Disclaimer: I do not own the characters. But Story setting does belong to me.

A/N: …Gak akan banyak komentar. Saya baru sadar gak ngapdet ini selama setahun. *syedih*


.

.

.

Boboiboy Royal x Guardian
BOOK TWO

"The Lord of Flames, and His Little Ice-Floe"

.

.

.

"Kampret si Air! Pergi kagak ngomong-ngomong!"

Suara Taufan menggema di lorong Istana Signaria bagian barat. Air terkekeh pelan mendengar suara gema penuh kekesalan itu di telinganya, kemudian melangkahkan kaki secepat yang ia bisa. Ia tahu hari mulai petang, dan sudah saatnya mencari pangeran yang menjadi tanggung jawabnya. The Involucre Prince, Api.

.

.

.


Suara gemuruh teriakan dan pekikan-pekikan penuh antusias terdengar memekakkan telinga. Air menatap semua orang-orang itu, beberapa di antara wajahnya familiar—dengan baju lusuh dan keringat bau asam-garam bercampur amis. Meski begitu, sebagian besar dari mereka berbadan kekar, tubuh atletis dan pandai besi, serta berwajah gila judi. Orang-orang itu berteriak pada sebuah lapangan arena pertarungan, kemudian memaki dengan suara yang menghantam langsung ke gendang telinga. Masing-masing di tangan mereka tergenggam uang dan koin-koin Signaria.

Air melihat sekeliling, tidak satupun di antara penonton itu memiliki wajah yang ia cari. Hingga akhirnya ia menangkap suara seorang lelaki bertubuh tegap, memaki kencang.

"KALAHKAN DIA, BLAZE! APALAGI YANG KAUTUNGGU!"

Air menghela nafas. Ia berpikir dirinya cukup bodoh untuk berharap seorang Api berada di antara orang-orang ini. Tentu saja, berada di tengah arena pertarungan lebih cocok bagi seseorang seperti Api, ketimbang hanya duduk di bangku penonton dan berteriak memaki.

Air menyeruak di antara himpitan orang-orang bau keringat itu, dan berjalan sambil menyelinap, hingga sampai pada tujuannya, yaitu bagian depan dari bangku penonton. Sedikit mendangah, tampak dari ekor matanya, seseorang dan wajah yang mirip dengan dirinya sedang berdiri di tengah arena pertarungan. Dengan baju jubah putih panjang lusuh tanpa lengan, sepatu boot kulit lembu coklat, dan celana jeans pendek selutut, seseorang itu tampak sedang berdiri dengan kuda-kuda rendah siap bertarung.

Selamat datang di Signaria Street-Fight Underground (SSFU). Sebuah ajang pertarungan judi bawah tanah, yang diprakarsai cukong-cukong mafia dunia bawah dari Kerajaan Signaria. Tempat seluas 100 hektar dan berada 20 meter di bawah permukaan tanah itu, merupakan salah satu bukti nyata bahwa semakin terang sinar mentari, maka bayangan yang diciptakan pun akan semakin gelap.

Ya. Meski Signaria adalah kerajaan adidaya yang memimpin 124 Kerajaan di dunia, tapi kenyataan bahwa Signaria juga memiliki sisi buruk di bawahnya, wajib kita garis bawahi.

Falcon, Banckard, dan Gunder Family adalah clan-clan mafia terbesar yang tak boleh kita abaikan keberadaannya. Mereka pemilik investor absolut dari arena perjudian adu kekuatan terbesar di Signaria ini, sekaligus sebagai pemasok senjata selundupan terbaik di Signaria.

SSFU sudah bertahan selama 25 tahun, dan bila kau bertanya apakah keberadaannya ilegal atau tidak, tentu saja judi bawah tanah ini ilegal. Sayangnya, hanya secara moral. Secara hukum, SSFU tercatat sebagai bisnis perjudian yang legal dan sama baiknya dengan tempat perjudian poker atau pacuan kuda biasa. Tentu saja ada permainan oknum di sini, namun itu bukan masalah mengingat SSFU mengikuti semua syarat hukum yang ada, seperti menyediakan asuransi yang besar bagi para petarungnya—dan juga medali beserta jumlah uang yang tidak sedikit sebagai hadiah untuk para pemenang.

"API—err, maksudku—BLAZE! OI, BLAZE!"

Di antara teriakan antusias penonton, suara Air rupanya terdengar jelas oleh telinga sang kakak. Saat bertarung, sang kakak sempat menghampiri salah satu sisi pagar besi yang mengelilingi arena pertarungan.

"Yo! Air! Jarang melihatmu di sini. Mau lihat aku bertarung, eh~?"

Air mendecak, "Aku sudah memperingatimu supaya pulang sendiri, kalau sampai kudatangi seperti ini, kau yang salah. Kau ingat nanti malam akan ada perjamuan?" Air memelankan suaranya, agar tak ada yang mendengar.

Api memiringkan kepalanya, bingung. "Hmm…?"

"OI! JANGAN MENGABAIKANKU, BRENGSEK!" Seseorang bertubuh kekar di belakang tubuh Api berteriak dengan geram. Tubuh orang itu tiga kali lipat lebih besar dari Api. Alisnya tebal, dagu dan rahangnya terlihat kuat, dengan gigi yang mirip hiu buas. Meski demikian, suara berat nan mengerikannya tetap terabaikan oleh lelaki yang lebih akrab disapa Blaze di dunia bawah tanah itu.

"Memangnya ada perjamuan ya—Oh," ia menjentikkan jari, baru teringat. "Maksudmu Perjamuan Eschotta?"

"GLANDALE! KENAPA KAU BENGONG?! SERANG DIA LANGSUNG SELAGI DIA NGOBROL!"

Beberapa penonton terlihat jengkel melihat sikap santai Blaze—karena kemungkinan besar ia bertaruh untuk Blaze dan tak mau rugi, akhirnya malah mengompori lawan dari taruhannya. Tanpa basa-basi lagi, Glandale berlari ke arah Api, hendak meninju kepala belakangnya.

Tapi tinjunya hanya menghantam pagar besi di depan wajah Air.

Air malah terlihat santai setelah melihat bogem mentah melayang di depan wajahnya, padahal beberapa orang di sekitarnya buru-buru menyingkir dengan wajah ketakutan ketika tinju itu menghantam pagar besi. Ia berdecak, "Kau ini, mengganggu pembicaraan romantisku dengan kakak," katanya sarkas.

Glandale terkejut. Bukan hanya karena sikap santai orang di depannya, tapi juga karena sasaran tinjunya menghilang.

Glandale membalikkan badan, menengokkan kepala ke sana kemari, tapi ia tak melihat lawannya di dalam arena pertarungan. Hingga ia mendangah, dan melihat seseorang sudah melompat ke arah lehernya. Api menendang telak leher belakang orang itu, dan terdengar suara hantaman cukup keras. Glandale terjatuh dan menubruk lantai arena pertarungan. Dengan ukuran sepatu sebesar 42 saja, Api sudah bisa menghantam keras leher padat salah seorang petarung SSFU terbaik.

Meskipun kemudian Api jongkok dan mengelus kakinya dengan payah.

"Ugh…. Atit—" katanya dengan titik air di ujung mata.

"Bego," Air menatap malas tak selera Pangeran ceroboh didepannya itu.

Saat Api masih mengelus kakinya, Glandale kembali berdiri pada hitungan wasit yang ketiga. Sadar ada bayangan besar di sekitarnya, Api mendongah dan mendapati tinjuan besar sudah di depan wajahnya.

.

.

Suara dentuman keras terdengar, debu dari lantai arena pertarungan melayang cepat akibat dentuman itu dan menutup sebagian pemandangan penonton di arena pertarungan.

.

.

.

Air hela nafas, "Kutunggu di luar, Blaze. Lima menit," katanya sambil melipat kedua tangannya, lalu berbalik. Berjalan keluar dan menghilang di antara kerumunan orang.

Sebagian penonton bersorak senang. Terutama mereka yang bertaruh untuk Glandale. Namun sayang sekali, mereka bersorak terlalu cepat.

.

.

"Okee! Tunggu aku di luar, Air!"

.

.

Suara Api yang ceria terdengar dari balik kabut debu. Saat debu sedikit demi sedikit turun dan kembali ke tanah, penonton akhirnya bisa melihat apa yang terjadi.

Yakni seorang Blaze yang melambaikan tangan kanannya santai, sedang tangan kirinya yang menahan kepalan berukuran dua kali lipat ukuran kepalanya sendiri.

"Nah," Api tersenyum riang pada lawan yang tingginya hampir 2,5 meter itu. "Karena aku sudah dijemput oleh saudaraku, aku harus cepat menyelesaikan pertarungan ini. Gak apa-apa, kan? Tuan… uhm, siapa tadi? Gandol? Gandola? Gandulan? Gondol?"

Makhluk besar itu menggemertakkan giginya jengkel. "GLAAAAANDALEEEEEE—! RRRAAAAAGRRRGHHHH!" Ia mengamuk, lalu mengerahkan semua tenaga ototnya. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menghantam tubuh mungil di depannya. Tapi tenaganya itu sia-sia, setelah Api melompat lebih dulu, dan tersenyum menyeringai di tengah udara.

"Sorry, aku cepat lupa dengan nama orang lemah," ia mendelik, lalu berteriak, "TINJU BOBOLA API!"

BLAMM!

"UWOOOHH! Itu diaaa! Jurus tinju apinya!" beberapa penonton berteriak kacau melihat barisan api meledak di tangan Blaze, dan merubuhkan makhluk setinggi hampir dua setengah meter ke atas tanah. Wasit menghitung waktu, dan sudah hitungan ke sepuluh, Glandale tetap tak bangkit. Wajahnya gosong, dengan gigi yang rontok.

Wasit mengangkat tangan Blaze tinggi-tinggi. "PEMENANGNYA, BLAZE!" lalu suara dentingan bel tanda berakhirnya pertarungan dibunyikan.

Sebagian penonton memekik sorak, dan sebagian lagi memekik kecewa karena salah bertaruh.

.

.

.

.


"Yeheaaaay~ Satu medali lagi di tangaaaan~" Api berjingkat senang keluar dari tangga bawah tanah, dan mengacungkan medali emasnya tinggi-tinggi.

Air yang bersandar santai, tidur di atas dahan pohon pun berdecak kemudian, "Aku minta lima menit, dan delapan menit yang kudapat," lalu melompat turun, sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celana. "Kakak tau, kan? Air benci tempat itu. Gak bisa santai, gak bisa tidur. Berisik."

Api hanya nyengir, lalu menggantungkan tangan kanannya di leher saudara beda ibu itu. Air menjauhkan kepalanya sedikit dengan tatapan malas.

"Hey, ayolah, kau kan penjagaku yang paling baik sedunia?" Api mulai merayu, "Lagipula masih ada waktu untuk siap-siap, kan?"

Air melirik Pangeran pengampunya, dari atas sampai bawah, lalu menutup hidung. "Bau. Cepet pulang. Mandi," katanya lugas.

"Mandi bareng?" tanya Api dengan mata berbinar.

Air melotot cepat, "Ogah! Kita udah umur 16 tahun, bego! Masa' masih mandi bareng!"

"Hei, laki-laki mandi bersama itu simbol kebersamaan dan solidaritas!" Api berargumen.

"Persetan dengan simbol kebersamaan! Ogah mandi denganmu!" Air berjalan mendahului, dan setengah menghentakkan kakinya.

"Hei, tunggu!" Api berlari menyusul, "Aku capek habis bertarung tadi~ Gendooong~"

"Gak mau, males," jawab Air singkat dan cepat.

"Kalau gitu bawain medaliku!"

"Males juga. Aku bukan pembantumu."

"Nangis nih…" Api mengembungkan pipi.

Air menghentikan langkahnya, lalu menengokkan kepala ke sang Pangeran manja, dan pada akhirnya menghela nafas menyerah. Ia mengulurkan tangan pada Api. "Sini. Medalinya," ia berkata cepat pada Api.

Api tersenyum cerah. Tapi bukan medali yang ia serahkan, melainkan bobot tubuh seberat 60 kg. Melompat seenaknya ke punggung Air yang kemudian susah payah menyeimbangkan diri.

"O—OI! Kubilang medalinya!" lalu hela nafas pasrah, "Tapi kakak janji harus siap-siap setelah ini. Raja mengharuskan kita semua hadir di perjamuan itu," jelas Air sambil berjalan penuh tawakal menggendong saudaranya di punggung. "Sepertinya ia punya pengumuman penting."

"Ah, paling-paling pengumuman ahli waris tahta Signaria. Sudah pasti Kak Hali yang bakal jadi calon rajanya, kan?"

Air menatap datar ke depan. "Kakak... Gak ingin jadi Raja?"

Api terdiam, ia menatap tanah, lalu membenamkan dagunya di bahu Air. "Aku ingin," jawabnya. Ia melihat beberapa wanita dan gadis kecil dengan pakaian lusuh di sepanjang jalan yang mereka lewati. "Aku ingin memperbaiki negeri ini."

Api melompat turun dari gendongan adiknya. Ia berlari girang, menghampiri seorang pedagang roti dan memberikan satu kantong penuh koin emas yang sedari tadi dibawanya sejak keluar dari arena SSFU, kepada sang pedangang. Pedagang itu kemudian menyerahkan karung roti, dan membiarkan Api mengambil sendiri dagangannya. Beberapa roti pertama ia serahkan terlebih dahulu kepada wanita dan gadis kecil yang barusan dijumpainya, sementara roti-roti yang lain ia masukkan ke dalam karung roti.

Air terdiam sejenak, lalu melirik saudaranya yang sedang sibuk memasukkan roti ke karung, sambil sibuk mengunyah salah satu roti.

"Kakak gak percaya kalau Kak Hali bisa memperbaiki negeri ini?"

Api diam beberapa lama, lalu mengangkat bahunya. "Gak tahu… tapi… Aku rasa Kak Hali bukan orang yang suka keluar dari kerajaan lalu duduk di pinggir jalan dan mengobrol dengan orang biasa, kan?"

Air berpikir sebentar, lalu mengangguk. "Hm. Dia bukan orang yang apatis, tapi dia tak pandai bersosialisasi dan bicara basa-basi," ia menghentikan kalimatnya, lalu mengernyit setelah menyadari sesuatu.

"Tunggu, memangnya kakak sendiri orang yang bisa basa-basi?! Kak Api gak ada bedanya sama Kak Hali! Yang kakak lakukan hanya bicara dengan tinju!"

Api mendangahkan kepalanya, lalu tertawa, "Hahahaha! Iya juga, ya!" ia tersenyum, lalu melemparkan karung roti itu ke pundaknya. Berjalan ke arah jalan yang berlawanan dengan arah yang menjadi tujuan awal mereka. Air sedikit paham, kemana kakaknya hendak melangkahkan kakinya. Setidaknya, deduksinya benar, ketika ia dan Api tiba di sebuah pemukiman kumuh dengan pemandangan yang hanya membawa perasaan miris.

Air mengamat-amati sekelilingnya. Matanya lekat menatap setiap ujung sudut gelap lingkungan kumuh itu. Beberapa wujud manusia yang menatap mereka dengan hati-hati, tampak samar-samar dan tersembunyi di antara bayangan gelap gedung. Beberapa dari mereka ada yang malah semakin merekatkan pelukan kepada anak-anak mereka dengan wajah takut nan waspada, seiring mereka melihat Api dan Air berjalan melintasi jalan permukiman kotor itu.

Setelah tiba di sebuah lapang kosong yang kecil, Api menarik nafas. Berteriak lantang.

"OI! Roti gratiiiiiss!"

Hanya dalam hitungan sepersekian detik, Api diserang oleh tangan-tangan lapar.

"ROTIIII—!"

"Oi! NGANTRI!"

Api berteriak ganas dengan semburan api menyala panas dari mulutnya sesaat setelah ia merasa tubuhnya didorong dan digencet. Api melakukannya sekedar untuk menakut-nakuti para pengais rejeki itu agar mereka mau mendengarkan dan beratur.

Beberapa menit kemudian, Api berhasil membuat semua orang mengantri rapih di hadapannya. Beberapa anak kecil nampak mengantri dengan benjolan hasil jitakan sang Pangeran akibat menyerobot antrian. Air tertawa kecil melihat sang Pangeran yang hobinya blusukan itu dirundung kepayahan saat membagikan roti. Air pun akhirnya memutuskan untuk segera membantu membagikan roti.

Satu jam kemudian, setelah Api memastikan semua orang telah mendapat bagiannya, Api pamit dengan sopan pada orang-orang itu. Beberapa dari mereka sempat berterima kasih dan bahkan memujanya. Mereka menawarkan balas jasa untuk Api, namun Api menolak dengan senyum ceria. Akhirnya Api pergi meninggalkan permukiman rakyat jelata itu dengan senyum lega di wajahnya.

Air yang berjalan di sampingnya, menatap penuh perhatian. "Seperti biasa kakak selalu menggunakan uang hasil pertarungan SSFU untuk mereka."

Api tersenyum.

"Aku heran," Air tak menatapnya lagi. "Padahal kakak bisa saja menyuruh prajurit atau pembantu istana yang lain untuk datang kemari dan membagikan makanan. Jangan-jangan karena kau ingin dipuja seperti tadi?"

Api menurunkan senyumnya, menghela nafas. "Justru kalau aku memerintahkan hanya dari istana saja—dan dengan namaku sebagai Pangeran—aku lebih terdengar seperti ingin dipuji oleh orang-orang kalangan konglomerat," terdiam sejenak, matanya kelihatan mengernyit penuh geram, "Lagipula, kita takkan tahu uang yang kita berikan dari istana akan sampai ke tangan mereka atau tidak. Signaria adalah kerajaan yang besar dan punya sistem yang apik. Namun sayang, Raja gak tau kalau tak semua sistem berjalan semestinya—seperti pejabat-pejabat wilayah yang korup," ia tersenyum, sekedar mengalihkan arah bicaranya, "Lagian, lebih enak pake uang dengan hasil keringat sendiri, kan?"

Air menatap Api dengan wajah terpukau. Tak sangka laki-laki manja yang sudah bersamanya selama 10 tahun itu kini punya pola pikir politik—yang meski sederhana—tapi mantab untuk ukuran seorang Pangeran egois.

Api melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Meski begitu… aku juga punya mimpi tentang apa yang bisa kulakukan untuk negeri ini, jika suatu saat nanti aku jadi penguasa singgasana," nadanya terdengar sendu, namun Air tetap mendengarkannya dengan seksama tanpa komentar. "Aku juga ingin mengubah peraturan untukmu, Air."

Air berkedip, ia menatap tak mengerti kakaknya. "U—Untukku?"

Api melanjutkan dengan wajah berseri, "Aku ingin membebaskan ibumu… Lady Artroinne."

Mata Air melebar tak percaya.

"Dia penyihir yang baik, dia selalu menghiburku sejak kecil," Api menghela nafas, "Ia sudah seperti ibuku sendiri."

Langkah kaki Air sempat memelan dan hampir terhenti mendengar itu, "Hentikan pembicaraan ini, kakak membuat Ratu dan Raja terlihat jahat. Ibu—maksudku, Lady Artroinne memang penyihir yang telah melanggar peraturan. Raja dan Ratu telah melakukan hal yang benar."

Api menggeleng pelan. "Ayah dan Ibu memang gak jahat. Tapi mereka terlalu sibuk untuk mengurus putra-putranya. Itulah sebabnya aku terlalu malas berdiam diri di istana. Ibu Artroinne lah satu-satunya yang mau menemaniku bermain di luar istana dan mengajarkan banyak hal, termasuk sihir," Api tersenyum penuh nostalgia. "Kau ingat? Waktu kita pertama kali diajarkan bagaimana mengeluarkan Api dan Air dari tangan kita?"

Air mengangguk.

Api melanjutkan, "Tapi… menurutku, apa yang diajarkannya tak pernah salah. Bukan pilihan yang salah, kan? Mengajari seorang Honorable Prince sebuah sihir? Apa yang salah dari itu? Kenapa mereka harus menghukum Ibu Artroinne dan mengusirnya ke hutan? Kenapa dia harus memisahkan Ibu Artroinne darimu dan aku? Kenapa?" Api mulai emosi. Kedua tangan yang berada di belakang kepalanya, kini kembali turun dan mengepal erat. Pikirannya terbang menjauh, kembali ke masa 11 tahun yang lalu.

.

.

.


.

.

.

"Altloin?" si kecil Api mendangah, menatap lugu wanita berambut ikal dan kini sedang terkekeh kecil di hadapannya.

"Artroinne, Pangeran. Namaku Artroinne. Tapi kau boleh memanggilku "ibu" saja," wanita itu jongkok di depannya. Api menatapnya berbinar.

"Tok Aba bilang, ibu bisa sihir! Benar? Api mau lihaaat!" Api berjingkrak-jingkrak dengan kaki mungilnya. Pipinya yang gembil, menggembung semangat.

Wanita itu tersenyum, lalu menggulung tangannya di udara. Sesaat ia berbisik, melirihkan sebuah mantra.

"Seiz Afdore."

Di tengah pusaran telapak tangannya, menggumpal bulir-bulir cahaya kebiruan yang kemudian berubah menjadi api biru kecil yang menghangatkan. Sekilas, api biru itu mirip dengan es karena warnanya yang bening kebiruan. Api itu kemudian mengecil, hingga mencapai ukuran sebesar api lilin yang menyala di ujung jari telunjuk sang wanita penyihir.

Sementara itu, di depan sihir indah itu, berkedip dua mata besar yang membulat dan terpukau.

"Waaaai! Ke—keren! Ibu! Ibu! Ajari aku! Ajari Api!"

Artroinne tersenyum ringis, "Tapi... Aku tidak diijinkan untuk mengajarimu sihir, Pangeran Api..."

Api menggelengkan kepalanya tak sabar, "GAK! API MAU DIAJARIN! API MAU BISAAA!"

Suaranya nyaring, lantang, dan egois. Artroinne menghela nafas. "Baiklah, Pangeran. Jangan berteriak," ia melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada yang mendengarnya. "Aku akan mengajarimu trik-trik kecil yang tidak berbahaya."

Api tersenyum senang. Semenjak hari itu, ia menghabiskan banyak waktunya bersama Artroinne untuk belajar mengenai sihir-sihir sederhana melalui alam. Artroinne mengajak putranya, Air, untuk ikut belajar bersama Api. Sihir-sihir yang diajarkannya sangat sederhana dan tidak berbahaya. Ia mengajarinya dengan memperkenalkan Api dan Air pada hutan Signaria yang masih asri dan tidak terlalu lebat. Mereka bertiga sering camping di sana. Tidur bersama, makan bersama, berlatih bersama.

Saat itu kehidupan terasa tenang dan menyenangkan bagi si kecil Api dan Air. Sifat Artroinne yang lembut namun mendidik, membuat Api benar-benar menyayanginya seperti ibunya sendiri. Canda tawa di antara mereka sering digelakkan bersama.

Hingga suatu hari, Api telah melakukan kesalahan yang membuatnya menyesal seumur hidupnya.

.

.

.

.

"Ampun kak! Jangan lempar bola api itu ke air! Air cuman becanda!"

"KAMU BIKIN KESEL! KAMU BIKIN AKU KECEWA! TERIMA AKIBATNYA!"

BWOOSH—!

.

.

.

.

.

"GAWAT, YANG MULIA! ISTANA SAYAP TIMUR TERBAKAR!"

"APA?!"

Raja Signaria saat itu terlihat pucat dan panik. Istana sayap timur merupakan tempat dimana tower kamar tidur Pangeran Api berada. Ia segera berlari menyusuri jembatan antar tower, hanya untuk memastikan bahwa anak dan prajuritnya baik-baik saja.

"Yang mulia!"

Raja Abaross melihat dengan jelas kobaran api berkibar hebat, dan mengelilingi tower itu, seolah menutup semua jalan yang ada.

"API! DIMANA DIA?!"

"Di—dia masih di dalam, Yang Mulia! Bocah laki-laki yang bernama Air itu juga bersamanya!"

"Bagaimana bisa tower sayap timur terbakar?!"

"Sa—Saya kurang pasti, Yang Mulia. Ta—Tapi tadi saya melihat sekilas dari jendela, Pangeran Api sedang melempar-lemparkan bola api di tangannya."

Abaross mendelik. Sesaat kemudian ia melesat untuk mendekati api itu, dan hendak menyeruak masuk. Namun tubuhnya tertahan cepat oleh beberapa prajurit. "JANGAN YANG MULIA, BERBAHAYA!"

"TAPI ANAKKU ADA DI SANA!"

"Kami akan mencoba memadamkan api yang menghalangi pintu masuk, Yang Mulia! Mohon Yang Mulia jangan risau!"

Beberapa prajurit di belakang tubuhnya kemudian datang berbondong-bondong mengestafetkan ember-ember air untuk menyiram api yang menutupi pintu. Namun, hal aneh terjadi. Meski sudah berember-ember terbuang, api tersebut tetap berkobar dahsyat seolah sama sekali tak dapat padam dengan air biasa.

"Ya—Yang mulia, kami akan mencoba langsung menerobos masuk!"

"BODOH!" Abaross menghardik, "Apinya tak padam dengan air! Ini bukan kobaran api biasa! Jangan kalian coba-coba untuk masuk!"

Tepat di tengah kepanikan itu, Ratu datang tergopoh-gopoh bersama seorang wanita.

"Artroinne, apa kau bisa memadamkannya?" Ratu menunjuk kobaran api itu.

Artroinne tersenyum pasti, menyilangkan tangannya, "Serahkan padaku, Yang Mulia," ia menarik nafas, lalu mengucapkan mantra.

"Sestro Ahto, Lepanyaka!"

Artroinne menghembuskan nafas sekuat tenaga. Dari bibirnya yang semerah darah itu, keluarlah badai angin yang mengarah pada kobaran api tersebut, dan akhirnya melahapnya cepat seperti naga angin yang menelan satu tower penuh. Lalu, wush...! Api itu menghilang bersama badai yang berlalu melewati tower tersebut.

Raja dan prajurit langsung berhambur hendak menerjang pintu tower untuk menyelamatkan kedua bocah berusia 8 tahun di dalamnya. Namun tepat saat mereka akan mendobrak pintu, dari dalam sudah muncul seorang anak yang sedang memapah anak lain.

"I—ibu... Api...! Hiks," Air keluar dengan air mata membanjiri wajahnya yang penuh coreng hitam akibat asap. "Air—Air gak bisa melindungi Api—Ta—Tadi Air bikin Kak Api marah dan—"

Mata semua orang yang ada di sana melebar. Api terlihat tak sadarkan diri digendongan si kecil Air.

"Api... Api mati—HWAAAAAAA—!" Air melepas tangisnya. Raja segera menghampiri dan memeriksa denyut di sudut leher Api.

"Tenanglah, Air, dia cuma pingsan... " Raja memeluk Air yang masih menangis kencang. "Sudah, sudah... Terima kasih sudah menyelamatkan anakku. Kau anak yang kuat, Air."

Tangisan Air berhenti seketika, mendapat pelukan dan elusan kepala dari seorang Raja yang memimpin 124 kerajaan di dunia, membuatnya bangga. Hilanglah sudah tangisnya, berganti senyum kecil. "Yang... Mulia..."

Kemudian Air jatuh pingsan di pelukan sang Raja.

Raja segera menangkap Air dan Api, lalu memerintahkan prajurit membawa keduanya ke ruang perawatan, dan meminta mereka memanggil seluruh tabib istana untuk merawat kedua anak tersebut.

Setelah yakin Api dan Air sudah bersama orang yang tepat, Abaross menatap wanita yang berdiri di samping istrinya dengan penuh amarah. "ARTROINNE," katanya dengan nada tinggi. Ratu kelihatan panik, kemudian mencoba menenangkan sang suami dan mengingatkannya agar tak terlalu keras terhadap Artroinne.

Tapi Abaross tak dapat mengendalikan diri lagi.

"Katakan padaku dengan jujur, Artroinne," Raja menatapnya lekat, "Apa kau mengajari anakku sihir?"

Artroinne menggigit bibir bawahnya. Lalu menghembuskan nafas, sebagai penguat diri. "Ya, Yang mulia. Aku mengajarinya sihir—"

Sebuah tamparan mendarat cepat di pipi Artroinne, berbarengan dengan Ratu yang menjerit terkejut lalu refleks memegang pundak Artroinne.

"Yang mulia, kau tak perlu seperti itu! Aku yakin Artroinne punya alasan khusus mengapa ia—" Pembelaan Ratu dipotong tegas oleh Artroinne.

"Yang Mulia Ratu, tak apa. Aku memang bersalah dan telah melanggar Peraturan Agung Signaria."

"Tapi—" Artroinne kembali menenangkan Ratu.

"Tidak, Yang Mulia. Bagaimanapun juga, biarkan Hukum Signaria tetap berdiri tegak."

Abaross menatap Artroinne, "Mengingat kau sahabat istriku, aku takkan kuasa menghukummu penjara seumur hidup atau siksaan hingga mati seperti yang seharusnya. Tapi kau benar. Hukum Signaria harus tetap berdiri tegak. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengasingkanmu dari peradaban Kerajaan Signaria. Aku akan mengirimmu ke tempat yang tak terjamah manusia."

Artroinne mengangguk tegar.

"Baiklah, Yang Mulia. Terima kasih atas pertimbangan anda."

Ratu menarik tangan Artroinne, "Artroinne, kumohon, jangan pergi. Sepeninggalan Hannah, aku tak punya teman mengobrol di sini... Oh," ia menatap Raja, "Sayang, kumohon, biarkan Artroinne tetap di sini."

Namun Raja hanya membalikkan punggungnya, lalu menatap keduanya dari celah pundaknya. "Hanya Air yang diijinkan tinggal di sini. Api butuh teman. Akan kujadikan dia Guardian Prince yang sah untuk Api."

Artroinne tersenyum, "Terima kasih, Yang Mulia. Suatu kehormatan, bagi aku yang hanya seorang penyihir istana ini," ia menepuk punggung tangan Ratu yang mencengkram lengannya dengan gemetar. "Yang Mulia Ratu, jangan khawatir. Meski aku harus pergi, tapi Air akan tetap di sini dan menjaga putramu. Aku senang ia diangkat menjadi Guardian Prince, meski kenyataannya aku bukan selir."

Ratu menggeleng, "Kau sahabatku yang paling baik Artroinne. Aku yakin mendiang suamimu akan bangga padamu dan Air."

Artroinne tersenyum, "Baiklah. Kalau begitu, aku pamit."

.

.

.

Semenjak itu, Artroinne tak pernah terlihat di lingkungan istana lagi. Air bahkan sempat sakit selama satu bulan penuh ketika mendengar berita bahwa ibunya diasingkan oleh Raja karena telah mengajari seorang Honorable Prince sihir berbahaya.

.

.

.

"Air..." Api menangis di sisi kasur, ia menatap sahabat yang sudah dianggap saudara kandung itu dengan mata berkaca-kaca. "A—Aku masih belum menemukan ibu—Sepertinya berita itu benar... Ibu diasingkan gara-gara aku..."

Air menatap iba kakak angkatnya. "Kak—Jangan menangis—Aku gak mau lihat kakak sedih—"

"Ta—Tapi—Air—Aku... aku sudah membuat ibumu pisah denganmu—aku... Aku... hweeee..." Api menangis kembali.

Air beranjak duduk dari kasurnya, kompres handuk di dahinya ia biarkan jatuh begitu saja sesaat sebelum ia memeluk saudaranya erat.

"Kak... Sudah... Air gak apa-apa kok... Kan masih ada kakak yang nemenin Air..." Air sempat mengusap air mata di pipi Api, lalu terbatuk.

"Gara-gara aku pula, kamu sampai sakit seperti ini—" Matanya berkaca-kaca lagi.

"Kak... aku sakit bukan karena ibu gak ada kok... Air sakit karena kemarin kehujanan waktu pindahin barang-barang Air dari kamar ibu ke kamar yang baru..." Air meringis, berharap kakaknya percaya.

"Bohong. Aku gak percaya sama Air..." Api mengembungkan pipinya, menatap Air tak suka.

Air menggaruk pipinya, tersenyum malu. "Mungkin... Aku gak akan pernah bisa bohong dari kakak. Tapi... Aku juga harus kuat, kak. Raja akan menjadikanku sebagai Pangeran Penjaga untuk kakak. Air seneng banget. Makanya, Air gak mau kelihatan lemah, Air mau terus jaga kakak. Air mau terus bikin kakak seneng."

"Air..." Api malah menangis lebih kencang dari sebelumnya.

"Kalau kakak kesal, Air yang akan nenangin kakak. Kalau kakak bete, Air yang bakal temenin kakak main. Kalau kakak sedih, Air yang bakal bikin kakak seneng."

Api menangis sesenggukan. Batinnya tersiksa mendengar itu. Ini semua terjadi karena dirinya yang lemah dalam mengontrol emosi. Seandainya saja dia tak cengeng, seadainya saja dia tak emosian, seandainya saja dia tak ceroboh.

Dan seandainya saja dia tak egois. Seandainya saja waktu itu Api bisa mengendalikan emosinya.

Api menangis tak mau berhenti. Meski ia sudah menyadari itu semua, tapi ia masih tak bisa membendung emosinya yang selalu labil.

Air tersenyum paham.

"Kak? Kakak ingat dengan sihir yang ibu lakukan waktu kita menangis karena terluka di hutan?"

Api mengangguk. "Mhm. Ingat."

"Mulai sekarang, biar Air yang melakukannya untuk kakak, karena ibu sudah tak bersama kita lagi."

Api mengerjap. "Eh? Ta—Tapi—"

Air memegang kedua pipi kakaknya dengan lembut. Perlahan, ia memejamkan mata, lalu mengecup kening Api.

Wajah Api memerah. Semerah baju kerajaannya.

"Yaaaay!" Air tersenyum melihat wajah Api yang memerah, dan mengusap dahinya dengan tatapan terpana. "Merasa lebih baik, kan, kak? Sihir penenangku sama seperti sihir ibu, kan?"

Api hening sejenak, lalu mengangguk. Tangisnya berhenti total. Pelan-pelan, ia tersenyum kecil, lalu balas memeluknya.

"Makasih, Air."

Air terdiam cukup lama, ia hanya mengangguk di pundak Api, dan memeluknya lebih erat.

'Aku berjanji akan melindungimu, dan menjagamu dari emosimu, Kak. Aku tak mau melihat kakak emosi dan sekarat seperti itu lagi...'

.

.

Beberapa hari kemudian, upacara pengangkatan Air sebagai Guardian Prince dilaksanakan. Air kelihatan gagah di upacara itu. Berdiri di samping Api, di hadapan seluruh penghuni Kerajaan Signaria, di umurnya yang baru 10 tahun itu, ia bisa bersumpah dengan lantang dan tegas bahwa ia bersedia melindungi Pangeran Api apapun yang terjadi. Mendampinginya sampai akhir hayatnya.

Meski ia harus menyembunyikan kenyataan bahwa ibunya bukan selir kerajaan dan diusir dari istana.

Di antara bunyi terompet dengan gema kebanggaan itu, kedua pangeran bungsu belajar menampakkan senyum kepalsuannya untuk yang pertama kali.

.

.

.


.

.

Setelah kenangan tentang kejadian itu, mengalirlah kenangan yang dilaluinya bersama sang ibu angkat dan Air di memori pikiran Api. Api menggemertakan emosinya, rasanya tubuhnya mendidih jika ia ingat potongan-potongan masa lalu itu. Tak sadar ia mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan darah akibat tusukan kuku dalam kepalannya sendiri.

Saat Air bersiaga hendak menenangkannya dengan sihir air penenang, gerakannya terhenti seketika saat ia melihat salah satu pipi saudaranya itu basah, dan tatapan matanya mulai meredup dan lesu.

.

.

"Aku... Merindukannya, Air. Apa kau tak merindukannya?"

.

.

Mata Air melebar.

Kalimat tanya itu menghantam Air, bagai panah yang menghujam jantungnya. Pertanyaan yang tak pernah ia dengar terlontar dari Api, karena mereka sama-sama tahu, itu adalah pertanyaan yang menyakitkan lebih dari apapun. Tapi kenyataan bahwa sang kakak kini menghantamnya dengan pertanyaan itu, membuat Air sadar, Pangeran Api telah mencapai garis batasnya.

Air sendiri selama ini menyimpan rapat perasaannya. Enam tahun, ia berhasil memimpin diri untuk menekan sifat ego demi sumpahnya untuk melindungi sang kakak. Ialah sesungguhnya yang lebih merindukan ibunya ketimbang siapapun di muka bumi ini. Rasa sakit karena tak dapat bertemu dengan ibunya, rasa sakit karena tak bisa bercerita pada ibunya, dan rasa sakit karena harus berjuang mendampingi seseorang tanpa sang ibu.

Dan semua itu terkurung rapat—hingga tanpa ia sadari mengikis hatinya hingga kering.

Air mata menetes di pipi Air.

Satu atau dua hitungan kemudian, Air sudah menangis keras, melebihi setiap tangisan manja Api padanya selama ini.

Api tersenyum ringis. Ia menghampiri Air, lalu memeluknya.

"Jahat..." Air mengadu di tengah tangisnya, "Kakak jahat—kenapa dari semua waktu, kakak tanyakan itu sekarang—"

Api mengelus punggung Air, "Maaf..." Api menggigit bibir, menahan dukanya, "Aku memang jahat. Aku selalu jahat padamu."

Air tak menghentikan tangisnya, ia meraup tubuh sang kakak di pelukannya seperti anak kecil yang takut ditinggal orang tuanya. "Kakak jahat—Kakak... Aku benci kakak—"

Api tersenyum. "Akhirnya kamu mengatakannya. Jujur saja, aku benci dengan sikap sok tegarmu selama ini. Tapi... Aku tak mengungkapkannya, karena aku tahu, itu akan membuat kau merasa bahwa sumpahmu sebagai seorang Guardian Prince terlecehkan."

Air tak menjawab, ia masih mengatup dalam tangis.

"Apa ini giliranku untuk menggunakan sihir penenang?" Api meringis kecil, saat dilihatnya, Air masih menangis dalam pelukannya. Api membuka pelukannya sejenak, menahan dagu Air, lalu mengecup kening saudaranya itu.

Air menahan senggukannya, ditatap sang kakak yang kini menatapnya dalam senyum cerah, dan mengelus kepalanya.

"Makasih ya, kamu selama ini sudah mau melindungi dan menjagaku."

Air menatapnya terpana.

"Aku ingin membuktikan kepada semua orang bahwa ibumu tak bersalah karena mengajariku sihir itu." Nadanya terlihat percaya diri, meski di kalimat selanjutnya ia terdengar menyerah. "Yah, walaupun nampaknya kesempatanku untuk menjadi ahli waris sangat tidak mungkin, mengingat aku anak bungsu."

Air tersenyum mungil dan tangisnya berhenti total. Ia menghapus bekas air mata di pipinya. "Meski begitu, Pangeran."

Api meliriknya, dan menatap senyum adiknya.

"Terima kasih."

Api tersenyum lebar, "Yup."

.

.

.

.


.

.

"Tiga kandidat terkuat?" Air yang masih setengah mengantuk mendengar pengumuman dari sang Raja Signaria di tengah perjamuan, seketika bangkit tak percaya.

Bahkan Api menghentikan kegiatan mengunyahnya. Dengan pipi gembung, ia bergumam. "Ayah udah gila?!"

'Tunggu. Itu berarti…'

Api dan Air saling menatap. Keduanya memikirkan hal yang sama.

"Aku berpeluang jadi Raja!" Api memekik senang, lalu menelan cepat semua yang ada di pipinya.

.

.

.

.

.


To be continued.


A/N: MAAPKAN AUTHOR GAK BERGUNA INI YANG GAK APLOD SELAMA SETAHUN. UNTUK YANG MENUNGGU "MY BROTHER AND I" JUGA MAAP. SAYA TERLALU SIBUK. *cries* Aku tahu, aku gak profesional. Dan mungkin menulis bukan bidangku? Atau kadang aku hanya terlalu malas memikirkan plot cerita. Anyway, yang udah setia menunggu fanfic ini dan "My Brother and I" saya ucapkan terima kasih yang sangat mendalam. Saya doakan yang terbaik untuk kalian! *wink*

Anyway, karena merasa bersalah gak aplod selama setahun, saya langsung updet dua chapter, jadi monggo, langsung ke chapter selanjutnya.

.

.


But Reviews for this chapter, before you jump next. Thank you.