Captivated

Chapter 2 : N.O.

by: alestie

Disclaimer : Fiksi.

Pairing : Bangtan Boys – Kim Taehyung/Jeon Jeongguk

Words : 4500+

Rate : T

Genre : Romance, Drama, AU: School-Life.

Warning : BoyxBoy. Strong Language. Blackmailing. Underage. Rating may change, may not.


Story :

Pagi-pagi sekali, Jungkook telah duduk manis di bangku kelasnya yang masih kosong. Ia membuka-buka buku pelajarannya, mengulang pelajaran yang telah dibacanya kemarin malam. Ia menghela napas.

Jungkook sengaja datang sepagi mungkin; ia ingin memperkecil kemungkinan untuk bertemu dengan Kim Taehyung walau hanya sedikit saja. Ia sudah memutuskan; hari ini ia akan berdiam saja di kelas. Ia tidak akan ke kantin, ke ruang guru, ke perpustakaan—manapun. Ia hanya akan di kelas, dan sepulangnya, ia baru akan pergi ke lapangan untuk berlatih sepak bola.

Ia telah meninggalkan ponselnya di apartemen. Dengan begini, sempurna sudah rencananya untuk terbebas dari kakak kelas serigala—yang sialnya berparas malaikat—nya dan mengembalikan keseharian hidupnya seperti semula. Tenang dan tentram.

Semakin lama, satu per satu teman sekelasnya datang dan memenuhi seluruh bangku hingga penuh.

Jungkook tak henti-hentinya melirik gerbang sekolah dari jendela tempatnya duduk, memastikan apakah kau-tahu-siapa akan masuk ke sekolah atau tidak. Ia banyak mendengar kalau Kim Taehyung sering absen seenaknya tanpa alasan—yah, seperti bocah berandalan biasanya.

Hingga bel berbunyi, ia tidak melihat sosok rambut oranye memasuki pintu gerbang. Tanpa sadar, ia menghela napas lega.

Syukurlah, psikopat cumi-cumi itu tidak berangkat hari ini.

Setidaknya, Jungkook berpikir jika ini awal yang cukup baik.


Dengan mood yang sangat baik, Jungkook menggumamkan senandung ceria ketika bel makan siang berbunyi. Setengah hari sudah terlewati, dan ia sangat yakin jika si pemeras itu tidak masuk hari ini. Semoga saja dia dikepung berandalan SMA seberang, pikirnya tak acuh. Pikirannya tak bisa lepas dari Kim Taehyung sejak insiden kemarin. Apalagi karena namja itu mengantarkannya ke apartemen kemarin malam. Sepanjang perjalanan pulang, Taehyung terus memaksanya untuk menceritakan sesuatu tentang dirinya. Mulutnya sampai lelah berbicara. Ia menceritakan perjalanan hidupnya hampir seumur nyawanya—dari umur lima tahun hingga sekarang. Ketika ia kehabisan akal tentang apalagi yang harus diberitahunya kepada hyungnya, Taehyung akan mulai menggodanya dengan mengeluarkan ponsel dan membuka website sekolah mereka. Benar-benar sepuluh menit perjalanan yang sangat menyiksa.

Ketika Jungkook berpikir jika ia bisa bernapas lega, tiba-tiba ia merasakan keheningan yang aneh mendadak tersebar di kelasnya. Tiba-tiba, tak ada satupun orang yang mengeluarkan suara di kelasnya. Bahkan para wanita biang gosip yang duduk di pojok kelaspun ikut bungkam.

Dan tiba-tiba, semua mata teman-temannya tertuju ke arahnya. Jungkook mengangkat kepalanya dan—

"Jungkook-ah."

Kedua bola mata Jungkook membesar, jantungnya langsung memacu kencang. Kim Taehyung, dengan langkahnya yang lebar, masuk dari pintu kelasnya. Wajahnya dingin tak bersahabat. Beberapa detik sebelum Jungkook menyadarinya, namja yang lebih tua itu telah berdiri di hadapannya.

"Ikut denganku. Sekarang." Suara Taehyung dalam dan berat, seakan ia tak ingin mendengar sangkalan apapun dari perintahnya.

Jungkook merasakan kedua lututnya lemas seketika, "Aku—bel masuk lima menit lagi berbunyi, hyung." Ujarnya mencoba memberikan alasan yang masuk akal.

"Bolos."

Hanya itu ucapan Taehyung, sebelum dengan tak sabar menggenggam kasar pergelangan tangan Jungkook dan menariknya keluar kelas.


"Ponselmu dimana, Jungkook-ah?"

Setelah berhasil menyeret dongsaengnya dari kelas 1-A di lantai satu hingga ke atap sekolah dalam diam, Taehyung akhirnya menoleh ke arah Jungkook dan bertanya datar. Suara yang keluar dari bibir namja yang lebih tua terdengar begitu datar dan monotonik; dan hal itu langsung membuat bulu kuduk Jungkook bergidik ngeri. Ia pikir Taehyung akan mengaum di wajahnya—tetapi tidak. Ketenangan itu justru membuat Jungkook seakan kehilangan akal sehatnya. ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.

Jungkook menelan ludah, cengkeraman di pergelangan tangannya semakin kuat, "Aku—aku tidak membawanya. Tertinggal di apartemen…" Ia menjawab lirih. Otaknya tak bisa berhenti merasakan panik meskipun hatinya terus membisikkan untuk tenang.

Pandangan mata Taehyung sangat tajam, wajahnya menakutkan. "Apa kau sengaja meninggalkannya?" pertanyaan Taehyung membuat jantung Jungkook seakan copot. Pikiran-pikiran naifnya tentang keseharian yang tentram segera retak dan runtuh seketika. Jungkook segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Benarkah? Kau tidak sedang berbohong padaku?" Taehyung mendesis berbahaya, bayang-bayang gelap tampak jelas sekali memantul di dalam bola matanya yang tampak kemerahan karena tersiram cahaya matahari.

Mendengarnya, Jungkook buru-buru menggelengkan kepalanya sekali lagi.

Taehyung menghembuskan napas kasar, "Kalau begitu, katakan padaku; kau siapa, Jeon Jungkook." Suruhnya dengan gestur yang dapat membuat siapapun merasa terintimidasi.

Sial, sial, sial… Jungkook tak henti-hentinya merutuk dalam hati. Tapi ia tahu jika ia tak punya pilihan lain—Taehyung tidak memberikannya pilihan lain. Di saat seperti ini, Jungkook justru sama sekali tidak mengingat jika ia terpaksa mematuhi semua kata-kata Taehyung karena ia menyimpan rahasia terbesarnya; tetapi memang karena ia benar-benar gentar untuk melawan Taehyung yang menatapnya dengan begitu sadis.

Jungkook menelan ludah, sebelum akhirnya menjawab dengan suara parau, "…aku—" jedanya ragu, "…aku dongsaengmu yang manis dan penurut." Lidahnya terasa kelu begitu ia membiarkan kata-kata yang menghancurkan harga dirinya itu keluar dari kerongkongannya.

Taehyung terdiam sejenak; menatap namja di hadapannya lamat-lamat. Ia perlahan melepaskan genggamannya dan berkata memerintah, "Lain kali jika kau meninggalkannya, pulanglah dan ambil. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi. Kau mengerti, Jungkook-ah?" ia memastikan untuk terakhir kalinya.

Jungkook mengangguk pelan, "…ne, hyung. Aku mengerti."

Mendengarnya, Taehyung tersenyum puas. Jungkook nyaris terperangah karena pesona yang terpancar tak terhentikan dari wajah hyungnya—andai saja kepribadiannya sama seperti penampilannya; pasti Jungkook sudah menjadi teman dekatnya sejak lama.

Aish, apalah imajinasi gila yang baru saja dipikirkannya? Jelas-jelas saat ini Taehyung tak lebih dari serigala—pahatan Picasso—yang sedang membelenggu kakinya dengan rantai. Ia buru-buru membatin untuk berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh, bodoh sekali.

Di tengah lamunannya yang semakin tak karuan, Jungkook mendengar bel berbunyi nyaring. Matanya langsung mengerjap tanggap. Mengusahakan suara selembut mungkin, Jungkook bertanya dengan sangat hati-hati, "Uh… apa sekarang aku boleh kembali ke kelas, hyung?"

Taehyung mengangkat sebelah alisnya, "Apa? Ke kelas? Jangan bercanda." ujarnya dengan tawa mengejek, "Duduk dan silang kakimu." Perintahnya sambil mengacung ke suatu sudut di hadapannya.

Namja yang lebih muda mendesah frustasi, "Tapi hari ini aku—"

"Duduk dan silang kakimu." Taehyung mengulang, kali ini lebih forsif dan tajam, "Atau kau tak bisa melakukannya untukku? Kau tak bisa menjadi dongsaengku yang manis dan penurut, Jungkook-ah?" ia meremas pundak adik kelasnya ringan, menatapnya dalam.

Jungkook segera bungkam; entah kenapa, jantungnya berdebar kencang setiap kali Taehyung memperlakukannya seperti ini. Ia tahu, seharusnya ia memberontak; namun ia tidak melakukannya. Ia merasa terperangkap—entah oleh apapun yang terpancar dari aura Taehyung yang berbahaya. Hatinya bergejolak kacau, ia tidak pernah membolos kelas sebelumnya; apalagi hari ini ada tugas penting yang seharusnya dikumpulkannya di mata pelajaran kali ini.

Akan tetapi, pada akhirnya, Jungkook hanya bisa mendesah dengan napas bergetar dan berbisik lirih, "….aku—aku bisa melakukannya." Ia berucap lemah, merasakan matanya mulai memanas.

Dengan langkah gontai, namja berambut hitam itu melangkah ke tempat yang tadi ditunjuk hyungnya dan perlahan duduk menyandar dinding. Ia lalu menyilang kakinya, sesuai perintah Taehyung sebelumnya. Ia lalu mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Taehyung. Mata kelincinya mengikuti kakak kelasnya yang dengan senyum puasnya ikut berjalan ke arahnya. Namja itu kemudian berjongkok sangat dekat di depannya, menyeringai lebar, kemudian menyentuh pipi kanan dongsaengnya dengan ujung-ujung jemarinya yang dingin.

"Kau manis sekali saat patuh dan tak banyak bicara seperti ini, Jungkook-ah." Taehyung berkata dengan suaranya yang serak, matanya berkilat merasakan antusiasme yang aneh berdesir di dadanya, "Pantas semua guru-guru menyukaimu. Anak baik, tampan, siswa teladan, pintar …dan penurut." Desisnya berbahaya. Kedua bola matanya tanpa sadar mengamati dua belah bibir merah Jungkook yang setengah terbuka, pandangannya terpaku dan enggan mengalih. Taehyung kemudian menurunkan jemarinya dan mengusap bibir bawah dongsaengnya dengan ibu jarinya, "Hei, katakan padaku, apa kau selaiu begini? Membiarkan semua orang membuatmu melakukan apapun yang mereka inginkan? Atau jangan-jangan... kau justru menyukainya?"

Begitu Taehyung mengangkat pandangannya kembali ke bola mata sang adik kelas, kini giliran dirinyalah yang terperangah. Matanya melebar menyaksikan namja yang lebih muda menatapnya dengan mata bergetar dan berlinang, air matanya telah menggenang tetapi tidak jatuh. Napas Jungkook terengah, dadanya naik turun dengan tempo yang cepat, alis di keningnya mengernyit jelas; bahkan ia berusaha sejauh mungkin mengambil jarak dengan menekan tubuh belakangnya ke dinding—ia tampak sangat ketakutan. Tetapi di atas segalanya. Jungkook terlihat... apa kau menyebutnya; seksi?

Perlahan, Taehyung melepaskan jemarinya, bergerak mundur. Akalnya bisa meletup jadi kacang goreng jika tidak segera menjauh dari posisinya yang seperti ini. Taehyung tak pernah benar-benar memikirkan soal orientasi seksnya; tetapi ia cukup yakin kalau dirinya normal. Ia belum pernah merasakan ketertarikan dengan sesama jenis—kecuali jika sesama jenis itu ternyata seorang Jeon Jungkook; yang mempunyai keindahan melebihi sebuah kecantikan dan ketampanan. Bahkan ia tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Terlalu rumit, dan ia tak ingin mengakuinya.

"Aish, brengsek!" Taehyung tiba-tiba mengerang sambil mengacak-acak rambut oranyenya, frustasi dengan dirinya sendiri. Jungkook terperanjat kaget, namun ia tak berani mengeluarkan suara apapun.

Namja yang lebih tua kemudian bangkit dari posisi berjongkoknya, melangkah ke sisi kiri dongsangnya. Dengan gerakan tak sabar, ia menjatuhkan kepalanya di paha Jungkook dan membaringkan tubuhnya di lantai. Ia mengangkat salah satu kakinya di atas kaki lainnya, kemudian menggunakan lengan kirinya untuk menutup wajahnya. "Jangan bergerak." Ujarnya memerintah, "Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku, apapun alasannya." Lanjutnya masih dengan nada yang sama dengan sebelumnya.

Jungkook hendak protes, tetapi urung karena ia tak punya cukup nyali untuk melakukannya.

Jadi ia hanya diperlakukan sebagai bantal?! Membayangkan Taehyung yang mungkin akan terus terlelap hingga bel pulang sekolah berbunyi, Jungkook mendesah frustasi tanpa bisa melakukan apapun. Kelas masih berjalan setengah hari, ia punya ekstrakulikuler sepak bola, dan bahkan urusan penting di OSIS—ia akan membolos semua itu, demi menjadi bantal?!

Kim Taehyung benar-benar tak memiliki sesuatu yang baik dalam dirinya. Secuilpun.

—kecuali wajahnya.


"Hei, bangun."

"Jungkook-ah, bangun, sudah bel pulang."

"Jebal, bangunlah! Kau mau menginap di sekolah, hah? Jung—ah, syukurlah."

Dengan wajah mengantuk, Jungkook perlahan membuka kelopak matanya. ia mengerdipkan mata beberapa kali, menyesuaikan pandangannya karena sinar matahari yang menyala di atas kepalanya. Pikirannya kosong. Ia melihat sosok Taehyung yang masih berjongkok di hadapannya sambil mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dicernanya. Dimana ini? Otaknya berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga ia bisa sampai tertidur di atap se—

Matanya langsung bulat, seratus persen terbuka begitu ia sepenuhnya teringat alasan mengapa ia bisa terdampar di sini, di waktu gila ini, bersama orang paling tidak masuk akal ini.

Jungkook merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia jatuh terlelap juga bersama serigala abnormal di pangkuannya?! Ia merasa sangat, sangat, sangat bodoh. Aish, mana bel pulang sudah berbunyi pula—ia benar-benar membolos! Dan bahkan ia menikmati tidurnya. Parah… parah sekali. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok karena frustasi akan kebodohannya sendiri.

"Kau susah sekali bangun. Apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Taehyung dengan nada rendah.

Jungkook terdiam sejenak. Oh iya, ia baru ingat jika semalaman ia susah sekali tidur karena gelisah memikirkan dirinya yang terjebak di perangkap Taehyung dan tak tahu caranya untuk keluar. Akhirnya ia baru bisa tidur dua jam terakhir sebelum alarm ponselnya berbunyi; dan ia sudah merencanakan untuk berangkat sepagi mungkin hari ini. Ah, pantas saja tidurnya barusan nyenyak sekali.

"Jungkook-ah, kau baik-baik saja?" Namja yang lebih tua melambai-lambaikan tangannya di depan wajah dongsaengnya.

Tersadar, Jungkook segera bangkit dari sandarannya ke dinding, "Aku… semalaman aku menggarap tugas, tapi sekarang aku baik-baik saja. Maafkan aku, hyung." Ujarnya cepat-cepat.

Taehyung terkekeh kecil, "Kau tidur seperti mumi. Hampir saja aku berpikir jika kau mati karena pahanya kujadikan bantal," candanya sambil bangkit dari posisinya. Jungkook mengerdipkan matanya beberapa kali. Hatinya sedikit lebih tenang jika mood hyungnya terlihat baik seperti ini.

"Tadinya melihatmu masih tidur, aku ingin melanjutkan tidurku saja. Tapi Yoongi terus menerus menghubungiku, memintaku mengembalikan 'wakil-panitia-acara-festival-tahunan-sekolah' nya secepat mungkin. Bagaimana pula dia bisa tahu kalau kau bersamaku?" tutur Taehyung tak habis pikir, "Dia cerewet sekali, tapi dia benar-benar tahu kalau aku paling tidak bisa menolaknya," Taehyung mendesah sambil menghembuskan napas malas.

Jungkook mengernyitkan dahinya, "Nng, Ketua OSIS—maksudku, Yoongi-sunbae temanmu, hyung?"

Ia tak pernah membayangkan jika Ketua OSIS SMA mereka, Min Yoongi, yang dikenal paling tegas dan berwibawa itu berteman dekat dengan Kim Taehyung, siswa paling berandalan dan disegani di sekolah. Benar-benar kombinasi yang unik.

Taehyung mendecakkan bibirnya, "Sudah jangan banyak tanya. Sana cepat berangkat, sampaikan salamku padanya." Ujarnya malas sambil memiringkan kepalanya, menyuruh Jungkook cepat bergegas.

Jungkook segera bangkit. Kakinya kesemutan, tetapi ditahannya dan ia mulai melangkah terhuyung. Ah, bahkan ia tak bisa membayangkan bertatapan muka dengan teman-teman sekelasnya, sungsaengnim yang ia tinggal kelasnya, dan siswa-siswi lain yang melihatnya diseret oleh seorang Kim Taehyung dari lantai satu hingga puncak. Ia bergidik ngeri; tak ingin membayangkannya.

Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruang atap, langkahnya terhenti ketika sang kakak kelas memanggilnya keras sekali lagi. "Yah, Jungkook-ah!" Mendengarnya, Jungkook pun menoleh.

"Aku menunggumu di sini. Setelah selesai dengan urusan OSIS merepotkan itu, langsung kemari." Perintahnya sambil mulai berbaring lagi.

Jungkook sudah membuka mulutnya untuk menyanggah, tetapi Taehyung buru-buru menambahi;

"Tidak usah latihan sepak bola." Katanya enteng, kembali memejamkan matanya tak peduli.


Pulang dari rapat, tak banyak perubahan yang terjadi. Jungkook akan kembali ke atap dan menemui Taehyung, membangunkannya dan mengajak pulang. Ia menurut; tidak ikut latihan sepak bola; meskipun sebenarnya ia sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sunbae favoritnya, Jung Hoseok. Sepanjang perjalanan pulang, mereka mulai mengobrol dengan kasual. Jungkook selalu berpikir jika hyungnya adalah orang yang sangat misterius; tetapi, begitu banyak berbicara dengannya, ia mulai merasa berbeda. Taehyung punya selera humor yang luar biasa, ia dibuatnya terbahak berkali-kali.

Sepuluh menit perjalanan pulang hari itu terasa lebih cepat dari biasanya.

Hari esok dan lusanya, Jungkook tidak bertemu dengan Taehyung sama sekali. Ia bahkan sudah membawa ponselnya dengan perasaan was-was, tetapi tak ada pesan atau panggilan apapun. Hari itu, ia merasa lega dan tenang. Ia bisa mengikuti latihan sepak bolanya, mempersiapkan festival untuk stand kelasnya, lalu rapat OSIS nya untuk event yang akan berjalan satu setengah bulan lagi. OSIS dan kepanitiaan telah mengirimkan proposal, dan pagi ini ia mendapat kabar dari Yoongi-sunbae jika permintaan mereka sudah disetujui.

Hari selanjutnya, Taehyung menghubunginya ketika makan siang. menyuruhnya membelikannya makanan di kantin dan naik ke atap. Gaya bicaranya masih tinggi, memerintah, dan mendominasi. Begitupula dengan hari-hari seterusnya. Dua minggu menjadi 'dongsaeng privat' Taehyung membuatnya menyadari jika tingkat keberangkatan sang 'psikopat serigala' itu tak lebih dari satu per dua. Tetapi semakin lama, presensi nya semakin meningkat.

Taehyung selalu memerintahkannya melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah terlintas di otak terisengnya sekalipun. Jungkook mulai berpikir jika jangan-jangan kakak kelas abnormalnya ini datang dari luar angkasa, cara berpikirnya aneh dan gila. Saat sedang bosan, Taehyung pernah suatu kali menyuruhnya mengirimkan rekaman ke ruang broadcast diam-diam. Dan saat ia memasukkannya, ternyata itu adalah rekaman suara desahan-desahan sepasang yeoja dan namja yang menjijikkan—yah, kau tahu maksudnya. Jungkook langsung merona, panik setengah mati. Ia buru-buru mematikan broadcaster nya secepat mungkin dan berlari ke atap lagi dengan wajah yang sangat merah. Ia tidak menyangka jika Taehyung akan sekejam ini! Tapi begitu sampai di atap, ia justru menemukan Taehyung terbahak keras sekali sambil berguling-guling di lantai. Tentu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Tidak hanya sampai situ kejahilannya. Ada juga hal yang membuatnya tidak nyaman; yaitu fakta bahwa Taehyung sangat suka merekam dan memotret. Ketika pagi-pagi Taehyung menjemputnya ke apartemen, hal pertama yang dilakukannya adalah memotretnya. Saat makan siang, ia memotretnya. Saat akan pulang, ia memotretnya. Bahkan suatu hari, Taehyung pernah membawakannya bandana kelinci dan menyuruhnya mengenakannya—dan ia memotretnya. Siapa yang tidak akan berpikir jika kakak kelasnya ini alien paling berkelainan sedunia?

Dan setelah satu bulan menjadi 'dongsaeng privat' Kim Taehyung, Jungkook mengetahui satu lagi fakta bahwa hyungnya ini… sangat mesum.

Sungguh. Ia tidak akan bercanda soal yang satu ini.

"Jungkook-ah," panggilnya suatu hari sambil mengunyah roti, "Kau pernah nonton video porno?"

Mendengarnya, Jungkook langsung tersedak dalam makannya. Taehyung tertawa sambil mengelus punggung adik kelasnya, "Kau lihat yang seperti apa? Ayo ceritakan padaku." Lanjutnya kemudian dengan nada antusias.

Jungkook mengusap mulutnya, ia menggeleng keras, "Aku tidak pernah melihat yang begituan!" sangkalnya dengan wajah memerah.

"Masa?!" mata namja berambut oranye itu membesar, tidak percaya, "Tidak pernah? Sama sekali?"

Jungkook buru-buru menggeleng, "Menjijikkan. Tolong jangan bicarakan hal-hal vulgar saat sedang makan, hyung. Aku mau muntah." Ucap namja yang lebih muda dengan ekspresi jijik. "Lagipula melihat begituan bisa menurunkan kerja otak, membayangkan hal-hal yang tidak pen—"

"Kalau begitu kita lihat sekarang!" Taehyung langsung berseru panik, menghiraukan Jungkook yang memelototinya. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel, "Kau harus melihatnya walaupun hanya sekali seumur hidup, Jungkook-ah. Aku tahu, kau bi. Tapi ini kebutuhan biologis dan kau harus melihatnya, demi apapun." Ujarnya terdengar serius, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.

"Oh jebal, hyung, jangan tularkan penyakit mesum dan idiotmu padaku." Jungkook mendesah frustasi.

"Jangan membantahku," Taehyung mengerling, "Kemarilah, siswa teladan." ujarnya sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Di saat-saat seperti ini, terkadang mode nya akan berubah menjadi hyungnya yang dominan, mengerikan, dan ingin dipatuhi. Maka dengan terpaksa, Jungkook mendekat ke arah hyungnya. Namja yang lebih tua menyodorkan ponselnya ke antara mereka berdua, menunjukkan layarnya yang mulai memutarkan sebuah video.

Beberapa detik berjalan, mata Jungkook melebar, "H-Hyung, ini—ini… n-namja dengan namja…?" tanyanya bergetar, mendadak jantungnya berdegup sangat kencang. Wajahnya merona. Matanya memincing tak nyaman.

"Kau suka yang begini, kan?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya, masih mengunci tatapan matanya ke layar, "Aku juga belum pernah melihat yang begini sebelumnya. Aku penasaran." Paparnya kemudian.

Beberapa menit, layar ponsel Taehyung menunjukkan suatu gambar dan suara yang 'sangat sugestif', Jungkook segera mengalihkan pandangannya sambil menjerit, "Hyung! Kecilkan suaranya! Kecilkan suaranya!" serunya bergidik. Ia menutup kedua telinganya dengan tangannya. Taehyung yang juga mulai merasa risih segera menurunkan volumenya.

Dan saat adegan klimaks dimana salah satu namja dalam video berteriak nikmat—

"A-Aaaahh—" "—UWAAAAHH!"

Taehyung dan Jungkook berteriak histeris di saat yang bersamaan. Taehyung bahkan membanting ponselnya keras, menutupi matanya dengan tangannya.

"J-JUNGKOOK, MATIKAN! MATIKAN! MATIKAAN!" namja yang lebih tua memekik sambil meringkuk menghadap dinding, menutupi seluruh wajahnya panik.

Jungkook buru-buru meraih ponsel hyungnya, matanya terpejam ketika ia menekan tombol back dengan kekuatan penuh. Bahkan jemarinya gemetar, membiarkan ponsel itu tetap terdampar di sana.

Ketika hanya napas tersengal yang mengisi ruangan itu, Jungkook perlahan menoleh ke arah Taehyung. Namja itu masih meringkuk seperti trenggiling. Mata namja yang lebih muda mengerdip beberapa kali—telinga hyungnya merah sekali. Tawa Jungkook langsung pecah seketika, "Mwoya, hyung? Bukannya tadi kau semangat sekali ingin menonton video itu?" godanya geli. Entah kenapa, ia melupakan risihnya sendiri karena melihat ekspresi Taehyung yang tampak lucu.

"Diam kau!" bentak namja yang lebih tua sambil terengah, "Argh! Apa yang baru saja kulihat?! Nanti malam pasti aku mimpi buruk! MIMPI BURUK!" serunya frustasi. Kali ini Taehyung jatuh, meringkuk, dan berguling-guling di atas lantai. Kakinya menendang-nendang udara dengan brutal.

Jungkook terbahak sekali lagi hingga air mata keluar dari ujung matanya. Perutnya sakit, pipinya lelah tertawa, tetapi ia tidak bisa menghentikannya. Ia pun akhirnya ikut meringkuk dan berguling-guling seperti orang bodoh bersama hyungnya. Lama kelamaan, mereka justru saling menendang dan tawa dari kerongkongan mereka semakin menggema di ruang atap yang cerah dan terbuka.

Kim Taehyung.

Kejam, tega, jahil, egois, mendominasi, tak punya perasaan, pengancam, brengsek, mesum—segalanya yang buruk dan tidak disukai oleh kebanyakan orang.

Tapi mungkin, hanya ketika di samping dirinyalah seorang Jeon Jungkook bisa tertawa dengan bebasnya.


Festival tahunan sekolah akan berlangsung satu minggu lagi.

Dan semuanya tidak terlihat sebaik dan semulus permulaannya.

Tiga jam lebih rapat berjalan di ruang OSIS. Yoongi tampak benar-benar pusing. Acara akan berlangsung satu minggu lagi dan semua anggota panitia tampak tidak serius dengan pekerjaannya. Bahkan selebaran untuk publik pun belum didistribusikan. Hanya proposal yang sukses dalam program mereka sedangkan aplikasinya nihil. Akhirnya, karena tidak banyak dari panitia dadakan yang mengerti teknis mengadakan sebuah acara besar, Jungkook terpaksa memegang banyak sekali tanggung jawab milik kakak kelasnya.

"Aish, maafkan aku, Jungkook-ah. Kau jadi tidak ikut latihan sepak bolamu," dengan perasaan bersalah, Yoongi berkata dari bangkunya. Matanya sibuk mengecek data-data di atas mejanya yang penuh.

Jungkook buru-buru menggeleng, "Tidak apa-apa, hyung," Jawabnya sopan, "Apa Minjae-noona tidak akan datang lagi hari ini?" tanyanya kemudian.

"Ah, entahlah. Jangan berharap pada yeoja payah itu. Mungkin sampai akhir dia tak akan menampakkan batang hidungnya, dasar ketua panitia tidak bertanggung jawab." Yoongi merasa benar-benar kesal. Bagaimana bisa teman seangkatannya membiarkan semua tugasnya terlantar untuk dikerjakan adik kelasnya yang masih kelas satu?! Keterlaluan! "Kalau kau lelah, kau bisa memberikannya setengah padaku." Ujar sang ketua OSIS menatap dongsaengnya penuh simpati.

Jungkook buru-buru menggeleng, "Tidak, tidak. Kau sendiri punya tumpukan yang menakutkan, hyung," tolaknya sambil melihat berkas-berkas di meja Yoongi, memincingkan mata ngeri.

Yoongi hanya menggelengkan kepalanya sambil nyengir menyaksikan tumpukan berkasnya. Ia tediam sejenak, sebelum kemudian mengingat sesuatu, "Oh, iya. Taehyung—apa dia baik-baik saja?"

Mendengarnya, sang dongsaeng langsung terbatuk. Baik-baik saja? Tentu saja! Ia ingin menjawab ketus pertanyaan itu; tetapi mengingat jika ia sangat menghormati Yoongi-hyung nya, mana mungkin ia melakukannya. "…uh, ya, dia—dia baik-baik saja." Sayang sekali, tapi dia baik-baik saja, batinnya malas.

Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba salah satu kakak kelas Jungkook menghampirinya. Ia meletakkan sebuah folder di depan mata Jungkook, "Periksalah, Jungkook." Ujarnya dengan nada tidak ramah. Namja yang paling muda segera meninggalkan ketikannya dan beralih ke arah folder yang baru diterimanya. Ia membuka-buka halamannya dengan teliti, membaca setiap kata dengan cepat.

"Bagaimana?" tanya sang kakak kelas tak sabar.

Jungkook menutup folder yang telah dibacanya, kemudian tersenyum, "Sudah bagus," komentarnya sebelum membuka kembali berkas itu dan menunjuk ke suatu bagian, "Tapi bagian ini masih perlu diperbaiki. Coba masukkan rincian dari bendahara, tolong dikategorikan sesuai tanggal dan penyalur dananya supaya mudah di cross check ulang nantinya. Dan halaman setelahnya… terlalu banyak kata-kata tidak penting. Dan kalau bisa, tolong margin kirinya sedikit diperbesar, saat dicetak nanti akan tertutup jika begini, sunbae. Nng, lalu…" Jungkook membuka lembaran-lembaran lainnya, "Yang ini perlu di—"

"AISH!" tiba-tiba namja di hadapannya menggeram, "Kau mau menyuruhku revisi lagi, hah?!"

Jungkook berusaha tenang, menghela napas, "Sedikit lagi saja, sunbae. Setelah itu semuanya oke."

"OMONG KOSONG!" Matanya mendelik, membuat Jungkook terperanjat, "Jangan mempermainkan aku! Kau garap saja sendiri laporan ini, dasar bocah perfeksionis!" serunya mengamuk.

"Kang Myeonjin, jaga bicaramu. Ambil dan garap ulang." Yoongi yang dari tadi mengawasi Jungkook, kini ikut turun tangan. Kepalanya pusing sekali, dan ia yakin semua orang di ruangan ini merasakan hal yang sama.

"Aku tidak mau membuatnya lagi, Ketua! Si kutu brengsek ini sudah menyuruhku mengulangnya lima kali! Apa karena dia siswa emas, anjing guru-guru yang sempurna, makanya dia bisa seenaknya menganggap semua yang kita lakukan salah, hah?!" serunya tidak terima.

Sebelum Yoongi dapat menyela, siswa lain ikut berseru, "Benar! Dia terus mengatakan ada yang salah dengan pamflet buatanku, padahal semuanya sudah benar! Aku melakukannya sesuai mekanisme tahun lalu, tapi dia menyuruhku mengulangnya! Kau garap saja sendiri, dasar anak baru tidak tau diri!"

"Aku juga sudah pusing menggarap hal yang sama terus-terusan! Dia anak kelas satu, kenapa jadi wakil ketua?! Memang dia bisa apa; selain menjilat guru-guru untuk mendapat perhatian?!"

"Kalau memang hebat, biarkan saja dia mengerjakan semuanya sendiri, dasar sial!"

Yoongi segera bangkit dari kursinya, "HEI! DIAM SEMUA! Kakak kelas macam apa kalian menyerahkan semua tanggung jawab ke anak kelas satu—HEI!" saat Yoongi berteriak, satu per satu panitia keluar dari ruangan dengan emosi yang meluap-luap. Hanya beberapa dari panitia lainnnya yang tetap tinggal.

"Sudahlah, hyung. Tidak apa-apa." Jungkook, dengan suaranya yang bergetar, segera menghentikan Yoongi yang bersiap keluar dari ruangan mengejar panitia lainnya. "Aku—aku akan mengerjakannya. Tidak masalah." Lanjutnya pura-pura kembali sibuk dengan berkas-berkasnya; padahal hatinya sangat sakit. Ia memang mengetahui ada banyak orang yang tidak menyukai dirinya karena mereka bilang dirinya terlalu sempurna dan merendahkan yang lainnya. Padahal ia tak pernah melakukannya.

"Tapi Jungkook-ah—"

"Tidak masalah." Jungkook segera tersenyum, "Aku bisa melakukannya."


"Taehyung-ah! Kau datang menonton?"

Taehyung hanya tertawa mendengar pertanyaan Hoseok yang langsung menghampirinya dengan wajah sumringah. Mereka bersalaman; menggenggam tangan dan menepakkan bahu satu sama lain.

"Hei, apa bocah itu tidak kemari?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke lapangan, "Wow, keringatmu banyak sekali." Ia terkekeh kecil, melihat keringat membasahi seluruh tubuh temannya yang atletis.

"Bocah siapa?" Hoseok ikut tertawa, "Semua anggotaku datang latihan hari ini kecuali satu orang, Jeon Jungkook. Apa dia yang kau maksud?" terkanya langsung tepat sasaran.

"Hah? Jadi Jungkook tidak kemari?" Taehyung memincingkan mata tidak percaya. Lalu kemana bocah sialan itu? Awas saja dia pulang duluan, akan kutendang bokongnya. Taehyung membatin kesal. "Lalu dimana dia sekarang?"

Namja yang tinggi dan kurus itu mengedikkan bahu, "Entahlah, akhir-akhir ini dia sering tidak datang. Tapi tadi Yoongi menelepon ku dan berkata jika ia ingin meminjamnya untuk OSIS sebentar. Tapi aku tidak tahu pasti. Masa iya rapat selama ini." Jawab Hoseok, menyeka keringat di keningnya.

"Aish, kau kan kaptennya, masa tidak tahu kemana anggotamu?" Taehyung mendecak sambil nyengir.

Hoseok langsung menepak dada temannya pelan, "Kau benar. Aku kaptennya, bukan mama nya." Sangkalnya tertawa, "Kau ada urusan apa dengan Jungkook? Dia anak baik, mengerjakan semua tanggung jawabnya dengan sempurna. Kalau kau sedang dekat dengannya, jaga lah dia baik-baik. Dan jangan mengajaknya bolos latihan." Ucapnya bersiap kembali lagi ke lapangan, mengedipkan sebelah mata.

Mendengarnya, Taehyung memutar bola matanya, "Sekarang kau terdengar seperti mama nya."


Dengan emosi yang meluap-luap, Taehyung menendang pintu ruang OSIS dengan sekuat tenaga. Ketika masuk, matanya langsung melebar melihat tak ada lebih dari sepuluh orang yang ada di dalam. Termasuk Jungkook dan Yoongi yang dikenalnya. Ketika Jungkook menengok karena sangat terkejut, jantungnya langsung memacu melihat Taehyung berdiri di sana sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru.

"Tae-ya, kau mau kuhajar, hah?! Buka pintu dengan tangan, brengsek, bukan dengan kaki!" Yoongi melotot ke arah namja yang baru saja datang. Wajahnya terlihat kusut.

Taehyung yang tadinya ingin mengaum, menjadi urung. Ia heran melihat situasi yang aneh ini, "Hei, Yoongi-hyung, kenapa ruanganmu jadi kuburan begini? Mana yang lainnya?" ia bertanya penasaran. Matanya menangkap sosok Jungkook yang tengah memperhatikannya tanpa kata. Taehyung kemudian menghampirinya, "…dan kenapa bocah kelas satu ini mendapat tumpukan setinggi ini? Apa kalian kekurangan personil, hah?" lanjutnya sambil menepuk-nepuk tumpukan berkas Jungkook yang menjulang.

Yoongi menggeram keras, frustasi, "Mereka berubah semua jadi babi hutan." Jawabnya kesal, kembali teringat insiden beberapa menit lalu.

Taehyung mengangguk-angguk. Ia mengenal Yoongi dengan baik; jika bicaranya mulai seperti mafia underground, berarti mood nya sedang sangat jelek sekali. Ia kemudian kembali ke arah Jungkook, tidak menatapnya, hanya melihat-lihat tumpukan berkasnya, "Jungkook-ah, bagaimana bisa kau dapat tugas sebanyak ini? Kemana anak-anak kelas dua dan tiga?" suaranya datar dan dingin, bergelayut di gendang telinga sang dongsaeng.

Jungkook menghentikan ketikannya sebentar, berkata, "Mereka—mereka sudah mengerjakannya sebagian besar. Aku tinggal menyempurnakannya sedikit." Jawabnya lirih.

"Menyempurnakan? Apa kau bercanda?" namja yang lebih tua mengernyit, mengambil salah satu berkas dan menunjukkannya kepada Jungkook, "Ini salah semua! Bagaimana bisa mereka membuat sampah seperti ini untuk acara sebesar ini? Jungkook-ah, kau lagi-lagi membiarkan orang-orang memanfaatkan mu, kan?" entah mengapa, Taehyung merasa sangat marah. Bahkan dirinya yang bukan anggota OSIS atau panitia apapun bisa mengerti jika pekerjaan yang ada di tumpukan sangat jauh dari kata 'sempurna'.

Jungkook hanya terdiam sambil menunduk; seperti anak SD yang tertangkap basah mencontek dan dimarahi gurunya. "Kenapa? Tidak bisa menolak lagi? Apa berkata 'tidak' segitu sulitnya bagimu, hah? Apa kau gila? Apa kau bodoh?! Jawab aku, keparat!" seru Taehyung mulai tidak sabar.

"Taehyung!" Yoongi hendak menghentikan temannya, tetapi Taehyung segera mengangkat telapak tangannya; tolong jangan ikut campur.

Namja yang lebih muda menggigit bibir bawahnya, "Aku… aku tidak keberatan, hyung…"

Berandalan berambut oranye itu mendesah frustasi. Ia kemudian menarik pergelangan tangan dongsaengnya kasar, "Berdiri!" perintahnya keras. Dengan lutut lemas, Jungkook bangkit dari duduknya. "Kejar semua panitia yang kabur dan katakan tidak." desisnya sambil mengacung ke ambang pintu yang masih terbuka.

Jungkook tahu ia tidak pernah punya nyali pada Taehyung yang menyalak, tapi ia hanya menggeleng.

"Jung—"

"H-Hyung, dengarkan aku sebentar," Jungkook menyela dengan takut-takut. "Aku… aku bisa mengerjakan semua ini sendiri. I-Ini memang terlihat banyak! Tapi aku bisa melakukannya, sungguh!" ujarnya dengan berbinar, berharap Taehyung segera tenang dan membiarkannya sendiri.

Taehyung mengernyitkan kening tajam mendengarnya, "Jungkook-ah, bukan karena kau bisa melakukannya, kau harus melakukannya. Mereka tidak bisa berbuat begini kepadamu." Kata namja yang lebih tua dengan nada rendah. Tak ada nada mendominasi di dalamnya, hanya kepedulian dan amarah.

Mendengar kata-kata dari hyungnya, entah mengapa, Jungkook merasa ini semua menggelikan. Ia kemudian berbisik, menunduk, "Kau—kau tidak perlu peduli padaku, hyung. 'Mereka tidak bisa berbuat begini padaku'? Bukannya kau…" Jungkook menjeda, menggeleng pelan sambil menyeringai, "…bukannya kau juga sama…?"

Hening.

Hening.

Taehyung tak mengucapkan apapun.

Begitu membiarkan kata-kata itu keluar dari bibirnya, Jungkook merasakan penyesalan yang aneh dari dalam hatinya. Namun ia segera menafikkannya. Ia tidak perlu merasa bersalah, toh Taehyung lebih banyak melakukan hal-hal yang lebih 'bersalah' daripada dirinya.

Tiba-tiba, tawa kecil keluar dari bibir namja yang lebih tinggi. Ia melepaskan genggamannya pada Jungkook perlahan. "…kau benar." Ia mengangguk-angguk dengan suara kecil.

Eh? Jungkook langsung mengangkat wajahnya. Taehyung tidak membentaknya? Wajahnya tiba-tiba panik, "Hyung, aku—maksudku bukan begitu, aku—"

"LAKUKAN SESUKAMU!" Taehyung tiba-tiba menendang kuat-kuat kursi yang tadi diduduki Jungkook hingga terpelanting jauh. Suara debrakan keras menggema di ruang OSIS yang sepi. Jungkook memejamkan matanya takut. "…dasar anjing semua orang," desis Taehyung dengan pandangan sadis. Mata elang itu bagai mencabik dongsaengnya hingga jantung terdalamnya. Kemudian, dengan emosi yang membara, Taehyung membanting langkah keluar ruangan, menabrak apapun yang dilewatinya dengan kasar.

"Tae-ya!" buru-buru, Yoongi bangkit dari kursinya dan mengejar Taehyung. Sementara itu, Jungkook masih terpaku dengan mata melebar, memproses apa yang baru saja terjadi.

Taehyung menghentikan langkahnya di koridor, tetapi tidak menoleh.

"Dia—" Yoongi menjeda, menatap punggung sahabatnya dengan miris, "…Jungkook—dia bukan Baekhyun."

Pernyataan Yoongi barusan bagai meletupkan halilintar di kepala Taehyung. Tangannya langsung mengepal menahan emosi apapun yang bergemuruh di dadanya, jemarinya bergetar.

"…Aku tahu." Bisiknya kemudian berlalu.


- Bersambung -


A/N:

Firstly, I would like to thank a lot buat yang udah support fic dengan genre nekonekonekat ini! Love u all! (*v*)/ gegara ripiw kalian yang unyu2, ane jadi ngikik2 gaje sendiri bacanya haha *plak* You really have to know kalo saya sangatsangatsangatsangat makasih buat segala bentuk review, fav, dan follow kalian, you guys really made my day, not gonna lie. *bows sincerely*

Jangan bosen2 ninggalin jejak ya~ dan jangan praktekkan aksinya TaeTae di sekolah (?)

Any feedbacks appreciated! Stay tuned!