Butuh waktu 8 jam penerbangan dari Los Angeles menuju Seoul
Evelynn benar-benar tidak sabar untuk segera datang menemui Ahri. yaahh mungkin Ahri akan mengomelinya dan mengatakan kalau tingkah Evelynn waktu pertama kali di telepon sangat menyebalkan. tapi Evelynn tersenyum santai, memang begitulah.
Janji mereka bertemu hari selasa, pukul 17:45 (waktu korea), Ahri mengatakan bahwa dia akan menunggu di bandara jika Evelynn sudah sampai.
.
.
.
di tengah banyak penumpang yang berlalu lalang melewati dirinya yang sedang duduk di kursi tunggu, sembari minum soda, Ahri melihat arloji. ini sudah hampir pukul 6 sore. pasti pesawat yang di tumpangi Evelynn akan segera landing.
'Aku benar-benar tak sabar' Ahri bergumam puas.
Dari papan digital jadwal penerbangan, pesawat Korean AIR KE 2788 sudah landing. Ahri beranjak dari kursinya dan bergegas pergi ke gerbang exit penumpang dari Amerika.
Di samping itu,
Setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat, Evelynn mengambil koper yang sudah di periksa petugas dan segera melangkah cepat. pasti si Gumiho sudah menunggui dirinya. dia melirik ke jam di ponselnya lagi dan berharap agar dia benar-benar tidak terlambat. ini hampir pukul 6 sore, seharusnya dia tiba disini 10 menit yang lalu kalau pesawatnya tidak mengalami kendala waktu di bandara LA.
Ahri melihat-lihat, sudah banyak penumpang yang keluar dari gerbang Exit, tapi dia belum menemukan sosok si Diva.
"Heehhhh dimana sih dia?" Ahri membatin.
Sudah banyak orang berlalu lalang melewati si Gumiho tersebut, sampai manik karamelnya tertuju pada salah satu wanita di sana...
Evelynn.
si Diva itu, sedang berdiri disana.
"Eve..." Ahri bergumam.
Evelynn tersenyum. akhirnya setelah 5 tahun tak berjumpa, dia bisa melihat Ahri kembali.
Tanpa banya kata, Ahri berlari ke arahnya. air mata penuh haru mengalir melewati pipinya, dan membiarkan dirinya melangkah maju ke arah Evelynn.
"EVEEEEE!" Panggil Ahri.
Evelynn membuka lengannya lebar-lebar.
"Ahri"
"EVEEEEEEE! ANNYEONG~!"
*PLAAAAAAAAK!
Evelynn langsung memberi keplakan ke kepala Ahri.
"ADUH!"
"Dasar Gumiho! kau ini memalukan! ini di bandara! bukan sinetron!" ketus Evelynn.
"Ugghh kenapa kau memukul kepalaku!?" Ahri langsung protes, tangannya mengusap-usap kepala bekas keplakan si Diva tadi.
"Hei! kau berteriak menyebut namaku di depan umum!" jawab Evelynn.
"Gggrrr! dasar wanita menyebalkan! pulang sana ke Los Angeles!" ketus Ahri.
"OOOHHHHH kau tidak menghargai kedatanganku ya!?"
"GGGRRR!"
Mereka berdua saling menatap penuh cekam, hendak mencakar satu sama lain.
Tapi tentu, jeda sebentar sampai mereka berdua tertawa geli.
"Hahahahahha! kau ini jago akting ya!?" tanya Ahri.
Evelynn tertawa keras, hampir mengeluarkan air mata. "Hahahah! dasar bodoh! aku serius memukulmu tahu!"
Ahri tertawa puas, dia langsung merangkulkan lengannya ke atas pundak si Diva, mengajaknya berjalan lagi. "Baiklah baiklah! ayo kita pulang. pasti perjalananmu dari amerika memakan waktu yang panjang ya?"
"Haahh baiklah, baiklah Gumiho"
.
.
.
Ini adalah kamar apertemen mewahnya Ahri.
Untuk seukuran penyanyi idol popstar tinggal di apertemen? gak salah tuh?
Memang tidak salah. Ahri sendiri yang meminta ingin tinggal di apertemen, selain jaraknya lebih dekat menuju gedung management, disini juga memiliki fasilitas yang super lengkap. Ahri bukan tipe orang penyendiri seperti Evelynn, dia lebih suka bersosialisai dengan siapapun. menurutnya, kalau punya rumah besar tapi penghuninya cuma satu, untuk apa? Ahri sudah merasa cukup dengan kehidupan yang ia punya sekarang, meski itu cuma apartemen berkelas.
"Ini pertama kalinya bagimu datang ke Korea kan?" kata Ahri.
Evelynn agak membetulkan kacamatanya. "Yah, benar"
"Kita tinggal disini. aku benar-benar tak sabar akan mendiskusikan sebuah grup idol yang pernah ku katakan padamu Eve, ini pasti akan hebat!" jawab Ahri, penuh semangat.
Evelynn tersenyum. betapa indahnya mempunyai teman seperti Ahri.
"Nah Eve, waktu aku menelponmu, suaramu agak terdengar serak. kau baik-baik saja kan?" tanya Ahri.
Evelynn menghembus nafas ringan. dia langsung duduk di atas sofa dan melepas kacamata pinknya. "Sebenarnya, ada yang ingin kukatakan padamu, Ahri"
"Eh? apa itu?"
Ahri ikut duduk di sebelahnya.
"Dengar, waktu kau menelponku. aku hendak bunuh diri" jawab Evelynn.
Seketika, Ahri terkejut.
"APAAAAAAAAAAAAAAA!?"
"Oke oke! bisa kau tenang dulu! jangan teriak!" Evelynn langsung protes.
Ahri beranjak dari kursinya dan meraup jaket Evelynn, memberinya tatapan mencekam. "Kau! apa yang kau lakukan!? kau bunuh diri saat aku menelponmu! KENAPA KAU LAKUKAN ITU HAH!?"
"Dengarkan aku dulu, Gumiho! duduk dulu!"
Ahri langsung duduk, menatap intens pada si Diva.
"Dengar Ahri, aku tahu perbuatanku bodoh. aku menghabiskan 6 batang rokok dan sekalian aku menelan asapnya agar paru-paruku mati. aku juga menyiapkan obat agar aku bisa overdosis, bahkan ada pistol di meja" jelas Evelynn.
Ahri mulai sedih. "Kenapa... kenapa kau lakukan itu, Eve?"
"Karena aku depresi" jawab Evelynn. "Selama berbulan-bulan ada banyak rumor skandal yang menimpaku, awalnya aku bersikap biasa saja. tapi semakin lama, rumor itu membuatku gila. aku merasakan beban yang besar. management menuduhku, dan teman-temankup pergi disaat aku kesusahan"
"Oh.. Eve..." Ahri hampir menangis.
Evelynn mendengus. "Baiklah kucing, jangan menangis"
"Tidak! maksudku... kau sembunyikan ini semua? kau sebenarnya depresi dan kesepian. kalau begitu, aku takkan meninggalkanmu!" ucap Ahri.
"Hahhh terima kasih Ahri, tapi jika kau tidak menelponku saat itu, aku sudah tinggal nama sekarang" ucap Evelynn.
Ahri memberi usapan lembut ke bahu si Diva, memberi support terbaik agar dia merasa nyaman sekarang.
"Evelynn, kalau ada masalah. katakan semuanya padaku. tidak perlu menjadi rahasia lagi, mulai sekarang kita harus saling terbuka. apapun itu, katakan semua yang ingin benar-benar kau keluarkan. kau tidak bisa hidup terbebani seperti ini"
Evelynn agak terdiam. dia mengangguk pelan dan langsung memberi tepukan kecil ke bahu si rubah yang duduk di sebelahnya. "Maafkan aku Ahri, aku janji tidak akan bertingkah bodoh lagi"
"Kau ini membuatku jantungan, Siren. sungguh! jangan coba-coba bunuh diri, atau aku yang membunuhmu!" Ahri mengancam.
"Wah? kau akan membunuhku? aku tunggu aksimu, kucing" Evelynn tertawa licik.
Ahri tertawa lagi. "Haah! baiklah! karena kau baru sampai ke Seoul, bagaimana kita cari tempat makan? atau mau pesan saja?"
"Aku sedang malas berpergian, pesan makanan saja"
"Baiklah"
.
.
.
Malam hari
Pukul 19:40 pm.
TV masih menyala, menayangkan segala macam siaran iklan.
Berhubung Evelynn sedang berada di Korea, dia harus mengikuti budaya dan aturan makan yang santun.
Menu makan malam hari ini sangat sederhana. di tengah-tengah meja, ada pemanggang kecil yang mengepulkan aroma asap daging Bulgogi, di temani hidangan Kimchi dan air putih. ini pertama kalinya bagi sang Diva mencicipi nasi, sebuah beras putih yang telah di nanak oleh Ahri sendiri.
"Ahri, ini nasi?" tanya Evelynn.
Ahri mengangguk. "Hummm"
Dan dia menyicipnya sedikit. "Ini tidak ada rasanya"
"Eve, kau sedang berada di Korea, nasi disini adalah kebutuhan pokok utama" ucap Ahri, masih menikmati makan malamnya.
Tapi sungguh, si Diva agak kesulitan makan dengan sumpit. berkali-kali dia mencoba mengambil nasi dan daging, tetap saja tidak bisa, justru makanannya malah jatuh. kelakuan dan tingkah bingungnya membuat Ahri tertawa, hampir saja tersedak.
"Hahaha! Evelynn, kau mengalami Culture-Shock!"
"Ugghh! kenapa harus pake sumpit sih! tidak ada sendok atau garpu!?" keluh Evelynn, sekarang makanannya berceceran ke atas meja.
"Dasar anak payah! hanya orang lemah makan pake sendok!" ledek Ahri.
Evelynn langsung menancapkan sumpit ke atas meja. "Aku tidak bisa makan dengan sumpit! seharusnya kau menyediakan sendok!"
"Hei hei hei! tidak sopan menaruh sumpit dengan cara begitu! cepat ambil lagi!" perintah Ahri, menunjuk-nunjuk.
"Heehhh, baiklah" Evelynn mencabut sumpitnya lagi, dia pun mengangkat mangkuk setinggi dada agar makanannya tidak terlalu berjatuhan.
"Eve, taruh mangkuknya ke meja. itu tidak sopan" ujar Ahri.
"Kenapa mau makan saja banyak aturan!? aku tidak biasa makan begini!" Evelynn protes.
"Disini, ada banyak etika makan yang sopan. kalau kau makan malam bersama sekelompok orang dan salah satu di antara mereka ada yang lebih tua darimu, kau harus membiarkan yang lebih tua mengambil sumpitnya dulu sebelum kau" jelas Ahri, masih mengunyah makanan.
Evelynn mengangkat sebelah alisnya, heran. "Lalu? aku harus menunggu orang tua sampai selesai makan baru aku? begitu maksudmu?"
"Maksudnya, sebagai bentuk menghormati orang yang lebih tua. ingat, kau disini tidak bisa berbuat seenaknya seperti di Amerika. yaahh aku tahu sih, budaya orang memang berbeda-beda. tapi karena kau berada disini, kau harus ikut semua yang ada" jelas Ahri lagi.
Evelynn hanya bisa mendengus. dia belum terbiasa dengan aturan yang serba sopan dan santun. dia memegang sumpit lagi dan mencoba mengambil nasi, dan sial... lagi-lagi nasinya jatuh.
Ahri mulai tertawa "Hahahahahaha!"
Baiklah! si Diva mengaku kalah, dia belum terbiasa makan malam seperti halnya orang-orang Asia. karena kasihan melihat teman lamanya kesusahan begini, akhirnya Ahri memberi sendok pada Evelynn.
"Tidak sopan jika makanan di habiskan setengah saja. Cheoncheoni mani deuseyo" ujar Ahri.
"Hah? apa artinya?" tanya Evelynn.
"Makanlah pelan-pelan" jawab Ahri, dia mulai meniup-niup sedikit kepulan asap di atas pemanggang. "Daging asapnya masih panas"
"Lalu kenapa makanan harus benar-benar habis? bagaimana kalau sedang tidak lapar?" tanya Evelynn.
"Kau tinggal di Korea, disini menghabiskan makanan yang telah di sajikan tuan rumah merupakan bentuk ucapan syukur dan menghargai" jelas Ahri.
"Tapi kau memesan makanan ini, bukan masak sendiri" balas Evelynn.
Ahri berkacak pinggang. "Hei! mau makanan ini di pesan atau masak sendiri, tetap saja harus di habiskan! cepat makan sampai kenyang, karena kita harus menulis lagu"
"Kau sudah menulis lagu?"
Ahri mengambil lembaran kertas berwarna pink dari meja dekat TV. "Tentu saja! aku sudah menulis setengah liriknya. tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu padamu. menurutmu, Idol grup itu seperti apa?"
"Idol grup, biasanya berisi banyak member. paling sedikit 3, paling banyak bisa lebih dari10 orang" jawab Evelynn.
Ahri memberi jempol. "Ding ding ding ding! Itu benar!"
"Oy Gumiho, apa kau memikirkan berapa member untuk grup idol kita?" tanya si Diva.
Ahri tersenyum. "Aku sebenarnya ingin punya banyak member, tapi kurasa.. 4 orang sudah cukup"
Evelynn menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi kita perlu mencari dua orang lagi?"
"Tentu saja!" Ahri mengangguk cepat. "Kita berdua jago menyanyi, suara vokal kita bagus, tapi tidak akan seru tanpa adanya lead dancer"
Evelynn memutar bola matanya, setengah malas. "Dancer? ayolah Gumiho, aku tidak jago menari"
"Baiklah, terlalu cepat untuk mencari member. bagaiman kalau kita berlatih menari dulu? aku sih bisa, bagaimana denganmu? Succubus?" tanya Ahri, mulai memasang senyum sombong.
Evelynn mendengus. "Tsk, kau pikir tubuhku ini kaku seperti besi loteng? aku bisa saja belajar menari lebih cepat satu kali daripada kau"
Ahri iseng memukul bahu si Diva, tertawa keras. "Hahaha! lucu sekali Evie Evie!"
"Lalu sekarang apa yang kau tulis, kucing?"
si rubah langsung menunjukkan selembaran yang baru saja ia tulis. "Ini potongan lirik lagu yang ku ciptakan sendiri! hanya 4 baris. konsep dari lirik yang ku tulis ini adalah tentang sesuatu yang berkaitan dengan 'Popstar'. seseorang terkenal tidak hanya berbakat saja, namun tampil percaya diri dan penuh optimis. yaahh ku harap kau bisa memberiku masukan sih"
Manik golden si Diva ini membulat, sungguh?
Down down down down down down
Down down down down down down
Down down down down down down
Down down down down down down
"HAH? LIRIK LAGU APA INI?" tanya Evelynn.
"Memang beginilah caraku memulai sebuah lagu! kau tidak bisa meremehkan kemampuanku, iblis" jawab Ahri.
"Lirikmu tidak jelas! sini biar aku yang buat!"
Evelynn langsung menyabet lembaran tersebut dan ikut menambahkan.
"Nah! begini lebih baik!"
I'm a picture-perfect face
With that wild in my veins
You can hear it in my
Growl, growl, growl, growl
Ahri membaca sepotong lirik tersebut, dia menatap Evelynn dengan tatapan bosan. "Huh, kau ini tidak pandai membuat lirik ya?"
"Kau meremehkanku?" Evelynn bertanya balik.
"Apa maksudmu yang bagian Growl, Growl, growl-nya? kau mau adu geraman dengan binatang buas?" tanya Ahri.
Evelynn mulai kesal. "Hei! ini yang disebut seni menulis lirik! kau ini tidak paham maknanya ya!?"
"Ugghhh! ayolah Eve! kita harus serius!"
"Aku sudah serius, kucing!"
"Berikan lembarannya padaku!" giliran Ahri yang meraup kertas tersebut. dia membaca sejenak sebelum hendak menulis lagi.
"Ehh tunggu, ini tidak buruk" ucap Ahri.
Evelynn cemberut. "Tadi kau mengejek lirik laguku"
"Bukan begitu! lirik lagumu memang jelek. tapi... jika aku menaruh lirikmu di atas tulisan lirikku, maka hasilnya jadi begini!"
Ahri menulis dengan cepat, dan kembali menunjukkan hasil tersebut ke hadapan Evelynn.
I'm a picture-perfect face
With that wild in my veins
You can hear it in my
Growl, growl, growl, growl
Down down down down down down
Down down down down down down
Down down down down down down
Down down down down down down
Evelynn mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya. sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi...
"Ahri, bagian down, down down nya di hapus dua baris yang bawah"
Ahri mengerjapkan mata. "Eh? kenapa?"
"Coba saja"
Ahri menghapus sebagian.
I'm a picture-perfect face
With that wild in my veins
You can hear it in my
Growl, growl, growl, growl
Down down down down down down
Down down down down down down
"Wow Eve, ini tidak begitu buruk!" kata Ahri.
Evelynn tersenyum bangga. "Aku hanya menulis asal-asalan, tapi rasanya kita harus menyusun konsep lagu ini sebelum menulis liriknya lagi"
"Baiklah, bagaimana kalau kita cari member lain! ada saran?" tanya Ahri.
Evelynn agak berpikir sejenak. sambil mengetuk-ketuk sumpit di pinggiran mangkuk, dia berusaha memikirkan kenalan yang bisa di ajak kerjasama.
"Eve, berhenti mengetuk-ngetuk sumpit, itu tidak sopan" ujar Ahri.
Evelynn berdecak. "Kau ini sok ngatur-ngatur, heh"
"Tadi aku bilang, aku ingin ada lead dancer, girlband yang bagus itu akan semakin keren kalau menyanyi di sertai menari. apa kau punya kenalan yang kira-kira dapat membantu kita?" tanya Ahri.
"Sebenarnya tidak ada. kenalanku kebanyakan penyanyi solo. tapi aku pernah melihat sekilas lewat siaran Dance Competition, Hongkong. wanita itu benar-benar berbakat, dia adalah salah satu konsestan dan masih mengikuti lomba" jawab Evelynn.
Ahri langsung berbinar-binar, masih ada harapan!
"Sungguh!? siapa namanya?"
"Aku lupa. namanya Kai... eehhmmm... uggh! aku benar-benar lupa! pokoknya nama depan dia adalah KAI!" jelas Evelynn, dia langsung meraih ponsel dan menunjukkan salah satu video Dance Competition Hongkong ke Ahri.
"Lihat? dia hebat bukan?"
"Woaaaahhh!"
Ahri benar-benar kagum. wanita ini sangat hebat dalam menari! koreografinya tak kalah dengan girlband atau boyband terlatih seperti pada umumnya. dan lagi, dia adalah Juara satu dalam kompetisi tersebut.
"Menurutmu, bagaimana kita bisa menghubungi orang ini?" tanya si rubah.
Evelynn hanya mengangkat bahu. "Dia punya instagram kan? hubungi saja"
"Tapi... bagaimana kalau dia tidak mau?" tanya Ahri lagi.
"Kau belum mencoba, Gumiho"
Ahri menyerahkan ponsel si Diva itu kembali. "Ehmmm baiklah... saranmu sudah lumayan membantu, Eve. tapi aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, aku harus melihat semua video-video dancenya sebelum memutuskan"
"Baiklah, aku memahami itu Gumiho"
Dan bagi mereka berdua, memulai sesuatu dari awal memang tidak begitu buruk kan? sudah saatnya mencari member lain.
Bersambung
