Sejak awal Bleach milik Tite Kubo

Ini hanya imajinasi liar yang tertuang dalam tulisan

Typo, OOC, AU, bahasa jelek dll

IchigoxRukia

Kritik Saran dibutuhkan untuk perbaikan

.

.

.

.

.

.

.

.

Alasan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bermain tebak menebak adalah permainan yang sering aku mainkan sejak kecil dan aku sangat suka itu. Kemenangan telak, serta kenyakinan bahwa otak yang aku warisi terbilang sangat jenius seperti menerbangkan angan tanpa batas di atas awan.

Tapi sayang, sejak memasuki sekolah menegah pertama. Otak yang selalu aku banggakan ini kemampuanya menurun dratis. Sampai berpikir bahwa kekuatan kejeniusan itu menghilang. Dan tinggalah kebodohan yang hampir permanen.

Sejak saat itu aku memiliki hobi baru bersama Matsumoto. Hobi baru yang sudah berjalan sejak pertama kali masuk ke SMA. Bahwa kami sepakat akan saling bekerjasama dalam memecahkan masalah seperti saat UAS berlangsung ataupun ketika ulangan harian dadakan dari wali kelas. Kami dua si joli memang terkenal dalam urusan seperti itu, terutama dikalangan para guru.

Ini adalah minggu kedua, sejak aku bertemu hantu tampan penuh pesona dengan sifat jutek nan judesnya. Ibaratkan saja keburukan selalu ada diantara kesempurnaan yang dia miliki. Contoh sederhana adalah sifat ceplas-ceplosnya. Aku sedikit berpikir keras kenapa dari sekian banyak orang yang memiliki kemampuan melihat barang tak kasat mata, hantu itu memilih diriku yang serba kekurangan ini untuk diikuti. Apa dia pikir aku ini pegawai dinas sosial khusus hantu? Intinya aku sedikit keberatan menampung hantu penasaran itu dalam sisi kehidupanku yang terbilang sederhana, sebelum kemampuan ini semakin memperburuk hidupku, dan yang paling parah dia sampai-sampai ikut ke sekolah dengan alasan klasik yang menurunkan harga diriku sebagai siswi SMA terhormat.

'Aku mengikutimu cuma ingin tahu, sejauh apa kemampuan otakmu ini bekerja di dalam kelas'

Sial-kan ucapanya itu. Seandainya dia masih jadi manusia, sudah ku injak-injak kaki jenjangnya itu. Oh iya aku lupa, dia kan tak memiliki kaki. Namanya juga hantu.

ooo

Aku sesekali memainkan bulpoin. Mengetuk ke arah dahi berharap otak ini mau bekerja sebelum bel istrirahat berbunyi.

Lima puluh butir soal kewarganegaraan seakan mengrong-rong minta segera diisi. Setengah jam dari waktu yang telah ditentukan untuk mengerjakan soal sudah berjalan, tiba-tiba otakku berhenti bekerja mendadak. Dengan hasil akhir lembar jawaban yang masih terbilang suci dari coretan tangan. Aku berusaha berpikir untuk mengisi jawaban. Tapi berakhir dengan sia-sia. Dan usaha terakhirku adalah menengok ke samping kiri dimana Matsumoto berada. Dari tampang yang di perlihatkan sudah aku pastikan, ia telah mengisi lembar jawaban itu.

"Hei" panggilku pelan

"Apa? "

"Sudah kau isi jawaban soal 1-50?" tanyaku

Dia sedikit berpikir, sebelum menyerahkan lembar jawaban itu padaku. Tersenyum dengan bangga karena usahaku tak berakhir buruk. Segera ku ambil lembar jawaban itu untuk ku salin. Akan tetapi lembar jawaban Matsumoto ada yang salah. Sangat salah menurutku.

Ichigo

Pria tampan idolaku

Suami tampanku dimana kau berada

Aku Cinta Ichigo

Dan seterusnya. Ah, kekeliruan terbesarku adalah kenapa dari sekian banyak murid di kelas aku harus menyontek milik Matsumoto dan berakhir dengan hasil yang sia-sia.

"He he he"

Tiba-tiba suara tawa aneh menjalar ke indra pendengaranku. Tepat disamping wajahku, seorang hantu bodoh tersenyum penuh arti. Sejak kapan dia sudah berada di dalam kelas?

"Ternyata otakmu itu tak lebih besar dari biji kuaci"

Sungguh, tensi darah dengan cepat naik dengan alasan yang jelas. Ku tatap tampang arogan hantu tak tahu terimakasih itu. Tepat jari telunjuk menunjuk hidung mancung yang bagaikan prosotan anak TK. Ekspresi merendahkan seolah menyapa saat wajahnya dan wajahku saling bertemu.

"Diam kau, dasar brengsek" selaku merendahkan nada suara, pelan-pelan mata ini melirik bahwa tidak ada orang yang memperhatikan diriku saat berbicara dengan hantu disebelahku. Berharap mereka tidak akan menuduhku sebagai si gila yang suka berbicara sendiri. Padahal mereka juga belum tahu bahwa aku memiliki dunia yang berbeda dari mereka. Katakan saja sebagai dunia imajinasiku, bukan ini dunia penderitaanku.

"Kau mengatakan apa? Padahal aku berniat membantumu dengan otakku yang terbilang jenius ini"

"Heh? Benarkah?"

"Tapi sayang, aku sudah berubah pikiran sejak 5 detik yang lalu"

Seandainya saja, ini bukan ujian ataupun berada di dalam penjara berkedok ruang ujian. Aku berharap bisa memukul kepala orangenya itu. Entah menggunakan benda apa saja yang ada disekitarku. Setidaknya memiliki tekstur keras yang bisa memecah kepalanya yang penuh akan kesombongan.

ooo

"Hei, Jeruk!"

Teriakku untuk ke tiga kalinya. Aku menatap hantu bernama Ichigo dengan penuh tanda tanya. Dia berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri. Disisi jalan, dekat emperan toko yang biasa aku lewati saat pulang sekolah. Ada sebuah toko bunga yang sejak tadi menjadi pusat perhatianya. Dan itulah alasan paling mendasar, kenapa tenggorokanku menjadi sakit karena memanggilnya.

Dipandang dari segi estetika menurut seni yang sudah aku pelajari di kelas. Toko bunga itu terlihat biasa tak begitu menarik. Berjajar rapi dengan bunga mawar putih dan merah yang berjajar di etalase toko. Lalu ada tulip dan ester dipajang di dekat pintu masuk. Sungguh toko bunga yang sederhana bukan? Tapi kenapa Ichigo begitu tertarik menatap toko bunga tersebut dan mengabaikan teriakan dariku? Sungguh, aneh.

Kaki ini melangkah menyusul, pura-pura ikut menatap isi dari toko bunga sederhana tersebut. Leher ini aku arahkan ke kanan dan kiri toko. Mencoba mencari obyek favorit si Hantu sampai-sampai lupa akan olokanku. Satu obyek yang kini menjadi perhatianku, kulihat lagi lebih dalam, disana didekat meja kasir terdapat seorang wanita berambut karamel panjang. Satu kata, cantik definisi yang aku berikan untuk wanita pemilik toko bunga tersebut. Pantas saja mata hantu ini tak mau lepas memandangnya. Apa ketika dia masih hidup, suka memfungsikan kedua matanya untuk hal-hal seperti ini? Dasar semua laki-laki sama saja.

"Hei, Jeruk!" Teriakku lagi lebih dekat.

"Berisik" Ucapnya mengimbangi suara dariku.

"Apa kau mati karena ditolak wanita itu? Lalu bunuh diri?" Tanyaku tanpa dosa.

Tatapan tajam langsung menyambutku. Ekspresi kekesalan tercetak jelas diwajah tampannya itu. Entah, mengapa kali tiba-tiba aku merinding dibuatnya. Tatapan itu seakan benar-benar menyuruhku untuk diam beberapa saat. Kedua iris madu kembali melihat ke arah wanita tersebut.

"Bisakah kau diam kali ini wahai sang kurcaci kecil?" Ucapnya beberapa saat kemudian.

"Kau_"Kata-kata buruk siapaku lontarkan tapi terpotong tanpa jeda oleh si Kurosaki. Terkejut? Aku sangat terkejut dengan ucapanya barusan. Kepalaku mendongak ke arah wajah dengan kesan arogan itu, seakan menanyakan sejak kapan dia ingat tentang penyebab kematiannya?

"Dia_wanita itu, mungkin tahu penyebab kematianku"

ooo

Takut-takut coba melangkahkan kaki mungilku memasuki toko bunga sederhana itu. Disambut dengan bunyi lonceng sebagai tanda bahwa sang pemilik toko kedatangan seorang pelanggan remaja perempuan.

Sambutan hangat, dengan senyuman yang menurutku bisa menaklukan hati para lelaki. Itulah cara wanita berusia 25 tahunan menyambut kedatanganku.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ke arahku dengan lembut.

"Bisakah kau membuatkanku setangkai bunga mawar merah?"

Aku pura-pura memesan setangkai mawar merah. Anggap saja ini adalah hari kebebasanku. Pada akhirnya hantu tampan itu bisa mengingat alasan kenapa dia bisa bergentayangan tanpa sebab. Lalu meneror remaja polos seperti diriku, dengan begini aku bisa menolongnya untuk kembali ke alam baka dengan tenang. Hidup tenang dan damai milik Rukia sebentar lagi akan kembali.

"Apa ini untuk kekasihmu?" Tanyanya kepadaku. Tangan halus itu dengan cekatan memotong stangakai mawar merah. Suara wanita itu lembut dan terkesan melayani pelanggan dengan sepenuh hati.

"Hah? Eh-iya" Jawabku kikuk. Sungguh di usia baru menginjak 17 tahun ini. Masa remajaku jauh dari kata pacaran. Mendengarnya saja terasa asing di telingaku. Apa ini karena efek sebagai gadis yang tak tahu tentang indahnya romansa cinta di masa muda? Yah, hati kecilku menangis meratapi kisah piluku. Oke, jangan berharap setelah keluar dari toko bunga ini kau akan disambut oleh pangeran berkuda teji yang tampan Rukia. Ucapkku dalam hati kecil.

Imajinasiku berkembang menggambarkan seorang pria tampan menjeputku dengan menaiki seekor kuda teji, menyambut sebagai seorang putri cantik yang tengah menanti kedatangan seorang pangeran. Tapi sayang imajinasi itu buyar dengan kedatangan seorang malaikat maut dengan membawa tongkat pencabut nyawa. Lalu tersenyum misterius ke arahku dengan wajah yang terbilang menawan? Heh? Ichigo? Seketika ku gelengkan kepala untuk mengakhiri imajinasi liar ini. Sungguh, mengingat wajah hantu itu sebagai malaikat maut membuat diriku lebih yakin. Ichigo Kurosaki suka merusak segalanya. Atau seandainya jika dia bereinkarnasi di kehidupan berikutnya, mungkin malaikat maut adalah pekerjaan yang pantas untuknya. Pandangan masa depanku tentang kehidupan hantu itu tidak terlalu buruk.

'he he he' tawa iblisku dalam hati.

"Pasti dia sangat berharga untukmu sampai-sampai kau yang memberinya bunga mawar merah ini" Wanita itu mengembalikan kesadaranku tepat pada waktunya.

"Eh-itu, iya" Jawabku lagi.

"Oh iya, apakah nona mengenal top model bernama Ichigo Kurosaki?" Ibarat memancing ikan, aku mencoba melempar umpan pada wanita tersebut. Bertanya tentang top model terkenal yang menghilang tanpa jejak.

"Ah, ten_tu saja siapa yang tak kenal dengan dia, semua orang pasti tahu" Ucapnya dengan nada terpotong. Ah, aku yakin pasti dia mengetahui sesuatu tentang Ichigo Kurosaki.

"Nona, bisakah anda membantuku? Aku mohon" Mata memohonku tak lepas memandang wajah nona itu. Berharap ada titik cerah untuk mengungkap misteri kematian si hantu tampan

.

.

.

.

.

TBC

Rukichigo : arigato, minaa... sy newbie disini, saya akan berusaha untuk tidak typo lagi lagi mungkin he hehe

Nejes : maafkan sy, ichigo tdk mati sbnarnya, cukup di fic ini aja ichigo sy bikin mati...

Azzura yamanaka : sy lanjutkan...! i_(@-@)_i