Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 15 ~
.
.
.
[London]
"Siapa yang menghubungimu, Jugo?" Tanya seorang pria tua pada pemuda dengan badan yang besar dan warna rambut orangesnya, wajahnya terlihat sangat ramah.
"Hanya seorang teman dari jauh, dia juga menanyakan tentang reunian, aku senang bisa bertemu teman-temanku lagi." Ucap Jugo dengan nama kode Sixteen (16), salah satu anak yang berhasil kabur dari lab dan sekarang dia tinggal di sebuah rumah mewah, kakek tua di hadapannya adalah ayah angkatnya, pria tua ini tidak merasa aneh setelah mengangkat Jugo menjadi anaknya, dia melihat potensi besar dari pemuda ini sejak dia masih 12 tahun, kejeniusannya dan keterampilannya dalam pengelolah perusahan tidak bisa di pandang sebelah mata, meskipun masih kecil, Jugo melakukan pekerjaan orang dewasa, dia bahkan memulihkan salah satu perusahaan milik kakek tua ini yang hampir bangkrut.
Jugo mendapat kepercayaan penuh dan hampir seluruh aset di atas namakan olehnya, kakek tua ini merasa sudah menemukan orangnya tepat untuk mewarisi segala hartanya, dulunya dia hanya orang yang gila kerja hingga tidak memiliki keluarga, bergonta-ganti pasangan namun tidak ada yang benar-benar membuatnya menikahi mereka, pada akhirnya dia merasa tidak ada gunanya memiliki segalanya jika satu keluarga pun tidak ada.
"Kau harus lebih sering berlibur, selama ini kau tidak pernah berlibur dan hanya bersamaku."
"Aku tidak punya waktu untuk liburan, lagi pula ada begitu banyak perusahaan yang harus di urus."
"Aku sungguh berterima kasih padamu Jugo, kau memang adalah keberuntungan untukku."
"Aku akan memanggil seseorang yang sangat terpercaya untuk merawatmu saat aku pergi, tidak ada satu orang pun yang akan melukaimu saat aku pergi." Ucap Jugo.
"Kau tidak pernah berubah, tenang saja, aku akan aman selama kau pergi."
"Tidak bisa seperti itu, kau harus di awasi, aku tidak mau ada yang membuat kesalahan selama aku pergi."
Pria tua itu hanya tersenyum, entah ini sebuah keberuntungan atau apa, anak yang di angkatnya dulu begitu peduli padanya, dia bahkan tidak segang membunuh seseorang yang mencoba melukai pria tua ini.
.
.
.
.
.
[ Konoha ]
Suigetsu tengah menguap di sebuah kafe, dia akan mengawasi dokter Sakura sepanjang hari selama dokter Sakura di luar, ada beberapa area yang tidak bisa di jangkau oleh Sasuke, pemuda itu hanya bisa mengawasinya melalui CCTV yang berada di jalanan dan berhasil di bajaknya.
"Kopi anda tuan." Ucap seorang pelayan dan menaruh kopi hangat di atas meja Suigetsu.
"Terima kasih." Ucap Suigetsu, menyeruput kopi hangatnya dan sesekali menatap sekitar, dia masih mengawasi di sekitarnya.
Dreet…dreeet…
"Ya?" Ucap Suigetsu, sedikit terdengar malas, sebelumnya Sasuke mematikan komunikasi mereka begitu saja.
"Aku sudah berbicara dengan Sixteen, kabar terakhir One berada di Alaska tepatnya di Fairbanks ." Ucap Sasuke.
"Kau berbicara pada anak dengan badan besar itu? Dia bahkan tidak pernah ramah padaku, lalu akhirnya kau menemukan One, tapi itu mungkin tempat terakhir sebelum dia berpindah-pindah, lagi pula untuk apa kau menghubungi semua anak?"
"Mereka harus tetap di pantau bagaimana pun keadaannya, hanya One yang tidak bisa kita hubungi."
"Ada apa ini? Kau mencurigai teman sendiri?"
"Aku tidak mencurigainya, tapi setiap anak wajib melaporkan apapun yang terjadi pada mereka sekarang, apa kau tidak merasa aneh?"
"Ya aku tidak pernah merasa aneh, hanya kau yang pandai menganalisis Sasuke, setiap anak memiliki bakatnya sendiri meskipun mereka mendapat pelatihan yang sama. Kau bahkan langsung tahu jika ada bom di dalam vas bunga yang di bawa itu, sementara aku, aku hanya melewatinya saja tanpa sadar akan apapun."
"Apa kau tahu dimana bunga Hostersia akan mekar di bulan ini? Ini belum musim semi di kota Konoha, bunga itu belum mekar disini."
"Ah? Bunga apa? Hos apa? Aku tidak tahu apapun tentang bunga. Seharusnya kau bertanya pada fifty (50), dia bahkan punya hutan buatan sendiri." Ucap Suigetsu.
Suara Sasuke tiba-tiba menghilang, Suigetsu sudah tahu akan kebiasaannya, Sasuke selalu memutuskan komunikasi mereka begitu saja.
"Ah sial! Selalu saja dia memperlakukanku seperti ini! Untuk apa menanyakan bunga itu? Aku bahkan tidak tahu apapun tentang bunga, lagi pula fifty seperti anak tukang kebun." Pikir Suigetsu.
.
.
.
.
[kantor detektif]
"Aku menemukan data yang mirip dengan kedua pemuda itu." Ucap Kakashi dan menyerahkan beberapa lembar dokumen pada Yamato, di sana terlihat foto beberapa anak kecil, wajah salah satu dari mereka mirip dengan keponakan dokter Sakura dan pemuda yang di curigai mereka.
"Bagaimana kau mendapat data ini?" Ucap Yamato, Kakashi berhasil menemukan apa yang mereka cari, meskipun itu masih sebagian data.
"Ini adalah data rahasia, sebenarnya sangat sulit untuk menemukan data-data ini, tapi salah seorang yang berhenti dari lab yang ada di pulau kiri itu memberiku sedikit informasi, tapi aku tidak bisa menemuinya, dia mengirimnya secara rahasia padaku. Aku memikirkan jika mungkin inilah yang terjadi pada dokter Sakura, dia pun kesulitan memberikan informasi." Ucap Kakashi.
"Dugaan ini masih belum 100% terbukti, tapi mendengar informasi yang kau dapat, kemungkinan orang itu pun takut akan sesuatu seperti dokter Sakura."
"Kau benar. Dan ini adalah data anak-anak yang berhasil di dapatnya. Anak-anak ini di ambil dari berbagai kota, mereka di tempatkan di dalam laboratorium itu dan seperti menjalani sesuatu, ada sekitar 50 anak, namun sebagian data rusak dan hanya beberapa anak saja yang berhasil di dapatnya.
"Seven dan Ten, mereka memang sangat mirip dengan kedua pemuda itu."
"Kau bisa membaca bagian lain dari lembaran itu, mereka mencamtumkan nama dokter pengawas mereka, dan yang mengawasi anak bernama Seven adalah dokter Sakura."
"Apa ini bukan sebuah kebetulan?"
"Aku juga tidak bisa memastikan apapun, dokter Sakura mengatakan jika pemuda yang bernama Sasuke adalah keponakannya dari keluarga jauh, sementara di data ini mereka semacam pasien dan dokternya, data ini pun entah 100% akurat atau hanya data palsu, salah satu dari mereka tengah berbohong."
"Bagaimana dengan anak yang bernama Ten?"
"Ada kabar yang mengatakan jika dokter pendampingnya tewas setelah mengalami kecelakaan, kita tidak bisa menemuinya dan memastikan tentang data ini, hanya dokter Sakura yang bisa menjadi sumber informasi namun dia tetap diam."
"Bagaimana jika kita menemui orang yang mengirim data ini padamu?"
"Aku tahu kau pasti akan melakukannya, aku berhasil mendapat alamat pengirim data ini." Ucap Kakashi.
Kedua mulai pergi dan mencari seorang yang mengirim data itu pada Kakashi, namun dari luar, rumah itu seperti rumah kosong tanpa penghuni, area sekitarnya pun seperti tidak terawat sama sekali, tanaman berambat yang lebat dan rumput-rumput yang tinggi, beberapa dindingnya pun mulai rapuh dan cat-catnya terkupas.
Tok-tok-tok.
Kakashi mencoba mengetuk pintu yang usang itu, tidak ada jawaban, kembali mengetuknya lagi hingga terdengar suara dari sebuah lubang di pintu.
"Siapa kalian?" Ucap suara yang terdengar sangat tua.
"Ini aku, Kakashi, aku yang mencari data itu darimu."
"Pergi! Aku tidak akan mengatakan apa-apa, bagaimana kau tidak bisa memegang kata-katamu!" Ucap pria itu dan terdengar sangat marah.
"Aku hanya ingin memastikan data itu asli atau hanya bohong."
"Aku tidak bisa berbicara padamu secara langsung! Pergi dari sini sekarang juga! Kau tahu, nyawaku akan terancam karena kalian!"
"Lalu kenapa kau memberitahukan ini padaku?" Ucap Kakashi, masih tidak menyerah meskipun mereka di usir.
"Kau yang memintanya, tapi aku tidak akan membeberkan segalanya, pergi sekarang juga!"
"Bagaimana jika kami menawarkan perlindungan padamu." Ucap Yamato, akhirnya pria ini angkat suara, sejak tadi Kakashi tidak berhasil membujuknya.
Pintu usang itu akhirnya terbuka dan mereka melihat pria tua yang terlihat sedikit ketakutan, dia bahkan meminta mereka untuk segera masuk dan pintu itu di kunci kembali.
"Aku tidak akan cerita panjang lebar pada kalian, intinya data itu asli, aku terikat akan sebuah peraturan dan tidak bisa membocorkan segalanya." Ucap pria tua itu.
Kedua detektif ini saling bertatapan dan mereka menyadari akan ucapan pria tua itu sama dengan ucapan dokter Sakura.
"Aku kenal dengan salah dokter pendamping dari anak-anak itu, namun dia sepertimu, dia tidak bisa mengatakan apapun." Ucap Yamato.
"Dia bahkan tahu akan hal itu, siapapun yang membocorkan akan menerima akibatnya, itu bukan sebuah hukuman, tapi peraturan yang berlaku, informasinya seharga nyawamu." Ucap pria itu.
"Kenapa datanya begitu sulit?" Tanya Yamato.
"Kau akan terkejut dengan siapa saja yang berada di dalamnya. Aku yakin kalian bukan orang biasa. Kalian tidak mungkin berani seperti ini mencari informasi dariku."
.
.
TBC
.
.
Next...~
