Flower on the Sand

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : T semi M

WARNING!

Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi harap maklum atas segala kesalahan yang mungkin terjadi. Hehehe.

Cast : Sabaku no Gaara x Yamanaka Ino

SUM:

Rombongan Konoha yang akan menghadiri pernikahan Shikamaru dan Temari dibuat tercengang oleh perlakuan khusus yang di berikan Kazekage pada Yamanaka Ino. Ada apa diantara mereka? Sejak kapan dua orang dengan sikap bertolak belakang itu, bisa menjadi begitu "dekat" ? Sequel of Fireflies.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

"Jangan marah lagi ya."

Seolah gerak refleks yang alami saat Gaara membalas pelukan kunoichi dihadapannya ini. Kedua tangan besarnya melingkari punggung kecil Ino sehingga gadis itu terkurung dalam dekapannya. Keduanya terdiam beberapa saat. Saling menikmati kenyamanan dari pelukan hangat yang mereka ciptakan.

"Kau tidak marah lagi kan?" Ino bertanya kemudian. Gaara tidak menjawab. Tapi Ino merasakan kalau pria itu menggeleng dan itu sudah cukup untuknya. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya saat memeluk Gaara. Yang pasti ia hanya mengikuti instingnya dan ia tidak tahu kalau pelukan Gaara bisa senyaman ini. Wangi pria itu mulai menjadi satu dari beberapa hal yang Ino sukai. Gaara kemudian melepaskan pelukannya. Membuat Ino jadi salah tingkah dan malu.

"Kau ingat isi suratku yang waktu itu?" Ino menjadi gugup karena Gaara mengungkit masalah surat. Apa ia pura-pura lupa saja? Apa ia bilang kalau suratnya tidak sampai ke tangannya saja?

"Umm. Ya, tentu saja."

"Mau ikut denganku ke suatu tempat?"

Gaara mengulurkan tangannya. Ino memandang tangan lebar itu sebentar untuk kemudian mengangguk dan menerima uluran tangan itu. Keduanya berjalan keluar dari ruangan Gaara. Ino mengira kalau Gaara akan membawaya ke luar dari gedung itu. Tapi ternyata tidak. Masih dengan menggenggam tangan kecilnya, Gaara membimbing Ino untuk berjalan menaiki tangga. Ino menghentikan langkahnya ketika setelah puluhan anak tangga mereka naiki, kini gelap gulita menyambut mereka. Ino bingung kenapa mereka harus tetap menaiki anak tangga itu untuk menyusuri gelap di depan mereka.

"Kita mau kemana?"

"Suatu tempat."

"Tapi kenapa kalian tidak memasang lampu di sini?"

"Karena dua lantai teratas gedung ini tidak dipakai."

"Kenapa kau membawaku ke tempat yang tidak di pakai?"

"Kau takut?"

"Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran."

"Percayalah padaku." Ino bisa mendengar kesungguhan dari nada suara Gaara.

"Aku percaya, Gaara. Tapi, tidakkah lebih baik kalau kita membawa obor atau sesuatu yang menjadi penerang? Disini terlalu ge... lap." Ino memandang takjub pada apa yang terjadi di depannya. Tangga itu tak lagi gelap. Dan yang membuat Ino takjub adalah sumber cahaya yang menjadikan lorong itu tak lagi gelap.

"Wow."

"Ini cukup membantu kan?"

"P-pasir emas?"

"Ayo."

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menaiki tangga yang kini tidak terlalu gelap karena pasir emas Gaara. Namun, lima menit berjalan, pasir itu lenyap. Mereka kembali diselimuti gelap.

"Aku tidak tahu kalau pasirmu punya limit waktu."

"Bukan begitu." Ino terdiam. Menunggu Gaara melanjutkan ucapannya.

"Aku ingin kau menutup matamu mulai dari sini. Kita sudah sampai."

Ino tidak mengerti. Namun ia menurut.

"Aku sudah melakukannya."

Gaara membimbingnya lagi. Ino bisa mendengar suara pintu yang dibuka, lalu mereka kembali berjalan. Kemudian Gaara berhenti. Ino sudah ingin membuka matanya, namun entah mengapa ia merasa kalau ia harus menunggu instruksi dari Gaara.

"Kau boleh membuka matamu." Tanpa menunggu lagi Ino langsung membuka matanya. Ia sampai harus menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saking kagetnya.

"Gaara..." Ino beralih memandang Gaara. Pria itu balik menatapnya. Ino bisa melihat senyuman tipis yang Gaara tunjukkan.

"Ini indah sekali."

"Kau suka?"

"Suka sekali!"

Ino kembali melihat pada pemandangan yang kini tersaji di hadapannya. Ia menyadari kalau mereka kini ada di atap gedung Kazekage. Pantas saja tadi ia merasakan angin yang cukup kuat. Yang membuat Ino takjub adalah ribuan bintang di langit gelap yang entah kenapa tampak dekat dari sini. Mungkin karena gedung ini adalah gedung tertinggi kedua di Suna setelah menara keamanan Suna.

Ino merasa ia seolah berada diangkasa. Ini pertama kalinya ia melihat bintang sebanyak dan sedekat ini.

"Ini adalah tempat favoritku. Sebenarnya aku bisa saja membawamu terbang dengan pasirku untuk kemari. Tapi aku ingin melakukannya dengan cara yang... normal." Gaara bersuara dan berbarengan dengan itu, ia mendudukkan dirinya di lantai atap. Ino mengikuti Gaara. Ia mendudukkan dirinya disamping Gaara. Sempat khawatir jubah Gaara akan kotor, namun ternyata lantai itu sangat bersih. Sama bersihnya dengan lantai ruangan lain di gedung Kage.

"Ada cara supaya pemandangan ini semakin indah." Gaara berujar lagi.

"Benarkah? Bagaimana?" Ino bertanya antusias dengan senyuman yang tidak hilang sejak ia tiba di tempat itu.

Namun senyuman itu perlahan hilang berganti dengan wajah kaget ketika ia merasakan Gaara menggeser duduknya semakin mendekat padanya. Jarak setengah meter tadi berubah menjadi dua puluh sentimeter, kemudian berubah lagi hingga tidak ada jarak diantara mereka.

Ia hanya diam saat tangan kiri Gaara naik melingkari punggungnya dan meraih bahu kiri Ino. Namun ia kembali dibuat kaget saat Gaara menarik tubuh Ino hingga terjatuh kebelakang bersamaan dengannya. Kini posisi Ino berbaring dengan lengan Gaara sebagai bantalnya. Ino yang kaget menoleh ke samping dengan ekspresi bertanya. Wajah Gaara sangat dekat dengannya. Ino bisa melihat jade indah Gaara dengan sangat jelas.

"Lihatlah keatas."

Ino menolah keatas. Matanya melebar seketika. Ekspresi kagum tak bisa di sembunyikan oleh wanita itu melihat pemandangan indah itu. Bintang-bintang kini tepat berada diatas wajahnya. Indah sekali.

"Bintangnya... semakin dekat."

Ia kembali menoleh ke samping. Gaara masih memandangnya. Lurus dan tepat di matanya.

"Terimakasih sudah membawaku ke tempat ini. Ini indah sekali."

"Syukurlah kalau kau menyukainya."

Mereka masih berbaring bersama bintang dengan lengan Gaara yang menjadi bantalan Ino. Kunoichi Konoha itu tampak kagum dengan apa yang di lihatnya saat ini.

"Ino."

"Hmm?" Ino beralih dari melihat bintang menjadi melihat Gaara yang ada disampingnya. Ternyata pria itu juga tengah melihatnya.

"Boleh kau mengatakannya sekali lagi?"

"Ng?" Ino tidak mengerti maksud perkataan pria itu.

"Ayo pulang. Tolong katakan itu sekali lagi."

.

.

.

Pagi ke dua di Suna. Ino bangun sedikit terlambat karena memang ia tidur sudah sangat larut. Ia tidak ingat tepatnya jam berapa saat Gaara mengantarnya kembali ke penginapan. Yang pasti semalam adalah malam paling indah yang pernah Ino lihat. Pintu kamarnya di ketuk ketika ia sedang meregangkan badan. Dari ketukannya yang bar-bar, Ino tahu kalau itu adalah Sakura dan juga Tenten. Dengan malas Ino membuka pintu kamarnya dan benar saja, Sakura dan Tenten langsung menerobos masuk.

"Wah, lihat kamar ini. Mewah sekali." Tenten menjatuhkan dirinya di ranjang besar itu.

"Kazekage tidak main-main dalam pelayanan untuk kekasihnya ya. Kasur ini empuk sekali," lanjut Tenten sambil berguling tidak jelas di atas kasur.

"Apa yang kau bicarakan? Aku bukan kekasih Gaara." Ino membalas rekannya itu dengan nada malas. Maklum ia baru saja bangun tidur.

"Bukan apanya? Jelas-jelas kalian ada apa-apa."

"Kau baru bangun? Memangnya semalam kau tidur jam ber— WOW! Tenten lihat ini!" Sakura yang sedang duduk di sofa melihat jubah Kazekage yang tersampir di pinggir salah satu sofa disana. Istri Sasuke itu menutup mulutnya tak percaya.

"Fufufu! Sepertinya aku tahu kenapa kau bangun terlambat." Tenten memandang Ino dengan tatapan menyelidik. Ia berjalan ke arah Ino dan memeriksa tubuh Ino dari atas sampai bawah.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino risih dengan apa yang Tenten lakukan.

"Memeriksa sisa-sisa perbuatan kalian semalam. Tapi kenapa tidak ada sama sekali?" Kunoichi bercepol itu melipat tangannya dan tampak berpikir.

"Apa maksudmu?" tanya Ino.

"Disaat seperti ini aku berharap Hinata ada di sini."

"Untuk apa?"

"Memastikan dengan byakugan apa kau masih perawan atau tidak."

Sakura tertawa terbahak-bahak melihat kedua temannya itu. Ino sendiri wajahnya memerah. Antara marah dan malu dengan apa yang Tenten katakan.

"Aku tidak menyangka kalian berpikiran kotor seperti itu!"

"Ada bukti nyata disini, sayang." Tenten masih tidak menyerah.

"Itu hanya jubah. Gaara meminjamkannya padaku semalam."

"Jadi kalian benar-benar bersama semalam? Pantas saja kau tidak mau kami ajak minum. Ternyata sudah ada janji dengan Gaara." Kini gantian Sakura yang menggodanya.

"Kalian berdua, hentikan candaan kalian. Ada apa kalian datang kemari pagi-pagi?"

"Ini sudah hampir siang, pig. Kami hanya ingin mengajakmu bersiap untuk nanti acara sore nanti. Kau tahu kami tidak pandai menghias diri kan?"

Ino mengangguk mengerti. Hampir saja ia lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan Shikamaru dan Temari.

"Baiklah. Tunggu aku selesai mandi dan sarapan kalau begitu."

"Makan siang, pig. Waktu sarapan sudah lewat."

"Ya ya. Pokoknya tunggu aku selesai makan."

.

.

.

Aula gedung kage sudah ramai oleh para tamu undangan ketika Ino, Sakura dan Tenten tiba. Acara yang memang diadakan sore hari hingga malam itu akan di mulai sebentar lagi. Tenten terlihat cantik dengan dress pink pucatnya. Ia juga menggerai rambut coklatnya hingga kunoichi yang tomboi itu tampak feminim malam ini. Kiba dan Lee saja sampai terpesona dengan penampilan Tenten. Para pria dari Konoha juga tampak tampan dengan jas mereka. Walaupun Chouji tampak tidak nyaman karena ia merasa jas itu membuat ia tidak bisa makan banyak malam ini. Sakura juga tampak menawan dengan dress merahnya. Sejak menikah dengan Sasuke, Sakura tampak bahagia dan itu tentu saja menambah kecantikan wanita yang sudah menyandang marga Uchiha itu.

Ino tampil berbeda dari kedua rekannya itu. Ia memilih mengenakan kimono ungu muda dengan corak bunga berwarna silver yang sudah dia siapkan sejak tahu Shikamaru akan segera menikah. Bukannya ia tidak mau berpenampilan modern seperti kebanyakan tamu lainnya. Namun ia merasa hadir disana bukan sebagai rekan sesama ninja, tapi sebagai keluarga Shikamaru. Sama seperti Shikamaru yang sudah menganggap Ino sebagai adiknya, Ino juga sudah menganggap Chouji dan Shikamaru sebagai kakak laki-lakinya. Karena itulah, ia memilih mengenakan kimononya. Meskipun berat dan panas, ia tetap mengenakannya. Karena saat ini ia adalah adik perempuan Shikamaru. Ia juga menggelung rambutnya dan memakai ornamen rambut sebagai pemanis.

Ino sendiri langsung memisahkan diri dari rekannya dan menemani ibu Shikamaru yang duduk di meja khusus keluarga Nara. Ia disambut ramah oleh wanita yang langsung meminta Ino untuk duduk disampingnya. Para Nara lainnya juga segera mengajak Ino mengobrol dan menggoda Ino tentang hubungannya dengan Kazekage yang Ino tanggapi dengan senyuman.

Ino mengalihkan pandangannya mencari keberadaan Gaara. Dan ia menemukannya. Gaara duduk di meja khusus, bersama dengan para Daimyo yang juga datang ke acara itu. Pria itu mengenakan jubah kagenya. Tentu saja ia harus mengenakannya di acara resmi seperti ini. Ino kemudian teringat dengan jubah Gaara yang tertinggal di kamarnya. Ya, pastinya Gaara tidak hanya punya satu jubah kebesarannya itu kan?

Acara dimulai tak lama kemudian. Upacara hikmat itu selesai, kemudian berganti menjadi acara makan dan minum yang meriah. Shikamaru dan Temari tampak berjalan untuk menyapa para tamu yang memberikan selamat pada mereka di mulai dari para Daimyo. Temari tampak cantik dengan kimono putihnya. Saat ini, ia benar-benar terlihat seperti seorang putri.

Ino yang sudah bergabung kembali dengan teman-temannya dari Konoha ikut menggoda Shikamaru terkait malam pertama dan juga sifat pemalas calon pemimpin Klan Nara itu. Merasa di pojokkan, Shikamaru kabur dengan dalih mengajak istrinya untuk menyapa para tamu yang lain.

Para ninja Konoha itu sedang meminum anggur yang di sediakan ketika Gaara muncul. Shino langsung berdeham untuk menghentikan kikikan dari tiga wanita yang entah sedang menggosipkan apa sampai tidak sadar kalau Kazekage ada di sana.

"Oh. Selamat malam, Kazekage-sama." Tenten menyapa duluan. Ia membungkukkan tubuhnya yang kemudian diikuti oleh Sakura dan Ino.

"Anda mau meminjam Ino ya? Silahkan saja. Bawa saja dia kemanapun yang anda mau." Tenten kembali berbicara yang kemudian di hadiahi delikan oleh Shino dan Kiba karena sudah bersikap tidak sopan pada Kazekage. Namun delikan itu berubah menjadi belalakan kaget begitu mendegar apa yang Gaara katakan.

"Bolehkah?" tanya Gaara. Ino juga tidak menyangka kalau Gaara akan menanggapi Tenten.

"Tentu saja. Silahkan Kazekage-sama." Tenten mengambil gelas yang ada di tangan Ino dan mendorong rekannya itu semakin dekat dengan Gaara.

"Terimakasih."

Ino hanya bisa menurut saat Gaara menarik tangannya dan membawanya keluar dari aula besar itu. Ino tidak menyangka Gaara membawanya ke ruangannya yang ada di lantai tiga gedung itu. Pria itu melepaskan jubahnya, kemudian mendudukkan dirinya di sofa panjang ada disana dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memejamkan matanya. Ino yang tidak tahu harus berbuat apa ikut mendudukkan dirinya disamping Gaara.

"Kenapa kau pergi? Bukannya acaranya belum selesai?"

"Terlalu ramai. Para Daimyo juga mulai membicarakan hal yang tidak kusuka."

"Hal yang tak kau suka? Apa itu?"

"Aku tidak ingin membahasnya sekarang, Ino. Aku lelah."

Ino tidak lagi berbicara. Mengerti kalau memang pria yang tengah duduk disampingnya ini tidak ingin membahas mengenai hal yang tidak disukainya itu. Meskipun Ino penasaran, namun ia mencoba untuk menekan rasa penasarannya itu. Kelihatannya Gaara sedang sensitif sekarang.

Ino kemudian meraih tangan kiri Gaara dan meletakkannya di pahanya. Memberikan pijatan-pijatan diatas telepak tangan lebar itu. Salah satu dari berbagai hal yang di pelajarinya sebagai ninja medis untuk membuat seseorang merasa rileks. Gaara melihat ke arah Ino yang tengah melakukan sesuatu pada telapak tangannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu.

"Mencoba merilekskan ototmu."

"Dari telapak tangan?"

Ino mengangguk.

"Sama seperti telapak kaki, telapak tangan secara tak langsung berhubungan dengan otot dan bagian tubuh yang lain. Meskipun terkadang orang-orang lebih suka merilekskan langsung ke bagian otot yang kaku. Tidak melalui telapak tangan atau kaki."

"Aku lupa kalau kau adalah seorang ninja medis." tanya Gaara.

"Tidak sehebat Sakura memang. Tapi aku tetap seorang ninja medis." Ino tersenyum menatap Gaara.

"Aku mulai merasa rileks." Gaara tiba-tiba berujar.

"Benarkah?" Ino tersenyum senang merasa kalau usahanya membuahkan hasil.

"Tapi bukan karena apa yang kau lakukan."

"Lalu karena apa?" tanya Ino.

"Senyumanmu."

Pijatan Ino di tangan Gaara terhenti. Ino tidak menyangka kalau pria kaku dan clueless itu baru saja menggodanya. Memangnya ada pria yang menggodanya dengan ekspresi datar seperti itu? Posisi Gaara yang bersandar pada sandaran sofa namun melihat ke arahnya membuat pria itu entah kenapa terlihat sangat tampan. Oke, Kazekage Suna itu memang tampan. Harus ia akui bahwa ke tampanan Gaara bisa menyaingi Sasuke. Belum lagi ekspresi mereka yang kurang lebih sama.

Tapi Gaara benar-benar kelihatan lelah malam ini dan Ino bisa melihat bahwa lelah yang Gaara rasakan bukan hanya fisiknya melainkan juga pikirannya. Terlihat jelas dari helaan nafas Gaara yang terdengar berat.

"Kenapa berhenti?" tanya Gaara.

"Bukannya kau bilang kau sudah merasa rileks karena melihat senyumanku?"

"Tapi kau tidak tersenyum sekarang."

"Apa aku harus tersenyum setiap waktu agar kau rileks? Otot pipiku bisa kram kalau begitu."

"Jangan setiap waktu. Cukup saat bersamaku saja."

Ino tidak tahu apa Gaara sadar kalau ucapannya itu bisa membawa efek luar biasa pada Ino? Sekali lagi, Gaara mengucapkan kalimat itu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Berarti pria ini serius kan?

"Sepertinya kau benar-benar kelelahan."

Ino meraih lagi tangan Gaara. Ia juga memperbaiki posisi duduknya hingga menjadi seperti Gaara. Kini keduanya duduk di sofa namun dengan posisi miring dan saling berhadapan. Ino melanjutkan aktifitasnya memijat telapak tangan Gaara sementara pria itu masih tetap menatap wajahnya.

"Apa aku sudah mengatakan kalau kau sangat cantik malam ini?" ujar Gaara setelah mereka diam beberapa saat.

"Kau menggodaku. Lagi."

"Aku tidak tahu kalau mengatakan kenyataan di sebut menggoda. Kau sangat cantik malam ini, Ino." Lagi-lagi Gaara mengatakan hal seperti itu dengan ekspresi datar andalannya.

"Maksudmu malam-malam sebelumnya aku tidak cantik?"

"Cantik." Sepertinya Ino harus mulai terbiasa dengan Gaara yang seperti ini.

"Aku sangat ingin menghampirimu sejak kau datang ke aula. Tapi aku harus menemani para Daimyo, setidaknya selama upacara pemberkatan. Maaf."

"Tidak apa. Aku juga harus menemani Yoshino-baasan selama upacara pemberkatan."

"Kankurou bilang kalian akan pulang ke Konoha lusa."

"Benar. Kami tidak bisa berlama-lama. Apalagi teman-teman seangkatan hampir semuanya ikut. Rokudaime bisa-bisa pusing karena tidak ada yang bisa menjalani misi. Seharusnya kami pilang besok, tapi Temari pasti lelah karena acara hari ini. Jadi kami memutuskan untuk pulang lusa."

Gaara tiba-tiba meraih tangan Ino yang memberikan pijatan di telapak tangannya. Membuat Ino yang sejak tadi menunduk mengangkat wajahnya dan memandang pada Gaara.

"Kapan kau siap?"

Ino mengerutkan dahinya.

"Maksudmu?" tanya kunoichi pirang itu tak mengerti.

"Untuk menjadi istriku. Kapan kau siap?"

Seketika wajah Ino memerah diiringi dengan iringan gendang dari dalam jantungnya. Untung saja ia tidak sedang memakan atau meminum sesuatu. Bisa saja ia mati tersedak. Isi surat terakhir Gaara itu ternyata memang benar adanya. Dan pria itu saat ini sedang mempertanyakannya secara langsung. Sungguh Ino tidak tahu harus berkata apa.

"J-jadi... k-kau benar-benar... benar-benar... menyukaiku?"

Lihatlah, bahkan Hinata akan tertawa melihat Ino yang tergagap ini.

"Aku pikir aku sudah memberitahumu dengan sangat jelas di suratku."

"Umm... ya, tapi... maksudku... kau melamarku?"

"Isi surat itu adalah lamaran tak langsung. Katakan saja kapan kau siap maka aku akan mempersiapkan lamaran resminya."

"Gaara. Bukan begitu maksudku. Hanya saja... umm... bagaimana mengatakanny ya." Ino tampak gusar. Tanpa sadar ia melepaskan genggaman Gaara pada tangannya.

"Apa kau tidak menyukaiku?"

"Tidak tidak. Bukan begitu. Aku menyukaimu tapi—"

"Terimakasih sudah menyukaiku."

Entah kenapa Ino menjadi panik. Ekspresi Gaara yang tetap datar membuatnya semakin gugup. Terlebih lagi kenyataan bahwa pria berwajah datar ini akan menanggapi dengan serius semua yang di ucapkannya dan tidak ada kata bercanda dalam kamus adik Temari dan Kankurou itu. Ia harus bisa mencoba menjelaskan sedetail mungkin tanpa membuat Gaara marah ataupun sakit hati. Bisa mati dia kalau membuat Kazekage kebanggaan Suna itu marah.

"Tapi Gaara, masalah menikah dan menjadi istrimu itu... tidakkah kau rasa terlalu cepat?"

"Terlalu cepat?" tanya Gaara.

"Maksudku... kita kan belum lama umm... dekat, jadi... aku... jadi..."

"Kau butuh waktu?"

"Ya!" Ino kelewat cepat menjawab perntanyaan Gaara.

"Itu maksudku. Aku butuh waktu." Ino melanjutkan ucapannya.

"Berapa lama?"

"Ini bukan tentang itu Gaara. Setidaknya sampai kita benar-benar saling mengenal. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, begitu juga denganmu kan?"

Apa ini? Apa Ino tidak salah lihat? Gaara baru saja tersenyum kan? Haya dengusan kecil dan sudut bibir yang sedikit tertarik. Tapi Ino yakin bahwa ia baru saja melihat Gaara tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum?"

"Terimakasih karena ingin tahu lebih banyak tentangku."

Wajah Ino kembali memerah sempurna. Layaknya kepiting rebus di warung seafood yang baru buka di Konoha baru-baru ini. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Apa yang kau lakukan besok?" Gaara bertanya.

"Belum tahu. Sakura dan Tenten sepertinya juga belum ada rencana." Ino menjawab sambil mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas dengan telapak tangannya.

"Besok kau harus bersamaku."

"Ha?"

"Dua puluh empat jam mulai jam enam pagi esok hari, kau milikku.

"HA?!"

"Bukannya kau bilang ingin tahu lebih banyak tentangku?"

.

.

.

"Berarti besok hari terakhirku di desa ini." Temari sedang membersihkan makeup tebalnya. Saat ini mereka ada di rumah pribadi Temari di Suna. Acara sudah selesai beberapa saat lalu. Dan ini adalah malam pertamanya sebagai nyonya Nara. Istri dari calon pemimpin Klan Nara itu.

"Bukan berarti kau tidak bisa berjalan-jalan kemari kan?" Shikamaru yang sudah mengganti Hakamanya berbaring di kasur sementara Temari duduk di depan meja riasnya.

"Kau kira berjalan-jalan ke Suna sama dengan berjalan-jalan ke pasar? Tentu saja aku tidak akan bisa sering ke mari."

"Hei. Kita sudah pernah membahas ini kan? Pernikahan di Suna dan kau tinggal di Konoha. Kau menyesali keputusanmu sekarang?" Shikamaru berujar malas-malasan.

"Bukan begitu. Aku hanya khawatir pada Kankurou dan Gaara. Kau tahu kan, aku yang biasanya memperhatikan mereka. Sekarang aku tidak ada, aku jadi khawatir."

"Mereka sudah besar, Temari."

"Memang benar. Tapi kau tahu kalau kami tidak punya ibu sejak kecil kan?"

Shikamaru terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sedikit banyak, ia tahu mengenai masa lalu trio Sabaku itu. Temari yang merupakan perempuan satu-satunya secara tak langsung mengambil peran sebagai seorang ibu buat adik-adiknya. Alis Shikamaru berkerut saat mendengar istrinya tertawa.

"Tapi setidaknya sekarang aku hanya berharap Kankurou juga memiliki kekasih. Kalau Gaara aku tidak perlu khawatir lagi. Tinggal tunggu dia menikah dengan Ino dan akan ada yang memperhatikannya."

Shikamaru turun dari kasur dan berjalan ke arah Temari.

"Sayangnya tidak semudah itu."

"Maksudmu?"

"Aku tidak yakin hubungan mereka akan berhasil."

Shikamaru berdiri di belakang Temari. Mereka bertatapan lewat cermin yang ada di depan mereka.

"Kau tidak suka Gaara dekat dengan Ino?" tanya Temari.

"Bukan begitu. Aku ingin Ino menikah dengan laki-laki yang bisa melindunginya. Aku yakin seribu persen kalau Gaara bisa melakukannya. Hanya saja,"

"Hanya saja apa?"

Shikmaru menghela nafasnya panjang.

"Sama seperti kita. Hubungan mereka sangat berpengaruh pada politik dua desa. Tapi tidak seperti kita yang bisa punya solusi, hubungan mereka akan lebih pelik lagi. Jauh lebih pelik. Aku sudah pusing memikirkan solusi yang mungkin bisa membantu hubungan mereka, tapi aku tidak menemukannya. Benar-benar merepotkan."

.

.

.

TBC

.

.

.

Yana in the house! Balik lagi dengan chapter 3 couple Gaara Ino!
Terimakasih banyak buat yang masih sudi membaca dan memberikan review cerita ini. Terimakasih teman-teman.

Btw, terimakasih juga buat yang review di oneshot SasuIno "Mantan" . Aku ngakak sekali membaca review teman-teman. Sayangnya aku ga mau balikan lagi sama itu orang ga punya hati #smirk. Hahaha

Semoga suka dengan chap ini yaa. Buat yang merasa interaksi GaaIno masih kurang, tenang saja. Masih ada beberapa chap lagi untuk ff ini tamat. Hmm. Mari kita tunggu bersana-sama.

Pojok balas ripiu.

Lazyper : Senang banget kalau cerita aku bisa ngehibur kamu. Makasih ya sudah baca dan review. Ini sudah up. Semoga suka ya.

yumehara : Aku pribadi suka banget sama hubungan persahabatan ShikaIno. Makasih ya sudah review. Ini sudah update.

sang rembulan : Penyakit aku tuh emang suka typo dan kelewat pas checkup. Hehe. Gaara emang manis. Ganteng lagi. Salam kenal. Ini sudah up yaa

adyahayutiara : Hhehe. Ini udah up sayang...

Azzura Yamanaka : Waduh merinding disko nih? Jangan karungin Gaara, dia punya aku. Huhuhu

Guest : Aku juga cinta mereka. Hehe

Some of love : Waduh jangan tereak tengah malam. Entar dikira ada apa-apa. Hehe. Ini udah up. Makasih ya

Aile : Saya juga gemesh bet sama mereka. Hehehe ini udah up say..

Rizumo Hitoyara : Jangan di tabok atuh si Gaara, entar gantengnya ilang. Suka rate M ya kamu. Fufufu.

BngJy : Ini udah up ya say. Makasih buat semangatnya. Semangat juga buat kamu.

Kyudo YI : Senang banget kalau kamu sukaa. Ino yg kayak gini emang ngegemesin banget. Ini sudah up yaa. Ganbatte!

Zielavienaz96 : Ini udah up ya sayang. Bakal ada ehem2 ga ya? Fufufu.

Xoxo : ini udah up ya. Makasih udah sukaa. Semangat juga buat kamu.

Gekanna87 : Terimakasih udah singgah dan suka sama cerita aku. Ini udah lanjut ya.

Alynda B : Wooow... Senang banget Alynda B-san singgah di lapak aku yang ga seberapa ini. Semoga suka yaa...

ParkChanyeoll : Waduh, ini beneran chanyeol Exo? Hehehe Makasih udah baca dan review.

Terimakasih kasih sekali lagi buat teman-teman semuanya. Ditunggu reviewnya. Happy Weekend!

Salam

Yana Kim ^_^