Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 6 ~
.
.
.
Jalan-jalan itu akhirnya berakhir, aku sempat membeli beberapa bahan masakan, ini permintaan Sasuke, tak banyak tempat yang bisa kami kunjungi, Sasuke seakan terus mengawasi sekitar, dia seakan takut akan sesuatu dan meminta untuk lebih cepat pulang, aku rasa ide jalan-jalan itu gagal, Sasuke tidak suka keluar, dia tidak suka keramaian meskipun menerima ajakanku.
Dreeettt…dreeett…
Ponselku bergetar, melihat sebuah pesan dari salah satu detektif swasta yang aku sewa, dia hanya menanyakan aku pergi dengan siapa hari ini? Mereka ternyata mengawasiku dan aku lupa mengatakan jika aku bersama seorang pemuda, membalas pesan mereka, aku hanya mengatakan jika Sasuke adalah keponakan dari keluarga jauh, kami tinggal bersama dan aku harus merawatnya seperti adik sendiri, aku jadi harus menjelaskan banyak hal seperti umur Sasuke yang jauh lebih muda, dia menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dan hanya berada di rumah, aku harus menjelaskan segalanya agar mereka tidak salah paham meskipun ada kebohongan di sana.
"Kau mengirim pesan pada siapa?" Tanya Sasuke padaku, aku jadi tidak memperhatikannya selama kami telah turun di parkiran apartemen.
"Teman kerja, dia menanyakan sesuatu, jadi aku harus membalasnya."
"Kenapa tidak menghubunginya saja?"
"Itu, dia sedang sibuk jadi mungkin akan melihat pesanku nanti." Alasanku, Sasuke jadi selalu bertanya banyak padaku.
"Apa sangat penting?" Tanyanya lagi.
"Tidak, ini tidak penting, aku hanya menjawab pesannya saja. Ada apa denganmu?" Ucapku, lagi-lagi dia bersikap aneh.
"Bukan apa-apa." Ucap Sasuke, dia berjalan lebih cepat ke depan dan membukakan pintu untukku.
Aku tidak begitu tahu banyak tentang Sasuke yang sekarang, dia sangat berbeda dengan saat aku masih mengawasinya, aku tahu, setiap orang akan mengalami perubahan, lagi pula Sasuke akan memulai masa pubertasnya, itu wajar bagi seorang pemuda di umurnya sekarang.
Membuka kulkas dan menemukan kaleng bir, aku belum menghabiskan yang lainnya, mengambil satu kaleng, baru saja akan membukanya, Sasuke merampas kaleng itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Apa yang kau lakukan!" Kesalku.
"Apa setiap kau ada masalah kau akan minum?" Tegurnya, dia bahkan menatap marah padaku.
"Aku tidak ada masalah, minum pun adalah wajar bagi kami orang dewasa." Tegasku.
"Kau harus berhenti mulai sekarang." Ucapnya, mengambil kaleng lainnya dalam kulkas dan membuangnya.
"A-apa! Kenapa kau membuangnya? Itu sangat di sayangkan." Ucapku dan marah padanya.
"Tidak ada alasan untuk kau harus minum, berhenti sekarang juga."
"Ah, apa-apaan ini? Jika kau ingin tinggal, tinggal saja, tapi jangan mengatur hidupku, apapun yang aku lakukan, semua itu bukan urusanmu!" Tegasku.
"Aku peduli padamu." Ucap Sasuke.
Deg.
Tiba-tiba saja aku menjadi tenang setelah mendengar ucapannya, apa-apaan itu? Aku jadi mengingat diriku saat masih mengawasinya, ya aku sangat peduli padanya hingga melakukan pelanggaran prosedur pekerjaan.
"Aku lelah." Ucapku dan beranjak dari sana, lagi-lagi aku tidak bisa adu argumen dengannya, Sasuke jauh lebih pintar dariku.
Masuk ke kamar dan hanya berbaring, aku tidak lelah, tapi aku hanya menghindar agar aku tidak jadi lepas kendali dan mengucapkan apapun sesuka hati itu.
Dia mengatakan peduli pada aku, sama seperti saat aku peduli padanya, ini sangat tidak adil, bagaimana membantah pemuda yang sangat pandai berbicara itu?
.
.
.
.
.
Hari ini aku datang lagi ke tempat detektif swasta itu, mereka ingin informasi dariku, tentang orang-orang yang berada di sekitarku, mereka bahkan tahu aku sempat berbicara dengan wanita itu.
"Dia adalah selingkuhan mantan suamiku, sekarang kami telah bercerai, aku tidak tahu bagaimana bisa bertemu dengannya lagi."
"Apa ada orang lain yang lebih dekat dengan anda lagi?" Tanya pria yang bernama Yamato ini.
"Tidak, selain Sasuke, keponakanku, aku hanya sendirian di kota ini, orang tuaku berada jauh, mereka menempati sebuah kota lain untuk hidup bersama." Jelasku.
"Kami belum yakin dengan apa yang kami dapat, tapi saat kalian berjalan-jalan di mall, kami menemukan seseorang yang mengikuti kalian dan gerak-geriknya cukup mencurigakan." Ucap Yamato dan memperlihatkan sebuah video dan menunjuk orang yang menurut mereka mencurigakan, aku tidak mengenal pria itu, dia bahkan terlihat santai dan sesekali menatap ke arah aku dan Sasuke. "Dia masih menjadi salah satu orang yang kami curigai, tapi selama ini kami tidak pernah melihatnya meskipun anda pergi bekerja atau baru keluar dari apartemen." Tambah Yamato.
"Selanjutnya, kami akan terus memantau di sekitar anda." Ucapnya.
Aku cukup puas akan penyelidikan mereka, memang benar jika ada yang mengikuti kami kemarin, tapi pria ini baru saja muncul, jadi ada hal lain yang diincarnya, aku meminta rekaman itu untuk memastikan jika mungkin Sasuke mengenalnya, aku tidak mengerti jika seorang stalker akan pedulikan akan makan siangku dan terus mengirimkannya.
Tapi,
"Aku tidak tahu." Ucap Sasuke, dia tidak mengenal orang ini.
"Aku juga tidak tahu siapa dia." Ucapku.
"Dari mana kau dapat rekaman ini?" Tanya Sasuke.
Aku tidak mengatakan pada Sasuke jika aku menyewa detektif untuk mencari orang yang terus mengirim makanan padaku, lagi pula hal itu sudah berhenti, tidak ada hal lain lagi terjadi setelah pengiriman makanan itu berhenti, tapi aku masih penasaran.
Menatap Sasuke dan memikirkan untuk menceritakannya atau tidak, tapi untuk apa dia tahu? Lagi pula Sasuke tidak peduli saat aku menceritakan hal itu.
"Seorang teman tanpa sengaja melihatku, tapi dia melihat seseorang yang mencurigakan di sekitarku, dia mengirim rekaman ini padaku." Bohongku.
Sasuke terus menatapku, seakan dia tidak percaya padaku, tatapan macam apa itu? Aku tahu, aku berbohong, tapi setidaknya percayalah, aku juga tidak ingin kau terlibat dalam masalahku yang kau anggap hal tidak berbobot untuk di ceritakan.
"Ada apa lagi?" Tanyaku, masih saja tidak berhenti menatapku.
"Aku tahu kapan kau berbohong." Ucapnya dan membuatku terkejut.
"A-aku sungguh tidak bohong!" Kesalku, dari mana dia tahu aku bohong? Kami bahkan baru bertemu setelah bertahun-tahun lamanya.
"Aku tunggu sampai kau berbicara jujur." Ucapnya dan kembali ke kamarnya.
"Aku sudah jujur!" Tegasku, Sasuke tidak peduli dan sudah mengunci pintu kamarnya, kenapa dia begitu repot untuk tahu apapun yang terjadi padaku?
Kembali menatap rekaman itu, jika saja aku menemukan pria ini, aku harus bertanya padanya, apa yang di incarnya? Aku juga bukan orang yang terkenal atau pernah bermasalah dengan siapapun.
.
.
.
.
.
[RS. Konoha]
"Kau bersama siapa saat di mall O itu?" Ucap dokter Sai, tiba-tiba saja datang ke ruanganku, tanpa mengetuk dan bahkan masuk tanpa seijinku.
"Jaga sopan santunmu dokter, ini ruanganku."
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Oh, apa sekarang selingkuhanmu menjadi mata-mata bagimu?" Sindirku, aku yakin wanita itu sudah menceritakan pada dokter Sai.
"Kami tidak ada hubungan lagi." Ucap dokter Sai dan raut wajahnya terlihat sedih, aku tidak akan peduli apapun terjadi padamu dan dia.
"Baiklah, kembalilah ke ruanganmu dokter, aku juga sangat sibuk." Ucapku.
"Tunggu, kau pergi dengan seorang pria?" Tanyanya.
"Jika kalian tidak memiliki hubungan lagi, kenapa kau begitu repot mendengar setiap ucapan wanita ular itu?" Kesalku.
"Dia hanya mengatakan padaku jika kau ke mall bersama seorang pria, kalian bahkan terlihat sangat mesra."
"Jika aku bersama seorang pria, apa itu mengganggumu? Ini bukan sesuatu yang perlu kau ikut campur. Tolong sadarlah akan posisimu sekarang." Tegasku.
"Sakura, aku sudah meminta maaf padamu."
"Aku sudah mengatakan berkali-kali jika aku memaafkanmu, tapi tidak ada hubungan baik setelahnya."
"Kau bahkan pergi dengan pria yang entah siapa."
Kenapa masih membahasnya! Apa dokter Sai tidak mengerti akan ucapanku? Masih sibuk memikirkan jika dia penting untukku? Sekarang dia bukan apa-apa untukku.
"Iya, aku pergi bersama seorang pria." Mau bagaimana lagi aku harus menggunakan Sasuke agar terlepas darinya. "Kehidupanku dan hubunganku sudah sangat baik, jadi sekali lagi tolong jaga jarakmu dokter, aku tidak ingin membuatnya salah paham."
"Kenapa kau begitu cepat mengubah pemikiranmu? Aku yakin kau masih mencintaiku, kau sangat mencintaiku kan?"
"Tolong keluar dari ruanganku dokter! Atau aku bisa memanggil security kesini, kau sudah mengganggu jam kerjaku!" Kesalku.
"Baik, aku tidak akan menyerah untuk masalah ini!" Ucapnya dan bergegas pergi, bahkan pintu ruanganku di tutup dengan kasar.
Pikiranku jadi kacau lagi, aku sudah berusaha untuk tegar melakukan apapun dan dia selalu berusaha kembali, apa yang perlu di lanjutkan lagi? Hubungan itu sudah benar-benar berakhir, aku tidak ingin merasakan sakit yang sama berulang kali hanya untuk menerimanya.
.
.
TBC
.
.
update...~
selamat hari sibuk bagi orang-orang yang sibuk...~
beberapa review tidak akan di balas dan akan menjadi rahasia di chapter depan, hehehe,
.
.
See you next chapter.
