Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 12 ~
.
.
.
Normal Pov.
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh? Dokter Sakura menyembunyikan sesuatu." Ucap Kakashi pada Yamato.
"Sesuatu menghalanginya untuk berbicara lebih jujur." Ucap Yamato, dia pun merasakannya, pengalaman mereka selama ini tidak bisa di pandang sebelah mata saja.
Keduanya masih sibuk berada di gedung kantor sederhana milik mereka, mereka cukup lama berteman saat masih SMA hingga masuk ke jurusan hukum, Yamato dan Kakashi bukan hanya detektif swasta biasa, mereka sempat mengikuti pelatihan dan mendaftarkan diri sebagai kesatuan khusus anggota kepolisian, selama ini mereka menutupi identitas asli mereka dengan menjadi detektif, pekerjaan sampingan mereka ini pun tidak pernah di jalankan dengan asal-asalan, sudah cukup banyak kasus yang di tangani mereka, dari masalah yang rumit hingga yang sederhana, seperti peliharaan yang kabur dari rumah majikannya.
Saat ini Kakashi tengah menatap lembaran informasi yang telah di dapatnya, di sana tercantum data diri dokter Sakura.
"Wanita yang cukup hebat, dia mendapat gelarnya di umur yang masih sangat muda, sempat bergabung dengan penelitian prof. Orochimaru dan bekerja di rumah sakit Konoha hingga sekarang. Apa kau masih mengingat profesor itu?" Tanya Kakashi.
"Ya, profesor yang memiliki pengaruh cukup besar, namun anehnya dia tiba-tiba menghilang setelah kejadian ledakan di laboratorium miliknya di pulau Kiri." Ucap Yamato.
"Di sana pun begitu tertutup, tidak banyak data yang bisa kita dapat dari sana, bahkan di kantor pun seperti tengah di tutupi, aku sangat penasaran akan penelitian yang di lakukannya di sana, sangat-sangat tertutup, di berita hanya di jelaskan jika itu penelitian biasa yang di lakukan prof. Orochimaru."
Yamato mengingat kejadian yang di beritakan itu, mereka bahkan baru saja mengetahui adanya lab di pulau Kiri dari pemberitaan yang ada, lalu keadaannya pun simpang-siur, dari pihak staf tidak berkomentar banyak dan kasus ini tidak usut, mereka sudah menganggapnya selesai, menganggap ini kesalahan prosedur dari pekerja.
"Dan pemuda yang di katakan dokter Sakura, aku sudah menelusuri keluarga dokter Sakura, hampir tidak ada yang terlihat mirip dengan pemuda ini." Ucap Kakashi.
"Pemuda bernama Suigetsu dan yang bernama Sasuke ini terlihat cukup dekat, apa pemuda yang di katakan sebagai keponakannya itu mengancam dokter Sakura untuk tidak membicarakan segalanya?" Ucap Yamato, sedikit menyimpulkan apa yang terjadi.
"Dokter Sakura wanita yang jenius, dia pasti memiliki banyak cara untuk menceritakan apapun jika di ancam, namun mimik wajahnya tidak menandakan dia ketakutan setiap menyebutkan nama pemuda itu, ada hal lain yang di tutupi dokter Sakura."
"Sekarang bagaimana jika mencari data diri kedua pemuda ini, mereka pasti memiliki sesuatu yang bahkan dokter Sakura tidak ketahui, bisa saja orang yang mengirim makanan dan bom salah satu dari mereka, pengirim ini tahu bagaimana sikap dan kebiasaan dokter Sakura."
"Jika kau mengatakan orang yang dekat, kita harus mencari juga informasi tentang mantan suaminya dan wanita yang pernah bersama mantan suaminya, sepertinya hubungan mereka tidak begitu baik."
"Pria yang payah, bagaimana dia bisa bersama wanita lain jika dokter Sakura adalah wanita yang hebat?" Ucap Yamato.
"Apa? Kau tertarik dengan dokter Sakura?" Canda Kakashi.
"Diam kau, bagaimana aku bisa tertarik padanya? Dia bukan tipeku, aku tidak suka wanita yang jenius."
"Lalu tipemu seperti apa? Kau harus segera menikah, kau sudah tidak muda lagi, kepala 4 adalah tanda bahaya untukmu." Sindir Kakashi.
"Aku tidak perlu nasehat dari pria yang terus di tinggal istrinya, bagaimana kau bisa bersama wanita yang jauh lebih senang berkeliaran diluar dengan para lelaki lain? Mereka bahkan kesatuan yang selalu berada di area yang setiap harinya seperti medan peran."
"Jangan membuat kalimatmu terdengar aneh, dia bersama para pria kesatuan khusus juga, dan dia adalah tipeku." Ucap Kakashi dan tersenyum malu.
"Wanita kuat, berapa kali kau sering kalah darinya? Pangkatnya bahkan jauh lebih tinggi darimu."
"Aku membiarkannya melakukan pekerjaannya dengan baik, jika suatu saat dia berkomitmen denganku, aku harap dia berada di rumah saja dari pada selalu ikut mengintai di luar."
"Silahkan bermimpi, aku rasa tidak ada wajah bosan darinya setiap dia pulang dari garis pertahanan, wajahnya bahkan terlihat segar dan seperti bersemangat kembali mengintai."
"Ya-ya, apa kau sedang balik membalasku? Sekarang kita fokus ke pekerjaan. Bagaimana jika semua ini ada hubungannya dengan prof. Orochimaru? Aku rasa kita juga perlu mencari informasi tentang lab itu, dokter Sakura adalah saksi yang terbaik. Apa dia akan berbicara tentang lab itu?"
"Coba saja kita tanyakan lain hari."
Keduanya kembali sibuk mencari informasi apapun, mereka mencurigai kedua pemuda itu, meskipun Sakura tidak pernah menyangkutkan pemuda yang di anggap keponakannya itu, Kakashi dan Yamato merasa ada yang aneh darinya, lain halnya pun tentang prof, Orochimaru dan juga laboratoriumnya.
Sementara itu.
Sasuke akhirnya menemukan apa yang di lakukan Sakura selama ini, dia menemukan Sakura masuk ke sebuah gedung yang bertuliskan detektif swasta, Sasuke berhasil mengikutinya melalui CCTV yang terpasang di beberapa area dan menjadi tempat yang di lewati oleh Sakura.
Tatapannya terlihat sangat tenang, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi jika Sakura datang di tempat seperti itu, Sasuke harus tahu apa yang di lakukan Sakura di sana, wanita itu akan ketahuan jika sedang berbohong.
Ending Normal Pov.
.
.
.
.
.
Sakura Pov.
Jadwal untuk pemeriksaan sudah selesai, aku tidak ada jadwal operasi dan hanya membaringkan kepalaku di meja kerjaku, tiba-tiba saja masalah datang silir berganti, aku tidak tahu masa-masa kebahagian hanya sementara saja, setelahnya hanya ada masalah yang datang, masa pernikahan yang indah, namun rumah tanggaku yang hancur begitu saja, lalu aku ingin mencoba mengangkat Sasuke sebagai keluarga, tiba-tiba aku mendapat informasi jika dia dan pemuda yang bernama Suigetsu itu terlihat bersama, aku masih mencurigai pemuda itu.
Kenapa mereka bisa saling mengenal dan Sasuke berbohong? Ada banyak opsi jika mereka bertemu, mereka saling mengenal, atau Sasuke seperti mencoba melindungiku, aku sudah menceritakan padanya jika kami bertemu, tapi bagaimana mereka bisa bertemu secara kebetulan? Tidak mungkin Sasuke akan pakai alasan karena dia ingin melindungiku dan memberi peringatan pada pemuda itu, mungkin saja, dia selalu melakukan apapun seenaknya.
Aku sampai pusing memikirkan segalanya, awalnya aku sudah senang dengan membuat status Sasuke jelas, dia akan menjadi bagian dari keluargaku, tapi aku harus menanyakan banyak hal tentangnya terlebih dahulu, aku tidak ingin dia terus berbohong dan menutupi segalanya.
Merapikan meja kerjaku dan bergegas pulang, aku harus berbicara dengan Sasuke sekarang, dia harus mengatakan segalanya.
Setelah tiba di apartemen, suasana apartemen akan selalu sepi, meskipun Sasuke berada di apartemen, dia tetap saja berada di kamarnya, tapi saat ini dia berada di ruang tamu, duduk tenang seperti tengah menungguku.
"Aku ingin bicara denganmu." Ucap Sasuke, aku tidak suka saat dia menatapku seperti itu, seperti saat pertama kali kami bertemu lagi setelah bertahun tahun lamanya.
"Aku juga ingin bicara denganmu dan kali ini aku harap kau jujur padaku." Tegasku, aku tidak akan takut padanya, meskipun aku sedikit kurang yakin, aku masih berharap jika dia tidak menyerangku lagi seperti dulu.
"Bicaralah." Ucapnya.
"Tidak, kau dulu yang berbicara." Ucapku, aku juga penasaran apa yang ingin di katakan Sasuke padaku.
"Aku rasa apa yang akan kau katakan jauh lebih penting."
"Aku bisa menunggu, kau bicara saja."
"Baiklah, aku tidak jadi berbicara." Ucapnya dan beranjak dari sofa.
Ada apa dengannya?
"Tunggu, baik, akan aku katakan." Ucapku, aku sampai menarik lengannya dan memintanya kembali duduk, aku juga harus duduk, tapi belum sempat menempati sofa yang berhadapan dengan kami, Sasuke segera menarikku hingga duduk di sebelahnya.
"Kau tidak perlu duduk begitu jauh, jadi katakan sekarang." Ucapnya.
Menatap Sasuke, apa aku langsung menanyakan tentang pertemuannya dengan pemuda bernama Suigetsu itu? Atau aku harus mengatakan bagaimana jika Sasuke menjadi bagian dari keluargaku? Aku ingin mengatakan hal yang baik dulu sebelum mengatakan hal yang buruk, aku jauh lebih tidak sabar mendengar tanggapannya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke, dia ingin aku segera berbicara.
Baiklah, aku harus tetap tenang, mungkin aku bisa mengatakan padanya lain waktu, saat ini aku ingin dia menyetujui niatku ini.
"Aku akan mengangkatmu sebagai adikku, aku akan meminta tolong pada kedua orang tua, aku yakin mereka akan senang jika memiliki anak laki-laki." Ucapku, sebaiknya mengatakan tentang ini terlebih dahulu.
Sasuke tidak berbicara, dia bahkan terdiam dan hanya menatapku.
Ada apa?
Katakan sesuatu?
Aku jadi sulit menatapnya lebih lama.
"Bagaimana? Aku hanya ingin ada status jelas saat kita tinggal bersama." Ucapku. Sejak pertemuan pertama kami di lab saat itu, aku terus membayangkan jika dia adalah adik laki-lakiku, kami pasti akan melakukan banyak hal menyenangkan bersama, aku bisa mewujudkan keinginanku itu sekarang.
"Kenapa aku harus menjadi adikmu?" Ucapnya.
Bukan ucapan itu yang ingin aku dengar, aku ingin dia setuju.
"Kenapa? A-aku suka padamu, aku ingin menjadi kakak bagimu, kita bisa menjadi keluarga." Ucapku.
"Alasan yang konyol, aku tidak ingin menjadi adikmu." Ucapnya dan membuang mukanya.
"Kenapa?"
"Kau sangat cerewet dan menyebalkan, tidak akan ada yang mau menjadi adikmu." Ucapnya, seperti sebuah ejekan untukku.
"A-apa maksudmu! Aku berniat baik padamu, kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" Ucapku dan kenapa aku merasa sangat malu? Ini bukan hal yang buruk, ini adalah kebaikan, aku bisa membuat Sasuke tetap tinggal bersamaku sebagai adikku, dia akan mendapat kehidupan yang normalnya dan status yang jelas.
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai kakak bagiku, sejak dulu, sejak pertemuan pertama kita." Ucap Sasuke.
Sejenak ucapannya membuatku bingung dan mencoba mencerna ucapannya itu, sejak awal dia tidak menganggapku kakak, lalu apa?
"Apa kau benci padaku? Atau saat itu kau pura-pura terlihat manis di hadapanku, aku memang anak tunggal, makanya aku tidak tahu bagaimana rasanya punya adik, aku rasa itu memang hal yang mustahil." Ucapku, dia mematahkan semangatku begitu saja.
Lagi-lagi Sasuke terdiam, jika dia ingin mengejekku, silahkan, aku tahu di pikirannya hanya perlu mengejekku dan tidak perlu mendengarkan keinginanku ini.
Terkejut,
Sebuah pelukan erat dari Sasuke, aku sampai sulit melepaskannya.
"Sampai kapan kau akan menatapku seperti anak kecil? Sekarang aku sudah menjadi pria dewasa." Ucapnya.
"P-pria apa? Kau masih 17 tahun! Kau belum menjadi pria dewasa!" Ucapku, panik.
Pelukannya terlepas, aku jadi bisa melihat sorot matanya itu.
"Apa perlu aku buktikan jika aku telah dewasa?" Ucap Sasuke.
"Buktikan apa? Apa yang terjadi padamu? Kau sangat aneh, kita sedang membahas menjadi keluarga, bukan membuktikan kedewasaanmu! Ini pasti pengaruh dari majalah yang kau baca, aku sudah memperingatkanmu untuk membuangnya!" Marahku.
"Dengan sikap seperti ini kau menjadi seorang kakak?" Sindirnya.
"Sebagai seorang kakak aku perlu menegur adikku." Protesku lagi.
"Bagaimana jika seseorang yang kau anggap adik ini menyukaimu? Menyukaimu sebagai lawan sejenis, bukan sebagai saudara, maka dari itu mulai sekarang lihatlah aku sebagai pria dewasa, bukan lagi anak kecil yang kau jaga saat itu." Ucap Sasuke.
Eh?
Suka?
Sebagai lawan jenis?
APAAAAAA!
.
.
TBC
.
.
updateee...~
