Disclaimer : Code Lyoko milik Thomas Romain dan Tania Palumbo
Ini adalah fic paling pertama dari seluruh fic saya nantinya.
Peringatan : kemungkinan besar OOC, typo, gaje, karakter baru, dan banyak lainnya. Karena saya pemula, jadi mohon di maklumi.
Fic ini meceritakan kejadian setelah Code Lyoko : Evolution. Untuk pastinya, silahkan membaca fic di bawah ini.
Selamat Membaca!
Keesokan harinya, tepatnya di kafetaria, para LW berkumpul seperti biasa. Kali ini mereka membahas perihal Daniel.
"Jadi, bagaimana sifat Daniel, menurut kalian?" tanya Jeremie.
"Dia baik, tapi misterius." jawab Yumi.
"Dia aneh." sambung Ulrich.
"Ia pandai bergaul." lanjut Aelita.
"Ia pandai melucu." ucap Odd.
"Dia pandai menyusun kata-kata, sehingga kalimat yang diucapkannya bermakna ganda." ucap William.
"Dia pintar." ucap Jeremie.
"Jadi, apa kesimpulanmu, Jeremie?" tanya Aelita.
"Seperti kata Yumi, dia misterius."
"Ayo kita tetapkan sifatnya adalah misterius!"
"Siapa yang sifatnya misterius, Odd?" tanya Daniel yang tiba-tiba muncul dibelakang Odd.
"Eh, itu..." "Segitiga Bermuda!" seru Aelita.
"Ya, Segitiga Bermuda!" sambung Jeremie.
"Oh, Segitiga Bermuda. Bukannya itu yang dibahas Mrs. Hertz kemarin, ya?" ucap Daniel.
"Ya, kau benar." ucap Odd.
"Begitu, ya? Lalu, bolehkah aku berkenalan dengan kalian? Kecuali Odd dan Aelita."
"Boleh, kenapa tidak? Namaku Yumi Ishiyama."
"Namaku Jeremie Belpois."
"Aku William Dunbar."
"Ulrich Stern."
"Daniel Plea. Senang berkenalan dengan kalian. Ngomong-ngomong, apa kalian masih membahas sesuatu yang bersifat rahasia lagi?"
"Sebenarnya..."
"Tidak. Kali ini kami hanya mengobrol biasa saja." ucap Jeremie memotong kalimat Odd.
"Jadi, apa boleh saya duduk disini?" tanya Daniel lagi.
"Tentu saja. Kenapa tidak?" ucap Odd.
"Terima kasih!"
Lalu, mereka saling mengobrol satu sama lain, terutama tentang keseharian Daniel. Ditengah-tengah obrolan yang cukup mengasyikan itu, laptop Jeremie berbunyi menandakan sebuah menara aktif di Lyoko.
"Cepat teman-teman, XANA telah mengaktifkan menara!" seru Jeremie.
"XANA? Ouch..." rintih Daniel sambil memegang kepalanya.
"Daniel? Apa kau baik-baik saja?" tanya Aelita.
"XANA. Sepertinya aku pernah mendengarnya."
"Ya. Tapi aku juga tidak yakin."
"Maaf merepotkanmu, tapi kami harus pergi." ucap Aelita.
Lalu semuanya pergi kecuali Daniel.
"Tunggu, memangnya kalian mau kemana?" tanya Daniel.
"Rahasia lainnya." ucap Odd sembari pergi.
Akhirnya, mereka yang pergi sudah tidak terlihat lagi. Dalam batin Daniel mengucapkan sesuatu.
'Rahasia, ya? Ngomong-ngomong tentang rahasia, paman pernah memberitahukanku sesuatu. Sebuah rahasia, tapi apa, ya?' Lalu, ia tersadar. "Oh ya, aku harus segera ke sana!"
Kemudian Daniel segera beranjak dari kursi dan pergi dari kafetaria, menuju sebuah lokasi tujuan, salah satu alasan mengapa ia pindah sekolah ke Kadic Academy. Disamping itu, para LW tadi pergi ke pabrik melewati jalur rahasia yang biasanya. Sekarang pun, Daniel sedang berlari menuju lokasi tujuannya itu.
"Kalau tidak salah, paman pernah mengatakan kepadaku sesuatu yang berhubungan dengan XANA."
-Flashback-
Di bandara, 10 menit sebelum keberangkatan pesawat menuju Perancis.
"Daniel, ada yang harus kau ketahui sebelum kembali ke kota kelahiranmu. Pertama, kau harus berhati-hati di sana, karena akan ada beberapa anggota MIB yang akan mengincarmu. Kedua, tentang ruang kerja ayahmu."
"Ruang kerja ayahku? Memangnya kenapa?"
"Karena ruang kerja ayahmu itu sifatnya sangat rahasia. Di sana terdapat komputer pribadinya, alat yang dia pakai untuk menciptakan XANA. Yang paman tahu, hanya ayahmu dan paman yang tahu letak ruangan itu. Dan aku akan memberitahukan letaknya padamu."
-End of Flashback-
"Letaknya berada di sebuah pabrik tua. Dan letak pabrik itu terdapat di tengah sebuah sungai. Dan aku menemukannya."
Seperti yang dikatakannya, dia telah sampai ke sebuah pabrik tua yang dimaksud. Pabrik itu sudah terasa tak asing lagi baginya, tapi dia menyangkalnya. Saat di dalam, ia semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya maupun yang sedang dirasakannya. Ia merasa pernah melihatnya, tapi ia tidak dapat mengingatnya. Ia pun melihat para LW sedang memasuki sebuah yang cukup besar.
'Lho, itu kan, mereka yang tadi. Sedang apa di sini?' batin Daniel.
Setelah pintu lift itu tertutup, ia segera mendekati lift tersebut. Ia melihat sebuah tombol disampingnya. Saat ia menekannya, ia merasakan ada sebuah kejanggalan, dimana tombol tersebut tidak berfungsi ketika ia menekannya. Di saat itu pula, ada bagian yang terlihat seakan terlepas dibelakang tombol itu. Ia pun melepasnya. Namun, usahanya itu membuatnya hilang rasa penasarannya akibat dari apa yang dilihatnya. Ternyata dibelakang tombol tersebut terdapat sebuah kata sandi yang harus diketik. Dengan pasrah, ia menutupnya kembali dan bersembunyi sambil menunggu mereka keluar.
Disaat yang bersamaan...
"Virtualization!"
"..."
Di Lyoko, tepatnya di Sektor Pegunungan, para LW sedang menghadapi 9 Hornet dan 2 Megatank.
"Jeremie, kita kedatangan tamu." ucap Aelita sembari monster-monster itu mendatangi mereka.
"Ya, aku melihatnya, Aelita. " balas Jeremie. "Menara aktif ada di belakang mereka, lumayan jauh dari posisi kalian berada. Aku akan mengirimkan kendaraan kepada kalian. "
"Seperti biasanya kau bisa diandalkan, Einstein. " ucap Odd.
Kemudian kendaraan yang dimaksud telah tiba. Mereka pun menaiki kendaraan masing-masing. Sambil para LW bertarung, Daniel masih berada di luar lift, berharap seseorang muncul dari dalam lift tersebut.
"Baiklah, Ulrich. Seperti biasa, yang paling banyak mengalahkan monster, dia yang menang." ucap Odd menantang Ulrich.
"Kau berkata seakan kau yang akan menang kali ini. " balas Ulrich tak mau kalah.
Seperti biasanya, dua sejoli ini akan melakukan kompetisi jika monster yang dihadapi dalam jumlah yang cukup banyak. Mereka berusaha sebaik mungkin agar bisa menang dalam kompetisi tersebut. Ya, begitulah niat awal mereka.
"Apa? Tidak mempan? Bagaimana bisa? "
Seperti yang dikatakan Odd, monster kali ini menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
"Awas dibelakangmu, Odd! "
Dan yang seperti kalian pikirkan, Odd telah devirtualisasi. Begitu pula dengan Yumi dan Ulrich. Maka tersisa William dan Aelita serta 6 Hornet dan 1 Megatank.
"Biar aku yang urus ini. Kau langsung pergi ke menara! " ucap William.
"Baik. "
Tanpa pikir panjang, Aelita langsung berlari menuju menara yang aktif itu. Namun, tepat selangkah sebelum menyentuh menara, seekor Hornet terlebih dahulu menembak Aelita sehingga ia terdevirtualisasi.
"Aelita! "
William yang lengah pun juga ikut terdevirtualisasi.
To Be Continued
Maaf jika kalian para readers lama menunggu kelanjutan dari cerita ini. Kritik dan saran dipersilahkan.
