Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 1 ~
.
.
.
Flashback
12 tahun yang lalu.
"Haruno Sakura!"
Namaku di sebut di depan podium, sebagai mahasiswa terbaik yang cepat menyelesaikan masa kuliahnya di umurku yang masih 21 tahun ini, kata orang-orang di sekitarku, aku jenius, hal itu sudah terlihat saat aku masih di bangku sekolah dasar hingga ayah dan ibu memasukkanku ke kelas akselerasi.
Aku tidak terlalu pusing akan sebuah pencapaianku, tapi aku hanya selalu penasaran akan sesuatu yang selama ini aku pelajari, aku ingin melakukan banyak riset bersama para profesor yang terkenal dan membuatku kagum, salah satunya adalah prof. Orochimaru yang sangat terkenal di kampusku dulu.
Aku sampai ingin bergabung dalam sebuah penelitian yang tengah di garapnya, namun berada di luar Konoha, aku mencoba mendaftarkan diri dan hal itu membuat Prof. Orochimaru tertarik pada hasil nilaiku selama ini, aku dan beberapa dokter mengikutinya di laboratorium yang berada di pulau Kiri, pulau itu cukup jauh dan di sana hanya ada bangunan laboratorium yang sangat besar dan luas, seperti sebuah kota kecil, di sekelilingnya di pasang pagar pembatas beraliran tegang listrik, siapa pun akan sulit keluar masuk area ini, penjagaannya 24 jam, pengawasan CCTV dan petugas dimana-mana, mereka bahkan dari kesatuan khusus, tempat macam apa ini hingga harus di jaga ketat? Kami bahkan harus menandatangi beberapa surat sebelum bergabung dan menerima apapun yang terjadi selama kami di sana.
Aku sangat penasaran, apa yang sedang di lakukan prof. Orochimaru? Dia selalu membuat hal yang membuat seluruh dunia takjub, semua hasil-hasil karyanya akan menjadi hal yang berguna di masa depan, namun kali ini membuatku tidak habis pikir.
Kami masuk ke sebuah ruangan rapat dan di tanganku ada lembaran penelitian, ini hanya tentang melatih anak-anak yang memiliki kemampuan di luar batas kewajaran, aku masih tidak mengerti, dari hasil penelitian itu, mereka menggunakan 50 anak yang katanya anak-anak terlantar dan di pelihara dengan baik, ini tugas yang mulia sebelum aku tahu yang sebenarnya, aku memikirkan mereka akan memiliki hidup enak selama di dalam laboratorium ini.
Namun saat tinggal 20 anak dan masing-masing dari kami harus mendampinginya, itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Seven (007) nama kode yang di gunakan padanya, anak kecil berambut hitam dengan style dongker, kulit putih, pipinya sedikit tembem dan tatapan itu, terlihat sangat kosong.
Aku tidak tahu apa yang selama ini telah di alaminya, yang aku tahu aku harus menjaganya sebagai dokter pendampingnya, tugas lainnya, aku harus merawatnya dan mencatat setiap perubahan padanya.
Aku jadi semakin penasaran dengan tujuan penelitian ini, tapi semakin ke sini, aku semakin tidak berdaya untuk melakukan apapun terhadap anak kecil ini, dan aku menjadi orang yang seharusnya di salahkan dalam kekacauan yang telah di buat Seven.
Kemudian.
"Kakak, kapan aku bisa keluar dari sini?" Tanya Sasuke padaku, aku merasa sangat kasihan dengan semua yang di jalaninya di dalam laboratorium ini.
"Mungkin setelah semua tes kalian selesai." Ucapku, sedikit memberinya harapan.
"Begitu yaa." Ucapnya dan terlihat lesu.
"Jangan seperti itu, aku janji akan mengajakmu kemana pun setelah semua tesmu selesai, kita bisa ke taman ria dan bermain sepuasnya."
"Sungguh!" Ucapnya dan kali ini dia terlihat bersemangat.
"Tentu saja, aku janji padamu." Tegasku. Aku mulai membuat ucapan omong kosong untuknya, entah apa ini akan berdampak buruk atau tidak.
Sorot mata itu menandakan dia lelah dengan apa yang selama ini di jalaninya.
Aku pikir mereka akan bermain dan menerima perlakuan baik selama di dalam lab ini, tapi itu hanya sebuah kedok bohong dari rencana penelitian ini, mereka memang tidak pernah di paksa, namun mereka di tuntut untuk melakukan sebuah perintah, itu sama saja.
Setiap pagi mereka harus bangun dan berolahraga, setelahnya makanan mereka akan selalu di siapkan, dan setelah kegiatan normal itu selesai, mereka akan melakukan banyak hal semacam tes, membongkar senjata dan memasangnya kembali, merakit semacam senjata dan merakit bom, berlatih menembak, berlatih bela diri, menguasi tanaman obat dan bahan beracun, berlatih melumpuhkan seseorang dalam waktu yang cepat dan melakukan banyak hal lainnya, mereka seperti di bersiapkan sebagai petugas khusus.
Lalu untuk apa semua itu?
Prof. Orochimaru ingin mengembangkan anak-anak yang terlantar menjadi orang yang berguna, aku rasa kegunaan mereka itu akan sangat berbeda dengan apa yang orang-orang pikirkan tanpa melihat apa yang mereka lakukan selama ini di dalam lab.
Ini bukan tugas mulia.
Semua ini salah.
Namun aku tidak bisa pergi begitu saja, aku sudah menandatangi kontrak dan Seven adalah anak yang sangat ingin aku bawa pergi dari sana.
Aku tidak pernah memanggilnya Seven, aku memanggilnya Sasuke, itu adalah namanya di dalam laboratorium ini, entah itu nama aslinya atau nama samaran juga, identitas mereka benar-benar tidak ada dan semua di buat di dalam lab ini.
"Aku senang dengan perkembangan Seven, anak itu cukup cerdas dan sangat pandai mengontrol diri." Ucap Prof. Orochimaru padaku, hari ini kami harus memperlihatkan grafik perubahan anak-anak yang kami dampingi.
Menatapnya dan aku sangat ingin mengatakan, apa aku bisa membawanya keluar dari tempat ini? Aku pikir ini tempat yang tidak cocok untuk anak-anak, mereka tertekan dan ketakutan, mereka harus melakukan sesuatu yang mereka tidak suka, seharusnya di umur seperti ini mereka hanya tahu bermain dan bersekolah, meskipun di sini mereka sekolah, tetap saja sekolahnya seperti melatih seorang yang telah dewasa.
Dan setiap aku bertemu Sasuke, dia akan menanyakan hal yang sama.
"Kapan aku bisa keluar?" Tanyanya dan menatap penuh harap padaku.
Sekali lagi aku hanya memberinya harapan palsu dan kebohongan, aku yakin tes ini tidak akan selesai hingga Prof. Orochimaru mendapatkan apa yang di inginkannya dari anak-anak ini.
Dan di hari itu.
Dorr!
Ahhhkkkkk!
Teriak seorang dokter pendamping, hari ini mereka latihan menembak namun anak kecil itu menembak tepat ke kepalanya, yang aku lakukan adalah memeluk Sasuke, menutupi penglihatannya dan tidak membiarkannya melihat anak kecil itu tumbang dan darah segar mengalir dari pelipisnya yang telah bocor menembus kepalanya.
Anak-anak yang lain melihatnya dan mereka hanya mematung dengan tatapan syok itu, aku yakin mereka akan menjadi trauma setelah melihat ini, para petugas berdatangan dan meminta seluruh dokter membawa anak-anak itu kembali ke kamarnya, sementara itu, anak kecil yang telah meninggal itu di bawa dengan tandu dan di tutupi kain putih, aku tidak membiarkan Sasuke melihatnya sedikit pun hingga kami benar-benar keluar dan kembali ke kamar.
Ini sungguh mengerikan, aku berpikir jika anak itu sudah mencapai tingkat depresinya hingga tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dokter pendamping itu di pulangkan, dia tidak bisa mendampingi siapapun lagi disini, hanya satu dokter untuk satu anak.
Setelah kejadian itu, setiap harinya anak-anak ini di berikan obat, semacam obat penenang, namun aku diam-diam menelitinya, kandungan obat ini seperti merangsang otak untuk patuh dan mereka akan terkontrol, semacam obat pengendalian, namun lagi-lagi Prof. Orochimaru berbohong dengan mengatakan ini hanya vitamin untuk mereka.
Setiap kamar mereka di pasang CCTV dan di jaga di depan pintu, bahkan CCTV itu tak luput dari kamar mandi mereka, ini benar-benar keterlaluan.
Semuanya di mulai dari sini.
"Aku membawakan buku-buku cerita yang bagus untukmu." Ucapku.
Aku tidak tahu bagaimana sikap dokter pendamping yang lainnya kepada anak-anak yang mereka awasi, aku dan Sasuke cukup dekat, aku sering menceritakan kota kelahiranku, dia begitu antusias dan berharap suatu hari nanti dia bisa datang ke sana dan memintaku untuk mengajaknya jalan-jalan.
Aku senang mendengar setiap ucapan antusiasnya itu, tapi hari ini sedikit berbeda, aku sengaja memberikannya buku dengan sebuah catatan kecil disana, dari sini di CCTV tidak akan menangkap sesuatu yang aneh, disini pun para dokter mendapat tempat tersendiri, kami mendapat hak khusus selama itu tidak mengganggu penelitian anak-anak ini.
Sasuke membuka buku itu dan mulai membaca tulisan yang aku tunjuk.
Jangan minum obat apapun yang aku berikan.
Dia menatapku dan tersenyum.
"Ini buku yang menyenangkan, apa aku bisa membacanya semua?" Tanyanya padaku, inilah tipe anak yang jenius, mereka pun harus pandai berakting dan mengetahui situasinya, selama ini indra kepekaan mereka di latih hingga tajam.
"Tentu saja, aku akan membawakan buku yang lainnya untukmu." Ucapku.
Bahkan buku-buku yang masuk saja harus di periksa, aku juga sering membawakan cemilan untuk Sasuke dan itu di perbolehkan oleh Prof. Orochimaru, aku mendapat sedikit perlakukan khusus darinya, katanya perkembangan setiap anak berpengaruh dari dokternya.
Sekarang tinggal 19 anak dan setiap aku melihat mereka, sorot mata yang hampa dan kosong, mereka hanya akan mendengar perintah dari sebuah suara, aku harap Sasuke tetap pandai berakting selama melakukan tes, hanya dia yang tidak meminum obat yang aku berikan, aku tidak tahu apa yang Sasuke lakukan, dia membuang obat itu tanpa ketahuan.
Aku rasa ini adalah jalan terbaik dengan tidak membiarkan Sasuke meminum obat itu, tapi hal buruk mulai terjadi.
"Aku ingin keluar! Katakan pada pria berambut hitam itu!" Teriak Sasuke, dia lepas kendali, aku berusaha menenangkannya, tapi semakin aku menenangkannya, Sasuke semakin mengamuk, tatapannya berubah, dia seperti tidak bisa membedakan siapapun lagi.
Tiba-tiba Sasuke mengambil pulpen yang ada di saku bajuku dan menusuk telapak tanganku hingga tembus, aku sampai terjatuh dan Sasuke seakan ingin kembali menyerangku, namun sebelum itu terjadi, petugas telah menembaknya dengan senapan obat bius.
"Kakak berbohong! Keluarkan aku dari sini!" Teriaknya, dia masih berteriak dan kembali berusaha menyerang, para petugas melindungiku, Sasuke kembali mendapat tembakan obat bius hingga dia terlihat lemas.
Sebelum aku benar-benar keluar dari kamarnya, Sasuke menatap sedih ke arahku.
"Kau sudah janji padaku, kak~" Ucapnya dengan nada lemah hingga jatuh dan pingsan.
Maaf.
Aku hanya bisa meminta maaf dalam hati dan menahan rasa sakit pada telapak tanganku ini, darah yang merembes pada luka robek di tanganku sangat sakit, aku bisa menahannya, namun ucapan Sasuke membuat hatiku ikut sakit, aku menjanjikan sebuah kepalsuan padanya dan membuatku merasa sangat-sangat bersalah.
Maaf.
Berkali-kali aku meminta maaf, aku yakin Sasuke terlanjur membenciku.
Semua ini juga salahku, aku melarangnya meminum obat itu hanya untuk melindunginya dan malah membuatnya berbalik menyerangnku, Prof. Orochimaru menemukan keanehan itu hingga aku di ganti oleh dokter lain dan dosis untuk Sasuke di naikkan, dia bahkan akan di awasi ketat setiap meminum obatnya.
.
.
TBC
.
.
update...~
terima kasih jika masih ada yang setia membaca fic author *senang*
di chapter ini adalah flashback asal usul Sasuke, sedikit tragis yaa, tapi tenang saja, fic ini nggak selalu tragis-tragis, ada kok manis-manisnya tapi nanti, soalnya itu bukan inti dari fic ini hehehe, =w=
.
.
See you next chapter!
