Flower on the Sand

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : T semi M

WARNING!

Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi harap maklum atas segala kesalahan yang mungkin terjadi. Hehehe.

Cast : Sabaku no Gaara x Yamanaka Ino

SUM:

Rombongan Konoha yang akan menghadiri pernikahan Shikamaru dan Temari dibuat tercengang oleh perlakuan khusus yang di berikan Kazekage pada Yamanaka Ino. Ada apa diantara mereka? Sejak kapan dua orang dengan sikap bertolak belakang itu, bisa menjadi begitu "dekat" ? Sequel of Fireflies.

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Ino terbangun dari istirahat sorenya. Menguap sebentar dan kemudian meregangkan badannya. Kunoichi bersurai pirang itu kemudian berjalan menuju jendela. Senja sudah mewarnai langit Suna dan Ino tidak tahu kalau senja di Suna bisa seindah ini. Langitnya dihiasi perpaduan warna jingga dan hitam yang membuat pemandangan didepannya kini tampak sangat eksotis. Ia belum pernah melihat ini di Konoha sebelumnya. Dan tidak seperti siang hari yang panas menyengat, senja hari si Suna terasa hangat. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya mengagumi karya alam yang luar biasa itu. Atensinya kemudian menangkap sebuah gedung tak jauh dari sana. Gedung dengan lambang Kazekage itu tampak dekat dari tempatnya berdiri kini.

"Ternyata gedung kage memang sedekat ini ya." Ino berguman.

"Apa Gaara sedang berada disana?" gumamnya lagi. Tiba-tiba ia sadar dengan apa yang baru saja bibirnya gumamkan. Bodoh sekali. Tentu saja Gaara disana. Dia kan Kazekage. Kejadian siang tadi kembali terngiang di benaknya. Ia baru saja memberikan ranselnya pada salah seorang ninja yang menyambut mereka ketika Gaara tiba-tiba muncul di depannya dan memeluknya dengan erat. Sangat erat. Ia bahkan masih ingat dengan wangi tubuh Gaara yang entahlah, seperti perpaduan akar wangi dan kayu manis. Yang pasti Ino menyukai wangi itu. Anehnya, Gaara tidak mengatakan apa-apa. Setelah memeluknya, ia seperti mengarahkan para ninja terkait rombongan. Ino sendiri tidak mendengar penjelasan Gaara akibat syok yang di rasa. Yang ia ingat, ia sudah di seret oleh Tenten untuk berjalan menuju penginapan.

Tok tok!

"Sebentar!"

Ino berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Shouta berdiri disana dengan sebuah kotak bertutup yang cukup besar.

"Boleh saya masuk?" Shouta mengedikkan kepalanya pada kotak di tangannya. Ino tidak menjawab, namun ia mundur untuk memberi jalan pada pemuda di depannya itu. Ninja berambut coklat itu masuk dan meletakkan kotak itu di atas ranjang, kemudian kembali ke posisinya semula yaitu di depan pintu.

"Apa itu?" tanya Ino.

"Beberapa baju yang di sediakan oleh Temari-sama. Siang hari mungkin sangat panas, tapi Suna sangat dingin di malam hari. Jadi Temari-sama menyiapkannya untuk semua rombongan Konoha."

"Aa. Terimakasih Shouta-kun."

"Anda boleh bersiap untuk makan malam bersama dengan Kazekage. Saya tunggu di lobi, Ino-san."

Ino mengangguk sambil tersenyum. Sepeninggal Shouta, Ino mulai bersiap. Meskipun sudah mandi menjelang sore tadi, Ino kembali mandi. Kali ini ia mencuci rambutnya karena tadi, ia terlalu lelah untuk mencuci rambutnya sementara rambutnya sudah harus di cuci.

Tidak butuh waktu lama untuk Ino bersiap. Ia sudah selesai berpakaian dan jujur, ia menyukai baju yang di sediakan oleh Temari. Baju itu seperti perpaduan antara dress dan kimono. Bagian atasnya seperti kimono berlengan panjang, sementara bawahnya jatuh seperti dress sampai ke mata kakinya. Ino memutuskan untuk menyebutnya dress. Warnanya ungu pucat dan ia sangat menghargai karena Temari memilih warna kesukaannya. Beberapa baju lain yang Temari berikan juga berwarna ungu meskipun berbeda-beda coraknya.

Ino baru saja mengoleskan minyak wangi di bagian bawah pergelangan tangan dan lehernya ketika pintunya di ketuk. Ino menghela nafas, menyimpulkan kalau Shouta adalah orang yang tidak sabaran. Bukannya pemuda itu tadi bilang kalau ia menunggu di lobi? Padahal Ino masih ingin menunggu rambutnya setidaknya agak mengering.

Ino berjalan menuju pintu dan membukanya. Huh? Sejak kapan Shouta jadi setinggi ini? Oh, wangi ini...

"Kau sudah selesai?" Ino tercekat mendengar suara itu. Saking kagetnya, ia sampai mundur dua langkah.

"Apa aku mengagetkanmu?"

"O-Oh... tidak. Maksudku... sedikit." Ino menampilkan senyum kakunya di hadapan Gaara. Ya, orang yang mengetuk pintu kamar Ino bukanlah Shouta melainkan Gaara sang Kazekage. Pria itu mengenakan jubah dan topi kagenya membuat Gaara terlihat lebih berwibawa dan juga tinggi. Tinggi disini adalah bukan tentang tinggi badan Gaara. Pria itu memang jauh lebih tinggi bila di bandingkan dengannya. Tinggi yang Ino pikirkan saat ini adalah tentang pangkat Gaara. Gaara yang mengenakan topi kagenya seolah menegaskan posisinya yang tinggi. Keduanya diam beberapa saat. Ino tidak nyaman dengan kediaman ini sehingga ia membuka suara.

"Kau tidak masuk?" tanya Ino.

"Aku boleh masuk?" Gaara balik bertanya.

"Tentu saja." Gaara kemudian melangkah masuk dan melihat sekeliling. Ia membuka topi kagenya, memperlihatkan rambut merahnya yang berantakan seperti biasanya.

"Kau nyaman dengan kamarmu?" tanya Gaara.

"Oh iya. Aku jadi teringat sesuatu. Kamar ini nyaman. Sangat nyaman. Tapi apakah tidak lebih baik kalau aku menginap di tempat yang sama dengan teman-temanku?" Ino menjelaskan dan menunggu reaksi Gaara dengan wajah takut-takut.

"Tidak bisa."

"Kenapa? Kami kan sama-sama da—"

"Berbeda. Kalian berbeda." Ino merasakan Gaara semakin mendekat ke arahnya. Tangan pria itu terangkat untuk menyentuh wajahnya. Namun tangan itu turun saat satu senti lagi menyentuh wajah Ino. Gaara seperti terlihat... ragu?

"Tapi hal ini bisa menimbulkan salah paham. Baik dari pihak Suna ataupun rombongan kami."

"Salah paham?" Ingin rasanya Ino menjambak rambut pirangnya, atau ia menjambak rambut merah Gaara saja?. Apakah Gaara benar-benar tidak mengerti?

"Mereka akan mengira kalau aku ada hubungan spesial dengan Kazekage. Sakura dan Tenten sudah menanyaiku macam-macam asal kau tahu. Gosip aneh bisa menyebar dan—"

"Tapi kau memang spesial."

Kenapa wajah ini bergitu cepat bereaksi? Ino berujar dalam hati. Ucapan Gaara sukses membuat wajahnya memerah. Baiklah, sepertinya tidak ada gunanya berdebat dengan Gaara karena sepertinya perlu cara lain untuk bisa membuat Kazekage Suna itu mengerti. Apa Gaara memang selalu se-clueless ini? Ino hanya bisa menghela nafas.

"Apa kita bisa berangkat sekarang?" Gaara bertanya lagi. Sepertinya tidak ingin membahas perihal kamar lagi. Dan Ino pun sepertinya enggan untuk terlibat dengan suasana tidak enak seperti tadi.

"Apa kita masih punya waktu?" tanya Ino.

"Masih ada sebentar lagi. Lagi pula tempat makan malamnya ada di gedung kage yang artinya dekat dari sini. Masih ada yang ingin kau lakukan?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menunggu rambutku sedikit lebih kering. Aku baru mencucinya. Tidak apa-apa kan?" Ino menunjukkan cengirannya. Malu karena harus membuang waktu seorang Kazekage hanya untuk menunggu rambutnya kering.

Gaara berjalan ke arah sofa yang ada disana. Melepaskan jubah dan topi kagenya kemudian meletakkannya disana. Pria itu kemudian berjalan menuju ranjang dan mendudukkan dirinya disana.

"Kemarilah." Ino yang sedang menyisir kembali rambutnya di meja rias dibuat kaget oleh perintah ataupun permintaan Kazekage itu. Namun karena takut –sebenarnya bercampur gugup—, ia berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping Gaara dengan sisir masih di tangannya. Gaara memegang kedua bahunya dan membimbing Ino untuk membelakanginya setelah sebelumnya mengambil alih sisir dari tangan Ino.

"Apa yang—!?" Ino tercekat ketika merasakan ada angin hangat yang bertiup di belakangnya. Lebih tepatnya di rambutnya. Sesekali ia merasakan Gaara menyisir rambutnya bersamaan dengan bertiupnya angin hangat itu. Tidak sampai lima menit, rambut Ino kering sepenuhnya. Gadis itu kemudian berbalik untuk mendapati wajah datar Gaara dengan sisir di tangan kirinya dan sekumpulan angin di tangan kanannya. Hampir mirip dengan rasenggan Naruto namun pola dan alirannya tampak berbeda.

"Gaara kau..."

"Elemen dasarku adalah angin," ujar Gaara seiring dengan hilangnya angin di telapak tangannya.

"Yang tadi itu luar biasa! Rambutku jadi kering dengan cepat." Ino tersenyum lebar karena senang akhirnya rambutnya kering tanpa harus menunggu lama. Gaara sendiri lanjut menyisir rambut Ino. Membawa sebagian surai pirang panjang itu ke depan hingga tersampir ke pundak Ino.

"Rambutmu... cantik." Senyum di wajah Ino menghilang. Berganti menjadi wajah yang memerah akibat malu dengan apa yang baru saja Gaara katakan. Bisa-bisanya pria mengatakan hal yang membuatnya gugup dengan wajah sedatar itu.

"T-terimakasih. Kita bisa berangkat sekarang." Ino mengambil sisir dari tangan Gaara dan meletakkannya ke tempat semula. Gaara sendiri memakai topi kage dan jubahnya. Keduanya keluar dari kamar dan berjalan beriringan menuju pintu keluar penginapan.

"Apa Shouta-kun sudah pergi?" Ino bertanya ketika melihat tidak ada orang di lobi penginapan.

"Shouta-kun?"

"Bukannya kau yang memintanya mengawalku selama disini?"

"Ya. Memang benar, tapi... aku tidak menyangka kalian bisa langsung seakrab itu."

"Maksudmu?"

"Tidak. Jangan dipikirkan."

Keduanya berjalan menuju menyusuri jalanan yang sudah sepi. Hanya ada satu dua restoran yang buka di sepanjang jalan yang gelap itu.

"Bicara tentang Shouta-kun. Apakah maksudnya dia akan mengawalku selama aku di Suna? Maksudku... setiap saat?" Ino membuka percakapan.

"Ya. Kau tidak nyaman dengan itu?"

"Sedikit. Aku tidak biasa ada yang mengikutiku. Lagi pula, aku bisa menjaga diriku sendiri kok. Aku rasa tidak perlu sampai ada yang mengawalku."

"Aku hanya ingin ada yang selalu siap saat kau butuh sesuatu."

"Kalau aku butuh sesuatu, aku bisa mencarinya sendiri. Aku ini sangat mandiri, loh."

"Ino..."

Gaara menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Ino. Ino tahu saat ini ia menghadapi situasi yang sama saat di kamar tadi. Namun ia tetap merasa bahwa apa yang di lakukan Gaara padanya ini sedikit berlebihan.

"Gaara..."

Kazekage Suna itu tercekat saat Ino meraih tangan kanannya dan menggenggamnya dengan kedua tangan mungil gadis itu.

"Kau percaya padaku kan? Aku baik-baik saja. Daripada mengawalku yang sebenarnya tidak perlu dikawal, lebih baik Shouta-kun melakukan misi yang lebih berguna untuk desa ini kan?"

Gaara masih diam di tempatnya. Matanya memandang pada tangannya yang saat ini ada di genggaman Ino. Tangan halus gadis itu mengusap lembut punggung tangannya.

"Baiklah."

"Terimakasih, Gaara." Senyum Ino langsung mengembang. Ia melepaskan tangan Gaara dan kembali berjalan. Gaara memandang tangannya yang kini bebas dari genggaman Ino. Tiba-tiba ada yang terasa kosong dan Gaara tidak mengerti apa itu. Ia memandang pada sosok yang kini sudah berjalan di depannya. Sepertinya ia mulai mengerti kekosongan yang baru saja di rasakannya itu. Kemudian ia mempercepat langkahnya dan meraih tangan gadis itu.

Ino terkejut karena Gaara kini menggenggam tangan kirinya. Keduanya saling bertatapan.

"Boleh aku... memegang tanganmu?"

.

.

.

Meja itu sangat luas dan kini sudah penuh dengan berbagai makanan lezat. Ini ketiga kalinya Shikamaru makan di tempat ini. Ini adalah ruang rapat gedung Kazekage yang terkadang di jadikan ruang jamuan untuk para tamu oleh Gaara. Rombongan Konoha sudah berkumpul di sana. Temari yang duduk di sampingnya tampak bercengkerama dengan ibunya dan Kankurou juga sudah duduk di tempatnya. Tapi tentu saja mereka tidak boleh langsung makan. Selain karena jam makan malam memang belum tiba, orang penting yang mengundang mereka untuk jamuan ini juga belum tiba. Shikamaru memandang pada Sakura dan Tenten yang sedang heboh dengan obrolan mereka. Satu berita cukup mengejutkan ia dengar saat mereka berkumpul untuk berangkat bersama ke gedung Kage.

Yamanaka Ino tidak menginap di tempat yang sama dengan mereka. Dan yang paling mengejutkan lagi adalah Gaara menyediakan penginapan khusus untuk Ino. Shikamaru sudah beberapa kali menerima misi ke Suna dan ia tahu kalau penginapan itu adalah penginapan khusus untuk pada Daimyo dan Kage. Penginapan mewah yang hanya di berikan untuk tamu penting dan sahabatnya itu menginap disana.

Tentu saja aneh. Kejadian saat mereka baru tiba di Suna tadi sudah cukup menggangu pikirannya. Kini otak jeniusnya juga harus menerima berita mengejutkan itu. Ada apa antara Gaara dan Ino? Selain saat ujian chuunin, Ino tidak pernah menerima misi ke Suna. Gaara boleh di katakan sering ke Konoha, namun ia tidak pernah melihat Gaara dan Ino berinteraksi. Kazekage Suna itu selalu berkumpul untuk minum dengannya dan Naruto juga dengan para ninja pria lainnya. Tidak pernah dengan kunoichi manapun apalagi Ino. Karena itu bagaimana mungkin? Otak jeniusnya sudah memikirkan berbagai kemungkinan awal kedekatan Ino dengan Gaara namun ia tidak menemukannya.

"Kazekage sudah tiba!" seru salah seorang ninja Suna yang bertugas menjaga di depan pintu masuk.

'Apalagi ini?' Shikamaru membatin. Ia dan semua orang di ruangan itu kembali dibuat tercengang saat melihat Kazekage datang dengan menggandeng tangan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Ino? Sakura dan Tenten tampak cekikikan dan saling memandang jahil pada Ino. Tiba-tiba ia merasakan ada yang menyentuh pahanya. Pelakunya adalah Temari. Putri Suna itu mendekat seolah ingin berbisik padanya. Shikamaru pun mendekatkan telinganya pada sang kekasih.

"Sejak kapan Ino dan Gaara dekat begitu?"

"Aku kira kau tahu sesuatu." Shikamaru membalas.

"Aku sama sekali tidak tahu. Aku sangat kaget tahu!"

Semuanya berdiri untuk memberikan hormat pada sang Kazekage. Gaara memberi salam sebentar kemudian mempersilahkan para tamunya untuk makan. Semuanya akan dengan lahap. Chouji dan Kiba apalagi. Sesudah makan mereka mulai mengobrol masalah pernikahan Temari yang akan di adakan besok lusa. Sedangkan besok akan dilakukan persiapan untuk menghias aula gedung Kage yang akan di jadikan tempat upacara pernikahan. Ino, Sakura dan Tenten dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu menghias aula gedung. Apalagi Ino yang memang sangat berbakat dalam hal itu.

Setelah acara selesai, para rombongan kembali ke penginapan. Namun tidak dengan Shikamaru dan Temari serta para rekan mereka yang lain. Kankurou mengajak mereka untuk minum sake bersama yang si sambut antusias oleh Kiba dan Chouji. Shino sendiri hanya diam namun tetap mengikuti. Para wanita berkumpul di rumah Temari. Entah acara apa mereka menyebutnya. Namun katanya, mereka akan minum juga disana.

.

.

.

"Ino tolong jelaskan! Ini pertama kalinya aku melihat Gaara bisa sedekat itu dengan seorang gadis. Bagaimana bisa kalian jadi begitu dekat?" Temari langsung mencecar Ino dengan pertanyaannya.

"Mereka bertemu di pesta pernikahanku. Dan katanya mereka mengobrol disana." Sakura menuangkan sake di gelas kemudian meminumnya.

"Benarkah? Jadi kalian dekat sejak saat itu ya? Itu sekitar tiga bulan yang lalu kan?"

Ino hanya bisa mengangguk kaku.

"Aku tidak menyangka adikku bisa semanis itu. Pantas saja dia menolak saat para tetua memintanya untuk memilih satu dari antara putri para Daimyo. Jadi ternyata ia menolaknya gara-gara Ino ya." Temari heboh sendiri.

"Tapi aku senang karena yang Gaara sukai itu adalah kau Ino." Temari meraih tangan Ino dan menggenggamnya. Ia memberikan senyuman manisnya pada Ino. Ino baru sadar kalau putri Suna yang terkenal sadis ini bisa punya senyuman semanis itu. Pantas saja Shikamaru bisa jatuh hati padanya.

"Baik-baik dengan Gaara ya."

.

.

.

Mereka kembali ke penginapan menjelang tengah malam dan berpisah di tengah jalan. Ino mendapati ranselnya kosong dan seluruh pakaiannya berikut yang disediakan Temari sudah tersusun di lemari yang memang sudah tersedia di ruangan itu. Sepertinya petugas penginapan yang melakukannya. Ino kemudian mengambil piyamanya dan hendak membuka pakaiannya.

"Berhenti!"

"Kyaa! Gaara apa yang kau lakukan disini?" Ino bersorak kaget.

"Kenapa kau tidak berganti di kamar mandi?" Baru kali ini Ino mendengar Gaara berbicara dengan nada panik seperti itu.

"Sejak kapan kau disana?" Ino tidak tahu sejak kapan Gaara duduk di sofanya.

"Sejak tadi." Gaara sepertinya mulai tenang.

"Bagaimana kau bisa masuk?" Ino melipat tangannya.

"Aku Kazekage."

"Jadi Kazekage bisa masuk seenaknya ke kamar seorang gadis?"

"Kau mempersilahkan aku masuk."

"Oh ya? Kapan?"

"Tadi. Saat aku menjemputmu."

"Ya Tuhan. Gaara, itu tadi dan ini sekarang. Itu berbeda."

"Jadi harus minta izin setiap saat?"

"Tentu saja."

"Jadi... boleh aku masuk?"

"Kau sudah masuk."

"Apa aku harus keluar lagi?"

Ino menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tidak peduli dengan piyama yang sudah jatuh ke lantai. Dan Ino tertawa. Terbahak-bahak sampai air matanya hampir jatuh.

"Gaara. Apa kau selalu selucu ini?"

"Aku lucu?"

"Ya. Sangat lucu."

"Tapi aku bukan lelucon."

Oke sepertinya Ino salah. Gaara terlihat tidak suka. Antara karena ia tertawa atau karena ia mengatakan kalau pria itu lucu. Gaara tampak marah. Dan jujur Ino menyesal. Seharusnya ia tahu dengan siapa ia berbicara. Ini adalah Gaara. Kazekage yang sangat di hormati. Orang yang selalu serius dengan ucapannya dan menganggap serius ucapan orang lain.

"Umm... Maksudku buk—"

"Aku pergi dulu."

Ino tidak tahu sejak kapan Gaara bisa teleportasi. Atau memang Gaara sudah menguasainya sejak dulu? Tapi yang pasti pria itu sudah menghilang. Benar-benar menghilang. Dan itu membuat Ino merasa bersalah. Ino menghela nafas. Ia harus minta maaf.

.

.

.

Aula gedung Kage kini sudah ramai oleh orang-orang yang bertugas untuk menghiasnya secantik mungkin. Ino, Sakura dan Tenten pun ikut andil dalam tugas ini. Beberapa ninja tampak mengatur kursi dan meja sedemikan rupa. Ino di minta secara khusus oleh Temari untuk mengatur semuanya sesuai keinginannya. Temari percaya karena ia sudah melihat hasil karya Ino di pernikahan Naruto dan juga Sasuke. Ino memang berbakat di bidang itu. Untuk itulah Temari juga meminta para petugas untuk menurut pada apapun yang Ino perintahkan.

"Ino-san, apakah sudah sesuai?" tanya seorang pria pada Ino.

"Letak meja dan kursinya sudah sangat bagus. Tapi bisakah kalian agak mengesernya sedikit. Jalan untuk pengantin harus lebih lebar sedikit lagi. Sedikit saja."

"Baik, Ino-san."

Ino melanjutkan kegiatannya untuk membuat bunga dari kertas bersama para gadis-gadis Suna. Cuaca di Suna tidak memungkinkan bagi mereka menggunakan bunga hidup sehingga Ino memilih membuat bunga dari kertas warna-warni. Selain itu kain panjang warna warni juga akan menambah hiasannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat mereka benar-benar selesai.

"Untung ada Ino-san. Sebelumnya kami benar-benar tidak tahu bagaimana menghias dengan benar. Terimakasih Ino-san."

"Benar! Terimakasih karena Ino-san juga mengajarkan kami cara membuat bunga dari kertas. Kami kira karena panas di Suna kami tidak akan bisa memakai bunga sebagai hiasan. Ternyata ada alternatif lain."

Para orang-orang yang tadi menghias bunga tampak senang dan berterimakasih pada Ino. Sakura dan Tenten tampak bangga karenanya.

"Tentu saja. Teman kami ini sangat ahli dalam hal seperti ini." Tenten merangkul Ino diikuti oleh Sakura.

"Teman-teman. Ini cantik sekali!"

Temari muncul bersama Shikamaru. Ia terpukau dengan aula yang sebelumnya kosong tanpa hiasan kini menjadi sangat cantik.

"Semua karena Ino-san, Temari-sama."

"Ino, terimakasih." Temari langsung memeluk Ino dengan erat. Ino dapat merasakan kalau ninja dengan senjata kipas raksasa itu menangis karena terharu.

"Hei. Jangan menangis. Besok adalah hari bahagiamu. Tentu saja aku harus memberikan yang terbaik." Ino kemudian beralih pada semua orang yang tadi bekerja bersamanya.

"Kalau tidak ada kalian, semua ideku juga tidak ada gunanya. Ini semua hasil kerja keras kita. Kita semua. Terimakasih karena sudah bekerja sama denganku. Ayo tepuk tangan untuk kita semua!"

Semuanya tepuk tangan dengan meriah. Ino merasa senang karena kemampuannya bisa berguna untuk semua orang. Khususnya untuk orang-orang terdekatnya. Untuk teman-temannya.

"Semuanya! Ayo ikut aku. Kita makan malam di restoran dekat sini." Temari berseru yang disambut sorakan semua orang. Semuanya kemudian mengikuti langkah Temari untuk makan malam. Kecuali Ino yang masih ingin memastikan semuanya sempurna. Ternyata masih ada Shikamaru di sana.

"Loh, Shikamaru. Kau tidak ikut mereka?" tanyanya.

"Kau sendiri?" Shikamaru balik bertanya.

"Aku masih harus memastikan semuanya oke."

"Bukan Yamanaka Ino namanya kalau belum memastikan semuanya sempurna."

"Itu kau tahu."

"Terimakasih, Ino." Shikamaru mendekat dan memeluk Ino. Ino sendiri hanya tersenyum dan membalas pelukan Shikamaru dengan erat. Besok adalah hari bahagia sahabatnya ini. Ia sungguh tidak menyangka kalau sahabat pemalasnya ini bisa menikah. Ia sempat mengira Shikamaru tidak pernah ada niat ke arah sana.

"Sama-sama." Keduanya melepaskan pelukannya.

"Jadi bagaimana kau bisa berakhir dengan Gaara?"

"Err... Itu..."

.

.

.

Selesai makan malam bersama, Ino tidak kembali ke penginapannya. Sakura dan Tenten mengajaknya minum-minum. Tapi Ino menolaknya. Ada hal yang harus di lakukannya. Untuk itulah ia sekarang berdiri disini. Didepan ruangan Gaara. Padahal seharian ini ia ada di gedung yang sama, namun ia dan Gaara tidak bertemu. Jadi Ino tidak punya kesempatan untuk benar-benar minta maaf pada Gaara.

Ino masih berdiri di depan ruangan Gaara. Saat di bawah tadi, penjaga pintu mengatakan kalau Gaara belum pulang sehingga Ino memilih untuk menghampiri Gaara ke ruangannya namun ia tidak berani bahkan untuk mengetuk ruangan itu. Pintu terbuka tak lama kemudian dan hal itu membuat Ino kaget. Ia mengira Gaara yang membuka pintu itu namun ternyata tidak. Asisten Gaara yang Ino tahu bernama Baki muncul dari balik ruangan itu.

"Yamanaka-san?"

"Selamat malam. Apa Gaar— maksud saya Kazekage-sama masih banyak pekerjaan?" tanya Ino sopan setelah membungkukkan badannya. Ia jelas tahu bahwa asisten Gaara ini jauh lebih tua darinya.

"Pekerjaan Kazekage-sama tidak akan selesai sampai kapanpun."

"Maksud anda?"

"Dokumen yang di periksanya akan bertambah setiap hari. Jadi jelas pekerjaannya belum selesai."

"Ah. Begitu." Ino menjadi bingung. Apakah ini waktu yang tepat untuk menemui Gaara atau tidak.

"Bisakah anda membujuk Kazekage-sama untuk pulang dan beristirahat Yamanaka-san?"

"Ya?"

"Saya sudah memintanya untuk melanjutkan pekerjaan besok hari. Namun dia tidak mau. Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya dan kalau begini biasanya ia tidak akan pulang dan malah melanjutkan pekerjaannya hingga pagi."

"Benarkah?" Kalau begitu kapan Gaara akan istirahat? Bisa-bisa pria itu malah jatuh sakit.

"Mohon bantuannya." Baki kemudian pergi dan meninggalkan Ino disana. Memberanikan diri, Ino kemudian mengetuk pintu ruangan itu.

"Masuk." Suara dingin Gaara terdengar dari balik pintu.

Dengan takut-takut, Ino kemudian masuk. Gaara ada disana sedang fokus dengan laporan-laporan di depannya. Ia bahkan tidak berniat melihat siapa yang datang ke ruangannya.

"H-hei..." Ino menyapa. Gaara terlihat kaget dan segera mengalihkan atensinya dari laporan di mejanya menuju sosok Ino yang ada tak jauh dari pintu masuk.

"Bagaimana kau bisa disini?"

"Aku naik tangga." Ino kemudian berjalan mendekat. Kini ia berdiri di depan meja Gaara. Dan benar saja, laporan itu sangat banyak. Ada beberapa tumpukkan laporan di atas meja Gaara.

"Sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam." Gaara kembali melanjutkan aktifitasnya memeriksa laporan di depannya.

"Kau sendiri? Kenapa tidak pulang? Ini sudah malam."

"Masih ada laporan yang harus ku periksa."

"Baki-san bilang laporan itu bisa di periksa esok hari."

"Baki bilang begitu?" Ino mengangguk. Namun sepertinya Gaara tidak peduli dan masih melanjutkan pekerjaannya itu. Ino memandangnya. Gaara tampak berbeda bila duduk di kursi itu. Seolah kursi itu bisa membuat seseorang terlihat berwibawa hanya dengan duduk disana.

"Gaara... ayo pulang."

Gaara menghentikan kegiatannya dan kini melihat Ino.

"Kau bilang apa?" tanyanya seolah salah mendengar apa yang baru Ino ucapkan.

"Ayo pulang."

Gaara terdiam. Tidak pernah ada seorang pun yang berkata seperti itu padanya. Hanya dua kata. Namun terasa berbeda karena dikatakan oleh orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah Ino. Gadis yang sudah mencuri hati dan pikirannya sejak tiga bulan terakhir. Dua kata yang hanya di ucapkan namun efeknya terasa seperti obat penghilang lelah.

Gaara kemudian menghela nafasnya dan berdiri. Meninggalkan mejanya untuk meraih jubahnya. Namun bukannya memakainya sendiri. Ia malah memakaikannya pada Ino. Gadis itu masih mengenakan pakaian ninjanya yang biasa. Padahal pakaian itu terlalu terbuka untuk di pakai di malam hari. Apalagi malam hari di desa Suna.

"Apa kau tidak kedinginan menggunakan pakaian itu?" Ino tersenyum saat Gaara mengatakannya. Pertanyaan yang familiar begitu juga dengan suasananya. Ino ingat bagaimana Gaara memasangkan jubah ini padanya saat mereka di hutan Konoha.

"Sepertinya jubahku tertinggal di restoran." Ino menampilkan cengirannya.

Gaara masih berdiri menjulang tepat didepannya dengan pakaian merah gelapnya. Ino harus menengadah untuk dapat melihat tepat ke mata sang Kage. Ia harus ingat tujuan awalnya ke ruangan ini.

"Gaara, maafkan aku ya."

"Hn?"

"Soal semalam. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengejekmu. Sungguh."

Gaara memandanganya dalam diam. Membuat Ino berprasangka kalau Gaara masih marah dan belum memaafkannya.

Oke, Gaara memang sedikit kesal karena Ino menertawakannya kemarin malam. Ia tidak suka ditertawakan apalagi di buat lelucon. Tapi bagaimana Gaara bisa marah lagi kalau Ino sudah begini.

Gaara diam seolah terpaku di tempatnya saat merasakan Ino memeluknya. Kedua tangan Ino melingkari punggungnya dan kepala gadis bersandar di dadanya.

"Jangan marah lagi ya."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

YUHUUUU! Kembali lagi di FOTS chapter kedua. Terimakasih banyak buat dukungannya ya teman-teman. Senang deh kalau kalian suka dengan cerita ini. Oh iya, aku bikin ini rating M bukan berarti cerita ini bukan untuk konsumsi anak-anak ya. Hanya saja aku belum memastikan apakah nanti ke depannya akan ada scene rate M didalamnya. Jadi ya begitulah. Kita ikutin saja kemana angin membawa. Fufufufu! #evillaugh

Cusss kita balas ripiu!

De han ga login : Jangankan kamu, saya aja juga baper. Hehehe Makasih udah ripiu ya.

yumehara : Senang deh kalau kau suka. Ini udah up. Makasih udah review ya ymehara-san.

himewulan : Haloo... ni udah lanjut ya, makasih udah singgah. Semoga suka ya..

sagaarahime : Gaara memang sangat menggodah. Diem aja ganteng apalagi pas lagi bucin. Heheh. Ini udah lanjut yaa...

Amber Viola : Saya juga suka banget pair ini. Ino cantik, Gaara ganteng. Ino cerewet, Gaaranya kaku. Hehe ini udah up ya say. Makasih udah ripiu, semoga kamu juga sehat selalu.

Azzura yamanaka : Udah bucin makanya dia jadi manis. Hehehe ini udah up ya. semoga suka.

Rizumo Hitoyara : Ini udah up yaa. Makasih udah singgah dan ninggalin review. Semoga sukaa

Lazyper : Ini sudah update yaa. Iya nih mereka ngegemesin banget. Semoga suka ya.

Kei : Terimakasih sudah singgah. Ini sudah up.. Aishiteru mo...

Aile : Ini sudah lanjut ya. Semoga suka.

block c : halooo... cowok kaku sama cewek cerewet itu emang ngegemesin banget... ini sudah lanjut. Semoga suka.

Kwonie Minorichi : Aku juga gemas pake banget sama ini si Kazekage.

Dawnielle : Ini sudah lanjut ya sayang... Semoga suka.

Some of love : Ini sudah up ya.. Semoga sukaaa

Rm : Waduh, aku kira ini RM BTS yang ngereview. Hehehe. Ini sudah lanjut.

Ms. Hatake Yamanaka : Makasih sudah suka sayang... Ino mau di couple in sama siapa aja bakal cocok banget, Dianya cantik sekali soalnya. Ini sudah up ya. Semoga suka...

Terimakasih banyak buat teman-teman yang udah review , fav maupun follow cerita ini. Kalian buat aku makin semangat buat nulis. Terimakasih banyak yaa.

Di tunggi reviewnyaa!

Salam

Yana Kim ^_^