Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 14 ~

.

.

.

Hari ini aku kembali menemui Kakashi dan Yamato, aku mengatakan pada mereka jawaban dari Sasuke setelah aku menanyakan pemuda yang bernama Suigetsu itu padanya, Yamato dan Kakashi tidak banyak menanggapi tentang hal itu, mereka ingin sebuah informasi lain dan informasi itu hanya bisa di dapat dariku.

"Apa dokter tahu kasus laboratorium yang berada di pulau Kiri?" Tanya Yamato padaku.

Kenapa mereka sampai ingin menanyakan lab itu? Aku bahkan tidak bisa memberikan informasi apapun, menatap sekitar, aku takut jika berbicara sedikit saja, mereka akan membunuhku.

"Aku tidak tahu apapun." Ucapku.

"Maafkan kami dokter, tapi kami sudah mencari informasi tentangmu dan kau pernah bekerja disana, lab itu seakan di tutupi dan kabarnya baru keluar setelah terjadi ledakan dan kebakaran di lab itu, apa ini bukan sebuah sabotasi atau ada hal lain?" Ucap Kakashi.

Kedua pria ini saling bergantian memberi pertanyaan tentang lab itu.

"A-aku pikir ini bukan dari bagian permintaanku, aku hanya ingin menangkap pelaku yang mengirim makanan dan bom ke ruanganku." Ucapku, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

"Mungkin saja hal ini berhubungan." Ucap Yamato.

Terdiam, aku tidak bisa, bagaimana pun mereka ingin mengorek informasi itu dariku.

"Apa sesuatu mengancammu hingga kau tidak bisa berbicara dokter?" Kali ini Kakashi yang berbicara padaku.

Hanya ada gelengan kecil dariku, itu bukan sebuah ancaman, tapi sebuah kesepakatan agar apapun yang terjadi di lab itu tidak bocor ke siapapun, aku bahkan masih mengingat ucapan para petugas disana tentang salah satu dokter yang mencoba membocorkannya, dia mati tanpa ada yang ketahui penyebabnya, aku tidak ingin seperti itu.

"Maaf, jika kalian ingin mendapat informasi itu dariku, aku sungguh tidak bisa, aku terhalangi oleh sebuah peraturan yang mengikat." Ucapku.

Jika saja aku bisa katakan segalanya, semuanya pasti akan menyalahkan prof. Orochimaru dan reputasinya akan jatuh begitu saja.

Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya, kembali pulang ke apartemen, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini, menekan tombol password dan seseorang sudah menungguku di depan pintu, setiap harinya dia melakukan hal yang membuatku risih, tapi lama kelamaan, aku jadi bosan marah dan menegurnya setiap kali dia melakukan apapun yang diinginkannya.

Seperti saat ini, jika aku pulang, dia akan tiba-tiba memelukku, kali ini aku yang membuang diri ke arahnya, aku sangat lelah, apalagi dengan pembicaraan kedua detektif itu, bagaimana mungkin mereka ingin mengorek informasi tentang lab itu? Sementara aku selalu merasa waspada dan berhati-hati jika saja aku mati tiba-tiba setelah mencoba menceritakan segalanya.

"Apa akhirnya kau menyerah?" Ucap Sasuke padaku, pelukan hangat darinya membuat lelahku ini sedikit berkurang, aku benar-benar membutuhkan seseorang saat ini, bagaimana jadinya jika sekarang aku masih tinggal sendirian? Mungkin aku akan mengalami stres yang cukup berat, begitu banyak masalah yang terus datang padaku, sekarang para detektif yang aku sewa ingin mencari informasi lab itu.

"Tidak, aku tidak akan menyerah menolakmu." Ucapku. "Tapi hari ini aku sedikit lelah melawanmu." Tambahku.

"Jika kau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku." Ucapnya.

Uhk, di saat seperti ini, dia terasa jauh lebih dewasa dariku, pikiranku kembali tertuju pada lab itu, aku bahkan belum bisa mendapatkan informasi apapun dari Sasuke.

Aku punya sebuah ide yang mungkin sedikit keterlaluan, tapi aku akan mencobanya, melepaskan pelukan Sasuke dan menatapnya.

"Aku akan menyerah, aku akan menerimu, tapi kau harus menceritakan segalanya tentang lab itu setelah aku keluar." Ucapku. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Sasuke, apa dia akan mengatakannya?

"Sungguh?" Ucapnya dan membalas tatapanku.

Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan hal itu untuk mencari informasinya, aku tidak serius untuk melakukannya, apalagi aku harus memiliki hubungan dengan Sasuke jika benar dia akan mengatakan segalanya padaku.

"Apa kau akan mengatakannya?" Tanyaku, penasaran.

Pemuda hadapanku ini terdiam, dia pasti berpikir keras untuk hal ini, sebelumnya dia tidak ingin aku mengetahui apapun dari lab itu, apa yang membuatnya menutupi segalanya? Apa ada yang terjadi hingga lab itu meledak?

"Bagaimana bisa kau menyamakan perasaanku dengan informasi dari lab itu?" Ucapnya dan dia terlihat kesal, tidak, melainkan dia seperti tengah ngambek padaku.

Sasuke merasa tersinggung, perasaannya tidak seperti informasi lab itu.

"Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu." Ucapku, agak ragu dan merasa ini memang konyol, Sasuke pasti sangat marah.

"Aku akan mengatakan apapun, kecuali lab itu, bukannya kau sudah berjanji tidak akan menanyakannya lagi? Kau berbohong padaku lagi." Ucap Sasuke, dia bahkan meninggalkanku begitu saja.

Aku melupakannya, awalnya aku sudah berjanji tidak akan menanyakan tentang lab itu pada Sasuke, tapi aku sangat penasaran, aku mencurigai banyak hal setelah mendengar ucapan Yamato dan Kakashi, mungkin saja teror iseng ini berawal dari lab itu, padahal aku sudah berusaha tidak terlihat mencurigakan dan sudah melupakan pernah bekerja di sana.

Sekarang, aku malah membuat masalah dengan Sasuke.

.

.

.

.

.

Esok harinya, Sasuke melupakan ucapanku kemarin tentang hal yang ingin aku ketahui dari lab itu, kembali dengan tekadnya, dia tidak akan menyerah hingga aku menerimanya, aku jadi menghadapi pemuda dengan tingkat sikap yang sangat labil, dia akan tetap dengan keinginannya.

Sarapan pagi yang kali ini rajin di buat olehnya.

"Makanlah yang banyak, aku juga sudah membuatkan bekal untukmu." Ucapnya dan menyodorkan kotak bekal ke hadapanku.

Jika dia menjadi seorang suami, dia akan menjadi tipe yang sangat setia dan peduli pada pasangannya, tidak-tidak, apa yang aku pikirkan? Dia bahkan masih 17 tahun.

"Aku jadi merasa tidak enak menerima kebaikanmu seperti ini." Ucapku, aku sungguh merasa tidak enak.

"Baiklah, kau harus menerimaku." Ucapnya.

Dasar keras kepala, aku sangat ingin memukulnya sekarang juga.

Selesai dengan sarapan pagiku yang terlalu manis, tapi aku tidak bisa menikmatinya jika setiap detik ada yang ingin meminta balasan dariku.

"Baiklah aku akan berangkat." Ucapku.

Belum sempat menggapai gagang pintu, tarikan itu cukup cepat dan kecupan pada jidatku.

"Selamat bekerja." Ucap Sasuke.

"Jangan lakukan hal yang tiba-tiba!" Protesku dan menarik diri darinya, kenapa dia selalu saja melakuan hal seeanaknya? Kapan dia akan berhenti! Aku tidak akan menerimanya!

Dia benar-benar sukses membuatku sangat malu pagi ini, tapi aku juga tidak menolak akan sikap manis itu.

Ending Sakura pov.

.

.

.

.

Normal Pov.

Seperti biasa, setiap harinya Sasuke akan sibuk dengan sebuah laptop, menggunakan earzoom di telinganya dan tengah berbicara dengan seseorang, sesekali menatap layar CCTV yang di pasangnya, di sana dia akan melihat Sakura yang sedang sibuk bekerja.

"Aku yakin jika kedua pria yang datang padaku adalah suruhan dokter Sakura, mereka tidak mungkin mencariku begitu saja." Ucap Suigetsu.

"Mereka adalah detektif swasta yang di sewa oleh dokter Sakura, Aku sudah mendapatkan informasinya, dokter Sakura berbohong padaku, dia tidak mengatakan yang sebenarnya, dari masalah sepelah tentang pengiriman makanan, sekarang ada yang mengirim bom padanya, aku yakin kedua detektif itu semakin memperketat pengawasan mereka." Ucap Sasuke.

"Bagaimana dengan latar belakang mereka berdua? Apa mereka juga adalah kaki tangan profesor gila itu?"

"Tidak, mereka adalah kesatuan khusus yang di buat oleh seseorang yang cukup terkenal di bidang militer, namanya adalah Sarutobi, kakek tua itu adalah mantan kepala kepolisian khusus sebelum dia pensiun, sekarang dia hanya menjadi pengawas, mungkin saja mereka tidak bekerja dengan prof. Orochimaru."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Hanya kakek tua itu yang pernah menentang prof. Orochimaru, pada tahun XXXX mereka sempat berselisih pendapat hingga posisi Sarutobi hampir terancam, terlalu banyak orang dalam yang mendukung Prof. Orochimaru."

"Kau mendapat begitu banyak informasi, apa sekarang kau tahu siapa yang mengirim makanan dan bom pada dokter Sakura?"

"Aku masih belum menemukannya."

"Aku bahkan tidak menyangka jika kau memintaku mengawasinya, aku tidak mau bertemu kedua detektif itu, aku juga tidak menyukai dokter Sakura, siapapun dokter yang pernah membantu profesor gila itu tidak membuatku suka!"

"Kau sudah sepakat untuk membantuku."

"Bunuh saja dia! Dia bahkan di incar oleh seseorang tidak kau ketahui. Lambat laun dia pun akan mati meskipun itu bukan karenamu."

"Hentikan itu."

"Kenapa? Kau selalu saja marah setiap aku memintamu membunuhnya. Berhenti bermain sandiwara rumah-rumahan dengan doktermu itu."

"Aku akan menghubungimu lagi nanti, kau harus tetap mengawasinya."

"Ahk sial! Aku juga sungguh membencimu!"

Sasuke segera memutuskan panggilan mereka, Sasuke mulai menekan nomer lain di ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Sixteen (16), ini aku Seven."

"Ada apa Sasuke?"

"Aku yakin hanya kau yang memiliki keahlian untuk cepat menemukan seseorang, bisakah kau membantuku?"

"Tentu, aku akan membantumu."

"Aku akan mengirim sebuah data padamu, tolong cari pelaku yang melakukannya, oh ya sekarang kau berada dimana?"

"Aku ada di London."

"Kau terlalu jauh."

"Aku memang sangat jauh, aku mendapatkan banyak hal disini, tapi tenang saja, aku masih bisa membantumu."

"Terima kasih."

"Tidak perlu berterima kasih, kau pun sudah menolongku."

"Lalu, ada yang ingin aku tanyakan."

"Apa itu?"

"Apa kau tahu One(1) berada dimana?"

"Kabar terakhir yang aku dapat, dia berada di alaska, kota Fairbanks, entah apa yang di lakukannya di area yang di jauh disana. Ada apa kau mencarinya? Bukannya dia sulit untuk di ajak kerja sama?"

"Begitu rupanya, tidak, aku hanya sulit menghubunginya. Apa kau sudah mendapat sebuah undangan reunian dari Ten (10)?"

"Iya, aku sudah mendapatnya, aku juga tidak sabar untuk bertemu kalian semua."

"Hn, aku juga, jaga dirimu."

"Baiklah, jaga juga dirimu."

.

.

TBC

.

.


karena besok dan minggu libur, author cukup berbaik hari dan berhasil menyelesaikan beberapa chapter sebelum libur, semoga menikmati tambahan chapter ini.