Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 2 ~
.
.
.
Setelah kejadian itu, aku di pindahkan di bagian staf dan setelah setahun berlalu, masa kontrakku hampir habis dan Prof. Orochimaru menyayangkan tindakanku.
"Aku sangat menyukai kinerjamu Sakura, tapi sayang sekali jika kau tidak memperpanjang kontrakmu."
"Maafkan aku Prof. tapi tetap saja anda adalah profesor yang sangat aku kagumi." Ucapku, ini hanya pujian sebelum aku tahu dia melakukan apa sekarang.
"Jadi kau akan pindah dimana?" Tanyanya.
"Rumah sakit Konoha."
"Oh, kau akan bertemu teman lamaku, sekarang dia yang menjabat sebagai direktur kepala rumah sakit."
"Aku senang mendengarnya, aku masih bisa mendapat ilmu dari temanmu." Ucapku.
"Aku harap jika kau tertarik dengan penelitianku lagi, aku dengan senang hati membiarkanmu kembali." Ucapnya, seakan ingin membiarkanku tetap disini, tapi aku sudah cukup muak dan lelah memasang wajah topeng ini.
"Ya, aku juga berharap seperti itu nantinya." Bohongku.
"Oh ya, aku minta maaf akan kecelakaan itu." Ucapnya dan menatap tanganku yang masih di perban.
"Tidak masalah Prof. ini juga pasti akan terjadi pada pekerjaan seperti ini, aku anggap ini sebagai pengalaman saja dan aku harap Sasuke, ah, maksudku, Seven akan baik-baik saja."
"Aku akan menjaganya dengan sangat baik." Ucap Prof. Orochimaru dan memperlihatkan senyum aneh itu, aku tidak percaya jika Sasuke akan baik-baik saja.
Aku akhirnya keluar dari pulau itu, sebelum keluar mereka memeriksa segalanya dan kembali meminta tanda tanganku untuk sepakat tidak mengatakan apapun setelah keluar dari laboratorium ini, ada sanksi yang cukup besar jika aku membocorkan penelitian ini, katanya ini adalah hal yang masih di rahasiakan.
Ada yang mengatakan padaku, beberapa dokter yang mencoba menceritakan keluar tentang percobaan dari lab ini, pada akhirnya di temukan meninggal tanpa ada yang tahu penyebabnya, aku rasa hal ini benar-benar di tutupi bahkan ada campur tangan dari pemerintahan, Prof. Orochimaru seperti mengendalikan mereka dan mereka begitu berharap banyak pada Profesor gila itu.
Akhirnya aku terlepas namun tetap menyisahkan rasa bersalah pada Sasuke, aku selalu mengingatnya setiap aku melihat anak-anak kecil, aku adalah dokter spesalis anak dan akan terus bertemu dengan anak-anak, hal ini terus berlangsung hingga aku sering bermimpi buruk tentangnya dan setiap kali rasanya tanganku akan terasa sakit padahal luka itu sudah sembuh dan menyisahkan bekas yang samar-samar.
Ending FlashBack.
.
.
.
.
.
Terbangun dari mimpi burukku, sudah berapa lama aku tidak mimpi buruk seperti itu? Menatap sekitar, aku masih hidup dan aku masih berada di kamarku, aku memimpikan Sasuke kembali muncul di hadapanku dan bahkan berniat membunuhku, kenapa aku harus bermimpi buruk lagi tentangnya? Ini sudah berlalu bertahun-tahun lamanya.
Mungkin hanya terlalu lelah dan aku kembali memikirkannya, berjalan keluar dari kamarku menuju kamar mandi, mencuci wajahku dan menatap cermin besar di hadapanku, aku sungguh tidak berbuat salah padanya, dia anak yang baik, aku hanya keliru dan tidak melakukan prosedur di lab itu, seharusnya aku memang yang di salahkan dan luka di tangan ini cukup pantas untukku.
Berjalan ke arah dapur, aku cukup haus, seseorang tengah sibuk di meja makan dengan ponsel yang tengah di bongkarnya.
Ha!
Aku sampai bersandar pada kulkas dan menatap syok pada pemuda itu, dia bahkan menatap tajam padaku.
"Ada apa denganmu? Apa kau habis melihat hantu?" Ucapnya, suaranya terdengar begitu berat sekarang.
"Se- ah tidak-tidak, maksudku Sasuke?" Ucapku, aku sampai mencubit lenganku, sakit, aku sedang tidak mimpi.
"Sebaiknya kau tidur lagi jika masih lelah." Ucapnya.
"Aku sungguh tidak percaya ini! Jadi kau sungguh datang? Apa kau ingin balas dendam padaku?" Ucapku, panik.
"Kau sudah mengatakannya semalam, untuk apa aku mengulang ucapanku lagi?" Ucapnya dan terlihat kesal padaku.
Sungguh?
Jadi semalam itu bukan mimpi?
Sasuke benar-benar datang dan ingin tinggal bersamaku, apa dia tidak berniat membalas dendam padaku? Aku masih tidak percaya.
Sedikit takut, berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya, mengamati apa yang sedang di lakukannya, dia tengah membongkar sebuah ponsel dan entah apa yang sedang di lakukannya.
"Ada apa?" Tanyanya dan lagi-lagi menatap tajam ke arahku.
"Apa yang kau lakukan dengan ponsel itu?" Tanyaku penasaran.
"Bukan urusanmu." Cueknya.
Sekarang dia jauh lebih menyebalkan, padahal dulunya dia begitu manis.
"Ada apa lagi?" Tanyanya.
"Kau lapar?"
"Ya, sangat lapar." Tegasnya.
"Akan aku buatkan sarapan." Ucapku.
Meskipun masih sangat penasaran akan tujuannya tinggal bersamaku, aku mungkin bisa berhati-hati sekaligus mencari informasi padanya, aku sedikit penasaran akan laboratorium itu, katanya lab itu di rancang dengan begitu canggih hingga hal semacam kebakaran atau ledakan pun tidak akan merusak bangunannya.
Menaruh dua sarapan di meja dan Sasuke masih sibuk dengan ponsel yang telah selesai di bongkarnya dan di rakit kembali.
"Apa yang terjadi dengan lab itu?" Tanyaku.
Sasuke menatapku sejenak, dia hanya terdiam dan terus memasang tatapan tajam itu, aku mengartikan, jangan bicara apapun padaku atau jangan tanya apapun padaku, mungkin saja seperti itu, Sasuke cukup membenci tempat itu.
"Sejujurnya aku ingin minta maaf padamu." Ucapku, dan akhirnya tatapan itu berubah menjadi tenang. "Aku pergi dengan keadaan yang cukup kacau, aku bahkan meninggalkanmu begitu saja, seharusnya aku mengatakan segalanya." Tambahku, aku ingin segera menghilangkan rasa bersalah ini, aku terus di hantui oleh kesalahanku.
"Aku yang minta maaf." Ucap Sasuke, tidak menatapku dan sibuk mengotak-atik ponsel itu. "Aku lepas kendali, semua yang kau lakukan padaku dulunya adalah karena kau peduli, aku tahu itu, walaupun saat itu umurku masih 5 tahun, aku mengerti segalanya." Lanjutnya. Dia memang anak kecil yang berpikiran dewasa dulunya.
Ini membuatku sedikit lega, dia tidak menyalahkanku.
"Jadi selama ini apa saja yang kau lakukan?" Tanyanya.
"Aku?"
"Ya, jangan membuat pertanyaan baru, jawab saja pertanyaanku." Ucapnya, suasana hatinya begitu cepat berubah.
"Aku bekerja di rumah sakit Konoha, hanya itu saja." Ucapku.
"Benarkah, aku pikir kau sudah bersama seorang pria."
"Dari mana kau tahu? Aku memang pernah bersama seseorang, tapi itu sudah sangat lama, kami bercerai, dan tolong jangan di ungkit." Ucapku, bagaimana Sasuke tahu aku pernah menikah? Lagi pula aku tidak ingin mengingat pria brengs*k itu lagi.
"Oh."
Hanya itu, dia hanya mengatakan 'oh' dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Jika kau ingin tinggal disini, mulai hari ini kita harus membuat kesepakatan." Ucapku, aku tidak ingin dia membuat masalah denganku.
"Apa?" Ucapnya dan kembali menatap tajam padaku.
"Jangan mengotori ruangan, kau harus selalu bersih dan jangan berisik, aku tidak suka orang berisik dan mungkin aku akan jarang di rumah, jadi aku harap kau bisa betah sendirian dan jika aku membawa teman, tolong tetap berada di dalam ruangan, aku tidak ingin mereka membuat gosip aneh aku serumah dengan pemuda yang jauh lebih muda dariku." Ucapku.
"Aku mengerti."
"Lalu, apa kau ingin sesuatu?" Tanyaku, tidak mungkin dia hanya ingin tinggal saja.
"Aku mau satu ruangan kosongmu itu."
"Oh baiklah, kita akan membersihkannya bersama."
"Tidak, aku sibuk, tolong bersihkan." Ucapnya dan membuatku sedikit malas.
Hari ini kami tidak bisa berbicara banyak, aku harus bekerja, aku sangat ingin menanyakan banyak hal, tapi Sasuke terus menatap tajam padaku setiap aku memulai pembicaraan tentang lab itu.
Tapi aku memikirkan hal lain, keinginanku yang dulu, aku sangat ingin membawanya pergi dari lab itu dan mengadopsinya menjadi adikku, sekarang hal itu terwujud, namun aku masih memiliki rasa takut terhadapnya, semoga pemikiran buruk ini tidak menggangguku, aku selalu yakin jika Sasuke adalah anak yang baik, dari dulu maupun sekarang.
.
.
.
.
.
Seminggu terlewatkan, aku menjalani kehidupanku dengan tinggal bersama seven, anak dari lab yang hancur itu, aku ingin tahu keadaan lab itu sekarang bagaimana? Tapi tidak ada kabar terbaru, padahal lab itu di tutupi, tapi kabar hancurnya lab itu tersebar memalui berita, tidak ada juga yang menjelaskan lab itu untuk apa, mereka hanya mengatakan secara garis besar, lab itu adalah tempat Prof. Orochimaru mengembangkan penelitian miliknya untuk masa depan, kabar Prof. Orochimaru pun tidak terdengar juga, dia seperti menghilang begitu saja, apa dia tewas dalam lab? Atau ada hal lain yang terjadi padanya.
Aku tidak tahu apa yang Sasuke lakukan selama ini di rumah, dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam kamarnya, dia hanya akan keluar jika aku memanggilnya makan dan hari-hari berikutnya.
"Kiriman paket untuk anda nyonya." Ucap seorang petugas apartemen, aku harus turun berkali-kali hanya untuk beberapa paket yang di kirim ke alamatku, aku tidak pernah membeli atau memesan apapun.
"Itu paketku." Ucap Sasuke.
Aku juga penasaran apa yang di lakukannya di kamarnya selama ini, dia bahkan menguncinya dan tidak membiarkanku masuk.
Aku jadi rajin turun ke bawah hanya untuk mengambil paket hingga meminta para petugas untuk membawakannya saja, Sasuke sungguh menyusahkanku dengan paket-paketnya itu, isinya pun dia tidak ingin memberitahukannya padaku, setelah paket di terima dia akan masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Tunggu, ada yang salah dengan ini.
"Sasuke aku ingin bicara denganmu." Ucapku, apa dia pikir aku wanita yang bodoh? Aku menyadari segalanya.
"Ada apa? Katakan dengan cepat, aku sangat sibuk." Ucapnya, lagi-lagi mengatakan sibuk, memangnya apa yang di kerjakannya? Dia hanya berada di kamar berjam-jam.
"Dari mana kau mendapat uang hingga bisa memesan berkali-kali? Bahkan paket-paket itu, tidak mungkin datang dengan sendirinya." Ucapku, aku harus tahu dari mana Sasuke mendapat uang, pesanan paketnya bahkan sudah tak terhitung, dari dos kecil hingga ada dos yang cukup besar dan isinya cukup berat.
.
.
TBC
.
.
pertama-tama.
selamat tahun baru 2020. di tahun lalu mungkin masih banyak hal yang belum tercapai, tahun ini pun tidak memiliki banyak keinginan, yang penting apapun yang di rencanakan terwujud, amin. Termasuk punya laptop baru, amin...!
dan selamat tahun baru untuk para reader, selama 2019 author udah menghasilkan beberapa karya yang setidaknya membuat para penikmat fanfic terhibur, nggak nyangka, tahun lalu cukup produktif, dan terima kasih atas support dan apapun dari para reader, saya pun hanya seorang author biasa yang masih memiliki banyak kekurangan, baik sebagai author fanfic maupun di dunia nyata. yaa saya rasa semuanya begitu juga, eheh, hanya allah makhluk yang sempurna. :)
okey, kenapa ini terkesan sendu ya, apa mungkin pengaruh cuaca? ya pokoknya hati-hati di musim ini, selain penyakit, banjir pun menjadi hal yang di khawatirkan, author bersyukur rumah author tahun 2019 terhindar dari bajir dan berharap seterusnya, soalnya tahun 2017-2018 rumah author kena banjir, yang lainnya, berharap tidak terkena banjir , kalaupun kena, tolong jaga diri dan sebisa mungkin mengungsi di saat air cukup tinggi dan membahayakan diri.
sebelumnya author rencana mau updata ONESHOOT, sebagai spesial tahun baru, tapi di karena pas malam tahun baru author punya job, jadi nggak sempat selesaikan T_T mungkin akan di update, tapi kesan tahun barunya dah lenyap, *hiks*
dan hari ini author akhirnya bisa update fic ini, yang "gadis mimpi" belum kelar, author selalu punya banyak dilema saat menamatkan sebuah fic =_=" jadi harap bisa menikmati chapter ini sebagai penggantinya. chapter ini adalah sedikit lanjutan dari flashback kemarin dan masih banyak hal yang simpang siur dari Sasuke =w= semuanya masih menjadi misteri, hehehe,
dan kira-kira siapa pria yang kalian harapkan telah menikah dengan Sakura? author memberi sebuah kebebasan untuk para reader menentukan mantan suami Sakura.
.
.
see you next chapter!
