Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 7 ~
.
.
.
Tiba di apartemen, duduk di sofa dan merebahkan diri, aku lelah, lelah meladeni dokter Sai, aku bingung harus bagaimana menjauhkannya, kenapa dia harus terus mengungkit masa lalu dan terus memaksaku untuk kembali? Apa untungnya jika kami kembali? Rasa sakit itu akan terus terasa setiap aku melihatnya, bahkan merasakan jijik jika dia menyentuhku dan telah menyentuh wanita lain, seharusnya aku memaksa direktur Tsunade untuk memindahkanku, lebih baik aku menjauh darinya.
Ruangan tamu itu terasa sunyi, tidak ada suara tv, Sasuke juga tidak berkeliaran di luar, apa dia ada di kamarnya? Berjalan ke arah pintu berwarna coklat gelap itu, mengetuknya beberapa kali dan tidak ada jawaban, mencoba membukanya dan pintu itu terkunci, dia tidak pernah membiarkanku masuk, apa Sasuke tidur? Mungkin saja, beranjak ke kamarku dan aku ingin segera istirahat.
.
.
.
.
Normal pov.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Sasuke, dia terlihat cukup marah, saat ini di gang sempit yang tidak terlalu ramai, bahkan sangat jarang orang melewati area itu jika hari sudah malam, Sasuke menahan seseorang yang membuatnya cukup kesal.
"Ada apa denganmu Seven? Masih berlagak sok baik? Bukannya tujuan kita harus menghancurkan siapapun yang pernah berada di lab itu? Termasuk dokter-dokter pendamping kita?" Ucap seorang pemuda yang seumuran dengan Sasuke, pemuda ini adalah orang yang sempat tertangkap oleh kamera salah satu detektif swasta yang di sewa oleh Sakura.
"Aku bisa membunuhmu sekarang juga."
"Bagaimana kau bisa melawanku? Kekuatan kita sama, kita sama-sama mendapat pelatihan dan seluruh percobaan yang ada di lab itu."
"Aku jauh lebih kuat darimu." Tegas Sasuke.
"Kau mau membunuhku demi salah satu orang yang ikut melakukan percobaan terhadap kita? Bagaimana dengan ucapanmu sebelumnya yang mengatakan kita ini sama, dengan satu tujuan, kita harus membalas apapun, termasuk mencari profesor gila itu, siapapun belum bisa menemukannya."
"Dokter Sakura adalah urusanku."
"Aku tidak percaya, bahkan tatapanmu itu saat mengucapkan namanya, katakan yang sebenarnya Seven, bagaimana kau begitu peduli pada wanita itu! Ingat teman-teman kita yang telah mati! Ingat bagaimana mereka terus merintih setiap tes menyiksa yang kita lakukan! Apa kau melupakan segalanya! Wanita itu bahkan membantu profesor gila itu! Kau harus membalas semua penderitaan anak-anak yang bernasib sama dengan kita!" Ucap pemuda ini, dia bahkan terlihat sedih setelah mengatakan semua itu. "Bagaimana kau bisa selemah ini Seven? Lakukan demi mereka yang telah pergi. Apa kau tidak peduli dengan mereka lagi?" Tambahnya.
Sasuke terlihat tenang, menatap pemuda di hadapannya itu, Sasuke tidak tahu apa yang sudah di lakukan salah satu anak yang pernah berada di lab ini hingga tertangkap oleh kamera, mereka pernah bersama untuk kabur dengan beberapa anak-anak lainnya, sebagian anak yang ikut kabur di tembak mati saat di dapat oleh petugas keamanan.
"Jangan memanggilku Seven, aku punya nama."
"Baiklah, aku harap kita tidak bertemu seperti ini lagi. Aku curiga jika wanita itu memiliki mata-mata atau sejenisnya, selama ini aku tidak pernah terlihat oleh siapapun."
"Seharusnya kau lebih berhati-hati, dokter Sakura bukanlah orang biasa, dia termasuk dokter yang jenius. Jika kau bertindak gegabah, semuanya akan terbongkar dan aku masih memikirkan jika prof. Orochimaru akan kembali dan mencari kita satu persatu." Ucap Sasuke.
"Aku mengerti, aku akan lebih hati-hati, tapi tolong jangan bersikap tidak adil, aku sudah membunuh dokter pendampingku, kau pun harus melakukannya, hampir seluruh anak telah melakukannya, jangan lemah Sasuke." Ucap pemuda itu dan bergegas pergi.
Sasuke masih terdiam dengan segala pikirannya, 10 atau kode salah anak dari lab yang hancur itu, dia adalah salah satu anak yang berhasil kabur bersama Sasuke, selain itu masih ada 6 orang anak lainnya yang terpencar di beberapa kota, memulai hidup baru mereka namun dengan sebuah tujuan.
Menatap tangannya, kadang Sasuke masih bisa melihat bekas darah yang berlumuran di tangannya, selama ini beberapa staf bahkan dokter yang pernah menggantikan Sakura telah di bunuhnya, itu terjadi cukup lama, bahkan saat umurnya masih 13 tahun, insting membunuh dengan segala kejeniusan dan tingkat kepekaan yang mereka miliki di latih sejenak dini dan membuat mereka bisa menjadi senjata paling berbahaya, tujuan prof. Orochimaru adalah menjadikan mereka seperti itu, namun dengan resiko yang cukup tinggi dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi, termasuk merekalah yang akan menyerang balik jika tidak patuh.
Sasuke berjalan keluar dari gang sempit itu, membaur dengan beberapa pejalan kaki, masih senantiasa dengan berpenampilan menutupi wajahnya, ada begitu banyak CCTV yang harus di hindarinya.
Kembali mengingat ucapan Ten (10), Sasuke mendengar baik setiap ucapnnya, memikirkan jika mungkin Sakura berbohong dan dia memiliki seseorang yang akan mengawasinya, Sasuke tidak tahu apa yang Sakura lakukan, dia terkesan canggung saat berbohong dan Sasuke sangat mengetahuinya.
Tiba di apartemen, Sasuke menemukan sepatu yang sering di gunakan Sakura, wanita itu telah pulang, membuka perlahan pintu kamarnya, dia telah tertidur, bahkan tidak mengganti pakaiannya dengan piama.
Berjalan masuk, menatap wajah lelah itu dan ada bekas air mata di sana, Sakura menangis, dia sempat menangis dan Sasuke tidak ada saat dia tengah bersedih.
"Sasuke?" Ucap Sakura, wanita itu terbangun dan duduk di sisi ranjang, Sasuke masih berdiri mematung dan menatapnya. "Apa kau sudah makan malam? Aku tahu ini sudah sangat malam, tapi aku ingin memastikan kau makan dengan baik."
"Aku ingin makan malam bersamamu." Ucap Sasuke.
"Lagi-lagi kau melakukan itu, aku sudah katakan jika kau harus makan lebih dulu" Ucap Sakura, beranjak dari kasurnya dan mendorong pemuda itu menuju meja makan.
Setibanya di sana, Sakura terfokus pada meja makan yang telah terhidang menu makanan yang lengkap, bahkan masih terlihat uap panas dari makanan-makanan itu.
"Kau membangunkanku untuk makan bersama?" Ucap Sakura dan Sasuke hanya menggangguk.
"Terima kasih, kau bahkan repot masak seperti ini." Ucap Sakura lagi, mereka pun memulai makan malam mereka yang sangat terlambat.
Sakura sibuk memakan makananya, dia cukup kelaparan setelah tidur tanpa makan apapun, Sakura terus memikirkan masalahnya hingga ketiduran. Sementara Sasuke menatap Sakura, wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bagaimana kerjamu hari ini?" Tanya Sasuke.
"Kau mau mendengar itu lagi? Apa kau tidak bosan mendengar cerita pekerjaanku di rumah sakit? Itu sangat membosankan." Ucap Sakura.
"Aku senang mendengarnya." Ucap Sasuke.
"Kau sangat aneh, bagaimana jika sebaliknya, ceritakan apa saja yang sudah kau lakukan selama ini?" Tanya Sakura.
Sasuke lagi-lagi terdiam, tatapan kosong darinya, saat ini yang terbayang di hadapan Sasuke adalah kejahatannya yang selama ini di lakukannya, membunuh banyak orang dan bahkan tidak peduli dengan teriakan meminta tolong dan ampun itu, Sasuke lebih peduli akan rasa sakit setiap anak-anak yang mati di depan matanya, semuanya seakan menjadi kenangan Sasuke akan terus menjadi mimpi buruknya.
"Sasuke?" Tegur Sakura, bahkan menyentuh punggung tangan pemuda itu, dia terlihat melamun.
Sasuke tersentak bahkan tidak sadar jika di hadapannya adalah Sakura, sebuah garfu tepat di depan mata wanita itu, Sakura terkejut akan tindakan Sasuke yang tiba-tiba, bahkan garfu itu hampir mencongkel matanya.
"Maaf." Ucap Sasuke dan bergegas menjatuhkan garfu itu dari tangannya, Sasuke kebingungan menatap wajah Sakura yang terlihat takut, dia hampir saja melukai Sakura.
"A-aku yang minta maaf, apa aku mengagetkanmu?" Ucap Sakura, masih sangat takut akan kejadian tadi, tangannya bergetar dan segera di sembunyikannya di bawah meja.
"Tidak, aku akan mengatakan apa yang aku lakukan selama ini." Ucap Sasuke, dia jauh lebih cepat tenang, tapi sorot mata Sakura masih menandakan dia sangat takut, Sasuke mencoba berbicara pada Sakura untuk mengalihkan pikirannya dan membuat segala cerita bohong termasuk apapun yang di lakukannya.
Sasuke menceritakan jika dia pernah dia angkat menjadi seorang anak di sebuah keluarga sederhana, namun lambat laun Sasuke ingin keluar dan mencoba mandiri, hanya hal-hal sederhana yang di ceritakannya dan semua itu adalah sedikit kebenaran yang menutupi segala kejahatan yang telah di lakukannya.
"Aku senang mendengarnya, aku pikir kau akan menjadi anak yang terlantar, orang-orang kadang tidak akan peduli pada anak-anak." Ucap Sakura, dia akhirnya tenang setelah mendengar cerita Sasuke, walaupun sempat memikirkan sikap aneh Sasuke tadi.
"Mungkin ini efek samping dari tes yang mereka lakukan di lab, kecepatan bertindak yang bahkan aku tak menyadarinya, aku terus berharap Sasuke akan menjadi anak yang baik walaupun aku sungguh takut akan tindakan tiba-tibanya tadi, kapan saja Sasuke bisa membunuhku." Pikir Sakura, dan tetap berusaha memasang wajah tenangnya.
Sasuke tahu, Sakura ketakutan padanya, apalagi tindakan itu sungguh hampir melukainya, Sasuke harus terus mengontrol dirinya.
Setelah makan malam itu, Sakura meminta Sasuke untuk segera istirahat dan dia yang akan membereskan segalanya, pemuda itu kembali ke kamar dan mencari obatnya, dia hampir hilang kendali, mengambil dua butir obat berwarna putih dan segera meminumnya, bagaimana pun juga Sasuke tidak benar-benar bebas dari apa yang telah terjadi di lab itu meskipun telah bertahun-tahun lamanya, dia harus bergantung pada sebuah obat untuk membuatnya tetap tenang dan tidak asal menyerang siapapun termasuk Sakura.
Ending normal Pov.
.
.
.
.
.
Sasuke Pov.
"Cepat lari! Ke arah Sana!"
"Four (4) di sebelah sana! Cepatlah!"
Hari itu, hanya ada kobaran api yang besar di sebuah bangunan lab, sirinenya terus berbunyi hingga membuat telinga sangat bising, beberapa pagar pembatasan kehilangan aliran listriknya, beberapa anak berlari ke sana dan kemari, mereka menghindari dan berusaha kabur.
"Ahk! Pergi! Aku tidak bisa lari lagi!" Teriak seorang anak, dia terjatuh hingga lututnya terbentur batu, beberapa petugas keamanan dengan senapannya bersiap.
"Tidak, kau harus tetap pergi Six, aku akan menggendongmu."
"Pergi! Kau akan-"
Dor!
Terbangun dari tidurku, menatap kamar yang gelap bahkan cahaya matahari tidak aku biarkan lolos masuk ke dalam ruangan ini, setiap harinya, mimpi yang sama, mimpi yang terus berulang, tanganku gemetaran dan aku harus kembali mencari obatku, meminum dua butir obat itu agar membuatku tenang.
"Sasuke, aku akan berangkat." Itu suara dokter Sakura dari luar pintu.
"Baklah!" Ucapku, agar dia tahu aku sudah bangun.
"Aku meninggalkan sarapan dan sesekali keluarlah dari kamar!" Tegurnya.
Tidak menanggapi ucapannya dan suasana di luar sana menjadi tenang, aku tidak mendengar lagi suara Sakura, dia mungkin sudah pergi, membuka pintu kamarku dan dia memang telah pergi, ada sarapan di atas meja, berjalan ke arah kamar mandi dan membasuh wajahku, aku tidak bisa melupkan kejadian buruk itu bahkan hingga sekarang.
Kami cukup dekat, dengan kode angka yang berdekatan, Six adalah salah satu anak yang biasanya akan berurutan bersamaku, aku tidak bisa menyelamatkannya dan dia mati di depan mataku, aku merasa sangat bersalah dan terus memikirkan kesalahanku itu, jika saja aku lebih cepat menggendongnya pergi dari sana, dia pun akan selamat.
.
.
TBC
.
.
update...~
karena ini chapter 7 dan sesuai judulnya 007 *nggak! hehehe, cuma kebetulan, disini beberapa hal yang membingungan dan buat penasaran akan perlahan-lahan di bahas =w= termasuk siapa pelaku pengirim makanan (tapi masih rahasia) siapa yang mengikuti Sakura dan siapa yang selama ini memata-matai Sakura? apa tujuan Sasuke untuk tinggal,
sebenarnya fic ini berat, tapi semoga tetap menghibur dan tidak buat bingung deh.
.
.
See you next chapter.
