Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 24 ~
.
.
.
Sasuke Pov.
Malam harinya, menatap Six dia harus mendengarkanku.
"Jangan menyentuh apapun di kamarku, jangan melakukan apapun di kamarku, dan jaga coba-coba mengacak-ngacak apapun di kamarku, jika saja kau ketahuan melakukan sesuatu, aku bisa membunuhmu kapan saja." Ucapku dan menatap serius padanya.
Aku tidak bisa membiarkannya tidur bersama Sakura, dia tidak boleh tidur di kamar Sakura, Sakura pun marah jika Six tidur di sofa saja, dia harus tidur di kamarku, tapi aku harus memberinya peringatan agar tidak menyentuh apapun di dalam.
"Aku mengerti." Ucapnya dan meskipun tatapannya ceria, aku masih tidak bisa percaya padanya.
"Aku akan langsung tahu apapun, jadi jangan melakukan sedikit kesalahan, satu hal lagi, jangan katakan apapun pada Sakura isi kamarku, kau akan tahu akibatnya."
"Ba-baik, aku akan mendengarkanmu Sasuke." Ucapnya.
Deg.
Sial! Lagi-lagi aku mengingat Six yang dulu setiap melihat tingkah anak kecil ini.
"Baiklah, tidur sekarang juga." Ucapku dan membiarkan Six masuk ke kamarku, aku sudah mematikan segala perangkat yang ada di kamarku, bahkan komputer yang ada di dalam tidak akan bisa di aksesnya tanpa kode dariku.
"Kau sungguh membiarkannya masuk ke kamarmu?" Ucap Sakura, kami pun bersiap akan tidur.
"Ya, mau bagaimana lagi, dia harus tidur di sana." Ucapku, aku tidak ingin melihat kau tidur dengannya.
"Ini tidak adil, kenapa aku tidak boleh masuk ke kamarmu?" Protes Sakura.
Menatapnya, aku sudah jujur beberapa hal namun hal lainnya tidak, selain misiku yang tidak aku lakukan, dan juga kamarku, kamar itu berisi banyak layar dan Sakura pasti akan sangat marah jika tahu selama ini aku mengawasinya lewat CCTV.
"Hanya para lelaki yang boleh masuk ke kamarku." Alasan bodohku.
"Ah, baiklah, aku tidak ingin berdebat denganmu." Ucapnya dan mulai berbaring.
"Apa kau marah?" Tanyaku.
"Aku tidak marah, tidur-tidur, aku harus bekerja besok pagi." Ucapnya, meskipun begitu, Sakura tetap terlihat marah.
Bergerak ke arahnya lebih dekat dan memeluknya dari belakang, aku rasa ini jauh lebih nyaman.
"Jangan menyentuhku dan tidur di ujung sana." Ucapnya, melapaskan pelukanku dan mendorongku jauh hingga tepat ke ujung ranjang.
"Bagaimana kau bisa lakukan itu padaku? Biarkan aku tidur di dekatmu." Ucapku.
"Tidak, menjauh atau aku tidur di luar."
Wanita memang sangat sulit untuk di mengerti, apa dia sangat ingin masuk ke kamarku? Aku hanya belum bisa membuang benda-benda yang ada di kamarku, aku harus mencari tahu siapa yang ingin membunuh Sakura, dengan begitu aku bisa tenang, aku masih harus mengawasinya.
Mengambil sebuah bantal dan berjalan keluar, tidur di sofa akan lebih baik.
"Mau kemana kau?" Ucap Sakura, katanya tidak marah, tapi alisnya terus berkerut.
"Tidur di luar agar kau senang." Ucapku.
"Kenapa kau jadi kekanak-kanakan seperti ini? Kembali ke ranjang dan tidur." Tegasnya.
Sejujurnya aku semakin tertarik ketika akan mengganggunya, dia masih terlihat marah, memintaku untuk tidak keluar dari kamar ini.
"Kau harus tidur sambil memelukku agar aku tidak keluar." Ucapku.
Sakura terdiam, wajahnya merona, wanita yang sangat mudah untuk di goda, aku suka setiap melihat wajahnya seperti itu.
"Tidurlah, aku tidak akan melarangmu melakukan apapun lagi." Ucapnya.
Aku selalu menang, bagaimana pun Sakura marah padaku, ini hanya hal sederhana, jika saja dia tahu segalanya, apa Sakura masih akan peduli padaku? Apa dia masih akan tetap membiarkanku meskipun aku masih tidak mengatakan hal lain padanya.
Ending Sasuke pov.
.
.
.
.
.
Sakura pov.
Pagi ini, menyiapkan sarapan, meskipun masakanku tak seenak masakan Sasuke, terdiam sejenak saat menatap meja makan, suasana hangat apa ini? Aku jadi merasa aneh sendiri saat menatap meja makan, di sana ada Sasuke dan anak kecil yang berkode Six, kami jadi terlihat seperti keluarga kecil, aku selalu mendambakan hal ini, meskipun ini hanya sementara, aku terus memikirkannya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke dan menghentikan sarapannya, Six pun ikut-ikutan menatap ke arahku.
"Apa masakanku enak? Aku kurang percaya diri saat memasak untuk orang lain." Ucapku.
"Ini enak, aku jarang makan seperti ini saat di bangunan itu." Ucap Six, anak kecil yang terlihat sangat polos.
"Masakan Sakura memang akan selalu enak." Ucap Sasuke.
Aku jadi malu akan pujian mereka.
"Aku akan pergi bekerja, aku harap kalian tidak membuat berantakan rumah." Ucapku.
"Kami bukan anak kecil." Ucap mereka dan Six pun menatap tidak terima padaku.
Ya aku tahu, kalian bukan anak kecil biasa, kalian anak-anak yang hebat.
Aku tidak perlu khawatir jika meninggalkan mereka berdua di apartemen.
Saat tiba di rumah sakit, seorang perawat meminta padaku untuk datang ke ruangan dokter Tsunade, ada apa ibu direktur memanggilku sepagi ini?
"Akhirnya kau datang dokter Sakura, seseorang ingin menemuimu." Ucapnya dan kami kembali bertemu, profesor Orochimaru ada bersama dokter Tsunade. "Aku akan meninggalkan kalian berdua, silahkan berbicara." Ucapnya.
"Selamat pagi dokter Sakura, maaf menyita sedikit waktumu." Ucapnya.
"Ti-tidak masalah, ada apa hingga membuat profesor ingin menemuiku seperti ini?" Tanyaku, aku harus selalu waspada dan tenang.
"Bukannya aku ingin menuduhmu atau apapun, tapi dokter Tsunade mengatakan jika seorang pemuda yang bersamamu sangat mirip dengan Seven."
Terkejut mendengar ucapan profesor Orochimaru, aku lupa jika Sasuke pernah datang ke rumah sakit bahkan membuat masalah, dokter Tsunade mungkin sudah menemuinya.
"Sebenarnya aku juga kurang yakin, dokter Tsunade hanya mengatakan kemungkinan dia, jadi aku ingin mengetahui yang sebenarnya, dokter Sakura." Ucapnya dan menatapku, dia bahkan memasang wajah ramah itu.
Terdiam sejenak dan terus menatapnya, aku bingung harus mengatakan yang sebenarnya, aku harus melindungi Sasuke, profesor Orochimaru hanya bercerita seakan-akan dia merasa bersalah dan ingin menebusnya, tetap saja aku tidak bisa percaya sepenuhnya pada prof. Orochimaru.
"A-aku juga tidak tahu, mungkin dokter Tsunade keliru." Alasanku.
"Begitu yaa, aku pikir kau akan bekerja sama denganku dokter, aku sudah berharap jika benar dia adalah Seven, aku menjanjikan sebuah kebebasan dengan sebuah syarat untukmu."
"Kebebasan? Apa benar yang kau katakan profesor?"
"Iya, aku berjanji padamu."
"Lalu, syarat apa yang akan aku lakukan jika benar aku bisa menemui Seven?"
"Bekerja di lab baruku, aku merekrut beberapa orang baru, kau bisa melihat-lihat dulu sebelum setuju, aku tidak ingin menggunakan metode yang sama seperti dulu dan mungkin kau tertarik mempelajari kloning manusia."
Teringat akan anak kecil yang sedang bersama kami, jadi benar dia adalah ciptaan profesor Orochimaru?
"Bagaimana dokter?"
"Aku tidak bermaksud berbohong padamu profesor, apa benar anak dengan nama Six adalah hasil percobaanmu?"
"Jadi apa kita akan berbicara lebih jujur sekarang? Aku juga tidak tahu Six sedang melakukan apa, dia bukan anak yang cepat lengah."
Kembalit terkejut akan ucapannya.
"Jangan sakiti Sasuke! Aku akan melakukan syaratnya!" Tegasku.
Apa yang sudah aku lakukan? Seharusnya aku tidak membiarkan mereka berdua di apartemen.
"Aku senang mendengarnya dokter, aku juga tidak akan menyalahkanmu, aku tahu kau cukup peduli pada Seven atau seperti yang kau ucapkan, kau terus memanggil namanya." Ucap profesor Orochimaru.
Setelah pembicaraan itu, aku tidak bisa tenang jika terus bekerja, bergegas pulang, aku ingin tahu apa yang akan di lakukan Six pada Sasuke. Aku harap mereka tidak saling membunuh disana.
Membuka pintu rumah dan tidak menemukan mereka.
"Sasuke! Six!" Teriakku.
"Ada apa? Kau pulang cepat?" Akhirnya aku menemukan Sasuke, berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
"Ka-kau tidak apa-apa?" Ucapku, khawatir dan memperhatikan keadaan Sasuke, dia terlihat baik-baik saja.
"Ada apa denganmu? Aku baik-baik saja. Apa kau sudah merindukanku dan bergegas pulang?" Ucapnya, di saat seperti ini Sasuke masih saja bercanda.
"Dimana Six?" Tanyaku.
"Suigetsu sudah membawanya pulang." Ucapnya.
Mungkin aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku juga tidak peduli akan anak berkode Ten(10) atau Suigetsu, saat ini aku hanya peduli pada Sasuke.
"Hey, kau ini sangat aneh, katakan apa yang sudah terjadi?"
"Tidak ada, aku hanya, uhm, benar aku sangat merindukanmu." Ucapku dan kembali memeluknya.
"Kau benar-benar aneh." Ucap Sasuke.
Maaf Sasuke, mungkin aku akan sedikit berbohong padamu, aku hanya ingin kau bebas dan tidak lagi incar oleh prof. Orochimaru, dengan begini rasa bersalahku sedikit berkurang, tapi pertama-tama aku harus mengecek apa yang di katakan prof. Orochimaru jika dia tidak meneliti seperti dulu.
.
.
TBC
.
.
update...~
sorry kelamaan update, hehehehehe. terus pas update, ternyata dikit chapternya, heheheh biar penasaran, hehehhehe, =w=
maaf ya jika jarang-jarang balar review, author akan jawab semua pertanyaannya lewat chapter aja biar nggak kena spoiler XD
.
.
See you next chapter...
