kenapa tidak mau berhenti? Hiks... hiks..."
.
.
.
Sejak kejadian di ruangan Sasuke, Ino memilih mendiami pria itu. Kecuali untuk masalah kantor yang mendesak, Ino tidak akan menampakkan dirinya pada Sasuke. Begitu juga di rumah, Ino tetap melakukan pekerjaannya memasak untuk pria itu. Ino lebih sering sarapan duluan dan kalau kebetulan mereka makan bersama, diam akan setia menemain dari awal sampai akhirnya acara Sasuke juga memutuskan demikian, ia juga tidak pernah berbicara pada Ino bahkan untuk sekedar mengejek wanita itu seperti sebelumnya.
Kediaman dan atmosfer dingin itu berjalan hingga seminggu dimana hari launching produk baru mereka diadakan. Upgrade habis-habisan dari sistem ponsel pintar yang Uchiha ciptakan. Divisi Operasional sudah menyiapkan acara launching dengan besar-besaran di ball room salah satu hotel ternama di Tokyo. Divisi Marketing dibantu IT telah mempersiapkan acara utama yaitu pengenalan tentang produk dengan presentasi yang apik yang nantinya akan di sampaikan oleh Sasuke. Ino bersama timnya dari Divisi PR mempersiapkan bingkisan untuk para tamu dan juga menyambut para tamu yang hadir.
Acara di mulai satu jam lagi. Saat ini Ino berada di salah satu kamar hotel yang sengaja di pesannya secara pribadi untuk dirinya dan juga timnya bersiap. Ino sedang menyapukan blush on pada pipinya. Ia memilih untuk berdandan sendiri padahal Tenten dari Divisi Marketing sudah mengajaknya untuk pergi ke butik juga salon untuk menunjang penampilannya.
Sebagai sentuhan terakhir, Ino mengoleskan lipstick berwarna merah menyala pada bibirnya. Malam ini ia mengenakan sebuah dress berwarna biru tua model sabrina yang panjangnya semata kaki dengan belahan span depan sampai ke pertengahan pahanya. Dress dengan hiasan batu swarovski itu tampak pas membentuk tubuh Ino yang memang sudah indah. Untuk rambut sendiri, Ino memilih untuk membuatnya bergelombang dan di jepit menyamping dengan ornamen rambut berbentuk kupu-kupu sewarna gaunnya. Ino merasa puas dengan hasil make upnya. Di tuntut mandiri sejak kecil membuat Ino bisa melakukan apapun sendiri dan jujur, Ino bangga akan hal itu. Terakhir, Ino memakai high heels dua belas senti berwarna silver.
Ino turun menuju ball room untuk menemui para anggota timnya. Ia di sambut oleh Moegi dan Udon yang terpesona pada penampilan Ino. Hanya Ino yang menggunakan dress dari Divisi PR karena ia bertugas menyambut tamu dan memberikan bingkisan di depan pintu masuk dan mengucapkan terimakasih pada para tamu yang akan pulang saat acara selesai nanti.
"Ini walkie talkie dan microphonenya, senpai. Kami semua sudah memakainya." Moegi menunjuk pada perangkat headset yang digunankannya. Karena memakai gaun, Ino menggunakan microphone clip dan juga earphone wireless agar ia tetap tampil elegan meskipun sambil mengontrol bawahannya.
"Aku mengurus nomor meja dulu ya, senpai." Moegi beranjak dari sana meninggalkan Ino yang berdiri di samping tumpukan kotak yang merupakan bingkisan itu. Ino memasang microphone clip dan earphone wirelessnya, kemudian menatap prihatin pada walkie talkie yang terhubung dengan kedua benda yang sudah terpasang di telinga dan bagian dada dressnya.
Ia harus menjepitkan benda ini pada bagian punggung dressnya. Ia memandang pada Moegi dan semua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Menghela nafas, Ino menekan tombol power pada benda itu dan mulai mencoba untuk memasang dengan mengarahkan kedua tangannya ke belakang. Sayangnya tidak semudah itu, karena tangan Ino tidak sanggup menggapai bagian punggung dressnya yang memang agak tinggi, berbanding terbalik dengan bagian dadanya yang agak rendah hingga menampakkan belahan dadanya. Untungnya ada microphone clip yang berhasil menutupinya walau sedikit. Ino mengerahkan seluruh tenaganya, namun tetap tak bisa. Ino memilih menyerah dan lebih baik menunggu Moegi untuk membantunya. Namun ia merasakan sebuah tangan meraih benda ditangannya dan memasangnya pada bagian belakang dress Ino dengan mudah. Ino bisa merasakan bagaimana tangan itu bersentuhan dengan kulit punggungnya.
Ino sontak berbalik dan mendapati Sasuke di belakangnya. Refleks, ia mundur satu langkah ke belakang karena kaget. Sasuke terlihat tampan dengan setelan biru dongkernya. Kalau boleh jujur, apa yang di kenakan keduanya malam ini adalah hadiah pemberian Mikoto. Setelan karya desainer ternama dari Paris itu yang memang merupakan pasangan dari dress yang Ino kenakan. Dapat dilihat dari pin dasi yang juga berhias swarovski yang kini Sasuke kenakan. Bagaimana mungkin Sasuke bisa terpikir mengenakan setelan itu? Kalau tahu Sasuke mengenakannya, Ino pasti memilih dress lain saja. Ino lebih memilih memandang pada tumpukan bingkisan di dekatnya dari pada melihat Sasuke.
Cekrek!
"Apa yang kau lakukan?!" Ino mendapati Sasuke tengah memegang kamera ponselnya dan dengan terang-terangan memotretnya.
"Memotretmu. Ibu pernah berpesan untuk mengirimkan fotomu saat kau mengenakan dress ini." Sasuke menunjukkan layar ponselnya pada Ino dimana ia telah mengirimkan foto itu pada sang ibu.
"Lagi pula jarang-jarang kan melihatmu tampil cantik seperti ini."
"Apa kau bilang?!"
'Brengsek, jadi maksudnya aku lebih sering tampil jelek?' Ino membatin.
"Bukan berarti kau sering tampil jelek. Hanya saja..." Sasuke tampak memikirkan apa yang akan di ucapkannya.
"Sudahlah." Sasuke beranjak dari sana. Berjalan menuju tempat duduknya yang sudah disediakan. Meninggal Ino yang bingung antara berterimakasih atas bantuan tak langsungnya atau malah membiarkannya saja. Ino menghela nafas panjang, tanpa sadar kalau suaranya di dengar oleh para bawahannya.
"Senpai, kau baik-baik saja?" tanya Moegi. Posisi gadis itu ada di dekat panggung, namun Ino bisa mendengarnya dengan jelas dari earphonenya.
"Aku baik-baik saja. Penomoran sudah aman?"
"Sudah, senpai."
"Baik. Ambil posisi, semuanya. Sebentar lagi para tamu akan datang."
Ino sendiri mengambil posisi di pintu masuk seorang diri. Tak lama kemudian Udon datang dengan membawa membawa tiga buah buku tamu dan mendudukkan dirinya pada meja di sebelah Ino. Udon bertugas mencatat nama tamu yang hadir sedangkan Ino menyambutnya dan sedikit beramah tamah.
Para tamu mulai berdatangan. Ino memberikan senyuman terbaiknya dalam menyambut setiap tamu yang datang. Tidak sedikit yang memuji penampilan Ino yang Ino balas dengan memuji balik orang tersebut.
"Selamat datang, Tsunade-sama."
Ino menyambut dengan ramah sosialita yang bergerak di bidang fashion itu. Mereka pernah bekerja sama untuk menciptakan aplikasi khusus untuk brand wanita itu. Tsunade yang sudah mengenal Ino karena sering berkomunikasi itu langsung memeluk Ino.
"Lama tidak berjumpa, Ino. Kau cantik sekali malam ini."
"Terimakasih, Tsunade-sama. Anda juga terlihat sangat cantik malam ini. Saya selalu penasaran dengan resep awet muda anda."
"Hohoho. Sering-seringlah datang ke butikku, sayang. Aku duluan ya."
Ino mengangguk sambil tersenyum. Setelah Tsunade berlalu, Ino langsung menghubungi bawahannya.
"Moegi, Tsunade-sama sudah datang. Arahkan ke mejanya."
"Baik, senpai." Moegi menyahut dari tempatnya. Ino kembali ke tempatnya. Duduk di sebelah Udon yang tengah mencatat. Sepertinya sudah semua tamu undangan sudah tiba. Pembawa acara juga sudah memulai kata sambutannya. Ino memandang pada high heels yang ia kenakan. Bosan karena setelah ini ia harus menunggu acara selesai dan untuk kembali membagikan bingkisan dan mengucapkan salam perpisahan pada para tamu.
"Senpai, ada yang datang." Suara Udon membuat Ino sontak berdiri.
"Selamat dat— Gaara?"
"Oh. Hai." Gaara terpaku melihat penampilan Ino.
"O-oh ya. Hai. Bagaimana kau bisa datang? Aku tidak merasa mengundang— oh maaf, aku tidak bermaksud berkata buruk. Hanya saja, karena aku yang menyusun undangan dan para tamu jadi... jadi..."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Gaara mengeluarkan undangan dari balik jas hitamnya dan memberikannya pada Ino.
"SK Mobile? Apa Kankurou-san itu..."
"Dia kakakku."
"Benarkah? Kalian... tidak mirip."
Gaara tersenyum miring.
"Ya, begitulah. Tapi dia adalah kakak kandungku."
"Baiklah. Silahkan masuk, Gaara."
"Oh ya. Apa aku sudah mengatakannya?"
"Mengatakan apa?" tanya Ino.
"Kau... cantik sekali."
Tidak terhitung berapa banyak tamu yang memujinya cantik malam ini. Namun hanya Gaara yang berhasil membuat wajahnya merona karena pujian itu.
.
.
.
Acara berlangsung dengan sukses. Sebagian besar tamu sudah pulang. Ino memberikan bingkisan dan juga mengucapkan terimakasih pada tamu yang hadir. Gaara muncul di depan Ino. Wanita itu segera mengambil bingkisan dan memberikannya pada Gaara.
"Terimakasih atas kedatangannya, Gaara." Pria itu mengangguk.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu?"
"Terimakasih. Tapi aku masih banyak yang harus aku bereskan di sini. Lagi pula aku membawa mobil sendiri."
"Aa. Baiklah. Mungkin lain kali." Ino tersenyum dan mengangguk.
"Aku pulang dulu, Ino. Aku harap hujan tidak datang dan mobilmu baik-baik saja di perjalanan." Gaara menambahkan.
Ino tertawa kecil.
"Hati-hati di jalan, Gaara."
Ino memandang sosok Gaara yang akhirnya menghilang dibalik pintu masuk ball room dengan senyum terkembang.
"Wah. Bukannya pria itu yang datang waktu jam makan siang seminggu lalu?" Moegi yang muncul entah dari mana mengejutkan Ino.
"Moegi, kau mengagetkanku."
"Hehehe. Dia siapa senpai?" tanya kemudian.
"Teman."
"Teman? Yakin hanya sekedar teman?" Moegi bertanya dengan nada yang menggoda Ino. Ino mencoba untuk tidak mengindahkannya dengan mengemas sisa bingkisan untuk tamu yang tidak bisa hadir.
"Pantas saja senpai tidak pernah tertarik kalau kami membahas tentang Uchiha-sama. Ternyata oh ternyata."
"Ehem."
Deheman yang familiar membuat Moegi ciut. Uchiha Sasuke muncul di sampingnya dengan wajah datarnya. Hal yang langsung mengingatkan Moegi pada kejadian beberapa hari lalu saat ia di bentak habis oleh bos sialannya itu. Gadis itu langsung takut.
"Ino-senpai. Sepertinya aku harus mengurus yang di sana." Membungkuk secepat kilat, Moegi melenyapkan dirinya dari sana. Meninggalkan senpainya dengan bos tempramen yang sudah mengatai laporan timnya adalah laporan sampah. Ino hanya melirik sekilas pada Sasuk, kemudian melanjutkan kegiatannya menyusun sisa bingkisan pada sebuah kardus besar.
"Kau masih lama?" tanya Sasuke.
"Kenapa? Kau ingin mengantarku? Maaf saja, aku bawa mobil sendiri." Entah apa yang dipikirkan Ino sehingga ia mengucapkan kalimat itu. Yang pasti, ia hanya merasa tidak nyaman dengan Uchiha Sasuke yang tiba-tiba datang dan berdiri di sana. Ino bisa merasakan kalau pria itu tengah menatapnya.
"Mengantarmu? Tidak. Sebaliknya, aku ingin kau mengantarku."
Ino memasukkan bingkisan terakhir ke dalam kardus dan beralih menatap Sasuke.
"Kau bilang apa?" Ino memastikan apa yang baru saja di dengarnya.
"Antar aku pulang. Aku tidak bawa mobil." Sasuke melipat tangannya di dada.
"Terakhir aku ingat, supirmu di kantor masih hidup."
"Juugo tidak enak badan. Jadi aku menyuruh supirku mengantarnya pulang."
"Aku tidak tahu kau bisa seperhatian ini pada sekretarismu yang sedang sakit."
"Kau tidak tahu ya? Aku bahkan sangat perhatian pada Manager PRku yang sedang sakit." Sasuke menampakkan seringainya.
Tentu saja ingatan Ino langsung melayang pada malam dimana ia sakit dan wajahnya sontak memerah.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Lebih baik kau cari taksi untuk mengantarmu pulang."
Ino membuang pandangannya ke arah lain.
"Berikan kunci mobilmu."
"Tidak ada. Ada di kamarku di lantai empat puluh hotel ini. Sudah kubilang ca—"
"Ino-senpai. Ini tas dan kunci mobil yang kau minta. Aku sudah menyelesaikan urusan dengan resepsionis."
Ingin rasanya Ino melemparkan tas besarnya pada wajah Udon yang datang tiba-tiba di saat yang sangat tidak tepat. Pemuda berkacamata itu langsung membungkuk begitu melihat Sasuke, kemudian mengarahkan kedua benda di tangannya itu pada Ino. Mau tidak mau Ino menerima tas besar miliknya dan kunci mobil dari juniornya itu.
"Senpai, semua sudah beres. Aku pulang dulu ya, Moegi sudah menunggu di lift. Saya pulang dulu, Uchiha-sama."
"Hn. Namamu?" tanya Sasuke membuat Udon tak jadi beranjak.
"Nama saya Ise Udon, Uchiha-sama." Udon menatap takut-takut pada Sasuke.
"Akan ku ingat namamu Ise-san. Dan akan kupastikan bulan ini kau dapat bonus khusus. Pulanglah." Sasuke memberikan senyum tipisnya pada Udon yang luar biasa bingung. Begitu juga Ino yang memandang Sasuke tak percaya. Namun ia tetap melangkah menjauh dari senpai dan juga bos besarnya itu.
"Sepertinya kuncimu sudah turun dari lantai empat puluh hotel ini. Karena kau memakai gaun dan sedang cantik malam ini, aku yang akan menyetir. Tunggu aku di pintu masuk."
Sasuke mengambil kunci dari tangan Ino dan pergi dari sana. Ino mengepalkan tangannya seolah ingin memberikan tinju mautnya pada lelaki yang selalu bertindak sesukanya itu.
.
.
.
Perjalanan itu ditemani hening bahkan ketika mereka sampai di kediaman mereka. Keduanya langsung berjalan menuju kamar mereka. Sasuke langsung berjalan ke kamar mandi sedangkan Ino memilih untuk membersihkan sisa make upnya untuk kemudian mengganti gaunnya dengan jubah mandi. Setelah Sasuke selesai mandi, kini giliran Ino. Saat Ino selesai mandi, Sasuke sudah berganti dengan piyama dan berbaring di ranjang. Ino pun melakukan hal yang sama setelah selesai melakukan ritual skin care malamnya.
Suara detik jarum jam seolah menjadi musik pengiring dalam kamar pasangan Uchiha itu. Tidak ada diantara keduanya yang sudah masuk ke alam mimpi. Masih saling membelakangi di bawah selimut yang sama, Ino dan Sasuke berbaring dengan mata terbuka. Anehnya keduanya seolah tahu, kalau satu sama lain belum menutup mata.
"Aku melihat Gaara." Entah kenapa Ino tidak terkejut mendengar suara Sasuke. Seolah dirinya tahu bahwa pria yang sedang berbaring di belakangnya itu memang akan mengatakan sesuatu.
"Kau mengundangnya?" tanya Sasuke lagi.
"Tidak. Dia mewakili Kankurou-san dari SK Mobile." Ino menjawab.
"Hn." Sasuke bergumam pertanda mengerti.
"Apa kau membenci Gaara?" Ino memberanikan diri bertanya. Ia melirik ke belakang. Sasuke masih membelakanginya.
"Apa terlihat begitu?"
"Um. Sangat jelas. Dan sepertinya, Gaara juga begitu."
Meski saling membelakangi, Ino bisa mendengar Sasuke mendengus.
"Tentu saja dia membenciku." Suara Sasuke terdengar pelan... dan sedih. Entah kenapa Ino merasa begitu.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada kalian di masa lalu. Bukan berarti aku ingin tahu ya. Terserah kalian mau melakukan apa. Toh kalian bukan anak kecil lagi."
Tidak ada sahutan dan Ino merasa sudah saatnya pembicaraan – yang entah kenapa bisa terjadi— ini berakhir. Ino sudah mau memejamkan matanya.
"Maafkan aku." Apa Ino tidak salah dengar?
"Kata-kataku tempo hari sudah kelewatan. Maafkan aku."
Tidak tidak. Ino memang tidak salah dengar. Sasuke memang meminta maaf padanya. Memberanikan diri, Ino berbalik dan terkejut karena Sasuke sudah melakukannya duluan hingga mereka akhirnya saling berhadapan. Ino ini bukan saat yang tepat untuk wajahnya memerah. Tapi ia bisa merasakan panas menjalar di wajahnya dan suara degupan aneh di dadanya. Iris hitam Sasuke berada tepat didepannya.
"Apa kau mendengarku?"
"Y-ya. Tentu saja. Well, baiklah... aku memaafkanmu." Ino ingin memaki dirinya sendiri karena bisa-bisanya tergagap di depan Uchiha Sasuke. Ino sudah siap untuk menerima ejekan dari pria itu.
"Hn."
Tapi sepertinya itu tidak terjadi karena Sasuke kemudian menutup matanya yang Ino syukuri karena akhirnya ia bisa mengontrol degup jantungnya. Ia memandang wajah Sasuke beberapa saat dan entah kenapa rasa kantuk mulai memanggil-manggilnya. Ino kemudian ikut memejamkan matanya. Namun Ino tidak tahu, kalau tepat lima detik setelah ia memejamkan matanya malam itu, Sasuke justru membuka matanya dan memandang pada wajah terlelap Ino. Pria itu menyadari, bahwa ini adalah pertama kalinya sejak enam bulan yang lalu, mereka tidur berhadapan dalam jarak yang dekat.
.
.
.
Hari ini adalah hari minggu. Sebenarnya Ino ingin sekali bangun lebih lama hari itu karena jujur saja, acara semalam membuat Ino lelah. Namun wanita itu tidak mengikuti keinginan tubuhnya. Ia harus bangun dan menyiapkan sarapan. Sejak menikah dengan Sasuke, Ino selalu bangun lebih dulu dari pria itu dan membuat sarapan. Bukan karena dia ingin jadi istri yang baik dan peduli pada kesehatan pria itu. Ino hanya merasa bahwa jika ia bangun lebih lama dari Sasuke, pria itu akan mengejeknya. Kejadian tersebut belum pernah terjadi memang, tapi Ino yakin Sasuke adalah tipe pria yang seperti itu.
Karena sedang malas memasak, Ino memilih membuat tuna sandwich pagi itu. Tak lupa ia membuat kopi untuk Sasuke dan susu rendah lemak untuknya. Setelah memakan sarapannya, Ino segera beranjak keluar untuk bertemu dengan mobil kesayangannya. Sudah saatnya Toyota Prius kesayangannya itu dimandikan. Bukannya Ino tidak bisa membawanya ke pencucian khusus mobil. Tapi ia adalah tipe orang yang selalu menganggap benda kesayangannya adalah sosok bernyawa. Ia sangat menyayangi mobil yang berhasil ia beli dengan tabungannya setelah selesai melunasi hutang orang tuanya. Jadi ia selalu merawat benda itu dengan penuh kasih sayang. Salah satunya adalah mencucinya— dalam kamus Ino berarti memandikannya— setiap seminggu sekali atau saat mobil itu butuh di cuci.
Ino menyiapkan ember berisi campuran air dan shampoo mobil khusus serta spons setelah berhasil mengeluarkan mobilnya dari garasi. Ia sudah menyambungkan selang panjang dengan keran yang ada di dekat pintu garasi. Ino menggelung rambutnya tinggi agar tidak mengganggunya dalam bekerja. Wanita itu pun mulai menyirami mobilnya dengan air dan kemudian menggosok setiap bagian luarnya dengan spons. Ino sangat serius dalam mencuci mobilnya. Tidak peduli dengan kaus oversize serta legging yoganya yang sudah basah kuyup dan pada wajah serta rambutnya yang dihiasi busa. Selesai menyabuni bagian luar, Ino kembali menyalakan keran dan membersihkan mobilnya dari busa yang menempel. Ino sedang berjongkok untuk membilas bagian ban mobil belakangnya ketika air pada keran berhenti mengalir padahal masih banyak busa yang harus di bersihkan pada ban itu. Refleks, Ino membawa ujung selang ke wajahnya untuk melihat apa yang terjadi. Tidak menyadari bahwa seseorang di balik mobil memutar keran hingga air kembali mengalir dan menerpa wajah Ino.
"Sialan!"
"Hahahaha..." Ino memandang sengit pada Sasuke yang tertawa di balik mobilnya. Pria itu tampak sudah mandi dan memakai pakaian santainya.
"Dasar bodoh. Seharusnya yang kau periksa itu kerannya bukan ujung selangnya. Hahaha!"
"Kau sengaja melakukannya?"
"Ya, tentu saja." Sasuke menjawab dengan tenang dan melipat tangannya.
Ino mendengus jengkel, kemudian melanjutkan aktivitasnya membilas ban mobilnya dari busa sabun. Ia kemudian berjalan ke arah Sasuke untuk membersihkan ban bagian depan yang ada didekat Sasuke. Pria itu masih berdiri disana memandang pada Ino yang tampak serius dengan pekerjaannya.
"Sasuke." Ino memanggil.
"Hn?"
"Aku juga." Ino berdiri di depan Sasuke.
"Juga apa?"
"Aku juga sengaja melakukannya." Pada detik setelah Ino mengucapkan kalimat itu, ia menyemprot wajah Sasuke dengan air yang keluar dari selang di tangannya. Sasuke yang tidak siap dengan serangan Ino hanya bisa menerima hingga wajah dan baju pria itu basah.
"Hahahaha. Rasakan." ucap Ino sambil berjalan mundur untuk menjauhi Sasuke.
"Aku sudah mandi, sialan!" Sasuke menggeram dan kemudian berjalan cepat mengejar Ino. Ino yang kaget refleks mengarahkan kembali selangnya ke arah Sasuke agar Sasuke berhenti sambil ia terus berjalan mundur. Sasuke tidak menyerah dan terus berjalan ke arah Ino yang mundur hingga masuk ke dalam garasi. Wanita itu kemudian terpojok oleh mobil Sasuke yang terparkir di dalam. Sambungan selang pada keran juga terlepas hingga air berhenti mengalir dari selang yang ada di tangannya. Sementara itu Sasuke kini sudah berada tepat di depannya dengan keadaan basah kuyup sama sepertinya.
Wajah pria itu tampak dingin saat berada tepat didepannya. Entah kenapa Ino merasa gugup dengan keadaan ini. Sasuke memajukan tubuh berikut tangannya hingga Ino terkurung dalam kungkungan Sasuke yang menyandarkan tangannya pada kap depan mobil pria itu.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ino takut, namun ia memberanikan dirinya untuk memandang pada wajah basah Sasuke. Ino sendiri bingung kemana dirinya yang selama ini berani pada Sasuke.
"Menurutmu?" Sasuke bertanya balik. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Ino.
"K-kau... Kau sendiri yang memulainya."
"Ya, dan aku sendiri yang akan mengakhirinya." Dan semudah itu, Sasuke menjemput bibir Ino dengan bibirnya. Ino tampak syok, terlihat dari bagaimana selang yang ada di tangannya terlepas dan jatuh begitu saja. Sasuke semakin mendekatkan dirinya pada Ino hingga kedua tubuh yang basah itu menempel. Tangan kanan Sasuke naik meraih rahang Ino sementara tangan kirinya melingkari pinggang Ino seolah menahan tubuh wanita itu. Ino tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ia malah membalas ciuman Sasuke dan kedua tangannya naik meremas bagian depan kaus pria itu.
.
.
.
Sasuke membuka matanya dan mendapati sisi kanan tempat tidurnya sudah kosong. Meskipun bukan pernikahan yang diinginkannya, Ino tetap menjalankan perannya sebagai istri dengan baik dan jujur saja Sasuke bersyukur untuk itu. Wanita itu selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Ini adalah hari minggu, Sasuke dengan malas bangun dan membereskan tempat tidur untuk kemudian mandi. Biasanya Minggu pagi adalah jadwal Sasuke berolahraga di gym pribadi yang ada di rumahnya itu. Namun sepertinya acara launching produk semalam membuatnya lebih lelah dari biasanya dan memutuskan untuk melakukan rutinitas olahraganya di sore hari nanti.
Selesai mandi, Sasuke turun menuju dapur untuk sarapan. Kopi hitam dan sepiring sandwich yang di tutup dengan plastic wrap sudah ada di meja. Tanpa menunggu lagi, Sasuke memakan sarapannya dan juga meminum kopinya yang sudah menghangat. Tak butuh waktu lama untuk sarapan karena hanya memakan sepiring sandwich, tapi Sasuke bisa menjamin kalau sandwich buatan Ino adalah yang terenak yang pernah ia makan. Selesai mencuci piring dan gelasnya, Sasuke berjalan keluar rumah untuk membaca koran paginya di teras depan. Saat keluar Sasuke melihat Ino sedang mencuci mobilnya. Benar juga, hari Minggu biasanya di manfaatkan wanita itu akan membersihkan mobil jadul kesayangannya itu, berbeda dengan Sasuke yang lebih suka menyuruh sekretaris ataupun supirnya membawa mobil itu ke tempat pencucian.
Sasuke memandang pada wanita yang tengah serius membilas mobilnya dengan air yang keluar dari selang. Sasuke tidak pernah memperhatikannya sebelumnya, dan ia tidak tahu bahwa seorang wanita dapat terlihat sangat cantik hanya menggunakan legging semata kaki dan kaus kebesaran berwarna putih. Oh Tuhan, Sasuke bahkan bisa melihat bra hitam Ino yang tercetak jelas akibat baju wanita itu yang basah akibat mencuci mobil. Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arah lain tersebut adalah keran air yang terdapat di dekat garasi. Seringai licik muncul di wajah nan tampan itu. Ia mematikan keran air hingga selang yang Ino pegang berhenti mengeluarkan air. Saat Ino sedang memperhatikan kerannya, Sasuke menyalakannya kembali hingga air itu keluar dan mengenai wajah cantik itu. Sasuke tidak bisa menahan tawanya dan mengakibatkan wanita itu kesal.
Sasuke tidak menyangka kalau Ino membalasnya. Wanita itu berpindah membilas ban mobilnya yang ada di dekat Sasuke dan kemudian menyerang Sasuke dengan keran air tersebut hingga baju dan wajah pria itu basah.
"Aku sudah mandi, sialan!" Ino hanya tertawa, kemudian mundur untuk menghindari Sasuke yang semakin maju mendekat padanya. Ino tetap memberikan serangan air pada Sasuke hingga ia terpojok pada mobil Sasuke yang terparkir di dalam garasi.
Entah kenapa wajah takut wanita itu tampak sangat seksi di mata Sasuke. Anak rambut yang keluar dari cepolan itu bermain di wajah Ino yang basah dan menambah keseksian wanita itu. Entahlah, atau ini hanya perasaan Sasuke saja. Semakin dekat, Sasuke bisa melihat semakin jelas bra hitam Ino di balik kaus kebesaran wanita itu. Sepertinya sedikit mempermainkan wanita ini akan menarik.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ino takut. Sasuke bisa melihat bagaimana Ino berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak seperti wanita itu yang biasanya. Yang selalu punya senjata kalimat untuk membalasnya.
"Menurutmu?" Sasuke bertanya balik. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Ino dan menikmati ketakutan wanita itu.
"K-kau... Kau sendiri yang memulainya." Ino menggigit bibir bawahnya yang sangat di sesali Sasuke karena ia jadi sangat tergoda pada bibir pink kemerahan itu.
"Ya, dan aku sendiri yang akan mengakhirinya."
Sasuke mendaratkan bibirnya pada bibir Ino dan memberikan lumatannya dengan sedikit kasar. Sasuke dapat merasakan bahwa wanita itu kaget. Ya, sepertinya Sasuke berhasil dan merasa cukup dengan candaannya ini. Ia sudah cukup menyaksikan wajah takut dan syok wanita ini. Sasuke baru saja akan melepaskan tautan itu ketika ia merasakan Ino membalas lumatannya.
'Oh tidak. Jangan. Jangan balas atau aku tidak akan bisa berhenti.' Sasuke berseru dalam hati. Kini ganti ia yang syok karena merasakan tangan Ino naik dari perutnya hingga ke dadanya dan menarik kausnya. Bibir Ino seolah menjadi candu karena tidak ada lagi yang di pikirkan Sasuke selain memperdalam ciuman itu
"Ngh.." Ino mengerang kecil yang terdengar sangat seksi di telinga Sasuke.
'Tolong jangan keluarkan suara seperti itu atau aku akan berbuat lebih dari ini.' Batin Sasuke berseru lagi.
Ino mengerang lagi membuat Sasuke hilang akal. Ciumannya turun ke rahang wanita itu, mengecup sepanjang rahang Ino sampai ke bawah telinga wanita itu.
"Ah..." Ino mengeluarkan desahannya.
"Sial." Sasuke memaki sebelum kemudian melanjutkan jajahannya ke leher Ino. Tangannya yang sebelumnya ada di punggung Ino mulai masuk ke dalam kaus putih itu dan merasakan kulit punggung Ino yang basah. Tangan Sasuke kemudian naik hingga mencapai kaitan bra Ino. Untuk Sasuke yang sudah berpengalaman, bukan hal yang sulit untuk membuka kaitan itu dengan satu tangan dan Sasuke sudah satu langkah menuju itu.
"Ternyata kalian disin— oh!"
Segala tautan dan rabaan itu terlepas karena suara yang familiar itu. Ino membelalakkan matanya tak percaya melihat siapa yang memergoki mereka berbuat mesum— oh tidak, mereka suami istri— atau apalah itu namanya di garasi mobil. Uchiha Fugaku dan istrinya Mikoto berdiri di pintu garasi yang terbuka lebar dan menyaksikan putra dan menantunya sedang bercumbu di tempat yang tidak biasa.
"Silahkan dilanjut. Ibu dan ayah akan menunggu di dalam."
Mikoto tersenyum meyakinkan dan menarik suaminya menjauh dari sana.
.
.
.
Anyeong Nihao gaess... Kembali lagi dengan chapter tiga disini. Semoga masih pada betah ya singgah di lapak aku yang ini. Hehehe. Meskipun banyak yang kecewa karena Gaara jadi orang ketiga (lagi), tapi percayalah aku tuh cinta banget sama Gaara. Hehehe.
Tak hentinya aku ucapkan terimakasih buat teman-teman sekalian yang sudah membaca dan mereview cerita yang penuh kekurangan ini. Lop yu teman-teman. Semoga suka chap ini yaa...
Pojokan Ripiu:
Jalapeno : Makasih udah setia menunggu. Ini udah di gas poll.
adyahayutiara : Haloooo... Sebenarnya Ino di pasangin ama siapa aja tetep oke, wong dia cuantik tenan. Hehehe. Makasih udah suka cerita2 aku ya say.
Lazyper : Hehehe aku sukanya good day. Ini udah up yaa.
Kwonie Minorichi : Sejahat itu kah aku? Huhuhu nanti hati kamu aku yang obatin yaa. Makasih udah ripiu.
yumehara : shikamaru kena semprot juga soalnya. Makasih juga sudah baca dan ripiu.
Cloesalsabilaahh : kamu ripiu udah kayak puisi aja 'berlabuh pulang' hahaha. Makasih udah ripiu panjang2 yaa. Ini udah up.
sagaarahime : hahaha aku suka Udon. Kiyut banget, eh pas udah gede malah ganteng. Kokoro ini ga tahan. Makasih udah ripiu yaa
Sylvia Kim : Aku cinta gaara nih. Hehe GaaIno bakal banyak atau enggak yaa? Ini udah up yaa.
Nobita : Tau nih Sasuke kurang di pepet Inonya. Wkwkwk bagian terakhir cap ini udah di pepet tuh. Hehe. Thanks for review.
Kyudo YI : Penasaran ya? Sama, saya juga. Gaara Sasu ada apa ya? Heheh ini udah apdet ya.
Azzura Yamanaka : ini udah apdet ya. walaupun orang ke tiga disini, Gaara tetap nomor satu di hati aku.
Silvia567 : Kenapa harus Gaara? Karena aku cinta dia. Heheh.
Gaskeun : waduh username nya keren amat. Ini udah di gas nih.
Annabelle : Serem amat namanya. Takut nih saya. Aku juga kalau jadi Ino sakit terus biar bisa di jagain bang Sasu.
Loly : Tau nih Sasuke ikut campur aja Ino sama Gaara. Hehe. Au juga cinta kali sama Kakashi, eh koq jadi lari, Hehehe
Miss Cry : makasih udah singgah dan ripiu yaa Miss Cry. Ini udah up.
Xoxo : Sasuke kan emang terkenal Tsundere. Untung ganteng. Ini udap lanjut yaa
Amayy : makasih ya udah ripiu panjang-panjang. Aku sangat menghargai itu. Romancenya kurang yaa? Bakal menyusu kok eh menyusul. Hehe
BngJy : Hai.. Makasih udah ripiu ya. Saskeh mah malu malu kucing.
Ms. Hatake Yamanaka : Ada 'something' ya? Kayak lagu GirlsDay. Hehe Ini udah apdet yaa say.
Cherrysoda123 : Ini udah up ya. Heheh
Skyzofrenia : makasih udah singgah dan suka sama fict ini yaa. Saya juga suka Gaara kok. Heheh. Sudah up ya.
Elfitri : Ini udah apdet ya. Makasih ripiunyaa.
Salam
Yana Kim ^_^
