Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 9 ~
.
.
.
Terkejut akan suara ledakan itu, ledakan yang tidak begitu besar, tapi aku yakin bagian dalam rumah sakit cukup hancur, Sasuke tiba-tiba mematikan ponselnya dan saat aku menghubunginya kembali nomer itu tidak bisa di hubungi, apa yang harus aku lakukan? Mencari Sasuke atau memastikan apapun di dalam, aku tidak bisa tenang jika seperti ini, Sasuke masih bisa menunggu, berusaha berjalan masuk dan beberapa petugas memintaku menunggu di luar, ledakan itu jelas-jelas dari dalam.
Para petugas meminta seluruh pegawai dan staf untuk tenang dan membantu para pasien, aku jadi harus menolong beberapa orang-orang terjatuh akibat getaran ledakan itu, para dokter yang lainnya juga bisa keluar dari bangun, mereka mengatakan jika arah ledakan itu sekitar area bagian ruangan para dokter, dan salah satu ruangan yang paling hancur adalah ruanganku.
Berusaha membantu orang-orang yang terluka dan menyampingkan tentang ruanganku yang ikut hancur, saat ini mereka butuh pertolongan.
Keadaan mulai tenang hingga malam hari, kepolisian dan satuan khusus penjinak bom telah tiba beberapa jam yang lalu, mereka ingin memastikan jika di dalam sudah aman dan tidak ada benda yang mencurigakan lagi, dokter Tsunade tengah berbicara dengan pemimpin mereka, rumah sakit ini baru saja mendapat hal semacam ini.
Beberapa dokter lainnya yang memiliki shift malam cukup terkejut mendengar kabar dari rumah sakit.
"Kau baik saja-saja?" Tanya dokter Sai padaku, dia terlihat khawatir, "Aku langsung mencarimu setelah mendengar bagian ruangan dokter meledak." Ucapnya.
"Aku tidak apa-apa, aku rasa anda perlu menolong orang lain yang terluka." Ucapku, aku tidak butuh simpati darinya.
"Aku senang mendengar kau baik-baik saja, sebaiknya kau pulang dan istirahat, aku yakin kau pun syok melihat keadaan tadi."
"Tidak masalah dan aku akan pulang setelah semuanya beres." Ucapku.
"Aku sungguh mengkhawatirmu." Ucapnya dan aku hanya menatapnya, lagi-lagi dia bersikap seperti ini padaku.
"Terima kasih, dokter." Ucapku, hanya sebatas kami rekan kerja yang saling mengkhawatirkan, aku mulai sibuk dengan menolong beberapa orang lagi.
Aku hampir menyelesaikan bagianku dan juga para dokter lain dengan shift malam mengambil bagian mereka, ruanganku hancur, aku tidak membawa tasku keluar, kunci mobil dan dompetku berada di dalamnya, ruanganku benar-benar hancur saat aku masuk dan mengeceknya, aku tidak bisa memgambil barang-barangku sebelum reruntuhan itu di bersihkan.
Aku sampai melupakan sesuatu, saat berjalan ke arah parkiran Sasuke tidak ada sana, dia tidak ada dimana pun, kembali menghubungi nomer yang di gunakan Sasuke, lagi-lagi nomer itu tidak tersambung, kemana dia?
Pada akhirnya aku harus pulang, mungkin saja Sasuke sudah pulang atau dia tengah mengerjaiku. Apa aku harus pulang jalan kaki? Dompet dan apapun berada di lokerku yang masih tertimpah reruntuhan, apartemen sangat jauh atau meminta tolong mobil ambulans untuk mengantarku pulang.
"Apa kau akan pulang? Bagaimana jika kita pulang bersama? Aku akan mengantarmu." Ucap dokter Sai, di saat seperti ini, aku malah bertemu dengannya lagi.
"Aku akan pulang naik taksi." Tolakku.
"Itu tidak aman, apa kau tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini padaku? Aku sudah berusaha berubah untukmu, kali ini saja, biarkan aku mengantarmu, hari sudah sangat malam dan kau seorang wanita." Ucapnya dengan berbagai alasan.
Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu dokter Sai, sejujurnya aku tidak begitu peduli kau berubah atau tidak, kau pria yang baik, sangat baik hingga aku sangat mencintaimu saat itu, lupakan, aku tidak boleh mengingat hal baik tentangnya lagi, itu sudah sangat lewat.
"Baiklah, kali ini saja." Ucapku pasrah.
Dokter Sai akhirnya mengantarku pulang, selama perjalanan aku tidak ingin berbicara dengannya dan dia pun begitu tenang, tidak, dia tidak terlihat tenang, wajahnya terus memperlihatkan dia sangat senang, apa kau begitu senang hanya karena mengantarku? Ingat kembali bagaimana kau menyakitiku.
"Apa pacarmu itu tidak menjemputmu? Kau bisa mengubunginya." Ucap dokter Sai.
Dia tengah menyinggungku, lagi pula sepertinya Sasuke tidak pandai mengendarai mobil dan dia belum memiliki sim.
"Kami tidak memiliki hubungan seperti itu, kau saja yang cepat menyimpulkan segalanya, apa jika pergi bersama seorang pria dan akan di cap sebagai pacar? Dasar konyol, kau sudah terlalu tua untuk memikirkan hal sesederhana itu." Ucapku.
"Sungguh? Kalian tidak pacaran?" Ucapnya bahkan menatapku terkejut.
"Sudah, jangan membahasnya lagi." Ucapku datar.
"Kau tahu, setiap harinya aku memikirkan kesalahanku, aku terus memikirkannya dan terus merasa menyesal, bagaimana bisa aku pergi meninggalkan wanita yang sangat baik padaku? Aku memang sangat bodoh saat itu."
"Aku akan turun jika kau tidak berhenti berbicara." Ucapku, aku tidak mau mendengarnya lagi.
"Sepertinya usahaku belum sampai membuatmu kembali."
"Bisakah kau turunkan aku disini?" Ucapku, aku mulai tak nyaman akan pembicaraannya.
"Maaf, aku tidak akan mengatakannya lagi, tolong tenanglah hingga kau sampai." Ucapnya.
Suasana kembali tenang hingga aku sampai di depan gedung apartemen.
"Terima kasih untuk tumpangannya." Ucapku dan pergi tanpa menunggunya berbicara.
"Aku akan menjemputmu jika kau butuh tumpangan besok!" Teriaknya.
"Tidak, aku bisa pergi sendiri dan jangan menjemputku!" Balasku.
Ah gila! Hari ini benar-benar gila! Ledakan di dalam rumah sakit dan aku harus pulang bersama pria menyebalkan itu.
Belum sempat menekan tombol password di pintu, pintu itu sudah terbuka dan sebuah pelukan mendarat ke arahku.
"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Ucap Sasuke, dia memelukku dengan sangat erat.
"A-aku baik-baik saja." Ucapku, aku sangat terkejut, tiba-tiba saja Sasuke keluar dan memelukku. "Sebaiknya kita masuk." Tambahku, aku tidak ingin ada yang melihat kita berpelukan seperti ini.
Bahkan genggaman tangannya tak lepas dari tanganku, Sasuke memintaku duduk dan dia membawakan secangkir teh herbal untukku.
"Minumlah, aku yakin kau sangat syok." Ucapnya, tapi teh itu tidak membuatku begitu tertarik, aku penasaran akan apa yang Sasuke lakukan.
"Katakan padaku, apa kau benar datang ke rumah sakit?" Tanyaku dan menatapnya serius.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Kenapa menghubungiku dan berbohong?"
"Aku punya firasat buruk."
"Sungguh? Kau ini seperti seorang peramal saja, bagaimana kau tahu akan ada ledakan di dekat area ruanganku?"
"Hanya perasaan saja." Ucapnya dan terdengar asal-asalan.
Saat itu, jika bukan karena Sasuke memaksaku keluar, aku mungkin sudah menjadi korban dalam ledakan itu.
"Hari ini aku cukup beruntung, aku berterima kasih padamu dan ucapan paksaanmu."
Aku masih mengingat saat dia berteriak aku tidak boleh kembali ke dalam rumah sakit.
"Aku hanya ingin melindungimu." Ucapnya.
Aku jadi tersentuh akan ucapan Sasuke, selain ucapan peduli, dia mengatakan ingin melindungiku.
"Oh ya, apa kau tahu, pemuda yang terdapat di video yang aku perlihatkan saat itu, dia datang dan meminta maaf padaku, dia hanya keliru mengenali orang dan tidak lama setelah dia pergi, kau menghubungiku untuk keluar, apa ini bukan sebuah kemungkinan yang sangat kebetulan? Aku masih penasaran akan pemuda itu, kira-kira umurnya sama denganmu, dia masih terlihat cukup muda." Ucapku.
Sasuke tidak menanggapinya, aku yakin dia memikirkan aku ini konyol, menghubungkan sesuatu yang tidak penting.
"Aku yakin jika dia dan ledakan itu tidak ada hubungannya, dia bahkan repot-repot datang meminta maaf." Ucap Sasuke.
Aku juga berpikiran seperti itu, ini hanya kebetulan saja, lalu aku lupa menanyakan nama pemuda itu.
"Aahk! Aku lupa tanya namanya!" Ucapku, seharusnya aku bertanya namanya dulu sebelum dia pergi.
"Lupakan saja orang seperti itu, lagi pula dia tidak akan mengikutimu lagi." Ucap Sasuke dan seakan dia yakin akan hal ini.
Menatap Sasuke, dia terlihat sedikit tidak tenang, Sasuke terlihat gelisah, memangnya ada apa dengan pemuda berambut ungu pudar itu? Aku hanya penasaran saja, dia datang begitu saja dan meminta maaf, ini semakin aneh.
.
.
.
.
.
Normal Pov.
Esok paginya, Sakura telah bersiap, dia mengingat jika mobilnya masih berada di parkiran rumah sakit, Sakura hanya akan membawa kunci mobil cadangannya dan berharap reruntuhan itu telah di angkat, dia yakin jika tas di dalam loker mungkin masih bisa selamat.
"Kau akan pergi?" Ucap Sasuke, tiba-tiba saja keluar dari kamarnya.
"Ah iya, aku akan pergi, aku menaruh sarapanmu di meja seperti biasa." Ucap Sakura, dia tengah memakai sepatunya.
"Aku akan mengantarmu sampai ke bawah."
"Tidak usah, untuk apa mengantarku?" Ucap Sakura dan menatap bingung ke arah Sasuke, hari ini Sasuke tidak seperti biasanya.
"Hanya mengantarmu, apa itu tidak boleh?"
"Kau akan repot, sebaiknya kau sarapan."
"Aku akan sarapan setelah mengantarmu, aku akan tetap mengantarmu." Ucap Sasuke dan melotot marah padanya
"Ada apa dengannya? Hari ini tiba-tiba menjadi aneh." Pikir Sakura.
"Baik, tidak perlu menatapku seperti itu, tapi setidaknya kau harus merapikan rambutmu, apa kau baru bangun dan bergegas keluar kamar?" Ucap Sakura, dia mengalah untuk bertengkar dengan Sasuke, pemuda itu terlihat berantakan pada rambutnya, meminta Sasuke sedikit menundukkan kepalanya, dia terlalu tinggi untuk Sakura, kedua tangan wanita itu mulai merapikan rambut Sasuke, sejenak membuat Sakura berhenti dan menatap wajah yang menurutnya akan menarik banyak perhatian wanita.
"Ada apa?" Ucap Sasuke.
"Ti-tidak ada." Panik Sakura, wajahnya merona dan segera menjauhkan tangannya.
Mereka akhirnya turun bersama, Sasuke tetap tenang selama lift ini turun, saat pintunya terbuka, Sasuke masih mengikuti Sakura hingga keluar.
"Aku pikir kau tidak suka untuk keluar dan menjadi pusat perhatian." Sindir Sakura.
"Aku hanya akan menemanimu sampai depan gendung apartemen." Ucap Sasuke, santai.
Keluar dari gedung apartemen, Sakura seperti melihat dokter Sai dan mobilnya yang terparkir, belum sempat mengucapkan apa-apa saat dokter Sai melihatnya, sebuah tarikan membuat Sakura berbalik dan saat ini dia hanya menatap dada Sasuke.
"Ada sesuatu di rambutmu, jangan bergerak." Ucap Sasuke.
"A-apa?" Ucap Sakura bingung, ingin menyentuh rambut namun Sasuke segera menahan tangannya.
"Jangan bergerak, apa kau tidak bisa tenang?" Tegur Sasuke.
Sakura menjadi tenang, membiarkan pemuda itu mengambil apa yang di katakannya, namun posisinya membuat wanita ini merasa tidak nyaman, tubuh Sasuke terlalu dekat dengannya, hampir ingin memeluk, siapapa saja yang melihatnya akan salah paham.
Sementara itu Sai melihatnya, melihat pria nan tinggi itu, dia membuat Sakura berbalik hingga hanya punggung wanita itu saja yang di lihatnya, pria itu bahkan memeluk Sakura di hadapannya, semua itu hanya dari posisi pandangan Sai, tatapan pria itu mengarah padanya, sorot mata yang tajam, seakan ingin mengatakan jika Sakura hanya miliknya, Sai merasa tidak senang akan tatapan itu, turun dari mobilnya namun pemuda itu telah pergi dan saat ini Sakura menatap marah padanya.
.
.
TBC
.
.
update...~
yah, masih simpang siur emang, tapi tujuan Sasuke jelas, dia harus membunuh Sakura demi tujuan seluruh anak-anak yang pernah berada di lab itu, hal itu akan menjadi sesuatu yang harus di hadapi Sasuke, lalu bagaimana dengan pemuda yang berkode Ten(10) perannya masih simpang siur juga, disini dia bisa jadi siapa pun teman atau sebaliknya, musuh. semuanya bakalan terhubung dan seseorang yang mengirim makanan dan bom adalah orang yang sama, tapi siapa kah dia?
akhir-akhir ini, author tidak terlalu sibuk, tidak terlalu banyak pekerjaan juga jadi updaternya lancar, =w= semoga lancar terus biar para reader nggak nunggu lama, hehehe.
See you next chapter!
