Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 23 ~
.
.
.
Normal Pov.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin mati!" Teriak Sakura, bahkan matanya mulai basah, seseorang yang menahannya terlalu kuat hingga membuatnya sulit bergerak.
"Ini aku." Ucap suara yang sangat di kenalnya, bahkan orang itu melepaskannya, Sakura berbalik dan melihat wajah seseorang yang cukup di rindukannya.
"Sasuke! Sasuke, kau kembali!" Ucap Sakura, memeluk erat pemuda itu, tubuhnya tidak berhenti gemetaran, wanita ini sangat ketakutan perlawananya tadi sia-sia, menganggap orang ini akan membunuhnya, tanpa sadar dia pun menangis begitu keras.
"Hn, aku kembali." Ucap Sasuke, membalas erat pelukan Sakura dan mencoba menenangkannya, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Sakura hingga hampir memukulnya.
Setelahnya.
Sakura tidak melepaskan Sasuke dan terus menahannya di atas ranjang, ketakutan masih membayanginya.
"Aku menceritakan segalanya pada kedua detektif itu, aku sampai ketakutan jika pada akhirnya ada yang akan datang dan membunuhku. Maaf aku tidak sengaja akan memukulmu." Ucap Sakura, meskipun pukulannya tidak dapat mengenai Sasuke, pemuda itu jauh lebih cepat bergerak untuk menghindar.
"Tidak ada yang akan menyakitimu, aku janji akan hal itu." Ucap Sasuke, mengecup jidat Sakura dan memintanya untuk berbaring. "Apa kau terjaga hanya karena hal itu?" Tanya Sasuke.
Sakura mengangguk dan mulai berbaring, dia tidak bisa tidur sejak tadi.
"Tidurlah, aku yang akan menjagamu." Ucap Sasuke.
Sakura mulai tenang dan menutup matanya, pelukannya pada Sasuke tidak juga lepas hingga Sasuke harus menemaninya berbaring.
Beberapa jam kemudian, Sasuke baru bisa melepaskan pelukan Sakura, Sasuke pulang lebih awal meskipun tidak berhasil menemui Fifty, berjalan ke arah kamarnya dan melihat apa yang terjadi hari ini, tatapannya sempat terkejut, Sakura bahkan berbohong padanya, profesor Orochimaru sempat datang ke apartemen ini dan bersamaan dengan waktu Sasuke menghubungi Sakura, tidak ada hal khusus yang mereka ceritakan, tapi dari ucapan Orochimaru, dia hanya ingin Sakura berhati-hati pada anak-anak yang berasal dari lab itu, seakan mereka mengancam nyawa siapapun, hal itu benar, Sasuke pun tidak akan mengelaknya, selama ini dia sudah membunuh cukup banyak orang dan sekarang yang tertinggal hanya dokter Sakura.
Ending normal pov.
.
.
.
.
.
Sakura pov.
Membuka mataku, hanya mimpi, aku sempat bermimpi buruk, seseorang datang dan membunuhku, menatap Sasuke yang masih tertidur, memeluknya hingga membuatnya terusik.
"Maaf mengganggu tidurmu." Ucapku.
Hanya ada gumaman darinya dan membalas pelukanku, Sasuke tidak juga membuka matanya, semalam dia tiba-tiba pulang, aku sungguh ketakutan, aku terus berpikiran buruk jika ada yang akan datang membunuhku.
"Ijinlah hari ini hingga kau tenang." Ucap Sasuke, suaranya terdengar serak.
"Tidak apa-apa, aku akan bekerja." Ucapku.
"Aku akan menemanimu di rumah sakit."
"Ti-tidak usah, kau tahu, para staf dan dokter tidak suka padamu, mereka terus membicarakan sikap burukmu. Aku tidak ingin mereka mengatakan hal buruk padamu." Ucapku, merekalah yang salah, mereka seenaknya mencap Sasuke sebagai preman dan sebagainya.
"Kalau begitu datanglah terlambat, aku sangat merindukanmu." Ucap Sasuke, sebuah kecupan pada jidatku dan akhirnya Sasuke membuka matanya, aku bahkan tidak bosan untuk menatapnya. "Aku tidak tahu jika ada ancaman seperti itu pada dokter pendamping yang pernah bekerja lab." Ucapnya.
"Itu bukan sebuah ancaman, tapi sebuah peraturan, setiap dokter atau staf yang mencoba membeberkan informasi dari lab itu, tiba-tiba saja mereka mati tanpa di ketahui penyebabnya, aku sangat ketakutan dan merasakan jika ada yang mencoba membunuhku, aku pikir itu sebabnya aku terus mendapat teror, tapi sebelumnya aku tidak pernah menceritakan apapun dan pada siapapun." Jelasku, teror itu datang lebih awal sebelum akan menceritakan pada para detektif itu.
"Aku akan melindungimu." Ucap Sasuke dan mengeratkan pelukannya.
"Aku takut jika suatu saat aku akan meninggalkanmu." Ucapku.
Rasa bahagiaku mulai memudar perlahan, aku sangat takut untuk memikirkan hidupku tanpa sadar akan tiba-tiba berakhir, aku sudh mendapat kebahagiaanku namun aku terus di kelilingi rasa khawatir, jika saja ada waktu dimana aku tidak bersama Sasuke, apa aku akan mati begitu saja?
Aku juga memikirkan ucapan profesor Orochimaru, anak-anak dari lab itu sekarang bergerak dan yang di incar mereka adalah para staf dan para dokter, ini menjadi semakin menakutkan jika hanya aku saja dokter yang tersisa.
Menatap Sasuke, apa benar dia tidak punya niat lain padaku? Aku masih mengkhawatirkannya, sejak awal, seharusnya aku tidak menerima pekerjaan di lab itu, aku jadi perlu merasa bersalah seperti ini, tapi jika aku tidak bekerja di lab itu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan Sasuke.
"Sasuke." Panggilku, mengangkat wajahku dan menatap pemuda itu, wajah yang masih terlihat sangat muda, aku jadi sangat-sangat egois akan hubungan ini, mengecup singkat bibir pemuda itu. "Jika saja aku mati di tanganmu, aku merasa tidak masalah, ini mungkin akan menjadi semacam penebus dosa, aku juga terlibat dalam penelitian itu." Ucapku.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh, aku sudah mengatakan padamu berkali-kali, aku akan melindungimu, bagaimana pun keadaannya, aku akan tetap melindungimu, jadi teruslah hidup, kita akan terus bersama." Ucapnya dan membalas ciuman singkatku itu, Sasuke bergerak ke arah dadaku, kembali memelukku dan membenamkan wajahnya disana, mengusap perlahan kepalanya dan membiarkannya melakukan hal manja ini.
"Terima kasih Sasuke." Ucaku, aku rasa dia mungkin akan menjadi penolong untukku.
"Hey, apa bekas yang aku tinggalkan sudah menghilang?" Ucapnya dan mengangkat wajahnya untuk menatapku.
"A-aku tidak tahu." Ucapku malu, suasananya menjadi canggung.
"Aku akan membuatnya lagi, di mulai dari sini." Ucap Sasuke, mengangkat kaosku dan bergerak ke arah perut.
"Hahahah, hentikan! Jangan lakukan disana! Geli! Sasuke!" Ucapku dan aku tidak bisa menahan tawaku, setiap bibirnya yang hangat menyentuh perutku, rasa geli itu menjalar ke seluruh perutku, aku sampai harus menahan wajah Sasuke dan menjauh darinya.
"Jangan bergerak, aku harus memberimu tanda."
"Hahahaha, hentikan!"
Ending Sakura pov.
.
.
.
.
.
Sasuke pov.
"Aku berangkat." Ucap Sakura, menatapku, aku akan memeluknya erat dan mengecup keningnya sebelum dia pergi, aku memulai hubungan ini walaupun begitu banyak kebohongan yang di tutupi Sakura, dia masih belum jujur sepenuhnya padaku.
Aku kembali pulang lebih awal setelah tidak berhasil menemukan Fifty, dia menghilang begitu saja dan sekarang Judo sibuk dengan mengangkat anak kecil yang kami temukan di desa Oto, anak itu bahkan ingin membunuh kami atas perintah seseorang.
Aku berkesimpulan jika selama ini yang menyerang kami adalah prof. Orochimaru, dia bahkan menampakkan dirinya di apartemen Sakura, dia berusaha membuat cerita seolah-olah kami akan datang dan membunuh siapa saja yang terlibat dalam lab itu.
Aku tidak bisa membantah ucapannya pada Sakura, semua benar, itu adalah tujuan kami selama ini, tidak banyak staf yang tersisa yang bisa kami bunuh, sekarang hanya tinggal Sakura. Aku tidak mungkin membunuhnya.
Kembali ke kamarku dan menatap seluruh CCTV yang ada, menghubungi Suigetsu jika profesor Orichimaru hidup.
"Apa! Sungguh! Ah gila! Profer gila itu masih hidup? Biar aku yang mencarinya dan membunuhnya." Ucap Suigetsu.
"Hentikan tindakan gegabahmu, kau tidak akan tahu apa yang bisa di lakukan prof. Orochimaru, lagi pula kau harus menjaga Six." Ucap Sasuke.
"Aku tahu! Sial! Aku sangat kesal! Tapi aku perlu bantuanmu sementara waktu." Ucap Suigetsu.
Dan berikutnya.
Seorang anak kecil duduk tenang di hadapanku, seharusnya aku bisa menyembunyikannya, tapi sulit menaruhnya di tempat lain dan dia hanya sendirian, Suigetsu akan pergi ke sebuah tempat yang cukup sulit baginya membawa-bawa anak kecil, lagi pula dia tidak ingin meninggalkan Six sendirian di apartemennya, dia masih memiliki banyak tugas dan menitipkan Six padaku, ini sedikit membuatku pusing, jika Sakura pulang, aku harus menjelaskan banyak hal lagi padanya.
Aku sudah mulai jujur pada Sakura, walaupun tidak semua hal aku bisa jujur, termasuk misi utamaku untuk datang padanya, mungkin Sakura akan sangat marah dan merasa aku mempermainkannya, aku tidak seperti itu, aku tulus mencintainya, aku akan melakukan apapun agar melindunginya.
"Apa kita akan diam seperti ini saja?" Tanya Six padaku, sejak dia datang aku hanya menatapnya, meskipun sudah bertemu berkali-kali, aku masih tidak percaya jika dia adalah Six.
"Apa kau merasa pernah mati sebelumnya?" Tanyaku dan tentu saja membuat Six berwajah takut.
"A-aku tidak pernah mati, aku masih hidup, lihat, aku bahkan tidak seperti hantu." Paniknya.
Aku hanya mengajukan pertanyaan konyol, mereka memang sama, tapi tetap saja dia bukan Six yang dulu.
"Apa kau lapar? Aku akan membuat makan siang untukmu." Ucapku.
"Ya, aku lapar." Ucapnya dan terlihat bersemangat.
Beberapa jam berlalu.
Sakura hanya mematung menatap ke arah Six, akhirnya aku menjelaskan segalanya, aku sampai mengatakan jika Six yang menyebabkan ledakan itu, tidak banyak hal yang katakan Sakura, wanita itu terus menatap Six, menatap setiap inci tubuh anak kecil yang terlihat takut dan sedikit pemalu, aku sangat iri ketika Sakura lebih dekat padanya dan menyentuh tubuhnya, apa dia tidak sadar jika Six itu anak laki-laki?
"Aku sempat sedikit mempelajari tentang kloning, jika benar Six adalah kloning, ini sangat sempurna, bahkan tidak ada cacat sedikit pun, kemiripan hampir 100%, siapa yang berhasil melakuan penciptaan ini?" Ucapnya, bahkan tatapannya itu sangat kagum, aku sampai lupa akan siapa Sakura, dokter yang dulunya penuh ambisi untuk belajar dan melakukan penelitian, itulah mengapa dia berada di palau Kiri dan salah paham akan penelitian yang di lakukan profesor gila itu.
"Berhenti menyentuhnya." Ucapku dan menarik Sakura menjauh darinya, berapa lama lagi dia akan menyentuh Six, apa dia lupa jika aku pacarnya?
"Ma-maaf, apa aku membuatmu takut?" Ucap Sakura.
"Tidak, terima kasih kakak, aku senang bisa di terima di sini." Ucap Six dan lagi-lagi tatapan Sakura menjadi aneh.
"Kau dengar itu Sasuke? Dia memanggilku 'kakak'." Ucapnya dan terharu akan ucapan anak kecil itu.
"Kenapa? Apa harusnya memanggilmu bibi?" Ucapku dan mendapat cubitan di pingganggku, itu cukup sakit.
"Kau bisa tinggal disini sementara waktu." Ucap Sakura, dia mengabaikanku dan menatap senang ke arah Six, aku jadi benci akan anak kecil.
.
.
TBC
.
.
update...~
yap ternyata cuma si abang Sasuke, karena khwatir jadi dia pulang XD.
