Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 11 ~

.

.

.

"Kami ingin tahu apa yang kau lakukan di rumah sakit Konoha pada tanggal XX beberapa hari yang lalu?" Ucap Kakashi.

"Apa kalian semacam polisi?" Tanya Suigetsu, dia tidak merasa ada yang mengetahui apa yang di lakukannya selama ini.

"Tidak, kami hanya detektif biasa." Ucap Yamato.

"Uhm… saat itu aku datang ke ruangan dokter yang bernama dokter Sakura dan meminta maaf, aku keliru mengenalinya, dia pikir aku sengaja mengikutinya dengan alasan yang jahat." Ucap Suigetsu.

"Kau mencari seseorang di kota ini?" Tanya Yamato, merasa jika pemuda ini sangat tenang, dia bahkan begitu santai menjawab pertanyannya.

"Iya, aku mencari temanku."

"Mungkin kami bisa membantu." Tawar Kakashi.

"Tidak perlu, aku sudah menemukannya, dan juga aku hampir terkena ledakan di sana, kalian pasti mendengar berita itu kan? Aku berada di halaman parkiran rumah sakit Konoha."

"Apa kau bisa ikut kami?" Ucap Kakashi.

"Maaf, aku tidak bisa ikut kalian, aku punya kesibukan, lagi pula aku tidak tahu kalian ingin menanyakan apa, kalian bisa mengatakannya sekarang atau kalian punya rencana jahat untukku, kalian tahu aku masih di bawah umur." Ucap Suigetsu dan tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu beritahu namamu pada kami." Ucap Yamato, mereka pun tidak bisa seenaknya membawa seseorang, apalagi pemuda di hadapan mereka masih di kategorikan anak di bawah umur.

"Tentu, namaku Suigetsu."

"Tempat tinggal?" Tanya Yamato.

"Apa harus mengatakanya juga? Aku rasa itu adalah hal privasi, lagi pula aku tidak ingin mendapat teror juga, kalian tidak bisa di percaya." Ucap Suigetsu dan tetap dengan tatapan yang sangat tenang.

"Maaf jika membuatmu merasa tidak nyaman, hanya saja waktu ledakan dan kau pergi dari ruangan dokter Sakura begitu tepat."

"Kalian mencurigaiku? Ya aku rasa seperti itu, apalagi aku keluar dan terjadi ledakan. Aku saja tidak tahu kenapa ada ledakan disana, tapi saat aku keluar, aku melihat seseorang memberi bunga pada seorang cleaning servis dan dia menyebutkan atas nama Dokter Haruno Sakura, vas berbentuk bola kristal dengan bunga Hostersia, bunga yang cantik dan berwarna pink." Ucap Suigetsu.

"Kau tahu itu?" Ucap Kakashi, ucapan pemuda itu sama seperti ucapan Sakura.

"Iya, mereka berbicara saat aku melewati mereka dan yang membawanya adalah seorang pria jasa pengiriman barang."

"Apa ada hal lain yang kau tahu?" Ucap Yamato.

"Mereka dari jasa pengirim XXX, aku bisa tahu dari logo seragam mereka."

"Jika saja ada hal yang perlu kami ketahui, apa kami bisa menghubungimu?"

"Tentu, aku senang bisa membantu penyelidikan kalian, aku bisa memberikan nomer ponselku pada kalian." Ucap Suigetsu

Kedua pria yang cukup tua darinya itu akhirnya pergi, menghela napas, dia tidak tahu jika kedua pria itu malah menemukannya disini, dia harus lebih tenang dan berbicara lebih baik, lagi pula bukan dia yang melakukan pengeboman itu.

Ending Normal Pov.

.

.

.

.

.

Sakura pov.

Akhirnya aku mendapatkan tasku, isi didalamnya utuh kecuali beberapa barang pecah dan tidak bisa aku gunakan lagi, sementara ruanganku di pindahkan dan disatukan dengan ruangan lainnya, aku tidak bisa bekerja dengan ruangan yang hancur itu, beberapa polisi mulai menanyakan beberapa hal padaku, sama seperti pertanyaan dua detektif itu, aku lagi-lagi tidak akan mengatakan hal yang aneh seperti ucapan Sasuke, aku hanya menjadi saksi dan area yang terkena ledakan itu mulai di bersihkan, beberapa orang yang terluka terkena dampak ledakan itu mendapat biaya gratis oleh rumah sakit.

Direktur Tsunade sampai meminta beberapa kesatuan khusus untuk mengusut kasus ini, aku juga merasa sedikit khawatir, ada yang ingin membunuhmu, bahkan dengan cara yang tidak di sadari, apa mengirim makanan itu hanya pengalihan? Setelahnya mengirim barang yang berbahaya.

Tepat jam 10 malam dan baru saja pulang ke apartemen, aku bisa mendengar suara tv yang tengah menyala, namun ruangan itu kosong, dimana Sasuke? Aku pikir dia tengah nonton.

"Sasuke?" Panggilku.

Tidak ada jawaban, mencoba mencarinya di kamar, mematung sejenak, kamar Sasuke sedikit terbuka, apa dia lupa mengunci kamarnya? Aku sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam, jika benar dia masih menyimpan majalah itu, aku yang akan mengambilnya dan membakarnya.

Berjalan perlahan hingga hampir menggapai gagang pintu kamar Sasuke, aku harus tahu apa saja yang di simpannya di dalam.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Huaaa..!

Berbalik dan menatap Sasuke, dia benar-benar mengejutkanku.

"Da-dari mana saja kau? Kenapa tida-tiba muncul seperti hantu!" Panikku.

"Aku ada di kamar mandi." Ucapnya santai.

"Ba-baiklah, aku akan ke kamarku." Ucapku dan tidak jadi melakukan hal tadi, aku ingin membuka kamarnya.

Tapi tetap saja, aku sangat penasaran, kembali menggapai pintu kamar Sasuke dan berusaha membuka pintunya itu.

Bam!

A-aduuh..~

Berjongkok di hadapan pintu kamar Sasuke, apa yang terjadi? Pintu kamar Sasuke tertutup sendiri? Jidatku terbentur cukup keras.

"Apa yang terjadi dengan pintu kamarmu? Apa ada orang lain di dalam! Kau menyimpan seseorang di dalam!" Kesalku, berdiri dan menatap marah padanya.

"Kapan aku membawa seseorang di apartemenmu? Lagi pula itu adalah sensor otomatis, aku sendiri yang merakitnya dan memasangnya di pintu, tidak ada yang bisa masuk ke kamarku." Ucapnya.

"Kau mengubah pintu apartemenku sesuka hatimu? Seharusnya kau mendiskusikan hal ini denganku terlebih dahulu."

"Aku sudah membeli kamar ini, mau aku lakukan apapun, itu adalah hakku." Ucapnya.

Dia benar-benar keras kepala, sekarang dia membuat kamar ini 100% menjadi miliknya, bagaimana dia bisa merancang hal secanggih itu? Aku cukup takjub akan kejeniusan anak ini.

Sasuke berjalan mendekat, terlalu dekat hingga aku sampai bersandar pada pintu kamarnya.

"A-ada apa?" Ucapku gugup, Sasuke tidak menjawab apapun dan tangan itu bergerak ke arahku, apa yang akan di lakukannya? Ingat Sasuke aku jauh lebih tua darimu! Jaga sikapmu!

"Jidatmu memerah, kau harus mengompresnya." Ucap Sasuke, tangannya yang ramping dan besar itu menyentuh jidatku, sedikit sakit, aku bahkan sedikit pusing setelah terbentur dengan pintu itu.

"A-akan aku lakukan." Ucapku, suasananya kembali tenang, tangan itu masih mengusap perlahan jidatku dan sedikit menyingkirkan poni panjangku, menatap ke arahnya, pemuda tinggi dan wajah yang memang menjadi tipe idaman banyak wanita.

Tatapan kami bertemu dan Sasuke tidak memperlihatkan ekspresi apapun, selalu saja terlihat tenang, seakan tidak ada yang hal perlu di khawatirkannya, aku sendiri, merasa ini sedikit aneh, ada sedikit debaran di dadaku walaupun aku harus sadar akan umur kami yang terpaut jauh dan aku menganggapnya sebagai adik laki-lakiku, mungkin karena akhirnya aku tinggal bersama seorang laki-laki, perasaan yang dulu terbiasa tinggal bersama dokter Sai.

"Aku akan ke kamar." Ucapku, memegang tangan Sasuke dan menjauhkannya dariku.

Ini tidak benar, aku hanya terlalu kepikiran, masuk ke kamar dan menutupnya, berbaring di ranjang empukku, aku hanya lelah dan terbawa perasaan.

Sasuke sangat baik padaku, aku memikirkan jika dia ingin menebus kesalahannya, dia melukaiku, kembali menatap telapak tanganku, luka yang samar-samar, awalnya Sasuke memang terlihat menakutkan, aku hanya takut jika dia punya tujuan lain untuk tinggal disini, tapi sejauh ini, hanya kebaikan yang di perlihatkannya padaku, aku sampai tidak sadar diri akan posisi kami, atau sebaiknya, membuat segalanya menjadi jelas, dengan status baru dan tidak akan menjadi masalah, bahkan untuk orang sekitar, aku mungkin bisa mengangkat Sasuke menjadi adikku secara hukum, aku bisa meminta ayah dan ibu untuk mengajukan permohonan pengangkatan, lagi pula mereka akan menyukai Sasuke, ibu pasti senang memiliki anak laki-laki, dengan begitu Sasuke memiliki status yang jelas untuk tinggal bersamaku.

Apa dia akan menyetujuinya?

Atau dia hanya akan tinggal sementara saja dan setelahnya akan pergi?

Aku sangat berharap jika dia tidak akan pergi lagi.

.

.

.

.

.

Hari ini, detektif Yamato memanggilku ke kantor mereka, tidak biasanya mereka memanggilku seperti ini, biasanya aku yang datang pada mereka.

Mereka mulai membicarakan pemuda yang datang padaku saat itu, pemuda yang bernama Suigetsu, akhirnya aku mengetahui namanya, mereka yang menanyakan nama pemuda itu, katanya dia terlihat tidak mencurigakan, pemuda itu seperti anak laki-laki biasa, berjalan-jalan di kota dan katanya sudah menemukan teman yang di carinya, bagaimana dia bisa keliru mengenali seseorang? Apa dia baru saja datang ke Konoha?

Lalu sesuatu yang membuatku sangat terkejut dan juga penasaran.

"Kau pasti mengenal dia dokter." Ucap Kakashi dan memberikan sebuah foto, wajahnya terlihat jelas, pemuda bernama Suigetsu itu tengah berbicara dengan Sasuke. "Aku pikir ini sedikit aneh ketika pemuda yang keliru mengenalimu, tapi dia berbicara dengan sangat akrab dengan keponakanmu." Lanjutnya.

"A-aku juga tidak tahu, bahkan saat aku menanyakannya pada Sasuke, dia tidak mengenali pemuda itu." Ucapku.

Apa Sasuke berbohong? Kenapa dia berbohong padaku? Foto ini tidak mungkin berbohong, lagi pula kedua detektif ini berada di pihakku.

"Kami belum punya banyak bukti jadi kami tidak bisa menyimpulkan apapun, tapi yang pasti mereka saling mengenal, kami harap mereka tidak punya rencana untuk menyakitimu dokter, apa keponakanmu ini memiliki latar belakang yang sedikit menyimpang?" Ucap Yamato.

Menatap mereka, aku tidak mungkin mengatakan segalanya, lagi-lagi aku terhalangi oleh tuntutan dari lab itu, aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, lagi pula bukan tingkah Sasuke yang menyimpang, dia hanya pernah mendapat tes dan latihan yang cukup berbahaya, anak kecil berumur 5 tahun sudah belajar menembak? Itu hal yang tidak wajar.

"Tidak, keponkanku anak yang baik-baik, dia tidak pernah punya masalah, aku curiga jika pemuda ini yang malah memiliki rencana buruk untuk Sasuke." Ucapku, hanya itu yang bisa aku katakan saat ini.

"Kami mengerti, setelahnya kami akan menyelidikinya lagi, terima kasih atas waktumu dokter." Ucap Yamato.

.

.

TBC

.

.


update...~