Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 3 ~

.

.

.

"Dari mana kau mendapat uang hingga bisa memesan berkali-kali? Bahkan paket-paket itu, tidak mungkin datang dengan sendirinya." Ucapku, aku harus tahu dari mana Sasuke mendapat uang, pesanan paketnya bahkan sudah tak terhitung, dari dos kecil hingga ada dos yang cukup besar dan isinya cukup berat.

Sasuke terdiam dan hanya menatapku, aku tidak suka di tatapnya, dia adalah pemuda yang masih sangat muda, sadarlah Sakura! Badannya saja yang besar.

"Jika kau tidak ingin mengatakan apapun padaku, aku tidak bisa membiarkanmu tinggal disini." Tegasku.

"Aku bekerja." Ucapnya, akhirnya Sasuke berbicara, namun tatapan itu sulit membuatku menebak apa dia tengah berbohong atau jujur padaku.

"Bagaimana kau bekerja jika setiap harinya hanya di kamar saja?" Apa dia ingin membodohiku lagi?

"Pekerjaanku hanya memprogram sebuah data, dan mereka akan membayarku."

Pekerjaan memprogram data? Apa itu yang di lakukannya selama ini? Apa paket-paket itu semacam hardware dan software yang di pesannya?

"Sungguh? Aku masih tidak percaya padamu, biarkan aku masuk ke kamarmu dan aku akan memastikan segalanya." Ucapku.

"Kau tidak boleh masuk." Ucap Sasuke dan segera saja menghalangi pintu masuknya.

"Kenapa? Ini rumahku, aku bebas masuk di kamar mana pun."

"Di dalam adalah ruangan milikku."

"Sejak kapan ruangan itu milikmu? Aku hanya memberimu tempat tinggal sementara. Cepat minggir dan biarkan aku melihat apa yang sudah kau lakukan di dalam."

"Tidak bisa."

Dasar keras kepala.

Mencoba menarik Sasuke menjauh dari pintu kamarnya, namun dia jauh lebih kuat dariku.

"Aku akan membeli kamarmu ini sekarang juga." Ucap Sasuke.

"Apa maksudmu? Aku tidak menjual apapun di dalam rumah ini." Ucapku dan berusaha menariknya, namun Sasuke tidak terusik dan malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

"Selesai, aku sudah membeli ruangan kamarmu ini." Ucapnya dan memperlihatkan sebuah bukti transfer ke rekeningku, menghitung angka nol yang tertera di sana.

"100 juta! Kau gila! Hanya kamar dan kau membayarnya sebesar itu! Tunggu, dari mana lagi uang sebanyak itu!" Ucapku, aku tidak akan percaya, dia baru tinggal beberapa hari di rumah dan sudah bisa menghasilkan uang sebanyak itu. "Dan dari mana kau tahu nomer rekeningku?" Tanyaku, penasaran.

"Aku tahu semua tentangmu, apapun itu, tidak ada hal yang tidak aku ketahui." Ucap Sasuke.

Membuatku berhenti menjauhkannya dari pintu dan mengambil jarak darinya, kenapa aku merasa sangat malu sekali, ucapan macam itu? Memangnya dia tahu apa saja dariku?

"Ka-kau memata-mataiku selama ini?" Tuduhku.

"Mungkin saja." Ucapnya santai.

"Kau ini stalker? Sejak kapan kau mencari tahu segala hal tentangku?"

"Apa aku tidak boleh mencari tahu apapun tentangmu?" Ucapnya dan saat ini dia memasang wajah memelas itu, jangan berusaha membuatku luluh! Aku wanita tua yang tidak akan luluh pada seorang pemuda! "Kakak." Ucapnya lagi.

Uhk!

rasanya aku tertusuk akan sesuatu, dia memanggilku 'kakak'! sudah berapa tahun berlalu saat dia masih kecil dan memanggilku kakak, sekarang dia memanggilku seperti itu lagi.

Tidak Sakura! Dia sedang berusaha meluluhkanmu lagi, tahan! Tahan!

"Aku masih ingin memanggilmu kakak." Ucapnya.

Hentikan itu Sasuke! Aku semakin tidak kuat oleh ucapanmu dan sikap memelasmu itu, kau jadi terkesan sangat menggemaskan.

"Apa aku salah? Aku sudah membeli kamarmu ini, atau itu kurang? Aku bisa mengirimkannya lagi." Ucapnya dan segera menahan tangannya untuk menekan ponselnya lagi.

"Cukup Sasuke, bukannya aku tidak ingin kau tinggal disini, aku sangat ingin kau tinggal, aku sangat ingin menjadi kakakmu dan ambil kembali uangmu, aku akan mentransfernya ulang." Ucapku, aku benar-benar tidak tahan dan akhirnya luluh padanya.

"Tidak perlu, gunakan uangnya sebaik mungkin."

"Kau ini sungguh keterlaluan, setidaknya jangan membuat semuanya menjadi rumit, dan jangan menyimpan rahasia apapun dariku."

"Baiklah, di dalam hanya ada laptop dan beberapa perangkat hardware untuk mendukung pekerjaanku dan juga di dalam tertumpuk banyak majalah dewasa, aku tidak ingin kau masuk dan melihatnya." Ucap Sasuke, bahkan dia memang wajah tenangnya setelah mengatakan hal itu.

Majalah dewasa?

"Kenapa kau membaca hal semacam itu! Buang sekarang juga, jangan membaca yang aneh-aneh! Aku pikir kau anak yang jenius, ya tuhan aku tidak ingin mendengar kau mengatakan majalah itu. Baik aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi jangan lupa bersihkan kamarmu." Ucapku dan bergegas pergi darinya, wajahku terasa memanas, ya aku tahu dia sudah mulai remaja, tapi 17 tahun dan kau malah mengatakan majalah yang sebaiknya di baca saat kau sudah berumur 20an, tidak-tidak, kenapa aku mengoreksinya?

"Pokoknya kau harus membuang majalah seperti itu!" Tegasku.

"Akan aku lakukan setelah membacanya."

Arrggg! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!

.

.

.

.

.

.

Rs. Konoha.

Memeriksa data pasienku di dalam ruanganku, beberapa hari ke depan ada anak kecil yang akan di operasi akibat tumor yang di deritanya, ini masih stadium awal, sebaiknya di operasi agar tidak menjadi lebih ganas, sebuah ketukan di pintu membuatku menjedah sejenak kegiatanku.

"Masuk." Ucapku.

Pintu itu terbuka dan seseorang yang aku harapkan tidak perlu bertemu lagi, aku tahu kami tidak mungkin tidak akan bertemu apalagi sama-sama dokter spesialis anak.

"Ada perlu apa dokter Sai." Tanyaku. Aku akan lebih profesional meskipun saat pulang ke rumah aku merasa sangat kesal akan sikap dan tindakannya.

"Kau masih bekerja di jam seperti ini?" Ucapnya dan terdengar seperti basa-basi.

"Ada apa? Jika kau tidak memiliki kepentingan, kau bisa keluar, dokter." Tegasku.

"Maaf jika sikapku kurang baik padamu." Ucapnya dia bahkan memasang wajah bersalah itu, untuk apa? Kenapa harus bersikap seperti itu lagi? Setahun berpisahan bukan hal yang mudah, aku bahkan sangat sulit untuk menerima ucapanku sendiri, aku hampir merasa bersalah telah menceraikannya.

"Baiklah, aku ingin minta maaf dengan tulus jika dulunya aku sangat buruk bahkan berbuat hal bodoh padamu, aku hanya asal menuduhmu-"

"-Karena kau ingin menutupi kesalahanmu? Sudahlah dokter, hari ini aku sangat sibuk, tidak ada waktu untuk berbicara, lagi pula jika kau bahagia bersama selingkuhanmu, aku tidak pernah memikirkannya." Potongku.

Saat itu, aku tahu, aku merasakan ada perubahan yang aneh bahkan saat mereka bersama, mereka jelas-jelas memiliki hubungan dan dokter Sai malah menunduhku berselingkuh. Kapan dia melihatku dekat dengan seorang pria selain dia? Aku yakin jika itu hanya untuk menutupi kebusukannya.

"Aku tidak tahu jika kau masih marah hingga sekarang." Ucapnya.

"Marah? Tenang saja, aku tidak marah, tapi tolong keluar dari ruanganku, aku sungguh sibuk hari ini." Ucapku, aku menahan diri.

"Aku harap kita bisa berbicara lagi." Ucapnya dan beranjak dari ruanganku.

Bersandar pada kursiku dan menghela napas, sejujurnya aku sangat kesal, aku menahannya sejak tadi, aku sangat ingin marah dan memukulnya, kenapa dia berbuat hal kotor seperti itu? Aku sungguh mencintainya hingga menunggu saat-saat hubungan kami menjadi resmi, setelah resmi kebahagiaan hanya sesaat dan pertengkaran yang menjadi dominan di antara kami.

Lagi-lagi aku memikrikan segalanya, seharusnya aku tidak membiarkannya masuk atau aku harus pura-pura akan keluar, menghindarinya lebih baik, sekarang sikapnya berbeda, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan peduli padanya.

.

.

.

.

.

.

Menatap beberapa kaleng bir di atas meja, aku tidak tahu kenapa harus minum di saat marah seperti ini, ya aku sangat kesal padanya, sekarang, akhir-akhir ini sikapnya menjadi sangat baik dan begitu lembut padaku, kenapa aku harus peduli? Kenapa? Apa aku ini tipe wanita yang cepat sekali luluh pada apapun? Padahal setahun yang lalu, aku sudah tidak tahan akan sikapnya dan melayangkan surat cerai padanya, dia bahkan tidak memikirkan untuk menahanku, dokter Sai menandatanginya dengan santai, setelahnya dia memilih pergi dariku.

Aku tidak akan menyesal dengan apa yang telah aku pilih.

"Aku tidak minum." Ucap seseorang di sebelahku, aku sibuk dengan pikiranku dan tidak mempedulikan Sasuke, dia sibuk dengan cemilannya, apa itu tomat? Dia menaruh tomat buah yang terlihat matang di atas piring, tak lupa siaran berita yang tengah di tontonnya.

Hari ini dia tidak mengurung diri dan bersantai di sofa ruang nonton.

"Maaf, aku tidak mengajakmu minum, aku hanya sedikit sial hari ini." Ucapku, aku sudah terlanjur membeli kaleng bir ini, aku juga tidak mungkin mengajak Sasuke minum, dia masih cukup muda untuk minum, mengambil satu dan memulai meminumnya.

"Apa setiap kau sial, kau akan minum? Kau dokter yang buruk." Ucapnya, aku jadi merasa disindir oleh seorang laki-laki muda.

"Ya, aku mungkin dokter yang buruk." Ucapku dan kembali meneguk kaleng birku namun kegiatanku terhenti, Sasuke menahan kaleng bir di tanganku.

"Berhenti minum." Ucapnya, bahkan menatap tajam padaku.

"Jangan menggangguku." Ucapku dan melepaskan dengan paksa tangannya dari kalengku. "Kau masih bocah, jadi jangan menasehatiku." Tambahku.

"Aku juga tidak suka saat kau mengatakan bocah padaku." Ucapnya, terlihat kesal dan kembali menatap layar tv.

"Kau masih bocah, aku selalu menganggapmu seperti itu." Ucapku dan mengusap-ngusap puncuk kepalanya.

"Hentikan itu." Protes Sasuke dan menepis tanganku.

"Kenapa? Aku pikir kau sayang pada kakakmu ini." Ucapku lagi dan ingin kembali menyentuh puncuk kepalanya, pergerakan tanganku terhenti, Sasuke menahan tanganku dan menatap kesal padaku.

Mungkin aku sudah keterlaluan mengganggunya, aku hanya merasa perlu mencari suasana lain untuk menghilangkan pikiranku yang kacau ini.

"Setidaknya lakukan dengan baik." Ucap Sasuke menaruh tanganku tepat di atas kepalanya, dia memintaku untuk mengusapnya perlahan, aku baru menyadari jika rambutnya begitu halus.

[suara Tv]

Kami laporkan telah terjadi sebuah ledakan di salah satu pabrik pengelolah obat-obatan yang di dirikan oleh prof. Orochimaru, keadaan baru-baru saja terjadi dan sekarang repoter kami akan memperlihatkan tempat kejadian saat ini...

Terfokus akan berita terkini yang tengah di siarkan, ledakan? Dan ledakan itu terjadi tepat di pabrik pengelolahan obat-obatan, salah satu bangunan yang di dirikan oleh prof. Orochimaru, tidak ada korban jiwa, hanya beberapa pekerjanya mengalami luka-luka.

Apa Sasuke tidak apa-apa mendengar nama prof. Orochimaru? Mengalihkan tatapanku dari tv ke arahnya, aku sempat melihat sebuah senyum tipis itu.

Tunggu.

Apa aku tidak salah lihat? Sasuke tersenyum? Tapi setelah melihatnya kembali, Sasuke terlihat sangat tenang, dia bahkan tak menampakkan ekspresi apapun.

"Apa sudah selesai?" Tanyanya dan menatapku.

"Apa?" Tanyaku bingung.

Sasuke hanya menunjukkan kepalanya, aku sempat menghentikan usapan pada kepalanya akibat mendengar berita itu.

"Aku tidak mau melakukannya, dasar bocah, kau benar-benar masih bocah." Ejekku, badannya saja yang besar dan tinggi.

"Kalau begitu, jangan minum setiap kau dapat masalah atau keadaanmu sedang memburuk." Ucapnya, lagi-lagi menasehatiku.

"Iya, aku mengerti, tapi untuk hari ini saja." Ucapku.

.

.

TBC

.

.


update...~

karena sudah ada yang memilih, jadi author jadikan Sai saja sebagai mantan suami Sakura. terima kasih atas partisapinya. XD

di chapter ini semuanya akan di mulai... *jengngejengeng...~*

.

.

See you next chapter...~