Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 20 ~
.
.
.
Inilah yang dinginkan Sasuke, tidur bersama, dalam artian dia hanya ingin tidur denganku di ranjang yang sama bahkan posisi kami tidak dekat, meskipun begitu aku tidak bisa tidur, menatap ke arah Sasuke dan melihat punggung pemuda itu yang lebar, dia bahkan tidak menghadap ke arahku saat tidur.
Apa yang sudah aku pikirkan!
Aku merasa sangat malu, sangat malu dan hanya aku yang terlalu berpikiran macam-macam.
"Sakura"
"Ah! I-iya!" Panikku, aku sampai terkejut saat Sasuke berbalik. "A-ada apa?" Ucapku, masih berusaha menenangkan dekat jantungku ini.
"Aku akan pergi."
"Pergi? Kau akan kemana?"
"Aku akan menemui seorang teman, kotanya cukup jauh, mungkin aku akan pergi dalam beberapa hari."
"Uhm, tidak masalah, pergilah." Ucapku.
Aku tidak tahu apapun, bahkan tentang Sasuke yang sekarang, apa benar dia memiliki teman? Apa benar dia hanya pergi sebentar saja? Aku jadi terus memikirkan keraguan ini.
"Hey, apa yang kau pikirkan?" Ucap Sasuke, dia bahkan bergerak lebih dekat ke arahku.
"Tidak ada." Ucapku, berbalik membelakanginya.
Aku terus berpikiran negatif tentang Sasuke, hubungan yang baru saja di mulai dan berbagai macam pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku.
Terkejut.
Sebuah kecupan pada punggung leher, berbalik dan jarak kami semakin dekat.
"Kau tidak bisa berbohong di hadapanku." Ucap Sasuke.
Menatapnya, menatap pupil hitam yang pekat itu, mata pandanya sudah semakin menghilang, Sasuke mengikuti ucapanku, dia jadi tidak pernah begadang lagi, mungkin, aku juga harus percaya padanya, percaya akan ucapannya.
Memajukan wajahku dan mencup bibir tipisnya itu.
"Aku percaya padamu, jadi tenang saja, pergilah dan kembalilah secepat mungkin." Ucapku.
"Hn, katakan pada kedua detektifmu itu, mereka harus lebih melindungimu di saat aku sedang pergi, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu saat aku pergi. "
"Aku akan hati-hati, tenang saja." Ucapku dan tersenyum, Sasuke lagi-lagi mengkhawatir sesuatu.
Aku tahu itu, aku masih merasa di incar dan di awasi oleh seseorang, aku masih terus berpegang pada detektif Yamato dan Kakashi, mungkin aku bisa berbicara pada mereka tentang lab itu, aku merasa jika meskipun informasi itu di tutupi, nyawaku tetap terancam.
Sebuah ciuman lagi dari Sasuke, katanya balasan dari ciumanku, ini terlalu manis, seseorang mulai mengisi kekosongan di hatiku, aku seperti menaruh harapan besar ketika bersamanya, ciuman singkat itu sedikit membuatku menuntut, malam ini apa aku boleh sedikit egois? Memintanya lebih dari apa yang Sasuke lakukan?
Ciuman panas kami terhenti, Sasuke tengah berada di atasku dan menindihku, mata kami saling bertatapan dan napas kami sedikit memburuh.
"Apa kau lupa, aku masih 18 tahun." Ucap Sasuke dan aku sangat ingin tertawa.
"Uhm, maaf sedikit memaksamu." Ucapku dan tersenyum malu.
Tidak ada kegiatan lebih selain ciuman itu.
Dan esok paginya.
Hanya aku sendirian, aku tidak tahu Sasuke pergi jam berapa, dia bahkan tidak membangunkanku. Hari ini pun ijin sakitku sudah selesai, aku merasa lebih baik sekarang dan bisa kembali bekerja.
Berjalan ke arah kamar mandi dan menatap tubuhku yang hanya mengenakan pakaian dalam, perutku sedikit tergelitik setiap mengingat apa yang Sasuke lakukan, apa ini? Bercak memerah di mana-mana, dia meninggalkannya di seluruh tubuhku, aku sudah memperingatkannya jangan meninggalkan di bagian yang mudah terlihat.
Dia sedikit manis, apa ini hal pertama baginya? Apa aku orang yang pertama saat bersamanya? Aku harap itu.
Menyelesaikan kegiatanku di kamar mandi dan ada sarapan di atas meja, sebuah memo kecil dari Sasuke.
Nikmati sarapanmu dan aku akan segera pulang.
Lagi-lagi dia membuatku tersenyum malu pagi ini.
Namun.
Rasa bahagiaku hilang setelah kembali bekerja. Aku sudah tahu akan hal ini.
"Dokter Sakura, bagaimana kau bisa memiliki pacar dengan sikap seperti preman itu? Dia hampir memukulku bahkan mengancamku, jika bukan karena dokter Sai, aku akan menuntutnya." Ucap seorang dokter, dia yang sempat bermasalah dengan Sasuke.
Pagi ini, aku ingin memulai pekerjaanku dengan tenang setelah kembali dari masa sakitku, tapi dokter ini sungguh tidak mengerti keadaanku.
"Aku minta maaf mewakili sikapnya, pacarku itu memang sulit mengendalikan dirinya jika seseorang mengolokku dan aku sedang dalam keadaan sakit. Bagaimana jika posisi ini di balik, dokter? Kau sedang sakit dan aku mengolokmu bersama para staf lainnya?" Ucapku.
"Ucapan macam apa itu! Kau pasti terpengaruh akan pacarmu yang buruk itu! Dia bahkan jauh lebih muda darimu dokter Sakura, kau harus sadar akan umurmu!" Ucapnya dan dia semakin membuatku kesal, aku pikir kalimat sindiranku akan membuatnya sadar, namun dia mengubahnya lagi dan menyakutkan umur kami.
"Permisi dokter, aku masih ada kesibukan." Ucapku dan memilih pergi, aku tidak bisa terus bertengkar dengannya, aku yakin dia akan menceritakan kepada seluruh staf akan sikapku.
"Pagi dokter Sakura. Bagaimana keadaanmu?" Tanya dokter Sai padaku.
"Uhm, aku sudah merasa lebih baik, terima kasih telah menanyakannya." Ucapku.
"Kau bertengkar lagi dengan dokter itu?"
"Aku hanya tidak mengerti, bagaimana seseorang menyakitimu di saat kau baru saja sembuh, aku memang tidak suka dengan para staf di rumah sakit ini, sebaiknya aku mengusulkan perpindahan." Ucapku.
"Kau harus lebih sabar, mereka hanya berbicara seperti itu, tapi kemampuan mereka tidak ada apa-apanya di bandingkan kemampuanmu dokter." Ucapnya.
Menatap dokter Sai, kau juga merupakan salah satu orang yang sangat ingin aku jauhi.
Mungkin aku tidak perlu memikirkannya lagi, aku sudah bersama Sasuke, aku bisa merasakan jika hubungan ini akan kuat dan kami bisa bertahan.
"Aku akan terima nasehatmu, tapi jika batas kesabaranku sudah habis, aku benar-benar akan pindah, bahkan jika itu harus memaksa dokter Tsunade." Ucapku.
Ending Sakura pov.
.
.
.
.
.
Normal Pov.
[ Bandara Konoha ]
"Aku akan pergi dan secepatnya kembali setelah bertemu Fifty, aku tidak mungkin memintamu menjaga Sakura disaat kau harus menjaga Six, tapi jika kau menemukan sesuatu yang bermasalah, kau bisa menghubungiku secepatnya." Ucap Sasuke pada Suigetsu.
"Aku mengerti, lagi pula dokter Sakura memiliki dua detektif itu, mereka pasti semakin menjaganya. Jika kau tidak menemukan Fifty, kembali secepatnya. Aku punya firasat buruk tentang ini."
"Hn, akan aku pastikan itu."
Hari ini Sasuke akan berangkat ke sebuah desa yang cukup jauh dari Konoha, penerbangan memakan waktu selama 5 jam dan juga harus menggunakan kendaraan dari kota ke desa hingga 3 jam, Sasuke merasa sedikit khawatir akan Fifty yang masih belum menghubunginya kembali, dia harus segera mencari tahu dari mana bunga yang di kirimkan pada Sakura itu berasal.
.
.
[ Desa Oto ]
Sasuke akhirnya tiba di sebuah rumah yang cukup jauh dari pemukiman, rumah yang cukup besar dan luas, di sampingnya ada sebuah rumah kaca yang hampir sama luasnya dengan rumah itu sendiri, tidak banyak rumah yang berdekatan dengan rumah ini, suasana di sana pun sangat tenang dan cukup sepi, Sasuke harus menemui Fifty dan segera kembali, namun rumah dengan tiga lantai itu seperti tidak memiliki penghuni, Sasuke sudah mengetuk atau pun memencet bel yang ada, tidak ada satu pun orang yang terdengar atau akan membukakan pintu untuknya.
Sasuke tidak mengerti, beberapa hari yang lalu Fifty masih membalas pesannya, mereka pun sempat berbicara. Beberapa menit terlewatkan, Sasuke memutuskan untuk berkeliling dan mencoba mencari pintu belakang dari rumah ini, sesuatu membuatnya tidak tenang, mengambil sebuah handgun yang berhasil di bawanya, Sasuke membongkarnya dan kembali merakit handgun itu agar lolos dari bandara.
Langkahnya terhenti, ada bayangan seseorang yang tengah berada di rumah kaca itu, tapi dari postur tubuhnya bukan seperti Fifty, Sasuke masih mewaspadai sekitar, mencoba masuk dan akan berbicara pada orang mencurigakan itu.
"Jugo?" Ucap Sasuke, menurunkan handgunnya dan menyimpannya kembali.
"Sasuke? Kau mengagetkanku, aku pikir kau Fifty." Ucap Jugo, dia tidak menyangka akan bertemu Seven.
"Ada apa kau datang ke sini? Apa kau melihat Fifty?" Tanya Sasuke.
"Aku datang untuk mencarinya, dari seluruh anak, hanya dia yang ahli dalam tanaman, tapi beberapa hari ini Fifty tidak membalas pesanku dan dia tidak bisa di hubungi." Jelas Jugo.
"Ya, aku juga melakukan hal yang sama, aku datang karena Fifty tidak memberi kabar apapun, aku juga sedang membutuhkan bantuannya."
"Di dalam rumah tidak ada siapapun, bahkan rumah kaca ini tidak terkunci, di dalam sini masih rapi dengan beberapa buku yang di buat Fifty tentang tanaman beracun dan penawarnya, hanya saja anak itu entah berada dimana. Aku sudah mencoba menyuruh orang-orangku untuk mencarinya dan juga meminta bantuan anak-anak lain jika mereka pernah bertemu dengannya."
"Apa kau tidak memikirkan hal lain tentang ini?" Tanya Sasuke, menatap sekitar, suasana tenang yang tidak biasanya, dia harus semakin waspada dalam keadaan seperti ini.
"Aku bukan ahli analisis sepertimu Sasuke. Mungkin sebaiknya kita tunggu sementara waktu, mungkin saja Fifty sedang keluar atau sedang pergi ke suatu tempat."
"Apa dia hanya tinggal sendirian?"
"Informasi terakhir, dia tinggal bersama pasangan ahli tanaman, mereka mengangkat Fifty sebagai anak. Aku juga datang dengan tujuan untuk mengobati ayah angkatku, seseorang berusaha meracuninya dengan sengaja mengirim bunga untuknya, lalu bagaimana denganmu Sasuke? Tidak banyak informasi darimu yang aku dapat, kau jauh lebih tertutup dari semua anak." Ucap Jugo.
"Aku hanya tinggal bersama dokter pendampingku."
"Apa? Kalian tinggal bersama? Kau masih belum membunuhnya juga?"
Sasuke terdiam, ucapan Jugo tidak ada bedanya dengan Suigetsu, dia belum menuntaskan misinya.
"Uhm… aku tebak jika kau malah jatuh cinta pada doktermu itu, hahahahaha." Canda Jugo dan tidak mendapatkan tanggapan apa-apa, tawanya pun meredah, Sasuke hanya memasang wajah datarnya.
"Ya, kami menjalin hubungan." Ucap Sasuke.
"Apa! Sungguh? Kalian memiliki hubungan? Kau akan sulit melakukan misimu Sasuke."
"Aku tidak akan melakukannya?"
"Aku yakin jika Suigetsu marah besar padamu."
"Aku tidak mengatakan apa-apa pada Suigetsu, dia akan mengolokku, aku sudah mengatakan padanya jika aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dokterku."
"Kau jadi lemah? Lemah terhadap seorang wanita? Aku ingat jelas dokter pendampingmu, dia wanita yang ramah dan memperlakukanmu dengan sangat berbeda, tapi aku rasa kau sudah menjalankan misimu, dokter pendampingmu yang kedua adalah dokter yang membuatmu cukup menderita, jadi kau sengaja tidak melakukannya pada dokter pertamamu?"
"Hn, aku rasa itu sudah impas, apa aku salah? Bukannya aku tidak menjalankan misiku, dokter Sakura adalah wanita yang berbeda."
"Aku mengerti, aku mengerti, tapi anak-anak lain tidak akan menganggap enteng ucapanmu Sasuke, mereka pasti memikirkan kau terlalu lemah, aku hanya akan berada di pihak netral." Ucap Jugo.
.
.
TBC
.
.
Next...~
fifty adalah seorang wanita, kira-kira siapa yang cocok menjadi fifty? bantu author tentu karakter yang menurut kalian cocok :)
