Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 33 ~

.

.

.

Normal Pov.

Sarutobi dan seluruh pasukannya hanya terdiam, di depan mereka ada begitu banyak anak kecil, mereka juga tidak mengeluarkan tembakan begitu saja, anak-anak kecil itu akan terkena peluru nyasar mereka.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Yamato, walaupun mereka tidak melakukan apa-apa, senjata yang mereka gunakan masih tetap mengarah ke depan, mereka akan mewaspadai jika ada serangan dadakan.

Dari pihak penjaga pun belum ada yang menembak, mereka masih menjadikan anak-anak kecil itu temang mereka, beberapa di antara anak kecil itu, mereka menangis ketakutan.

Tiba-tiba para penjaga itu berjatuhan satu persatu, mereka yang berada di barisan terdepan mulai tidak tenang dan berbalik, suasana yang tidak begitu terang dan kembali beberapa penjaga yang lainnya tiba-tiba tumbang dan berteriak, tidak ada pilihan lain, para penjaga yang masih ada di barisan terdepan menembak ke belakang, hal ini membuat mereka tidak fokus akan apa yang ada di hadapan mereka.

Pasukan Sarutobi menyerang, mereka pun menembaki para penjaga yang tersisa satu persatu, sementara anak-anak kecil itu cukup mendukung, mereka segera berjongkok dan menutup kuping mereka.

Para penjaga berhasil di kendalikan, Sarutobi bisa melihat dua orang gadis yang masih berdiri, salah satunya gadis yang menemuinya dan mengirim pesan rahasia itu.

"Aku pikir pasukanmu sangat hebat, bahkan seperti ini kalian terlalu lama mengulur waktu." Ucap Tayuya.

"Hey, jaga bicaramu!" Tegur Yamato.

"Sudahlah Tayuya, kita harus kembali ke ruangan kaca." Ucap Ino.

Mereka pun bergegas, sebelumnya saat akan menuju ruangan kaca, keduanya berhenti setelah melihat para penjaga yang tidak bergerak juga, mereka melihat pasukan Sarutobi yang tidak bisa menyerang akibat anak-anak kecil yang ada di lab ini di jadikan sebagai tameng para penjaga.

Anak-anak kecil itu mulai di bawa keluar oleh pasukan lainnya, setengahnya lagi akan terus masuk mengikuti Sarutobi dan yang lainnya.

Sementara itu.

Sasuke menatap pintu ruangan yang menyekapnya terbuka, alarm penyusup terus berbunyi, rantai pada lengannya pun terlepas begitu saja, Sasuke ingin tahu apa yang terjadi pada lab ini, suasananya seperti sangat kacau.

Berjalan keluar dari ruangan yang cukup lama menahannya dan melihat sekitar, lorong-lorong dengan cat berwarna putih dan di ujung lorong ini, dia melihat Kimimaro berdiri seperti tengah menunggunya.

"One?" Ucap Sasuke.

"Lama tak jumpa, Seven."

"Apa yang kau lakukan?"

"Membebaskanmu."

"Aku tidak percaya akan ucapan sederhana itu."

"Baiklah, ikut aku, semuanya akan bebas, termasuk doktermu."

"Aku tidak akan percaya apapun lagi dari negosiasi bodoh kalian. Masih menjadi anjingnya juga? Apa kau tidak pernah sadar?"

"Aku hanya membalas kebaikannya."

"Itu bukan membalas, kau hanya menjadi bonekanya. Untuk apa kita kabur bersama jika kau yang membuat semuanya kembali dalam masalah!" Teriak Sasuke.

"Mau sampai kapan kalian akan lari? Ayah akan tetap menemukan kalian, kalian adalah anak-anaknya, kalian yang harus patuh padanya."

"Aku tidak peduli." Ucap Sasuke.

"Sasuke!"

Sasuke menoleh dan melihat Jugo dan Suigetsu dari arah belakang, mereka menghampiri Sasuke dan menatap ke depan.

"One! Kau yang menolong kami! Kenapa kau tidak berpakaian?" Ucap Suigetsu, menatap pemuda itu yang hanya menggunakan celana jins tanpa atasan, pakaiannya di robek oleh Sakura.

"Itu bukan sebuah pertolongan." Ucap Jugo dan menatap serius ke arah Kimimaro.

"Putuskan Sasuke." Ucap Kimimaro.

"Apa yang sedang kalian rundingkan?" Tanya Suigetsu, mereka baru saja tiba, Sasuke dan Kimimaro seperti sudah berbicara banyak.

"Kau yang harus sadar." Tegas Sasuke.

"Sepertinya tidak ada jalan untuk berdamai. Aku di perintahkan membunuh kalian semua jika kalian tidak mematuhiku." Ucap Kimimaro dan berlari lebih cepat ke arah mereka.

Suigetsu bergegas maju ke depan Sasuke menghalangi serangan Kimimaro.

"Kita berbicara dulu! Ada apa dengan-" Ucapan Suigetsu terputus.

Bugghtt!

Kimimaro jauh lebih kuat hingga tendangannya sulit di tangkis oleh Suigetsu, pemuda itu terpental, menabrak tembok, namun dia masih bisa berdiri.

"Tidak ada waktu bicara, dia jauh lebih di kendalikan." Ucap Sasuke.

Mereka benar-benar saling melawan satu sama lain, di samping Kimimaro harus melawan Sasuke, dia harus menangkis semua serangan Jugo.

"Aku benar-benar akan membunuh pengkhianat sepertimu!" Kesal Suigetsu, dia pun turut akan perkelahian itu.

Serangan pukulan dan tendangan dengan berbagai pola yang berbeda-beda, hanya saja Kimimaro masih lebih tanding dari ketiganya.

.

.

.

.

Di sisi lain.

Sakura mulai sadar dengan rasa sakit yang menjalar di perutnya, Kimimaro cukup keras memukulnya, wanita ini akhirnya sadar sepenuhnya setelah Sai menaruhnya di dalam sebuah mobil.

"Kenapa kau percaya padanya?" Ucap Sakura, nada suaranya terdengar lemah.

"Sakura? Kau sudah sadar?" Ucap Sai, dia pun sangat khawatir.

"Anak itu berbohong, biarkan aku pergi mencari Sasuke." Ucap Sakura, setiap bergerak perutnya akan terasa sakit.

"Tidak, dia berkata jujur." Ucap Sia dan mencegat Sakura.

"Apa yang kau ketahui darinya?"

"Dia datang memintaku menolongmu."

"Kau benar-benar bodoh."

"Ya, aku sangat bodoh, aku hanya ingin melindungimu."

"Sai-"

"-Tidak Sakura, jangan salah paham, aku sudah katakan padamu jika aku tidak memikirkan untuk kita kembali lagi, tapi kau sedang dalam bahaya."

"Kau lebih percaya pada aku atau pemuda bernama Kimimaro itu?" Tanya Sakura, menatap serius ke arah Sai.

"Aku tidak tahu! Saat ini keselamatanmu yang sangat penting!"

"Aku akan mengatakan segalanya, bahkan sebelum kita bertemu, dan satu hal, pemuda itu sangat berbahaya, dia adalah salah satu anak percobaan yang di uji oleh profesor Orochimaru."

"Aku pikir kau mengagumi profesor! Bukannya dia orang hebat!"

"Itu dulu! Setelah aku tahu apa yang di lakukannya pada anak-anak itu!" Tegas Sakura. "Aku mohon, percaya padaku, Sasuke dalam bahaya." Ucap Sakura, untuk kesekian kalinya membuat Sai percaya.

"Baiklah, tapi kita pergi bersama." Ucap Sai, membantu menuntun Sakura kembali masuk ke dalam gedung.

.

.

.

.

.

Kimimaro masih kuat untuk menahan serangan ketiga pemuda itu, selama ini dia harus menjalani berbagai pola serangan selama masih kecil hingga dewasa, dia terus berlatih meskipun harus menahan rasa sakit.

Dor!

Kegiatan perkelahian mereka terhenti, Kimimaro mendapat tembakan tempat di dada kirinya. Ketiga pemuda ini menoleh dan melihat Fifty dan Three.

"Kalian tidak akan menang melawan One." Ucap Tayuya.

Kimimaro bertekuk lutut, Tayuya adalah anak yang memiliki keahlian dalam menembak jitu, setiap tembakannya tidak akan meleset.

Suigetsu terlihat kesal dan sangat ingin kembali melawan Kimimaro, namun pergerakannya di hentikan Jugo.

Sasuke, Tayuya, Ino, Jugo, dan Suigetsu hanya menatap Kimimaro yang masih berlutut dengan darah yang merembes dari bekas tembakan itu.

"Kalian harus tahu, kenapa para penjaga hanya menembak anak-anak tertentu." Ucap Kimimaro.

"Berhenti berbicara, aku muak mendengarkanmu." Ucap Suigetsu.

"Itu karena ayah sudah memilih kalian, dia sengaja membiarkan kalian bebas begitu saja, sengaja membiarkan kalian mengincar pada staf dan dokter untuk di bunuh, dengan begitu dia tidak perlu repot mencari satu persatu staf dan dokter yang bekerja di lab lama dan mengancam mereka, semua data dari lab lama akan hilang jika tidak ada satu pun dari mereka yang hidup. Tapi, Seven membuat kesalahan dengan membiarkan salah satu dokter pendamping yang masih hidup, Ayah berniat membunuhnya, tapi tidak sekarang, dia akan membunuhnya di hadapanmu Seven."

"Dimana Sakura?" Tanya Sasuke, tatapannya terlihat marah.

"Pria itu, aku tahu seluruh data mereka, mantan suami dokter itu, kami sengaja memancingnya agar membuat dokter Sakura kesulitan. Tapi, aku juga berbohong pada ayah, aku membiarkan dokter itu bebas." Ucap Kimimaro dan pemuda itu mulai merasakan sesak napas.

"Kita harus pergi dari sini." Ucap Tayuya.

"Jangan mati One, kita masih akan membuat perhitungan padamu." Ucap Ino, mengambil sesuatu dari saku jasnya dan meminumkannya pada Kimimaro. "Dia akan bertahan sementara." Tambah Ino.

Kimimaro kehilangan kesadarannya, Jugo segera menahan pemuda itu dan mengangkatnya.

"Aku harus mencari Six." Ucap Suigetsu.

"Tidak perlu, dia akan aman bersama para kesatuan khusus, saat ini kita harus benar-benar pergi." Ucap Tayuya, dia tidak ingin berurusan dengan para polisi khusus itu.

"Kalian pergilah, aku akan keluar setelah mencari dokter Sakura." Ucap Sasuke.

"Dasar bucin, tapi kau jangan mati, kita masih harus bertemu." Ucap Ino.

Sebuah anggukan dari Sasuke, mereka pun berpisah, Sasuke harus mencari Sakura terlebih dahulu, berlari di sepanjang lorong dan sebuah suara yang familiar untuknya.

"Sasuke!" Sakura terus meneriakan nama pemuda itu setiap berlari, sementara itu, Sai mewaspadai keadaan jika saja tiba-tiba ada yang menyerang mereka.

Langkahnya sempat terhenti, dan segera berlari memeluk pemuda itu.

"Apa kau baik-baik saja? Apa mereka melukaimu?" Tanya Sakura, memperhatikan pemuda itu baik-baik, tidak ada bekas apapun di tubuhnya dan dia terlihat sangat sehat.

"Aku baik-baik saja." Ucap Sasuke dan kembali memeluk erat wanitanya, sementara itu tatapannya mengarah pada pria yang berada tidak jauh dari mereka.

"Kau membawa beban yang berat." Ucap Sasuke dan tatapan itu tidak lepas dari Sai.

"Aku datang hanya untuk menolongnya sebagai seorang teman." Tegas Sai.

"Teman yang rela mengorbankan nyawanya? Itu sangat langka tuan, apa kau tidak ada maksud lain?" Sindir Sasuke.

"Su-sudahlah Sasuke, Sai benar, dia berusaha menolongku." Ucap Sakura, berusaha menghentikan mereka.

"Sudah ada mobil di arah sana." Ucap Sai.

"Tidak, kita tidak akan ke arah sana, sebaiknya kita ke sana." Ucap Sasuke, menunjuk arah berlawanan, menggenggam tangan Sakura dan mengajaknya pergi.

"Kenapa kau begitu tahu jalan keluar?" Ucap Sai, masih tidak percaya akan Sasuke.

"Karena teman-temanku berada disana. Jika kau ingin keluar lewat sana, silahkan saja, aku tidak peduli apapun yang terjadi padamu."

"Sai, ikuti perintah Sasuke, kau juga harus selamat keluar dari sini, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Ucap Sakura.

Ucapan itu cukup membuat Sasuke risih, segera menarik wanita itu untuk berjalan lebih cepat.

.

.

TBC

.

.


updatee...~