Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 5 ~

.

.

.

Aku mencari beberapa informasi tentang ledakan yang terjadi pada bangunan yang hampir semuanya di dirikan oleh prof. Orochimaru, ini seperti sebuah balas dendam, aku memikirkan anak-anak yang di katakan Sasuke, mereka telah bebas dan entah berada dimana, mereka bisa saja membalas dendam karena rasa sakit yang mereka alami selama di lab itu sebagai kelinci percobaan prof. Orochimaru.

Menatap Sasuke, hari ini aku libur dan kami bisa sarapan bersama, Sasuke selalu terlihat tenang, kecuali kantong matanya itu semakin hitam saja, aku berharap dia tidak punya pikiran untuk balas dendam, cukup hidup normal dan melupakan jika dia pernah menjadi percobaan prof. Orochimaru.

"Jam berapa kau akan tidur?" Tanyaku, aku yakin dia selalu saja begadang.

"Jam 4 pagi." Ucapnya.

"Apa yang kau lakukan sampai jam 4?"

"Bekerja."

Lagi-lagi aku tidak bisa membantahnya setiap dia menghubungkannya dengan pekerjaannya itu.

"Aku ingin kau tidur lebih cepat, bawah matamu semakin hitam dan itu membuatku khawatir." Ucapku, tiba-tiba saja Sasuke menatapku dan bahkan mata onyx itu tidak berkedip. "A-ada apa?" Bingungku.

"Aku akan tidur cepat mulai sekarang." Tegasnya.

"A-ku senang mendengarnya." Ucapku, sebenarnya aku sedikit terkejut akan sikap dadakannya itu.

Hening, tidak ada lagi pembicaraan, aku ingin memulai pembicaraan tentang beberapa ledakan yang terjadi.

"Apa kau sering mendengar berita? Aku yakin kau selalu menonton itu setiap aku menemukanmu di ruang tv." Ucapku.

"Hanya kadang-kadang saja."

"Beberapa bangunan prof. Orochimaru terkena ledakan, semua pemicunya hal sepeleh, tapi aku merasa ini seperti di sengaja." Ucapku, Sasuke tidak bereaksi apa-apa, dia tetap saja tenang dan menyelesaikan sarapannya.

"Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak mengerti." Ucapnya.

"Aku tidak percaya jika kau tidak mengerti, apa anak-anak itu mungkin melakukan sesuatu pada bangunan-bangunan itu?"

"Aku tidak tahu, mereka bukan urusanku."

Aku lagi-lagi sulit mengoreksi informasi apapun dari Sasuke, aku tahu, dia mengatakan padaku jika setelah mereka kabur, Sasuke tidak pernah bertemu mereka lagi, tapi jika saja Sasuke tahu sesuatu, aku mungkin bisa sedikit membantu penyelidikan ini, tapi apa yang aku lakukan? Aku tidak mungkin mengatakan jika itu adalah kelakukan anak-anak yang pernah menjadi percobaan di lab pulau Kiri, secara tidak sengaja aku membeberkan masalah di lab itu, hampir saja aku menjadi orang yang sangat-sangat bodoh.

"Maaf jika aku menanyakan hal aneh, aku tidak bermaksud menuduh siapapun, bangunan apapun meledak juga bukan urusanku, aku sudah memulai kehidupan normal tanpa perlu terlibat hal yang berhubungan dengan prof. Orochimaru." Ucapku.

"Sebaiknya kau lupakan mereka dan anggap saja tempat itu tidak pernah ada, atau karena aku ada disini, kau terus mengingat tempat itu?" Ucap Sasuke, aku jadi merasa bersalah.

"Maaf, aku tidak bermaksud dan aku juga tidak berniat untuk membuatmu ingat kembali, aku janji, mulai detik ini aku akan berhenti membicarakan lab dan anak-anak itu, meskipun kau ada disini, aku tidak perlu mengingatnya lagi." Ucapku. Aku benar-benar bodoh untuk memulai sebuah pembicaraan berat ini dengan Sasuke, aku pasti terus membuatnya ingat dan hal ini akan berdampak buruk padanya, aku sungguh kakak yang buruk.

"Hari ini aku libur, apa kau ingin jalan-jalan? Kau hampir tidak pernah keluar rumah." Ucapku.

"Hn, aku mau." Ucapnya.

Aku tidak menyangka jika dia menerima ajakanku.

.

.

.

.

.

Kami hanya berjalan-jalan di sebuah mall dengan desain outdoor, arsitekturnya sangat tidak biasa dengan mall yang ada di Konoha, beberapa area sengaja tidak memiliki atap dan langit cerah akan terasa di dalam mall, di sini cukup ramai, berbagai macam toko memanjakan mata pengunjung, tanaman merambat yang di tata mempercantik beberapa area di dalam mall ini, bahkan ada air terjun kecil buatan yang akan mengeluarkan airnya beberapa jam sekali dan berada di tengah-tengah area mall ini.

Melirik Sasuke, aku cukup tidak nyaman akan penampilannya saat keluar, dia memakai kacamata dengan lensa putih, topi dan masker penutup mulut, apa yang di lakukannya?

"Apa kau tidak bisa berpenampilan biasa saja?" Tegurku.

"Aku tidak suka menarik perhatian." Ucapnya.

Memicingkan mata ke arahnya, kau bahkan sangat menarik perhatian dengan berpenampilan seperti itu!

"Permisi, apa kakak seorang artis?" Ucap beberapa gadis yang mungkin saja masih sekolahan, mereka menghampiri Sasuke dan menanyakan hal yang tidak mungkin, aku sudah tahu jika dia malah akan semakin menarik perhatian.

Sasuke tidak menjawab ucapan mereka dan berlalu begitu saja.

"Tunggu, setidaknya kakak katakan sesuatu padaku." Ucap salah seorang dari mereka hingga menarik lengan Sasuke.

"Lepaskan." Ucap Sasuke dan aku bisa melihat tatapan yang terlihat marah dari balik kacamatanya itu, nada suaranya bahkan terdengar tidak bersahabat.

"Ma-maaf." Ucap gadis itu dan akhirnya mereka pergi, aku tidak tahu jika Sasuke akan bersikap seperti itu.

"Seharusnya kau mengatakan jika kau bukan artis." Saranku.

"Jika aku berbicara pada mereka, ucapan mereka akan semakin banyak." Ucap Sasuke, dia terlihat kesal, padahal aku ingin mengajaknya jalan-jalan agar membuatnya lebih senang, sekarang dia terlihat sangat badmood, apa ide jalan-jalan hari ini adalah hal yang buruk? Mungkin seharusnya kami berada di rumah saja.

"Baiklah, aku tidak akan menanggapinya lagi, tapi lepaskan masker wajahmu, itu cukup mengganggu." Tegurku lagi.

"Aku lapar, bisakah kau mencari tempat makan sekarang juga?" Ucapnya, dia mengabaikan ucapanku.

"Tunggu, kenapa kau seperti itu padaku?" Protesku.

"Kau juga akan cerewet jika aku terus meladenimu." Ucapnya.

Aku cukup tidak suka akan tipe laki-laki seperti ini, lagi pula dia memang bukan tipeku, terlalu kekanak-kanakan dan keras kepala.

"Dan satu lagi, aku tidak suka tempat ramai dan tolong jangan terlalu jauh dariku." Ucapnya, tiba-tiba saja tangannya sudah menggenggam tanganku.

"Apa yang kau lakukan?" Ucapku, aku bahkan tidak bisa menarik tanganku darinya, Sasuke terlalu kuat menggenggamnya.

"Aku takut tersesat." Ucapnya dan lagi-lagi tatapan mata itu terlihat dia tengah memelas, aku benci saat dia membuatku luluh.

"Kau sudah cukup dewasa."

"Apa seperti ini sikap seorang kakak? Aku pikir kau peduli padaku." Alasannya dan membuatku sangat gemes ingin mencubitnya.

Akhirnya, kami berjalan sambil bergandengan tangan, ini tak nyaman bagiku, tapi Sasuke, dia terlihat sangat santai, bahkan genggamannya sangat erat, aku cukup malu jika beberapa pasang mata terfokus pada tangan kami, sampai kapan dia akan menggenggam tanganku? Kami bukan pasangan, aku juga tidak mengerti jika dia menganggapku sebagai seorang kakak,

"Dokter Sakura, dokter Sakura?" Seseorang memanggilku, melihat ke arah sumber suara itu dan bergegas menjauh. "Dokter Sakura, tunggu, aku tidak percaya jika bertemu denganmu." Ucapnya lagi, dia berusaha menahanku, aku bisa melihat gerakan Sasuke yang seperti akan mendorongnya, menarik Sasuke menjauh darinya, tangan kami masih saling menggenggam membuatku lebih mudah menghalangi apa yang akan di lakukannya. "Pria ini, apa kau ingin melukaiku?" Wanita ini pun sadar jika Sasuke akan mendorongnya.

"Aku sangat lapar, kapan kita menemukan tempat makan?" Ucap Sasuke, dia tidak peduli akan ucapan wanita dihadapan kami, dia hanya merengek seperti anak kecil yang kelaparan.

"Ah tunggu dulu, jadi kau sudah punya seseorang yaa, ini berita baik." Ucapnya dan membuatku muak.

"Maaf, tapi kita tidak saling mengenal." Tegasku.

"Tapi mantan suamimu pernah bersamaku." Ucapnya bahkan terdengar seperti sebuah kemenangan untuknya, aku tidak peduli.

"Aku tidak mengingat punya mantan suami." Ucapku dan bergegas, namun dia kembali menahanku.

"Pantas saja dokter Sai begitu tidak menyukaimu, sikapmu seperti ini."

"Aku harap kita tidak berbicara lagi, dokter Sai juga bukan urusanku lagi." Ucapku, dan kembali menarik Sasuke untuk pergi.

"Kau mau menghindar? Apa pria itu juga akan sama? Dia juga akan pergi darimu?" Ocehnya.

Aku tidak peduli, terus mengajak Sasuke menjauh hingga kami menemukan resotran keluarga, disini memiliki sekat hingga tidak mengganggu area privasi setiap pelanggan, Sasuke pun jadi bebas melepaskan penutup mulutnya dan topi, kacamata itu di biarkannya dan wajahnya jadi terlihat berbeda saat mengenakan kacamata, jauh lebih dewasa dan berkarisma, tidak-tidak, jangan pikirkan aneh-aneh, hari ini aku cukup sial bertemu dengan wanita sialan itu, dia sungguh perusak hubungan, menatap Sasuke, dia mulai sibuk memanggang daging, kami memesan paket barbeque.

Tidak ada tanggapan apa-apa dari Sasuke, bahkan dia tidak bertanya siapa wanita itu? Atau apa yang di lakukannya? Sasuke tampaknya tidak penasaran atau tertarik untuk mengetahuinya.

"Mungkin kita bisa membeli beberapa daging dan memanggangnya di rumah." Ucapku.

Sasuke hanya bergumam dan menikmati dagingnya, sementara aku, pikiranku jadi kacau setelah bertemu wanita itu, dia sungguh tidak sopan bahkan mengucapkan banyak hal seenak jidatnya, tahu apa dia tentang Sasuke?

"Makanlah yang banyak, kau semakin kurus." Ucap Sasuke, satu suapan daging datang begitu saja, mengunyahnya dan daging panggang ini terasa sangat empuk. "Jika kau hanya memikirkan orang yang buruk, itu akan mempengaruhimu, jadi makan saja dan jangan pikirkan apapun." Ucap Sasuke lagi, dan kembali sebuah suapan daging darinya.

"Aku hanya tidak menyangka akan bertemu dengannya dan dia mengatakan hal yang-uhm." Lagi-lagi Sasuke menyuapiku.

"Aku tidak ingin mendengar tentang orang lain, apa kau bisa menceritakan hal lain? Seperti apa yang kau lakukan di rumah sakit?" Ucap Sasuke padaku.

Dia jauh lebih ingin mendengar hal itu dari pada yang terjadi tadi.

.

.

TBC

.

.


update...~

agak lambat update, di kepala author menumpuk banyak konsep hingga pusing sendiri, mau nambah satu fic lagi, tapi belum rampung konsepnya, mau nambah oneshoot juga, tapi belum kelar, dan malah sekarang alurnya kacau, hehehe, nanti deh, semoga bisa buat fic lain lagi.

oh ya, di chapter ini ada karakter baru, selingkuhan mantan suami Sakura, lagi-lagi author butuh bantuan reader, kira-kira kalian ingin siapa yang jadi selingkuhan dokter Sai?

terus mall yang author ceritakan itu ada, di daerah author dan mallnya itu bagus banget =w= emang desainnya outdoor, jdi ada area yang tidak tertutupi dengan dengan dinding atau atap, dan banyak spot bagus buat foto-foto, XD

okey, segini dulu yaa.

.

.

see you next chapter dan happy weeked...~