Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 16 ~
.
.
.
Sakura pov.
Saat membuka pintu rumah, menatap Sasuke yang bersandar pada sisi pintu, apalagi sekarang? Jika dia berani memelukku, aku akan memukulnya, dia harus mendapat batasannya mulai sekarang, tapi Sasuke tidak juga bergerak setelah aku menyimpan rapi sepatu milikku.
"Ada apa?" Tanyaku, galak, aku harus selalu tegas akan tindakannya yang tiba-tiba.
"Apa kau masih ingat janjimu?" Tanyanya.
"Janji? Janji apa?" Ucapku, bingung, kapan aku membuat janji dengannya? Lagi-lagi mencari alasan lain.
"Aku pikir kau janji mengajakku jalan-jalan mengelilingi kotamu, mengajakku bermain di taman dan berbagai tempat yang bagus." Ucapnya.
Aku bahkan sudah melupakan janji itu, tapi saat itu dia masih kecil, aku menjanjikan sesuatu untuk seorang anak kecil.
"Kau sudah dewasa, aku tidak bisa mengajakmu jalan-jalan seperti itu lagi, lagi pula aku pikir kau tidak suka berada di luar." Sindirku.
"Aku ingin keluar, kemanapun, asal itu bersamamu, Sakura." Ucapnya.
Jantungku jadi berdegub kencang hanya karena ucapannya, kenapa aku begitu lemah hanya untuk ucapan manisnya? Sekarang Sasuke malah memanggilku 'Sakura' tanpa embel-embel 'dokter' lagi.
"Aku sibuk." Tolakku dan berjalan melewatinya.
"Jadi kau tidak peduli lagi padaku?" Ucapnya, ada apa lagi dengannya? Apa sekarang merengek adalah jalan terbaik untuk membujukku?
"Aku tidak punya waktu untuk jalan-jalan seperti itu."
"Kita lakukan beberapa kali, tidak harus dalam sehari." Bujuknya.
Kau memang sedang bermasalah yaa Sasuke!
"Ayolah, kau peduli padaku kan? Kita jalan-jalan." Ucapnya dan membuatku sampai harus menatapnya.
Ini terlalu sulit untuk di lawan jika dia menatapku dengan tatapan memohon.
"Ba-baiklah, aku akan mengatur jadwal." Ucapku.
"Sungguh?" Ucapnya dan terlihat senang, dia sampai memelukku girang.
"Lepaskan aku! Mulai sekarang jangan memelukku seenaknya."
"Tidak bisa, aku harus berusaha membuatmu menerimaku."
"Apa rencanamu sebenarnya?" Kesalku.
"Menjadi orang yang sangat penting untukkmu." Ucapnya dan sebuah senyum di wajahnya.
Deg!
Jantungku benar-benar tidak kuat, aku menyerah, aku menyerah, tapi jangan sampai Sasuke sadar jika aku tidak kuat lagi melawannya.
.
.
.
.
Hari yang cukup cerah, hari ini sangat-sangat mendukung, bahkan cuacanya bagus, kami benar-benar berlibur bersama, dan tujuan pertama kami adalah taman ria, ya aku pernah berjanji padanya, tapi saat dia masih kecil, aku pikir anak kecil akan sangat menyukai tempat ini, aku tidak tahu jika dia akan tetap datang meskipun sudah dewasa.
"Hari ini ada diskon untuk pasangan!" Teriak salah seorang pegawai dari taman ria ini.
Menatap Sasuke dan tatapannya terlihat menginginkan ucapan pegawai itu.
Baiklah! Aku tidak peduli lagi! Khusus hari ini saja kami adalah pasangan, hanya hari ini saja!
Tapi ada yang berbeda dari penampilan Sasuke, dia memakai kemeja garis biru dan hitam, celana jins, dia bahkan tidak menutupi apapun di wajahnya, setiap kami melewati para wanita, dia menjadi sorotan, aku tahu, dia terlalu tampan untukku dan juga terlalu muda, aku selalu membuat batasan untuk diri sendiri, bagaimana pun kerasnya Sasuke untuk tetap membuatku menerimanya, aku tidak bisa, seakan ada dinding besar yang akan terus menghalangi kita.
"Hati-hati, apa kau akan melamun terus?" Tegur Sasuke, genggaman tangannya mengerat, dia terus menggenggam tanganku dan aku sendiri tidak fokus akan jalanan.
"Maaf." Ucapku.
"Ada apa? Kau tidak bersemangat, apa hari ini begitu terpaksa pergi bersamaku?" Ucapnya, dia tengah menyinggungku.
Itu tidak benar, aku juga sedikit menikmati jalan-jalan ini, aku jarang mengambil liburanku selama beberapa tahun yang lalu, aku terus membuat diriku sibuk untuk bekerja dan bekerja, saat itu aku harus melupakan rumah tanggaku yang hancur dan kepergian orang yang sangat penting untuk hidupku, sekarang aku merasa bodoh sendiri mengingat apa yang sudah ku pikirkan dan lakukan untuk melupakan segalanya.
"Kau memikirkan seseorang?" Ucap Sasuke.
Terkejut,
Tiba-tiba saja Sasuke sudah berada tepat di hadapan wajahku.
"A-aku tidak sedang memikirkan seseorang!" Ucapku dan mengalihkan tatapanku, dia hanya membuatku malu saja.
"Jangan pikirkan pria lain, kau harus terus memikirkanku." Ucapnya dengan begitu percaya diri.
"Ha? Aku tidak perlu memikirkanmu juga, kau hanya membuatku pusing!" Tegasku.
"Pikirkan hal yang menyenangkan saja." Ucapnya.
Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Sasuke, kau terlihat biasa-biasa saja tapi ada hal yang masih kau tutupi, sejujurnya aku masih sulit percaya padamu.
Ending Sakura pov.
.
.
.
.
.
Normal Pov.
"Apa ini? Aku jadi seperti tengah mematai-matai orang yang tengah pacaran." Ucap Suigetsu, dari salah satu kafe yang ada di taman ria ini, Suigetsu tengah mengawasi Sasuke, hari ini Sasuke mengatakan dia memiliki sebuah rencana untuk mencari seseorang yang tengah mengincar Sakura, di tempat lain, Suigetsu melihat salah satu detektif yang menemuinya saat itu, dia pun tengah mengawasi Sakura dan sedang berbicara dengan seseorang yang mungkin temannya melalui ponselnya. "Apa ini tidak akan apa-apa?" Ucap Suigetsu, masih mengawasi sekitar, mengawasi apapun, bahkan orang-orang yang berada di sekitar Sasuke dan Sakura, sementara keduanya terlihat sangat mesra.
"Aku benci dengan rencana ini." Ucap Suigetsu.
Di tempat lain, Kakashi mengawasi Sakura, dia pun tengah berbicara dengan Yamato yang sibuk di kantor.
"Mereka tengah jalan-jalan bersama, ini terlihat sedikit berbeda jika keduanya pergi bersama, seakan menjadi pasangan dari pada seorang keponakan dan bibinya." Ucap Kakashi.
"Wajar saja, pemuda itu cukup tinggi namun umurnya masih sangat muda, sedangkan dokter Sakura sudah menjadi janda." Ucap Yamato, memikirkan hal positif.
"Apa kita perlu menanyakan hal itu lagi pada dokter Sakura? Pria tua itu tidak ingin menemui kita lagi."
"Mungkin akan sulit, tapi kita bisa menawarkan perlindungan penuh untuk dokter Sakura jika dia takut mengatakan segala informasi yang di ketahuinya."
"Aku juga setuju. Mereka sekarang cukup jauh, aku akan pindah tempat dan mengabarimu lagi nanti." Ucap Kakashi dan mematikan ponselnya, bergerak mengikuti Sasuke dan Sakura.
Keduanya masih berjalan santai dan telah naik beberapa wahana di sana, wahana berikutnya adalah kinciria, ini cukup tinggi dan besar, orang-orang sudah lama untuk mengantri, dari atas pun akan melihat seluruh area taman ria ini.
Saat ini Sasuke mengawasi sekitar, dia memikirkan jika mungkin seseorang akan terus mengikuti Sakura, dia masih memiliki Suigetsu sebagai orang yang akan mengawasinya dari belakang, sementara detektif yang di ketahuinya pun mungkin akan mengawasi Sakura.
Menatap Sakura, wanita itu terlihat senang, sebelumnya dia terus diam dan seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ini yang terakhir." Ucap Sasuke pada Sakura.
"Apa kau sudah ingin pulang?" Tanya Sakura, masih ada beberapa wahana dan Sasuke seperti tidak ingin berlama-lama.
"Kita bisa datang ke tempat lain." Ucap Sasuke.
"Aku pikir kau akan melakukannya di lain waktu, kau yang mengatakannya sebelum kita pergi." Protes Sakura, Sasuke tidak konsisten akan ucapannya
"Disini membuatku cepat bosan." Ucap Sasuke.
"Baiklah, aku harus menghadapinya dengan lebih sabar." Pikir Sakura.
Mereka pun mendapat giliran untuk naik, kinciria itu mulai berputar perlahan dan perlahan hingga naik ke atas, dengan posisi seperti itu semuanya akan terlihat.
"Ini sungguh indah." Ucap Sakura, wanita yang sudah 33 tahun ini sangat jarang menghabiskan waktunya di tempat seperti ini.
"Kau seperti baru saja melihatnya." Ucap Sasuke.
"Itu benar, aku jarang jalan-jalan seperti ini, aku juga tidak ingat kapan aku pergi keluar selain bekerja, selama ini aku sibuk bekerja." Ucap Sakura dan wajahnya terlihat sedih.
Sasuke memikirkan jika Sakura kembali mengingat masa lalunya, apalagi bersama pria yang tiba-tiba pergi darinya.
"Kau harus selalu mengajakku jalan-jalan." Ucap Sasuke.
"Pfff.. apa-apaan itu? Kau memang seperti anak kecil." Ucap Sakura.
"Ya, aku memang anak kecil, tapi aku bisa lebih dewasa jika kau membutuhkanku." Ucap Sasuke, dia pun duduk di sebelah Sakura, menyandarkan kepalanya ke arah bahu Sakura, menggenggam tangan wanita itu dan merasa cukup nyaman bersamanya. "Aku senang kita bertemu lagi." Lanjutnya.
Sakura hanya terdiam, jantungnya sedikit berdegub kencang kembali, dia harus menenangkan dirinya, ini terlalu manis untuknya, menatap ke arah kaca, mereka hampir berada pada ketinggian maksimal, kinciria ini akan berhenti sejenak.
"Bagaimana kau bisa melakukannya sekeras ini?" Ucap Sakura.
Sasuke bergerak untuk mengambil jarak dan menatap wanita itu.
"Kau ingin bersama wanita janda sepertiku? Kau tahu itu akan buruk, masa depanmu masih sangat jauh, kau bisa melakukan banyak hal di saat kau masih muda." Ucap Sakura, dia ingin membuat Sasuke sadar akan posisinya yang buruk dan hubungan mereka yang mungkin tidak akan berjalan lancar.
Cup..~
Sebuah ciuman singkat di bibirnya, Sakura hanya mematung dan menatap pemuda itu, dia selalu melakukan apapun secara tiba-tiba.
"Kenapa kau membuat semuanya menjadi rumit? Aku ingin ada hubungan jelas denganmu, aku tidak ingin menjadi adik bagimu, aku ingin menjadi pasangan untukmu, jadi aku berharap kau menerimanya, hubungan ini akan baik, aku jamin itu dan juga aku tidak tahu sampai mana aku bisa bertahan, aku tidak pernah merasa memiliki masa depan yang jauh." Ucap Sasuke, dia akan terus merasa was-was di setiap detiknya, merasa jika suatu saat prof Orochimaru kembali dan mengambilnya, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa di saat hal itu terjadi.
"Aku berbohong jika selama ini aku tidak takut, aku terus memikirkan jika mungkin aku akan bertemu dengan prof Orochimaru lagi, dia akan membawaku pergi." Ucap Sasuke.
"Aku tidak akan membiarkannya!" Tegas Sakura. "Bagaimana pun dia memaksamu pergi aku akan tetap menahannya, kita akan hidup bersama, maaf jika aku terus berpikiran buruk tentang hubungan ini, aku hanya merasa bingung untuk membangun kembali sebuah hubungan." Ucap Sakura, wanita ini masih memikirkan masa lalunya yang kandas begitu saja.
"Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, aku sangat peduli padamu." Ucap Sasuke. Hari ini pun dia merasa jika dia akan berhasil membuat Sakura menerimanya. "Apa kau akan menerimaku?" Tanyanya.
Sakura belum menjawabnya, menatap Sasuke dan memikirkan segalanya jika hubungan mereka akan menjadi resmi sebagai pasangan.
"Aku-"
BOOM!
Ledakan besar tepat berada di salah satu tiang kinciria.
.
.
TBC
.
.
okey sampai di sini saja, ehehehe, lumayan ya 3 chapter.
WOW ada ledakan, apa yang akan terjadi pada Saku dan Sasu?
see you next chapter,
selamat penasaran sampai hari senin, heheheh *ketawa jahat*
